Minna-san! Kembali dengan saya, Aiko!
Yup, kali ini dengan fanfic yang sedang saya idam-idamkan karena kebanyakan nonton Tenimyu.

“Makasih, D-san, sudah mengembalikan semangat ke-Tenimyu-an saya~”

Cerita ini dibuat pure dengan bayangan dan angan saya mengenai ‘Absolute King Rikkai 2nd Service‘.

“Anggeur nya, can we move on ti dinya…”

Hampuraaa~ maapkeun. Habisnya gimana ya…. buat saya, Rikkai 1st itu ngga ada habisnya. Adaaaa aja yang bisa diomongin,…. dan bisa dikeceng~ //plak. Dan benar,.. saya belum move on… hiks.

Ditulis selesai revisi kedua, dan di tengah pengerjaan revisi ketiga. Jadi yaaa gitu. Daripada stress mikirin revisi dan kebelet nulis fanfic, jadi aja ditulis dulu fanficnya. Revisian ntaran… *digaplok skripsi hard cover*

Pure mengenai afeksi saya dengan pasangan papa-mama Rikkai yang unyun banget sebenernya, tapi hubungan mereka yang pasang-surut bikin cocoroh juga. Agak nyesel juga kenapa OTP saya bukan pairing MAJOR yang hidupnya CANON dan didukung HINT yang berkecukupan. Dan daitai mengenai anak-anak Rikkai 1st yang rata-rata gpada ga punya otak. Kelakuan…

Silahkan dibaca.

Title: E P H E M E R A L
Author: Aihara Izumi
Series: Tenimyu (Kanesaki-Yagami), Rikkai 1st
Genre: Semi-romance
Rating: PG
Note: Absolute King Rikkai 2nd
Current mood: Ngantuk, tapi laper. Duh, gusti…

E P H E M E R A Le2917c84c3d3aabac740bbd6370652f6

e·phem·er·al (əˈfem(ə)rəl) adjective: lasting for a very short time.

“Ohayo,”

Sebuah pagi yang biasa, musim gugur mulai menampakkan warnanya. Meski pohon ginko belum menggugurkan dedaunannya, namun terlihat jelas dari seragam sekolah para siswa siswi sekolah menengah yang menggantinya dengan blazer tebal atau cardigan.

Ren—sang pemeran kapten Rikkai, menggerut dahinya. Tidurnya semalam dirasanya kurang nyenyak. Entah karena Masa begitu berisiknya menjahili sang kouhaiGenki, di kamar sebelah, atau memang hanya dirinya saja yang kinchou berlebih. Tadinya niat curhat mengenai deg-degan di dada pada teman sekamarnya—Kanesaki. Meski bukan senshuuraku pertamanya, namun tetap saja senshuuraku itu penuh tekanan baginya—yang bahkan tidak memiliki banyak scene dan dialog ketimbang pria yang semalam malah dilihatnya sudah mengorok pulas, meski jam masih menunjukkan pukul 11 malam. Pantas saja jadi Genichirou, jadwal tidurnya teratur sekali.

Ruangan untuk Rikkai pagi ini masih sepi, hanya berisikan dirinya saja. Meskipun begitu, tas milik sang fukubuchou sudah bertengger duluan menggantung di sisi kursi riasnya. Dan sosoknya entah kemana.

“Yoga pagi kali,…” tuduh Ren dalam hati.

Pertunjukkan masih 5 jam lagi, namun dirinya sudah datang sedari jam 7. Lagi pula apa enaknya di kamar hotel sendirian, sementara Kane sudah melesat entah kemana sedari matahari belum terbit. Yah, setidaknya lebih baik terlalu awal, daripada terlambat. Toh ia jadi punya waktu untuk makan enak.

“…—ya, nanti lagi, akan kucoba,”

Dari lamunannya akan sarapan apa yang hendak disantapnya pagi ini, tiba-tiba pintu ruang ganti yang memang ditutup olehnya tadi, terbuka. Menyembul sosok bocah yang tengah mengobrol dengan lawan bicara yang berlalu melewati ruangan tanpa masuk—bukan anggota Rikkai berarti.

