Minna-san! Konbanwa!
Bertemu kembali dengan saya Aiko!
Kali ini dengan sesi fanficnya.

Hm,.. beberapa hari lalu, sebelum rilis fanfic KaneOuji terbaru saya, saya berfikir untuk membuat satu lagi fanfic buat Alpha Pair KamiKen. Akibat terlalu banyak menonton Tenimyu 2nd season, dan menggeliat nonton Undoukai 2014. Tapi asli sih, di Undoukai ngga dapet momen Alpha, selain ngeliat Ken-san teriakin Yukimura pas Buchounya itu lari. Sisanya, udah aja. Karena gara-gara beda tim kali ya. Hix.

Fanfic ini tercipta karena hasrat sendiri, didorong oleh dukungan seorang teman, serta ilham dari sebuah lagu iklan provider kartu SIM, dan voila! Jadilah Fanfic pertama saya dengan pairing selain KaneOuji di fandom Tenimyu ini.

Daitai mengisahkan pertemuan pertama Ken-san dan Kamicchi (yang 100% saya karang tanpa melihat kenyataan), juga kecanggungan mereka saat awal-awal bertemu (sekarang mah udah ngga canggung).

Dimulai dari sebuah pagi…

Title: Hitome-bore (pandangan pertama, atau pagi pertama. Karena bore dalan bahasa wales berarti pagi)
Pairing: Ogasawara Ken – Kaminaga Keisuke
Author: Aihara Izumi
Series: Tenimyu
Disclaimer: Agencies, Stage, and Tenipuri
Theme Song: Arlan – Good Morning, Love
Note: Saat pertemuan pertama mereka di stage Tenimyu, berawal dari perkenalan.
Warning: OOC teteup. Typo, hm… tapi suka…

Douzo!

tumblr_m27xurK3vG1qd7dvoo1_500

“Pernahkah kalian merasa, itu adalah pertemuan yang memang ditakdirkan, tapi… tak tahu bagaimana cara memulai sebuah percakapan?”

“Berperan sebagai Yukimura Seiichi, Kaminaga Keisuke, mohon bimbingannya,”

Pagi ini adalah pertemuan untuk seluruh casts Rikkai. Masih musim semi, ada dingin yang terasa pagi ini. Perkenalan pun ditutup, dan seorang pemuda yang barusan memperkenalkan dirinya membungkuk.

Sebelum lanjut reading naskah, break sejenak dengan para kru yang bersiap menyiapkan meja dan kursi bakal duduk nanti. Maklum, kao-awase dan latihan koreo nanti langsung di tempat ini, sebuah hall besar yang cukup untuk pertandingan basket SMA antar distrik.

Bersandar pada dinding dekat pintu keluar, Ogasawara Ken–pemeran Sanada Genichirou–ini pun memperhatikan lalu-lalang aktifitas di hadapannya tersebut.

“Tahun ini nampaknya banyak sekali yang masih muda ya?”

Terdengar sekilas dari beberapa orang staff yang lewat. Alisnya berkedut. Sebenarnya ada sedikit protes dalam hatinya yang hendak diutarakan. Ia memang merasa usianya yang 26 ini masih tergolong muda. Namun itu diurungkan saat melihat rata-rata tahun kelahiran teman-teman satu timnya yang tidak lewat dari angka 1990. Jadilah ia merasa tua sendirian.

“Yo,”

Sebuah sentakkan halus menyadarkannya dari pemikiran rumit mengenai gap usia antara ia dan teman-teman satu timnya kelak. Dilihatnya seseorang dari tim-nya tengah berdiri di depannya sembari mengangsurkan sebotol air putih. Nampak berkabut. Air dingin ternyata.

“Minumlah, aku dapat dari sebelah sana,” ujarnya asal-asalan menunjuk kulkas lalu membuka botol miliknya sendiri.
“Kubota-san kan?” ujarnya memastikan nama sang lawan sebelum berterima-kasih kepadanya.

