Konbanwa, minna-san.

Tulisan ini sudah lama saya tulis, jauh sebelum saya keterima kerja, jauh sebelum saya ke Vietnam. Sayang kalo ga di upload, so cekiceki.

selamat malam para pembaca yang budiman.
sudah sebulan lamanya gue ga buka-buka blog. banyak yang terlewati.
Bahkan tulisan Winter Olympic kemaren aja masih digantung gegara sibuk ngejar tanda tangan Tony Stark (sebutan kita-kita buat dekan ganteng yang meski berumur tapi ga bikin gue berhenti senyam senyum sendiri, dan lebih menantikan salaman sama dekan sendiri daripada rektor saat wisuda)

“kapan lagi yekan pegang tangan Tony Stark”

Rehat sejenak dari ngurus teteq dan bengeq nya kampus, saya pun berniat menonton film Yowis Ben. Nonton film ini pengennya udah dari akhir Februari kemaren. Tapi karena salah bioskop; yang awalnya ngira di TSM dan ternyata malah diputer di Trans Mart Buah Batu, jadi aja bubar dan baru kesampean tadi, sebelum berangkat ke Bandara bakal nganter pulang si boski. Nontonnya berdua sama si adek. Bukan di bioskop biasa, karena di Tangerang pun film ini cuma diputer di dua tempat.

Dan sialnya dapet bioskop mahal. Yaudah deh ya, sekalian beli oleh-oleh akhirnya ngeluarin setengah isi dompet sekalian bayarin si kacrut.

Kali ini saya akan mengulas film yang kayaknya belum saya baca review nya di internet. Daripada ngereview, lebih kepada curhat sih. Karena pengen nonton film nya yang 80% memakai logat jawa timuran, maka sekaliber TangCity juga dijabanin.

Tau kan Tyas kalo udah curhat isinya sampah doang? Curhatnya doang sih, filmnya mah bagus.

Sooo cekidot.

Yowis Ben (2018)
dv4fokbvmaaavoq

Film ini dibuka dengan sinopsis dari saya dulu. Monggo.

s i n o p s i s : 
Bayu (Bayu Skak) adalah seorang anak tukang pecel yang rajin menjajakan dagangan ibunya di sekolah. Karena itu, Bayu punya nama panggilan Pecel Boy. Bayu yang ngebet populer dikalangan murid sekolahnya, memiliki sahabat yang sama ngebet nya pengen populer bernama Doni (Joshua Suherman). Berdua, akhirnya memutuskan untuk membuat band supaya bisa menggaet hati gebetan masing-masing. Karena hanya berdua, mereka pun membuka audisi untuk keyboardist dan drummer yang akhirnya didapatkanlah Iyan (Tutus Thomson) dan Nando (Brandon Salim) yang akhirnya mereka ber-empat memiliki band bernama Yowis Ben.

dwxp-hmvmaatw6u

k o m e n t a r :
Kalo boleh jujur, saya menyukai sekali konsep dimana dialog utama diucapkan dalam bahasa daerah. Hal ini tidak menyulitkan saya yang boro-boro mengerti logat ke-Jawa Timuran, Mbrebes aja ora ngerti padahal bapake dengan bangga nempel stiker ‘CAH MBREBES‘ di mobil.

Konsep seperti ini, membuat saya merasa pertumbuhan sineas muda tidak hanya terjadi di kota besar barat yang berarti Jakarta dan Bandung yang always payu sebagai background film-film Indonesia, namun kota kecil nan asri seperti Malang juga punya ceritanya sendiri sebagai lokasi utama syuting film yang dikawaki anak-anak muda dan idola masa kecil saya; Joshua Suherman yang film Joshua Oh Joshua nya selalu sukses bikin mewek, sekaligus berbunga karena papa Anjasmara itu ganteng.

“still. nanti gue ungkap kenapa ini anak demennya om-om yak. karena bahan bacaan pertamanya aja ‘CA BAU KAN'”

Awal film saya sangat menikmati alur cerita, dimana Bayu yang ngegombalin Stevie–cewek cantik dikelasnya pakek puisi andalan sang paman; Cak Jon. Stevie, meski digambarkan cewek cantik dan rajin perawatan (image cewek-cewek ibu kota) namun ia tidak meninggalkan logat kejawa timurannya. Stevie, cantik-cantik pun tetap ngomong pake bahasa Jawa Timuran dengan temen-temen sekelasnya, yang mana saya rasa itu menjaga sekali konsep film ini. Respect.

