14Konbanwa, Minna-san!
O-mata he~~!!! Kembali lagi bersama saya Aiko.
Kali ini dijamin ngga curhat, er…. well 80% sih bakalan curhat, tapi ngga bakal dalam bentuk curhatan kok!

Sebelumnya, setelah membaca sebuah artikel melalui Facebook, saya merasa prihatin dengan anak-anak usia muda yang mulai membaca bahkan menulis cerita / fanfic dalam bentuk NC-17 keatas. R-15 juga udah prihatin sih. walau dulu gue juga gitu *dor* Tapi jujur, FF pertama gue pas…. kelas 1 SMK…. ( ; w ; ) dan saya menganjurkan adik-adik dibawah saya terlebih SD, lebih baik tidak membaca bahan bacaan yang merusak otak dan menghambat tumbuh kembang otak adik-adik sekalian /tsah

Sementara saya belum menemukan bagaimana cara membatasi postingan saya, adik-adik saya peringatkan dulu kalau cerita ini mengandung unsur boys love, atau cowok-sama-cowok. Jadi, yaaah, jangan baca dulu yaaaa,… mending baca buku paket sekolah aja /dor

Yosh, lanjut. Adek, tutup tab-nya yah, sekalian sama laptopnya terus balik belajar.

Jadi, sesuai judul diatas, adalah posts yang saya temukan di Tumblr. Karena tertarik dan saya ngga minat dikirimin shipping, karena saya bakal cerita juga tanpa diminta /plak jadi, di sini saya tulis semua. Ngga sekedar menjawab pertanyaan, saya juga bakal menuliskan cerita pendek tentang mereka. Anggep aja drabble /jdor Dan pastinya dalam bahasa Indonesia XD /plak

Well kali ini adalah OTP saya yang paling menusuk hati; Kane-Ouji.

warning: boy x boy, RealPersonFiction, final edit sih udah, tapi maapin kalo masih ada typo. OOC kayaknya. Tapi cinta. Atuh gimana atuh.

Douzo!

Send Me A Ship

Who Holds……..

1. The umbrella, when it rains – Kane-chan

Karena kepalanya sering terpentok kerangka besi payung bila Ouji yang memegangnya, maka Kanesaki memilih untuk mengalah, memegang payung kalah hujan tiba. Ouji malas angkat ketiak sih,…

Mengadah pada langit gelap beratapkan kanopi jendela sebuah cafe, setitik gerimis menciprat hidungnya. Membuatnya mundur satu langkah. Dengan tatapan yang menjadi juling, diseka-nya bulir air yang bertengger di hidungnya.

Sudah 15 menit Kanesaki tidak membalas e-mailnya. Dikatanya pada e-mail terakhir yang dikirimkan kepadanya adalah; “Aku akan segera ke sana,”

Mengingatnya, Ouji jadi sebal sendiri. Padahal hall latihan pria tersebut tepat berada di depan matanya, di seberang jalan, di sisi kanan toko buku, dan di sisi kiri kantor pos. Ia sudah berdiri tepat di koordinat dimana Kanesaki sangat mungkin melihatnya, namun pria berbadan tinggi tersebut belum juga terlihat, padahal langit mulai mengeluarkan bunyi mirip suara perutnya ketika lapar.

“Habis dari kutub kali,” cibirnya kesal.

“Yo!”

Menoleh ke kanan, dilihatnya laki-laki tersebut muncul, tepat di menit ke 29 sedari ia mengirim e-mail terakhirnya. Berarti sudah sekitar 40 menit ia berdiri di tempat tersebut. Tanpa membalas sapaan pria tersebut, Ouji langsung bergegas menunjukkan gestur akan segera pergi.

“Kita mau makan malam di apato, atau di restoran?” tanya Kanesaki dengan langkah cepat, menyusul Ouji yang tidak sekalipun menatapnya sedari ia menampakkan diri.
“Di apato saja. Kau yang masak,” jawab Ouji cepat. Langkahnya pun semakin cepat.
“Tidak mau di restoran saja? Aku traktir loh–sesuai janjiku kalau kau menang main poker kemarin malam,”
Ouji menggeleng, “keburu hujan,”

Langkahnya mulai dipercepat. Langkah mereka.

“Aku bawa payung kok,”
“Kecil,”
“Tapi cukup untuk berdua,”
“……..”

Dengan satu sentakkan, Kane berhasil meraih lengan pemuda yang selangkah lebih cepat di depannya. Sekali tarik, Ouji berhenti dari langkahnya dan tertahan cengkram tangan Kanesaki.

“Jangan ngambek gitu ah,” alisnya berkerut, Kane nampak kesal.
Ouji terdiam. Pandangannya teralih ke lain arah.
“Kenapa sih? Kalau marah, jangan diam saja,… malah jadi tidak tahu letak salahku dimana,…” mendesah frustasi, hari ini ia tak ingin mendapat tekanan lebih dari latihan tadi. Seminggu sebelum hari H sih.
“Aku kesal, kau membuatku lebih lama menunggu. Padahal sudah janji mau makan di restoran,… kau tahu kan malam ini aku ada syuting?” dari kesal, rautnya berganti menjadi sedih.

Alih-alih sebel, Kane malah menjadi bersalah karena merasa mengingkari janjinya sendiri.
Dari genggaman tangan pada lengan mungil Ouji, telapak tangannya naik hingga ke pucuk kepala sang kekasih. Sambil tertawa di acak-acaknya rambut legam lurus tersebut, hingga mengembang mirip gulali yang belum dililit lidi.

“Maaf ya…”

Lalu hujan turun tanpa permisi. Tak sampai semenit, intensitasnya meninggi hingga sanggup membuat jaket tebal basah hingga ke dalam.

