Title : Tsuma he (to my wife)
Writer : Takigawa Aihara
Mood : Kangen kasur, kangen babi, kangen rumah, kangen kedamaian diri….
Note : AU, Hari Ulang Tahun Aiko
Warning : Gaje, Typo.

Aiko no Maegami : Dibuat dalam kurun waktu 49 menit. Selamat menikmati, jangan sampe muntah….

妻へ
「to my wife...」

Kanagawa, 17 September

“Maaf ya sayangku. Kali ini ada dinas yang benar-benar tak bisa kuhindari sampai minggu depan,”

Masih terngiang ucapan Kengo—sang suami tadi malam. Entah mengapa, acara romantis menjelang tidur macam biasanya, malah berubah menjadi panas dan sunyi. Aiko ngambek—secara otomatis saat Kengo mengutarakan ketidakhadirannya di rumah sampai dengan minggu depan.

Dan pagi ini, sang suami baru saja melenggang bebas ke Hokkaido—tempat dinasnya, meninggalkan ia sendiri dalam rumah mungil nan sunyi ini. Hanya gemericik air yang mengalir menramaikan suasana dapur yang hanya berisikan dirinya seorang.

Sembari membilas peralatan makan yang tak seberapa banyak tersebut, muncul rasa sepi yang membuatnya menghela nafas. Bukan karena dinas sang suami—sebulan pun akan diterimanya dengan ikhlas asalkan tidak mepet dengan hari ulang tahunnya ke 24—angka yang tidak disukainya sedari dulu.

2 hari lagi ia akan menjadi dewasa seiring dengan usia pernikahan yang berjalan setahun—tepat dengan 9 hari setelah ulang tahunnya.

“Kita rayakan bersamaan dengan hari ulang tahun pernikahan kita ya?”

Sontak pernyataan tersebut membuatnya refleks melempar bantal yang tepat mengenai wajah sang suami, dan membuatnya bungkam dengan wajah kisut bak anak anjing yang disiram.

“Kok tega sih?” hanya itu yang di ucapkannya semalam saat ia tak tahu harus berkata apa. Serba salah. Rela berarti ia menghadapi semuanya sendirian, tak rela berarti penghasilan sang suami akan berkurang.

“Tau ah,”

Aiko lagi-lagi menghela nafas—kesal. Mengingatnya membuatnya menyesal, saat upacara sarapan yang biasanya menjadi saat yang hangat untuk bermesraan, kini menjadi sunyi, dengan luka dihatinya.

Yang ia inginkan hanyalah sang suami ada untuk menemaninya melewati 18 September dengan tubuh yang tak lagi sama seperti usia 23 tahun. Namun urusan dinas akuntan memang lain cerita yang tak bisa dibantahnya. Diperkeruh dengan pertengkaran dingin mereka.

“Ken-chan…. aku kangen….”

Angin dingin berhembus melewati jendela dapur. Hari ini betul-betul ingin di-skipnya sampai dengan Kengo kembali dinas.

—Drrt

Terdegar getar ponsel mungil yang diletakkan di atas meja makan, saat jam menunjukkan pukul 12 siang.

“Terima video call dariku nanti ya,

-Sota

——–END——”

Begitulah isi e-mailnya.

Adalah wajar jika Sota mengirimkan email macam demikian setiap tanggal 17 September, karena laki-laki tersebut adalah kembaran Aiko yang berbeda lahir 7 menit—dengan Sota yang divonis sebagai sang kakak.

Tradisi si kembar adalah saling mengucapkan saat tengah malam persimpangan tanggal 17 dengan 18. Namun kasus kali ini, kembaran laki-lakinya tersebut tengah berada di Osaka—kampung halaman sang istri, yang tidak memungkinkannya untuk pulang ke Tokyo dan menjemput dirinya dari Kanagawa malam-malam, barang untuk merayakan ulang tahun berdua. Jadilah tahun ini menjadi tahun yang sepi untuknya.

17 September, 23:56

Tepat saat ia tengah menyalakan lilin ulang tahun yang berjumlah 10 di atas cheesecake yang dibelinya di toko patisserie di persimpangan jalan, saat itu pula ponselnya bergetar.

Video call dari sang kakak masuk rupanya.

