Minna-san, konbanwa.

Kembali lagi dengan saya yang tengah menonton pertandingan 4 Continents Championship 2018 yang diselenggarakan di Taipei… kampungnya Keiji… bukan deng, kampung halaman mamaknya.

Sembari menunggu giliran si abang, maka izinkan saya mengulas film yang baru saja saya tonton siang ini selepas beres menonton pertandingan Ice Dance. Berikut ulasan saya:

ひだまりが聴こえる(2018)
17458019_1118639958245946_4224064177833705987_n

BEWARE SPOILER!!!

Sinopsis:
Sagawa Taichi adalah seorang mahasiswa tahun pertama yang hidup dengan sang kakek dalam keadaan susah. Di tengah-tengah kuliahnya, ia bekerja sambilan demi menghidupi dirinya sendiri dan sang kakek. Hingga suatu ketika Taichi diberhentikan oleh tempatnya bekerja karena suaranya terlalu kencang dan tidak lagi memiliki uang untuk makan. Di saat itulah ia bertemu dengan Sugihara Kouhei yang juga merupakan seorang mahasiswa tahun pertama yang berada satu fakultas dengannya namun berada di jurusan berbeda. Kouhei yang kala itu tengah menyantap bekal makan siangnya, menyerahkan makan siangnya kepada Taichi yang memuji tampilan masakan sang ibu terlihat enak, dan memang Taichi tengah kelaparan ditengah-tengah kondisinya yang tidak memiliki uang.

Kouhei yang ternyata memiliki masalah pendengaran sejak usia 13 tahun ini,
membuka lowongan bagi siapapun yang bersedia membantunya menulis catatan perkuliahan, karena ia tidak bisa menangkap apa yang dibicarakan orang yang berbicara terlalu cepat. Melihat peluang pekerjaan baru, Taichi mendaftarkan diri untuk membantu Kouhei mencatat materi kuliah dengan imbalan makan siang.

Keduanya menjadi dekat seiring ‘pekerjaan’ baru yang kini Taichi lakukan untuk membantu Kouhei. Di saat-saat itulah Taichi mulai mengenal Kouhei yang dikenal sombong diantara mahasiswa lainnya karena jarang menyapa yang lain, dan juga menolak ajakan klub bahasa isyarat untuk bergabung. Karena memang Kouhei tidak mengerti bahasa isyarat. Kemampuan pendengarannya hilang di saat usianya 13 tahun–saat ia sudah bisa berbicara. Berbeda dengan orang yang kehilangan pendengarannya sejak lahir maupun sejak kecil. Apabila lawan bicaranya berbicara perlahan, maka Kouhei akan mengerti. Begitu pun Kouhei yang mulai mengenal Taichi yang hidup serba susah dengan sang kakek karena ditinggal cerai oleh kedua orang tuanya. Ia menyukai hambagu yang merupakan hadiah ulang tahun dari sang kakek saat ia masih kanak-kanak. Bukan lagi sekedar pekerjaan, Kouhei pun berusaha membuat makan siang untuk Taichi, dan Taichi yang kini mulai berteman dengan Kouhei.

hidamari-kikoeru

Banyak orang yang menyangka Kouhei kehilangan pendengaran seutuhnya, atau mereka yang menyangka Kouhei hanya menjadikan masalah pendengarannya sebagai alasan untuk menjadi acuh atau pusat perhatian para wanita di kampus. Namun Kouhei tidak seperti yang mereka bayangkan untuk Taichi. Maka itu, Taichi sering kali terlibat perkelahian hanya karena mendengar pendapat yang salah mengenai Kouhei.

Kouhei yang melihat sosok Taichi yang apa adanya pun mulai menyukai pria tersebut ketika ia sadar Taichi lah yang perlahan mengubah dirinya.

Phew, panjang juga sinopsisnya.
Sinopsis apa skrip film yas?
Lanjut Komen.

Komentar:
Dari segi cerita sudah saya bahas ya di postingan berbeda beberapa waktu lalu. Di postingan kali ini saya pure akan membahas film, dan tetek bengeknya. Kayaknya sih 80% bakal nyinyirin Tawada Hideyan. Mariiiii

mv5bzda2nzgwztitmwqxmc00ytfiltkyzdctotu1mzyznjdjyze5xkeyxkfqcgdeqxvynzq1mda1nzk-_v1_

Jadi film dibuka ala-ala. Pengambilan gambar romantis gitu diambil dari sudut dalam kamar Kouhei. Kalo saya ngga bisa review objektif Hideyan maapkeun ya, karena saya taunya anak ini busuk dan alay sumpah. Jadi peran pendiem dan waras cool kayak Kouhei itu sangat tidak bisa dipercaya sekali bisa jatuh kepada sosok Tezuka generasi ke 7 yang ajrut-ajrutannya sangat ini.