Yang ditanya mengangguk sambil sibuk meneguk isi botolnya. Membalasnya Ken hanya menggelengkan kepala sembari tersenyum.

“Ternyata banyak juga ya, yang lebih muda dari kita,” ujarnya–Hide–saat ia tengah minum. Sepemikiran dengannya ternyata.

Meski masih haus, namun ia berhenti sejenak demi menghormati lawan bicaranya tersebut, “eh?” pemeran wakil kapten tersebut tak mengerti–lebih tepatnya mengkonfirmasi kalau laki-laki di sampingnya ini berusia tak jauh beda dengannya.
“Ya, banyak yang lahir di tahun 1990-an,” Hide tak memandang lawan bicaranya itu. Ia sibuk mengitarkan pandangannya ke arah teman-teman satu tim-nya berada. Ada yang sibuk kenalan, ada yang sibuk makan. Adaaa.

Ano, memangnya Kubota-san sendiri?”
“Aku masih setahun di bawahmu–dan tolong jangan panggil aku seperti itu, Hide saja cukup,”
Ken mengangguk-anggukkan kepalanya teratur dengan ujung botol minum yang masih menempel di bibir, “jadi, masih aku yang paling tua di Rikkai,” gumamnya lirih.

Mendengarnya Hide membalas tawa, “saa, ayo siap-siap. Sebentar lagi reading. Aku duluan ya!” ditepuknya pundak Ken-san sambil berlalu saat dilihatnya persiapan reading sudah hampir selesai.
Dalam diam ia menatap pemeran Niou tersebut berlalu, lalu menyapa beberapa teman-teman pemeran lainnya.

Ia masih memainkan mulut botol. Digigit-gigitnya sejenak. Kepalanya tetiba penuh dengan pemikiran macam-macam. Ada gap usia yang lumayan jauh dengan pemeran yang lain kecuali Hide. Bahkan jauh juga dengan Buchou-nya–Yukimura–meski ia tak tahu beda berapa tahun. Sedang dari yang ia tahu, ia akan berkemistri dengan kapten Rikkai tersebut dan pemeran Yanagi Renji.

Sesaat Ia menepuk jidatnya sendiri. Sang pemeran Renji–Atom–bahkan yang termuda di tim-nya.

“Bagaimana bisa aku menjadi Ossan sendirian??”

Mungkin ia banyak berguru mengenai peran Sanada dari senpai satu agensi-nya–Kanesaki. Namun ia lupa berguru untuk bagaimana caranya bergaul saat dirimu adalah yang tertua di dalam tim. Bersikap easy-going kah? Kalem kah? Bijak? Atau sedikit galak??

Menggelengkan kepalanya pelan, jelas sekali ia menolak pilihan terakhir. Dan waktu reading pun semakin mendekat.

“Semuanya, mohon bantuannya,”

Semua casts–tak terkecuali dari Seigaku–pun duduk dengan meja yang di-setting kotak, sehingga seluruh kru dan pemain dapat meilhat yang ada dalam lingkaran pembacaan naskah tersebut. Segera ia mengambil posisi untuk duduk di tempat yang memang disediakan berurutan bagi Rikkai.

“Ah, maaf,”

Thought love has abandoned me,…

Tersenggol sedikit oleh ujung kursi, ia menoleh pada orang di sisi kirinya. Ternyata sang kapten yang tak berhati-hati menarik kursinya, sehingga ujung kaki kursinya menyentak dirinya yang tengah melamun. Sakit sih tidak, tapi kaget juga saat dipaksa sadar dari lamunan.

“Ah, tidak apa-apa,” jawabnya yang segera duduk. Lalu mereka pun sejajar dalam posisi duduk.
“Mohon bimbingannya, Ogasawara-san,” ujar Kaminaga–sang kapten–di sisinya.
“Ah, mohon bantuannya juga,” ia masih terbelenggu dalam lamunannya, maka sedikit kaget waktu buchou Rikkai tersebut membungkuk untuknya. Gestur nya masih kaku, menandakan mereka canggung.

