Tag Archive: Yoshitsugu Abe


Minna-san, konbanwa.
Aiko de gozaimasu. Sebenernya saya udah ngantuk, tapi karena barusan baru beres nonton stage dengan judul di atas, saya jadi berhasrat untuk mereviewnya, secara ternyata belum chanto mereviewnya. Hohohoho. Sementara, lupakan prasid, mari kita cerca bersama.

hahai*ketawa setan*

Yup! More Than Limit! Sebuah stage ke-empat dari rangkaian Musical Tennis no Ouji-sama!
1444341139064679
Continue reading

Taisetsu na Koto part 1

Title: Atashi-tachi no Kazoku – Taisetsu na Koto
Genre: Romance
Disclaimer: Masih pada masing-masing agency mereka… Kecuali saiia yang milik Kengo~ *ditendang keluar*
Current Music: Tezuka Kunimitsu – Akashi
Current Mood: Mesum…

==================================================

Aiko to Ken-Ken

Aiko to Ken-Ken

==================================================

Kanagawa, Rikkaidai Fuzoku

4月4日, 春

Hari ini kelas 3-A ributnya udah kayak pasar Keramat Jati. Pasalnya, guru pembukuan, — AbeYoshi-sensei lagi dinas ke luar kota.

Tentu hal yang membahagiakan bagi Aiko — 16tahun, yang sangat membenci pembukuan. Nilainya tidak pernah lolos dari 70, selalu langganan remedial, dan paling sering tertidur dan digatak Abe-sensei.

Hari ini, rencananya akan Aiko pakai untuk menuntaskan hasrat tidurnya. Namun sayangnya, seorang guru tak dikenal memasuki kelas mungilnya.

“Resé banget tuh guru! Siapa sih?!” cibir Aiko
“Kabarnya, guru pengganti Abe-sensei,” bisik Chii teman sebelah mejanya.

Aiko hanya bisa mendengus kesal saat guru tersebut selesai menuliskan namanya.

‘大口兼悟’

“Ohkuchi Kengo, pengganti Abe-sensei, salam kenal,” intronya singkat sambil membuka buka buku yang paling anti Aiko sentuh.

“Buka halaman 35,”

Dengan ogah-ogahan, Aiko pun membuka buku tersebut.

Pelajaran pun berlangsung sampai akhirnya, Aiko jatuh tertidur tanpa sengaja. Godaan angin siang itu begitu sejuk.

“Tsuchiya!” Aiko langsung bangun dengan satu bentakan gurunya. Karena shock, Aiko pun langsung melék.

“Yang lain boleh pulang, kecuali Tsuchiya…” gumam Kengo, “…kelas… bubar,”

Tepat saat itu juga, bel pulang berbunyi.

“Semua nilaimu tidak terlalu buruk…” Kengo memulai khotbahnya dalam kelas 3-A yang hanya ditonton oleh Aiko. Hanya Aiko, “……terlebih sastra asing dan sejarah kuno. Nilaimu dalam dua pelajaran itu melebihi siswa lain…”

“Sensei tahu dari mana?” tanya Aiko ceplas-ceplos. Padahal dilihat dari sudut kerutan alis itu guru, udah ketahuan kalo itu guru udah keki berat ngadepin Aiko.

“Tapi mengapa hanya dalam pembukuan saja, kau harus mengulang-ulang pelajaran dan test??” sepertinya guru muda ini tidak menghiraukan pertanyaan muridnya.

“Aku tidak mengerti Pembukuan…” jawab Aiko polos.

“Apa yang tidak kau mengerti dalam Pembukuan?”
“Bisa sensei bayangkan jika kita harus menghitung uang perusahaan dalam jumlah besar?”
“Lalu??”
“Itu kan bukan uang milik kita~”
“Bodoh! Justru karena itu kita akan mendapat gaji!” Kengo mulai misuh-misuh.

Aiko hanya bisa terdiam. Kengo hanya bisa menghela nafas, “untuk ujian kelulusan nanti, mungkin nilai Pembukuan akan menghambat kelulusanmu,” ujar Guru itu sambil membetulkan letak kacamatanya.