“Seharusnya kita tidak bertengkar di pinggir jalan!” hardik Ouji sembari mengorbankan tas selempangnya menjadi payung dan berlari mencari perlindungan.
“Aku tidak mau pulang ke apato dengan keadaan masih bertengkar denganmu!” jelas Kanesaki sembari mengikuti kecepatan sosok Ouji dari belakang.
“Dasar kunooooooo!!!”

Tiba pada sisi sebuah toko yang tutup, akhirnya mereka berteduh pada atap yang menaungi pintu masuk dan jendela toko tersebut. Mengibas rambutnya yang basah, dan memeras kain jaket yang menjadi berat karena air, akhirnya mereka berdiri sejajar.

Ada suasana hening yang tercipta ditengah bunyi gemuruh dan berkubik-kubik air yang menghantam tanah dengan deru petir.
“Kau bilang bawa payung?” tanya Ouji sesaat kemudian. Tatapannya mendangak, karena sosok Kane yang lebih tinggi.
“Ini,” Kane mengangsurkan sebuah payung lipat yang dikeluarkan dari tas kecilnya.
“Mana muat untuk kita berdua??!” Ouji mulai ngamuk lagi. PMS kayaknya. Perlu Makan Sarapan. Apalagi memikirkan lebar bahu Kanesaki yang kadang masih menubruknya saat tidur.
“Cukup kok,” jawab Kane polos. Matanya bundar, tanpa dosa.

Melihatnya Ouji terdiam. Merasa teryakini dengan pernyataan Kane tersebut, “gimana?”

Dibukanya payung berwarna hitam berhiaskan sulur kelabu tersebut. Rada feminin sih, menurut Kane. Namun karena ini adalah hadiah Ouji untuknya dari undian doorprize, maka ia tak mampu menolak. Antara senang dikasih, dan takut diamuk karena menolak pemberian.

Diameternya tak sampai 100cm, sedang mereka adalah 2 orang, dengan bahu Kanesaki yang bidangnya minta maap lebar. Menatap penuh serius, Ouji hampir tak berkedip menyaksikan adegan membuka payung tersebut.

“Memang tak cukup kalau dipakai jalan berdua sih,” Kanesaki membentangkan payung tersebut di hadapan mereka, “…. namun setidaknya ia punya fungsi lain saat berteduh hujan-hujan seperti ini,”

Diraihnya bahu pemuda yang berdiri di dekatnya tersebut. Dengan satu tarikan, tubuh mereka pun saling berdekapan.

“Kane-chan….” kaget, Ouji hanya bisa menatap wajah laki-laki tersebut tanpa bisa melakukan gerakan lain.
Alih-alih menjawab…, “setidaknya cukup untuk menutupi kita,…”

2. The popcorn at the cinema – Ouji

Karena kalau Kane-chan pasti sudah menghabiskan pop-corn ukuran jumbo bahkan sebelum film mulai.

“Hari ini…. nonton yuk!” ajak Kanesaki penuh semangat ketika mereka berjalan dalam perjalanan pulang.
“Bioskop?” tanya Ouji.
“Hm… lebih suka rental film sih,” cengirnya.
“Memangnya ada tempat rental film di sekitar sini ya?”
“Kemarin kupinjam dari rental yang baru buka dekat apato kok,”
“Memangnya kau mau nonton film apa?”
“Hachiko,”
“Lagi?!”
“Habisnya seru sih,”
“Seru nangisnya??” Ouji mencubit lengan Kanesaki. Alih-alih jidat.

Tertawa, matanya menyipit dengan kerut yang mulai terukir pada sisi-sisi matanya.

“Beli popcorn yuk~” ajaknya lagi.
“Masih ada potato chips loh,”
“Mau popcorn~”
“Nanti yang paling banyak makan popcorn-nya pasti dirimu,” cibir Ouji. Bibirnya maju. Manyun. Mirip fugu.
“Tidak akan,”
“Bohong,”

Jari telunjuk dan jari tengahnya terangkat bersamaan, menunjukkan tanda ‘peace‘ atau mungkin suer, “janji, aku tidak akan memakan habis popcorn-nya,” ujar Kanesaki dengan cengiran jenakanya.
Tertawa kecil melihatnya, Ouji sempat menutupi bibirnya yang tak bisa berhenti tersenyum melihat tingkah laku Kane, “oh ya?”

“Iya, kan Ou-chan yang bakal menyuapi-ku,”

3. The ice cream cone, when they share – Ouji

Kalau ngga Ouji yang pegang, Eskrim-nya bakal tinggal cone-nya aja dalam hitungan detik.

Hari ini terlampau panas. Sudah seminggu sejak diberitakan mulainya musim panas tahun ini. Hari ini tidak ada kegiatan yang harus dikerjakan. Kane merengut desah saat dilihatnya jam menunjukkan pukul 1 siang. Sudah 9 jam ia tertidur tandanya. Semalam pulang sehabis minum-minum, masih menyisakan pusing di kepalanya. Meski kuat minum, tapi tetap saja jetlag jika melewati dosis yang dianjurkan.

Keadaan apato sepi. Tanpa sesiapa pun.

“Mungkin Ren sudah berangkat,” pikirnya bangkit dari tempat tidur yang sebelahnya sudah rapi. Memang tabiat Ouji untuk membereskan apapun sebelum berangkat.

“Aku akan pulang cepat, kalau butuh sesuatu untuk dibeli, telpon ya,” sebuah notes kecil ditemukannya di atas onigiri yang dibungkus plastik pembungkus. Ada semangkuk miso yang mendampingi-nya.