“Adik kelas… loh… beda jauh… loh…”

…and passed me by

Hebatnya, hari itu tak berlangsung lama sampai larut malam seperti yang dipikirkannya. Saat siang menjelang, mereka pun bubar. Rupanya hari ini sekedar membaca naskah. Latihan dimulai 3 hari lagi. Sembari berjalan menuju stasiun, ia mulai memikirkan apa yang harus dilakukannya untuk 3 hari kedepan. Ia mungkin bisa menyelesaikan game ataupun pulang ke rumahnya.

“Aichi,… 3 hari… cukup gak ya?” pikirnya sembari meniti langkah.

“Ogasawara-san,”

Lagi-lagi seseorang menghentikan lamunannya. Disapa dari belakang, maka ia menoleh ke arah tersebut. Nampak Kaminaga yang juga berjalan di belakangnya.
“Oh, Buchou!” ujarnya agak kaget juga. Entah kenapa hari ini ia banyak melamun. Kurang minum kayaknya. Meski tadi sebotol air putih pemberian Hide habis ditenggaknya.
“Panggil Keisuke saja,” ujarnya sopan.

Ken-san jadi canggung.

“Menuju ke stasiun juga?” tanyanya membuka pembicaraan. Diam-diaman juga ngga enak, kayak lagi marahan.
Junior-nya tersebut mengangguk. Bersemangat, “Ogasawara-san juga?”

Ada geli yang menggelitik telinganya saat ia dipanggil demikian. Rada aneh.

“Panggil saja Ken. Jangan terlalu formal denganku,” ujarnya.
“Ken-san! Bagaimana?” senyumnya lebar. Mirip sekali dengan murid yang bisa menjawab soal Matematika dengan mudah. Eh, memang masih sekolah ya? Mau tak mau Ia tertawa. Ada sesuatu yang menarik dari diri anak ini. Ia ingin mengenalnya lebih dekat. Harus kenal sih.

“Kau masih bersekolah?”

Jalanan siang itu sepi. Karena akhir pekan mungkin. Jadi mereka bisa berjalan sesantai mungkin. Awal yang bagus untuk berkenalan.

Keisuke mengangguk, “tahun terakhir,”
“Hoo, tahun depan lulus ya?”
Sekali lagi ia mengangguk.
“Bagaimana dengan pembagian jadwal sekolah mu nanti?”
Sejenak pandangan pemuda 18 tahun ini mengawang ke arah langit. Berpikir maksudnya, “sepertinya sebagian besar hari pementasan di waktu libur musim panas, jadi aku bisa menyesuaikan,” jawabnya optimis.

“Oh iya, jadwal semester baru kan bulan September ya?” pikirnya. Maklum, sudah lulus duluan. Sudah…. berapa lama ya? Ah,…

Tak terasa stasiun sudah ada di hadapan mereka. Sedikit lapar sih.

“Aku hendak mampir untuk makan, bagaimana kalau kita makan siang di stasiun dulu?” ajaknya.
Keisuke terdiam. Mendadak pikirannya tertuju pada dompet. Karena tadi pergi terburu-buru, maka ia tak membawa banyak di dalamnya. Masih tergeletak mungkin di atas meja-nya.

“… tenang, ku traktir,” jawabnya nervous. Takut-takut ajakannya melempem dan ditolak.
“Oh ya??” ada raut bersemangat yang ia tangkap dari senyumannya.
“Iyah,” singkat dengan anggukan. Berharap anak tersebut jadi yakin kalau ia bisa mentraktirnya.
“Oke! Nanti selanjutnya aku yang traktir Ken-san ya!” balasnya.

