Title: Haha no Hi / Mother’s Day
Writer: Takigawa Aihara
Genre: Love, Romance, Family
Rating: G
Series: Atashi-tachi no Kazoku
Theme Song: RSP – Anma~Haha Uta
Current Mood:

———————————-

Maegami:

Minna! Kembali lagi dengan Aiko di serial ‘Atshi-tachi no Kazoku‘nya.
Ter-inspirasi dari posting blog Kengo beberapa waktu lalu tentang hari Ibu, maka saya tergerak untuk mengungkapkan cerita sepele ini. Sebenernya, gak ada ocassion yang benar-benar menggambarkan hari Ibu dalam entry-ini. Hanya sebuah cerita pendek, namun saya harap, pesan saya tersampaikan pada para pembaca sekalian.

Selamat membaca!

アンマよ、あなたは私の全てを許し、全てを信じ、全てを包み込んで。
Ibu, segalanya tentangku, kau maafkan, kau percayai, dan kau lindungi

Kanagawa, 13 Mei.

Menjejak langkah pada pekarangan rumahnya yang berhiaskan daisy dan hydrangea sepulang kerja petang ini, memang suatu kepuasan tersendiri. Lelah menaklukan angka-angka, dan berdesakan di kereta, kembali ke rumah sembari membayangkan masakan sang istri, sangat melegakan hatinya dan melunturkan beban di pikirannya. Kengo–akuntan 48 tahun ini, menggeser pintu sembari berkata ‘aku pulang’ merupakan rutinitas-nya setiap pulang kerja. Dengan senyum kemenangan bahwa ia selesai mengalahkan hari ini.

“Aku pulang,” ujarnya.

Sebelum merebah pada lantai dan melepas sepatu-nya, Kengo mendapati sepasang sepatu asing di hadapannya. Terlalu trendy jika itu merupakan sepatu miliknya. Alih-alih melepas sepatunya, Kengo malah merebah menatap sepatu tersebut. Mengira-ngira siapa sang pemilik. Mungkinkah Sota–kakak kembaran sang istri, atau bahkan Jun–sang adik? Tapi Jun terlalu trendi jika memakai sepatu ini. Karena percaya atau tidak, Jun menyukai sepatu yang setara wajahnya; sama-sama kuno.

“Ah, Ken-Ken sudah pulang ternyata,” ditengah kesibukan dirinya menganalisa orang lain yang bertandang ke rumahnya, sang istri; Aikochibi tercintanya, menyapa dengan penuh hangat.
“Ah, tadaima,” sapa Kengo kaku. Sebenarnya rada kaget, disaat sedang serius menebak, ia harus mendengar suara cempreng sang istri.
Okaerinasai,” balas Aiko sembari melendot mengecup kedua pipi sang suami yang dirasa sudah mulai tak kencang seperti jaman perjaka dulu, “aku sudah masak sukiyaki dan nikujaga untuk malam ini,”

Alis Kengo rada berkedut. ‘Nikujaga‘? Pantas sang istri meminta uang belanja lebih hari ini.

「誰にも真似のできひん、自分だけの色信じてほしい」と
“Aku ingin kau mempercayai warnamu sendiri yang tak dapat ditiru orang lain” itu kata-mu

“Hari ini, Ka-chan pulang,” ujar sang istri sembari melepas coat tebal pembungkus tubuh sang suami.
“Pulang? Tumben…?” respon Kengo sembari berusaha melepaskan jas tebal tersebut.

Kanata, putra sulung mereka yang kini tengah menyelesaikan studi tingkat akhirnya di Kyoto, terbilang sangat jarang pulang. Alasan tugas dan tugas menjadi tameng-nya, kala sang bunda memintanya untuk pulang bahkan di hari ulang tahunnya.
Tergelitik, Kengo menoleh pada kalender yang terpatri di tembok ruang makan. Mei, 13. Golden Week baru saja lewat. Kalau mau mampir dengan alasan libur, kenapa tidak pas Golden Week saja.

Ternyata, inilah jawaban dari siapa sang pemilik sepatu.
Mengekor sang istri di belakang, Kengo pun mendapati sesosok pemuda yang tengah terduduk di hadapan meja makan sembari memainkan tablet-nya.

‘Dasar, gaya… ‘ pikir Kengo dalam hati, dimana saat dirinya sudah berusia 48 tahun pun masih setia membaca koran pagi, bukan tablet.

