Title: Birthday from You~tsugi hen~
Pairing: Kane-Ouji
Author: Aihara Izumi
Series: Tenimyu
Disclaimer: Agencies, Stage, and Tenipuri
Theme Song: RSP – Aikotoba
Note: Tenimyu backstage Dream Live 4th
Warning: Semi-AU, Sotoy, Gaje Shonen-ai,

Maegami:

Minna! Tanggal 2 Juni ini.
Sebelumnya saya ucapkan

Wilujeung Tepung Taun‘, Kanesaki-san

Semoga makin sukses dan makin lengket sama Mamah Ouji.

Ini adalah fic yang ‘entah-kenapa-muncul-tiba-tiba’ saat saya tengah bengong di Puncak kemaren *kesambet*
Kalian pernah baca ‘Birthday From You’ yang saya post untuk Ou-chan pada Desember 2010 lalu? Inilah pairing dari fic tersebut. Well, bukan pairing secara story, tapi secara judul XD

Kalau ditanya latar, sebenarnya ini bukan latar adegan Tenimyu backstage manapun. Saya aja yang iseng bin senga nambah-nambahin. Tapi kalo bingung, ambil aja Dream Live 4th yang terjadi di bulan Mei. Mei, Juni. Right? Jangan pusing-pusing, jangan bingung-bingung. Santai ajaaa…

Sok mangga dibaca.

(P.S. Liat Kane pake kemeja putih itu, inget wayahDear-Girl dimana dia jadi gravure-idol….. #facepalm)

いつまでもいつまでもあなたが笑ってくれるのは
Selalu, setiap dirimu tertawa…

“Selamat Ulang Tahun, Kane-chan,”

Ren, memandangi kue berlapis krim putih yang diberinya tulisan tersebut pada sebongkah papan cokelat dengan icing putih. Tak sia-sia ia berguru pada Gaku saat off 5 hari lalu tentang ‘bagaimana membuat kue’ atau lebih tepatnya ‘bagaimana membuat kue-mu memngembang dengan sempurna’—karena setelah 3 kali sejarah membuat kue dalam hidupnya tak satupun dari hasil karya Ren tersebut yang mengembang dengan baik. Alih-alih mengembang, volcano chocolate-nya malah meledak karena tak sengaja ia menaburkan baking-powder ke dalam cokelat isinya.

“Selesai,” gumamnya puas sembari mengeprukan kedua telapak tangannya dari tepung yang masih menempel. Butiran-butiran protein tersebut pun berterbangan.

Membanyangkan senyum Kanesaki—sang fukubuchou, Ren tersenyum. Akan seperti apakah rasanya.

Apa Kane-chan akan menerimanya?

Teralih dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, terselip rasa puas dalam hatinya karena kue buatannya kali ini begitu cantik. Mengagumi hasil buatannya, Ren pun menghela nafas sembari bersandar pada salah satu sisi meja. Tanpa di sadari, tangannya menyenggol sebuah bungkusan.

–PRAKK!

Terkejut, Ren buru-buru menghampiri benda yang jatuh tersebut. Ternyata, itu adalah sebungkus telur yang pecah karena berbenturan dengan lantai dapur.

“Oh, hanya telur…” pikirnya sembari memungut bungkusan yang terlihat penuh lendir tersebut.

Namun detik selanjutnya, kedua alisnya mengernyit.
“Kenapa ada telur? Hari ini aku belanja sesuai kebutuhan kue, jadi…” gumam Ren pada dirinya sendiri.

Sesaat kemudian ia nampak terkejut.

“KUE-NYA?? TELUR-NYA?? KENAPA AKU BISA MEMBUAT KUE DENGAN LUPA MEMASUKKAN TELUR NYA??”

どんな言葉より 素敵なことなんだと思うよ
Aku dapat memikirkan hal yang menyenangkan dari kata macam apapun,

Tak mempedulikan keadaan sekitar, Kane menguap selebar-lebar otot rahangnya dapat menahan.
Pagi masih dingin, namun ia harus segera berpisah dengan futon tercinta demi latihan pagi.
Melenggang dalam koridor yang sepi. Matanya setengah watt. Melihat, namun tak sewaras jika seluruh nyawanya sudah terkumpul.