Lagi-lagi ia dipaksa tertawa dengan kelakuan buchou-nya ini, “… ya sesukamu lah,”

I didn’t care, i set myself free and played around

“Suara-mu belum sampai nada-nya,” komentar Hide kepada Ken-san yang tengah berlatih nada sembari memainkan raketnya malas. Bersandar pada tembok yang berada tak jauh dari sang fukubucho, ia mengistirahatkan tubuhnya dari latihan mengayun raket. Memang mirip junior klub tennis, kelas 1 SMP. Namun memang inilah menu latihan sebelum mencoba koreografi. Dan hari latihan sudah memasuki hitungan ke-3.

“Sepertinya aku harus berhenti memakan gorengan,” keluhnya menatap hampa kertas yang berisi lirik yang harus dinyanyikan.
“Sepertinya kita harus latihan berdua,” tiba-tiba timpalan tak dikenalnya datang.

Keisuke yang tau-tau ada di sisinya, mengintip apa yang tengah dipegangnya dari belakang dirinya.
Ken menatapnya horror. Bagaimana bisa ia tanpa suara dan tanpa disadari bisa berada di sana secepat itu.
“Hm, aku pun belum menyamakan nada denganmu,” dari kertas liriknya, Ia menatap mantap pria yang alisnya tengah berkedut tersebut. Ken-san masih memberinya tatapan horror.

“Tapi hari ini penuh dengan latihan lagu per-team loh,” tanpa diminta pemeran rambut silver tersebut mengingatkan. Mendesah, Keisuke memanyunkan bibirnya sedikit sembari berfikir. Itu tandanya latihan untuk duet berdua dengan wakil kaptennya ini akan kurang.

“Nanti saja di lain waktu,” hibur Ken-san yang juga untuk dirinya sendiri.
“Tapi kapan?”
“Besok weekend kan?”

Life almost brought me down

“WAW. Tempatnya luas~!” Keisuke langsung berkomentar meski langkahnya baru masuk 5 ke dalam apartemen Ken-san.
Yang dipuji, cuma tersenyum. Merasa terpuji sih, buka yang dipuji.
“Kau tinggal sendirian di sini?” tanyanya kemudian.
Sambil meletakkan kunci pada meja terdekat, Ia menjawabnya dengan anggukan.
“Enaknya~” tanpa dipersilahkan, Keisuke langsung menduduki sofa terdekat dengan menghempaskan tubuhnya.

“Tapi ya gitu,”
“Gitu gimana?”
“Kalau sakit harus mengurus sendiri, makan mengurus sendiri, membersihkan semuanya sendiri,”
Yang mendengar penjelasannya hanya mengangguk-angguk, karena sampai usia segini ia belum merasakan hidup serba mengurus sendiri. Setidaknya makan dan kerapihan tempat ada sang ibu yang akan menangani untuknya. Dan belum pernah juga sakit sendirian.

“Kau mau mandi dulu?–biar kusiapkan kamar mandinya?” tawar Ken sembari beranjak ke arah dapur. Mengambil minuman mungkin.
“Tidak usah, nanti saja,” jawabnya cepat.
“Ada telepon di dekat sofa, telponlah orang tua-mu dan bilang kau akan menginap di sini,” ujarnya kemudian dari ruangan lain.
“Oke! Aku pinjam ya,”

Untung saja besok hari Sabtu, sekolah libur. Namun ia tetap harus mengirim izin melalui e-mailnya kepada sang ketua klub karena tak bisa datang acara kegiatan klub besok. Setidaknya sampai pementasan ini berakhir.

“Sudah? Menelponnya,” Ken-san datang dengan menyuguhkan segelas–sesuatu yang berwarna orange–dan sekaleng bir untuknya. Ia tak mungkin menyuguhkan bir untuk anak yang belum menghadiri upacara kedewasaannya.

Keisuke mengangguk.

“Karena jarang ada tamu, jadi Jus pun jarang ku beli. Tapi setidaknya minumlah,” ujarnya mempersilahkan, lalu membuka kaleng bir miliknya.
“Ini apa?” memicingkan matanya, Keisuke menatap lekat gelas bening yang mengeluarkan bulir air karena efek es batu yang dingin.
Orange squash. Campuran sirup jeruk dengan soda,” jawabnya sebelum menenggak isi kaleng dalam genggamannya.

