Minna-san, konnichiwa.
Kembali lagi dengan saya, Aiko. Yang masih galaw karena Mas Kengo-nya tercinta.

Semenjak hari ini tanggal 13 Agustus; tanggal yang saya nanti-nantikan, maka izinkan saya untuk mengucap:

HAPPY BIRTHDAY OUR JERK SEBASTIAN STAN!!
OUR MEME KING

tumblr_inline_o91l1tVjDd1qac49s_500
Thank you for ruining my life, and my cocoro.

4a46b55d020017el
And also for your information, today’s Da’s birthday. Happy birthday Juragan! 

Sebenernya, saya lama sekali ingin berbagi pengalaman saya dalam membuat passport. Namun, karena April kemarin sangat padat sekali kerjaan yang bikin hampir sulit bernafas, dan Mei…. saya balas dendam tidur siang, lalu Juni saya full puasa (sambil beresin doujin-doujin) dan Juli kembali ribet ngurusin dokumen, dan Agustus. Yeay! Agustus! akhirnya saya bisa kembali menulis, walau beberapa hari kemarin shock dulu dengan pengunduran diri Kengo-san dari dunia entertainment.

Sebenernya, ada cerita… 2 cerita di balik postingan ini.

1. April akhir, saya diminta membuat passport oleh dosen saya tercinta, dan membuat saya grasak-grusuk daftar passport secara online.
2. Saya begitu stress mengurus visa kemarin, sampai bernazar “kalo visa sampai jadi tanpa masalah, saya bernazar untuk membuat tulisan ini!”. Dan visa saya kelar tanpa hambatan….

tuzki-emoticon-009“I’m doomed,”

Dan sekarang, mari saya ceritakan kisah yang sangat receh ini; “Cara Aiko Membuat Passport”

Okeh. Dimulai dari ssangat awaaaaalll sekali; tanggal 21 April.

DSC_0065
Siang itu, sebenarnya Aiko tengah berpulang ke Tangerang, karena mamak mengancamnya untuk tidak bolos upacara pernikahan sepupunya. Sebenarnya malas juga hadir ke upacara pernikahan saat pertanyaan yang tersuguh bukanlah ‘siapa OTP favorite kamu?‘ tapi ‘kapan nyusul?‘ dan yang akan saya balas tanya ‘…. ke liang lahat?‘.

Namun, ternyata saya butuh juga melarikan diri dari prasidang juga. Akhirnya setuju, dan kembali pulang ke rumah, untuk pada hari Minggu-nya menghadiri unwanted upacara pernikahan tersebut dengan imbalan internet tanpa batas di rumah selama 3 hari yang bernama wifi.

Saat lagi asyik gegelehean (tidur-tiduran), saya mendapat chat yang isinya ‘apa kamu sudah bikin passport?‘ dari dosen saya tercinta 🙂 Dan saya langsung loncat ke depan PC, membuat pendaftaran passport secara online, lalu kembali ke hape untuk membalas chat dengan “sudah bikin sensei, tunggu wawancara“.

Dan mulai dari sini, akan saya jelaskan semuanya.

Mungkin temen-temen sudah pernah membaca cara membuat passport sebelumnya dari blog-blog lain. Percayalah, kalo udah nyampe blog ini, 80%nya cerita receh saya.

Jadi, sebenarnya saya sarankan sekali mendaftar secara online dulu untuk menentukan tanggal wawancara sebelum akhirnya nanti datang ke kantor imigrasi pada tanggal yang sudah ditentukan. Selain lebih cepat, mendaftar online juga membuat kita bisa lebih santai saat datang ke kantor imigrasi nantinya.

Okay here we go!

1. Daftar dulu dan mengisi data diri di laman berikut >> imigrasi pra permohonan passport

2. Biasanya, (kalau saya pada saat itu) setelah mengisi biodata, saya diminta untuk membayar ke bank yang ditunjuk oleh pihak imigrasi; BNI–melalui email yang dikirimkan. Email tersebut nantinya akan berisi attachment rujukan terhadap pihak bank atas pembayaran passpor yang hendak kita ajukan. Waktu itu sih bayar sekitar,… berapa ya saya lupa. 300k-an. Sepertinya. Pokoknya nanti nominalnya ada dalam email dan surat rujukan. Atau salah satu.

3. Setelah membayar, status pengajuan kita akan berubah, dan kita akan diminta untuk memilih tanggal untuk wawancara. Waktu itu saya memilih tanggal 20 pada bulan depannya, yang which means, pas sekali 1 bulan jangka dari pendaftaran passpor saya.