Ohayo, Kane-san,”
Ohayo…”
Ohayo Kane-san,”
“Ohhaaamm… yo,”

Walau dijawabnya sapaan tersebut, ia tak melihat jelas siapa orang yang memberikannya sapaan pagi tersebut. Namun demikian, matanya masih bisa menangkap pasti satu sosok yang begitu dikenalnya. Sosoknya tengah bersendal panda hitam-putih, dengan menjinjing gelas yang disinyalir berisi kopi pagi.

Ohayooo, Ou-chan~!” sapanya riang. Menyanyikan semangat paginya, walau masih tercampur kantuk.
Yang disapa menoleh. Walau dengan tatapan rada horror karena mendengar lengkingan nada yang begitu tinggi dalam wayah pagi-pagi buta gini, namun sosok itu–Ren, masih bisa memberikan senyumnya, “ohayou Kane-chan,” balasnya.
Segera, Kane menghampiri sosok sang Buchou yang nampaknya sudah tiba lebih awal.
“Mata-mu sipit,” komentar Kane pada sleepy-face Ren.
“Memang, aku bangun terlampau pagi hari ini,” keluh sang Buchou sembari mengingat mirisnya hati mengenang cake-nya yang tak bertelur tersebut.

Berdua berjalan beriringan. Menghabiskan panjangnya koridor berdua dengan obrolan pagi yang sesungghnya tak penting, namun lumayan untuk menyegarkan pagi dengan berita yang didapat dari siaran TV pagi.

Ne, Kane-chan… hari ini tanggal 2 Juni ya?” ujar Ren sembari memberikan hint kepada pria yang 3 cm lebih tinggi darinya itu.
“Hm… sepertinya, aku lupa melihat kalender,” jawab Kane rada ogah, karena kepalanya mendadak pusing kalau di suruh mengingat hari.
Jaa, kalau begitu hari ini, u……”

“Selamat ulang tahun, Kane-chaaann~!!”

Dari setengah watt, daya penglihatan Kane meningkat lantaran mendapat kejutan (berupa lengkingan Genki dan letusan confetti Masa yang tepat meledak di wajahnya) saat mereka berbelok menuju ruang ganti Rikkai. Ren diam, Kane diam. Berdua diam kaku dihadapan lawang pintu masuk ruang ganti Rikkai.

Sejenak, Ren menghela nafas, posisi pertama orang yang mengucapkan ‘selamat ulang tahun‘ untuk Kanesaki telah di rebut oleh rekan-rekan tim-nya sendiri. Menyadari kalau hari ini hari kedua di bulan Juni, Kane hanya bisa nyengir.

“Hari ulang tahun ku ya?”

馬鹿でっかい夢ばっか追いかけて寝不足と書いてある顔で
Mimpi terbodoh yang kau kejar, wajah-mu yang menunjukkan kau kurang tidur,

Hari beranjak siang, dan latihan pun mencapai titik istirahat.
Berhubung ada cake-nganggur di hall, maka seisi ruang ganti Rikkai menjadi sepi karena para penghuninya pasti lagi asik memperawani cake yang Kiriyama beli di dekat taman, karena ditodong Bacchon mengingat hari ini tanggal 2 Juni subuh tadi.

Terkecuali Ren. Berdiam sendirian dihadapan cerminnya, ia asyik mengutak-atik ponselnya dengan ditonton cake-nya seorang. Selesai membalas e-mail sang manajer, Ia pun mengalihkan pandang pada ongokkan kue putih tersebut. Nafasnya lagi-lagi terhela. Niatnya urung untuk memberikan buatan tangannya ini untuk Kanesaki, karena ia lupa mencampurkan telur ke dalam bahan-bahan adonan.

“Pasti rasanya aneh…” pikir Ren.

Bibirnya maju–kesal. Lalu detik berikutnya ia meruktuk sendiri, mengatai kebodohannya. Namun apa yang bisa ia perbuat, kalau cake ini sudah terbentuk? Beras sudah menjadi bubur. Tepung sudah menjadi kue.

