Holla guys!
Konnichiwa! Aiko desu!

Back with me, Aiko yang sebenernya lagi galau mau lanjut nulis apa nonton film mellow. Tapi yang jelas anak ini lagi kesengsem setengah mampus sama yang namanya Sebastian Stan. Ngga tau kenapa, padahal sebel banget sama perannya di Captain America : The Winter Soldier (karma does exist). Tapi pas nonton Civil War malah kebaliknnya; kesengsem habis-habisan sampe cengar-cengir sendiri. Mulai gila. Baik sama abang Stan maupun sama kehidupan anak tahun terakhir yang mulai ditanyain ‘kapan wisuda‘ sama ‘kapan nikah‘.

th_085_“Baru juga ospek kemaren elah…”

Sebelum lebih lanjut saya curhat, perkenankan saya buat mengucapkan:

875328cc“Selamat Menunaikan Ibadah Puasa”
bagi teman-teman yang menjalankannya. Yang temen-temen fujo, doujin dll nya simpen dulu ya. Jangan dibakar, sayang, belinya sampe puasa-puasa gitu wkwkwk.

OKE! Ada yang tahu judul di atas??

the-martian-poster

JA! ahahahah. Adalah sebuah judul film yang rilis pada tahun 2015 yang diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Andy Weir. Berkisah tentang Mark Watney–seorang astronot sekaligus botanist yang tertinggal di planet Mars, saat kawan-kawannya menyelamatkan diri dari badai planet merah tersebut, dan membatalkan misi lalu pulang ke bumi. Mark, harus bertahan hidup seorang diri di planet yang tak berpenghuni tersebut.

Jadiii, beberapa waktu yang lalu anak ini akhirnya nonton film ini, sebelumnya ada di bioskop, namun ngga mau nonton karena trauma berat habis nonton Gravity (2013), yang buat anak ini, seremnya minta ampun. Padahal, boro-boro ada setan, tembak-tembakan aja nihil. Tapi yaa gitu, akhirnya Aiko memutuskan tidak menonton The Martian di bioskop, karena kali ini sedang jomblo, dan ngga tau bakal ngelendotin siapa kalo-kalo takut.

Semua berubah, saat anak ini kelar nonton Captain America : Civil War, dan kepincut sama abang Stan. Setelah menelusuri filmography laki-laki kelahiran Constanta tersebut, ia menemukan The Martian sebagai salah satu film di dalamnya. Kepalang donk? Apalagi salah satu temennya (yang ship sama fandomnya kebanyakan sama ama anak ini, oh gosh! love you!) bilang kalau The Martian ini seru.

Maka pada malam itu saat setrikaan numpuk, ditontonlah film ini sambil ditemenin roti bakar sebagai pengganjal perut karena hepeng udah tinggal selembar.

Here we go!

Hati-hati spoiler.

Awalnya saya purely nonton film ini demi mencari sosok Sebastian Stan, which berperan sebagai Dr. Christopher Beck. Yang ternyata, dapet scene (yang menurut saya) kurang syekalih (cry). Pada akhirnya, saya dipaksa menikmati film.

The-Martian-Mission-guide-3

I do really love that hair of Dr. Beck!!

35ivv4z.jpg
“Boleh bilang kalo Matt Damon itu mirip Sebastian Stan ngga?? Saya keder membedakan mereka”

Tapi jangan sampe jodoh, soalnya saya suka abang Stan sama abang yang satunya lagi, Evans. Kiiw.

Ternyata, The Martian tak se-seram apa yang saya bayangkan, selain aman dari darah yang berlebihan, film ini juga punya unsur humor-nya Matt Damon yang berperan sebagai Mark Watneybotanist yang tertinggal di Mars.

Mungkin agak sedikit berat bagi saya yang berpengetahuan sangat minim mengenai science. Film ini banyak menyajikan itu–matematika, cara membuat air, hitung-hitungan, dan ilmu pengetahuan alam lainnya. Dan otak saya terpaksa bekerja.

Saya suka ketika film menyorot Mark, dan para kru Ares III yang dalam perjalanan pulang ke Bumi. Sedikit membosankan saat menyorot adegan-adegan para petinggi NASA yang tengah berusaha memulangkan Mark ke Bumi–meski itu penting juga sih. Namun, agak ngantuk aja terlepas dari kinerja Vincent dan Rich Purnellastrodynamic yang nyeleneh dan manuvernya memulangkan Mark ke Bumi.