“Hai, itadakimasu,”

But you came along

“Sekali lagi, yang serius ah,” Ken pasrah dengan pemuda yang tengah sibuk tertawa di depannya. Ia pun tak bisa menjadi serius kalau Keisuke kerjaannya hanya tertawa saat dirinya mulai bernyanyi.
“Susah serius, kalau wajahmu seperti itu,” sejenak Keisuke menahan tawanya.
“Memang wajahku begini, mau gimana lagi?”

Bukannya memberi solusi, sang kapten malah tertawa kian menjadi-jadi. Menjadikan Ken pasrah, dan merasa latihan kali ini hampir tak ada hasil. Biarlah, hitung-hitung mengenalkan ia pada tempat tinggalnya. Siapa tau kali lain mereka akan berlatih kembali di sini.

“Sudah jam segini, ku siapkan futon untukmu dulu ya,” pamitnya meletakkan naskah di atas meja.
“Kau bilang ruang tidur cuma satu?”
“Ya, kau akan tidur di kamar ku,”
“Lalu Ken-san tidur dimana?”
“Di kamar ku lah, masa di dapur,”
“Aku tidur di sofa saja deh,”
“Nanti masuk angin,”
“Tapi empuk,”
“Tapi masuk angin. Aku tak mau diomeli ibu-mu karena memulangkan anaknya dalam keadaan demam,” memotong excuse Keisuke, ia pun berlalu pergi ke arah kamar.

Bodo amat. Gimanapun ceritanya ia harus menyeret si kecil tersebut untuk tidur di kamarnya.

“Kasur sudah siap, bersihkan dirimu dulu sebelum tidur,”

Setelah hampir setengah jam menyiapkan futon, akhirnya ia bisa kembali juga ke ruang tamu. Maklum, futonnya tebal dan lemari penyimpanannya sempit. Cukup sulit juga mengeluarkannya tanpa menjatuhkan barang lain yang tengah disimpan bersamaan di dalam lemari.

Dari berjalan ke arah ruang tamu, ia tak mendengar jawaban apa-apa dari Keisuke, meski ia yakin suaranya cukup besar untuk sampai ke ruang tamu. Ditemukannya tamunya tersebut tengah meringkuk di atas sofa putihnya dengan wajah damai. Pantas. Dia tidur. Mendesah frustasi, ia rasa sia-sia menggelar futon-nya. Mau dibawa ke kasur juga bagaimana? Ini anak masih dalam masa pertumbuhan. Ia menimbang-nimbang keputusan kuat atau tidaknya membawa murid SMA ini ke kamar.

Akhirnya Ken berkeputusan untuk tidak membawanya ke kamar, dengan pertimbangan takut membangunkan Keisuke. Memang latihan di akhir minggu ini cukup padat meski belum fisik secara keseluruhan. Wajar saja kalau anak ini kecapekan.

“Aku,… ambil selimut saja deh,”

Kali keduanya Ken memperhatikan sosok yang masih anteng tertidur itu. Keisuke nampak bergelung dalam selimut miliknya. Menggerut ujungnya manja dan memeluknya erat-erat. Dirasanya hangat sekali benda tebal tersebut.
Hal yang dipikirkannya selama membersihkan diri tadi giliran dimana ia tidur. Jika ia tetap memilih tidur di kamar, kasihan juga Keisuke ditinggal di ruangan depan tanpa sesiapapun. Bagaimana kalau ada yang mendobrak–ah sudahlah, toh pada akhirnya ia tak punya pilihan lain selain ikut tidur juga di ruang depan.

Namun sofa yang tersisa hanyalah single-sofa. 2 buah. Tak mungkin ia menyatukannya untuk tidur karena masing-masing memiliki bantalan tangan. Tak mungkin juga ia tidur dalam keadaan duduk karena itu dapat membuat pinggangnya sakit.