Seperti yang sudah terduga, Stevie menolak ajakan Bayu untuk pacaran karena puisi murahannya. Patah hati, Bayu pun menyusun ulang strategi, dan kini menargetkan Susan–anak OSIS yang akhirnya pesen pecel kepada Bayu dengan emot lope-lope. Di sini, saya mulai merasakan cringe. Tidak seperti Stevie yang nampaknya anak lokal, Susan ini sangat ke-Jakarta Jakartaan sekali. Ngomong, gesture dan gaya. Ini juga berlaku pada dua temannya (tau siapa namanya) yang bergaya centil ala anak Jakarta, juga tidak berlogat lokal.

Saya di sini, mulai mempertanyakan apa sih latar belakang Susan…… berikut dengan kedua temannya yang akhirnya kayak geng mean girls yang kemana-mana sepaket. Apakah Susan dkk  ini pindahan dari Jakarta? Kompak gitu tigaan? Susan pindah, temen-temennya pindah? Ataukah Susan ini emang di rumahnya ngga ngomong bahasa kejawen (salah ya gue? bukan kejawen?) atau Susan adalah anak lokal yang hobi nonton sinetron Jejakartaan, jadi logat dan perilakunya tidak mencerminkan pribadi yang berasal dari Malang atau sekitarnya? Saya mau banyak protes dengan 3 karakter murid perempuan ini, yang nyatanya merusak mood saya.

Tidak hanya sikap karakternya saja, kehadiran karakternya pun saya rasa mengganggu. Memang, para tokoh utama butuh motivasi, yang mana akhirnya datang dari patah hati mereka yang ingin membuktikan kalau mereka juga bisa ngegebet cewek di sekolah. Namun agaknya saya akan adem nonton sampe akhir kalau Bayu, tetap naksir Stevie, dan membuktikan pada Stevie kalau dia bisa jadi keren, bukannya mentah-mentah cari cewek baru yang karakternya ngga asik buat saya.

Apa yang engga asik lagi, adalah gaya humor yang ada dalam film ini. Selain anggota Yowis Ben (dan arek-arek lokal, seperti bapak-bapak genit yang doyan nggodai ibu ne Bayu), selera humornya engga asik. Taroh lah kata ‘jancuk’ dan ‘jangkrik’ yang dijual murah pada film ini. Memang, kalo pasarnya film ini orang Jakarta, maka mereka-mereka ini taunya kata umpatan Jawatimuran ya cuma ‘jangkrik‘ dan ‘jancuk‘. Namun saya yakin, setiap daerah engga cuma punya dua kata umpatan populer yang masih bisa digunakan pada teman seumuran.

Lalu juga pada peran figuran Uus dan yang satunya lagi gatau siapa. Agaknya saya merasa terganggu pada peran mereka berdua yang engga terlalu penting (lagi-lagi kata gueh) Datang sebagai alumni sekolah Bayu yang memperkenalkan diri sebagai Fajar dan Nugros yang kalo disatuin jadi Fajar Nugros–sutradara film ini–yang ‘uuh, gross‘. WTH. Daaaaan, despite mereka ber-standing comedy yang enggak standing (dalam arti apapun), leluconnya krik-krik yang bahkan tidak menggelitik saya untuk tertawa.

Masih mendingan Bayu Skak dan kawan-kawan yang berkelakar memakai logat lokal, dan membawa hidup alur cerita dengan celoteh mereka. Dibanding figuran, dan kata-kata ‘jancuk’ dan ‘jangkrik‘.

Berbicara karakter utama; Bayu. Berbeda dengan 3 karakter utama lainnya; Doni, Nando dan Iyan. Masing-masing ingin membuktikan kualitas dirinya. Bayu ini keukeuh sekali nggebet Susan, yang selain tampang, saya engga tau apalagi yang bikin Bayu tergila-gila. Mungkin baik sih ya, ketimbang baik, saya malah merasa Susan karakter yang biasa saja. Dia bukan wanita mandiri, berprestasi, dan memiliki dignity. Toh habis ke Bayu, doi cari couo lain yang bunya mbim buat nganter baliq saat sedang marahan dengan Bayu. Sinetron abis. Perasaan doang apa gimana, tapi kalau Susan sudah datang, karakter 3 cowok ini rasanya melempem. Ini entah karena script nya, atau memang Bayu saking kasmarannya bisa ngelupain konco-konco ne yang di depan mata itu.

