Minna-san,konnichiwa!
Kembali lagi dengan saya Aiko, yang sedang melarikan diri dari tugasnya yang sudah numpuk kayak -piip-nya sapi.

Sebenernya lagi bingung mau nulis apa karena ketika udah beres, tapi kelas belum selesai. Tapi enggan mengerjakan tugas, sebenernya lagi keserempet mas Song Jong Ki lagi dalam dorama terbarunya; Scarlet Heart: Ryeo setelah terakhir nonton Scholar Who Walks The Night. Tapi, males ngereview dorama yang terakhir karena buat saya ngga segitu appetite-nya walau si mas Joong Ki ganteng bingits di situuuu. Nantikan review Scarlet Heart…. itu juga kalau saya gak malas dan ketiban tugas.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengingat-ingat review saya untuk film yang lagi booming di Jepang ini; Kimi no Na.

85a8f133f75386d86a13e755b7cb84e4bbd2a01c

Sebuah film animasi besutan Shinkai Makoto yang sempet bikin anak ini nggak move-on dari ‘Byousoku 5 Cm‘ yang rilis tahun 2007. Dengan pengisi suara seorang aktor muda yang sedang naik daun, dan anak ini lumayan kesengsem dengan beliau; Kamiki Ryunosuke sebagai Tachibana Taki.

SONY DSC

Berkisah mengenai dua orang remaja Taki dan Miyamizu Mitsuha (Kamishiraishi Mone) yang bertukar tubuh dalam mimpi yang seperti kenyataan. Meski nampak seperti kenyataan, namun sebenarnya apa yang dialami oleh Taki dan Mitsuha bukanlah mimpi. Meski begitu saat terbangun dalam tubuh masing-masing, baik Taki maupun Mitsuha tak memiliki ingatan akan siapa nama orang yang mereka rasuki dalam mimpi.

Kejadian ini terjadi cukup lama, sehingga ketika lulus sekolah dan beranjak dewasa, Taki memutuskan untuk mengunjungi gadis yang dirasukinya dalam mimpi tanpa mengetahui nama gadis tersebut. Ia berniat mengunjungi sebuah tempat yang selalu digambarnya tanpa mengetahui dimana letak pasti desa tersebut. Hingga pada akhirnya desa tersebut diketahui bernama Itomori-cho yang terletak pada sebelah barat pulau Honshu.

Taki yang menempuh perjalanan dari Tokyo pun harus menyerah ketika mengetahui Itomori-cho–desa yang dicarinya selama ini–luluh lantak akibat komet yang jatuh dan menghantam desa kecil tersebut serta membunuh 500 penduduknya. Itomori-cho desa kecil tempat dimana Mitsuha tinggal telah hilang semenjak 3 tahun lalu, oleh komet yang dilihatnya 3 tahun lalu.

REVIEW

raw
KEWREN!

Kimi no Na jadi film yang Aiko tonton di Jepang untuk pertama kalinya. Awal sampe, sebenernya ngga mau-mau banget nonton film ini. Karena pastinya mahal cyin. Tapi, makin ke sini kok kayaknya keren, selain itu juga film ini cukup booming di kampus, kayak ngga ada orang di kampus yang belum nonton film ini gitu loh. Berangkat dari efek tersebut, anak ini pun akhirnya puasa buat ngga jajan dan berhasil ngumpulin duit bakal jalan dan nonton film ini.

FYI, anak ini tinggal di Yamanashi yang notabene bukan kota besar. Jadi, jalan ke gedung bioskop itu kayak dari Jatinangor ke Bandung gitu. Naik kereta lewatin 4 stasiun dan harus jalan kaki selama setengah jam. Dan jarak antara stasiun sampe ke gedung bioskop itu isinya sawah! Bayangin dong.

Kalo nonton di Jepang itu rata-rata Rp 160.000~200.000. Dan harga snacknya tau lah. Dibanding nonton di Indonesia di bioskop yang paling mahal sekalipun, harga di Jepang ini udah lumayan murah pakek diskon kartu mahasiswa segala. Fyuh.

Kenapa ini film gue bilang keren? Emang dasarnya ini anak suka Shinkai Makoto, dan Kamiki Ryunosuke. Jadi penilaian ga bakal objektif….. apa subjektif?

Begitu film mulai, atmosfirnya udah beda banget. Begitu liat openingnya, kita serasa diajak menyusuri realita yang diubah ke dalam animasi dan sedikit di dramatisir. Musiknya enak, tenang, juga kayak menimbulkan kesan romantisme pada setiap adegan yang digambar.

