Minna-san, konbanwa!

Kali ini saya akan membahas film yang baru saja ditonton kemarin. Film lawas sebenarnya. Rekomendasi film ini saya temukan di twitter berkat potongan gambar yang begitu menggoda sekali untuk ditelisik alur cerita filmnya.

Léon: The Professional (1994)
cd5227d0c6d77b236dfd65ad_rw_1920

Sinopsis: Léon (Jean Reno) adalah seorang pembunuh bayaran (hitman) yang bertugas sebagai ‘pembersih’ bagi orang-orang yang menjadi targetnya. Ia menerima perintah ‘membersihkan’ dari seorang pemilik restoran; Tony–seorang yang merekrut Léon ketika Léon datang ke Amerika dalam keadaan tak berdaya.

Léon adalah seorang pria berusia 30-40 an yang menyukai susu sebagai minumannya. Ia hampir tak terlihat minum minuman lain selain susu. Ia tinggal pada sebuah apartemen dengan sahabat terbaiknya yang merupakan tanaman dalam pot yang selalu ia sirami dan bersihkan setiap pagi.

Adalah Mathilda (Natalie Portman), gadis 18 tahun yang terlihat lebih muda dari usianya. Ia merupakan tetangga Léon yang sering menerima perlakuan kasar dari sang Ayah. Mathilda tinggal bersama keluarganya; Ayah-Ibu Kakak Perempuan dan Adik Laki-Laki nya yang masih berusia 4 tahun. Léon hampir tidak peduli pada keberadaan Mathilda hingga suatu hari ia melihat keluarga Mathilda dihabisi oleh seorang Oknum DEA; Norman Stansfield (Gary Oldman). Mathilda yang baru saja pulang dari berbelanja, langsung menuju apartemen Léon untuk meminta perlindungan yang mana Léon juga ragu untuk melindungi gadis tersebut.

leon3

Pada akhirnya Mathilda selamat dan ia tinggal bersama Léon yang sempat berniat membunuhnya. Mathilda meminta Léon untuk melatihnya sebagai pembunuh bayaran yang mana akhirnya disanggupi oleh laki-laki tersebut setelah Mathilda menembaki jalanan umum dari jendela kamar Léon.

Seiring berjalannya waktu, Mathilda mengungkapkan cintanya pada Léon. Ia mengaku mencintai seorang pria untuk pertama kalinya, yang mana disanggah oleh Léon. Ia sudah lama tidak mencintai–semenjak kekasihnya dibunuh oleh ayahnya sendiri. Namun Mathilda tulus mencintai Léon yang hampir tidak bisa membaca tersebut.

Léon mempunyai cara lain mengungkapkan cintanya pada Mathilda yang telah memberikannya warna hidup; ia membunuh bawahan Norman. Di hari yang sama Mathilda mendatangi kantor Norman untuk menghabisi nyawa lelaki tersebut demi adiknya yang masih balita. Namun Mathilda tidak merencanakannya dengan matang.

Komentar: WORTH TO WATCH!
(Mulai dari sini saya akan membocorkan spoiler dan sikap ketidak objektif-an saya)

Awalnya sangat iseng sekali nonton film lawas yang mana rilis ditahun lahir saya ini karena hari pertama libur dan tidak adanya tontonan yang menemani bersantap malam. Film ini dibintangi oleh Jean Reno yang saya kenal perannya sebagai preman, mafia, dan antagonis lainnya, menjelma menjadi assasin lugu yang tidak dapat mengungkapkan cintanya dengan lugas.

Ditambah Gary Oldman yang mana saya ketahui pertama kali lewat perannya sebagai Sirius Black pada serie Harry Potter ini sebagai Norman Stansfield pada film besutan Luc Besson ini. Gary Oldman masih ganteng bangeeettt di film ini. Begitu pula dengan Jean Reno yang cuco banget berakting sebagai Léon yang tampan-tampan dungu gitu.