4. Santai dulu, ngopi dulu. Setelah menentukan tanggal untuk datang ke kanim, nantinya kita akan mendapat email yang berisi surat undangan untuk datang ke Kantor Imigrasi pada tanggal yang telah ditentukan. Natinya teman-teman akan diminta menyiapkan:

1. fotokopi KTP
2. fotokopi Akta Kelahiran
3. fotokopi Kartu Keluarga
4. fotokopi Buku Nikah (bagi yang sudah menikah, gue belum)
5. lembaran yang tersemat dalam e-mail kita. Print aja, terus bawa. Itu biodata kita.
6. MATERAY Rp6000 jangan LOOPHA.
7. dan saya juga melampirkan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa)

karena masih berkuliah……. *tiba-tiba nangis* …. belum lulus. Asli, lampirin aja, daripada diminta bolakbalik << *orang yang bolak-balik* Semuanya, difotokopi dalam kertas A4 ya, kalo ngga salah. Dan fotokopi KTP atau kartu-kartu yang dibutuhkan, langsung selembar aja, ngga usah dipotong. Dan selengkapnya persayaratan membuat passport biasa bisa dilihat di sini >> Persyaratan Pembuatan Passport Perorangan Biasa

Waktu itu saya mengajukannya di Kantor Imigrasi Kelas I Kota Bandung. Karena sudah tidak keburu mengurus di Tangerang, karena bulan Mei itu isinya Pasca-Perang-Dunia-Satu *ahahah* Pasca Prasidang yang mengharuskan saya membuat revisi, terlebih Mei, walau nawaitunya balas dendam tidur siang, tapi jatohnya malah saya bolak-balik ngurus dokumen untuk perkuliahan nanti.

Nanti deh cerita kalo ada mood. Ahaha.

Daaan, tibalah saya pada tanggal 20 Mei 2016. Kalo tidak salah ingat, sebaiknya tidak menggunakan kemeja atau baju warna putih saat foto passport deh. Waktu itu saya pakai blouse abu-abu dengan blazer butut saya. Sebaiknya berkerah ya gengs. Correct me if I am wrong yaa.

Jadi waktu itu, anak ini pakai blouse tanpa kerah gitu. Terus saat melihat-lihat (lupa dimana) (blog kalo gasalah) pada salah satu tulisan, jika bagi yang hendak foto passport, hendak memakai baju berkerah, disarankan kemeja sih kayaknya, dan anak ini malah ngga pake. Walhasil, sempet kepikiran untuk nge-chat temennya barang minta dibawakan kemeja.

Gelisah menanti, ini anak malah sibuk memikirkan jawaban apa yang hendak dikelakarkan kalau ditanya sama petugasnya “mbak, kok ngga pakai baju berkerah?”

a. “baju saya tinggal yang ini pak, sisanya habis. Lagi dicuci semua
b. “blazer saya berkerah kok pak, nih.”
c. menggelepar tiba-tiba di lantai, dan berpura-pura sebagai orang lain.

Dan saat difoto, ngga ada dari ketiga jawaban di atas terlontar, karena emang si petugasnya ngga nanya juga. Dan saya aman. Jadii, sebaiknya pakai kemeja, dan berpakaian rapi. Hindari kaos yaaa, apalagi kaws partay. Duuuh, tintuuuusssss.

Sebaiknya juga bawa kelengkapan syarat-syarat di atas fotokopi dan aslinya. Just in case.

Dan point penting, jika teman-teman datang di tanggal yang ditentukan untuk foto dan wawancara passport: DATENG PAGI. << *orang yang hare-hare*

tuzki07
ASLI. DATENG. PAGI.

Jadi, berdasarkan pengalaman pribadi, anak ini berangkat setelah matahari mulai tinggi karena satu alasan; ngisi perut dulu *tukang makan, susah* Maka, pada tanggal 20, anak ini baru berangkat jam 7, dengan menggunakan bis sejuta umat Jatinangor; DAMRI, tibalah ia di KANIM Kelas I Bandung pada jam 9, dan dapat antrian yang ternyata baru dilayani setelah jam istirahat. Itu juga 10 antrian setelah jam istirahat.

Jadi, kalo mau berangkat jam 5, berangkat aja. Kalo mau nginep di Kanim, nginep aja. Asli.

Oh ya, tambahan, jika nantinya ada orang yang senasib sama dengan saya; anak UNPAD dan bingung mau ke KANIM naik apa, ini saya berikan rutenya. Banyak yang bilang naik angkot, tapi saya rasa naik DAMRI lebih murah.