“Nanti akan kumakan saat makan malam nanti,” pikirnya sembari mencabut batangan cokelat yang berukir ucapan ‘selamat ulang tahun‘ untuk Kane dari atas kue-nya. Membuka kotak yang lebih kecil, ia letakkan cokelat tersebut didalamnya. Kuenya menjadi hanya berhiaskan bebuahan cocktail yang ia olesi dengan jelly-pig.

Buchou! Ku cari sedari-tadi,” dengan heboh, Genki tiba-tiba masuk.
Membuat Ren sempat terperanjat karena kaget, “… ah, Genki. Ku kira siapa,” tangannya mengelus dada yang melindungi jantungnya yang kian melemah setiap hari karena keributan para anak-anak Rikkai.
“Waw! Ada cake!” pekik sang kouhai yang matanya menangkap ‘sesuatu yang bisa dimakan’, “untuk Kane-senpai?” tanyanya sembari mengagumi bentuk cake yang sangat menggiurkan tersebut (well, bentuknya biasa aja, kayak cake kebanyakan. Cuma karena ini anak tukang makan, apapun jenis makanannya, tetap saja menggiurkan)
Ren menggeleng cepat, “iie… itu hasil experiment-ku pagi ini. Um, mungkin rasanya agak aneh,”
“Aku boleh mencicipinya?” tanya Genki tanpa basa apalagi basi.
“Kau yakin?” Ren meyakinkan.

おならも寝ぐせも不器用なキスも
Kentut-mu, kebiasaan tidur-mu, ciuman-mu saat gugup pun,

Matanya menyebar pandang ke seluruh sudut hall. Sosok pemeran Yukimura tersebut tak lagi dilihatnya setelah ia dan Minami–sang Buchou Seigaku, sibuk mengobrol–padahal maksud hati menjauhkan mereka berdua namun yang terjadi adalah buchou-nya itu hilang entah kemana. Di saat yang lain sibuk meng-klaim jatah untuk kue ulang tahunnya, Ren malah tak nampak dengan yang lain. Kane celingukan sampai ke koridor untuk mencari bentuk Ren yang sedang berseliweran.

“Kau… melihat Ouji?” tanyanya pada beberapa rekan yang ditemuinya saat berjalan menelusuri koridor.
Namun semua jawaban yang diterimanya adalah, “…. tidak tahu,”

Satu-satunya tempat adalah ruang ganti Rikkai. Ia pun memutuskan untuk berbelok arah menuju ruang yang hampir setiap harinya tak pernah rapi setelah mereka tempati tersebut.

–BUGH!

Sayangnya, saat ia berbelok dengan langkah yang rada tergesa-gesa, tubuhnya menabrak seseorang. Adalah Genki yang berjalan dengan agak pelan karena sembari mengunyah kue pemberian Ren tersebut.
Whoa!! Senpai, berhati-hatilah sedikit,” Genki mundur beberapa langkah. Mental karena menerima dorongan yang cukup kuat, dengan tangan merentang agar cake-nya tetap terlindungi.
“Genki,” nafasnya rada tersengal. Capek juga ternyata mengelilingi hall dan seisi gedung dengan langkah yang berkecepatan setengah lari, “itu, apa?” tanya Kane mendapati benda putih yang berada di tangan kiri Genki.
“Ini, kue. Dari buchou,” jelas Genki tanpa diminta sembari memasukan satu suapan ke dalam mulutnya.
“Ha? Buchou… ada dimana?”
“Ruang ganti,”

全部私が「ええよ」って ずっとそばで守ってあげたい
Tidak apa, jika itu segala tentangmu”, karena aku ingin selalu melindungimu di sisiku,

Bergegas ke ruang ganti sesuai informasi sang kouhai, benar saja ia mendapati Ren di dalamnya.
Karena dirinya terlalu keras membuka pintu, sempat ia melihat ponsel mungil milik Ren hampir melocot dari genggaman sang pemilik.

