Tag Archive: Film


Review: Ossan’s Love The Movie

Minna-san, konnichiwa!
Apa kabar pembaca budiman sekalian? tak lupa apa kabar para pembaca homo laknat semua? Semoga kalian sehat selalu.
Jepang baru saja dilanda taifu Hagibis yang sukses bikin jendela saya getar-getar hampir pecah. Mohon doanya untuk teman-teman yang di Kanto, ya gengs. Semoga tidak ada yang menjadi korban.
Sebenarnya, sebelum berhak menerbitkan tulisan ini, saya masih punya satu tunggakan entry, yakni Tenki no Ko yang sudah ditonton 2 bulan lalu tapi masih aja ngejogrog di draft, malah ini duluan yang keluar karena ngetiknya sambil gabut di pesawat HND – CGK yang engga nyampe-nyampe.
Jadilah satu review film homo yang sebenarnya sudah tidak ada yang menunggu, tapi tetep aja ditulis, hitung-hitung memperbaharui wordpress saya yang sudah mulai lumutan karena jarang disentuh semenjak yang punya menjadi shakaijin.
Apa yang kiranya hendak saya bahas? Cekidot!

Ossan’s Love The Movie: Love or Dead

177851_02

Continue reading

Review: Night Flight (2014)

Mina-san, omata hee!

Kembali lagi dengan saya yang tengah menikmati waktu liburnya di tengah-tengah padatnya aktifitas kerja. Memasuki bulan Maret, udara mulai menghangat, dan sakura akan bermekaran di bulan April.

Sekian intro pembukanya, sekarang mari ke inti bahasan; ulasan.

Kali ini saya akan mengulas sebuah film Korea yang baru saja saya tonton kemarin sambil makan grilled cheese yang dibuat sendiri, dimakan sendiri. Perks of living alone. Awal saya tertarik menonton film ini adalah karena ini film humu, karena film ini dibintangi oleh Lee Jae-joon.

Night Flight (2014)

236FED3A53E4351D1D

Bagi yang belum tau siapa Jae-joon, beliau ini adalah lawan main Terada Takuya, pada drama korea yang berjudul The Lovers. Drama ini akan diulas di postingan yang berbeda, maka itu izinkan saya mengulas film ini terlebih dahulu.

Sinopsis: Yong-joo (Kwak Si-yang) merupakan seorang murid berprestasi yang diasuh oleh sang ibu yang berperan sebagai orang tua tunggal. Ia memiliki dua orang sahabat yang salah satunya masih dekat dengannya kala SMA; Ki Taek (Choi Joon-ha). Seorangnya lagi adalah Gi-woon (Lee Jae-joon) yang merupakan sahabatnya sedari SMP namun mereka berdua menjauh ketika memasuki SMA.

Gi-woong merupakan kebalikan dari Yong-joo. Ia kepala gang anak-anak berandal yang kerap menggunakan Ki Taek sebagai sasaran tinjunya. Suatu malam, ketika Gi-woon dikejar oleh berandal, ia merampas sepeda Yong-joo yang kebetulan melintas demi melarikan diri. Setelahnya, ia tidak mengembalikan sepeda tersebut yang membuat Yong-joo mengikutinya, agar Gi-woon mengembalikan sepedanya tersebut.

Alasan lain Yong-joo mengikutinya adalah ia menyukai Gi-woon dan ingin mengungkapkan perasaannya tersebut.

Continue reading

Review: After The Rain (2018)

Mina-san, omata hee

Kembali lagi dengan saya yang baru saja menyelesaikan pendidikan menyetir di sini. Dimana tuuuh? Heheh. Karena demikian halnya pendidikan sudah beres, Sabtu dan Minggu saya kembali normal(?) tanpa adanya kursus dan ujian nyetir (yang mana 4 kali gue ga lolos, entah terlalu goblok atau sistem nyetir di sini sulit).

“Dari awal kerja juga Sabtu-Minggu nya kepake buat kursus. Normal dari mananya”

Kali ini, izinkan saya mengulas film yang baru saja ditonton sebagai perayaan lulusnya saya dari dunia kursus. Saking padetnya jadwal seminggu-minggu, sampe yang namanya nonton film yang lebih dari 2 jam aja susah. Paling sambil makan nonton series yang cuma satu eps doang kayak Fresh Off The Boat.

After The Rain (2018)
koiwaameagari2

Continue reading

Review: Present Perfect (2017)

Minna-san, konnichiwa!

Kembali lagi dengan saya yang sudah lama banget ngga ngerifyu yang homo-homo.

Sedikit berkilas balik, sudah genap 3 minggu yang lalu saya tiba di Jepang (lagi), dan memulai hidup baru sebagai pegawai…. bahasa halusnya. Bahasa kasarnya yah…. kacung nya korporat.