Adalah Kento yang masih menyunggingkan senyum lebarnya, meski gesturnya tadi sudah menunjukkan dadah-dadahan dengan lawan bicara yang Ren duga adalah Masei—sang dataman sekolah tetangga.

“Ah, ohayou!” sapanya riang pada sang buchou yang diam terduduk memandanginya dari atas-sampai bawah, lalu menaruh tas di sisi pria 22 tahun tersebut.
“Semalam kau kemana?” Ouji menginterogerasi teman satu kamarnya di hotel tersebut. Tak ubahnya seperti seorang ibu yang menanyakan sang anak yang telah hilang semalaman.

Sebenarnya mereka tinggal berempat dalam satu kamar besar; Ouji-Kane-Kento-dan Genki.

Namun si bocah keriwil tersebut meminta izin untuk tidur di kamar Masa dan sisa anggota Rikkai lainnya, karena Masa mengiming-iminginya bermain uno. Yah, meski dengan berat hati ia izinkan, karena Ren tahu, satu kamar memang pas untuk ber-4, entah siapa yang dikorbankan di kamar sebelah. Jutta mungkin yang kebagian sofa.

Sedangkan bocah berumur 18 tahun ini lenyap entah kemana sekembalinya ia dan Kane ke kamar setelah mencari udara segar di luar ruangan.

“Nanti juga kembali,” racau Kane yang segera membungkus tubuhnya dengan selimut. Meninggalkan Ren dengan pertanyaan tunggalnya—kemana Kento? Meski sudah digedornya kamar sebelah yang ributnya minta ampun—Genki memiliki banyak coretan spidol di wajahnya karena kalah bermain uno—Kento tetap tak ditemukan di kamar sebelah. Dimanapun.

Sampai pagi tiba, sampai kasur yang ditiduri Kane kosong dan kembali rapi seperti semula, ia tak mendapati Kento kembali ke kamar.

“Ah, itu,…” yang ditanya malah garuk kepala, “… aku tidur di kamar Masei, semalam kami berlatih untuk hari ini,” cengirnya.

Ren menghela nafas, “ya setidaknya beritahu aku atau Kane-chan donk,… kami kan jadi bingung mau mengunci pintu atau tidak,” pinta Ren pasrah. Well, yang bingung dirinya sih, toh Kanesaki sudah tidur duluan tak lama setelah tubuhnya terbungkus selimut. Tak sampai 10 hitungan malah.

Kento mengangguk. Nampak seraut wajah bersalah, “…maaf,”

Dasar bocah. Wajah bersalahnya pun tetap membuatnya gemas, “… tidak apa, kau boleh tidur di kamar Masei kalau begitu ceritanya,” ujar Ren menghibur kouhainya sebelum ia pundung seharian.

“… lagi pula sebentar lagi Masei lulus, jadi habiskanlah waktumu bersa—”

“—APA?”

Kento yang menunduk, langsung menatap tajam Ren yang bahkan belum menyelesaikan kalimatnya. Matanya yang dilatih sipit pun membuka lebar. Terbelalak tak percaya.

“Eh?” seketika ia menghentikan niat untuk melanjutkan perkataannya, “apa aku salah berbicara?”
“Tadi,… lulus?” Kento mengulangi ucapannya beberapa saat yang lalu.
“I,… Iya,…” ragu, Ouji mengkonfirmasinya.
“Lulus,…” nampak raut bingung, tak percaya dan tak ingin percaya pada pemuda yang 4 tahun lebih muda darinya tersebut.
“Iya,… Seigaku generasi 3 kan akan lulus setelah penampilan terakhir,” Ouji memberikan pernyataan guna mengokohkan kalimatnya atas Masei.