Ttou-san,” sapa pemuda berusia 22 tahun tersebut saat melihat sang ayah memasuki ruang makan.
“Ah, tumben sekali kau pulang,” balas Kengo duduk di kursi langganannya, sembari mengamati fisik putra-nya tersebut. Kalau terhitung semenjak kepulangan terakhir sang anak sepuluh bulan yang lalu, Kanata dirasanya semakin kurus dan ringkih, dengan rambut yang menutupi tengkuk serta kantung mata yang mulai menghiasi pipi. Well, walau tak separah dirinya yang merupakan seorang senior akuntan.

“Cukur-lah rambut-mu dan jangan suka begadang, membuatmu terlihat nampak seperti akaname,” wejang Kengo sembari menyeruput air putih dingin yang sudah tersedia di hadapannya.
Ttou-san jahat, tak pernah kuliah ya?” sindir Kanata balik menyalahkan tugas akhirnya yang etinggi gunung Sakurajima.
Ttou-san mu benar, cukurlah rambutmu yang sudah mulai gondrong itu. Jika Hime melihatmu berantakkan begini, jangan salahkan mamah kalau pada detik berikutnya kau diputuskan,” tambah Aiko saat menghidangkan semangkuk nasi ke hadapan sang suami, sembari menyebutkan nama gadis yang sudah dipacari sang anak selama 5 tahun.
“Aku tak mungkin diputuskan, mah. Hanya aku laki-laki terkeren yang pernah hadir dalah kehidupannya,” jawab Kanata (super) pede.

Lalu Kengo tersedak. Sepertinya sang anak mulai se-level dengan dirinya dalam hal bergombal.

Aiko hanya menatap pongo saat sang suami tengah terbatuk-batuk, sedang si sulung mulai mengucapkan ‘itadakimasu’ dan mulai mencomot tempura udang yang masih berasap tersebut.

“Ohya, Ryuu juga akan pulang. Kabarnya ia naik penerbangan pagi ini,” tambah Aiko menambah takaran air putih di gelas sang suami.

Ryoutarou, adalah si bungsu yang kini telah kuliah di Amerika dan tinggal bersama Jun; sang Paman, yang juga tinggal di sana. Terbilang jarang pulang juga, namun dengan alasan ongkos pesawat yang bisa dengan seharga gaji sebulan part-time nya di negeri orang tersebut. Masih dimaklum ketimbang abangnya yang sekalinya pulang malah bablas sampai stasiun Sakuragi-cho karena ketiduran.

“Tumben sekali anak-anak pulang bareng hari ini?” gumam Kengo heran sembari meminum air putih-nya.
Aiko mengangkat bahu sembari pergi mengambil nikujaga yang masih mematangkan diri di kompor yang berjarak 3 meter dari meja makan.

“Aku pulang,”

Ditengah percakapan, terdengar suara debum pintu disertai suara yang mulai rada serak tersebut menggema sampai ruang makan. Kanata berhenti mengunyah, Kengo minum dan Aiko terdiam dari langkahnya menuju meja makan. Seperti mendengar detak bom, seperti menanti saat-saat ledakan. Diam, dan saling memandang. Tak lama kemudian, sosok si bungsu muncul dari lawang pintu ruang makan.

“Aku pulang,” ujarnya lagi dengan nada meyakinkan.

Dan pastinya yang langsung menyosor pada Ryuu adalah sang bunda,

“Ryu-chaaann~”

Jika dilihat dari pandangan anak-bapak yang tengah mengamati dari meja makan, bungsu Takigawa ini terlihat lebih tinggi. Terbukti dari tenggelamnya ubun-ubun Aiko dari sang anak.

“Duduklah, mamah sudah menyiapkan makan malam,” dibimbingnya Ryu untuk duduk di sisi sang kakak.
“Baru saja aku ingin berangkat ke bandara,” ujar Kanata basa-basi saat sang bunda melengos mengambil kembali nikujaga yang malah kembali diletakkan di kompor, dan saat sang adik duduk di sisinya.
“Aku berangkat pagi ini, dan masih ingat jalan pulang ke rumah,” jawab Ryu mengusap tengkuknya–dirasanya kursi pesawat salah setting, sehingga 8 jam perjalanan terasa menyakitkan untuk lehernya, “tak perlu-lah Nii-san repot-repot menjemput-ku,” jawabnya rada senga’. “Ah, Ttou-san…” sapa Ryu saat melihat sang Ayah di hadapannya, “… kau semakin tua,” komentarnya yang memang dasarnya nyelekit.

Dan Kengo cuma bisa mengiyakan dengan pasrah dalam hati pernyataan sang anak dengan kerut urat di dahi.

“Semenjak kita semua sudah berkumpul di sini, bagaimana kalau kita ke kebun binatang besok?” rujuk Kanata melirik sang Ayah.
“Seperti anak kecil,” telak Kengo kembali menggenggam mangkuknya.
Nee, nee, ttou-san tidak ada salahnya kaaann,” tambah Ryuu dengan puppy-eyesnya.
“Bagaimana kalau kita ke Tokyo? Sekalian mengunjungi Ueno. Kabarnya sakura di sana masih mekar, dan kita hanami saja,” saran sang bunda sembari menghidangkan susu cokelat kesukaan si bungsu.

“Oh ya, Kaa-san, ini, ada titipan dari paman,” ujar si Bungsu sembari merogoh tas-nya begitu mendapati sang bunda ada di dekatnya, “itu cokelat produksi baru dari Swiss, Paman baru saja pergi ke sana minggu lalu,” jelas Ryuu menyeruput susu cokelatnya.
“Jun?” Kengo mengulang nama sang adik.

Takigawa Jun. Bungsu setelah Kengo ini, memang suka berjalan-jalan ke beberapa negara karena pekerjaannya sebagai konsultan travel. Dan jelaslah hidupnya makmur karena selalu dapat oleh-oleh dari rekan-rekan asingnya.

Tiba dihadapan Aiko sebentuk kotak yang berlapis kertas cokelat, “sampaikan terima kasih pada Paman-mu ya,”
“Dan ini dariku,” Ryuu menyerahkan sebuket carnation pink yang tersembunyi dalam ranselnya, “selamat hari ibu, Kaa-san,” peluk Ryu hangat.
Rada terkejut namun masih bisa tenang, Aiko membalas pelukan si bungsu, “terima kasih sayangku,”. Lalu melepas pelukan si bungsu dengan mengacak-acak rambut lurusnya.
“Ah, hampir lupa. Ini, dariku,” si sulung menyerahkan sebuah kotak seukuran jengkal tangannya yang kurus.
Dengan senyum, Aiko menerima pemberian si sulung, “mamah buka ya,” dan setelah mepreteli bungkus kado metalik yang menyelimuti kotak tersebut, nampak sebuah kanzashi perak ke-unguan yang terbaring di dalamnya.

あなたはいつもいつも側で応援し続けてくれました
Dirimu selalu dan selalu ada mendukungku di sisiku,

“Tolong, dipakai saat upacara wisuda-ku nanti,” pinta si sulung malu-malu.
“Aih~ pastinya sayang-ku~” seperti kembali muda Aiko memeluk sang anak bak saat mendapat hadiah pertama dari seorang kekasih.
Menontonnya, Kengo hanya menatap mereka tak mengerti.

“Hari ini, hari ibu ya?” paparnya tanpa dosa.

Mendengar pernyataan sang kepala keluarga, dua-anak-dan-satu-ibu ini gantian yang menatap Kengo tak percaya.
“Jangan bilang papah lupa,” ujar Kanata.
Kengo hanya berkedip dua kali secara konstan.
Baa-san pasti ngamuk-ngamuk…” desah Ryu pasrah.
Kengo masih membatu.
“Cepatlah telepon Kaa-san! Mumpung masih pagi dan belum terlambat!” perintah Aiko cemas sembari mengambilkan telepon rumah yang berbasis wifi alias tanpa kabel tersebut.

アンマーよ アナタはそれでも変わることなく私を愛してくれました
Ibu, walaupun hal lain berubah, namun cintamu tetap konstan kepadaku,

“Iya, aku minta maaf… ” desah Kengo sembari menggenggam gagang telepon rumah, “… iya, saat anak-anak sudah selesai kuliah, akan kubawa mereka liburan ke Kagoshima,” dan sembari ditonton oleh anak-istrinya dengan tatapan cemas, “… Haha, maklum-lah. Anak-mu ini sudah hampir 50 tahun, dan mulai pikun,”

Nampaknya, Kime-hime–sang bunda; Nenek dari kedua anaknya, tengah protes habis-habisan karena baru diucapkan ‘selamat hari ibu’ saat jam mulai menunjukkan pukul 10 malam.