Aiko mengangguk.

“Pelajarilah Pembukuan walau terpaksa. Kalau tidak ada yang mengerti, aku akan membantumu sampai bisa,” sesaat angin berhembus melingkupi keduanya, “aku tidak ingin mendapat complaint dari orangtuamu karena kelulusanmu tertunda,” dan Kengo pergi begitu saja.

—————————————————————————————–

Malemnya Aiko buka buku alias belajar. Walau ngantuk gak ketolongan, tetep aja hajar.

“Ai-chaaann~!!” bisa ditebak kalo ini Tuti — Ayah Aiko yang lebay.
“Papa berisik!!” lawan anak perempuannya yang tukang ngamuk-ngamuk.
“O~oh! Papa mengganggu ya??” Tuti mulai dengan aksi lebay’nya.
“Ini, bukunya,” ujar Sota — Kembaran Aiko, yang tiba-tiba saja datang ke kamar Aiko, “oh, ada papa ya?”
“Terima kasih,” ucap Aiko tanpa mempedulikan mereka berdua.
“Anak Papa tumben jutek banget??” canda Tuti sambil mencubit pipi anak perempuan satu-satunya ini.

Aiko mendelik, “kalo gini caranya, Aku benci Papa! Papa bisa gak sih, nggak gangguin aku? Sehariii~ aja!?”

Bukan Tuti namanya kalo langsung patah hati, “o~oh! Kalo papa diambil Sota gimana??” goda Tuti yang langsung menggabruk Sota yang tengah sibuk mencari-cari manga milik Aiko untuk dipinjam.

“Ih! Papa mesuu~m! Lepaskaann~!!” teriak Sota yang masih terbilang ‘normal’, tidak karuan.

“Sota masih sayang Papa, kaaann??” Tuti makin mengeratkan rangkulannya.
“Papa lepaskaan~!!” teriak Pemuda yang satu sekolah dengan Aiko ini, namun beda kelas.

-BRAKKK!!-

“Berisik banget…” keluh Yuta — kakak tertua si kembar. Emang udah tabiatnya yang tempramental kalo lagi tidur diganggu.

Tuti dan Sota terdiam sementara Aiko tetep asik dengan kerjaannya.

“Ngapain kalian berdua pelukan??” tanya Yuta pada Ayah dan adik laki-laki yang berbeda 3tahun 16hari darinya.
“Tanya saja papa…” napas Sota udah mau habis karena pelukan Tuti yang membuatnya asma.
“Aiko belajar apa?” tanya Yuta saat menyadari keanehan pada buku yang dipegang Aiko.
“Pembukuan…” jawab cewek ini singkat.
“Oh, pembukuan…” Yuta pun berniat melangkah keluar sebelum akhirnya,

“Apa?! PEMBUKUAN??!”

“PEMBUKUAN?!!” teriak ‘mereka’ berdua yang baru ‘ngéh’.
“BERISII~K!!” ini, mama Harumi. Ibu dari Yuta dan si kembar. Sekali teriak, seisi rumah bisa terdiam seketika.
“kalian pada lebay sih, Mama jadi marah tuh,” ledek Aiko santai.
“Memangnya ada apa sih?” tanya Mama Harumi yang langsung naik ke lantai dua tempat kamar Aiko — lokasi keributan.

“Harumi~! Anak-anak kita tidak mencintaiku lagi~” dari Sota, Tuti memindahkan rangkulannya kepada istrinya.
“Mereka semua kaget, Ma, aku belajar Pembukuan,” jawab Aiko enteng.
“Memangnya kenapa?” tanya Harumi lembut sambil mengusap-usap punggung Tuti yang udah nangis bombay dalam pelukannya.

Aiko mengangkat bahu. “Mereka membenciku, ma~” rengek Tuti yang udah kayak balita.

“Mama nggak nanya Papa,” senyum Harumi lembut.

“Mah, apa selama ini Mama pernah absen dipanggil guru pembukuannya??” tanya Yuta. Sedang Sota baru bisa napas setelah Tuti melepas dirinya.

