Title: La Constellation (The Constellation)
Author: Takigawa Aihara
Series: Atashi-tachi no Kazoku
Genre: Romance
Rating: G
Theme Song: Kobukuro – Ryuusei
Current mood: Hampir Mati… #musimujian

============================================

Maegami:

Minna! Tadaimaaa~!!
Kembali dengan fic lovey-dovey saya dengan Mas Kengo #plak!

Akhir-akhir ini, Aiko tengat tobat dari mendownload dorama-dorama bejat yang bikin mimisan. Sebagai gantinya, Aiko kembali melengkapi koleksi video BuriMyu-nya. Musical dimana untuk pertama kalinya Koko mengenal sosok Kengo. Karena bernostalgia itulah muncul ide untuk membuat fic ini XD

Tapi sayang, Kengo gak banyak tampil, dan malah jadi orang jahat 😦 #plak!

Minna! Silahkan dinikmati tulisan yang menghabiskan waktu 78 jam hidup saya terhitung mulai Sabtu kemarin.

Douzo, Otanoshimishite Kudasai!



Sebuah persembahan untuk yang tercinta; Ohkuchi Kengo.
“Selamanya, dihatiku….”
——————————————–

Kanagawa, Minggu pagi.

真冬の海辺に映った白く透明な月が
[Terpantul bulan putih trasnparan di atas lautan tengah malam,]

Curtain putih itu menari saat angin pagi menyelinap ke dalam kamar, dengan cercahan sinar matahari yang mengantarkan hangat. Sembari bersenandung, Aiko―20 tahun, mengumpulkan serakan pakaian kotor sang suami yang baru saja mendarat di atas kasur jam 2 subuh barusan. Pesawatnya delay, sehingga ia baru mendapatkan penerbangan pada jam 10 malam waktu Korea Selatan.

クラゲに見えた不思議な夜でした。
[Itu adalah malam dimana kita melihat ubur-ubur yang lucu.]

Ia hanya tersenyum, saat dilihatnya sang suami―Kengo―25tahun, masih pulas dalam tidurnya. Terlentang tanpa pertahanan menandakan bahwa sang suami terlalu lelah bahkan untuk sekedar bermimpi.

“Mungkin, agak siang nanti aku baru membereskan kasurnya,” gumamnya sambil.membereskan ceceran kertas yang terburai dari suitcase milik pria yang menikahinya 3 bulan lalu tersebut. Dengan asal―asal rapih, Aiko membereskan kertas putih yang berisikan deretan angka tersebut. Malas ditelitinya karena ia cukup bangga dengan nilai 70 pemberian Abe-sensei―sang Guru Besar Akunting―sewaktu ujian kelulusan pembukuan.

Namun ada satu lembar kertas yang menarik perhatiannya. Warnanya tak lagi putih―usang. Terpampang tulisan ‘Undangan Reuni SMA Higashiyama Higashiōsaka Angkatan 26, Aula Higashiyama’

‘Seperti nama SMA almamater papah,’ gumamnya. Penasaran, dibukannya lipatan kertas tersebut. Terpampang 4 Desember 8 tahun yang lalu.

‘Seingatku, aku pernah ke acara ini dengan Papah beberapa tahun yang lalu,’ ujarnya dalam hati sembari terus membaca deretan kanji yang tertulis diatas kertas yang hampir rapuh tersebut.

だからもう怖がらずに 預けて欲しい
[Maka itu, aku takkan takut lagi, dan ingin kupercayai…]

La Constellation…

Kanagawa, Desember.

Tak seperti biasanya Aihara―12 tahun;putri bungsu keluarga Tsuchiya ini, diam di rumah saat liburan musim dingin.

“Tumben tak keluyuran ke rumah Rei-chan…?” tanya Harumi―ibu―saat mendapati anak perempuan satu-satunya ini tengah asyik bertengger di depan televisi―padahal bisanya bermain kerumah sahabatnya―Rei atau nyari ribut dengan kakak kembarnya―Sota―dengan menjahili sang kembaran dengan mengacak-acak kaset Sentai kesayangannya.

“Bosan. Ai ingin istirahat saja,” jawabnya tanpa menggeser pandangannya dari acara memasak.
“Bagaimana jika ikut papah ke reuni nanti malam??” tawar Yuichi―sang kepala keluarga, yang tiba-tiba datang menggabruk sofa yang tengah diduduki sang anak. Sontak Aiko njomplang. Lalu salto dengan cantik ke salah satu sisi sofa.
“Ogah ah! Paling juga acara kumpulan kakek-kakek macam Papah” tolaknya sembari ngesot meraih sisi sofa untuk menjadi tumpuan untuk berdiri.
“Ayolah, Aicchan. Lagipula, percayalah! Ini bukan hanya sekedar reuni, tapi juga pesta resmi!” promo Yuichi. ada bakat terpendam jadi sales marketing juga rupanya.
“Ogah, paling membosankan. Aku mau ke toko buku saja ah,”
“Untuk membeli majalah HOMME edisi terbaru ya?”
“Kok papah tau??”
“Akan papah belikan jika kau mau menemani ke Reuni,”
“Kenapa tidak Mamah saja yang menemani papah?”
“Oh, jadi tak mau majalah HOMME nih? Baik, uangnya besok untuk Sota membeli tongkat baseball saja,”
“IKUUUTTTT!”