Kento terdiam sesaat, “tapi Masei tak mengatakan apapun padaku,…” protesnya pelan. Perlahan, raut wajah muramnya mulai nampak. Kento terdiam diiringi dengan canggungnya atmosfir ruang makeup tersebut.

OHAYOOO—

Tiba-tiba pintu dibuka kencang, seiring terdengarnya suara yang penuh semangat, sebelum akhirnya nampak Kanesaki dengan balutan jumper dan celana trainingnya sembari membawa tentengan.

Dugaan Ren kalau laki-laki itu yoga pagi dulu, benar adanya memang.

“Aku bawa makanan enak loohh~” ujarnya riang tanpa merasa adanya keanehan atmosfir di ruang ganti, lalu duduk begitu saja di sisi Ren yang men-death glare-nya karena tidak bisa baca situasi.

Sampai akhirnya Kento memutuskan untuk pergi begitu saja keluar ruangan, meninggalkan Kane yang baru saja membuka jinjingannya yang ternyata nasi kepal.

“Kok pergi sih? Aku bawa makanan enak padahal,” komentar Kane pada sosok yang meninggalkan pintu ruang make up terbuka begitu saja.

—PLAKK!

Aww!!” berjengit, Kane mengusap pahanya yang dirasanya perih karena ditabok oleh sang buchou.
Nampak Ren dengan wajah sengit, “Kane-chan! Ih!” protesnya tak bermakna.
“Loh? Kenapa?” yang diprotesi, ya protes balik donk. Secara ia tak tahu apa-apa dan langsung ditabok begitu saja. Alisnya berkedut.

Ren menghela nafas. Ia jadi kesal sendiri. Tak jadi melanjutkan kesalnya pada pria di sebelahnya, ia terduduk mengerut keningnya yang dirasa makin pening setelah memukul paha sang pemeran fukubuchou yang dirasanya begitu keras, dan menguras banyak energi dari dirinya yang tak mendapatkan tidur berkualitas semalam.

“Aku mengatakan padanya kalau Masei akan lulus,…” bisiknya. Masih terasa rasa kesal Ren kepada dirinya sendiri yang sudah merusak mood dari sepagi ini.
Kane yang baru sadar letak duduk perkaranya, membatalkan untuk melucuti penuh onigiri yang sudah disobek ujungnya tersebut, “loh memang benarkan kalau Seigaku akan lulus?” ulang Kane. Tak ada yang salah dari pernyataan Ren, namun mengapa terdengar begitu salah?

“Iya,… tapi Kento tak tahu,”

Meski masih adanya kecanggungan antara dirinya dengan cast termuda Rikkai tersebut, namun pementasan selesai dengan tanpa hambatan. Senshuuraku tinggal 2 hari lagi.

“Kento,” panggilnya pada sang dataman Rikkai tersebut, saat penampilan terakhir hari itu sudah selesai, dan sebelum mereka kembali ke ruang ganti.

Panggung beranjak sepi, meninggalkan dua sosok buchou dan bendahara klubnya tersebut. Ren mendekat, pada pemuda yang tengah sibuk menyeka keringat di dahinya dengan tangan kosong.

“Aku meminta maaf untuk pagi ini,…” ujarnya hampir tak terdengar. Namun sebagai yang lebih tua, ia merasa berkewajiban untuk memulai permintaan maaf duluan, “… aku membuat suasana diantara kita jadi tak enak seperti ini,…”
“Tidak,…” Kento menghentikan apa yang nampaknya hendak diucapkan oleh sang buchou,… “itu bukan apa-apa,” ia terhenti dan memandang Ren. Mata bulat, besar. Menatapnya. “aku hanya kaget mendengar berita itu,… tak tahu apa yang harus kuberikan pada Masei saat ia lulus nanti, sedang Masei sudah mengajariku banyak hal,” lirihnya.

Ada sebentuk roller-coaster yang meluncur di hati. Ada sebuah perasaan lega dalam dadanya mendengar apa yang Kento katakan. Syukurlah jika memang pada akhirnya pemuda itu tak memiliki kekesalan apapun padanya.

