minna-san, konbanwa.

Kembali lagi dengan saya setelah dinas satu hari Bandung – Surabaya yang (ternyata) bikin sakit seluruh badan, dan akhirnya loyo buat kerja di hari berikutnya. Memang yang namanya umur gak akan bohong. Berani aja bilang mau ambil kelas ice skating, disuruh duduk di pesawat PP Surabaya – Bandung aja langsung pegel linu nyeri keseleo.

Pulangnya, saya langsung beli capcay satu setengah porsi, karena nyatanya saya ngga nafsu makan selama di Surabaya meski duit perjalanan dinas berlimpah dan Pizza Hut berjejer, apalagi review-review kuliner lontong balap bikin liur netes. Tapi nyatanya Surabaya panas sangat, sampai-sampai nafsu makan ilang tau kemana, yang berujung minumin air atau ga es teh dingin (es teh ya dingin lah begok)

Sembari menyantap capcay (yang akhirnya bisa) dibeli dekat kosan, saya pun akhirnya memilih satu film untuk menemani. Film ini, saya download karena pemerannya adalah Nick Robinson.

66142fe4dcfd89390e7b4e9d448d7dc4

Kenal? Beliau adalah aktor yang (mungkin) kita kenal melalui film Jurassic World yang mana sekuelnya baru saja saya bahas kemarin. Berbekal hal ini, saya pun akhirnya mendownload dan hendak menonton film ini. Namun sebelumya, dibaca dulu sinopsisnya. Dan ternyata, ini adalah sebuah film Boys Love yang mengisahkan seorang remaja laki-laki mengenai seksualitas nya.

Dari sini, saya ingin membahas lebih lanjut mengenai isi filmnya.

Love, Simon (2018)

snisqvpmlu4lpjvtohpdotxa7eh

S i n o p s i s :

Simon Spier, lahir di keluarga yang sangat normal. Kedua orang tuanya salig mencintai satu sama lain, dan ia memiliki seorang adik perempuan yang gemar memasak, dan membuat makanan untuk seluruh keluarga. Di sekolah ia memiliki 3 sahabat dekat; Abby, Leah, dan Nick. Berempat memiliki persahabatan yang lekat, dan membuat kehidupan Simon nampak normal layaknya remaja pada umumnya.

love-simon1

Namun, ke-normalan yang dimiliki Simon, tersimpan satu rahasia yang tak pernah diungkapkannya kepada siapapun. Ia tertarik pada pria, jauh ketika usianya masih muda. Awalnya ia merasa tak yakin, sampai pada satu ketika, ada seseorang yang membeberkan ceritanya pada sebuah situs lokal (creeksecret) mengenai dirinya yang homoseksual dan tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Ialah Blue, sosok yang mengungkapkan ke-homoseksualitas-an dirinya.

Merasa memiliki kisah yag sama dengan Blue, Simon menghubunginya melalui email pribadi dengan nama Jaques. Dari sana, Blue dan Jaques berbagi kisah yang sama. Simon yang mendapati Blue satu sekolahan dengannya, terus menebak-nebak siapakah sosok Blue ini.

Hingga suatu saat yang tak diduga, Martin–laki-laki yang menaksir Abby, menemukan pesan antara Blue dan Jaques di komputer sekolah mereka. Hal ini, digunakan Martin yang mengetahui Jaques adalah Simon, untuk mendekati Abby dengan meminta bantuan Simon. Simon yang menganggap Martin aneh, tidak tega menjadi mak comblang untuk Martin mendapatkan Abby. Namun Martin mengancamnya untuk menyebarkan email tersebut ke creeksecret, apabila ia tidak membantunya mendapatkan Abby.

Tidak hanya kisah cinta Simon yang terancam, teman-teman di sekitarnya pun juga.

tmp_ifq6no_8ffb3e07fb4b8ba5_mcdlosi_ec027

K o m e n t a r :

Kalo biasanya nonton film BL dengan tema berat (Holding The Man, Brokeback Mountain, dan Call Me by Your Name) yang mana endingnya always tidak bahagia (which is my type of movie) pada film kali ini, saya disuguhkan tema yang tergolong ringan, yakni school-life dengan boys-love sebagai sajian utamanya. Untuk spoiler, film ini berakhir bahagia.

Mulai dari sini akan terjadi banyak S P O I L E R. You’d better be watch out kalo ga mau kena spoiler.

Saya suka pembawaan ceritanya yang ringan dan penuh warna. Terlebih, Simon masih dalam usia remajanya yang mana kepala nya penuh dengan imajinasi mengenai siapakah sosok Blue. Sepanjang film, kita diajak menebak siapakah sosok Blue bersamaan dengan praduga-praduga Simon mengenai teman sekolahnya yang mungkin menjadi sosok Blue.

Lagu-lagu yang cuco untuk dinikmati bersamaan dengan cerita pun mengalir, menambah kesan happy pada film ini. Tidak hanya happy, silence dramatical juga banyak tergambar jelas pada film ini. Scenery-scenery yang ditampilkan indah tanpa dialog seperti khayalan Simon akan Blue yang menantinya di bawah Mistletoe. Namun seperti halnya film remaja lainnya, film ini tidak kehilangan bumbu humornya.

dcmp5x6v0aaopkw

Pada film ini terdapat idealis, sebuah konsep akan ketidak adil-an bagi mereka yang gay, atau memiliki perilaku seksual selain ‘straight‘. Pada hal ini, Simon berandai-andai apabila ‘straight’ menjadi sesuatu yang tabu dan patut diungkapkan. Maka di sinilah pemikirian yang dibumbui dengan humor dimana para orang tua menangis mengetahui anak mereka ‘straight’.

Dalam cerita ini, kita diajak menebak Blue dengan 3 karakter (seinget gue ya); Bram si penggemar Oreo jeruk karena mengingatkannya pada Haloween, Lyle seorang pelayan di restoran Waffle, dan Cal yang menanti Simon di bawah Mistletoe. Ketiganya mempunyai alibi yang memungkinkan untuk menjadi Blue, atas hint kecil yang diberikan dan praduga Simon yang membayangkan. Namun pada akhirnya sosok Blue tetap menjadi misteri karena alibi yang terpatahkan.

lovesimon_fp2

Sampai pada satu titik dimana Martin gagal mendapatkan Abby yang berujung pada penyebarluasan email Jacques dan Blue di creeksecret, dan terkuak jati diri Simon yang merupakan seorang remaja gay. Dunia Simon jungkir balik seketika. Sang ayah tidak bisa menerima saat itu juga bahwa putra nya seorang gay, dan berlanjut dengan teman-teman dekat Simon yang menjauhinya setelah mereka tahu kalau Simon berusaha memisahkan Nick dengan Abby yang saling menyukai. Leah patah hati, ketika ia tahu Simon salah sangka bahwa orang yang disukainya adalah Nick padahal selama ini ia menyukai Simon, dan Simon kehilangan Blue yang mulai dicintainya karena email mereka tersebar luas.

Entah kenapa di titik ini gue mewek. Asli.

Padahal, awal film, semuanya terasa ringan, dan bukan film ‘angsty‘ yang bikin banjir airmata. Bahkan level kadar angst film ini masih kalah jauh dengan Holding The Man yang sukses bikin saya nangis pada separuh akhir film. Namun nangis tetep aja nangis.

Di sini saya merasa sedih dengan Simon yang harus patah hati tanpa mengetahui sosok Blue yang sebenarnya. Lyle ternyata mengincar Abby, sementara ia menemui Bram sedang mencumbu wanita pada pesta Haloween nya. Lalu Cal, Simon mengumpulkan segala keberanian untuk menanyakan langsung kepada Cal apakah ia Blue, namun jawabannya bukan.