“P.S. Miso-nya hangatkan sendiri ya,”

Siang ini terlampau panas. Dirasanya hilang nafsu makan untuk menelan onigiri yang kemungkinan isi plum tersebut–Ouji belum membeli tuna katanya. Ia menginginkan sesuatu yang manis, dingin… eskrim. Melangkah malas, ia kembali rebahan di kasur. Belum move on nampaknya Kane dari pelukan bantalnya.

Kalau boleh dibilang, Kane cinta eskrim. Apalagi mint dan matcha. Awal bulan selalu tersedia satu box es-krim besar di kulkas hanya untuknya. Untuknya seorang. Ouji sempat protes karena kulit perut pria tersebut semakin kendor tatkalan ditemukannya Kane sedang asyik nonton TV sembari memangku boks eskrim tersebut.

“Beli eskrim kali ya?” pikirnya untuk melangkah ke luar apartemen mungil tersebut. Namun belai sejuk AC kamar, membuatnya malas beranjak. Ia dihadapkan pada dilema dua pilihan; tidur kelaparan, atau menikmati eskrim sembari menghabiskan siang. Menunggu kekasihnya pulang. Kalau sadar diri sih, ia akan membawa beberapa cemilan untuknya.

Tadaima,”

Belum hilang sepenuhnya kesadaran Kane, didengarnya suara pada pintu depan apato. Siapa lagi kalau bukan Ouji yang pulang. Malas tidak malas, ia segera beranjak ke asal suara.

Benar saja. Ditemukannya Ouji tengah menaruh tas-nya, dan….. digenggamannya,…. terdapat sebuah es. Es. Krim. Es Krim. Matcha. Pucuk dicinta ulam tiba. Kane langsung menelan ludah.

“Kane-chan! Kau tak menelponku,” ujar Ouji yang sibuk menjajarkan surat-surat yang kebanyakan tagihan di meja sembari menjilati liukan krim hijau tersebut.
“Aku…. baru bangun,” alih-alih menatapnya, Kane malah memandangi lekat eskrim tersebut. Menggoda sekaliiii.
“Baru bangun?? Ya ampun, makanlah dulu, sudah kusediakan onigiri di meja makan,” ujar Ouji mengganti pandangan dari jajaran surat-surat tersebut, ke arah sang kekasih yang nampak kusut dengan pandangan yang dihiasi kantung mata.
“Aku tak lapar,” Kane masih tak melepas pandang dari eskrim matcha yang digenggam Ouji.

Menyadarinya, Ouji menatap es krim yang dipegangnya. Tak ada yang aneh. Tapi kenapa Kane-chan terus-terus memandanginya?

“Kau,…. mau?” tawar Ouji mengangsurkan eskrim cone tersebut.
“Daritadi kek,” dengan semangat, dihampirinya pria yang terduduk di hadapan meja ruang TV tersebut.
“Eits! Tapi aku yang pegang,” tawarnya.
“Baiklah,…” ada desah frustasi di dalamnya, “lagian, kenapa tidak beli dua sih?” Kane siap-siap nyosor pada benda dingin tersebut.
“Mana tahu kalau dirimu baru bangun? Ku kira sudah jogging di taman sebanyak 5 putaran,” kilah Ren.

“Jogging?! Di musim panas??! Tidak, tidak. Lebih baik gendut daripada harus jogging dengan kadar panas rata-rata mencapai 35 derajat celcius perharinya tersebut.

Terlepas dari gendut atau tidaknya, persetan dengan itu semua. Kane sudah tak sabar ingin mencicipi eskrim tersebut. Melihat Kanesaki yang begitu antusias dengan eskrim dalam genggamannya ini, timbul niat jahil dalam kepala Ouji. Dijauhkannya eskrim tersebut sedikit demi sedikit tanpa disadari oleh Kane.

Sadar sedang dijahili, sepasang alis tebalnya berkedut-kedut dengan mulut manyun dan tatapan horor, “gitu ya,”
Ouji tertawa puas, “iya, maaf. Ini, ini,” diangsurkannya kembali eskrim tersebut.
Kali ini, karena terlalu bersemangat, Ouji mengangsurkannya terlalu cepat, sehingga ujung eskrim mengenai hidung Kane, menjadikannya lebih mancung beberapa senti karena eskrim yang menempel pada hidungnya.

Melihatnya Ouji malah tertawa. Lebih bahagia dari sebelumnya. Melihat Kane bete setangah mati karena tak mendapat eskrim yang diinginkan. Tak lama menggelak tawa, Ren buru-buru mengambil tisu di dekatnya untuk menyeka krim yang masih bertengger manis di hidung Kanesaki.

Kesalnya sudah di puncak kepala, Kane menahan tangan Ouji, dan membuatnya berhenti mencari tisu. Menunggu apa yang akan diperbuat Kane, ia hanya terdiam mematung memandanginya. Dengan tatapan intens, lebih intens daripada saat ia memandangi eskrim matcha ini barusan, Kanesaki mendekatkan bibirnya pada aliran krim matcha yang mulai meleleh di genggaman Ouji.

“Diam,” ujarnya. Lalu dengan tanpa mengalihkan tatapannya dari sorot mata Ren yang nampak kebingungan, Kane mulai menyusuti lelehan krim dari tangan Ouji tersebut. Meski musim panas dapat membuat kulit gosong, namun terlihat jelas ada semburat merah yang tumbuh perlahan pada pipi Ouji. Jelas sekali. Kanesaki semakin bergerilya pada celah jemari yang kini terasa semakin kaku, saat ia menciumi beberapa centi permukaan telapak tangan tersebut.