“Maaf,” lirihnya lagi. Matanya memandang sayu penuh harap, agar sang seniornya itu tak memarahinya.
“Aku juga minta maaf,” ucap Ren menepuk bahu kurus yang menurutnya hanya terdiri dari tulang yang terlapis kulit saja, karena hampir tak ada ototnya. Seketika ia berharap kalau Kento banyak makan, agar kedepannya badan kurus itu memiliki daging setidaknya.

“Aku mengerti perasaanmu,…” ada getir yang dirasa dari perkataannya, “… kita semua pasti sedih saat mereka lulus,” senyumnya, “maka itu, kita akan membuat pementasan ini berkesan,”

Senshuuraku, 1 hari lagi…

Ren termenung di depan pintu masuk ruang ganti, saat dilihatnya sang Ace Rikkai tengah asyik mencoret-coret sesuatu di meja riasnya dengan asyik. Dalam diam, ia perhatikan pemuda yang 2 tahun lebih muda darinya tersebut.

“Sedang apa?” gatal, akhirnya ia memutruskan untuk bertanya.

Genki menatapnya sejenak, cengiran bocahnya yang khas diberikan untuknya sebelum ia kembali fokus dengan apa yang dilakukannya tadi, “membuat hadiah perpisahan untuk Doori-kun,”

Mendapatkan jawaban yang memusakannya, Ren pun ber-ooh sembali ngeloyor masuk. Jam-jam istirahat sebelum penampilan kedua pentas hari ini. Duduk berbeda 1 kursi dari sebelah kiri bocah Akaya tersebut, Ren tertarik untuk mengamati apa yang dilakukan Genki.

“Seigaku,… lulus ya,…” gumamnya tak terdengar. Genki tak menghiraukannya. Ia asyik dalam dunianya sendiri. Ia tak masalah dengan hal itu, namun rasanya latihan,… mulai sekarang akan menjadi sedikit berbeda.

Tiba-tiba sebuah donat tersorong dihadapannya. Terkejut, Ren kembali kepada kenyataan. Adalah Kanesaki yang telah berdiri di belakangnya dengan tangan yang menyodorkan kudapan tersebut kepada sang buchou.

“Mau?” tawarnya singkat.
“Boro-boro mau” pikir Ren mengelus dada, menengkan detak jantung yang sempat melejit jadi sekali detak dalam sepersekian detik.

Melihat reaksi yang ditawarkan, Kane tertawa kecil. Pada detik berikutnya ia mengigit donat tersebut. Pandangannya pada pemuda bertopi thitam tersebut belumlah lepas. Ada selaksa perasaan ingin mengomelinya karena telah membuat ia terkejut. Namun sepintas, ia seperti ingin melihat kepada kouhai di sebelahnya, dan,…

… sudah raib.

“Kemana Genki?” alih-alih mengomel, Ren malah menanyakan keberadaan bocah tersebut.
“Ke hall, ia langsung beranjak pergi saat kuberitahu staff-san menyediakan makanan manis di hall,” ujar Kane dengan mulut berhenti mengunyah, sehingga pipinya gembung sebelah, “mau main dengan Doori katanya,”

Well, bermain dengan Ace Seigaku itu mungkin benar adanya, namun sepertinya yang terlebih dahulu dilakukannya adalah mengambil makanan yang disediakan staff. Itu baru Genki.

“Yang lain?” tanyanya kepada anggota satu tim-nya tersebut tentang anggota satu timnya yang lain.
“Makan,” jawabnya pendek.

Benar-benar anak Rikkai sekalih, puji Ren dalam hati. Entah pujian atau sebuah hal yang disesalkan.

“Kau serius sekali barusan, sampai alismu berkedut,” komentar Kanesaki yang tengah menepuk-nepuk dadanya—menyingkirkan remah donat yang baru saja kelar dimakannya.

“Cepat sekali,… apa donatnya dihisap??” komentar Ren dalam diam. “Oh iyah?” responnya.