何度引き裂かれても
[Seberapa kali pun kita berjarak]

Kagoshima, hari kemarin.

“Kenapa bukan Jun??” bibirnya berkerut membentuk pelangi―melengkung ke bawah. Botol plastik berisi makanan ikan yang ada dalam genggamannya pun dikerut, karena sang Ibu tauk-tauk mengganggu ritual mesranya dengan para Koi yang tinggal di kolam halaman belakang kediaman Takigawa tersebut.

“Kau putra sulung Takigawa, dan hampir menyelesaikan sekolah,” suara Kime―sang Ibu terdengar merayu. Sibuk melorohkan hati si sulung.
“Jun juga hampir menyelesaikan sekolahnya,”
“Tapi Junicchi―panggilan kesayangan Jun―baru SMP,”
Kengo; 17 tahun―bocah itu, mengerucutkan bibirnya, “Kenapa bukan Haha―panggilan resminya pada sang Ibu―saja yang ikut?”
“Karena yang ingin dibanggakannya itu, Ken-Ken―panggilan sayangnya untuk sang putra sulung―bukan istrinya,” senyum Kime.

―ck! Sang bunda memang paling jago kalau urusan merayu, “memangnya kapan?”
“Pagi esok. Kalian langsung berangkat ke Osaka,”
“HEEE???”

遠ざかっても繋がったままの
[Walaupun terpisah satu sama lain, kita akan kembali terhubung,]

Higashiyama Hall, Minggu, jam 8 malam.

Sebuah SUV tua mampir di halaman SMA Higashiyama Osaka.

Yuichi merapihkan jas hitam pilihat sang istri dengan kemeja putih―formal, sebelum akhirnya membukakan pintu mobil untuk sang anak yang terlihat tenggelam dalam lapisan kain itu.

“Papah, mengapa mesti memakai tsukesage sih?” gerutu Aiko sembari menggeret kimono formalnya itu. Butuh 2 jam untuk berjibaku dengan lapisan kain tersebut sampai akhirnya jadilah tsukesage tua warisan sang Ibu di tubuh Aiko.
“Papah ingin kau tampil cantik di acara ini. Lagipula, papah ingin menjodohkanmu dengan anak-anak beberapa kawan di sini,” terlihat atau tidak senyum evil-nya, pastinya ada nada licik yang terdengar.
“Kyaaa! Papah jahat!!” jerit Aiko sembari berusaha kembali ke jok mobil tua sang papah.
Yuichi terkekeh, menampilkan kerut diwajahnya yang hampir menginjak 40 tahun.
“Ayo, gandeng papah. Kita jalan ke dalam,” Yuichi mempose-kan lengan kirinya sedemikian rupa.
“Ogah, aku lebih care dengan tsukesage Mamah. Takut kotor,” Aiko menjinjing ‘rok’ nya sebatas betis.
“Mau papah gendong??”
“TIDAAAKKK~!!”

二人を包む 瞼の奥の宇宙
[Yang mendekap kita adalah, galaksi yang berada di bawah kelopak mata…]

“Baiklah, para hadirin. Silahkan menikmati hidangan yang ada,”

Acara dimulai begitu mereka memasuki hall yang diterangi ribuan watt cahaya tersebut.
Belum genap terhitung 6 langkah masuk dari pintu besar, Yuichi sudah berjumpa dengan banyak kawan lama. Bisa dipastikan, peluk dan tawa kakek-kakek tua―yang hampir membuat Aiko berlari keluar untuk mencari kantung plastik bakal muntah―itu tercipta dihadapan mata gadis mungil yang hampir lulus SD tersebut.

“Papah, sekarang kita ngapain?” tanyanya saat celah diantara perbincangan sang Ayah dan kawan lamanya itu merenggang.
“Kau, nikmati saja makanan yang ada. Tapi ingat! Jangan sekalipun menyentuh gelas yang berkaki seperti ini,” tunjuknya pada gelas tulip yang tengah dipegangnya―berisi champagne soalnya.
“Lalu papah?” Aiko bertanya balik.
“Papah akan menemui beberapa relasi dulu. Kau, jangan pergi jauh-jauh,” lalu Yuichi berbalik tanpa sempat melihat penggembungan besar-besaran pada kedua pipi Aiko.

