Title: Valentine Day
Writer: Takigawa Aihara
Genre: Love, Romance
Rating: G
Series: Atashi-tachi no Kazoku
Theme Song: Kusunoki Taiten – Valentine Day Kiss
Current Mood: Enjoy to be pengangguran 😀

——————————

Maegami:

Minna! Ini adalah cerita yang Aiko buat sekitar 3 tahun yang lalu.
Berkisah tentang keluarga kecilnya. Walau bukan hari Valentine, tapi author hanya ingin nge-save tulisan yang sebelumnya publish di FaceBook ini. Biar gak ilang maksudnya.
3 tahun lalu berarti saat tulisan Aiko masih (sangat) abal. Silahkan dibaca tanpa beban, silahkan dikritik 😀

Yokohama, Valentine~

Minggu pagi yang cerah, di tanggal 14 Februari…

Hari kasih sayang dimana semua orang–khususnya pasangan, merasa bahagia karena hari ini, adalah Hari Kasih Sayang. Tidak halnya dengan Takigawa Kanata. Bocah 17 tahun ini diminta (dipaksa) untuk menemani sang mama–Aiko, untuk belanja di hari minggu yang sedikit mendung ini.

“Kenapa gak sama Ttou-san aja sih??!!” pagi-pagi Kanata udah ngambek duluan di meja makan.
“Papah kan hari ada tugas ke Chiba,” Aiko menuangkan susu cokelat untuk si bungsu–Ryuu.
“Argh~!! Dasar laki-laki kurang romantis~!!” umpat Kanata dengan mulut penuh roti, jadi tidak didamprat gulungan koran pagi oleh sang papah–Kengo yang tengah damai membaca statistik saham, karena tidak terdengar jelas.
“Pokoknya, hari ini… mamah mau belanja dan itu harus ditemani Ka-chan,” Aiko keukeuh pada pendiriannya.
“Kenapa gak Ryuu??”
“Aku ada klub,” jawab Ryuu dengan enteng sambil memainkan PSP nya.

Kanata mengumpat dalam hati.

Bukannya Ia tidak rela dibangunkan pagi-pagi hanya untuk mengantarakan sang mama ke bagian parfum saat mampir ke departement store, atau membawa setumpuk belanjaan Ibu-Ibu saat pulang dengan Aiko nanti, tapi Kanata paling gak rela kalau di hari Valentine ini, Ia merasa dihalang-halangi untuk berkencan dengan sang pacar–Hime.

Setelah seluruh anggota keluarganya ngacir dari rumah, Aiko pun mulai sibuk ‘mendandani’ Kanata.

“Hari minggu dari pada nganggur kayak kebo sawah, mening temenin mamah belanja,”

Wajar aja, kalau Aiko tetep maksa, karena Kanata gak bilang kalau hari ini Ia kencan dengan Hime. Karena, Kanata pikir, dari pada Ia diikuti (baca: digentayangi) sang mamah saat kencan, lebih baik menemaninya sebentar belanja agar tidak rewel.

“Semoga saja tidak lewat dari jam 1…” harapnya dalam hati.

Berangkatlah Kanata dengan sang Mama yang tingginya lebih pendek 10 cm darinya.
“Ka-chan…” panggil sang mama, “mama denger, kamu ngincer jam tangan yang di toko itu ya??” lirikan mata sang mamah sudah sangat menggoda.
“Memangnya kenapa?” Kanata jadi salah tingkah.
“Ntar pulang mampir yuk, siapa tau ada uang sisa, jadi mamah bisa membelikannya untukmu~” Aiko emang paling jago ngerayu si sulung kalau urusannya jadi begini.

12.54 Kanata melirik jam digital yang terpampang di FOMASH905i miliknya.
“Sudah hampir jam 1…” keluhnya geregetan. Jam 1, adalah waktu mereka janjian untuk ketemu di Cafe dengan Hime. Cafe yang yang sering dikunjungi banyak pasangan setiap hari libur–terlebih hari Valentine seperti ini.

“Kaa-san, belanjanya sudah belum??” kanata udah mulai ngeluh walau belanjaan yang ditentengnya belum berat alias belum ada sama sekali.
“Belum, ini cuma liat-liat…” gumam Aiko sambil memperhatika jejeran parfum.

–GUBRAAKK!!!

