Minna-san, konnichiwa.
Aiko de gozaimasu.

Apa kabar semuanya? Saya baru saja kelar meriang kemarin, dan masih merindukan kasih sayang abang Stan sampai detik ini //plak

tumblr_o6tyrsDlYJ1vskrnco1_540

Dipenghujung bulan Agustus ini, perkenankan saya mengucap selamat ulang tahun kepada my lovely Renji~ yeay.

Happy Birthday Renji!!

Bagi yang ngga tau siapa Abarai Renji, harap google. Hehehe, ngga punya gambar terbarunya yang iyah, malas ambil dari google. wkwkwk.

Kembali dengan saya yang beres pusing ngurus dokumen keberangkatan. Sisanya tinggal puas-puasin diri makan makanan rumah, sama haha-hihi bareng temen-temen.

3c68bb64Eh? Mau kemana?

Jadi, melalui tulisan ini, saya akan menceritakan pengalaman saya (mengurus dokumen ke berangkatan) ke Jepang.

d582d79fJEPANG?

Ya, dan dengan melalui tulisan ini, saya akan berbagi cerita mengenai penerimaan persiapan saya ketika mendapatkan peluang ke Jepang selama setahun.

Here we go!

Jadi, ini semua berawal dari akhir tahun 2015 yang cerah. Memang, resolusi tahun 2016 anak ini adalah pergi ke Jepang, karena, motivasi dari sang dosen yang mengatakan; “penerjemah itu belum afdol jadi penerjemah kalo belum pernah ke negara dimana bahasa yang dia terjemahkan itu berasal,” (motivasi) Jadi, berangkat dari kata-kata tersebut, anak ini pun mendaftar ujian pergi ke Jepang yang dilaksanakan jurusan di kampus. Secara Jurusan juga menyediakan ‘paket’ (cieh) pergi ke Jepang dalam periode singkat yakni program short term.

Nah, anak ini, ngincer yang short term tersebut dengan pertimbangan ngga usah cuti kuliah, dan bisa lulus tepat waktu. Maka, diikutilah ujian yang dilaksanakan setelah UAS akbar jurusan. ehe.

Dari situ, anak ini pun tuhu mengerjakan skripsinya yang sebenernya ngga tahu mau dibawa kemana pada saat itu, karena berangkat dari filosofi ‘awal menyukai bahasa Jepang dari NARUTO, maka saya menulis penelitian mengenai komik karangan Kishimoto Masashi tersebut‘. Namun jadinya, malah pusing karena bagian yang ditelitinya adalah dialog Rikudo Sennin.

3c68bb64“……”

Lalu tiba pada masa-masa akhir Maret, dimana masih sedikit merdeka, karena kuliah belum sepadat hari-hari biasa, dan bimbingan baru mulai. Akhir Maret itu ternyata adalah ujian tertulis lanjutan part 2 dari ujian yang dilaksanakan akhir tahun 2015 kemarin. Dan secara mengejutkan, anak yang IQ-nya dirasa mulai merayap ini, dapat peringkat 10 besar dari 30-an peserta yang mendaftar.

Dan saat mendaftar 5 lowongan beasiswa yang dibuka dan 2 diantaranya adalah short-term, dodolnya anak ini malah kepincut dengan program long-term yakni yang berjangka 1 tahun, dengan harapan bisa menonton Tenimyu kelak…

Lalu, semuanya dimulai saat bimbingan pra-prasidang…

“Ko, kamu beresin dulu aja ya semua berkas-berkas untuk ryugaku,” ujar sang dospem.

3c68bb64………
*loading mode:on*

Jadi, jika ada pemirsa yang penasaran apa kabar saya 3 bulan kemarin setelah nonton ‘Captain America : Civil War‘, ini bentuknya.

th_082_Tepar.

Ya prasidang, ya berkas keberangkatan, ya revisi, ya OTP…. //PLAKK

4fd9f2d3“Iya, sekitar sebulan atau 2 bulan yang lalu saya merasa OTP saya diambang karam,”

Namun penderitaan tak sebatas mengirimkan berkas.