Merasa ada hal aneh yang semakin tumbuh dalam dirinya, secara refleks Ouji pun menutup matanya. Meredam hasrat dalam hatinya. Namun, setelah beberapa saat ia menutup mata, tak lagi ia rasakan sentuhan kekasihnya itu di sana. Dibuka kedua matanya perlahan….

Ada dua hal yang didapatinya; pucuk eskrimnya hilang, dan hanya menyisakan cone yang digenggamnya, serta Kane yang sedang sibuk mengunyah dengan pipi menggembung mirip fugu.

“Kane-chan?”
“Hm??”
“Tidak ada nasi, tidak ada kasur,”
“HM?” matanya membelalak dengan masih pipi terkembung.

Ouji tertawa. Dipandanginya wajah yang nampak aneh namun lucu baginya tersebut. Mirip tupai dekat-dekat musim dingin. Pipinya jadi gembil.
Dengan sedikit merunduk, ia mencium pipi yang ototnya tengah menegang sepenuhnya. Sebelum pergi, ia berbisik, “… aku tidak bercanda loh,” tawanya.

4. The remote, when they sit down to watch a movie – Kanesaki

Karena bidikan remote Kane-chan lebih dekat sama sensor TV

“Kane-chan, tolong ambilkan ponselku,”

Berlendot manja pada bantal sapi-nya, Ren tidak melepas sedikitpun pandangannya dari script yang tengah dibacanya.
Merentangkan tangan tanpa mengalihkan tontonan acara memasaknya, Kanesaki pun mengangsurkan barang yang diminta, “nih,”
“Kacamata-ku sekalian,”
“Nih,”
“Makasi,”

Sejenak setelah Ouji menjawab, ia menoleh pada sosok yang masih khusuk membaca lembaran-lembaran kertas yang digenggamnya, dengan alis yang berkedut.
“Kenapa bawa kerjaan ke rumah sih,” desah Kane. Ada nada sebal di dalamnya.
“Besok reading, dan aku sama sekali belum membacanya,” mendorong kacamatanya yang mengendur sampai ke lekukan hidungnya, lagi-lagi Ouji tak menatapnya.

Menghela nafas, Kane merebahkan punggung yang sedari tadi disetelnya untuk duduk tegak. Lagi-lagi suasana hening. Hanya terdengar suara TV dan gesekan kertas yang dibolak-balikkan oleh pemuda di sebelahnya. Tak tahan, akhirnya Kane mendecak. Tubuhnya condong ke samping kanan–tempat dimana Ren duduk, dengan sekali tarik, Ia berhasil merebut naskah yang tengah dibacanya.

“Kane-chan…!!” terkejut, Ouji hanya mampu menatap kosong ketika dalam hitungan detik, Kane sudah melempar lembaran kertas-kertas tersebut melintasi lain ruang, “… iiihh!! JAHAT YA!” mencubit pinggang yang tak berdaging tersebut, alih-alih malah bikin Kane tertawa.

“Ini rumah, aku butuh perhatian,” ujar Kane dengan nada manja.
“Butuh perhatian darimana-nya??” kesal, Ren berhasil menahan tubuh Kanesaki dengan menaruh beban tubuhnya diatas pria tersebut, lututnya sigap menahan lengan kekar-nya agar tak bisa lagi berbuat apa-apa. Dengan satu gerakan, Ouji dapat memonyongkan bibir Kane hanya dengan satu tangan.

“Aw, aw, aw!! sukit, sukit, skit!!”

Kane berjengit dengan tendon lengannya yang tertancap lancipnya ujung lutut Ouji.
“Minta maaf,” ancam Ren sembari mencubit kedua pipi pria tersebut, karena jadinya Kane manyun, maka Ren tak lagi bisa menahan tawa-nya.
“Iyu, iyu, mu’up,” jawabnya dengan mulut yang mirip ikan kembung.

Tertawa puas, Ren pun akhirnya menuruni sofa dengan menggerakkan lututnya terlebih dahulu,

“gitu donk,… sekar–”

—KRAAKKK!

Dari rusuh bergerak dan terdengan decitan sofa di sana-sini, tiba-tiba ruangan menjadi sunyi. Ren yang tadinya susah payah turun dari sofa, mendadak diam, TV yang tadinya berisik dengan suara oseng-oseng kini mendadak sunyi–mati. Dari pandangan sipit karena menahan sakit, Kane membelalak. Dengan tatapan seram mirip barong, ia bertanya, “itu suara apa??”

Bergegas memastikan, Ouji segera menyelesaikan prosesi turun sofa-nya dan melihat remote TV mereka telah patah menjadi 2 bagian. Patah.

“Yaaahh,…” Kane langsung menghela nada kecewa melihat salah satu benda kesayangannya ini sepenuhnya rusak, “masa‘ besok harus mampir dulu beli remote sih??”
“Memangnya tidak bisa?”
“Besok jadwalku penuh,” tatap Kane na’as pada remotenya yang terbaring 2 bagian di atas sofa.
“Kalau begitu, begini saja,” sigap, Ren menyeretnya benda tersebut hingga berjarak kurang lebih 1 meter dari TV, “jadi dekat kan kalau mau pencet tombol TV-nya,” senyum Ren puas. Dipikirnya ini adalah ide cemerlang.

“Sementara begini saja dulu,” tak mampu menyalahkan sang kekasih karena menindih remote-nya, Kane berpasrah diri menonton TV dengan posisi tegak.
“Kan lenganmu panjang, jadi bisa ganti-ganti channel dengan mudah,” puji Ren.
“Tapi bakal sakit punggung kalau nonton TV-nya tegak terus,…” keluh Kane.