Tidak seperti saat pertama kali saya akan ke Jepang, ke Jepang kali ini tidak ada excitement nya buat saya, karena selain ditempatkan di desa, saya pun datang bukan dengan tujuan menuntut ilmu (baca: hura-hura) seperti dulu, melainkan nyari duit dan kerja keras (bagai qudha)

Nah, melengkapi hidup sendirinya (lagi) anak ini bekal banyak tontonan di Laptop (ingetnya tontonan doang, Roy*co aja lupa dibawa), salah satunya adalah sebuah film dengan judul:

c0vqb-cuaaamtf3
PRESENT PERFECT (2017)

Continue reading

minna-san, konnichiwa!

Kembali lagi dengan saya dan review film Boys Love nya.
Iya, sayangnya bukan film humu meski memang humu (?) film yang diangkat dari komik karya Hidaka Shoko ini, tidak separah Live Action yang pernah saya ulas alias belum ada apa-apanya atau dengan kata lain belum ngapa-ngapain. Dan engga ngapa-ngapain juga sih. Namun memang kalau baca manga nya, memang mereka ngapa-ngapain (?) dan ada apa-apanya (?)

Mari kita cek trailer dan sinopsisnya, setelah itu izinkan saya berkelakar.
Seperti apa yang telah terjadi pada setiap ulasan fim saya; ini semua mengandung SPOILER. Jadi bagi yang alergi, ini adalah batasnya.

Hana wa Saku ka (2018)

5b5183f5ca8a8

Continue reading

Review: Yowis Ben (2018)

Konbanwa, minna-san.

Tulisan ini sudah lama saya tulis, jauh sebelum saya keterima kerja, jauh sebelum saya ke Vietnam. Sayang kalo ga di upload, so cekiceki.

selamat malam para pembaca yang budiman.
sudah sebulan lamanya gue ga buka-buka blog. banyak yang terlewati.
Bahkan tulisan Winter Olympic kemaren aja masih digantung gegara sibuk ngejar tanda tangan Tony Stark (sebutan kita-kita buat dekan ganteng yang meski berumur tapi ga bikin gue berhenti senyam senyum sendiri, dan lebih menantikan salaman sama dekan sendiri daripada rektor saat wisuda)

“kapan lagi yekan pegang tangan Tony Stark”

Rehat sejenak dari ngurus teteq dan bengeq nya kampus, saya pun berniat menonton film Yowis Ben. Nonton film ini pengennya udah dari akhir Februari kemaren. Tapi karena salah bioskop; yang awalnya ngira di TSM dan ternyata malah diputer di Trans Mart Buah Batu, jadi aja bubar dan baru kesampean tadi, sebelum berangkat ke Bandara bakal nganter pulang si boski. Nontonnya berdua sama si adek. Bukan di bioskop biasa, karena di Tangerang pun film ini cuma diputer di dua tempat.

Dan sialnya dapet bioskop mahal. Yaudah deh ya, sekalian beli oleh-oleh akhirnya ngeluarin setengah isi dompet sekalian bayarin si kacrut.

Kali ini saya akan mengulas film yang kayaknya belum saya baca review nya di internet. Daripada ngereview, lebih kepada curhat sih. Karena pengen nonton film nya yang 80% memakai logat jawa timuran, maka sekaliber TangCity juga dijabanin.

Tau kan Tyas kalo udah curhat isinya sampah doang? Curhatnya doang sih, filmnya mah bagus.

Sooo cekidot.

Yowis Ben (2018)
dv4fokbvmaaavoq

Continue reading

One True Pairing: Drarry

Minna-san, konbanwa!

Kembali lagi dengan saya yang mangkir dari keinginannya untuk menuliskan pandangan mengenai pertandingan yang baru selesai kemarin; Figure Skating World Champonship 2018 yang dihelat di Milan.

Setahun pas (ngga pas juga sih) dari pertama kali naksir si abang di World 2017 jaman di Helsinki, lalu tiba di World 2018. Ngga nyangka bisa tahan selama ini nge-stan Keiji yang notabene jarang naik podium. Yah gimana pun juga kanshin mah emang cuma ke si abang dibanding sama yang lain. Jadi, kore kara mo bakal tetap ngestan si abang.