Setelah berkas terkirim dengan dramatis, anak ini pun pasrah menunggu pemberitahuan dari universitas yang akan menaunginya di Jepang kelak. Ada kejadian dodol dibalik pengiriman dokumen.

Jadi, ceritanya anak ini menulis ulang seluruh dokumen yang sudah ditulis terlebih dahulu sembari dikuliahi sang dospem tercinta di cafe pagi-pagi pasca prasidang kemarinnya. Karena dinilai dokumen pertama itu sangat-sangat berantakkan, maka dibuatlah rangkap dokumen yang baru.

Menunggu pengiriman, anak ini pun melakukan check-up pada klinik terdekat kampusnya, karena secara UNPAD punya FK yang siap menyalurkan lulusannya untuk menjaga kesehatan warga sekitar kampus *kayak gue ini* tapi sayang, saya dapatnya teteh-teteh, karena konon katanya ada dokter muda ganteng di klinik tersebut. Namun saya lagi apesssss.

Saat pengukuran tinggi tubuh, saya mendapatkan angka 150 sekian sentimeter.

Dan saya bersikukuh kepada sang dokter muda, kalau saya ini tingginya 165cm. Namun angka engga berbohong dan tinggi saya selama ini bahkan engga lewat dari 155cm

th_015_orz-v2*crying in Romanian*

Setelah mendapatkan seluruh penunjang dokumen, akhirnya anak ini pun mengirimkan dokumennya. Karena mepet giri-giri morning sama urusan kepulangan ke rumah (waktu itu ada urusan urgent, tapi apa lupa) akhirnya anak ini memutuskan untuk mengirimkannya melalui Tangerang/Jakarta ketimbang lewat pos Bandung, yang toh dipikir kalau lewat Jakarta lebih cepat.

Akhirnya dokumen pun dititipkan kepada sang ayah untuk dikirimkan esok harinya sementara anak ini pulang lagi ke Jatinenjer. Untungnya, sebelum dikirim, seluruh dokumen di-scan terlebih dahulu. Saat tengah melihat-lihat hasil scan-an nya, anak ini menemukan kolom paling riskan tidak diisi.

Yakni kolom kewarganegaraan, tempat tanggal lahir, dan kolom nama.

Lantas buru-buru lah dihubungi sang ayah untuk segera mengisi kolom-kolom tersebut.

1b38f9e2Dan perjuangan tertunda sampai sini dulu. Fhew.

Jika dikira penderitaan anak ini sudah berakhir, maka saya jelaskan bahwa pemirsa sekalian salah. Sesungguhnya penderitaan Aiko baru saja dimulai.

Karena kesalahan itu, anak ini sempat uring-uringan. Terhitung semenjak pengiriman, tidak ada pemberitahuan dari pihak universitas seberang mengenai status studinya di Jepang kelak, sementara pertanyaan ‘kapan sidang?‘ dan ‘kapan lulus?‘ semakin mengganas.

Selain orang-orang rumah yang mulai bawel, tetangga adalah hakim yang seenaknya memvonis anak ini segera lulus cepat karena status mahasiswa unpad yang tersemat di bahunya.

“UNPAD mah lulusnya cepet, 2 bulan juga langsung wisuda”tetangga gak tau diri.

63d4808bminta gue jepret pakek sendal swalow.

Akhirnya anak ini pasrah menanti kejelasan, sambil membereskan masa depannya yang sedikit demi sedikit mulai ngga jelas, dengan janji akan mengerjakan skripsinya seutuhnya ketika bulan Agustus tiba.

Semua berawal dari malam takbiran lebaran 2016. Paginya anak ini bangun siang kayak biasa, karena subuhnya dapat tugas masak dan nyuci piring bekas sahur. Saat buka hape, didapatkan satu gmail yang diduganya dari pihak astrology yang rada pehape. Namun ternyata, itu adalah email dari pihak kampus universitas seberang yang menyatakan jika dirinya bisa studi dan meminta alamat rumah karena petinggi-petinggi kampus tidak ada yang balas email.