Saya akui tata pengambilan gambarnya bagus, tipikal film Jepang lah yang rada pink-pink gitu scene nya. Kalo pernah nonton Seven Days, yah mirip-mirip lah. Jauh lebih mendingan dari ‘Ame to Kiss‘ (masih aja yas,…)Meski pengambilan gambar bagus, menurut saya, terlalu banyak scenery tanpa dialog (dan tanpa menampilkan para pemeran, kayak scene dedaunan yang ujug-ujug ada) itu kebanyakan. Jadinya saya setengah main hape di awal film (sekalian ngetweet mengenai 4CC sih)

Apa yang akan kita dapatkan dalam film ini, pasti ada beberapa adegan yang diubah atau tidak sesuai manganya. Seperti, sebenarnya Taichi terjatuh dari ketinggian, bukan sekedar pagar pembatas. Namun di film, Akira–pemeran Taichi, terjatuh dari pagar pembatas, dan di komik, posisi Kouhei lebih rendah dari tempat jatuh Taichi, namun tidak demikian halnya dalam film.

Menurut ue yang juga melihat isi film sampe habis, dan mendapati setting kampus yang itu-itu aja (of course kecuali rumah Taichi dan Kouhei) saya mendapat satu kesimpulan; film ini memiliki budget yang tidak tinggi. Meski demikian, pengambilan scenerynya cukup apik. Jadi, budget rendah cuma dari setting aja keliatannya. Budget rendah juga gapapa sik, toh display filmnya bagus.

Selain itu juga ada beberapa ‘pun‘ alias ada beberapa bagian yang ditujukan untuk komedi, dan hasilnya saya tertawa. Meski candaan-candaan tersebut sudah ada di komik.

Masih membahas faktor luar. Belum masuk ke pembawaan karakter yang dimainkan para pemeran.

Selain itu, ada beberapa pemangkasan jalan cerita yang tidak dimasukan ke dalam film. Jadi, saya merasa ini film berbudget rendah karena scene yang ujug-ujug ada, seperti scene di akhir film; Matsuri. Jadi kampus punya perayaan gitu, saat Taichi mengungkapkan kekesalannya terhadap Kouhei kepada Yokoyama yang tanpa disadarinya jika Kouhei ada di ruangan yang sama itu adalah scene dimana persiapan perayaan festival. Harusnya. Namun nyatanya, di film tidak demikian. Scene ini hanya menjadi scene lainnya yang begitu saja muncul, yang bikin saya mikir ‘ini kok jadi gini‘.

Demikian review saya dari segi display. Mari masuk ke bagian pemeran. Para pemeran.

Taichi memiliki seorang teman yang sebenarnya kehadirannya agak jarang di manga. Bernama Yoko atau Yokoyama. Namun di film, beliau ini dijelmakan menjadi peran terpenting ketiga sebagai sahabat Taichi yang always muncul anytime sejak awal film. Dan Yokoyama ini diperankan oleh seseorang yang tak lagi asing untuk mereka yang mengenal Tenimyu dari jamannya 2nd season yang udah beres kapan tau; Mitsuya Ryo–pemeran Fuji 6th generation.

hqdefault

“Jadi kita punya TezuFuji beda generasi gitu. Tapi, alangkah baiknya jika mereka satu generasi,”

Tapi ga sanggup juga kalo WadaTaku jadi Kouhei, atau Yata-chan yang dari gaiken aja udah feminim jadi Yokoyama yang macho.

Engga tau sih, buat saya, jamannya Micchan–Mitsuya–jadi Fuji awal 6th gen, ngerasa kalo Micchan tuh ayu banget dan apa ya, joshiryokunya takai lah. Tapi ya, di film ini, 180° berbalik. Micchan macho bangeeettttt. Cowok yang keceng able gitu gimana siiihh. Ngga nyangka kalo doski meranin senpai cantik sepanjang masa; Fuji Shusuke. Cuma bibirnya aja yang ga ganti-ganti. Makanya awal nonton tuh ‘Kayak Mitsuya Ryo

Selain peran Yokoyama, saya menyukai peran lainnya seperti peran Ibu Kouhei. Meski digambarkan muda–muda sekali malah–di manga, di film dibuat agak berumur. Meski demikian tidak mengurangi kualitas perannya.

Ada juga peran trio ciwi ciwi klub bahasa isyarat yang selalu rame dan sumingrah kalo ketemu Kouhei. Ya iyalah, depannya kan Tawada Hideyan, siapa juga yang bisa jaga komuk kalo depannya si Hideyan. Gue yang ngatain alay aja mungkin ngacay ngga beres-beres kalo disodorin Hideyan.

Dan juga ada seorang pemeran guru yang sialnya, wajahnya mirip dengan kecengan saya semasa di Yamanashi. Sekian.

Kali ini saya akan masuk ke dua pemeran utama kita.
Udah bilang kan, kalo review ini kemungkinan 80% isinya nyinyirin Hideyan?
Nah, kita ke menu utama.