Léon memang datang sebagai imigran. Ia melarikan diri dari negaranya setelah membunuh ayah dari sang kekasih, dan bekerja sebagai ‘cleaner’. Semenjak itu, ia ditampung oleh Tony, dan menjalani hidup yang monoton. Mathilda yang diperankan artis kawakan Natalie Portman pada usia mudanya, meminta Léon mengajarkannya cara membunuh dengan balasan ia akan membersihkan tempat tinggal Léon dan berbelanja untuknya.

diHCKWw

Romansa keduanya bisa dibilang tidak seimbang, dimana Mathilda sangat muda sekali dan Léon pada usia 30 akhirnya. Namun cinta yang Mathilda utarakan sangat lugu mengingat ia belum pernah jatuh cinta sebelumnya. Sementara Léon, ia seperti merasa hatinya berwarna kembali setelah sekian lama hidup dalam monokrom. Hatinya telah mati bersama sang kekasih yang dibunuh ayahnya. Meski demikian, Léon tidak tahu bagaimana ia harus membalas perasaan sang gadis yang masih berusia belia selain dengan cara membunuh. Ia hanya tahu cara untuk membunuh pada sisa hidupnya.

Meski tidak bertabur skinship, namun romansa keduanya bisa dibilang menyegarkan (untuk saya yang bacanya fanfic kotor terus) dan unik. Mathilda mengajarkan Léon cara untuk membaca, tertawa, menikmati hidup. Ia bahkan mengajarkan Léon cara untuk tidur di kasur, karena pria tersebut selalu tidur dalam keadaan terduduk semenjak menjadi seorang hitman.

Sedang Léon, ia hanya bisa melindungi Mathilda, menjadi rumah bagi gadis yang sudah tidak memiliki tempat berpulang. Ia mengajari gadis tersebut cara melindungi diri dan menggunakan senjata api.

Dalam bisunya, Léon terhanyut dalam keceriaan yang ditunjukkan Mathilda. Meski ingin sekali saya melihat romansa mereka berlanjut, apa daya, saya sudah mengetahui jika ending dari film ini pastilah membuat saya meneteskan airmata.

Léon yang awalnya saya pikir malaikat, ternyata ia separuh algojo yang juga bekerja untuk Norman. Tony, menerima perintah ‘pembersihan’ dari Norman dan meneruskannya kepada Léon, Léon bertugas membersihkan orang-orang yang hendak disingkirkan oleh Norman. Ketika Léon dengan tekad sendiri membunuh bawahan Norman, itu membuat sang oknum DEA murka dan memerintahkan pasukannya untuk menyerang kediaman Léon.

Adegan di sini adalah adegan yang begitu menegangkan yang mana separuh saya mengharapkan Léon selamat, namun separuh saya pun mengetahui jika Léon tidak akan selamat. Ia mementingkan nyawa Mathilda dengan gaya membunuh seorang profesional–membuat saya ngeri dan jatuh cinta secara bersamaan.

Perpisahan Léon dengan Mathilda akhirnya mengeluarkan airmata di mata. Untuk pertama kalinya saya mendengar Léon mengucap kata-kata romantis kepada Mathilda untuk menenangkannya dan merayunya kabur terlebih dahulu karena ia akan menghabisi Norman–untuk Mathilda.

dbc6f197afdeb446e5843c7f6c6ba01c_3653

Pada akhirnya Norman harus mati dengan nyawa Léon sebagai taruhannya. Dagccn Mathilda kembali dalam kesendiriannya.

Tidak hanya alur cerita dan chemistry yang terjadi di dalamnya. Sosok jahat Norman Stansfield adalah gambaran villain pada masa kini–merupakan seorang yang kita harapkan keadilannya untuk memberantas kejahatan. Sering kali sosok yang kita harapkan melindungi, malah justru membahayakan. Korup, dan licik.

Gary Oldman membawakan sosok Norman Stansfield begitu apik sehingga saya turut membenci sosoknya yang beler karena doyan ngisep. Dan agaknya Norman ini cenderung psikopat. Meski demikian, saya suka gaya membunuhnya.

rating: ☆☆☆☆

current song: Break My Heart Again – Finneas
current mood: pegel
location: Flower Heights 1

-ijou!-