Minna-san, konnichiwa!

Kembali lagi dengan saya yang sudah lama banget ngga ngerifyu yang homo-homo.

Sedikit berkilas balik, sudah genap 3 minggu yang lalu saya tiba di Jepang (lagi), dan memulai hidup baru sebagai pegawai…. bahasa halusnya. Bahasa kasarnya yah…. kacung nya korporat.

Tidak seperti saat pertama kali saya akan ke Jepang, ke Jepang kali ini tidak ada excitement nya buat saya, karena selain ditempatkan di desa, saya pun datang bukan dengan tujuan menuntut ilmu (baca: hura-hura) seperti dulu, melainkan nyari duit dan kerja keras (bagai qudha)

Nah, melengkapi hidup sendirinya (lagi) anak ini bekal banyak tontonan di Laptop (ingetnya tontonan doang, Roy*co aja lupa dibawa), salah satunya adalah sebuah film dengan judul:

c0vqb-cuaaamtf3
PRESENT PERFECT (2017)

Film yang awalnya saya pikir kolaborasi antara Jepang dan Thailand (baca: kolaborasi seme Jepang dan uke Thailand) ini ternyata pure film Thailand yang memang numpang syuting di Jepang. Nihonjin-nya pun cuma mentok jadi figuran.

Sebelum saya ulas dan maki-maki lebih jauh lagi, alangkah baiknya kita baca sinopsis nya yang saya buat terlebih dahulu:

Present Perfect, sebuah film Boys Love asal Thailand yang mengambil lansekap Higashikawa, Hokkaido. Berkisah tentang seorang pria bernama Toey yang pergi ke Higashikawa untuk menyembuhkan luka hatinya akibat putus dari pacarnya.

Semenjak ini film BL, gue pikir pacarnya Toey itu laki-laki. Eh, engga taunya perempuan…

Toey merasa begitu patah hati, sehingga ia memilih Higashikawa yang engga ada apa-apanya timbang Osaka atau Kyoto. Atau minimal Kofu yang jarak depato nya lumayan deket. Ini, jarak ke konbini aja 2 km cobak. Gue aja di sini ke depato 1,7km aja udah males jasa. *curhat*

Adalah Yumi, seorang teman yang menyediakan vilanya untuk ditempati Toey untuk ditempati beberapa malam. Gayung bersambut, tak beberapa lama kemudian, Toey bertemu dengan Oat, seorang pria Thailand yang juga menyewa rumah penginapan di sebelahnya. Oat yang ceria, menarik Toey yang murung dari liburan patah hatinya. Hingga akhirnya, Toey merasa nyaman menjalani perjalanannya di Hokkaido.

Hingga suatu malam, mereka akhirnya minum-minum sake, dan main truth or dare. Peringatan gengs, osake dan truth or dare itu bukan kombinasi yang baik, dan berujung kepada yang iya-iya.

Dan betul saja pagi esoknya Toey bangun dalam keadaan tidur bersama dengan Oat, dan tidak memakai baju. Tapi masih pake celana gengs. Toey bangun dalam keadaan bingung karena mengapa ia bangun pagi dengan seorang pria yang baru dikenalnya. Dalam keadaan bingung, Toey pun datang ke kediaman Yumi dengan tujuan menenangkan hati, akhirnya malam itu Toey pun menginap di kediaman Yumi yang sudah mempunyai suami yang tengah dinas ke Taipei. Dinas ya, bukan mudik. Kalo yang mudiknya ke Taipei mah Keiji (lagi, yas?)

Yumi menyarankan untuk melupakan hal tersebut, namun Toey merasakan sesuatu yang berbeda dari Oat. Maka itulah, Toey berani pulang dan meminta maaf karena sudah dirasa menyakiti dan menjauhi Oat yang gay. Dari permintaan maaf tersebut, mereka berbaikan dan mulai menjalani sisa liburan bersama.

Hingga suatu pagi yang cerah, Yumi mengabarkan jika suaminya baru saja pulang dari Taipei, dan mereka hendak menyelenggarakan makan malam akbar dan mengundang Toey dan tak lupa Oat yang kala itu tengah menginap di villa Toey. Tak disangka pada makan malam double date yang ditunggu-tunggu, Yumi mengumumkan kehamilannya.

Namun semenjak makan malama itu, Oat meninggalkannya tiba-tiba.

Sudah ya gengs, sinopsisnya. Sekarang bagian cecar mencecar. Asli ini mah gue maki-maki engga pake acara review.

Lanjoot.

Jadi, kita mulai di sini. Kalo yang ngga mau kena spoiler, plis banget ini mah jangan baca kelanjutannya. Udahan ajah. Karena akan saya beberkan sampe ke detil-detilnya.

Present Perfect adalah film BL Thailand pertama saya. Iya, gue belom perna nonton film BL sebelumnya meski Love of Siam (2017) nya Mario Maurer dibilang bagus dan seorang oknum teman kuliah banyak menyusupkan film BL ke dalam hardisk gue, tapi gue belom perna nyentuh itu film, dari HDD cuma isi 10 film sampe ka rusak ayeuna. Plis jangan hakimin gue karena ngaku veteran tapi belom nonton Love of Siam, tapi percayalah semua orang punya waktu dan seleranya masing-masing.

Oke, balik lagi.

Jadi dari sebuah harapan antara kolaborasi uke Thailand dan seme Jepang (karena gue pikir Oat adalah nihonjin), semuanya pupus ketika Oat ngomong bahasa Thailand. Patah hati phase one. Sejujurnya dari sini mulai anyep karena tidak sesuai harapan. Namun, apalah daya. Gue males ganti tontonan dan nasi baru mule gue makan. Tyas: wajib nonton ketika makan sendirian. 