“…. tidak ada yang balas email,…”

0eeeff42“Iboeeeeeeeee buka email iiihhhh,”

Genap sudah 3 bulan tidak enak makan, dan tidak enak tidur. Email tiba H-1 lebaran, dan itu semua karena tidak ada dosen yang membalas email beliau, makanya beliau mengemail saya.

70bff581“Drama sekali ya, hidup saya,”

Setelah datang berkas-berkas dari kampus di Jepang, langsung lah dibereskan semua urusan-urusan, termasuk membuat visa. Dan inilah tips saya dalam membuat VISA!

HOW TO MAKE A VISA

HAHAH.

Jadiiii, bikin visa itu dimulai dengan tepung terigu…. //plak.
Dimulai dengan mengumpulkan persyaratan, yang dapat dilihat >> di sini <<

Pertama-tama, apa saja yang dibutuhkan?

1. Passpor. Inilah mengapa saya bikin passport dulu.
2. Certificate of Eligibility (CoE). Karena ribet, saya dan beberapa teman menyebutnya Certificate of LGBT.
3. Fotokopi KTP. Karena aslinya pasti ditahan di pintu masuk. Hahahah.
4. Formulir permohonan visa. Bisa di-download pada link di atas, atau diambil di kedutaan.

Karena lagi-lagi saya masih mahasiswa, saya pun menyediakan fotokopi KTM, in case. Tapi nyatanya kayaknya tidak terpakai.

DSC_0087

inilah kenampakan CoE sayah

Fotokopi semuanya dalam lembar A4, tidak distraples atau dijepret, seperti halnya saat kita mau membuat Passpor, dan bawa juga aslinya (ya iyalah) terlebih Certificate of LGBT. Fotokopi semuanya dengan baik, karena di kedubes itu jauh kemana-mana bahkan buat fotokopi. Untuk teman-teman yang baru pertama kali hendak mengajukan visa, kalian bebas norak dan berhak norak seperti saya yang bahkan sampai memberikan seluruh fotokopian kartu keluarga, fotokopi itenerary, fotokopi tiket pesawat, sampai fotokopi ijazah SMK. Karena mengurus visa memang semendebarkan itu untuk saya yang malas ngesot Tangerang – Sudirman. Selain jauh, cuaca juga panas.

Untuk form pengajuan visa sendiri, teman-teman bisa mengunduh atau mengambil-nya secara langsung di kedubes. Waktu itu, saya kepikiran untuk mengunduhnya. Namun ternyata, form yang diunduh, tidak bisa di-save setelah diisi. Jadi intinya, saya harus mengisinya di tempat fotokopiannya. Sedangkan yang namanya perumahan ini, minim sekali punya tempat fotokopian yang bisa nge-print. Cuma ada satu, dan itu pun hobi tutup cepat atau tutup berhari-hari. Mungkin si uda sudah kaya.

Jadi, pada malam sebelum ke kedubes, saya pusing sekali memikirkan bagaimana cara saya ngeprint form yang sudah diketik dengan biodata saya. Karena tidak punya printer di rumah. Bagi teman-teman yang memiliki printer di rumah, ini bukan menjadi masalah.

Akhirnya saya berkesimpulan bertanya pada teman yang sudah pernah meng-apply dengan pertanyaan dodol “apa kedubes menerima pengajuan visa yang kita tulis pakai pulpen?” | Sialnya teman saya itu form aplikasinya diketik. Dan saya semalaman pusing memikirkan apa yang harus saya lakukan dengan form tersebut. Sampai akhirnya berkonklusi jika saya akan mengambilnya di kedubes esok pagi.

Esok paginya pun saya tiba di Kedutaan Besar Jepang pukul 10:30 an setelah macet yang berkepanjangan di Daan Mogot. It’s been my legacy since I am born in Tangerang; macet Daan Mogot. Dan kelewat halte TransJakarta. Jadi, saya ini dulunya sukak main-main ke Japan Foundation, yang otomatis tau donk, halte apa saja yang ada di sepanjang koridor Kota-BlokM. Namuuun, setelah menjadi mahasisiwi UNPAD, saya jadi jarang main ke Jakarta, dan berangggapan jika halte TransJakarta terdekat Kedubes Jepang adalah Halte Bundaran HI.