“Nanti akan kupijiti deh…”

5. The basket, when they go shopping – Kanesaki

Masa punya pacar kuli angkut ngga dimanfaatin?? -plak-

Seharian ini menjadi hari yang melelahkan untuknya. Pasalnya beras hampir habis, dan Ren mengajaknya ke shotengai untuk membeli sekarung bahan pokok tercintanya itu.

“Habis kalau tak ada nasi, kau tak mau makan kan?” ujar Ren sembari menyeret lengan laki-laki tersebut.

Memang, ia cinta nasi. Namun membeli sekarung beras dengan berat 10kg sepulang latihan itu terasa menyiksa baginya. Belum sempat pantatnya menyentuh sofa, Ren sudah keburu membawanya pergi keluar dari apartemen.

“Kalau malam ini aku harus berangkat, nanti aku masak apa?” alasan Ren saat Kane berkilah mengapa–setidaknya–tak menunggunya istirahat sejenak.
“Kenapa tak beli saja sendiri,..” cibir Kane dengan nada se-minim mungkin. Tak ingin sampai ia mendengarnya.

Dari berjalan penuh semangat, Ouji berhenti sejenak. Melemparnya dengan tatapan tajam penuh aura hendak membunuh, “… jadi kau kuat tak makan nasi?”
“Tidak, tidak, tidak,” Kane buru-buru menggelengkan kepalanya, “… cuma bercanda,”

Sore ini akan terasa berat untuknya.

“Terima kasiiihhh,” ujar Ren bergelayut manja pada Kane yang tengah mengumpulkan serpihan nafasnya yang sulit sekali untuk ditangkap, karena tersengah-engah mengangkut beras ke lantai 3 apartemennya.

Beras sudah terduduk cantik pada sudut dapur–seperti yang Ren inginkan.

Meski sudah bersikap manis, namun Kanesaki tidak bernafsu untuk menggoda pemuda tersebut. Ia capek. Cuma pengen mengendurkan otot, syaraf, pikiran, yang seharian ini sudah habis terpakai. Kalau kepalanya ibarat mesin, mungkin sudah berasap dengan percikan api yang keluar dari celah kepalanya yang pecah.

“Kau mau kubuatkan makan malam apa~??” ujar Ren bangkit dengan bertumpu pada bahu Kanesaki.
“Aawwww–!! Sa–Sakit! Sakit! Sakit!” tiba-tiba ia berjengit. Dengan ekspresi kesakitan memegangi bahu kanannya.

Ren yang sudah berdiri pun duduk kembali di sisi Kane yang masih rebahan di sofa. Ia nampak cemas pada tempat yang barusan menjadi tumpuan tubuhnya untuk berdiri.

“Kenapa?? Apa yang sakit?” tanya Ren tak karuan. Padahal sudah jelas, bahu yang sakit.
“Bahuku,…” melas Kanesaki sejenak setelah ia membiasakan diri pada sakit yang menyengat bahu kanannya, “… sepertinya terkilir,…”

Iba juga. Mungkin karena tadi dipakai mengangkut beras, tapi malah ia tekan seenaknya. Ouji jadi merasa bersalah.

“Maaf,” ujarnya. Lalu pergi.

Melihat ekspresi bersalah seperti itu, sebenarnya bikin hatinya tak enak juga. Namun ia membiarkan Ouji karena sedang tak bisa langsung sigap berdiri. Tak berapa lama, Ouji kembali duduk di sisinya, dengan membawa kotak yang terbungkus warna lucu–kotak P3K yang didesain sendiri olehnya.

“Kalau kotak P3K begitu bentuknya, orang mana akan tahu?” pikir Kanesaki pasrah.

“Kau bisa duduk? Sini ku bantu,” dengan wajah masih ditekuk, Ren membantunya untuk bangkit dari sofa. Dengan hati-hati agar tak mengenai bagian yang sakit, ia melepas kaos hitam yang Kane pakai. Dan pada adegan selanjutnya, ia membuka tutup balsam. Masih dengan ekspresi yang sama–bersalah.

“Hei,..” Kane berusaha mendapatkan perhatiannya, “… kenapa wajahmu masih muram begitu?”
Ren menggigit bibir bawahnya. Ada rasa bersalah yang menggelayut dalam hatinya, “… maaf,” cuma itu yang diucapkannya.
“Aku baik-baik saja kok,” ujarnya bohong. Padahal kalau digerakkan sedikit saja, ia masih bisa merasakan sakit yang melintir otot-ototnya.
“Tapi memang salahku,” gumamnya dengan pipi menggembung sembari mengoleskan balsam hangat ke daerah tulang belikat laki-laki tersebut–diduga rasa sakit berasa dari sana.

“Sudah, sudah,” bisa gawat. Suasana akan menjadi tak enak kalau Ren terus-terusan seperti ini, “begini saja aku sudah merasa baikkan kok,” ujarnya.
“Darimana? cuma pakai balsam,” tepisnya sembari membuka plester untuk menahan hangat balsam di kulit.
“Kalau begitu aku mau cium, biar merasa seratus kali lebih baikan!” gagas Kane asal.
“C… Cium? CIUM?! Panas bego–! Kan bekas balsam,” Ouji tak karuan, ada rona merah di telinganya.

Kane tertawa puas. Akhirnya. “Bukan di bahu maksudku, tapi di sini~” ujarnya sambil menempelkan telunjuk di bibir.
“Mana bisa?? Sakit di bahu, malah dicium di bibir,” Ren kian mencibir sembari membereskan kotak P3Knya–“dasar bodoh,”
“Kalau begitu, tidurlah di sisiku, aku takut membutuhkan apa-apa tapi tak bisa bangun,” ujar Kanesaki.
“Aku harus berangkat kerja,” ketus Ren sembari pergi ke ruangan lain.