1. Naik DAMRI jurusan DipatiUkur – Jatinangor. Tips: karena bis ini langkanya minta maap meski masih pagi, maka, menunggu bis ini harus pagi-pagi buta dan ekstra sabarrr. Kalo ternyata bisnya sudah nangkring di Pangdam, consider your self lucky.

2. Minta turun di PUSDAI. Nanti jalan ke JL. SUPRATMAN, lalu belok kanan. Jalan terus sampai ketemu Kantor Imigrasi di sebelah kanan. Kalo mau naik angkot, mangga aja sih. Tapi sayang aja…. duitnya. Wkwkwk. Kalo mau naik angkot, naik aja angkot yang arah ke kanan dari kita berdiri di PUSDAI. nanti minta turun di KANIM. Paling sekitar 3rb.

3. Kembali ke Jatinangor, tinggal ulangi saja dari nomer dua ke nomer satu, naik DAMRI di PUSDAI.

4. Kalo masih bingung, browsing. Buka google map. Ini link GoogleEarth-nya.

5. Kalo ngga punya kuota buat buka link-nya, ke Kampus. UNPAD udah banyak hotspotnya. Kalo hotspotnya down, FISIP inetnya cepet, PSBJ juga bagus. wkwk.

Sekedar tips buat temen-temen, kalo niat dateng siang, maka disarankan sekali bawa yang namanya music player dan buku. Karena nunggu antrian dipanggil kalo ngga dateng pagii-pagi itu luamak banget.

Singkat cerita, akhirnya saya dipanggil.

Sebenarnya, jauh di dalam hati, saya minta dilayani oleh bapak-bapak, bukan ibu-ibu. Ngga tau sih, tapi serasa saya agak heta kalau menghadapi ibu-ibu. You know lah.

4a46b55d020017es
Eh, dapetnya mas-mas.  

Sesuai dengan apa yang pernah saya baca, dimintalah saya untuk menyerahkan dokumen-dokumen yang sudah saya siapkan.

Ternyataaa, jauh dari apa yang saya perkirakan, si mas yang kebetulan melayani saya ini, lebih ganteng dari apa yang saya perkirakan. Dibanding bapak-bapak yang saya bayangkan, si mas sini cukup bikin saya nervous dan engap selepas deg-degan nunggu nomer antrian dipanggil.

Ternyata counter yang melayani saya, juga melayani seorang lagi yang hendak mengganti passpornya. Kebetulan si bapak sebelah saya ini (yang mau ganti passpor) lupa memfotokopi buku nikah (kalau tidak salah) maka si bapak yang bersangkutan pun pergi untuk memfotokopi. Tinggalah saya berdua dengan si mas.

“Mbak, asli Tangerang ya?” tiba-tiba si mas bertanya.

Saya pikir ini adalah bagian wawancara di Kantor Imigrasi untuk pembuatan passport. Ya saya jawablah jika saya memang asli Tangerang.

“Jadi, enakan di Bandung apa di Tangerang?” si mas nanya lagi.

tumblr_lpa24vn9wa1qbeua3o3_250

Yaaaa, saya jawablah dengan jujur kalau enakan Tangerang kemana-mana. Bukannya Bandung Jatinangor ngga enak, tapi yang namanya makanan itu banyakan enak disana, karena saya tumbuh, berkembang dan membesar di Tangerang, maka saya jawab:

“Enakan Tangerang, karena ada masakan mamak….”

tuzki60
“Duh, polos sekali….”

“…. Tempat lahir juga sih ya,” timpal si mas yang bikin saya malu.

Lalu, tibalah kami pada sesi pemotretan.

“Mbak, munduran dikit. Kedeketan….”

Duh, rasanya pengen banget punya malu waktu si Mas bilang gitu. Maka saya pun mengundurkan kursi sedikit untuk difoto.

Dan wawancara ternyata ngga se-serius itu. Ngga terlalu ingat apa yang terjadi selanjutnya (?) yang jelas minggu depannya saya datang pada hari Kamis-nya (pembuatan waktu itu hari Jumat) untuk mengambil passport yang sudah jadi. Dan ta-da~!! Saya siap untuk ke Thailand 2018 //plak

DSC_0066

Muka-nya sudah ke-blur sendiri. Tau lah terlalu hinyai untuk diperlihatkan

Nanti pada postingan selanjutnya, saya akan menceritakan pembuatan visa saya, yang ngga kalah pedihnya. Hohoho.

current song:Quasimodo’s Dream‘ by Dave Mason
current mood: sakit perut
location: Home desu!

-Ijou!-