“Nggak. Lalu?”
“Ai-chan kan paling nggak mau belajar pembukuan,”
“Nggak apa-apa donk. Tandanya Ai mau berusaha,” ucapnya lembut sambil mengusap kepala anak perempuannya.

“Emang dasar aja mereka pada bawel,” sungut Aiko.

“Kalau begitu, bagaimana kita semua berkumpul dibawah. Makan malam sudah siap,”

“Mereka membenciku~!!”

“PAPAH BERISIK!!”

———————————————————————————————

5月6日, 春

’83’

Angka yang terpampang manis diatas kertas ulangan pembukuan dadakan milik Aiko. Bukannya nyengir, ini anak malah garuk-garuk kepala.

“Sensei tidak salah menilai??” tanya Aiko pada Kengo seusai sekolah bubar di ruang guru.

Namun yang bersangkutan malah ketawa. Matanya sipit terlihat jelas melalui kacamatanya yang jernih, “ini hasil jerih payahmu selama mengikuti pelajaran tambahanku tiap kelas usai,”

Memang sejak hari itu, Aiko dianjurkan — dipaksa, untuk mengikuti pelajaran tambahan pembukuan.

Walau masih aja suka tertidur, Kengo masih saja dengan sabar mengajari si ‘Baka’ satu ini.

“Sungguh??” Aiko cengoknya jadi.

Kengo tertawa geli. Lalu, ia mengulurkan sekotak jus apel, “ini sebagai permintaan maafku karena sering menunda waktu pulang mu,”

Ada perasaan aneh yang melingkupi hati gadis ini. Tangannya tergetar saat menerima uluran kotak hijau tersebut, “terima kasih, sensei…”

——————————————————————————————-

5月17日,春

“Hari ini, akan kubagikan hasil test kemarin,” ujar Kengo

’67’

Lagi-lagi, angka itu yang terpampang dikertas ulangan Aiko.

“Dan… Terima kasih atas bantuan kalian selama ini. Hari ini adalah hari terakhirku mengajar di sini,”

Belum selesai Aiko menjawab pertanyaan kusut dalam kepalanya, kini Ia diselubungi perasaan itu lagi. Jantungnya berdebar kencang, dan kepalanya pusing. Ada perasaan aneh menyelinap dalam aliran darahnya. Pandangannya kabur, dan……..

——-BRUKKKH!!

Aiko terbangun di dalam sebuah ruangan putih berangin. Rajutan kain yang halus, dan empuknya kasur. Semua melukiskan ruangan UKS.

“Akhirnya sadar juga,” Aiko mendapati Abe-sensei disampingnya.
“Se… Sensei??”
Abe-sensei tersenyum.
Aiko baru sadar kalo tangannya masih memegang kertas ulangan tadi. Ia lalu bangun ‘gratakan’ kayak ketinggalan kereta, “Sensei, mana Ohkuchi-sensei?!”

Tiba-tiba saja tirai pemisah tersibak, “ya, ada apa?” tampaklah Kengo dengan senyumnya.

Aiko malah bingung sendiri. Ngapain dia memanggil guru pengganti itu?

——DRRRTT…

Ponsel Abe-sensei bergetar. “Oh, nampaknya aku harus pergi,”

Tinggallah mereka berdua dalam ruangan itu.

“Kenapa nilaimu menurun?” Kengo duduk di pinggir kasur.
“Eh?” Aiko masih ngumpulin nyawa.
“Kenapa sih, nilaimu menurun??” Kengo mengacak-acak rambut Aiko sampe kribo.

Aiko bengong.

“Gara-gara mikirin aku ya?” goda Kengo.
“Iya,” jawab Aiko singkat, padat, dan jelas plus polos.

Yang ada Guru yang juga bekerja di sebuah bank swasta terkemuka di Kanagawa ini malah yang gantian cengok.

“Entah kenapa, Aku tidak bisa berhenti memikirkan Sensei sejak hari itu. Kalau bertemu Sensei, perasaanku kacau. Tapi sensei selalu berhasil membuatku tersenyum,” ungkap Aiko polos sambil menatap wajah guru pembukuannya yang sudah merah kayak buah plum.