Dari hadirnya Susan dkk ini, stereotype film sekolahan di Indonesia ngga ilang-ilang; dengan jatuh cinta dan dua hati saling bertemu akan menjadi happy endingNo matter what, no matter how, gimana pun caranya jalannya harus ke sana.

Yowis Ben ini, saya rasa, jika hanya menceritakan perjuangan tok keempat punggawa nya ini saja, sudah bagus. Keakraban dan sikap saling tolong menolong mereka itu membuat saya terhibur. Lalu datanglah karakter Susan yang akhirnya bikin saya menulis review (baca: nyinyiran) ini, karena dari karakter Susan dateng sampe ending, bikin saya merasa it doesn’t feels right.

Maaf kalo kesannya tidak objektif, tapi mana ada sih review saya yang sifat nya ngga subjektif?

 

mv5bowriztqzmgmtztdlmi00ymjiltlkzjutoddmytdkmgi5yzbixkeyxkfqcgdeqxvynza5mduwnju-_v1_sy432_sx540_al_

Oke balik ke alur.

Singkat cerita Yowis Ben pun terkenal. Bayu yang kasmaran dengan Susan pun memasukkan video Susan ke dalam Video Klip band mereka (which is gross) yang akhirnya bikin Susan kesengsem dan mulai mendekati Bayu sampai akhirnya jadian. Bisa ditebak, karena tujuan utama nya sudah tercapai; mendekati Susan, Bayu jadi malas-malasan latihan dan malah membawa Susan ke setiap latihan band nya yang akhirnya malah mengganggu jalannya latihan.

2018, dan saya masih menemukan alur tipikal sinetron. hmph. 

Memang ketidak setujuan anggota band dan konflik di dalamnya yang membuat Yowis Ben mundur cukup apik disajikan, namun adegan Susan mengganggu latihan band (lagi-lagi Susan, kok kamu gedenya jadi gini sih) itu engga banget buat saya. Kayak ngajakin rekam video bareng pas Bayu dkk sedang latihan nge-band.

Despite, being ke Jakarta-Jakartaan, Susan ternyata alay

 Yowis Ben akhirnya bubar dan mematahkan hati para penggemarnya, yang sedari awal cerita mendengarkan kisah Bayu yang diceritakan dengan gaya alur flashback ini.

Ceritanya, setelah bubar, Bayu pun berniat baikan dengan para anggota band nya yang nyatanya lebih dulu menyambangi rumah Bayu, setelah (katanya) ditelpon Susan buat rujuk kembali.

Jadi, band ini bubar karena Susan, bersatu kembali karena Susan. Yang mana, alih-alih menonjolkan sosok Susan jadi heroine film ini, malah sikapnya itu mematikan kekuatan karakter para anggota band  yang terkesan ngga bisa baikan tanpa Susan. Padahal saya yakin anggota Yowis Ben bisa akur kembali dengan kekuatan persahabatan mereka (cieh)

Endingnya, bisa ditebak seperti dunia mimpi; Bayu mendapatkan keduanya. Band nya kembali utuh, dan Susan kembali ke pelukannya. Pesan moralnya? Saya engga paham. Toh para sahabat ini baikan akibat turut campur tangan Susan. Apa usahanya? Selain merintis band mati-matian yang itu juga karena ingin menggaet Susan.

Doni, yang semata-mata ingin membuktikan diri di hadapan orang tuanya, pada akhir film pun menggandeng salah satu dari anggota geng Susan–yang secara ajaib tetiba pengen aja ngelendot sama Doni.

“Andai jatuh cinta semudah itu,”

Ya, seperti yang saya bilang tadi. Jatuh cinta adalah penyelesaian konflik pada kebanyakan film remaja saat ini. Agaknya sineas sekarang ini takut sekali dengan angst atau not a happy ending, mungkin kalo engga happy ending, filmnya ga bakalan laku kali.

Meski konsep film ini cukup bagus–menghidupkan Malang dengan konflik anak mudanya yang sederhana–namun pengemasannya masih kemasan sinetron, menurut saya. Meski demikian, untuk para karakter utama (bukan Susan) dan lagu-lagu serta tingkah konyol mereka berempat, patut diacungi jempol, karena membawa gaya baru dalam cara bertutur cerita pada layar lebar negeri kita.

Rating: ☆☆☆

current song: Jangan Ajak-Ajak Dia by Melly Goeslaw
current mood: ngantuk
location: Kost-kostan

-Ijou!-