5a6157d0SALAH BESAR.

Yang benar adalah Halte Sarinah. Karena saat ini, saat tulisan ini dibuat, disekitaran Bundaran HI (saya dulu nyebutnya BeHa, karena HI itu mengacu pada matakuliah Hubungan Internasional) tengah diadakan pembangunan MRT (atau subway?) yang mengakibatkan ratanya halte Bundaran HI.

Jadi saya yang awalnya merencanakan untuk turun di Halte Bundaran HI, bablas melewati Sarinah, dan baru tahu jika halte tersebut tidak ada, dan akhirnya turun di Tosari, untuk kembali ke Halte Sarinah. Karena bagi saya, jika turun di Tosari, jarak tempuhnya lebih jauh ketimbang dari Sarinah bila berjalan kaki. Sekian. Untuk transportasi menyusul yaaa, kita bahas visanya aja dulu.

Intinya berbaju rapi, berdandan rapi dan tidak hinyai-hinyai amat. Apa itu hinyai? Um, sejenis lecek, kucel setelah beraktifitas seharian. Bisa juga mengacu pada wajah mengkilap karena keringat dan minyak. Sekian.

Saya masuk dengan meninggalkan gunting kuku saya di rumah. Soalnya ada metal detecting, dan saya ngga mau gunting kuku yang saya beli di bis Tangerang-Bekasi dengan harga 5.000 rupiah di sita. Makanya saya tinggal dulu di rumah. Nantinya, setelah dipersilahkan masuk, kita akan meninggalkan KTP asli kita di booth satpam untuk ditukar dengan tanda pengenal visitor. Itulah kira-kira.

Nanti, di depan mukak kita ada pintu putar yang sangat menggoda untuk dilewati. JANGAN. JANGAN LEWAT PINTU ITU. Untuk pintu masuk, ada di sebelah kiri, yang nantinya kita akan diperiksa metal detector dan isi barang bawaan kita. Saat itu saya berdoa semoga permen jeruk saya yang merek tulisan kanji-nya tak terbaca tersebut tidak disita, karena anak ini butuh sekali ganyeman sepulangnya naik bis transjakarta kelak.

Selesai diperiksa, nanti ada pintu menuju ke dalam kedubes, dan pintu tersebut harus ditekan (agak kuat) oleh saya, karena nyatanya anak ini belum sempat sarapan. Kurang tenaga. Untuk pengajuan visa, jangan naik tangga ya, kecuali memang mau ke perpus, atau memang situ lolos ke Jepang melalui monbukagakusho. Bagi yang lolos ke Jepang melalui test monbukagakusho, ada baiknya telpon ke kedubes terlebih dahulu sebelum meng-apply visa.

Saya langsung masuk ke ruangan di lantai satu. Tanpa naik tangga. Sekali lagi, tanpa naik tangga. Karena saya pengen sekali naik tangga. wkwkwkwk. Saya langsung masuk, dan cuss berdiri di counter sambil celingukan entah mau ngapain.

Untungnya, di situ lagi ada si bapak satpam. Beliau langsung mengarahkan saya untuk mengambil nomor antrian. Ingat ya teman-teman; AMBIL NOMOR ANTRIAN. Karena kalo ngga ngambil sama sekali, sampe kiamat juga ngga bakal dipanggil-panggil sama petugasnya.

Setelah saya mengambil nomor antrian (di bagian yang A ya, kalo yang B itu,…. bukan buat visa aja intinya) pak satpam tadi, memberikan form dan slip tanda terima passpor yang sedaritadi malam jadi problem saya. untuk slip tanda terima nantinya harus kita bawa dihari kita hendak mengambil passpor visa yang sudah jadi.

875328cc“Tulisan ini didedikasikan untuk bapak satpam kedubes Jepang yang sudah membantu saya yang clueless ini, terima kasih banyak paaakk~”

Sembari menunggu dipanggil, saya pun mengisi form. Ada banyak yang saya lewatkan untuk diisi alias tidak diisi (?) karena saya tidak terlalu mengerti. Let it be. Leave it. Karena nanti akan dibantu petugas. Intinya mah isi yang penting, seperti biodata, alamat asal, dan alamat di Jepang kelak.