“Kau tak sadar?” Kane yang kini mengerutkan alisnya.
Ren menggeleng. Pelaaaaaaan sekali, “… tidak,”

Dari ekspressi herannya, Kane tersenyum. Matanya berkerut. Masih 23 tahun umurnya, namun kerutannya nampak jelas, “kalau kau banyak pikiran,… bertahanlah. Sebentar lagi pementasan ini akan selesai,” ujarnya.
“Tidak,” cepat, diresponnya pernyataan wakilnya tersebut, “aku,… hanya memikirkan kelulusan Seigaku,” jawabnya dengan kecepatan tak secepat sanggahannya barusan.

“Oh iya ya,” Kane seperti baru tersadar kalau tim sekolah sebelah rivalnya itu akan lulus esok hari. “Lalu?”

Ren mendesah. Seakan ada sebuah beban yang begitu berat, baru saja turun ke pundaknya, “capek ah ngomong sama Kane-chan,” protesnya entah dengan siapa, sembari berlalu meninggalkan ruangan.

Hari kelulusan Seigaku pun tiba. Pada hari di akhir pementasan seluruh rangkaian 2nd service, Ueshima pun menyampaikan pidatonya serta ceremony pemberian sertifikat kecil-kecilan yang tak lagi dilakukannya di atas panggung—mengurangi performa menurutnya, karena akan banyak casts yang menangis seperti kejadian Dream Live lalu.

Semua casts mendengarkannya dalam hening, khusyuk. Betapa Ueshima melepas casts ketiga ini dengan begitu apresiasi. Akhir pidato pun riuh dnegan tepuk tangan. Sementara ini senyum mengembang dari seluruh casts, dimana para Seigaku menerima sertifikatnya, dan sekolah rival lainnya memberikan selamat serta pelukan.

Perpisahan, belum terasa sekental itu.

“Setelah ini, bersiap untuk pidato terakhir ya,” ujar salah seorang backstage manager yang mengatur jalannya pementasan dari belakang panggung.

Pementasan terakhir pun tiba. Di hari ini, di jam ini, menjadi pementasan penutup. Mengakhiri hari, mengakhiri pertandingan kali ini. Satu persatu casts mulai mengusap wajah. Antara keringat dan airmata kini sudah tidak ada bedanya lagi. Sebentar lagi, setelah pidato, dan setelah encore terakhir, Seigaku akan resmi lulus, dan memulai perjalanan barunya masing-masing.

Ia mendekati sosok jangkung yang tengah menjauh dari sisi panggung. Sebagian tubuhnya terbalut gelapnya sudut backstage. Ren tersenyum saat menepuk pundak kurus yang berguncang tersebut. Panggung mendadak hening. Tanpa musik, tanpa backsound. Sekilas, suara Minami terdengar. Seigaku memulai pidato kelulusan mereka.

Yang merasa disapa—Kento—membalikkan tubuhnya. Adalah sang pemeran Yukimura yang menatapnya lembut ditengah isaknya. Tanpa mengatakan apapun, dipeluknya Ren yang sedikit lebih pendek darinya tersebut. Ada kesedihan yang ditumpahkannya pada jaket yang tergantung lepas di pundak sang kapten.

Mendekapnya lebih erat, Ren mengusap punggung sang dataman. Bagaimanapun ia adalah yang termuda diantara seluruh 8 anggota Rikkai. Wajar saja baginya bila pemeran Yanagi ini sudah menangis duluan ketimbang casts lainnya. Mengingatnya Ren tersenyum lebar.

Uchi no sanpo wa… pikir Ren dalam hati, selaksa senyum terkembang penuh di bibirnya.

Terdengar isak yang ditariknya. Nafasnya diatur kembali, karena menangis dalam keadaan hidung mampet itu sangatlah berat. Bagai berlari marathon sepertinya. Mengusap wajahnya, Kento melemparkan senyum.

