Mina-san, omata hee

Kembali lagi dengan saya yang baru saja menyelesaikan pendidikan menyetir di sini. Dimana tuuuh? Heheh. Karena demikian halnya pendidikan sudah beres, Sabtu dan Minggu saya kembali normal(?) tanpa adanya kursus dan ujian nyetir (yang mana 4 kali gue ga lolos, entah terlalu goblok atau sistem nyetir di sini sulit).

“Dari awal kerja juga Sabtu-Minggu nya kepake buat kursus. Normal dari mananya”

Kali ini, izinkan saya mengulas film yang baru saja ditonton sebagai perayaan lulusnya saya dari dunia kursus. Saking padetnya jadwal seminggu-minggu, sampe yang namanya nonton film yang lebih dari 2 jam aja susah. Paling sambil makan nonton series yang cuma satu eps doang kayak Fresh Off The Boat.

After The Rain (2018)
koiwaameagari2

Sinopsis:
Mengisahkan seorang remaja SMA; Tachibana Akira (Komatsu Nana) yang mengalami cidera pada urat tendonnya yang putus. Akira yang merupakan anggota klub lari ini, akhirnya dipaksa menyerah pada impiannya untuk berlari kembali, karena kondisi kakinya yang tidak bisa seperti dulu kembali. Ditengah-tengah keputus-asaannya, Akira bertemu dengan Kondo Masami (Oizumi Yo); seorang manajer family restaurant tempat Akira menghabiskan waktunya menunggu hujan reda. Kondo menawarkan Akira secangkir kopi hangat yang tidak dipesannya, karena menunggu hujan sendirian itu membosankan.

deg

Tersentuh dengan kebaikan hati Kondo, Akira lalu jatuh cinta dengan pria 45 tahun yang sudah bercerai dan memiliki satu anak tersebut. Perasaan Akira tidak berjalan mulus, karena orang-orang disekitar mereka yang menentang hubungan dengan jarak usia 27 tahun tersebut. Selain itu, Kondo yang menerima pernyataan Akira pun khawatir jika ia membalas perasaan gadis tersebut, maka ia akan disebut sebagai om-om mesum oleh sekitarnya.

Komentar:

kiddy
ENDINGNYA KENTANG BANGET.

Patut dan perlu diketahui apabila saya ini merupakan fans romance beda usia. Dibilang beda usia ini minimal 10 tahun. Apalah itu romance beda usia cuma beda 1 atau 2 tahun doang. Tjih. Romance ya, bukan Pedofilia kayak lagunya The Panas Dalam.

Alasan saya menonton film tersebut pun didasari oleh alasan-alasan tersebut. Karena alasan tersebut, maka saya menonton film ini sebagai perayaan #tsah

Mari kita telisik isi film tersebut.

Diangkat dari sebuah komik dengan judul yang sama, film ini memiliki genre yang ringan dan tipikal komik remaja cewek pada umumnya, hanya saja kali ini minus cowok tampan kakak kelas sebelah. Sebagai gantinya, dimunculkanlah om-om (hampir) paruh baya dengan pembawaan yang kikuk namun tidak baik hati. Semacam sugar dady, tapi engga pake sugar dan tidak daddy…. (lah terus apa dong?)

koi_wa_ameagari_no_you_ni-teaser

Saya suka karakter Akira yang dibawakan oleh Komatsu Nana. Gadis yang tidak chic namun tetap keren dengan caranya sendiri. Akira digambarkan memiliki kepribadian yang ketas-ketus meski tidak bermasksud demikian, alias, sebenarnya ia gadis yang (tadinya) penuh semangat dan senang berlari. Hanya saja setelah mengalami cidera, ia menjadi gadis yang pendiam. Jatuh cinta dengan Tencho (Kondo) pun dalam diam. Plus, Akira memiliki sorot mata yang tajam, seakan-akan menghakimi orang yang dihadapannya dalam diam.

Inilah yang membuat Kondo awalnya merasa tidak pede dketika berhadapan dengan Akira karena gadis tersebut terkesan membencinya.