“Hoh! Kane-chan! mengaggetkanku saja,” kalau bagian Genki tadi ia mengelus dada, kali ini ia mengelus ponselnya yang hampir mencium kerasnya meja rias.
“Aku mencari-mu,” ujar Kane. Lalu diam. Mengatur nafas.
He, ada apa?”
Bingung dengan jawabannya, Kane akhirnya hanya menggeleng.
Ren jadi bingung, “loh?”
Grogi, Kane menggaruk tengkuk yang tak gatal tersebut, “sedari selesai latihan tadi, hanya kau yang menghilang, maka itu aku mencarimu,” jelas Kane ala kadarnya.
Yang meminta jawaban malah makin bingung.
“Kenapa dari tadi kau menghilang tanpa bilang-bilang??”
“Aku…. mencari ponsel-ku,”
“Dan itu sudah di tangan,”
“…. lalu membalas pesan-pesan masuk,”

Kane menghela nafas (lagi). Merasa kalah dengan polosnya jawaban sang Buchou.
Sekilas, pandangannya kembali menangkap warna yang sama dengan apa yang ia dapati di tangan kiri sang kouhai-nya tadi. Sedikit dijenjangkan, Kane berusaha melongok ke balik pundak pemuda tersebut.
“Itu apa?” tanyanya tanpa menunjuk, namun memfokuskan pandang pada cake yang sudah hilang setengah.
“Ah ini…” gugup Ren sedikit mberbalik badan memunggungi lawan mainnya tersebut.
“Untukku?”
Ren menggeleng.
Kane mendekat, “lalu untukku?”
Ren diam. Bingungnya makin bertambah kala ia disodori pertanyaan yang jawabannya entah ia harus dapatkan darimana. Jarinya terkait menandakan ia gugup.

Tak mendapat jawaban lebih dari 2 menit, Kane melengos. Mengendurkan otot dengan duduk di kursi sisi sang buchou yang ia geret ke hadapan Ren, “tak mengucapkan-ku ‘selamat ulang tahun’ begitu bertemu, dan cake buatan-mu diberikan pada Genki…. kurasa, hari ulang tahun-ku hari ini tak begitu spesial,” adu Kane. Mimiknya ngambek dengan pipi menggembung. Persis anak SD yang tak mendapatkan mainan yang diinginkannya.
“Tahu darimana jika kuberikan bagian kue itu pada Genki?”
“Tadi aku bertemu dengannya,” jelas Kane dengan mengandung 30% nada jengkel. “Enaknya Genki. Ia selalu kau perhatikan tanpa diminta. Sedang aku……..”
“Bu… bukan seperti itu!” sergah Ren tanpa sadar.
Kaget, Kane hanya menatapnya terkejut.
Dari mulusnya putih pipi Ren, perlahan muncul semburat pink yang manis, “bu… bukan seperti itu,” ia diam sejenak–mengumpulkan keberaniannya, “se… sebenarnyacakeituuntukmu,” jelas Ren dengan satu nafas–menahan malu.

「大丈夫」とギュッと抱きしめて チュッとしてくれたり
“Tidak apa”, lalu kau memelukku, dan kita pun berbagi kecupan,

Ren menerima tatapan tak mengerti dari pemuda dihadapannya.
“Sebenarnya ingin kuberikan padamu pagi ini, tapi…” Ren mencari-cari sesuatu yang dapat menutupi wajahnya–setidaknya pipinya yang terlanjur merona, “… aku lupa memasukkan telur ke adonannya, jadi kupikir rasanya takkan enak, dan …. kau mungkin takkan menyukainya……” selesai menjelaskan, Ren membuang muka dan tubuh–memunggungi Kane.
“Tunggu, tunggu, tunggu,…” tangannya terjulur ke pundak Ren, “… apa? Ulangi sekali lagi,”
Dari balik pundaknya, ia menatap Kane sejenak, “jangan buat aku mengulanginya lagi,” lalu kembali pundung dengan memeluk kedua lututnya.
“Cake itu untukku?”
“Kalau saja aku tak lupa memasukkan telur,” grumble Ren dengan hampir tak terdengar.
“Taruh saja omelette di atas kuenya, jika kau merasa kue ini kurang telur,” goda Kane mengacuhkan omongan yang mirip kumur-kumur tersebut.

