Minna-san! O-mata he!
Kembali lagi dengan saya, Aiko pada hari yang berbahagia ini! Yup! Semalam saya habis menghajar 1st Season Tenimyu secara marathon, jadi senang sekalii bisa kembali pada perasaan fuwa-fuwa di dada kalo Kento itu unyun bangeeettzz!! //plak

Seluruh pembaca blog saya harus tau: kalo saya cinta banget Rikkai 1st! //plak Entah kenapa saya bisa senyum kalo liat mereka bareng-bareng, hieks. Terus sekarang udah mencar-mencar kemana tau, kadang sukak seneng kalo masih ada yang posting foto barengan habis ngapain gitu. Oh Kento~ *maap lagi mabok sama cowok satu itu*

Ini cerita yang saya buat pada 2012 lalu, hm… gatau gimana tapi hari ini saya anggap menarik, jadi aja dipublish.
Akhir kata, selamat membaca.

Title: Syllove
Author: Aihara Izumi
Series: Tenimyu (Kanesaki-Yagami)
Genre: Semi-romance, Semi-Drabble, Alternative Universe,
Rating: PG
Current mood: Mau kubur diri…

S y l l o v e

syllove (silent love) is a type of love shared between two people who love one another to unbelievable levels and this love can be felt silently (urbandictionary.com)

Merasakan sebentuk kelembutan yang menyapa syaraf-syarafnya, Ren mengerjapkan mata-nya berkali-kali. Bias cahaya pagi yang menjadi 7 warna saat menembus gelas beningnya yang berisi air putih di sisi jendela kamarnya itu. Pagi telah datang, sebelum dirinya sempat menyelesaikan mimpi semalam.

Menghela nafas panjang, hidungnya menerima wangi citrus sebagai balasannya. Aroma lembut yang terhirup dari serat-serat selimut tebalnya. Mengusap wajahnya sejenak, ia merasakan permukaan yang lengket melalui telapak tangannya. Nampaknya ia harus segera mencuci muka.

Menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku, sesaat itu juga ia mengenai sesosok lain yang berbagi satu tempat tidur dengannya. Dilihatnya rambut ikal yang menyembul dari hamparan putih yang juga menutupi sebagian tubuhnya itu.

Tersembul pertanyaan remeh dalam otaknya, ‘siapa dirinya?‘. Mengerutkan alis, Ren berusaha mengurai kejadian sebelum ia tertidur. Setidaknya, dengan siapa ia berbagi tempat tidur ukuran double ini. Tergoda, disingkapnya satin tebal itu. Nampak sebuah wajah yang dikenalnya. Terlelap, kedua matanya terpejam damai. Menyunggingkan senyum yang secara otomatis di wajahnya.

“Kane-chan…” gumamnya.

Semalam dirinya terlalu malas untuk pulang ke apato-nya sendiri. Setelah pulang dari latihannya, ia memilih untuk mampir ke tempatnya, sampai jam kereta terakhir berangkat.

Merasakan hangat menjalari hatinya, ia menghapus niat untuk cuci muka. Alih-alih ke kamar mandi, Ren malah menatap wajah pria di sisinya itu. Terjulur, jemarinya ingin mencumbu helai rambut legam yang jatuh di atas dahi pemuda yang 1 tahun lebih tua darinya itu.

Kanesaki–pemuda itu–tergerak, bahkan sebelum ujung jemari Ren menyentuh dahinya. Menggeliat tak nyaman, garis tipis di kelopak matanya mengerut. Melenguhkan suara aneh dengan kedua tangan tertahan di udara. Tak sampai 3 detik, matanya terbuka. Iris gelapnya memantulkan langit-langit putih kamar yang ditempatinya.

“Apa aku membangunkanmu??”

Terdiam sejenak, Ia tak langsung bereaksi. Sampai pada kedipan matanya yang ke tiga, Kane sontak menoleh. Didapati Ren berada di sisinya. Menatapnya dengan mimik bingung. Agak terkejut nampaknya.

“Ah, Ren…” desahnya menghela nafas, “mengagetkanku saja,” tubuhnya perlahan mengendur. Sampai akhirnya benar-benar kembali ke pelukan hangat kasur.
“Habisnya, aku tak pernah melihatmu tidur se-damai itu,” candanya dengan menempelkan tubuh mereka. Kembali ke dataran empuk yang masih terasa suhu tubuh mereka.
Kanesaki hanya tertawa kecil. Disisipkan lengan kirinya di bawah leher Ren. Membawanya dalam sebuah dekapan. Memaksa pemuda itu menyesap aroma tubuhnya. Keringat, musk, campuran sedikit citrus, dan bau dari akhir musim semi. Perlahan jemarinya menyisir helai rambut Ren, sekaligus mengusap kepala pemuda tersebut.

Terdiam dalam ketenangan seperti ini. Merasakan cicit murai putih yang hinggap di momiji sisi jendela kamar dengan gendang telinga, dan membiarkan angin tenggara menerbangkan aroma laut.

“Jam berapa ini?” suaranya lirih. Serak. Belum minum air putih, mungkin. Kane bertanya tanpa merubah posisi mereka.
Ren yang tergelitik untuk menatap benda bulat yang menggantung di dinding kamarnya, dan mengeluarkan bunyi detak yang tak berhenti-henti. “Ah, jam 7…” papar Ren setelah menahan tarikan otot leher belakangnya, karena butuh 45 derajat mengadah dari posisi semula.
Tiba-tiba saja gerakan tangan Kanesaki di kepalanya menjadi pelan. Sampai akhirnya terhenti, “jam 7??”
Ren bangkit, sedikit bertumpu pada sikutnya untuk melihat wajah Kane, “kenapa?”
Kanesaki menatapnya horror. Mereka terdiam. Ren yang tak mengerti, dan Kanesaki yang tak mengungkapkan.
Sampai……..

“Aku telat!!”

Dengan kecepatan penuh, pemuda bertubuh tinggi besar tersebut bangkit dari kasur. Tempurung kepalanya tak terduga menghantam dagu Ren. Memang dasar kepala batu, Kanesaki tak merasakan apa-apa dan langsung melesat ke kamar mandi. Tinggalah Ouji–Ren, yang menahan sakit dengan bulir airmata yang menganak di sudut matanya.

“Kubuatkan sarapan ya?” tawar Ren setengah berteriak.
Namun tak ada jawaban. Mungkin Kane sibuk dengan sikat gigi dan pasta-nya yang sering kali meleset tak pada tempatnya.
Menghela nafas, Ren pun beralih ke dapur, “lebih baik kubuatkan saja,”

—–

Sambil mengaduk teh paginya, tangan kiri Ren masih memegangi dagu-nya yang memar. Benturan dengan batok kepala Kane memang cukup menyakitkan. Dari sela rintih teko yang menjerang air hangat untuk mengompres pipinya, Ren masih dapat mendengar kisruhnya laki-laki tersebut dalam berdandan pagi ini.

“Sepatu-ku! Sepatu-ku!”

Hantaman langkahnya, membuat lantai keramik ruang tidurnya menghasilkan dentum bunyi yang lumayan jelas terdengar dari bilah dapur. Ia akan bersedia meminta maaf pada tetangga di bawahnya bila tetangganya itu protes akan bunyi yang tak menyenangkan dari ruangannya ini di apato mereka.

“Bukankah semalam kau taruh di dekat tangga?” timpal pemuda yang kini mengoleskan butter pada roti yang hendak dipanggangnya. Dan tentu saja, juga masih memegangi dagunya.
Tanpa ucapan terima kasih, atau sekedar respon, suara langkah kaki tersebut menjauh ke arah genkan.

Ren hanya bisa menghela nafas pasrah. Menuang air hangat, lalu mencelupkan handuk kecil untuk mengompres dagunya yang dirasa beberapa urat syarafnya putus. Dengan satu tangan yang mengoles selai pada roti yang baru dipanggangnya, Ia pun menyiapkan sarapan untuk mereka berdua, dimana setengahnya ia tata dalam kotak makan yang akan dibawa Kane. Meski tak makan dengannya, ia berharap Kanesaki tak melupakan jadwal sarapannya.

Dari instingnya, Ren dapat merasakan sesosok yang datang menghampirinya. Masih dengan langkah besarnya, ia kini berdiri di depannya yang terduduk menata roti panggangnya.

“Aku berang……..kat,….”

