Minna-san, konbanwa.

Akhirnya saya resmi mengawali malam Golden Week yang sejatinya sudah mulai dari sabtu kemarin, namun karena kerjaan yang tak kunjung usai dan hari ini masih ada jadwal ngajar, akhinya saya baru resmi memasuki Golden Week hari pertama besok hari di hari Selasa.

Namun, sebelum resmi mengawali Golden Week, saya memutuskan untuk berlibur sekejap ke prefektur yang terletak di utara Yamanashi; Nagano! Kenapa Nagano? Karena mau liat danau yang ada di film ‘Kimi no Na wa’ //plakk
Awal tau Suwa-ko atau Danau Suwa, ketika saya berangkat menjaga bocah-bocah yang hendak kemping ke Ina-shi salah satu kota kecil di Nagano. Kebetulan trek bis melalui Suwa-ko dan konon katanya, Makoto Shinkai membuat desa Itomori berdasarkan imej danau ini. Mirip danau Toba si, tapi gedean danau Toba kemana-mana.

a57e77da949913dc2c96b2bd86edcfbb

Berangkatlah saya ke Suwa-ko dari Yamanashi (ya iyalah, masa dari Tangerang)
Saya berhenti di Kami-suwa–salah satu stasiun terdekat dengan Tateishi-Kouen yang merupakan tempat yang lumayan cuco untuk menikmati pemandangan danau Suwa dari ketinggian yang konon katanya 933m di atas permukaan laut. Atau permukaan Suwa-ko? Ngga ngerti.

DSC_0986

Dari sini, saya ditemani seorang teman yang memang lahir dan besar di Nagano, serta kuliah dan lulus duluan di kampus sekarang; YGU. Dan uniknya beliau ini lahir di rumah sakit yang ada di sekitaran danau Suwa. Kami menuju Tateishi Koen yang jaraknya hampir sejam perjalanan dari stasiun. Begitu melewati jalanan yang menanjak, tibalah kami pada taman yang terbentang luas di hadapannya pemandangan danau Suwa yang berkilau karena hari itu cerah.

DSC_0974

Bagi saya yang ternyata suka jalan-jalan murah, alias cuma mengunjungi kuil, istana, taman, lalu pulang ini, Suwa-ko adalah tempat unyu yang sayang dilewati apalagi jaraknya lumayan dekat dari Yamanashi. Tidak seperti Kamakura yang saya datangi 2 minggu lalu. Suwa-ko ini dikelilingi 3 kota; Suwa, Shimosuwa, dan Okaya.

th_108_
“Bukan Okayama, yas. Sabar, harap tenang, ini ujian.”

Sedikit intermezo, anak ini bakal cuss ke Okayama–tepatnya Kurashiki–tempat dimana skater kesayangannya berasal. Siapa hayooooo. Yang jelas bukan Yuzu, karena Yuzu lahir di Sendai, dan Yuzu kesayangan abang Javier //plakk. Yup, Tanaka Keiji yang mana setengah mati diharapkan anak ini untuk turun olimpiade–dan jadi pacarnya *ngawur*

Intermezo beres.

Setelah puas memandangi danau Suwa yang cantiknya setengah mati–asli. Sumpah. Buat yang pernah nonton Kimi no Na wa coba ke sini deh, cuco pisan. Kami pun berniat mendekati danau tersebut, yang berarti harus menuruni bukit. Sebenarnya, ada jalan aman yang mana turun bukitnya pake tangga dan aspal. Namun, entah kenapa pikiran kami saat itu sinkron, dan beralih menuruni bukit dari sisi yang sama sekali tidak bertangga, tidak beraspal, dan tidak direkomendasikan. Kami turun gunung. Nyerosot. Sampe yang namanya sepatu isinya cuma tanah doang. Walau begitu turun tidak secuco waktu naik, namun gileee keren abis! Rasanya seneng bisa turun tanpa kegigit uler atau kaki kepelitek.

DSC_0976

penampakan habis turun gunung

Ngga manggil 119 ditengah-tengah hutan adalah satu keajaiban. Buat yang baca ini cuma sekedar turun gunung yang sambil Jeté juga nyampe. Namun aslinya, perasaan waktu itu gabisa diungkap pake huruf atau bahasa manapun, karena turun gunung pakek rok dan seserodotan di tanah berselimut daun kering itu seru parah!

DSC_0973

Turun dari gunung, kita pun sejenak bersantai di pinggiran danau sembari mensyukuri nikmat yang maha kuasa, kalau kita masih diberikan hidup hingga detik ini. Beres ngusir debu-debu yang masih lengket di badan, kita akhirnya makan es krim! Bukan sekedar eskrim, tapi eskrim khas Nagano; es krim belut dan jangkrik. Saya yang besar di Indonesia ini, baru tau kalo di Jepang, apalagi Nagano; jangkrik itu dimakan.

th_118_
“Gue kira cuma si tempat si babeh dan sekitarnya doang yang makan jangkrik,”

Saya yang asalnya geli parah dengan yang namanya jangkrik, akhirnya mau makan eskrim tersebut, setelah tau belut yang biasanya saya makan itu dipanggang, kali ini disajikan dalam bentuk gorengan dalam es. Mau makan jangkrik karena diiming-imingi belut goreng aja. Retjeh. Diluar dugaan, rasanya enak. Kek apa ya. Kayak…. ikan teri? Belut juga enak //plakk

DSC_0980

Beres jalan-jalan di Suwa, saya menyempatkan diri untuk mendatangi Matsumoto-jou, istana yang terletak di kota Matsumoto. Pengen dateng aja, ngga tau kenapa. Padahal ngga ada ancang-ancang mau ke Matsumoto-jou. Ternyata Matsumoto-jou cuco anet. Istana yang lumayan gede untuk ukuran satu keluarga, dengan parit gede di sekitarannya, dan banyak pohon yanagi atau pohon dedalu yang tumbuh disekitaran parit besar yang banyak berisikan ikan koi. Menurut teman saya ini, di Nagano, yang namanya ikan koi itu dimasak, lalu dimakan dalam acara pesta pernikahan. Saya malah kasihan dengernya. Selain itu, kata seorang teman, daging ikan koi itu ga enak.

DSC_1003

Ngomong-ngomong ikan koi, ikan koi di Nagano besar-besar. Ketika teman saya bilang ‘itu ikan-ikannya dekai (besar) ya‘ dan saya spontan bilang ‘deka’, yang artinya ‘besar’. Namun sedikit nyelipin curhat retjeh, yang namanya Keiji itu kanjinya aneh 刑事 yang mana artinya adalah ‘detektif‘ yang sering disebut ‘deka‘. Saya yang bilang ‘deka‘, sontak saya malu sendiri lalu jongkok.

th_001_-v2
“Fans macam apa si tyas ini?”

Beres dari Matsumoto, saya akhirnya pulang dan menghadiri acara makan-makan yang rasanya kayak Golden ways, karena berisi wejangan ibu-ibu yang nyuruh para gadis di sana buat segera nikah. Sekian. Dan pagi ini saya dibangunkan dengan suara mesin bor karena lagi ada pengerjaan listrik di asrama, dan begitu berangkat kerja, badan semua sakit dan rasanya tidak bertulang. Pertanda 22 tahun itu bukan lagi masih muda.

Anyway, saya menantikan sekali pertemuan dengan Keiji-san.

current song: Niall Horan – This Town
current mood: Sakit sebadan-badan
location: Dai-2 Shimizu Sou

-Ijou!-