Saya begitu menikmati peran Dr. Beck yang…. (maklum lah lagi kesengsem) dan yang namanya fujo, pasti mikirnya melenceng, walau ini film straightnya minta maap. Jadiiiiii, saya suka sekali dengan kimia Watney dan Beck di sini. However saya menyadarinya saat para Kru Ares III tengah berdiskusi untuk menyetujui penambahan 1 tahu ke dalam misi mereka, karena Hermes akan berbalik arah ke Mars demi menjemput Watney.

tumblr_o8yawhrtai1qjro97o1_r8_250

kan unyu banget ya…

Yang saya suka di sini adalah gigihnya Beck untuk memilih berbalik ke Mars demi menjemput Watney dan bersedia menerima perpanjangan 1 tahun ke dalam misinya untuk pulang ke Bumi.

baa60776“Kan unyu banget ya? Kan nge-hint ya?”

63d4808bitu mah elonya aja!!

TAPI. TAPI. TAPI. Sangat disayangkan sekali saat klimaks kepulangan Watney untuk masuk ke dalam Hermes–kapal yang membawa mereka pulang-pergi Bumi-Mars–TIDAK SESUAI DENGAN YANG DI BUKU!!

215ad82f“Son of a–!!”

Jadiii, secara tak sengaja anak ini membeli buku The Martian saat ia tengah berada di toko buku–ya iyalah masa bengkel motor–dan tak tahu mau membeli apa. Maka dipilihlah novel kaya Andy Weir ini. Dan saat dibaca,… adegan kepulangan Watney yang seharusnya dijemput oleh Beck, malah menjadikanya dijemput oleh Commander Lewis pada film besutan Ridley Scott tersebut. And then, saya lihat ternyata pada wiki film ini, ada tulisan ‘based on‘. Oh good. Saya tidak dapat cocoroh Watney-Beck sayah. Hiks.

Honestly, saya suka sekali Johanssen-Beck. Two nerds fell in love. Tapi saya lebih suka Watney-Beck. HAHAH! In your face. Gimana ya, Beck adalah orang yang menyatakan Watney sudah tiada, tapi ternyata dia masih hidup, dan akan (dalam buku sih iya) mengurus Watney di Hermes, setibanya botanist itu di pesawat yang membawanya pulang. Unyu gak sih?

Tapi yah, akhirnya saya memahami perasaan para pembaca yang mendapatkan bukunya di filmkan lalu beda dengan bukunya. Tapi sekali lagi, this is based on. You shouldn’t complaint any of that.

Okay, next, saya suka sekali Matt Damon di sini. Pertama kali liat akting beliau saat saya nonton Bourne di TV, and he’s so fierce. Apa ya, jutek-jutek nagih gitu, kayak abang Barnes. HAHAHAH again.

Saya salut sekali (kalau ngga pake stunt ya) dimana Matt Damon bisa tampil se-bugar itu, lalu mendadak sangat kurus dibanding dengan keadaan tubuhnya di awal film. Itu pasti ada diet ketat diantaranya. Poor him. Dan ya, saya suka sekali akting Mackenzie Davis sebagai Mindy Park di sini. I love her accent!

Dan saya sangat suka sekali hubungan antar para kru Ares III. Mereka unik.

(anyway saat saya mengetik ini, saya tengah MENDENGARKAN variety show ‘K*t*k*n P*tus‘. Dan saya mendengar ‘kenapa sih ngomong nya soksok english gitu,’ and it did hit me really hard, but here’s the point: saya kebanyakan nonton film Marvel dan film-film Hollywood lainnya belakangan ini *since I do not have any JLPT this term* dan kedua, I did obtain my diploma English level two for two years studies, even it was 3-4 years ago so yeah, I do understand English, meski ngga tau mana beda american sama british, dan beberapa kata-kata sulit lainnya karena tenggelam studi Bahasa Jepang saya yang intens selama 4 tahun ini) –curhat detected

So, saya minta maaf syekalih kepada para pembaca saya yang membacanya juling dengan campuran Indonesia-English *I’m sick of Japanese a while* Maaf ya, tapi sejujurnya ini demi kesenangan semata. Just for fun!

So, next.

Film ini mengalir. Alurnya mengalir begitu saja tanpa memaksa saya berpikir kalau ini adalah film. Bagi saya, menonton film ini seperti menonton dokumenter. Terlepas dari lagu-lagu disko (yang menurut Watney) payah milik Komandan Lewis, sisanya saya beri 4 bintang untuk film ini.

Tottally Reccomended!!

P.S Buat para temen-temen fujo yang mau nonton film ini, tolong jangan berharap apapun sebelum sakit hati seperti saya. Trims.

current song:
current mood: do really head over heels for Sebastian Stan, Christopher Beck, and James Bucahanan Barnes.
location: Home desu!

-Ijou!-