Ulasan lengkap mengenai World 2018 entah akan saya tulis atau tidak, karena tepat saat Long Program semua disiplin, saya malah terbang ke Ho Chi Minh lalu pulang pas gala sudah bubar. Jadi bahan tulisan, jika ada pun hanya sampe Short Program. Terlebih kesayangan Pair Skating saya tidak maju ke Long Program, dan Keiji kembali tidak mendapati jatah gala. Maka, begitu pulang dari Vietnam, saya sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi off season.

tumblr_p3xft0rlan1rxoozco1_540

Off season tahun kemarin saya rasa cukup berat, karena tidak adanya berita Figure Skating sama sekali, meskipun saat itu saya tengah berada di Jepang. Apalagi off season tahun ini yang saya hadapi di negara sendiri. Cuma bergantung dari twitter dan bakal banyak nonton ulang ice show yang kebanyakan saya rekam doang.

Demikian curhat saya mengenai figure skating. Panjang juga ya. Melenceng dari judul yang sudah saya taruh di atas.

Saya memaksudkan tulisan ini karena akhir-akhir ini televisi menayangkan film yang bole dibilang bagian dari masa muda saya (iya, lewat 17tahun langsung mendadak tuwa gitu) dan ditambah dengan otak fujo anak ini, maka jadilah non-canon (buat saya canon) pairing yang bikin anak ini kecanduan baca fanfic nya. Nostalgia juga sih, dari jaman masih sekolah juga udah baca dan bacanya yang bahasa Indonesia. Sekarang, karena FFn diblok oleh internet sehat dan saya malas ganti VPN maka saya kebanyakan nongkrong di AO3 dalam konten bahasa Inggris. Bahasa Indonesia langka di sini soalnya.

Dan sebelumnya mengenai pairing ini belum pernah sempat saya bahas, maka akhirnya saya tertarik untuk menuliskannya di blog yang sebentar lagi berusia 10 tahun dibawah naungan ketikan jari saya.

So, cekidot! 

Draco Malfoy x Harry Potter
harrydraco3

Continue reading

Minna-san, konbanwa.

Kembali lagi dengan saya yang tengah menonton pertandingan 4 Continents Championship 2018 yang diselenggarakan di Taipei… kampungnya Keiji… bukan deng, kampung halaman mamaknya.

Sembari menunggu giliran si abang, maka izinkan saya mengulas film yang baru saja saya tonton siang ini selepas beres menonton pertandingan Ice Dance. Berikut ulasan saya:

ひだまりが聴こえる(2018)
17458019_1118639958245946_4224064177833705987_n

BEWARE SPOILER!!!

Continue reading

Minna-san, konnichiwa!

Kembali lagi dengan saya yang masih males-malesan di rumah, di musim hujan, beres namatin indomie rebus telor, dengan segelas cangkir teh (gelas apa cangkir yas? Yang bener dong) Kalo kebanyakan penulis pada mengklaim diri sendiri adalah ‘penikmat senja dan kopi‘, maka saya mengklaim diri sendiri ‘penikmat indomie

Kebetulan makan Indomie kali ini ditemani dengan film yang akshirnya saya tulis menjadi review di blog ini.

彼らが本気で編むときは、(2017)
dl6kofguiauibeh

Continue reading

Review: Thor: Ragnarok (Spoilers)

Minna-san, konbanwa.
Kembali lagi dengan saya yang baru menyelesaikan seminggu yang penuh emosi.

Bukan, bukan emosi mau marah-marah, tapi, emosi melankolis gitu gimana siii?
Masih, masing mengenai Keiji yang absen Rostelecom Cup kemarin, dan minggu depan sudah Cup of China yang bahkan saya ngga tau si Abang bisa tanding atau engga. Kalo emang ga bisa, mau goleran aja di kamar mewek sambil baca ff //eh

“Anyway, guhe baru beres baca ff yuzuvier and all the feelings back,”

Saya baru menyelesaikan 2 pekerjaan yang umaku ikenakatta. Lalu Jumat kemarin ditemani si adek yang nodong mpoknya buat traktir nonton dari gaji 2 minggu lalu. Jadilah saya menghabiskan akhir pekan kemarin menonton serial marvel cinematic universe yang sudah setahun lebih tidak ditontonnya langsung di Bioskop.

Jaman di Jepun, saya jarang nonton film. Iya, karena mahal. Lagian nonton juga pasti nonton film Jepun, jarang nonton film Hollywood, karena malasnya, di Jepun pasti subtitlenya kanji. Iya, pusing. Mending kalo sub nya english lagi, karen subnya aja tidak terbaca, jadi saya urung nonton Spiderman: Homecoming di Yamanashi wayah lalu.

Menantikan Thor: Ragnarok hadir di Indonesia, saya pun bersabar diri hingga akhirnya tiba pada minggu ini dimana Akhirnya film besutan Taika Waititi ini rilis.

tumblr_ooabfgc1s11v2lbnko1_500

Kalo boleh jujur, ini bukan review melainkan pendapat? Apa sih bahasa nya mah kansou.

Sooo cekidot

Continue reading

%d bloggers like this: