Papah, Ayah, Abah, Bapak, atau apapun sebutan bagi orang tua laki-laki kita…… adalah seorang yang sama hebatnya dengan orang tua perempuan kita. Jika Ibu berjuang melahirkan dan membesarkan kita… Ayah yang berjuang mencarikan nafkah untuk kita. Masih banyak hal lain tentang kehebatan Ayah yang tidak kita sadari dalam kehidupan kita. Sadarkah kalau posisi Ayah benar-benar tak tergantikan?? Bahkan oleh seorang Ibu…… Karena Ayah… begitu spesial…

Title: Love Story
Writer: Takigawa Aihara
Genre: Love, Family
Rating: G
Series: Atashi-tachi no Kazoku
Theme Song: Umi no Ballad
Current Mood: Capeeekkk…. Saya kangen laut,

============================================

Maegami:

Minna, kembali dengan Aiko.
Ini adalah fic-nya yang kembali di re-publish, karena dulu nempel di note FB.
Karena takut kenapa-napa, maka dipindahkanlah fic ini ke blog suapay lebih aman.

Berkisah saat sang kepala keluarga Tsuchiya ulang tahun untuk yang kesekian kalinya.
Dan overall, fic ini Aiko buat dengan bertemakan cinta seorang Ayah dengan anak perempuannya.

Enjoy, dan maafkan kenistaan saya….

Otanoshimi ni,

Ayah…
Tanpa kita sadari sebagai anak perempuan, adalah pacar pertama kita.
Orang yang mencurahkan segala kasih sayangnya sama besarnya dengan Ibu.
Walau terkadang, sayangnya Ayah, kurang transparan alias sering tak disadari oleh kita.
Dan ada masa bagi seorang Ayah untuk melepas putri kecilnya ke tangan laki-laki lain demi membahagiakannya…

Kanagawa, Musim Gugur…

Tidak seperti malam-malam yang lalu…

Malam ini, Yuichi–Papah, melihat Aiko–anak perempuannya, begitu berbunga-bunga. Tidak seperti biasanya Aiko menghidangkan makanan dihadapannya, bahkan sampai tersenyum lebar padanya.

“Mah… Ai kenapa??” tanyanya pada Harumi–sang Istri.
Harumi mendelik padanya, “maksud Papa?”
“Lihat deh, kelakuannya…”
Harumi sejenak memperhatikan gelagat putrinya yang asyik bercanda dengan kakak kembarannya, Sota, “Kelakuannya apa??” Harumi melanjutkan acara ‘nge-DJ’ alias cuci piringnya.

“Sadar donk, Mah… Ai gak pernah mau senyum selebar itu sama Papa… Disamping itu, Ai jadi rajin belajar pembukuan,”
“Ada apa dengan pembukuan?”
“Mama tau sendiri, Papa aja nyerah ngajarin dia pembukuan, masa sekarang dia jadi rajin begini sih??”
“Makanya, jadi Papa jangan lebay…”

Yuichi hanya bisa memendam rasa penasarannya sampai besok pagi.

“Hari ini… Papa antar ya?” tawar Yuichi saat ‘upacara’ sarapan esok harinya?”
“He? tumben banget papa mau nganter?? Gak kesiangan?”
“Nggak, hari ini Papa masuk agak siang…” senyumnya.
“Hoo… boleh. Sekalian irit waktu…”

Sebenernya, bukan karena malaikat lagi lewat atau otaknya lagi waras, tapi Yuichi ingin menyelidiki apa yang membuat anak perempuannya kesem-sem. Yaa… sekolah yang menjadi target awal penyelidikannya…

————————————-

“Papa… Ai pergi ya,” pamitnya pada sang Ayah yang masih menatap fokus daerah sekolah yang ramai.

“Pah??” Ai menepuk bahu sang Papa, “Papah??” Ai mulai bernada khawatir.
“Eh?? yah??” Yuichi seperti baru terbangun.
“Ai… Pergi…”
“Oh, iyah. Sampai bertemu nanti,”

Dilihatnya Aiko pergi ke lapangan sekolah–Rikkai DaiGakuen. Yang dilihatnya normal saja. Bertemu dan menyapa teman sampai…

Matanya menyipit saat melihat sesosok pria yang 20 cm lebih tinggi dari sang anak yang berjalan mendekati Aiko. Tak lain, Kengo–guru pengganti bagian pembukuan kelas 3, yang menyapanya.
Aiko langsung berubah mimik dan wajahnya memerah.

Ooh… Ini ya??

————————————-

“Ai, sini…” panggil Yuichi saat melihat sang anak yang baru turun dari kamarnya.

Aiko pun menurut dan duduk dihadapan sang Ayah, “kenapa, Pah?”
“Ai, Papa lihat, akhir-akhir ini kamu kok jadi aneh??”
“Aneh apa-nya??” Aiko jadi salah tingkah.
“Lagi suka sama cowok ya???” tanyanya ‘to the point’

Aiko langsung terdiam dan menunduk. Tak mampu berkata-kata saat wajahnya memerah.

“Siapa??” Yuichi udah kayak polisi bagian interogasi.
“Bukan siapa-siapa…” jawabnya pelan.
“Guru-mu ya??”
Aiko langsung menatap sang Ayah.

“Tuh kan bener…” Yuichi langsung pasang tampang penuh kemenangan.
“Memangnya kenapa kalau itu Guru ku??”
“Tidak boleh!”

Keputusan sang Papa membuatnya terkejut.

“Ai, tidak boleh jatuh cinta sama Guru,”
“Kenapa gak boleh??”
“Nanti kamu-nya yang sakit,” jelas Yuichi.
“Lho??” Aiko gak ngerti.

Yuichi narik napas dalam. Aiko terlalu polos untuk urusan seperti ini.
“Ai… Guru kamu kan sudah dewasa, sedang kamu belum. Mungkin saja dia sudah punya pasangan seperti guru lainnya. Carilah pacar atau pasangan seusia kamu…”

“Kalau Sensei sudah punya pasangan, memangnya kenapa??” tanyanya polos…

Hhh… Gini deh, kalau punya Mamah yang ga jauh umurnya… keluh Yuichi dalam hati.

“Uh… Nanti saja deh, penjelasannya. Ai tidur saja dulu…” Yuichi hanya tidak mau penjelasan lebih jauh karena akan merembet dan panjang.

“Ooh… Ya sudah, Ai tidur dulu ya…”

Hhh… Mamah… Ajarin Ai soal beginian doonk… jangan masak sama menjahit melulu… keluhnya.

————————————-

Kanagawa, Mei, Musim Semi…

“Ai kenapa, kok Papa liat, akhir-akhir ini jadi murung??” tanya Yuichi saat melihat anak permpuannya ini melamun di beranda rumah.

“Aku diterima di Tokyo Daigakuen…” jawabnya lirih.
“Kok gak loncat-loncat??” jawab Yuichi heran.
“Ngapain?? Emangnya Papah yang baru dicium Mamah sampai kayak orang sakit jiwa??” Aiko memandang sang Papa sinis.

Yuichi hanya terkekeh, “cerita donk… cuma orang gak waras yang masuk Tokyo Daigaku gak senang-senang…”

“Sensei pindah,” jawabnya singkat.
“Karena itu, kamu murung??”
Aiko mengangguk.

“Ai… ” Yuichi mengambil tempat di sisi anaknya, “selama dia bukan suami-mu, dia tidak berhak dapat perhatian lebih dari kamu,” ujar Yuichi.

“Maksud Papa??”
“Selama Ai dan dia belum resmi, Ai gak boleh patah hati karena dia…”
Aiko tersenyum pada sang Papa, “hhh… ternyata begitu ya…” desahnya.

“Besok kau libur kan?? Bagaimana kalau kita kencan??”
“Kemana??”
“Ke kuil yang ada di pinggir kota itu, lohh…” ujarnya bersemangat.
“Kalau itu sih sama mama saja…” Aiko ‘ndelesor’ ke dalam rumah.
“He, lumayan tau, dapat ketenangan~” promosi Yuichi.
“Dasar orang tua…”

Juni…

Hari ini upacara kedewasaan Aiko…

“Huweee~ anakku sudah dewasaa~” isak Yuichi lebay sambil memeluk erat Aiko saat menghadiri Kedewasaan kedua anaknya.
“Sota juga udah dewasa, kok gak dipeluk?!” protes Aiko.
“Aku tidak mau disangka homo,” jawab Yuichi dengan senyum inosennya yang langsung ditabok oleh Aiko pake geta.
“Padahal, kemaren dia yang paling erat meluk tuh anak,” sungut Aiko sambil berlalu meninggalkan Yuichi yang tewas terkapar.

Saat tersadar, Yuichi mendapati Aiko tidak ada dihadapannya. Yuichi pun langsung menuju tempat parkir dimana Aiko biasa menunggu.

Dan Yuichi melihat Aiko sedang bersama Guru-nya saat Ia sampai di tempat parkir. Mesranya mereka berdua menyadarkan satu hal pada sang Papa.

Laki-laki ini, mencintai anakku….

“Stop sampai di situ!” Yuichi menghentikan perbuatan sang Guru–Kengo, lebih jauh.

“Papa??” Aiko lalu berlari menuju Ayahnya, “Pah, ternyata, Sensei memiliki perasaan yang sama denganku!” ujar Aiko riang.

Dasar bodoh, dia menyatakan cinta padamu, tau~!! gerutunya dalam hati.

“takkan kuserahkan putriku begitu saja padamu, akan ku uji seberapa gigih kau terhadap putriku,”
“Siapa takut?” Kengo malah nantangin.
“Hoo… Jadi kau serius ingin berpacaran dengan anakku??”
“Kalau bisa, menikahinya,”
“Besar juga nyalimu,”
“Semua demi mendapatkan putrimu,”

Dan dia serius…

“Akan kulihat,” ucap Tuti seraya meninggalkan Kengo, lalu menarik Aiko masuk ke dalam mobil.

————————————-

Kanagawa, awal musim panas…

Kalau kemarin Aiko yang uring-uringan karena Kengo pindah, kini Yuichi yang uring-uringan karena ‘pernyataan perang’ dari Kengo.

“Papa kenapa sih?? Kantong kering ya??” tanya Harumi yang udah biasa menghadapi pola tingkah laku sang suami kalau tanggal tua.
“Mah, anak kita di lamar~” jawab Yuichi melas.
“Hah?! Sota dilamar??”
“Buka Sota tau~!! Ai~! Mah, Ai…”
“Oohh… Mamah kira…” senyum Harumi tanpa dosa.

Yuichi hanya tertunduk lesu. Menyesali kepolosan kedua ‘kaum hawa’ dirumahnya.

“Memangnya kenapa sih Pah? Kok kayak gak rela gitu??”
“Papa cuma takut dia disakiti, mah…”
“Mama percaya sama Ai kok… Tapi, sejauh ini… kita lihat dulu perkembangan hubungan mereka…”
“Hhh… Masalah cinta aja dia masih sepolos Mamah… bagaimana mau lanjut??” (==”)

————————————-

“Yak, kita berangkaaaaatttt~!!” ujar Yuichi bersemangat saat mereka akan pindah rumah.
“Ai~ ayo kita pergi,” Harumi udah siap buka pintu mobil.
“Iya, iya, aku turun,” Aiko keluar rumah lalu memasuki mobil SUV butut milik sang Papa.

Baru saja Yuichi masuk ke dalam mobil, Aiko sudah berlari dari mereka–melihat Kengo yang berlari menyusulnya.

Ternyata, anak itu benar-benar serius…

“Yak! Maaf sekali kami harus pergi,” Yuichi tidak mau ketinggalan acara.
“Oho… Oji-sama…” ledek Kengo.
“Yup! Jangan dekati anakku sebelum kalian sah…” Yuichi menarik sang anak dan mendorong Kengo.
“Papa! Itu sakit!” giliran Aiko yang menarik san Ayah ke belakang.
“Ku ijinkan kalian, tapi… Setidaknya sampai Ia lulus,” Tuti merenggangkan dorongannya.
“Akan kutunggu…”

————————————-

Tokyo, Musim Dingin…

Sudah beberapa bulan ini Aiko terpisah dari Kengo. Hanya pertemuan akhir minggu yang sesekali membuat Aiko kembali ceria.

Namun malam ini, gak biasanya Aiko mondar-mandir kayak setrikaan. sang Papa, sampai pusing melihat anaknya ‘berpusing-pusing’ (Malaysia: berputar-putar) sambil misuh-misuh.

“Ai…” panggil sang Papa sambil menutup buku yang sedang dibacanya.
Aiko pun menuruti isyarat sang Papa yang berarti, ‘sini donk’.

“Ai kenapa? Keliatannya ada pikiran gitu??” tanya sang Papa.
“Sensei tidak menelponku…” keluhnya.
“Mungkin dia sedang sibuk… seperti biasa,” jawabnya menenangkan pikiran sang anak.
“Tapi perasaanku tidak tenang, Papa…”
“Ah… biasa kalau lagi kangen…”jawab Yuichi tidak menghiraukan.

Sota –kembaran Aiko yang berbeda 7 menit, sudah resmi memiliki kekasih sekaligus jadi rajin menelpon wanita tersebut, ketimbang barang nge-guyon dengan sang adik kembar.

Mungkin karena itu, Ai jadi kesepian…

Tak heran juga, karena Aiko adalah bagian dari sang Kakak, dan Sota adalah bagian dari sang Adik. Tidak ada hal yang tidak mereka bagi berdua dari kecil hingga dewasa.

Aiko hanya bisa menghela nafas. Tidak mau melanjutkan pembicaraan lebih dari ini karena sang Papa pasti akan memberikan wejangan-wejangan membosankan untuk 40 menit ke depan.

Aiko pun masuk ke dalam kamarnya, dan sang Papa tetap setia duduk diatas sofa ruang keluarga.

Tak lama kemudian…

“Papah…” Aiko terkesan terburu-buru menghampiri sang Papa, “Papa… Ai mau ke Yokohama,” pintanya yang bikin Yuichi jantungan.
“Jangan bercanda ah! Malam-malam gini?? Ke Kanagawa??”
“Papa… Ai harus ke Yokohama…” rajuknya.
“Untuk apa??”
“Sensei… Sensei masuk rumah sakit…”
“Dari mana kamu tau kalau dia masuk rumah sakit??”
“Ceritanya panjang,”
“Ai…”

Aiko tidak bisa tenang.

“Ai…”
“Ai tidak bisa cerita, Papah!!”

Yuichi langsung menaikan alis kanannya–tandanya Aiko melakukan kesalahan.
“Ah… Maafin Ai…”Aiko langsung tenang tanpa bentakan sang Papa lebih lanjut.
“Papah pinta cerita, cerita donk…”
“Tadi Ai nelpon sensei, Sensei ada di rumah sakit…”

“Papah nggak bakal mengijinkan kamu ke Yokohama, sendirian…” tolak Yuichi.

Dalam hati, Aiko udah ngutuk sang Papa duluan, “kenapa gak boleh, Papa??”
“Kamu anak perempuan Papa satu-satunya! Malam-malam begini jalan sendirian?! ke Yokohama pula, mau bunuh diri kamu??”
“Ai mau ketemu Sensei! Bukan mau bunuh diri!!” terjadilah argumen murahan diantara keduanya.

“Papa nggak mengijinkan kamu pergi sendirian. Papa bakal mengantarmu ke Yokohama…”

Aiko terdiam. Aiko tidak menyangka kalau sang Papa memperbolehkannya pergi ke Yokohama dengan cara seperti ini.

“Siapin barang-barang yang mau di bawa. Malam ini juga, kita berangkat…”

Aiko hanya bisa terdiam sepanjang perjalanan. Papa yang dikira menentang hubungannya dengan Kengo, membantunya sampai sejauh ini hanya untuk bertemu kekasihnya.

“Sensei!!” Aiko langsung berlari mendahului sang Papa begitu melihat Kengo yang baru keluar dari ruang perawatan.
“Ai… hara??” Kengo terkejut karena Aiko yang baru saja beberapa jam yang lalu diteleponnya, kini sudah berada dihadapannya.
“Bodoh!! Kenapa tidak bilang-bilang kalau Sensei masuk rumah sakit!!” Aiko langsung menceramahi Kengo, “aku khawatir tau!!”

Kengo hanya bisa tertawa melihat penampilan Aiko yang berantakkan karena kepanikannya sendiri, “hanya jatuh dari tangga saja, buat apa diceritakan?” Kengo mengusap kepala Aiko yang kini menangis kesal dalam pelukannya.

“Setidaknya, kalau ada apa-apa bilang… jangan sampai tidak memberitahuku. Sensei ini sayang aku atau tidak, sih??”
“Iya.. iya…”

Yuichi hanya bisa melihat mereka…

Aku tak lagi dapat membuat Ai menangis, marah, dan tertawa seperti itu lagi… Laki-laki itulah yang akan membuatnya seperti itu…

————————————-

“He?! Pergi ke Niigata??”
“Iya, untuk beberapa kepentingan…”
“Aku sudah sering mendengar kau pergi ke luar kota. Tapi tak pernah selama itu,” protes Aiko.
“Mau bagaimana lagi??”

Jadilah 5 bulan itu tak ada pertemuan seperti biasa. Hanya Kengo yang terkadang menelepon ke rumah untuk menanyakan kabar Aiko.

Tentu, hal ini sangat membahagiakan sang Ayah–Yuichi, karena bisa ‘berduaan’ dengan Aiko.

Namun lama-kelamaan, Yuichi tidak tahan juga melihat sang anak yang jadi rajin sendirian di kamar.

“Ai sayang, kita kencan yu~k…” panggilnya dari pintu kamar Aiko yang tertutup.
“Kencan saja sana, dengan Mama. Ai mau tidur,” jawabnya dingin.

Agak patah hati juga bagi Yuichi saat ditolak sang Anak.

“Kenapa sih?? Kok di dalam aja??” tanyanya lagi.
“Gak kenapa-napa…” jawabnya lagi dari dalam kamar.

Pasti gara-gara bocah itu…

Walau ogah, dirinya menelepon Kengo karena tak tahan melihat Aiko yang terus-terusan murung dalam kamarnya.

“Hallo, Ai sayang~” jawab Kengo.
“Ini aku!!” Tsuchiya meninggikan nada bicaranya.
“Ooh~ Hallo Papa sayang~”
“Kubunuh kau…” (==”)

Kengo tertawa puas karena berhasil mengerjai Yuichi, “ada apa, Pah?”
“Kau masih lama, berada di Niigata??”
“Um… masih 2 minggu lagi. Memangnya kenapa?? Papa kangen ya?”
“Kurang ajar… berhenti menggodaku!!” Kepala sang Papa udah berasap,
“Iya… Iya, maaf… Memangnya ada apa?””
“Cepatlah pulang, Ai.. sangat ingin bertemu denganmu…”

Kengo terdiam.

“Hei! Jawab~!!”
“Ah.. iya… Aku… akan segera pulang,”
“Selain itu, cobalah telepon Ai jika kau sempat,”
“Iya, baik… Ah, papah….”
“Hm??”
“Apa… Papah begitu merindukan diriku, sampai menyuruhku pulang??”
“Tidaaaakkk!!!”

–BRAAKK!!

————————————-

Tokyo, Musim Panas….

“Ai~ ada telepon nih,” panggil Harumi–sang Mama, dari lantai bawah.

Dalam sekejap Aiko sudah berlari menuruni tangga- meninggalkan Yuichi yang cengok melihat kelakuannya.

“Dari siapa??” tanyanya antusias.
Harumi cuma tersenyum, “sudah… bicara saja…”

“Dari siapa sih, Mah??” tanya Yuichi saat sang Istri berlalu dihadapannya.
“Dari calon menantu…” senyumnya simpul.

Udah bisa ditebak oleh Harumi–wajah Yuichi yang memerah karena kesal.

“Apanya yang ‘tidak apa-apa’?!! Ai itu menunggu telepon dari bocah rese tersebut!!” Jadilah Papa satu ini ‘curhat’ didepan sang Istri.

“Wajar kan, Pah… lagian Ai sudah dewasa, sudah lulus kuliah…. apalagi sih, yang jadi penghalang mereka berdua??” Harumi makin memanasi sang suami.
“Kamu lagi! Pake acara dikasih teleponnya… Calon menantu darimanaa~~??!!” lebaynya Yuichi semakin menjadi-jadi.

Harumi cuma bisa mengurut dada dan menghela nafas.

“Mah, Papa kenapa??” tanya Sota sembari mencomot tempura yang baru disajikan sang Mama.
“Biasa, lagi kumat,” senyumnya, “sudah sana, mandi dulu, nanti kita makan malam…”

Harumi mengerti, kalau sang suami hanya merasa cemburu terhadap Kengo yang mungkin sebentar lagi akan menggantikan posisinya.

“Pah…” emang, cuma Harumi yang tahan dengan kelakuan ajaib sang suami, “lihat deh…” Harumi melirik pada Aiko yang asyik cuap-cuap di telepon, diikuti dengan pandangan sang suami, “Ai gak pernah tersenyum sebahagia itu kan??”

Yuichi sadar, dirinya tak lagi mampu mengalahkan Kengo untuk menjadi laki-laki yang paling dicintai Aiko.

“Sekarang, relakanlah saja… Mama juga yakin Ai bakal bahagia dengan laki-laki itu…” ujar Harumi tenang.

“Tapi nanti aku kesepiaannn…” mulailah ia nangis lebay dalam pelukan sang istri.
“Kan masih ada mamah…” senyumnya.

————————————-

Tokyo, Juni,

“Mah… Ada festival kembang api tuh… nonton yuk,” godanya pada sang Istri.
“Papah aja, Mama sibuk,” jawab sang istri.
“Mah… kapan lagi kita…”

—- BRAKK!! SRAAKK!!

Mereka berdua terdiam sejenak. Harumi lantas langsung mengadah ke langit-langit rumah, “pasti Ai…” gumamnya sembari meninggalkan sang suami yang masih belum menyelesaikan kata-katanya.

Yuichi hanya bisa mengernyitkan salah satu alisnya, “pasti urusan cewek…”

Diikutinya sang istri ke kamar Aiko.

Sensei akan menjemputku untuk menonton kembang api,” ujar Aiko.
“Apa??! Kencan??!!” tanpa sadar dirinya memprotes.
“Cuma nonton kembang api, papah… Jangan heboh gitu deh…” Aiko udah males ngadepin ke-‘lebay-an sang Papah.

Dan mulailah adu mulut murahan antara keduannya.

“Tapi kan selama ini, kalian selalu kencan di depan rumah,” sungut dirinya
“Sudahlah, pah… Kali ini mama yang jamin Ai nggak bakal diapa-apain selama kencan,” Harumi turun tangan untuk ‘menetralisir’ esmosi sang suami.

“Ai-chaann~ ada yang mencarimu nih,” teriak Sota dari lantai bawah.

Dan Aiko pun berlari melalui dirinya.

“Sudahlah Pah… Sudah saatnya kita belajar merelakan Ai…” bisik Harumi lembut dan berlalu.

————————————-

Sudah jam 10 malam… Tapi mengapa mereka belum pulang juga??” sungutnya resah sembari mondar-mandir di ruang tamu.

Begitu terdengar olehnya suara mesin mobil di depan rumahnya, tangannya langsung menyibakkan gorden yang menutupi jendela ruang tamu. Daann….

“Kau pikir, kau bisa pergi begitu saja?” dengan sigap sang Papa muncul dihadapan mereka berdua–setelah terang-terangan Kengo mencium sang anak dihadapan matanya.
“Ya, sepertinya aku benar-benar harus pergi,” Kengo mengacak-acak rambut Aiko, dan pergi.

————————————-

“Harumi~!! Kau bilang si bodoh itu tidak akan macam-macam dengan anak kita~!” Tuti heboh sendiri di ruang keluarga, sementara yang lain sibuk menonton gelagat anehnya.

Seluruh anggota keluarga terbangun, kecuali Sota yang lebih memilih untuk tidak menghiraukan suara ribut-ribut yang berasal dari sang Papa. Harumi terbangun gara-gara ke’lebay’an sang suami, Aiko duduk bersimpuh dihadapan keduannya, Yuta yang lebih memilih nyari makanan dan bikin kopi untuk nonton bola karena udah terlanjur bangun.

“Papamu berisik sekali,” Harumi tertawa kecil pada Aiko yang udah banjir keringat gara-gara disidang sang Papah.

“Mama bilang selama kencan, Aiko takkan disentuh??!”
“Kan taruhanku, selama kencan… Kalau sudah sampai depan rumah??” jawab Harumi enteng.
“Aagh!! Kesucian anakku!!”
“Papa jangan lebay!” muka Aiko makin merah.
“Seperti kau tidak mencuri ciumanku waktu pertama kali kencan,” ujar Harumi enteng.

Semua terdiam.

Memang, hanya Hrumi yang tahu cara jitu untuk menghentikan sang suami…

————————————-

Dan hari yang sangat ditakuti oleh Yuichi tiba juga…

Kanagawa, September…

Di pagi yang cerah di musim gugur, putri satu-satunya diambil oleh orang lain…

Kengo menikahi putrinya yang menyusul sang kakak–Sota, yang lebih dulu menikah 3 bulan lalu.

“Papah sedih ya??” goda sang Istri yang melihat bulir-bulir air mata di sudut kelopak matanya.
“Ah… tidak. Papa… hanya tidak percaya… gadis kecil kita sudah berdiri di altar dan menjadi milik orang lain…”

Tampaklah gadis kecilnya–Aiko, menoleh padanya sambil tersenyum. Gaun putih yang akan menghambat langkah kecilnya pun diangkatnya selutut. Berlarilah ia bagai marmut kecil di padang rumput yang luas menuju Ayahnya.

Tuti terkejut saat anak perempuan–yang biasanya ngamuk-ngamuk karena tidak mau Ia peluk, kini malah mendekap dirinya erat, “terima kasih sudah menjagaku selama ini, papah…”
“Berbahagialah, Ai…” bisiknya lembut di telinga sang anak.
Aiko mengangguk.

Tuhan… tugasku sudah selesai sebagai Ayah…

“Papah, terima kasih sudah merestui kami berdua,” ucap Aiko saat sang suami menghampiri dirinya.
“Apapun akan kuberikan untuk putriku,” senyumnya.
“Makasii Papah…” Kengo ikut-ikutan.
“Kamu, kalau sekali saja menyakiti Ai, takkan ragu, aku akan mengambil Ai,”
“Papa bisa pegang janjiku untuk menjaga Ai seumur hidup….”

“Papah yakin gak mau nangis???” tanya sang Istri lagi saat mereka sudah pergi dari hadapan mereka berdua.
“Hiks… Papah udah janji, harus kuat! Gak boleh nangis!!” Yuichi menyemangati dirinya.
“Yakin??” Harumi memastikan.

Dalam sekejap Ia berbalik badan dan rengkul sang istri, “hueee~!! Mamaaahh~!! Ai terlalu cantik hari iniii~!!” ujarnya sambil sesegukan.

“Ai bahagia, kita juga bahagia, kan??” seperti biasa, Harumi tersenyum malaikat untuk menenangkan sang suami, “yang terpenting sekarang, kita doa’kan kebahagiaan anak-anak kita selalu…”

————————————-

Tokyo, Musim Gugur

Dan tak terasa sudah 35 tahun sejak hari itu…

Tak terasa dirinya tak lagi semuda dahulu. Ketiga anak-anaknya telah memberikannya 5 cucu yang kini pun sudah mulai beranjak dewasa. Dan sang istri pun sudah mendahuluinya 2 tahun lalu.

Pikirannya menerawang. Sepi. Ia harus menjalani sisa senja-nya sendirian, walau terkadang Sota dan adik kembarnya datang mengunjunginya, dan Yuta masih sering menanyakan keadaannya melalui telepon.