“Perasaan aneh itu akan hilang kalo kau belajar dengan sungguh. Jangan pikirkan yang lain, kecuali pelajaran itu sendiri,” Kengo mengacak-acak rambut Aiko. Lalu pergi tanpa terlihat oleh Aiko lagi sampai waktu ujian kelulusan selesai.

Namun yang Aiko rasa malah perasaan yang lebih aneh dari yang kemarin. Perasaan yang membawanya terus ingin bertemu ‘mantan’ Guru pembukuannya itu.

——————————————————————————————-

6月12日,夏

Hari ini upacara kedewasaan Aiko, setelah kemarin Rabu upacara kelulusan.

Sempet keserimpet waktu jalan pake Kimono. Tapi, overall… Seluruh masa-masa indah di Kanagawa, berakhir di sini.

Aiko diterima kuliah di sebuah universitas di Tokyo, fakultas sastra. Ujian masuk universitas akhir musim dingin kemarin menempatkan Aiko pada peringkat 20 dari 190 peserta.

Secara kebetulan, Sota juga diterima di universitas yang sama. Namun, Sota mengambil fakultas Hukum.

“Ayah akan pindah tugas ke Tokyo setelah kau lulus nanti. Usahakan mengambil universitas yang ada di Tokyo,” ujar Yuta awal musim dingin kemarin.

“Huweee~ anakku sudah dewasaa~” isak Tuti lebay saat menghadiri Kedewasaan kedua anaknya.
“Sota juga udah dewasa, kok gak dipeluk?!” protes Aiko.
“Aku tidak mau disangka homo,” jawab Tuti dengan senyum inosennya yang langsung ditabok oleh Aiko pake geta.
“Padahal, kemaren dia yang paling erat meluk tuh anak,” sungut Aiko sambil berlalu meninggalkan Tuti yang terkapar.

Lalu, dimanakah Harumi?

Tenang aja, dia bersama Sota di kelas 3-B. Jadi, tidak ada yang mengetahui Tuti tewas terkapar di sisi barat sekolah.

Aiko pergi ke tempat parkir sekolah dengan niat mengurung diri dalam mobil butut sang ayah. Karena lagi misuh-misuh, Aiko gak melihat kalau di depannya ada mobil lewat, dan hampir menabraknya. Untung aja itu mobil langsung berhenti. Si pemilik mobil langsung keluar, dan Aiko siap untuk dimarahi.

“Selamat ya, atas kelulusannya,”

Aiko mengadah dan dilihatnya orang yang paling ingin ditemuinya, “Sensei??”

Kengo berjalan mendekati Aiko yang masih sibuk membedakan mimpi atau bukan, orang yang sedang berdiri di depannya ini.

Kengo mendekatkan kening mereka seraya memainkan rambut Aiko yang lurus. Disesapnya wangi shampoo yang masih menempel pada rambut hitam itu…

“Sensei, aku sudah belajar dengan sungguh-sungguh, tapi… Perasaan itu masih ada…” tutur Aiko polos.

Kengo tertawa kecil menghadapi perilaku polos anak satu ini, “kalau begitu, aku juga merasakan hal yang sama,” diraihnya jemari tangan kanan Aiko. Hangat dan lembut saat ia rasakan di pipinya.

“Itu namanya perasaan suka. Mungkin, cinta,” Kengo melirik wajah muridnya yang kini gantian memerah.

“Jadi… Sensei…” Aiko jadi bingung sendiri. Lagi, Kengo menertawai keluguannya, “iya, aku juga suka kamu,”

Walau bermimik bingung, tapi apa segurat senyum diwajah gadis yang baru dewasa tersebut.

Kengo memberikan sebuah buket bunga kecil. Tiba-tiba saja, Aiko mendekap Kengo, “kalau memeluk sensei seperti ini, rasanya membuatku nyaman,”

Kengo membalas pelukan itu. Dan……

“Stop sampai di situ!”

Terlihatlah Kamen Rider Papa Tuti yang telah ‘hidup’ kembali dari pingsannya.