031318-love-simon-review-natasha-rothwell

Saya rasa, cerita diselamatkan dengan kehadiran sosok guru kesenian Ms. Albright yang menghukum dua orang murid yang mengolok-olok Simon dengan Ethan–salah satu murid yang juga gay dan sudah menyatakan seksualitasnya terlebih dahulu dibanding Simon.

Di sini, Simon menemukan keberanian untuk menerima dirinya yang sudah openly gay di mata publik. Keadaan berubah ketika Simon mulai memperbaiki semuanya satu per satu. Ia meminta maaf pada Leah, yang nyatanya kesal karena Simon lebih memilih mengungkap jati dirinya pada Abby yang dikenalnya 6 bulan ini, bukan kepada dirinya yang merupakan teman masa kecil Simon. Lalu Simon mulai kembali mencari sosok Blue melalui creeksecret dengan tidak lagi menggunakan nama ‘Jaques’ melainkan Simon.

nick-620x400

Simon berupaya untuk menyatakan perasaannya. Ia akan menunggu Blue pada bianglala di carnival, sampai ia muncul ke hadapan Simon. Simon membeli puluhan tiket biang lala untuk puluhan putaran. Namun Blue tak kunjung hadir.

Namun seperti apa yang saya katakan pada awal review jika film ini akan berakhir bahagia, Bram datang dan meminta untuk duduk di sisi Simon. Ternyata selama ini Blue adalah Abraham Greenfeld, teman sekolah Simon yang menyukai Oreo. Ia sempat bingung ketika seorang teman wanitanya mengajaknya untuk bercumbu, namun Simon memergoki mereka.

Ngga happy ending kalau pada akhirnya perasaan mereka ngga bertaut. Namun saya yang seorang angst-lover, sebenarnya sudah cukup dengan Bram datang dan mengaku sebagai Blue, lalu mereka berbicang pada biang lala yang nambah putarannya 4 kali berkat Martin yang merasa menyesal telah membocorkan email mereka.

bram26simon

Namun pada akhirnya perasaan mereka bertaut dan saya disuguhkan oleh adegan ciuman mereka di atas bianglala, yang mana so sweet sekali tapi saya malahan ngerasa giung (kemanisan) karena kesannya seperti dipaksakan bahagia. Mungkin kadar manisnya akan cukup, apabila dibawah tidak ada teman-teman Simon yang memberikan semangat layaknya cheerleader, menurut saya semuanya akan fluff apabila cinta mereka dapat bertaut dalam diam, tanpa adegan penutup dimana akhirnya mererka berlima (Simon, Nick, Abby, Leah plus Bram) berangkat sekolah bersama, lalu Simon mencium Bram dalam mobilnya di depan teman-temannya.

Sebenernya ini menjadi hal bagus dimana mereka tidak lagi malu dengan status gay nya, namun saya allergic to Public Display Affection. So, yang terakhir benar-benar menurunkan mood sekali, setelah pada bagian klimaks barusan saya mewek karena berasa berada di posisi Simon.

Sekedar opini saja, sebenarnya, saya mengharapkan sosok Blue adalah Lyle yang manis dan friendly, namun nyatanya Blue adalah Bram. Bukannya saya menolak, Bram adalah pilihan sempurna untuk jadi Blue. Selain manis dan kalem, Bram dan Simon juga menjadi pasangan yang unik dengan perbedaan ras dan agama (mungkin) mereka. Namun hati saya sudah tertambat pada Lyle.

pollari

Despite bagian ending, saya akan merekomendasikan sekali menonton film ini. Membuka mata kita mengenai apa yang dirasakan seorang teenage closet gay saat ia menghadapi dunia yang penuh dengan orang straight, selain suguhan drama remaja yang cheesy dan penuh warna.

Rating: ☆☆☆☆

current song: Murakami Keisuke – Naitemo Ii yo
current mood: TAKE ME BACK TO WEEKEND!
location: Kost-kostan

-Ijou!-