image

Kerjaan saat berbakti pada masyarakat….

Minna-san, konbanwa.
Kembali lagi dengan Aiko di siniii~

Yah, kembali dengan aktifitas hariannya.
Kali ini Aiko sedang menjalankan baktinya pada negara dengan program Kuliah Kerja Nyata dari kampusnya.

Bertempat di Pangandaran, kali ini saya tinggal di desa kecil di Parigi.

Nah, kali ini Aiko menuliskan pengalamannya yang hampir mati barusan.
Begini ceritanya…

Aiko dapat jatah kerja di dusun yang lumayan jauh dari tempatnya tinggal. Karena gatal ingin jalan-jalan dan kebetulan ada sepeda, maka Aiko pun memutuskan untuk mengunjungi dusun tersebut dengan sepeda. SENDIRIAN.
Sepeda yang digunakannya kebetulan rem blong. Jadi yang namanya rem harus pakai kaki. Kebetulan tinggi sepeda satu meter. Bikin anak kerdil ini susah untuk sekedar napak kaki ke tanah.

Jalan lumayan jauh. Penuh dengan tanjakkan terjal Aiko pun kewalahan. Sampai akhirnya berharap kalo jalan yang didepannya itu turunan biar ngga usah dikayuh. Capek.

Doa pun terkabul beberapa meter kedepan.

Bukan lagi turunan, tapi masalahnya ini turunan beruntun. Ada 4 turunan curam yang sanggup bikin sepeda yang dikendarai Aiko meluncur sampai lebih dari 80km/jam.

Penuh dengan rasa takut Aiko pun mulai kehilangan kendali atas sepedanya. Beberapa orang di warung2 terdekat pun mulai meneriakkan Aiko.

“Hati2 neng,” kata mereka.

Aiko pun mulai berfikir untuk mengehentikan sepedanya. Sempat untuk membelokkan sepedanya ke arah hutan di sisi kiri. Namun ngga mungkin. Pulang ngga boleh dalam keadaan jelek.

Akhurnya Aiko pun pasrah sampai menemukan jalan datar supaya mudah sepedanya berhenti. Jalan datar pun berada di beberapa meter di depan. Namun tak jauh dari situ pula, ada turunan curam lagi.

“Nggak! Nggak! Berhentiiii! Gak maoooo!” Jerit anak ini.

Akhirnya, entah kejeniusan darimana, ia pun berpikir untuk menghentikan sepeda dengan menginjak ban depan. Dan itu dilakukan….

…. namun sendal yang dipakainya pun lepas.

“MATI AKU,”

Turunan semakin dekat, namun sepeda tak kunjung berhenti.

“Kalau ada mobil besar di depan, matilah aku…”

Refleks, IQnya naik, Aiko pun turun dari jok sepedanya. Dijejakkan kedua kakinya. Menahan stang sekuat tenaga, akhirnya sepeda pun berhasil dihentikan sesaat sebelum turunan.

Peluh yang membasahi baju, detak jantung yang tak menentu. Alhamdulillah Aiko berhasil menghentikan sepedanya.

“Hampir saja mati aku tadi…”

Menenteng sepeda, Aiko pun kembali ke warung yang tadi sempat ditemuinya.
“Neng ngga apa-apa?” kata si pemilik warung.
“Ngga apa-apa a,”
“Baru aja saya mau ke sana jemput neng, takut kenapa2,”
“………..” “Ngga apa2 a, saya masih hidup,”

Begitulah cerita hampir mati Aiko…

current mood: 😦
current song: Kerispatih – Lagu Rindu
location: rumah KKN Parakanmanggu

-ijou desu-