Tawada Hideya. Yang selanjutnya akan saya tuliskan Hideyan–sebagai pemeran Sugihara Kouhei–pemeran utama yang gloomy karena dunianya yang sunyi akibat kemampuan mendengarnya yang menurun. Tak hanya kemampuan mendengarnya saja, kehidupan sosialnya pun mendadak sunyi karena ia sering dikucilkan oleh teman-temannya kala sekolah. Dan Kouhei yang diperankan Hideyan itu emo.

“Gue ga inget kalo Kouhei di manga se-emo ini,”

Tau. Emang peran Kouhei itu pendiem banget. Tapi agaknya Hideyan itu kayak anak emo. Atau gue nulisnya karena tau aja ini anak alaynya kayak apa jadinya ga objektif.

Meski demikian, saya masih bilang kalo Hideyan, diem itu ganteng. Serius sumpah. Ini ditulis dalam keadaan sadar tanpa diguna-guna. Apalagi adegan doski cuma pake kaos putih. Saat itu juga ini anak langsung protes gitu kenapa Hideyan bisa dibikin ganteng setelah alaynya ngga bisa disembuhin (follow di twitter juga dan emang alay anaknya)

Screenshot 2018-01-25 22.41.08

Dan memang yang jelek dari ekspresi Hideyan waktu jadi Kouhei adalah lobang hidung yang ngga bisa dikontrol, alias kontrol bengeutnya kurang. Untung aja ada satu adegan dimana Kouhei menangis, dan ekspresi menangis atau bercucuran airmatanya wajah Hideyan tidak diperlihatkan. Tau kali ya, gue bakal ngejengkang dari kursi kalo ngeliat Hideyan mewek.

TAPIIIIIIIII

Pemeran Taichi di sini; Onodera Akira (makanya maapin kalo ngetik Taichi jadinya Akira) ini lucuk! Entah kenapa doski bisa banget berperan sebagai Taichi yang aktif, dan emang anaknya lucuk imut gimanaaa gitu. Apalagi punya caling, alias taring yang nyembul gitu.

Tau kan kalo Hideyan kelahiran 1993 dan Akira kelahiran 1999?? Engga? Baik saya paparkan di bawah ini:

mv5bnwi3njmwmzktmmrlny00zjrilwi2mwutngzkoddmzwu2otg3xkeyxkfqcgdeqxvynzq1mda1nzk-_v1_
Tawada Hideya: lahir di Osaka, 1993 November 5

Onodera Akira: lahir di Kanagawa, 1999 Juli 16

Which means, menjadikan Akira 6 tahun lebih muda dari Hideyan, dan ini film BL. Saya ulang pemirsah “FILM BL”.

Terlepas dari gap 6 tahun itu, hubungan dan akting keduanya bikin saya nyengir, alias gue menerima kankei mereka. Ngga separah…. siapa ya… Tomorun sama Irei mungkin? di film Tsubasa no Kakera. Duh, itu tahun berapa lama bangetttt.
Saya pikir baik Hideyan dan Akira berhasil membawa karakter keduanya dengan baik, sampai pada titik dimana melihat keduanya saya senang.

Tibalah kita pada adegan ena-ena.

Engga. Boong. Di manga dan film ini cuma ada adegan kisu.
Meski rikuh, saya akui, ciuman mereka sempet bikin menjerit senang. HEHEHEHEHEHEH. Itu tadi. Pas nonton.

Pas ngetik, saya mulai mikir usia Akira saat syuting. Film ini sudah mulai syuting sejak 2017, which…. kalo dihitung 2017-1999 = 16 tahun. (Maaf karena penulis ini lulusan Fakultas Sastra yang seumur-umur kuliah engga nemu matematik itungan berat selain Rp 100.000 adalah limit cash di debit, maka izinkan saya mengkoreksi tulisan, yang nyatanya umur Akira di sini adalah 18 tahun)

Tapi tetep aja, yang namanya 18 tahun itu belum masuk upacara seijin di Jepang ( ; w ; )

AKIRA DI BAWAH UMUUUUUR!!!

Seketika gue merasa berdosa nonton film ini. Pantes pas nonton adegan cium tadi ada perasaan bersalah yang entah dateng dari mana. Kayak habis ngelakuin dosa tapi ngga tau kenapa, ternyata cowok yang saya anggap lucu ini masih di bawah umur! Oh God!!

“Hideyan nyium bocah iiihhh!!”

*pingsan*

“Dek, kamu kok ektingnya meyakinkan sekali sih, aku kan gatau kalo kamu masih di bawah umur,”

Dan setelahnya gue ga akan nonton film ini dengan perasaan yang sama.

But, overall, film ini tidak mengecewakan harapan saya mengenai pemaparan komik karya Fumino Yuki ini. Bagus untuk ditonton. Mohon abaikan review saya kalo mau menikmati 100% filmnya.

Rating: ★★★

current song: Aimer – Ito
current mood: lapeerr
location: Home desu!

-Ijou!-