“Papa??” Aiko lalu berlari menuju Ayahnya, “Pah, ternyata, Ohkuchi-sensei memiliki perasaan yang sama denganku!” ujar Aiko riang.

Tuti udah ngerasa perasaan yang gak enak. Orang tua tersebut pun menghampiri cowok berusia 22tahun tersebut, “takkan kuserahkan putriku begitu saja padamu,” Tuti mendelik tajam, Kengo tetap tenang, “akan ku uji seberapa gigih kau terhadap putriku,” aura keduanya udah kayak ‘Muga No Kyouchi’.

“Siapa takut?” Kengo malah nantangin.
“Hoo… Jadi kau serius ingin berpacaran dengan anakku??”
“Kalau bisa, menikahinya,”
“Besar juga nyalimu,”
“Semua demi mendapatkan putrimu,”

Pertarungan mau mulai, tapi dari jarak 25meter, Harumi dan anak-anak udah triak minta pulang.

“Akan kulihat,” ucap Tuti seraya meninggalkan Kengo, lalu menarik Aiko masuk ke dalam mobil.

——————————————————————————————–

6月18日,夏

“Hari ini juga?!” tanya Aiko gak percaya saat Tuti mengatakan bahwa mereka akan pindah ke Tokyo hari itu juga.

“Lalu??” ulang Harumi sembari memberesi kardus-kardus.
“Bukannya, musim panas nanti??”
“Kau kira, ini musim apa??” tanya Harumi lembut sembari mengacak-acak rambut Aiko.

Aiko bengong sendirian di dapur. Sampai akhirnya Sota nongol di dapur, “woy! Minggir!”

Aiko seperti bangun tidur, nyawanya belum ngumpul, “Nii-kun mau kemana?”
“Mau ke Sekolah,” jawab Sota singkat.
“Ngapain??”
“Ngambil berkas-berkas buat kuliah nanti. Mau ikut gak?” tawar Sota.

Mendengar kata ‘sekolah’ yang terbayang dalam pikirannya adalah seseorang yang kemarin menyatakan cinta kepadanya, Kengo.

“Ikut!”

Namun saat di Sekolah, tidak ditemuinya Kengo. Aiko baru sadar kalau mereka memang sudah terpisah sejak awal bertemu.

“Sendirian??” sapa Abe-sensei saat melihat siswinya terduduk di halaman belakang sekolah.

“Ah, Sensei…” Aiko mengadah.
Abe-Sensei duduk di sebelah kiri Aiko, “bagaimana nilai kelulusanmu?”
“Lumayan bagus, Sensei. Semua pelajaran tidak ada yang di ulang,” senyum tipis mengembang di wajahnya.
“Dan nilai pembukuannya??” Abe-sensei melirik manja.
“80,” jawab Aiko singkat.

Guru 28tahun itu tertawa renyah, “tidak salah aku memilih temanku itu sebagai penggantiku.

Aiko terperangah sejenak, “jadi, Ohkuchi-sensei itu……”
“Temanku,” ujar Abe-sensei memotong kata-kata siswinya.
“Hari ini, Ohkuchi-sensei tidak masuk ya?”
“Tidak,”
“Kalau begitu, bolehkah saya menitip pesan pada Ohkuchi-sensei??”

Aiko pun menuliskan sesuatu di atas kertas tissue yang dibawanya.

“Memangnya kenapa, pakai menitipkan pesan segala?”
“Hari ini, aku akan pindah, sensei,” Aiko tersenyum meringis. Lalu, Aiko pun menceritakan semuanya pada Abe-sensei.

“Kuliah di mana?” tanya Abe-sensei saat Aiko hendak meninggalkan ‘Rikkai Dai Fuzoku’ ini.
“Kuliah di Tokyo~” jawab Aiko dari kejauhan sambil melambaikan tangan tanda perpisahan.
“Berjuanglah!!” teriak Abe-sensei menyemangati muridnya.
“Terima kasih, sensei!” dan sosoknya pun menghilang di gedung barat.

‘untuk Ohkuchi-sensei, jika itu yang namanya perasaan cinta, maka aku mencintaimu…’

%d bloggers like this: