2012-06-06 12.44.21

Mengiyat. Jarang banget pengunjung, pantainya bagus.

 

Sebenernya saya mempunyai tanggung jawab untuk memposting perjalanan saya kemarin ke Bali selama 4 hari. Tapi, yang namanya Aiko ngga mungkin rasanya kalau langsung ngerjain gitu aja. Yang namanya males-malesan sama nonton drama turki itu yang diduluin. *gue nonton drama turki karena ikut nyokap yak*

Jadii, ceritanya, minggu kemarin saya nekad sendirian ke Bali naik kereta *sampek ikut nyelem ke dasar selat bali* dengan modal dengkul. Hahah ngga pe’a, di balik itu semua gue harus bercucur keringat, air-mata sampe yang namanya sabar banget tiap hari ditinggal Damri, walau Damri yang butuh gue bukan sebaliknya //digiles demi mengumpulkan rupiah demi rupiah. Awalnya ngga kepikiran ke Bali, karena yang namanya liburan semester, ini anak sukaknya di rumah. Leyeh-leyeh tiduran pakek kipas angin yang pol sambil ngenet karena wifi rumah kuenceng banget.

Tapiii, karena iseng suatu pagi yang indah di mata kuliah penafsiran -tjieh- ini anak iseng ngecek harga tiket pesawat bakal ke Bali, karena demi rangginang di toples monde butter cookies emak gue, matkul pagi itu garing banget. Karena diatas rata-rata semua harganya alias mahal ngga ketolongan, maka itu Aiko pun mengecek tiket kereta, dan iseng bikin jadwal perjalanan. Ternyata total rangkuman perjalanan yang Aiko bikin, menghabiskan kurang dari 1jt. Dari situ anak ini tergiur untuk pergi ke Bali.

Begitu selesai booking-booking segala rupa, tiba-tiba anak ini terserang mager *biasa penyakit kalo mau jalan jauh* Tapi karena rasa magernya lebih besar dari pada semangat nge-cancel bookingan, maka alhasil jadilah anak ini sendirian ngebolang ke Bali.

tuzki-emoticon-001Sekian.

Teruuus, saya malah jadi ingin nulis pengalaman saya waktu ke Bali di tahun 2012. Jaman-jamannya males kuliah karena baru selesai sekolah, dan pulang H-1 sebelum hari ujian SNMPTN, dan ngga mau pakek belajar. Bukannya sombong, asli waktu itu pesimis berat yang namanya masuk PTN karena selain kadar IQ yang rendah, anak ini juga berasal dari SMK Swasta dengan bayaran murah alias ngga elit-elit amat. Tapi jadinya,… ya gini. Saya hidup di Jatinangor dengan segala asmaranya…. apa asrama ya?

Jadii

3 tahun yang lalu… apa 4 tahun? Taulah, saat itu mas Yasuka datang ke Bali dengan tujuan promo sebuah wisata perjalanan Jepang *baru sadar belum cerita kejadian 2012 lalu setelah ngecek arsip haha* //gabutuh dan seorang teman saya Rie-san memberitahu kalau dedengkot yang salah satunya pemeran Katakura Kojuurou ini–mas Yoshida Tomokazu, juga turut serta dalam rangkaian promo tersebut. Jadi aja saya kabita dan nekad ke Bali *lagi-lagi mokad* daaan ujung-ujungnya ngga ketemu ( ; w ; ) but, i had fun!

Nah, salah satunya akan saya ceritakan malam ini.

Malam itu, di Bali… *cieh* setelah pulang menjadi stalker di Sanur, saya dan seorang senpai, S-san, kembali ke kediaman saya di Nusa Dua. Saya diantar pulang oleh S-san *terharu* dan kemarin waktu ke Bali, saya diantar kemana-mana sama S-san *temen gatau diri* saya melanjutkan malam dengan nongkrong di tempat tongkrongan terdekat bersama seorang karib sebut saja Oshin *haha* Kebetulan, waktu itu saya nge-booking penerbangan pulang menggunakan kartu kredit Juragan, *anak gatau diri* dan ada ketentuan yang saya baca dengan samar, kalau saat boarding nanti, harus memperlihatkan kartu kredit yang digunakan saat booking, jadilah Juragan-buapake– mempercayakan kartu kreditnya meski dapat tersirat dari matanya kalau beliau setengah mati tidak rela membiarkan saya megang kartu kredit *plak*

Nah, napas dulu.

tuzki-emoticon-002Lanjut.

Kebetulan sekali di kawasan nongkrong Nusa Dua tersebut, ada sebuah kafe kopi yang cukup terkenal… yak! Starbucks. Cetarmbaks //plak. Dan kita-kita yang masih tergolong labil *saya dan Oshin, S-san mah sudah pulang dan ngga tergolong ke dalam golongan labil alay macam gue* pengen sekaliii aja nongkrong di kafe sambil ngalor-ngidul ngga jelas, karena sehari-hari di sekolah, cuma bisa nongkrong di tukang es depan sekolah yang bahkan kita sebut ‘bar‘ padahal cuma jualan teh sisri sama marimas…

Nah, kebetulan, di depan kasir, ada banner sebuah bank, dan bank tersebut adalah bank yang dipakai ayah sebagai kartu kreditnya *err… yagitulah* sedang mengadakan promo dengan pembelian menggunakan kartu kredit bank tersebut. Teringat akan omongan sang ayah beberapa waktu lampau kalau beliau memiliki beberapa point yang bisa ditukarkan dengan produk starbucks. Karena merasa aji mumpung, dipakailah kartu kredit tersebut dan tanpa pikir panjang, digunakanlah kartu kredit tersebut sebagai pembayaran.

Saat proses pembayaran, tiba-tiba si kasir meminta tanda tangan anak ini pada struk.

Deg-degan karena sebelum berangkat, sang ayah menceritakan kalau memakai kartu kredit, tanda-tangannya haruslah sama dengan data si pemakai. Kalau salah maka akan dipenjarakan. Sekot jantung donk, secara gitu… tapii memang sih tanda-tangan ayah-anak ini hampir mirip, hanya berbeda sedikit, namun tetep saja pemilik tanda-tangan terbaik adalah Juragan karena apalah saya yang tanda-tangannya hanya dipakai saat UN dan masih belepetan.

Maka dengan detak jantung yang tak menentu, saya pun tanda-tangan. Tau sih, kalau ayah memberikan kartu tersebut, dan saya membawa kartu tersebut dengan seijin ayah, tapi tetep aja ngga lucu kalau tiba-tiba saya ditahan di Bali, ngga bisa pulang, dan gagal ujian.

Maka saya dan Oshin selaku orang yang memakai kartu kredit untuk membeli minuman tersebut, bersepakat kalau terjadi hal macam-macam apalagi sampe ditahan Polisi, maka kami berdua yang akan menanggungnya *sebenernya saya yang maksa* //plak

Dan kamipun menikmati minuman yang kami beli tidak senikmat itu karena saking deg-degannya.

Dan ternyata sampai detik ini nothing happen. Dan saya baru mikir,…

tuzki60“Itu kan kartu kredit,…”

Sebenernya selama 6 hari saya di Bali pada 2012 lalu, tiada hari tanpa ketololan anak ini. Ya salah jalan, ya salah belok, dan macam-macam. Saya merangkumnya dan mencatat itu semua pada sebuah buku yang kini…. hilang. //okesip

current song: *backsound get rich*
current mood: malesss
location: Home desu!

-Ijou-