Haha-ue… aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Tolong berikan salamku pada Chichi-ue ya,”

Dan panggilan pun terputus.

“Bagaimana??” tanya mereka penasaran.
“Kita akan ke Kagoshima saat musim panas nanti. Kalian, berdua, siapkanlah izin cuti, karena nenek kalian sudah sangat menuntut untuk segera mengunjungi Kagoshima,” titah Kengo meletakkan gagang seberat setengah kilogram tersebut pada tempatnya semula.

“Roger!” jawab kedua Takigawa bersaudara ini berbarengan.

“Hh, aku harus membelikan Haha apa ya??”

木漏れ日のようなぬくもりで、深い海の様なやさしさで
Dengan kehangatan sehangat cahaya matahari yang menembus dedaunan, dengan kelembutan sedalam samudera

“Belum tidur?” tanya sang istri saat mendapati dirinya masih terjaga di hadapan jendela kamar.
Menoleh kebelakang, dan mendapati Aiko, Kengo hanya melempar senyum, “belum…” jawabnya kembali pada lukisan di luar jendela.
Penasaran dengan apa yang dipikirkan sang suami, Aiko pun berjalan mendekat. Menyandarkan kepala pada punggung Kengo, membuatnya mendengar detak jantung dari jalaran nadi-nya.

“Kko-chan…” panggil sang suami.
“Hm?” responnya tanpa beranjak dari punggung tersebut.
“Kalian hebat,” ujarnya.
“Hm??” penasaran dengan pernyataan tersebut, Aiko mau tak mau menoleh pada sang suami.
“Kalian, dirimu dan Haha-ue,” menangkap pandangan sang istri, Kengo tersenyum.
Merasa di-gombal-in, kini Aiko menjadikan lengan kiri sang suami sebagai sandaran kepalanya, “Haha yang lebih hebat, dirinya sanggup mengurus-mu yang bawel tanpa komplain,”
“Tidak, kalian sama hebatnya. Haha mengurusi-ku dari kecil hingga dewasa, dan kau mengurusiku sampai akhir hayat nanti,” lalu jemarinya menyisir rambut sang istri yang cuma se-bahu.
“Menjadi ibu itu tugas yang berat loh,” celetuk Aiko.
“Maka itu kalian berhak mendapatkan satu hari spesial,” ujar Kengo, “… dan inilah satu hari spesial itu yang kulupakan,” desahnya mengurut kepala.

Aiko tertawa, “baiklah. Musim panas ini ya, jangan sampai pekerjaanmu menghambat kepulangan kita ke Kagoshima nanti,” telapak tangan mungilnya membelai rahang sang suami, “sekarang sudah malam, dan besok kita akan ke Tokyo mengunjungi orangtua-ku. Istirahatkanlah dirimu,” kecupnya.

Jaa, oyasumi…”

惜しみもせずに何もかも私の上に注ぎ続けてきたのに
Kau berikan segalanya untukku tanpa menyisakan apapun untuk dirimu

Dedicated to:

Ambu.

Ibuku, walau kita sering terlibat dalam perbincangan kaku yang berakhir pertengkaran, namun Ibu selalu ada di sisiku. Mengingatkan anakmu ini tentang hal sepele yang penting. Merasakan hangatnya telapak tanganmu adalah seperti keberuntungan untukku. Terima kasih ambu. Iko sayang Ambu.

Seluruh Ibu di dunia.
Tanpa Ibu, takkan terlahir orang-orang hebat.

Rasa terima kasihku untuk Ny.Ohkuchi
Terima kasih sudah melahirkan dan membesarkan sosok Kengo. Ia begitu memberiku banyak arti sampai saat ini.

Thanks to:

Ohkuchi Kengo:
Entry-nya tanggal 13 lalu, mengingatkanku akan Hari Ibu. Walau sama-sama lupa, tapi kita tak pernah terlambat untuk berterima kasih pada Ibu. Thanks my love,

Para pembaca
Setelah membaca ini, tolong hubungi atau peluk Ibu kalian.
Karena sesungguhnya ibulah tempat berpulang bagi setiap anak.
Tak selalu di hari ibu, kita dapat mengucapkan ‘terima kasih’ pada wanita yang membesarkan kita kapanpun kita sempat.

Dengan semangat ke-ibu-an.

Aiko