“Aku sudah tidak apa-apa,…” ujarnya melepas peluk sembari masih mengucek matanya yang memerah dengan satu tangan, sedang tangan yang lainnya nampak oleh Ren tengah menggenggam sebentuk buku yang pada covernya tertulis jelas kanji Yanagi.

“Pasti pemberian Masei,” senyumnya.

Tidak menepis juga sih, dalam hatinya kini tumbuh semacam perasaan melankolis. Sebenarnya ia tak seemosional itu menanggapi kelulusan Minami—sang buchou Seigaku. Namun melihat satu persatu anggota Rikkainya mencucurkan airmata dan berbagi peluk dengan teman-teman Seigaku lainnya, mau tak mau ia merasa sedih juga.

Jutta, Ren,… Kento, Genki…

Dirasanya mereka menjalin hubungan yang baik dengan para casts Seigaku. Sehingga terasa sekali olehnya kehilangan mereka atas kelulusan generasi ketiga Seigaku tersebut.

“Ayo, setelah ini encore,”

Encore pun berjalan singkat. Tanpa disadarinya waktu telah berlalu, dan tirai pun turun untuk yang terakhir kalinya. Menyisakan para casts yang sudah menahan isaknya sedari tadi, meluapkan semuanya. Kento yang sedari tadi di sisi sang fukubuchou, kini sudah menghambur memeluk lawan singles 3 nya—Masei.

Tak lama, Genki menghampiri Doori yang ngga ada aura sendunya sama sekali. Pemeran Ryoma tersebut memeluk Ace-nya dnegan senyuman lebar, sementara Genki terisak menyisakan lingkaran basah pada jaket Seigaku pemuda tersebut.

Suasana panggung begitu haru sekali.

Banyak peluk yang terbagi dan ucapan-ucapan terima kasih mengalir. Membuatnya tanpa sadar mengadah. Menghindari pandangannya yang mulai pudar. Airmata perlahan menganak di pelupuk matanya. Ada perasaan yang begitu kuat dalam dadanya, membungkus hatinya, pengandaian menggambarkan situasi dalam kepalanya dan menjadikan airmata di matanya.

“Ou-chan,”

Dari pandnagannya pada rangkaian lampu lighting atas panggung, ia menoleh pada sosok berambut perak yang menepuk bahunya; Masa.

Perasaan itu semakin kuat.

Melangkah mendekat, ia menyambut pelukan lebar sang pemeran trickster. Apa yang dibendung matanya sedari tadi, kini mengalir turun ke pipinya. Pelukan ini, saat-saat seperti ini,… suatu saat ia akan merindukannya.

Dan pementasan hari itu sudah benar-benar berakhir.

Ren kembali saat disadarinya panggung sudah tidak seramai tadi. Banyak casts yang telah kembali ke ruang ganti, meninggalkannya dengan Masa dan beberapa casts lain, karena ia meyakinkan pemeran Niou tersebut kalau ia baik-baik saja, setelah menghambur pada Masa.

Apa yang melekat dalam pikirannya sedari tadi adalah bayangannya saat timnya yang berisi 8 orang ini lulus. Hari ini baru Seigaku. Bagaimana jika dikemudian hari Rikkai dinyatakan lulus? Apakah ia bisa setegar Minami, menyampaikan pidatonya dengan senyum?

Entahlah. Sekarang pun ia tidak bisa sekuat itu.

—BRUKK

Tanpa disadarinya, ada seorang lagi yang tengah jalan dan bertemu dengannya di persimpangan menuju ruang ganti Rikkai. Ia yang sedari tadi menunduk, jelas tak menyadarinya karena pikirannya kini penuh dengan pengandaian-pengandaian yang tak tahu kapan akan dialaminya seperti hari ini.

“Ou-chan,…?” adalah Kanesaki yang menatapnya khawatir saat ia tengah mengusap dahi yang terantuk dengan keranjang bawaannya sendiri.
“Kane-chan!” ujarnya tersenyum tanpa melepas tangan yang mengurut dahi. Sakit.
“Kau tidak apa-apa?” tanyanya dengan alis yang berkerut. Nampak jelas sekali kekhawatiran pada pria ini.