Film ini menggunakan dialog English – Thailand dan sedikit selipan Japanese yang engga banyak-banyak amat. Satu yang mau gue garis bawahi pada seksi bahasa di film ini: di Higashikawa loe bebas nanya ke kakek-kakek random pake bahasa Inggris tanpa si kakek kabur, sedangkan gue di Toyama, engga satupun kakek-kakek–supir anter jemput sekola nyetir, orang-orang kantor, even petugas municipal office–ngomong eigo.

I am soooo devastated with my english-cursing-foul-mouth.

Dan di film ini, Toey menanyakan letak pameran foto kepada kakek-kakek random menggunakan bahasa inggris, dan ajaibnya si kakek juga menjawab dengan eigo. Hiks.

Sutralah.

Kalo bicara lansekap, lansekap Higashikawa dan Asahidake itu memang romantis. Kelabu-kelabu kayak film AADC2 (2016) atau Call Me By Your Name (2018). Dan Oat–yang senyumnya mulai menyembuhkan kecewa saya–pun memiliki sisi yang ‘romantis’. Ia mengajak Toey yang patah hati dan suka fotografi ini ke Asahidake yang memiliki latar yang bagus…. dan bikin jatuh hati kepada yang ngajak.

Bikin gue jatuh hati itu gampang: pergi berdua, terus kasi pemandangan bagus. Ngehe banget kan? Tapi kalo bikin jatuh hati terus gelundungan guling-guling itu beda lagi. 

Singkat cerita, kita semua diberi tahu kalau dua karakter pria utama di film ini mempunyai pacar PEREMPUAN masing-masing. Yang satu udah jadi mantan, yang satu mau jadi istri. Iya, Oat akan menikah sekitar sebulan dari sepulangnya ia dari perjalanan di Higashikawa.

Namun itu tak menyurutkannya untuk meniduri Toey tanpa izin dan mengaku gay, meski hendak menikah. Toey yang shock, sudahlah ia patah hati, ditiban tangga pula dengan ditiduri orang asing–Oat–dalam perjalanannya di Higashikawa ini, merasa krisis kepercayaan diri mendadak. Namun itu tak menyurutkan film ini seketika.

Toey digambarkan memaafkan dan menerima Oat dengan orientasi seksualnya tersebut, dan mau menemaninya berdua ke tempat-tempat bagus di Higashikawa. Singkat cerita they kinda in love.

Pikiran pertama gue saat liat judul film ini: “endingnya bahagia lah ya, kali aja engga”

TERNYATA GUE SALAH GENGS.

Berkisah Yumi mengumumkan kehamilannya di hadapan sang suami dan dua lovebirds ini. Sejak saat itu, Oat menjadi aneh. Ia nampak tak berselera menatap Toey yang kini sudah menerima dirinya dan berharap bisa berteman baik dengan Oat yang sudah menidurinya tanpa izin dan menjadikannya auto gay.

Ternyata, pacar dari Oat tengah mengandung anaknya, dan membuat Oat merasa bersalah sudah meniduri Toey.

Kalo tau itu dari awal, kenapa kudu si Toey ditidurin sih Bambaaaaang??

Kan kesel banget gue, jadinya. Sudah mah membuat Toey bingung karena Oat menarik diri tiba-tiba, esoknya sekali Oat pulang terlebih dahulu meninggalkan Toey tanpa proper goodbye. Dan hanya dikasi selendang syal yang malah bikin Toey nangis. Sempak emang.

Gue yang ditinggalin dengan penjelasan saja masih ngatain orangnya babi aer. Gimana ini yang tanpa goodbye… eh, gue juga tanpa goodbye ding. Tunggu aja ada chat tiba-tiba yang isinya ‘lagi ngapain?’ dan I would end up fall for him all over those crying sleepless nights. Markonah.

Anjir curhat apa review sih?

Jadi, apa inti film ini ketika cowok straight ditidurin oleh cowok gay, dan ketika cinta sudah terbangun, cowok gay nya malah kabur?? Inti film ini dimana? Dimana letak kebahagiaannya?? BAHKAN NGGA ADA ADEGAN CIUMAN SAMA SEKALI. Najis. Kayak dikasi ebi tempura tapi engga ada udangnya. SAMA SEKALI.

Selesai nonton film ini, saya mendadak ingin sekali marah-marah. Engga kayak Boys Love (2006) yang sama bangsatnya, namun intinya cinta mereka bersambut dan endingnya mati bareng. Tapi ini tuh lebih sakit daripada mati bareng.

Terus tambahan di ending film, dimana Toey (yang sudah berewokan dan engga pantes, pantesan Oat yang bewok) hendak memulai perjalanan barunya, bertemu dengan Oat yang menyapanya (DARI BELAKANG) di airport dan memperkenalkan istri serta anaknya yang sudah balita.

Kalo dengan adegan ini penonton diharapkan nangis nguras air mata (kayak film Love, Simon (2018)) gue malah pengen maki-maki scriptwriter sama director nya. Faedahnya apa?? Kalo nyatanya perasaan saja tak bersambut dan malah bikin si straight bingung doang.

Selain lansekap Higashikawa yang bagus, sisanya saya tidak begitu merekomendasi filmn ini karena …. buat apa? Apa semua hanya khilaf?

Rating: ☆☆

current mood: males
current song: Sufjan Stevens – Mystery of Love
location: Flower Heights 1

-Ijou!-