“Katanya mau dijodohkan. Tapi kok malah ditelantarkan,”

Bete, dirinya beringsut pada satu sisi gedung. Mencari tempat duduk dan termenung memandangi ruangan yang ditumpahi asap cerutu. Karena ujung kakinya belum menyentuh lantai saat ia duduk di bangku tinggi tersebut. Dengan riang, diayunkan kedua kakiknya. Untuk mengusir jenuh sepertinya. Sebenarnya ingin makan. Tapi, meja-meja itu terlalu tinggi untuknya yang berukuran 130 cm tersebut. Jadilah ia berpuasa sampai sang Ayah menawarkan diri untuk mengambilkan cupcakes coklat yang terlihat menggiurkan tersebut.

―MIAWW…

Tanpa disadari, kedua kakinya menyentuh benda bertekstur macam beludru―halus. Dilongoknya ke bawah, dan didapatinya seekor kucing jenis anggora tengah berada di kolong kursinya. Merasa digoda, Aiko pun tertarik untuk mengajak main sang kucing.

―HAP!

Dengan lincah tubuh mungilnya yang berbalut tsukesage tersebut menuruni benda yang berjarak sekitar 50 cm dari lantai tersebut―terbilang tinggi untuk kerdil macam dirinya.
Sang kucing terkejut, lalu berlari keluar melalui pintu yang ada di samping tempat duduk Aiko, karena terkejut akan kehadiran makhluk yang tak dikenalinya. Namun dasar Aiko. Lebih baik ia keluar menantang malam Desember, ketimbang berdiam diri lalu mati bosan di dalam pesta reuni orang tua yang rata-rata berusia kepala empat tersebut.

“Eeh~! Neko-chaan~! Tunggu~~~!!”

Sementara itu Yuichi…

Sudah hampir 2 Dasawarsa dirinya tak menemui rekan satu perjuangan di jenjang akhir yang di sebut sekolah. Terlebih sahabat yang selalu setia menemani hari-hari di bangku sekolah dan setua dirinya. Teman berbagi contekan, dan teman dikala sesi hukuman Tsutomu-sensei saat tak mengerjakan pe-er sosialnya.
Walau ditengah lautan manusia, Yuichi pasti langsung mengenali karibnya itu. Dan matanya sedikit menyipit untuk memastikan, saat dirinya menemui sosok sahabat sebelah meja-nya itu saat sekolah, sebelum akhirnya Yuichi memutuskan menghampiri sosok yang berbalut Hakama hitam. Tak berubah semenjak kelulusan.

“Yo, Eiji.” sapanya sembari menepuk pundak sahabatnya dari belakang itu.

Yang disapa menoleh. Karena penglihatannya tak meyakinkan, ia pun berbalik badan.
Dilihatnya seorang bapak tua berpakaian jas formal dengan rambut hitam lurus yang semakin tipis―jadi jidatnya terlihat menonjol.
“Yu…ichi? Yuichi, kan?” Bapak ber-Hakama tersebut memastikan nama sang kawan di hadapannya ini.
“Siapa lagi yang selalu menjepret-mu saat tertidur di jam pelajaran Hasegawa-sensei??” Yuichi nyengir. Lebar.

Dan selanjutnya, bisa ditebak jikalau ada adegan berpelukan ala teletubies.

“Kau tinggal dimana sekarang? Sudah lama rasanya sejak berpisah di upacara kelulusan,” sapa Eiji―sang karib.
“Seperti yang kau tahu, aku hidup berpindah-pindah. Sekarang aku tengah menetap di Kanagawa. Dan kau? Masih dengan tradisi tua-mu di Kagoshima??” Yuichi tertawa sembari menyenggol lengan sahabatnya sejak SD tersebut.
Eiji hanya terkekeh. Percakapan alot yang menurut mereka menyenangkan.
“Oh ya, kau sendirian?” tanya Eiji.
“Um, tidak. Aku bersama putri-ku. Tapi sekarang, ia entah kemana. Mengambil makanan mungkin. Kau sendiri?”
“Aku dengan putra-ku. Tapi sedari tadi ia izin ke toilet. Belum nampak juga ia sedari tadi,”
“Ah, sudahlah. Urusan memperkenalkan anak kita itu belakangan. Sekarang, mari kita berkumpul dengan yang lainnya. Kau masih ingat permainan kala kelas sepi??”

星屑の中散りばめられた心が二つ
[Dua hati bertatahkan dalam debu bintang…]

Kakinya yang berbalut pantovel hitam melangkah diatas batu kali yang menghiasi tapak jalan menuju pinggir pagar pembatas area sekolah tua tersebut. Membiarkan horizon malam membungkus sosoknya yang terbalut jas rapih. Higashiyama Koukougakko memang terletak lebih tinggi daripada bangunan lainnya di sekitar―semacam di atas bukit. Menjadikannya lebih dekat dengan langit.