Bagi pelajar seperti saya, isi saja dengan alamat Kantor Kerjasama Luar Negeri atau alamat Universitas di Jepang kelak. Alamat asal bisa diisi dengan alamat pribadi, maupun dengan alamat universitas teman-teman di Indonesia. Itu. Super sekali.

Tak lama setelah saya selesai mengisi form, saya pun dipanggil. Dan selalu ingat untuk mengisi tanggal, dan tanda-tangan di balik kertas form nya ya, jangan sampai lupa seperti saya. Jika ada yang bilang nanti diwawancara di booth mengenai visa, maka pertanyaan satu-satunya yang saya dapat dari petugasnya hanya; ‘ini visa untuk ibu sendiri?’. Dan jawabannya cuma ‘ya’.

Dan itu semua tidak memakan waktu lebih dari 5 menit. Dan saya masih belum selesai dari engap karena lari-lari ke kedubes tadi. Jika temen-temen mendengar visa memakan biaya pembuatan, itu dibayarkan saat mengambil nanti. So, hold your horses. Waktu itu saya apply Senin, dan disuruh kembali untuk mengambil pada hari Kamis. Berikut jam kerja-nya:

Hari Senin – Jumat (kecuali pada hari libur nasional dan libur Kedutaan)
Pengajuan Permohonan Visa : pk. 08:30 – 12:00
Pengambilan Paspor : pk. 13:30 – 15:00

Di-laman yang saya berikan di atas, ada banyak sekali informasi yang mungkin akan krusial, so jangan malas baca yaaa~

Setelah selesai mengajukan visa, saya pun keluar gedung dengan mengambil KTP asli saya terlebih dahulu. Ohya, bagi teman-teman yang belum memiliki KTP tapi mau masuk ke kedubes, setidaknya punya kartu pelajar, atau kartu identitas lainnya. Soalnya saat saya hendak mengambil kemarin, ada seorang anak yang tidak bisa masuk ke dalam karena tidak memiliki KTP dan tidak membawa Kartu Pelajarnya. Kan kasihan sudah capek jauh-jauh tapi tidak bisa masuk.

Jika lelah, sejenak bisa istirahat di foodcourt Sarinah, yang tak jauh dari Halte TransJakarta Sarinah. Ada banyak tempat makan sesuai dengan budget. Yah serendah-rendahnya paket goceng KFC sih, saya tidak melihat ada tempat makan kalangan saya di sekitar situ soalnya; warteg.

Sebelum saya bahas tatacara mengambil passpor yang sudah ditempeli dengan visa yang sudah jadi, mari kita bahas alat transportasi apa saja yang lewat depan Kedutaan Besar Jepang di Jakarta.

f6eb47d3“Iya, helikopter bisa lewat kok, kalo mau”

Ngga tau sih, tapi sekedar pengamatan saya saja, baiknya teman-teman yang hendak datang ke kedubes Jepang ini, naik kendaraan umum, karena kalau bawa kendaraan pribadi, menurut saya tempat parkir terdekatnya adalah Sarinah. Sekian.

Mari kita bahas satu-satu:

Jika teman-teman berasal dari Jabodetabek:

1. Bis TransJakarta

Ini adalah salah-satu moda transportasi yang gampang banget karena dilengkapi peta dan minim nyasar. Halte terdekatnya adalah Halte Sarinah, dengan estimasi biaya sekali jalan Rp 3.500.
Peringatan: Bis TransJakarta atau Busway, selalu penuh di jam-jam pulang kantor. Perkiraan jam aman menaiki bis koridor satu (Kota – BlokM) ini adalah siang bolong antara 10 pagi sampai 3 sore.