“Apa tidur di atas karpet saja ya?”

And made the dimmest glow,

Ohayo,” didengarnya sebuah sapaan saat dirinya tengah sibuk mengerjap-kerjapkan matanya. Hari sudah pagi. Tak biaanya ia mendapati seseorang di dekatnya saat bangun tidur di apato ini. Ada rasa yang baru ada, saat dilihatnya  senyum samar sosok tersebut kepadanya dengan wajah mengantuknya. Pagi yang tak biasa, memunculkan rasa nyaman.

“Keisuke?” ia berusaha mengenali wajah tersebut dengan matanya yang masih perih untuk membuka. Menggerut wajahnya, sebenarnya ia masih ingin tidur. Namun adanya Keisuke membuatnya harus segera bangun. Kalau-kalau anak ini lapar, sarapan tak mungkin jadi dengan sendirinya.

“Ah, padahal aku masih ingin melihat wajah tidur mu,” pintanya manja.
“Kenapa memangnya?” meninggalkan tempat tidurnya, selimut pun meluncur lancar lalu teronggok di bawah kakinya.
“Karena wajahmu nampak baik kalau sedang tidur,” ada raut manja yang tenggelam dalam bantal sofa.
“Dasar mesum,” Ken merasa geli sendiri mendengarnya.

… shining like the sun.

Ken-san bangun dengan melakukan sedikit peregangan. Dirasanya banyak persendian yang bunyi setelah ia tidur di atas karpet. Yappa, tidur di atas karpet tak sebagus itu untuknya, dan lain kali kalau Kamicchi menginap, ia pastikan akan menyeretnya ke kamar sebelum tidur.

“Mau sarapan apa?” pertanyaan pertama yang ia lontarkan pagi ini.
“Adanya apa?” eh, malah nanya balik.
“Hmm… mungkin aku masih menyimpan natto,…”
Natto?? tidak, lebih baik aku tidak makan,”
“Masa kau mau makan ramen pagi-pagi?”
“Itu lebih baik,”
“Tunggu di sini, aku akan ke konbini sebentar,”

Dan sosoknya menghilang dalam hitungan detik setelah menyambar jaket yang menggantung dekat pintu, lalu menutup pintu.

“Lalu aku harus apa?”

They say if you love someone, let them free

Tadaima,”

Berpulang dari konbini sehabis membeli roti, dan jenis makanan yang lazim dimakan di pagi hari, Ken tak menemukan sosok mungil tersebut di manapun di ruang tamu.

“Kemana itu anak?” gumamnya sembari menyampirkan jaket ke tempatnya semula, ia mulai mencari dimana Keisuke mungkin berada di apartemennya.

Baru saja hendak melangkah ke arah dapur, ia bertubrukkan dengan sosok yang dicari-carinya.
“WHOA! Ken-san…” tiba-tiba bertubrukkan apalagi dengan sosok yang memiliki wajah horror semenjak ia tak menemukan Kamicchi di ruang depan, membuatnya cukup kaget juga.
“Darimana saja?” interogerasinya tanpa basa-basi.
“Dapur. Kupikir, sembari menunggumu pulang, kubereskan saja tempat ini. Lalu sudah selesai, dan kau belum pulang. Akhirnya kubuatkan kau kopi pagi di dapur–Ken-san suka minum kopi kan?” jelasnya polos. Panjang lebar. Macam mengisi essay.

Pas menengok ke arah ruang tamu, memang sih tempat tersebut kembali seperti semula. Semula ia membelinya, bukan semula ia tinggalkan kemarin. Karena memang jadi rapi, tanpa ada buku-buku berserakan di atas meja, dan tanpa remah-remah makanan di lantainya.

“Seharusnya kau tak perlu membersihkannya,” ujarnya melengos ke arah dapur.
Maa, maa, hitung-hitung ucapan terima kasih-ku karena dibiarkan bermalam di sini,” lalu Keisuke mengikuti punggung dingin tersebut dari belakang.

