“Kau tahu jika berciuman dapat membakar kalori…?”

Aiko langsung menoleh padanya. Tatapannya penuh dengan ketidak-percayaan.
“…. dan menghangatkan tubuh. Setidaknya jika kau mau…”

Tanpa ampun wanita itu menundukkan kepalanya. Dapat terlihat hingga ke ujung telinga semburat yang menjalar merah. Padam. Semerah langit sore yang masih tertimpa runtuhan bintang.

Diam.

Memilih jawaban mana yang tepat untuknya, Aiko bertanya melalui tatapannya pada butir pasir yang menyelimuti kaki. Dingin karena bergumul dengan aura malam. Raut wajahnya terlihat gelisah. Tak sedikitpun terlintas inginnya untuk mengadah menatap wajah Kengo―laki-laki yang masih setia menanti jawabnya.

Jemarinya mulai mengusap tanah berbulir tersebut. Lengket dan asin. Laki-laki itu pun mengeratkan pelukan jaket yang menempel di tubuhnya. Walau tak terlihat, terdengar.

Perlahan, dirinya tergoda untuk menoleh. Dilihat olehnya tatapan dingin yang menantang malam dari riap ikal rambut yang menjuntai turun menutupi wajah pria itu.

Terselip rasa kagum akan lukisan siluet yang terpampang dalam pandangannya. Tanpa sadar, tangan yang sedari tadi terselip memeluk lututnya, kini sudah berada di sisi tubuhnya―sejengkal mendekati tubuh pria yang tengah dihempas angin barat tersebut.

Menyadarinya, Kengo mengalihkan fokusnya dari sinar orange yang mulai memudar dari kaki langit. Seklias melihat jemari yang kini sesenti lebih dekat dengan dirinya, lalu melihat wajah gadis itu. Masih tertunduk membiarkan helai poni panjangnya beriap-riap menutupi wajahnya yang tertunduk.

Naif.

Kamu.

Ya! Kamu.

Kamu naif.

Aku.

Juga aku.

Aku naif.

Kita….

Digenggamnya tangan itu perlahan. Membiarkan kehangatannya menjalar hingga ke ulu hati terlebih dahulu. Ada sentakan kecil dirasanya. Aiko terkejut. Mungkin. Lalu, saat pandangan mereka tertubruk untuk beberapa saat. Denga sepersekian detik, Kengo merapatkan jarak diantara mereka melalui bibir yang bertaut.

Tubuhnya menjadi kaku. Gadis itu.

“Ayolah. Kau seperti anak SMA yang baru mendapatkan ciuman pertamanya.”

Angin mendingin. Memprovokasi mereka untuk lebih panas lagi. Kengo intens menambah frekuensi katupan bibirnya. Terbawa suasana, Aiko mulai membalas sapaan lidah yang sedari tadi meminta izin untuk memasuki rongga yang lebih dalam.

Saling menjatuhkan. Bergelung layaknya ombak, mereka mulai merapatkan diri dengan pasir bisu tersebut. Mendominasi dalam kenikmatan yang memabukkan. Mencumbu setiap desah yang menyapa pendengaran.

Tentang kusut rambut-ku yang terselip diantara jemari-mu, tentang pasir yang menyelinap diantara celah jari kaki-mu. Tentan bintang yang membisu dihadapan kita, tentang ombak yang bernyanyi memanja malam.
Tentang semua yang tak bisa kulukiskan dengan bahasa, tentang kita yang tak bisa kutuangkan dalam kenangan.

-Tsudzukushitai desu-

current song: Honey L Days – Center of The World
current mood: Ready for the next execution
location: Home desu!