Kane menghela nafas. Mungkin malam ini bukan saatnya.
“Sini, ku pakaikan bajunya,” ujar Ren yang tiba-tiba datang sedari menaruh kotak alat-alat pertolongan pertamanya tersebut.
Meraih kaos oblong yang teronggok diam di dekatnya, Kane diam saja saat pemuda tersebut memakaikan ke tubuhnya.
“Hati-hati,…” gumam Ren sesekali.

Kanesaki masih terdiam.

Begitu selesai, mereka menjadi sejajar, dengan Ouji yang berlutut di depannya, sementara ia duduk di sofa.

“Aku akan berangkat sebentar lagi, kau bisa makan pakai sendok kan?–semoga itu tak terlalu membebani bahumu,”
Kane mengangguk.
Ren tersenyum, “,… kalau gitu istirahat sebentar, sementara kubuatkan nasi kare untukmu ya,”
Kane masih diam.
“Oke,” dan dengan tanpa aba-aba, dikecupnya bibir yang tak mau berbicara sedari tadi tersebut. Begitu kilat, sampai Kanesaki terdiam untuk menerjemahkan kalau gerakan barusan adalah ciuman.

“Aku masak dulu sebentar,” ujarnya sambil berlalu ke dapur.

Kane menghela nafas. Kepalanya menggeleng-geleng tanpa sadar, “kalau mau mencium, yang benar donk. Menggantung seperti ini jadinya kan…” protesnya.

6. The other’s hand, most often – Ouji

Tangan Kane-chan tuh bakal gerayangan kemana-mana kalau tidak dipegangiOuji, 29th.

Bulan ini Desember. Esok adalah hari ulang tahunnya.

“Kau mau hadiah apa?” tanya Kanesaki dalam suatu malam dimana mereka menghabiskan waktu di ruang TV seperti biasa.
“Hm… Besok ya….” dari majalah yang dibacanya, Ouji menerawang.
“Kau mau kue ulang tahun seperti apa? Tahun kemarin cokelat loh,”
“AH! Aku mau makan di restauran italia yang dekat stasiun saja!”

Bagai dapat inspirasi, Ouji menatapnya dengan cemerlang.

“Restauran Italia?” Kane mengulang permintaan sang kekasih.
“Ya! Mereka bilang Dolcé di sana enak-enak,”

Tak jauh-jauh dari manisan.

“Baiklah, sore besok, kita bertemu di depan taman ya,” ujar Kane.
“Asiiiikk!” kegirangan, Ouji tersenyum lebar sehingga menenggelamkan kedua matanya sampai menjadi 2 garis melengkung saja.

-Esok nya-

Menurut ramalan cuaca sih, hari ini seharusnya cerah meski dingin. Sendirian menunggu, Kanesaki belum juga nampak. Mungkin ada hal lain yang menghambatnya. Ouji mengamati langit di atas kepalanya. Nafasnya menjadi putih. Membumbung. Sampai disadarinya ada butiran mirip kapas yang jatuh dari atas. Itu salju. Mengatupkan kedua tangannya yang mendingin, meski sepasang sarung tangan sudah menyelimutinya.

Sebaiknya aku pesan yang hangat-hangat nanti,” pikirnya.

“Yo!” baru saja hendak berkepikiran untuk memesan satu set dolce tanpa mau tahu harganya, karena Kane sudah telat 10 menit, laki-laki itu datang, dengan rambutnya yang putih. Kehujanan salju ia rupanya.
“Lama,” manyun Ouji.

Kane hanya menyetor cengiran lebar mirip kuda.

“Ayo jalan,” Ren menarik tangan yang sedari tadi Kane sembunyikan pada saku jas tebalnya.

Dari langkah yang buru-buru, seketika Ouji berhenti menarik tangan tersebut saat disadarinya Kane tak memakaikan sarung tangan pada kedua telapak tangannya.

“Kau,… tak pakai sarung tangan ya?” matanya menyipit dengan tatapan menginterograsi.
“Tadi buru-buru, tertinggal di apato deh,” Kane memberikan alasan yang klasik.
“Tapi hari ini bersalju,…” Ren manyun.
“Genggam saja tanganku terus agar mereka tidak beku,” ia tertawa, lebar. Dirasanya ia berhasil menggoda Ouji.

Diam sejenak, Ren melepas sarung tangan kanannya.

“Hei, jangan ngambek donk,” Kane mulai menafsirkan manyun dibibirnya sebagai ambekan.
“Bukan ngambek,… ini. Pakaikan pada tangan kanan-mu,” titahnya.
“Untuk apa?” mengernyit, Kane menerima sarung tangan rajutan benang wol tersebut.
“Agar tanganmu tak beku,” jawabnya polos.
“Lalu tanganmu?”
“Menghangatkan tangan kirimu,” tersenyum, digenggamnya tangan kiri yang sedari tadi menggantung sepi.

Meski ia tahu salju tengah menghujani Tokyo, namun hangat ini cukup untuk melindunginya dari beku di tengah jalan. Cukup melindunginya dari rasa cemas dan sepi. Kanesaki tersenyum.

“Ayo jalan,” Ouji menariknya untuk segera berangkat. Tak sabar ingin disantapnya dolce yang sedari tadi dimimpikannya.
“Ingatkan aku untuk mentraktirmu dolce itu ya,” ujar Kanesaki.
“Yang satu set, boleh?”
“Aku belum ambil uang, Ou-chaaann,”
“Yaaahhh, ambil uang dulu yuk!”
“Tapi, tapi, tapi,…”

7. Their breath, upon seeing the other on their wedding day – Kanesaki

Karena Ouji cantiknya minta ampun.