Ia pun mengambil kue yang ada di sisi meja rias sang Yukimura. Dengan telunjukknya, dicoleknya sedikit untuk dilahap ke dalam mulutnya.
“Enak,” gumamnya dengan melahap satu colekan lagi.
Uso, hanya untuk membuatku senang saja,” sungut Ren melirik Kuenya yang kini berkurang volume.
“Serius,” mimiknya sejalan dengan ucapannya, “terima kasih ya,” ucapnya kemudian dengan pipi menggembung–bukan karena ngambek tapi penuh karena mengunyah.

Melihatnya, perlahan Ren tersenyum. Ada perasaan hangat yang kini tumbuh dalam hatinya.
“Oh iya, aku hampir melupakannya,” Ren mengambil sebuah kotak yang digunakannya untuk menyimpan papan cokelatnya barusan, “… ini,” ujarnya menyerahkan tulisan yang dibuatnya dari icing putih tersebut. Terukir kanji pertama namanya.

Senyum sang pemuda yang tengah berulang tahun tersebut makin lebar tatkala melihatnya.
Malu-malu, ia menerima potongan cokelat tersebut. Memandanginya sejenak dalam diam, lalu…
Nee, Ou-chan,”
“Hm?”
“Apa aku boleh minta satu hadiah lagi?”
“Hn? Apa?”
“Ini,” lantas Kane pun menggigit ujung papan cokelat tersebut dan menyodorkannya persis ke hadapan wajah Ren.
Melihatnya, Ren blushing. Tak tahu harus berbuat dan berkata apa.

“Seeenn~pai,” disaat-saat demikian, Kento datang dengan tingkah riangnya karena baru saja kenyang setelah merampok gudang makanan tetangga sebelah–ruang ganti Seigaku. Belum sempat menjejak kaki ke dalam ruangan, salah satu pemeran troika yang notabene paling muda dari seisi Rikkai ini, terlanjur melihat perbuat sang fukubuchou. Telak dengan sang buchou yang gesture-nya begitu kaku karena tak bisa ngapa-ngapain.
“Ooi! Kento-kuunn~!! Di dalam ada siapaa??” disusul dengan teriakan yang entah milik siapa yang membuat Ren makin tak bisa bergerak (sementara Kane dengan wajah riang-tanpa dosa-mata terpejam tetap mempertahankan gesture-nya)

—BRAKK!

Pintu mendadak di tutup sang kouhai. “Tidak! Tidak ada siapa-siapa!” terdengar sebagai suara Kento yang rada gagap.
Memegangi dadanya yang semakin melemah, karena jantungnya memompa terlalu cepat sedari tadi, Ren pun menyiapkan nafas terakhirnya, “Kane-chaaann!! Jangan buat aku pingsan!”

Lalu Ren pun pingsan.

おばあちゃんになっても変わらず手をつないでね
Walau kau menjadi nenek-nenek, aku akan tetap menggenggam tanganmu

-fin-

=========================================

Atogami:

Fyuh! Dekitaaaa~!!
Wew, 2000 kata dalam ‘whole-day-standing’ XD
OOC ya? Banget. Inilah yang bisa saya berikan. Semoga gak se-lebay yang dikira.
Semoga pembaca menikmatinya,

Dedicated to:

Kanesaki Kentarou

Yang berulang tahun hari ini. Kapan ke bali lagi?? Nanti saya juga mau ke Bali lagi.
Yu~uk kita bertemu, nanti saya guiding sampe ke Tangerang XD #eh
Oh ya, satu lagi.
Kapan menikah dengan mamaaaahhhh~???? Saya sangat menantikan pernikahan kaliaaaannn~!! XDDXDDXDDXDD
*dijepret geta*

Para Fans Kane-Ouji
Tolong jangan timpuk saya atas terbitnya fic ini.
Dan selamat berbahagia untuk kita, karena Ouji baru saja mengepost ucapan selamat ulang tahun untuk Kane dengan judul ‘Papa Tanjoubi‘ (nanti Desember, Kane ngepost ucapan ultah ke Ouji dengan judul ‘Mama Tanjoubi‘)

Para pembaca sekalian,
Walau kalian numpang lewat, atau numpang baca, saya harap kalian pun menikmati
adegan pernikahan tak langsung dari KaneOuji ini #dibantai

dengan perut lapar saya,

-Aiko