“Papah bagaimana kabarnya??”

Siang ini Aiko menelpon sang Ayah.

“Baik, hanya saja, sering merasa sepi…” jawabnya diselingi tawa.
“Ah, iyah… mungkin minggu depan aku akan ke Tokyo… untuk hari peringatan Mama…”
“Iya yah… sudah 2 tahun Mama tak lagi di sini…”
“Tapi Mama selalu ada dengan kita, pah…”

Yuichi terkekeh, “baiklah… datanglah minggu depan, aku akan menunggu cucu-cucu ku yang sudah beranjak dewasa…”

Yokohama, September…

Sore ini, tidak seperti biasanya Aiko merasa gelisah.

“Kenapa Kko-chan??” tanya Kengo dari balik koran pagi-nya–sudah risih melihat Aiko yang gak mau diem.
“Gak tau nih, perasaan dari tadi gak enak…” keluh sang istri.

–KRIIINNGG

“dengan keluarga Takigawa…” Aiko mengangkat teleponnya.
“Ai-chan??” ujar suara yang di seberang.
“Sota??”
“Ai, dirimu di rumah??”
“Iya, kenapa?”
“Cepat ke Tokyo, Papa masuk tumah sakit tau!!”

————————————-

Hari itu juga Aiko pergi ke Rumah Sakit tempat dimana sang Papa dirawat.

“Papah….” Aiko mendekati sang Papa yang terbaring lemah diatas kasur Rumah Sakit.
“Aahh… kukira Ai akan datang minggu depan…” Yuichi masih sempat tersenyum pada sang anak yang bermuka khawatir.

“Papah kenapa??” tanya Aiko khawatir.
“Biasa, penyakit orang tua…” jawab kakek berusia 85 tahun tersebut.
“Papah maafin Ai… seharusnya Ai datang kemarin…”

Yuichi terkekeh, “tidak apa, toh penyakit itu selalu datang tak terduga…” jemarinya yang keriput menyentuh airmata sang anak, “Selamat ulang tahun, Ai… jangan menangis…”

Aiko tersenyum, “Papa bahkan masih ingat ulang tahun Ai…”

“Iya donk.. Waktu itu, Papa senang sekali… Papa gak nyangka ternyata Papa diberikan anak perempuan secantik Ibumu…” telapak tangannya yang tidak lagi halus menyentuh pipi sang anak.

“Papa senang deh… punya seorang Ai… Apa Ai senang, punya Ayah seperti Papah??”

Aiko tak lagi bisa membendung airmatanya, “Ai bahagia diberikan orang tua seperti kalian, dan pelindung seperti Papa… Maafin Ai ya, Pah… Maaf…”

“Separah apapun kesalahan Ai, Ai tetap anak Papa… dan Papa akan selalu menyayangi Ai…” senyumnya.

Aiko tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menangis.

“Ai.. satu pinta Papa… jangan mandikan Papa dengan airmata kalian saat Papa meninggal nanti…”
“Papa jangan bicara seperti itu…”

“Heheh… sepertinya… Mama-mu sudah kangen sama Papa…” pandangannya menerawang langit-langit diatasnya, “maafin Papa ya, tidak bisa memberi mu hadiah ulang tahun kali ini…” dan matanya pun tertutup…

————————————-

Atogami:

Yak, satu lagi ke-nista-an saya…
Yang namanya birthday fic itu, mengandung unsur kebahagiaan, kenapa ceritanya gue bikin Angst gene??
Author error emang.

Ini saya buat sekitar 3 tahun lalu. Wuiihh, lamanya.
Dan kemampuan menulis saya pun masih sangat dibawah rata-rata.
Inilah fic bejat yang saya tulis.

Next, saya akan membuatkan yang lebih bagus lagi deh.

Dedicated to:

Papa Tsuchiya Yuichi
Papaaaa~!! Ekting mu lebay, tapi aku cintaaa XD
Kapan lagikah anakmu ini melihat lagi aksi panggungmu yang kakkoi bin laknat itu??

Dengan mata 5 watt

-Aiko