“Hai, selamat ulang tahun,” ucapnya menatap pada layar datar ponsel legamnya.
“Terima kasih, Ai,” terpampang wajah Sota yang menurutnya tak jauh beda semenjak SMA tersebut pada layar ponselnya, “kenapa wajahmu kusut sekali?? Kangen aku ya?” tanya Sota yang membuat Aiko ingin sekali mencelupkan ponselnya ke dalam cangkir teh hangatnya—namun keburu eling karena mengingat hanya itulah satu-satunya alat komunikasi baginya.

Nii-kun….” panggilnya pada sang kakak, “…. terima kasih sudah menemaniku,” ucapnya lirih. Sendirian memang pahit.
“Sensei kemana??” tanya Sota memaksudkan sang kakak ipar—Kengo.
“Dinas. Aku sendiri…” mukanya makinn lecek.
“Percayalah, sebentar lagi ia akan menelponmu untuk mengucapkan hal yang sama,” senyum Sota, “… nah, sudah jam 00:05, ayo giliranmu berganti usia,”

Ditiupkannyalah lilin yang ada di atas cake di hadapannya tersebut.

“Selamat ulang tahun, adikku…”

Dan Video Call berakhir 4 menit kemudian, dengan Sota yang memutus line terlebih dahulu, karena ada keperluan lain.

Tinggalah Aiko yang begadang suntuk sendirian.

Ada perasaan sepi nan melankolis yang menjalari hatinya perlahan. Terisak sejenak, Aiko pun tertunduk dalam tangis yang hampir tak bersuara. Jam sudah menunjukkan pukul 00:57 saat ia tersadar dari tangisnya. Namun belum ada satupun pesan maupun panggilan dari sang suami yang nyangkut di ponselnya.

Ada rasa kesal, tapi juga kangen….

Dengan tanpa menyikat gigi dan menyisir rambut, ia memutuskan untuk segera masuk ke dalam kamar tidur.

—TOK! TOK!

Ia terlonjak saat terdengar suara ketukan dari pintu depan, begitu kakinya hendak menapaki bagian dalam kamar tidur. Ada rasa ngeri bercampur deg-degan disertai dugaan lebay karena kebanyakan nonton film thriller koleksi sang suami, saat Aiko mengumpulkan keberanian untuk jalan mendekati pintu utama.

Sigap mengambil alat yang bisa digunakan sebagai perlindungan diri, ia pun menenteng payung sembari membuka sedikit gorden untuk celah mengintip demi mengetahui siapa yang berani mengetuk-ngetuk pintu rumahnya pada jam-jam segini.

Adalah sang suami begitu diketahuinya dari balik kaca jendela.

Sebelum menuntaskan rasa heran dan terkejutnya, Aiko segera membukakan pintu untuk Kengo.

“Ken-chan…?? Kenapa ada di sini? Dinas kan?” intergoasinya saat kembali mengunci pintu dan melihat sang suami lebih kusut dari jam pulang kantor biasanya.

Kengo pun tak kalah berwajah asem, dengan sedikit hiasan senyum saat sang istri menanyakan hal demikian, “aku hanya ingin bertemu dengan istriku di hari ulang tahunnya,” jawabnya singkat. Senyumnya kecut.
“Tapi… bukannya minggu depan?” tanya istrinya tersebut tak lengkap.
“Aku tak akan tenang berdinas tanpa melihat senyummu…” ujarnya sok romantis, tapi mampu bikin Aiko terhipnotis.
“Tapi,………”
“Setelah melihat senyummu, aku baru akan berangkat dengan tenang ke Hokkaido pagi ini,”

Suasana hening, saat Aiko mendekap laki-laki yang berbeda tinggi 20cm dengannya tersebut.

“Dan aku sudah menyiapkan ini untuk mu,” dikeluarkan oleh Kengo sesuatu dari dalam saku celananya. Nampak sebuah benda yang tak lagi berbentuk cantik, “… maaf ya jika kado tahun ini jelek,”

Dibukalah kotak yang sudah setengah penyok tersebut.

Terbaring sebuah jepit rambut mungil berbentuk azalea perak.

“Pakailah saat promosi-ku menjadi kepala bagian, minggu depan nanti. Dan sayangku, aku mencintaimu,”

===============================

Note: inilah jadinya, kalau kalian ulang tahun di kost-an, sendiri, tanpa keluarga, sebuah fic abal, yang saya dedikasikan untuk setiap pertengkaran remeh kami, tapi begitu bikin kangen. Chuu, cepat sembuh. Kengo-san, you still life in my heart.