2. Bis Tingkat.

Where are we?? LONDON?? Tapi nyatanya memang ada bis tingkat. Bila teman-teman dari luar kota, dan naik kereta lalu turun di stasiun Gambir, maka bisa menaiki bis ini dari haltenya yang di dekat Masjid Itiqlal maupun halte di depan monas. Halte yang dekat Halte TransJakarta Monas itu looh. Iyap, bis ini tidak dinaiki dari Halte Bis TransJakarta melainkan dari Halte bis biasa. Dan biaya naik bis ini (sampai detik ini) adalah GRATIS. Bis ini yang saya tau baru 2 rute: Juanda – Balai Kota – Harmoni (tapi belum pernah naik) dan Istiqlal – Bundaran HI.
Peringatan:
1. Bis ini HANYA berhenti di halte. Kalau mau naik, ya dari Halte. (Jangan kayak saya yang begoknya malah nunggu dipinggir jalan)
2. Bis ini sukak penuh sama anak-anak pulang sekolah, jadi jangan protes yaaa~

3. Kopaja / Bis / Metromini
Yang selengkapnya bisa dicek >> di sini <<

4. Angkutan Berbasis Pesan Online
Ini yang paling gampang. Kalau ngga tau caranya silahkan google dengan keyword ‘bagaimana cara memesan angkutan berbasis online’.

Kalau dari Luar Kota

1. Stasiun Gambir
Ini saya tulis berdasarkan pengalaman seorang teman yang kemarin PP Cimahi – Gambir untuk mengurus visa bersama saya, dan tak perlu menginap! Bagaimana caranya? Jadi kita naik kereta yang namanya Argo Parahyangan. Ada dua keberangkatan pagi dari Cimahi, jam 5 subuh dan jam 7 pagi. Dan bisa pulang dari Stasiun Gambir dengan 2 keberangakatan juga yakni: 15:30 dan 18:15.
Jadi, jangan khawatir kalau kehabisan tiket jam 15:30 ya. Tapi saran saya sih, ketika membeli tiket keberangkatan beli juga tiket kepulangannya. Tapi ya itu sih, resiko kalau sudah memegang tiket kepulangan, mesti on-time di stasiunnya.

Adapun untuk keberangkatan dari kota-kota lain bisa di cek dari situs berikut >> tiket.kereta-api <<

Untuk yang dari luar kota segini dulu, dikejar deadline soalnya heheh. Paling nanti ditambahkan jika ada yang kepikiran.

Mari kita lanjut kepada cara mengambil visa yang sudah jadi.

Cara Mengambil Visa yang Sudah Jadi

Sudah baca jam kerja di atas?? Yup, kita ambil visa cuma bisa siang alias jam set.2 ke atas. Sebelum itu, itu jatah bagi yang hendak apply visa. Bawa KTP (kemana-mana, ini penting) dan slip yang kemarin sudah disahkan sebagai tanda terima (ciyey) dan DUIT! Masa iya visa sudah jadi tapi tidak bayar, Adapun besaran bea visa adalah Rp 330.000 (kalau saya tidak salah ingat).

Prosedur masuk ke kedutaan seperti yang sudah kita alami saat apply visa, lalu masuk. Jika loket belum buka, silahkan tunggu. Toh ngga bakal diusir juga. wkwkwk. Sambil nunggu, lagi-lagi kita harus ingat untuk MENGAMBIL NOMOR ANTRIAN. Masih di bagian A, bukan bagian B.

Setelah nomor kita dipanggil, maka kita menunjukkan nomor antrian dan slip kemarin, lalu membayar sesuai dengan harga yang tertera, dan voila! Visa pun sudah ditangan dalam waktu singkat.

DSC_0088

Pengalaman saya kemarin, antri menunggu mengambil visa lebih lama daripada saat antri apply visa. Mungkin karena sudah banyak orang yang sudah menunggu sebelum jam set.2, dan waktu itu saya datang sekitar jam set.2 lewat. Jadi, menunggulah sebelum jam set.2. Sekian.

Dan saya tinggal menunggu keberangkatan saya September ini. Uuuhuhuhuhu, semoga bertemu dengan mas Kengo-kuuu~~

current song: Dear No One by Tori Kelly
current mood: happily re-watching Captain America : Civil War in BluRay mode.
location: Home desu!

-Ijou!-