Tiba di dapur, ia mendapati 2 gelas yang mengepulkan asap. Satu lagi pasti kopi yang Keisuke ceritakan barusan. Tapi, satu lagi?

“Kau,… membuat apa untuk dirimu?” masih dengan alis yang menukik, Ken-san melanjutkan interograsi.
Yang ditanya nyengir dulu. Nervous, “aku membuat susu. Tadi kulihat ada susu vanilla di dalam lemari, jadi kupakai saja. Maaf ya,” jelasnya gugup.

Dari menegang, bahunya perlahan turun. Ditaruhnya kantung belanjaan tersebut di atas meja, “ooh, tidak apa-apa. Sungguh, tapi itu susu untuk kucing liar yang kadang main ke apartemen ku–kau lihat ada mangkuk di samping pintu ku kan?” ujarnya sembari mengeluarkan isi belanjaanya.

Gantian Kamicchi yang berwajah horror. Namun melihatnya, wakil kapten ini malah tertawa. Puas sekali.

“Tak apa kok, tak apa, itu memang susu untuk manusia, namun kuberikan untuk kucing,” ujarnya menjelaskan.
“Ken-san, kucing itu tidak boleh diberi susu untuk manusia!” tiba-tiba sekali.
“Oh ya? Kenapa?” dari tertawa, ia mengganti ekspresi wajahnya kembali.
“Nanti pencernaannya terganggu,” jelasnya singkat.
“Oooh, kau cukup paham ternyata mengenai kucing,” ia manggut-manggut mengerti. Note to self.
“Karena aku juga punya kucing,” jawabnya sembari mengambil tempat duduk di hadapan meja makan.

“Lain kali kuberi apa ya? Kasihan juga kalau datang mengeong-ngeong lapar tanpa dapat apa-apa,” pikirnya sembari mengeluarkan roti untuk dipanggang.
“Makanan kucing saja, itu lebih aman. Ketimbang susu,” ujung-ujungnya susu yang dijelaskan untuk kucing tersebut, diseruput juga. Daripada mubazir, karena sudah haram untuk kucing. Pikirnya.

Melihat buchou-ny bertampang tsundere, ia tersenyum simpul, “kalau gitu,… aku membuat sarapan dulu,”

But right now I just know for sure it’s time to keep

The best thing life could ever give, i’m truly blessed

“Ken-san?” tanpa mengucap selamat pagi di hari barunya, Keisuke langsung mengamati wajahnya dari jarak dekat dengan tatapan seserius itu.

Pas sekali H-sebulan hari pertama pementasan. Dan mereka mulai belajar koreo serta rias karakter untuk pertunjukkannya. Menyebabkan jadwal latihan semakin pagi, dan sarapan setelah bangun tidur menjadi hal yang tak mungkin lagi dilakukan.

“Ya?” dari sibuk membuka bungkus onigiri, ia jadi gugup. Menyebabkan gerakannya kaku.
“Kau memakai topi?” Keisuke malah bertanya saat benda tersebut jelas-jelas bertengger di atas kepalanya.
“Yup,” kirain kenapa, taunya topi.
“Sejak kapan?” mirip polisi yang menangani sebuah kasus kriminal. Bertanya melulu. Kali ini ia duduk dengan tatapan masih ditujukan pada dirinya. Kalau dihitung normal kedipan, mungkin Keisuke minim kedipan karena saking seriusnya.
“Baru hari ini, membiasakan diri juga. Kan nanti di panggung harus pakai terus,” jawabnya sebelum menggigit nasi kepal tersebut.

“Menghadap sini deh,”

Kedua bahunya diarahkan oleh kedua tangan Keisuke. Jadinya, ia pun menuruti apa yang diminta kaptennya tersebut. Sambil sibuk mengunyah, ia hanya pasrah kalau Keisuke melakukan apapun terhadapnya. Kamicchi lalu memegang peak topi tersebut, dan memutarnya 180 derajat ke belakang. Menjadikan cara pakainya kebalik di belakang mirip gaya anak hip-hop.