Ren menggeleng pelan sembari tersenyum.

“,…mata mu merah sekali loh,” ujar sang fukubuchou yang belum melepas tatap dari wajahnya.
“Ya jelas, aku kan habis menangis Kane-chan,” canda-nya sambil berlalu.

Sang fukubuchou mengikutinya dari belakang menyusuri lorong tersebut. Dalam diam, mereka pun akhirnya tiba pada ruang ganti Rikkai yang,…

… sepi.

Ruangan dengan 8 meja rias tersebut kosong tanpa jelmaan manusia satupun di dalamnya.

“Ini pada kemana?” tanya Ouji yang entah ditujukan kepada siapa, karena Kane sendiri baru datang bersamaan dengannya. “Mungkin tengah di ruang Seigaku,” jawab Ouji pada pertanyaannya sendiri, lalu duduk pada meja rias bagiannya.

“Kau tak mau turut serta?” tanya Kane yang menyusul duduk di sisinya.
Yang ditanya menggeleng, “… menangis itu capek tau,” ujarnya dengan nada canda.

Kane hanya bisa tersenyum lebar menanggapinya. Membuka botol mineral yang tersedia di atas meja riasnya, ia pun mulai minum.

“Kane-chan,…”

Dalam hening yang mulai terasa, Ren mengambil perhatiannya, “… apa kau, pernah membayangkan seperti apa kelulusan kita kelak?” tanya sang buchou yang menatap dirinya yang tengah meminum dengan mulut manyun. Haus.

Menyelesaikan tegukannya yang terakhir, ia meletakkan kembali botol pet tersebut, “… iya, tapi tidak akan seperti ini,” ujar Kane. Pandangannya mengitari seisi ruangan. Yappa, meja Genki yang paling berantakkan dengan sisa makanan, bungkus makanan, dan tumpukan makanan. “Aku membayangkan kita lulus,… ya lulus. Kita akan menghabiskan malam di izakaya, sampai pagi—tentunya dengan mengirim Kento dan Bacchon pulang terlebih dahulu,” cengirnya yang disambut dengan pukulan bantal pada wajahnya.

“Itu namanya bukan kelulusan kalau 2 orang dikirim pulang duluan,” protes Ren. Manyun.

Kane tergelak. Puas sekali jika didengar dari ketawanya.

“Akhirnya manyun juga,” ujarnya setelah memuaskan diri dengan tawanya.
LOH?” Ren mengerutkan alisnya.
“… habis, sedari tadi di panggung, kulihat tangisan mu begitu menyayat hati,” ujarnya yang entah menggoda atau bersimpati.

Mendengarnya Ren terdiam. Suasana di sekitar kembali hening, dengan Kanesaki yang merasa bersalah karena membuat buchounya kembali diam.

“Aku hanya berpikir,…” ucapnya sebelum laki-laki tersebut membuka suara untuk meminta maaf kepadanya, “…apa jadinya aku tanpa kalian,…” nada bicaranya mulai bergetar, “,… tanpa mu.”
“Hari ini yang kulihat adalah mereka memberikan salam perpisahan kepada Seigaku. Bagaimana jika di kemudian hari kita saling memberikan salam perpisahan?”

Kane terdiam saat lawan bicara dihadapannya itu mulai mengusap matanya. Airmata menemukan jalurnya kembali menuruni pipi Ren. Apa yang harus dilakukannya melihat pemeran Yukimura ini menangis? Ia tak mampu berkata-kata. Namun diam saja menjadikannya seperti tidak bersimpati pada apa yang tengah menjadi kekalutan Ren.

Maka tanpa permisi, direngkuhnya Ren.