Kalimat tersebut terpotong. Ren mengadah saat Kanesaki menyelesaikan ucapannya.
“Ah, sudah mau berangkat?” Ren menyodorkan segelas teh hangat–menu utama di pagi hari untuk Kanesaki.
“Sudah jam segini, dan aku harus mengambil kereta jam 8,” ujar Kanesaki masih dengan intonasi turun tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah pemuda tersebut.
“Ah, ini bekalmu,” Ren buru-buru mengangsurkan kotak makan yang baru selesai ditata-nya, “Aku hanya bisa membuatkan roti panggang, dan………”

“……. dagu-mu kenapa?”

Ren terdiam. Meski tangannya tak lagi mengompres dagu-nya, namun laki-laki tersebut mengetahuinya.

“Ini…..” jemarinya terjulur menyentuh dimana rasa sakit yang masih terasa nyut-nyutan tersebut berasal.
“…. terantuk kepalaku tadi ya?” Kanesaki menghalangi tangannya untuk menyentuh bagian tersebut agar ia dapat melihat dengan jelas.

Ada semburat merah keungu-unguan. Melihatnya, Kane bergidik sendiri, merasakan merinding yang menjalari tengkuknya. Dengan sekali lihat saja, ia ngilu. Tanpa bertanya lagi, pemuda itu mendekati dirinya. Disingkirkannya secara penuh tangan Ren yang masih menggantung.

Ren menggeleng pelan, ada tawa yang sedikit terselip “… aku sudah baikan kok,” ujarnya
Jemari besarnya terjulur menyentuh pipi Ren, seraya turun ke arah dagunya. Mengusapnya pelan, “maaf ya,”
Mendesis sakit, Ren sedikit menjauh dari sentuhan laki-laki tersebut, “Kane-chan,” ia menggenggam lengan besar tersebut, ” sudah… aku tidak apa-apa…” senyumnya.

Lagi, disingkirkannya tangan pemuda yang menatapnya sayu tersebut, membalas pandangannya secara tegas, Kane pun sedikit membungkuk untuk melihatnya lebih jelas.

Lalu, diciumnya dagu tersebut lembut.

Nampak raut terkejut yang diberikan Ren kepadanya, namun Kanesaki hanya tertawa tipis karena mimik wajah pemuda di hadapannya tersebut, “nanti pulang ku traktir es krim,” ujarnya singkat, lalu diciumnya Ren, dalam hitungan kejap mata, “Aku… berangkat dulu,”

Ren hanya mengangguk. Jantungnya masih berdegup kencang akibat perbuatan Kane yang dinilainya tiba-tiba tersebut.

“Ku ambil bekal ku ya, ittekimasu”

-fin-

Atogami: Dekitaaa—!!
Sebenernya fic ini saya temukan dengan arsip tahun 2012 pada tanggal 1 Februari. Pagi ini saya iseng ngebersihin folder konsep di blog, biar gak menuh-menuhin rasa bersalah karena ngga ngelarin tulisan. Pas nemu lagi, baca, ternyata bisa saya selesaikan *lebih tepatnya dipotong sih, soalnya seharusnya masih ada kelanjutan tapi saya malah milih bikin drabble begini*.

Kebetulan hari kasih sayang, kebetulan habis nonton 1st Service-nya Rikkai yang 1st season. Kebetulaaaan, lagi balik demam Alpha gara-gara dengerin BAS 009. Udah deh, kelar. Fuwa-fuwa sama niya-niya sendirian. //cocoroh

Akhirnya fic ini publish setelah…. 4 tahun bulukan di konsep. Quick editing, jadi maap yak kalo ada typo, huohuohuohuooooow. Daaan, saya pure sekali ingin menyampaikan rasa mendalam pada cocoro saya ini kepada seluruh fans baik Alpha Pair maupun KaneOuji, termasuk Kamiken. Kalian yang kuat ya,

4a46b55d020017enmay the odd be ever in your favor.

Semoga suatu saat nanti ada saat-saat yang membahagiakan, melepaskan kita dari perasaan nyesek ini di dada.
Salam ALPHA!

-Aiko

current song: Yonezu Kenshi – Eine Kleine
current mood: overdosis scene ALPHA yang mengakibatkan brokoroh
location: Home desu!