Namun, dibalik itu semua, Akira adalah orang yang jujur. Ia lalu menyatakan perasaannya terhadap sang tencho. Akira menggambarkan gadis yang tidak peduli dengan pandangan orang lain dan menyatakan perasaannya selama itu memang harus ia ungkapkan.

koiamemovie_201802_4_fixw_730_hq

Selain itu, Oizumi Yo yang berperan sebagai Kondo-tencho pun membawakan perannya dengan baik. Ia menampilkan Kondo yang kikuk dan apa ya, klemer-klemer namun bisa bikin sosok seperti Akira jatuh cinta. Tencho boleh dibilang ojii-san yang tidak beruntung diusianya yang 45 tahun ini, karena ia bercerai dari sang istri dan hidup terpisah dari sang anak.

Akira yang berhenti dari mimpinya, dan Kondo yang tidak memiliki hal yang spesial ini, adalah kombinasi terbaik pasangan jatuh cinta. Apabila digarap novelist macam Kawabata Yasunari atau Dazai Osamu, maka ini akan menjadi dark romance yang lezat sekali untuk dibaca.

Namun sayangnya tidak. Ini adalah komik yang diperuntukkan untuk remaja tanggung. Jadi temanya tidak dark, bikin tante-tante kayak saya yang menikmati filmnya terasa kentang.

Kenapa kentang?

Sejujurnya dari segi manapun saya tidak memiliki komplain terhadap film ini. Dari segi manapun. Tapi…. (ada tapinya) endingnya ternyata meleset jauh dari perkiraan saya. Saya pikir jika akhirnya mereka akan bahagia bersama. Tapi ternyata (sepertinya) mereka bahagia, namun terpisah. Endingnya seperti mengikuti norma masyarakat. Mengapa norma masyarakat? Betul, endingnya tencho memilih menolak menerima perasaan Akira, dan Akira akhirnya menyerah dan menerima jika ia berteman baik ke depannya dengan Kondo.

Potatoes.

Ini sih namanya memuaskan market dimana mereka yang engga berani mengambil resiko jika film kisah cinta antara pria batsuichi 45 tahun jadian dengan anak SMA 18 tahun akan dinyinyirin masyarakat luas.

Padahal saya sudah senang sekali ada genre yang seperti ini, dimana sang heroine naksir protagonis laki-lakinya yang seperti ningen shikaku–damage dan broken. Kayak rambut gue. Biasanya kan heroine  jatuh cintanya dengan yang tampan dan (hampir) sempurna. Biasanyaaa. Tapi ini kan engga. Akira menyukai sosok tenchou yang clumsy dan bahkan menyatakan perasannya kepada laki-laki yang bersabda akan menjadi tenchou saja seumur hidup.

Namun kan akhirnya ideologi tersebut dibelokkan dengan kata-kata ‘kamu jatuh cintalah dengan laki-laki seumuran mu’. Ini kan namanya memotong kebebasan mencintai. Memangnya tidak boleh apa seorang gadis SMA menyukai pria yang jauh lebih tua darinya dengan dasar perasaan dan memang karena suka?

koiame_sub12

Sebelum ini, ada film dengan judul ‘Sensei! ,,, Suki ni Natte mo Ii Desuka?’ dengan main character yang diperankan Ikuta Toma (uuh, ganteng) dan Hirose Suzu. Namun, 10 menit setelah nonton prolognya, saya berhenti dan mengganti tontonan. Ini terlalu giung dan cheesy. Untuk saya yang berusia 20 tahun keatas, cheesy romance udah gak main lagi. Doyannya malah dark romance. Entah itu karena cheesy nya, atau Suzu nya. Meski Suzu dinobatkan aktris yang tengah naik daun, namun secara pribadi saya hanya kurang suka saja film-film dengan Suzu sebagai pemerannya. Terlalu pure, innocent. Meski lawan mainnya Ikuta Toma yang sejujurnya gabisa ditolak, namun apa daya, ternyata saya tidak bisa menontonnya lebih jauh.

dni4gd_umaad53n

Kembali lagi ke bahasan utama.

Akhirnya saya mengakhiri film ini dengan perasaan kecewa, karena endingnya tidak sakit, maupun membahagiakan, melainkan kentang, meski pada awal cerita saya sudah dibuat tertawa dan berbunga.

current song:
current mood: SMONDAY
location: Flower Heights 1

-ijou!-