Sedari 10 menit yang lalu, Kane hanya memperhatikan sosok di sampingnya yang tengah memaku pandang pada ponsel yang dipegangnya. Meski suara TV yang berisi acara anarki dan kebrutalan–idolgames dengan serangga–tersebut menghasilkan suara yang ribut minta ampun, namun Ouji tak melepas sedetik pun pandangannya dari layar gadget nya.

“Meski dinosaurus bangkit lagi, mungkin ia takkan peduli,” pikir Kanesaki sambil mengganti channel lain.

Tak betah dicuekin dan ruang tv mulai terasa sepi tanpa percakapan mereka, Kane jadi gerah. Diliriknya sesekali isi layar yang tengah dipantengi oleh pemuda tersebut. Memang cuma hal yang biasa seperti membalas email, chat, mungkin mention-an. Tapi tak perlu se-serius ini donk.

“Serius sekali,” ujar Kanesaki memecah keheningan.
“Hari ini ada beberapa pergantian jadwal, jadi aku harus menghubungi yang lain,” jawab Ren tanpa menatap laki-laki di sebelahnya.

Jemarinya sibuk men-scroll layar blog di ponselnya. Kanesaki melihatnya karena penasaran sepenting apa sampai harus membuat Ouji menjadi cuek kepadanya. Sampai tak sengaja sekilas ia melihat sebuah gambar sesosok–entah siapa–memakai gaun putih dengan genggaman bunga di tangannya.

“Tunggu! Tunggu! Tunggu!” cegah Kanesaki cepat.
Ia berhasil membuat Ouji menoleh kepadanya, “hm?”
“Itu siapa??” giliran Kane yang tak menatap Ren–malah menatap ponselnya.
“Apaan?” Ren tak mengerti.
“Tadi, ada gambar seseorang memakai gaun pengantin,” alisnya berkerut. Ada tatapan penasaran.
“Oooh,” dengan entengnya Ouji men-scroll kembali layar ponselnya dan menunjukkan gambar yang mungkin Kanesaki maksud, “ini maksudmu?”
“Kok ada di blog mu? itu siapa?” ia menatap Ren penuh dengan pertanyaan.

Ouji tersenyum tipis. Di klik-nya beberapa kali layar ponsel tersebut sebelum diberikannya kepada Kanesaki.
Dengan ragu, ia menerimanya. Dilihatnya lekat gambar dengan wajah yang tak asing menurutnya.

“INI DIRIMU??” sentak Kanesaki pada detik berikutnya.
“Bagaimana? Keren kan? Aku memakainya pada games kemarin,” ujarnya menyombongkan.
“Kok…”
“Kenapa?”
“… kenapa tidak memberitahuku…?” tanya Kanesaki kecewa.

Ren tertawa. Puas. “Sudahlah, toh hanya permainan,” ujarnya meredam rasa kecewa yang memang benar ada dalam dada pria tersebut, sembari berusaha mengambil kembali ponselnya.
“Tunggu dulu,” Kane menatap kembali lekat-lekat foto tersebut.

Nampak Ouji tengah memakai gaun pengantin putih lengkap dengan veil putih yang menggantung di kepalanya. Adalah sebuket bunga yang tersampir pada genggaman dan menjadi pusat pandangan Ouji dalam foto tersebut.

“Kau nampak cantik…” puji Kane tanpa sadar.
Ren terdiam. Tak tahu harus bereaksi apa pada hal yang entah bisa dibilang pujian untuknya atau bukan.
Pada jeda berikutnya Kane meletakkan ponsel yang digenggamnya begitu saja lalu pergi dari ruang tv.

Ouji yang melihatnya semakin diam. Ia berasumsi kalau Kane tengah merasa kesal. Ia membiarkannya dulu, dan berniat meminta maaf nanti, karena memang benar-benar ada email yang datang terus menerus ke inbox-nya dan harus dibalas segera.

Baru saja ia kembali pada balasan e-mailnya. Kane sudah kembali lagi duduk di sisinya dengan sekejap. Namun kali ini ia membawa sesuatu dalam genggaman tangannya. Sebuah kain, berbahan tulle.

“Itu kan…”

Belum sempat Ouji menyelesaikan pertanyaanya, Kane memutusnya, “ayo menghadap ke sini sebentar,” pintanya.
Meski ada satu-dua pertanyaan yang muncul, namun Ouji memilih nurut tanpa banyak bertanya.
Dengan satu gerakan, Kane menutup kepala sang kekasih dengan kain yang dibawanya. Pada transparannya kain, ia dapat menatap tatapan lekat Ren kepadanya. Selalu memberikan degup jantung yang tak beraturan dan desir darah yang deras dalam nadinya.

“Aku…. jadi ingin menikahimu,” gumamnya.
“Tapi ini curtain, Kane-chan!!” protes Ouji.
Kane tertawa. Matanya sipit, hilang tertelan dalam lebar tawanya, “lain kali ku belikan yang sungguhan ya?” ujarnya.
“Tidak!” jawab Ouji tegas.

Sesaat, ada rasa tersengat yang terasa di dadanya mendengar penolakan tersebut. Memang tidak resmi melamar, namun tetap saja sakit.

“… kenapa?”
“Karena aku,….” Ouji melepaskan curtain berbahan tulle tersebut, “…. yang akan menikahi Kane-chan!” ujarnya dengan senyum lebar, sembari gantian memakaikan kain tersebut pada kepala Kanesaki.