“Kaa-san ngapain ke sini kalau tidak mau belanja??” Kanata udah berasa makan hati duluan sama sang mamah.
“Tanggal segini, Papah-mu belum kasih uang, ya udah… mamah liat-liat aja. Habis, parfumnya bagus-bagus…”
Kanata mengurut dada, dan menghela nafas, “hanya untuk ini, aku menghabiskan waktu??”
“Ka-chan, istirahat yuk~” pinta sang mamah.
Kanata tidak menjawab hanya memasang wajah bete setengah mati.
“Mama dengar, ada cafe bagus didekat sini…”
Kanata langsung menyimak gumaman aneh sang mamah dengan seksama.
“Mamah gak tau namanya… bahasa Italian gitu deh, kayaknya…” Aiko garuk-garuk kepala.
“Ah! Iya! Disana saja, Kaa-san~!!” Kanata seperti menemukan kepingan puzzle terakhir.
“Eh?? Oke~” gantian Aiko yang kebingungan.

Jalanlah mereka berdua ke cafe tersebut. Setelah mendapat sebuah tempat untuk duduk berdua, Kanata pun mulai mengitarkan pandangannya–siapa tau ketemu Hime.
“Ka-chan~” Aiko kebingungan ngeliat sang anak yang celingukan kayak udah mau nyolong jemuran tetangga, “kok, parfaitnya gak dimakan??”
Kanata cuma senyum simpul saja.
“Nyari siapa sih??” Aiko mulai bertampang khawatir.
“Nggak, bukan siapa-sia….”

–BUGH!!

Satu pukulan manis mendarat tiba-tiba dari….

“Hime-chan??!!” Kanata kaget setengah mati melihat gadis itu berdiri di belakangnya.
“Kenapa tidak bilang?!! Kenapa tidak bilang kalau hari ini jalan dengan cewek lain??!!” Hime langsung menghakiminya dengan berondngan kata-kata serta pukulan-pukulan yang sebetulnya cuma meninggalkan nyeri doank bagi Kanata.
“Hi.. Hime-chan~!! Tunggu dulu, siapa yang jalan dengan cewek lain?”
“Kamu!!”
“Aku??” Kanata nunjuk hidungnya sendiri, “Aku… Aku tidak jalan dengan cewek lain,”
“Ini pacarmu, kan??!” Hime memaksudkan Aiko.

Aiko malah menahan tawa. Tapi akhirnya, dasar emak sinting, tertawa jugalah Ia, “aih~~ Aku makin sayang ka-chan~!!” Aiko merangkul anaknya tersebut.
“Tuh kaann??!!!” Hime mau nangis.
“Yang ini??” Kanata nunjuk chibi yang lagi ngelendot di tangannya, alias sang mama.

Hime ngangguk.

“Makasii loh,” Aiko tetep ber-‘haha-hihi’ gaje, “makasii sudah dibilang pacarnya Ka-chan~~” Aiko makin lengket sama sang anak, “apa aku begitu muda ya??”
Kanata menghela nafas, “Kaa-saannn~!! Lepaskaannn~~!!!” teriaknya naik 4 oktaf.
“Ah! Ternyata Ka-chan sudah punya pacar ya?? Kok tidak memberi tahu mama??” Aiko melepaskan rangkulan–cekikan lebih tepatnya, dari bahu Kanata.
“Aku lebih baik diam, daripada harus diikuti mamah,” sahutnya dengan nada keki.
“Ibu mu??” Hime masih gak percaya.
“Iya, Hime saya~ang ini Ibu-ku. Jadi, jangan salah paham ya~” Kanata memencet hidung Hime.
“Ih, Ka-chan romantiz bang~et!” goda Aiko.
“Kaa-san sih…” gerutu Kanata.
“Ah! Iya, Shirayuki Hime, salam kenal,” Hime membungkuk sebagai tanda memperkenalkan diri.

“Aih! Imutnya~a… Ibunya Kanata, salam kenal,”
“Ung, untuk yang tadi, saya minta maaf,” ucap Hime bersalah.
“Ah, tidak apa-apa. Justru aku berterimakasih karena dibilang pacarnya Ka-chan,” tawa Aiko gajeh.
Hime sweatdrop, sedang Kanata facepalm melihat sifat sang Mama.

Hime melirik Aiko dengan tidak percaya. Wanita yang 10 cm lebih pendek dari Kanata, dan 5 cm lebih pendek darinya, adalah Ibu dari Kanata.
“Sini…” Aiko menuntun Hime untuk duduk di tempat yang tadi Ia duduki, “udah, hari ini, mamah minta maaf karena ganggu waktu kencan kalian,”
Wajah kanata langsung semerah strawberry yang ada di parfait.
“Nah, sepertinya aku harus pulang~ nanti, datang ya, kerumah untuk makan malam~” Aiko tersenyum penuh arti, “kencanlah sewajarnya, jangan banyak menggombal seperti Matsun,”

Dan Aiko pergi.

“Siapa Matsun??” tanya Hime pada Kanata.
“Pamanku…”
“Pasti masih muda ya??”
“Tidak, Ia 3 tahun lebih tua dari Okaa-san, dan 17cm lebih tinggi darinya,”
Hime makin gak percaya.
“Lalu, Ayahmu??”
“Ttou-san lebih tua 5 tahun, dan lebih tingggi 20 cm dari Kaa-san,”
“Sonna… Wakatta…”

——————————-

“Ryuu-kun~~” terdengar suara manis yang memanggilnya dari lorong koridor. Ryuu menoleh pada pemilik suara tersebut,
“Miyazawa??”
“Fheew… Untung masih bisa mengejarmu,” Miyazawa Jenifer–teman sekelas Takigawa Ryutarou, sambil merogoh isi tas nya, “ini,” Jenifer menyerahkan sekotak kecil cokelat yang telah dibungkus kertas kado merah hati.
Ryuu menerimanya dengan ragu, “untukku??”
Jenifer mengangguk pasti, “hanya kamu saja yang belum terbagi cokelat~” Jenifer bersiap pergi.
“Silahkan dinikmati~”

Lalu gadis tersebut meninggalkan dirinya yang masih membeku dengan cokelat ditangan.

“Sepertinya aku harus menabung untuk White-Day nanti,” gumamnya.

——————————-

“Aku… pulang….” Kengo merebahkan tubuhnya diatas sofa empuk yang pertama kali Ia beli untuk mengisi rumah ini.
“Okaeri~” Aiko langsung memeluk sang suami dan mengecup keningnya yang selebar lapangan tennis *dibom Kengo*
“Happy Valentine~” ucapnya sambil menyerahkan dua tangkai bunga mawar merah pada sang istri.
Aiko malah cengok, “untukku??”
Kengo meyakinkan sang Istri, “iya~ kko-chan~~ Ini hari Valentine~”
“Sekarang tanggal 14 Februari ya??” Aiko masang tampang lugu. Kengo ngangguk, “jangan bilang kalau Kko-chan lupa ini hari Valentine??”
“Iyah, aku… lupa,”
“Gak ada cokelat malam ini??”
Aiko menggeleng, “maafkan aku… Ah, susahnya, mempunyai istri pelupa sepertiku??”
Kengo menjitak sang Istri, “ah, hanya dengan Kko-chan saja aku sudah bahagia, kok,” Kengo mengecup kening sang istri.
“Sebagai gantinya apa?”
“Ganti apa??”
“Ganti cokelat~”
“Aku mau Kko-chan~”
“Kyaa~!! Ken-Ken kan belum mandii~!!”

=================================

Dedicated to:

My little family
Thank you for being there when I was in my weakest point. I love you, Pops, Moms, Kacrut.
Also for my dearest Kengo-san, Ka-chan, Ryu-chan, Himecchi. Although distance between us, I know, there’s a love thread that connected each other of us.

My readers.
Somehow, your comments always make me smile, and make me think “I have to do more and more for the best!
I love you! without you all, I’m nothing.
Thank you for always read my stupid stories.

Aiko no Note:
Happy valentine Day, minna~ Walau dalam agama saya, hari perayaan ini dilarang, namun saya anggap, sah-sah saja kalau memang sabatas kasih sayang. Iya kan?? My love for you all~~ Akhirnya, saya berhasil memunculkan kedua calon menantu saya (walau secuil *ditabok duri mawar*) Dan saya bagi rata peran di sini (walau Matsun cuma kebagian nama *dipentung*)
Dan dari cerita ini, saya ingin menyampaikan, Valentine gak harus mahal, tapi juga kesederhanaan kasih sayah, adalah kemewahan yang tak ternilai untuk saya loh~

My Love for All~~

~Aiko~