Kalo Byosoku itu musiknya digarap Tenmon, maka Kimi no Na wa ini musiknya digarap RADWIMPS. Itu sih yang saya baca ketika ada credit pengenalan yang mengenalkan RADWIMPS sebagai penggarap musik. Kalau dibalik layarnya sih, ada tim orkestra juga yang turut mengisi musik dalam film ini.

Khas Shinkai Makoto adalah merealitaskan hal se-sepele apapun ke dalam animasi, dan menjadikannya terkesan romantis. Kayak adegan masak, adegan orang-orang lalu lalang, dan apa yang saya temui kesamaannya film ini dengan Byosoku 5 Cm, adalah KERETA! Entah Shinkai Makoto ini sama sukanya dengan kereta seperti saya atau gimana, sudah 3 film yang saya temui ada keretanya, dan dua film ini; ‘Byosoku 5 Cm‘ dan ‘Kimi no Na‘ adalah, banyaknya adegan penting yang terjadi di kereta atau stasiun. Dan banyak juga gambar sepele mengenai keduanya.

Selama jalanannya film, saya berpikir kalau Itomori-cho adalah desa yang benar-benar ada di Jepang dan berniat main ke sana kalau sudah jadi orang kaya. Namun nampaknya Itomori-cho adalah desa fiksi yang dibuat sedemikian indahnya sampai saya berfikir kalau Itomori-cho memang benar adanya.

cqmmm7zueaawp0t

RADWIMPS – Kimi no Na wa

Komet yang dibuat di film ini pun terlampau indah menggunakan warna-warna aurora yang kadang nampak di langit utara bumi. Entah ini Jepang dan saya melihat komet di langit Indonesia, karena kalau dari langit Indonesia komet nampak biasa saja tanpa warna semenakjubkan itu. Meski ada beberapa adegan yang bikin ngga-banget film ini (dan saya lupa adegan apa aja) tapi untungnya adegan tersebut tidak mengurangi kemenarikan film ini.

Kalau sekarang-sekarang ini RADWIMPS jadi booming, ya wajar sih. Selain film ini digarap oleh seorang Shinkai Makoto–yang karyanya selalu ditunggu dan dinantikan, juga emang lagu=lagu RADWIMPS di film ini keren abis. Saya ngga bisa berhenti mendengarkan 3 lagu; 夢灯籠 (yumetōrō), スパークル (sparkle), dan なんでもないや (nandemonai ya). Kalau 前前前世 (Zenzenzense) jamannya udah lewat, sebelum nonton filmnya. Lagipula, saya mendengar Zenzenzense lebih banyak di kampus dan di konbini ketimbang di player saya.

Ketimbang Byosoku 5 Cm, film ini terbilang ‘aman’ untuk anak dibawah umur karena tidak ada adegan ciumannya. Tapi tetap saja sebaiknya untuk anak remaja karena jalan ceritanya yang lumayan bikin mikir karena time lapse yang cukup sering terjadi.

dsc_0586

Setelah nonton Byosoku, saya sedikit takut menonton film-film besutan beliau selanjutnya, karena sejujurnya ending Byosoku 5 Cm itu menyakitkan, meski saya tidak begitu membencinya. Setelah itu saya nonton Koto no Ha no Niwa, tapi ngga setuntas seperti saat nonton Byosoku 5 Cm. Dan film Shinkai Makoto selanjutnya yang saya tonton sampai tuntas adalah Kimi no Na wa ini.

garden-of-wordss
Walau endingnya tidak ‘seberengsek‘ Byosoku 5 Cm, yang bikin saya nangis jongkok di halte busway sepulangnya dari Japan Foundation, tapi film ini lumayan bagus dan sempat semmbuat saya mencucurkan airmata di beberapa adegan. Tapi tidak sebahagia itu sih. Tauklah Shinkai Makoto mah gimana….

Jadi, kalau ada yang takut nonton karena mungkin takut sad-ending, film ini tidak begitu kok. Sekian.

P.S. Mulai mikir kalai Shinkai Makoto itu setipe sama sutradara drama Koriya yang bikin cerita buaguuussss bangeeet tapi ngga mikirin endingnya. Jadi endingnya anyep dan tidak se-appetite jalan ceritanya. sekian.

current song: Hata Motohiro – 70 Oku no Pieces
current mood: males ngerjain PR // Abang Joong-ki ganteng. Sekian.
location: Dai-2 Shimizu-sou

-Ijou!-