suasana rumah dan kenangan di dalamnya

suasana rumah dan kenangan di dalamnya

Minna-san, konbanwa!
Selamat Tahun Baru, dan selamat tanggal 6 Januari.

Kenapa tanggal 6 Januari?

Karena tepat satu tahun yang lalu, saya berangkat dari kampus Unpad, untuk mengabdi pada desa Parakanmanggu di Pangandaran. Selama sebulan pengabdian saya atas nama kampus, banyak cerita yang terjadi di dalamnya. Kenangan, juga pertemuan-pertemuan baru yang saya miliki di awal tahun 2015 kemarin. Menjadi yang berharga, yang patut saya kenang kembali.

Saya jadi ingat satu cerita saat saya berada di desa penghasil banyak kacang tanah dan manggis. Tapi bukan musimnya sih. Hohoho, jadi cuma kebagian kacang tanah aja. Hoho.

Hmm,… jadi gini.

Jadi, dalam kelompok KKN kami, dibagi lagi sub-kelompok untuk ‘menanggung-jawabi’ 6 dusun yang ada dalam desa. Kebetulan saya kebagian dusun paling jauh. Karena kami serumah ber-21 orang dan kendaraan yang dipinjami tidak memadai, maka hanya satu-dua orang saja yang berangkat ke masing-masing dusun untuk bersosialisasi. Saya, yang tukang jalan-jalan ini pun ngebet ingin ikut. Namun ditolak karena tidak adanya kendaraan.

Saya pun berniat meminjam sepeda tetangga depan rumah KKN. Namun malah ditertawakan sang ibu, karena katanya jalannya tidak cocok untuk sepeda. Bagi saya, jalanan sebagaimanapun, cocok-cocok saja untuk sepeda, karena toh setara motor dan bedanya hanya tidak memakai dinamo. Itu saja.

Akhirnya, saya pun meminjam sepeda yang sedang dipakai sang anak dari Ibu tetangga depan rumah, untuk berangkat ke dusun sendirian. Tanpa teman-teman. Sepeda yang tergolong untuk anak SMP tersebut pun saya pakai. Dan dimulailah petualangan tersebut…

Sedari jalan keluar desa, saya mengambil jalan luar yang notabene jalan beraspal yang banyak dilalui mobil truk besar pengangkut kayu. Hari itu siang. Namanya daerah pesisir pantai, udaranya panas meski desa yang saya pilih ini tergolong berada di dataran tinggi. Tapi tetap saja kayaknya kalah tinggi sama Jatinangor.

Bersepedahlah saya melalui jalan yang nampaknya lumayan jauh tersebut. SANGAT jauh malah.

Semuanya aman-aman aja, sampai akhirnya saya menemui turunan yang lumayan curam berjarak kurang lebih 100 meter dengan derajat kecuraman yang rendah. Saat saya mencoba untuk ngerem, ternyata rem-nya blong.

875328cc“Dadah dunia,…”

Saya pikir karena di depan adalah jalan datar, maka kecepatan sepeda yang meningkat ini pun, akan melambat, seiring datarnya jalanan. Maka tanpa melakukan apapun, saya menggantungkan kaki.

Tapi ternyata anggapan saya salah, dan setelah 5 meter, ada lagi turunan dengan derajat curam yang lebih tinggi dari yang tadi, lantas kecepatan sepeda yang tadinya lambat pun meningkat kembali. Dan saya cuma bisa pasrah menunggu jalanan datar, dan berharap kecepatan sepeda berkurang.

Tapi lagi-lagi turunan yang lebih curam dan lebih panjang adalah hal yang saya temui setelah jalan datar ketiga. Sampai kahirnya saya berpikir kalau saya benar-benar akan mati. Terlebih, kalau sampai ada truk dari lawan arah datang, saya pasti sudah habis ditabrak.

189bbdde“Bye life,…”

Sempat berpikir untuk membanting stir ke kiri untuk menghentikan sepeda, namun lokasi sepanjang kiri saya, adalah jurang curam dengan pohon dan semak belukar yang memungkinkan saya untuk lecet-lecet dan patah tulang kalau sampai mokad membuang badan ke kiri.

Akhirnya saya mengurungkan niat tersebut, dan mencari cara lain. Kecepatan sepeda makin meningkat, saat saya melaju dengan kencang di hadapan sebuah warung yang banyak di tongkrongi para tukang ojek. Bapak-bapak yang sedang ngopi di warung tersebut pun mendadak heran melihat sebuah sepeda melaju dengan kecepatan tinggi ini. Saya sampai di teriaki oleh mereka apakah saya baik-baik saja.

3c68bb64“DJB kok pak!”
*DJB stands for daijobu* //plak

Hati saya dag-dig-dug. Perlahan memori kenangan saya muncul satu persatu. Mengenang saya masih mahasiswi yang belum lulus. Kelar berbakti pun belum. Jangankan sarjana, skripsi saja belum tahapnya. Teringat dengan keluarga di rumah… bahkan saya membayangkan, kalau jadi hari ini saya kecelakaan, besoknya akan gempar di media dan surat kabar bahwa ditemukannya sosok mahasiswi yang tewas di jurang Parigi, karena mengendarai sepeda blong.

Waduh, mau dikemanakan nama baik keluarga?

Akhirnya saya mencoba untuk menghentikan laju ban depan dengan menginjak ban tersebut–cara yang sering saya gunakan sewaktu kanak-kanak kalau malas memakai rem, dan ini berakibat pada halusnya corak sandal. Ketiksa dicoba, sendal saya tersebut malah mental dan jatuh entah kemana.

th_115_“Duh, mati gue,…”

Laju sepeda kian bertambah dan harapan saya untuk menghentikan sepeda baru saja pupus. Dan kembali saya memikirkan cara lain untuk menghentikan laju sepeda ini.

Akhirnya, saya mencoba untuk menurunkan kedua kaki saya ke tanah, untuk memperlambat gaya gerak sepeda ini. Meski kaki kanan tanpa alas, tapi ini harus dicoba. Dan,… akhirnya sepeda berhenti. Saya pun mengatur nafas, dan mengatur kembali hidup saya yang barusan berantakkan. Dengan ini saya menghentikan niat saya untuk survei dan sosialisasi ke dusun tersebut.

Karena 3x melewati turunan curam, maka jalan pulangnya adalah 3x tanjakan tajam.

“Najis.”

Dengan napas yang hampir habis, dan malaikat maut yang hampir muncul di depan mata, saya pun menenteng sepeda. Dari situ saya agak trauma dan takut dengan turunan se-landai apapun. Bahkan dalam perjalanan pulang saya bertemu dengan tukang ojek yang mentertawai saya.

Sepulangnya saya ke rumah, rumah nampak damai aman tentram. Dari situ sepenuhnya saya menyerahkan tugas survei kepada teman-teman saya.

-Sekian-

Hahaha, satu kenangan yang masih saya ingat dari tanah Pangandaran.

current song: Billy Boyd – The Last Goodbye
current mood: belum move-on dari ‘The Hobbit’
location: Home desu!

-ijou!-