Dan Ken pun berhenti mengunyah saat dilihatnya Keisuke tertawa puas.

“Nah, begini kan jadi lucu,” ujarnya di tengah tawa.
“Jadi, kupakai begini saja?” mau tak mau ia ikut tertawa melihat wajah Keisuke yang tertawa.
“Jangan! Jangan!” secepat kilat ia mencegah, “… jangan di depan orang lain,” tawanya, “di depanku saja,”

It is you and loved by you every single day

OMAKE:

Di ujung hall terdengar lagu klasik. Ditengah-tengah perjalanan dari ruang ganti menuju stage, mereka berhenti sejenak. Mendengarnya Ken pun menebak-nebak dari symphony apakah lagu tersebut berasal. Keisuke lalu membantunya untuk menebak. Namun rasanya tebakan yang diberikan pemeran Yukimura itu salah semua. Menyerah dalam diam, Ia masih berhasrat untuk menemukan karangan lagu yang didengarnya. Lumayan enak, membuatnya ingin membeli koleksinya kalau ada.

Melihat Ken yang tengah nelangsa mencari-cari tahu simfoni yang sekilas pernah didengarnya, Keisuke berinisiatif melakukan sesuatu. Ditarik tangan yang tengah menggerut dagu dengan tujuan berpikir tersebut, dan diletakkannya pada pinggangnya. Kaget, namun sang fukubuchou tak mengerti apa yang tengah diperbuat pemuda yang 8 tahun lebih muda darinya tersebut.

Terakhir Keisuke meletakkan tangannya sendiri pada bahu yang lebih tinggi darinya itu, dan memegang tangan yang satunya lagi. Diayunkan kedua tubuh mereka, dengan senyum sembari menatap pandangan yang masih nampak tak mengerti tersebut.

“Setidaknya kita nikmati saja dulu lagu ini,” ucapnya sembari mengajak laki-laki tersebut berdansa.

-fin-

atogami:

DEKITAAAAA–!! \(〃▽〃)/
3000 lebih kata!
Pertama kalinya nulis pairing selain KaneOuji di fandom Tenimyu. *napas lega*
Rasanya kayak skripsi kelar *padahal mah nulis belum*

Makoto ni arigatou gozaimasu. Berkat postingan ini, saya mendapat pencerahan untuk menulis fic ini. Terima kasih,

Sebelumnya, maaf untuk terlambat sehari dan dua hari,

“Otanjoubi Omedetou!”

tumblr_ngryclInAm1rk6g51o10_1280NakaMasa yang ke 30 tahun! Yeay! Moga makin langgeng sama Bacchon

244910_615dan, Takuming~! Untuk usianya yang ke 34 tahun! Semoga makin lengket sama mamah Rui /plak
bedewei, film Takusu-nya saya suka, tapi ngga ngerti… ( ; w q ) /dor

Enaknya sih, pas baca fic ini, sambil denger lagu ini.

Sebenarnya saya mau menyerah dengan Alpha…. KaneOuji deng, karena udah ngga kuat tenggelam lebih jauh dengan ship tersebut, tapitapitapi gara-gara postingan lama ini

スクリーンショット 2015-08-23 23.55.38

“pastinya,… orang ini bener-bener ‘partner’ saya”

Kan gue jadi baper lagi, ngga bisa muv on.

Terus-terus-terus, tiba-tiba di tumblr banyak bermunculan foto-foto Kamicchi sama Ken-san. AARGH makin-makin kan??

Mohon maaf kalau OOC–as usual. Terima kasih sudah membaca.

All hail ALPHA!

-Aiko

current song: Arlan – Good Morning Love
current mood: madly in love with ALPHA.
location: Home desu!

-Ijou!-