Kane terdiam sejenak. Berusaha mewajarkan perilaku kekasihnya tersebut padanya, “kok aku?” tanyanya sejenak kemudian.
“Aku yang pakai tuxedo-nya nanti ya!” ujarnya bersemangat.
“Kan kamu yang cantik pakai gaunnya,…” desah Kane frustasi karena impian-nya melihat Ouji pakai gaun mungkin akan pupus.
“Karena aku Ouji (pangeran), jadi Kane-chan yang jadi pengantinnya,”

8. The camera, when they take pictures together – Kanesaki

Karena tangan Kane itu kayak tongsis.

“Kane-chan,”

Beralih dari ponsel yang digenggamnya, Kanesaki menoleh pada suara yang datang dari sisi kirinya.

“Ya?” membalas cepat, ia mendapati raut ‘meminta sesuatu dari wajah sosok yang memanggilnya barusan–Ouji.
“Aku minta hasil foto tadi,”
Meneggakkan tubuhnya dari posisi duduk yang bersandar, Kane menatap heran, “loh? bukannya tadi juga foto dari ponsel-mu?”
Ouji menggeleng kecewa, “hasil fotonya jelek,” tanpa permisi, ditaruh pantatnya di sisi kanan tempat Kane duduk, “kalau Kane-chan yang ambil fotonya, pasti hasilnya bagus,” puji Ouji dengan udang dibalik maksud.

“Oh ya? Apa karena tanganku panjang?”
Ouji mengangkat bahunya, “mungkin,”
“Nggak mungkin ah, tangan kita sama panjangnya tauk!” Kane merentangkan tangannya lebar. Ada urat besar yang menyembul dari balik kulitnya.
“Kane-chan, tanganmu itu lebih panjang,” merentangkan tangan kirinya, Ouji menggerakkannya mirip gestur melambaikan tangan saat ingin menyetop taksi.

“Aku tak percaya, coba berdiri dan rentangkan tanganmu,”
Malas berdebat, Ouji pun nurut. Berdiri membelakangi Kanesaki, ia pun merentangkan tangan.

“Mirip orang-orangan sawah,” pikir Kane sambil menahan tawa.

“Lihat kan? Tanganku lebih pendek,” ujar Ouji sekali lagi meyakinkan.
“Sebentar, aku akan merentangkan tanganku,” lalu pria itu berdiri dibelakangnya. Dengan gestur yang sama, ia pun merentangkan tangannya, “lihat,… hampir sama kan?” terdengar suara Kanesaki dari belakangnya.
“Hampir, bedanya saja satu telapak tanganmu.

“Baiklah, aku akan menyamainya…” menekuk lengannya sedikit, kini telapak tangan mereka berposisi sejajar.
“Curang,”
“Darimana?” tanpa permisi, ditenggerkan dagunya di bahu Ouji.
“Geli, KANE-CHAN! GELI!”

“Lihat nih, kau bisa terbang,” bukannya mengangkat dagunya dari bahu Ouji, Kanesaki malah menggenggam pergelangan tangan pemuda tersebut, mirip burung yang sedang terbang.
“…..” capek karena latihan, Ia memilih diam tidak menanggapi.
“Lalu kita bisa titanic-titanic-an,” ujar Kane yang terdengar riang.
“Kalau kau sampai menciumku di sini, awas ya! Akan ku kurangi jatah nasi-mu selama seminggu,” ancam Ouji dengan bahasa tubuh yang mulai waspada.

Sejenak terdengar tawa Kanesaki. Nafasnya membentur telinganya. Lalu tanpa diduga, sebuah kecupan mendarat di pelipis kanannya.
“Aku lebih baik puasa makan nasi, daripada harus puasa menciummu selama seminggu,…”

-fin-

atogami:

Akhirnya selesaaaaiii~!!!
YEAY! Woohooo~!! Senang syekaliiih.

6f428754
Fic ini lahir akibat meme yang ada di Tumblr, dan hasrat yang kembali muncul saat flashback dengan beberapa adegan dan potongan-potongan scene RikkaiMyu. Apalagi pas nonton DVD Support-nya.

th_087_Awawawawawawaw

Saya suka sekali bagian mereka karaoke ‘Kourin Suru Ouja‘. Hahaha hint Alpha-nya banyak sekalih. *curhat*

Anyway, saya suka kok lagu Mou-Mayoi wa nai nya versi KamiKen, yah, walau sayangnya malah dijadiin satu lagu sih. Tapi musiknya asa lebih dramatis gitu~ //plak

BTW ALPHA PAIR, Tenimyu sudah 3rd Season ya? Saya masih belum move-on dari 1st Cast Rikkai ( ; 3 ; ) masih kangen liat Papa Kane india-indiaan sama Ouji //dor. Dan nyatanya saya memang suka Rikkai. Di 2nd Season ini saya sangat meng-approve hubungan Kamicchi dengan Ken-san meski beda 8 tahun yang penting ALPHA.

tumblr_ng3sxnsCrd1qd7dvoo2_r1_500

069Hmm… let’s see siapa selanjutnya yang akan jadi ALPHA. 

Tapi tetep OTP mah KaneOuji. Meski diterpa badai, diterjang ombak, dan dihancurkan kenyataan.

215ad82f“SALAH SIAPA NGASIH HINT YANG MENJURUS??! Kan gue jadi ngarep–“4fd9f2d3

*udahan ya, kalo diterusin lebih jauh, bisa semalaman saya curhat tentang mereka* //dzigh

Dengan asa yang mulai tumbuh

Aiko-

current song: Kimi wo Shinjiteru ~ Mou Mayoi wa Nai – KamiKen ver
current mood: kenapa ALPHA itu unyun sangat syiiihhh~ ( ; _ ; )
location: home desu!

-ijou owari!-