Ada kehangatan yang mendekapnya, ada ketenangan. Berbeda dengan Masa, dimana ia hanya menumpahkan airmata yang menganak, dengan Kanesaki, ia seperti menumpahkan isi hatinya, kekhawatirannya, sehingga airmata tak berhenti mengalir dan membasahi pundak pemuda tersebut. Ren menekan wajahnya pada lipatan lehernya, suara isaknya yang tertahan pada bahunya dengan jelas membuatnya tidak bisa tidak memeluknya.

Mendekapnya. Tanpa kata-kata.

Sebagaimana Ren yang dapat menumpahkan airmatanya tanpa mengatakan apapun, Kanesaki pun menenangkannya tanpa berbicara apapun selain dekapan. Ada genggaman yang dirasanya pada punggung, Ren menggerut bajunya, mencengkram kainnya, seperti tak ada niatan untuk melepaskannya. Membalas peluknya.

Sejenak, ruang di sekitar mereka serasa beku. Waktu berhenti berjalan.

Ephemeral

OMAKE

Kento kembali kepada ruangan dimana ia meletakkan seluruh barang-barangnya. Sialan sekali mereka, berpesta bir tanpa menyediakan jus jeruk untuknya. Bacchon sudah bawa soda sendiri, sedang dirinya yang tak memiliki apa-apa ini terpaksa minum air mineral saat para casts beramai-ramai kanpai.

“Tadai—”

Adalah Kanesaki yang tengah menenangkan Ren dalam pelukannya tersebut sebagai pemandangan pertama yang dilihatnya. Otomatis, sang termuda di Rikkai ini menjadi tak enak hati, dan malu sendiri.

Melihat juniornya baru saja kembali dari hura-hura ruang sebelah, Kane mengisyaratkan untuk janagan membuat suara, karena sang buchou sedang konsen menangis—itu bisa saja menghancurkan mood melankolisnya.

Alih-alih masuk dan mengambil jus kalengnya, Kento menutup kembali pintu yang masih digenggamnya pelan, lalu kembali ke ruangan dimana sisa casts Rikkai masih berada.

“Loh? Katanya mau ambil Jus?” Jutta menatap kouhainya yang kembali dengan ekspresi yang sulit diterjemahkannya; takut, malu, masam?

Kento menggeleng cepat, “tidak jadi,” jawabnya nervous.

-fin-

ATOGAMI: Maafin ya, kalo ternyata endingnya anti-klimaks. Asli, otak udah ngga bisa diajak kerja sama. Badan udah nempel banget sama kasur ( ; w ; ) temen-temen pembaca, bisa lihat sendiri betapa saya ngga move on nya dari anak-ANAK Rikkai 1st, segitu yang paling mudanya tahun ini bakal berusia 27 tahun.

“Sebentar lagi Kento umur 27tahun,… hiks padahal 10 tahun lalu masih sweet 17 boy~” //yaiyalah

Tujuan di sini, saya hanya ingin menggambarkan kekalutan saya, melihat Seigaku 3rd lulus, dan membayangkan lulusnya Rikkai 1st, dan ternyata malah ngga kejadian sama sekali *gigit centong* Dan meski porsi ALPHA kali ini sedikiiiitt sekali, saya harap tersampaikan dan memberikan siraman pada jiwa-jiwa Alpha lovers yang tengah kehausan *halah*

Dan di sini, saya cinta sekali hubungan persahabatan antara Masei dan Kento yang begitu…. apa ya, soalnya begitu berpelukan, nangis mereka itu yang bikin menyayat hati, dan Kane malah meluk RENN, bukan Ouji *asah golok* rasanya pengeeeennn banget ngebelokin si bapak biar meluk Ouji gituuuuuu *kebiasaan, fans ALPHA apalagi KaneOuji, pasti punya mental yang ngga stabil*

Sekian dari saya. Terima kasih sudah baca curhatan ngga jelas ini.
Akhir kata,

All hail, ALPHA!

-Aiko

current mood: ngantuk
current song: Hyotei – SEASON
location: Kostan

–Ijou–