Kengo, berdiri menantang bintang untuk menghujani dirinya. Tangannya yang sedari tadi tersangkut di saku celana pun mulai merogoh dan mengeluarkan sebungkus rokok. Diambilnya sebatang lalu dibakarnya dengan pemantik perak pemberian seorang teman saat darmawisata ke Okinawa kala SMP lalu.

Asap pun menumpahi langit gelap. Disesapnya bau tembakau yang khas itu. Izin ke toilet memang ampuh untuk sekedar melepas penat dari hingar-bingar reuni yang membuat kepalanya cenat-cenut. Mungkin nanti ia harus menambahkan alasan ‘tersesat saat mencari toilet’ agar sang ayah tak meninggalkannya di
bagian Kansai Negara Jepang tersebut.

―GUSRAKK!

Tiba-tiba, sebuah suara gemerisik semak mengganggu percumbuan Kengo dengan langit musim dingin yang berhiaskan bintang dalam gulita malam yang dingin. Dilihat olehnya saat berbalik badan, semak hijau yang bergoyang. Seseorang pasti menyenggolnya dan menimbulkan suara tadi. Penasaran, ditambahkan satu langkah kakiknya mendekati semak tersebut. Dilongoknya ke bawah dan di dapatinya seorang gadis bergelung dua yang tengah bersetubuh dengan tanah―tengkurap. Kimono pink-nya tersingkap hingga sebatas betis.

Belum sempat Kengo bertanya dalam hati, gadis tersebut langsung berusaha bangkit. Lalu jongkok membersihkan lututnya. Nampaknya ia tak menyadari kehadirannya yang tengah menonton setiap gerak-geriknya.
Kengo diam tak bergeak. Tak bersuara. Namun perlahan, gadis itu berhenti mengusap tempurung lututnya. Dengan slow motion ala-ala film Bollywood, gadis kecil itu mengadah. Mempertemukan pandangan mereka.

“Kyaaaaaaa~!”

Sontak ia menjerit.

“Gyaaa~!”

Kaget, Kengo pun ikutan.

Cepat tersadar, Kengo segera membekap mulut pemilik tubuh yang lebih mungil darinya itu. Sontak Aiko―gadis itu, berusaha melepaskan diri.

Keadaan pun menjadi hectic bin panik.

“Aku akan melepaskan tangan ini, jika kau diam,” ancam Kengo setengah berbisik sembari berlutut menyejajarkan tinggi dengan sang gadis.
Sejenak, Aiko menjadi tenang, walau tatapan sinis masih dilemparnya pada pemuda itu.

“Tenanglah, aku juga salah satu undangan seperti yang lainnya. Aku bukan penculik kok,” terangnya.
“Nenek-nenek buta juga tahu kalau kau tamu undangan,” gerutu si gadis.
“Lalu, mengapa kau menjerit?” Kengo mengernyitkan alisnya.
“Siapa yang tak terkejut sih, jika wajah orang yang tak kau kenal berjarak hanya beberapa centi saja dari wajahmu??!” sewot Aiko.
Sensitive sekali,”
“Aku kan belum pernah dicium siapapun!”
“Seharusnya, kucium saja tadi,”

―PLAKK!

“Hanya bercanda,” dengus Kengo sambil mengusapi pipinya.
Aiko semakin cemberut. Ia diam. Untuk beberapa saat. Sampai akhirnya…

“Ehh?? Neko-chan pergi kemana tadi??” mendadak panik, Aiko pun bangkit. Disisirinya seluruh semak yang ada di sekitar.
Kengo lantas hanya diam menonton. Mimik wajahnya aneh karena seribu pertanyaan tentang sang gadis muncul dalam pikirannya saat ini.
“Mengapa diam saja?! Gara-gara kau, aku kehilangan kucing tadi!” Aiko ngamuk.
“Kenapa jadi salah ku??!” Kengo bangkit. Menggeram.
Tak menjawab, Aiko terus mencari. Tak peduli ujung Tsukesage sang bunda yang mulai kotor karena menyentuh tanah bersalju itu. Disadari oleh sang pemuda, Aiko itu… sekitar 40 cm lebih pendek darinya.

Capek karena Kengo tak kunjung membantunya, dan si kucing tak kunjung ditemukannya, Aiko menyerah. Ia berjongkok di sisi semak membelakangi langit malam.

“Jadi…. kau keluar Hall hanya untuk mengejar seekor kucing?” tanya Kengo (berusaha) ramah, dengan berdiri di sisinya.
“Diam!” ketusnya. Sama sekali tak menoleh.
“Sudah lusuh, rambut-mu acak-acakan……,”
“Dan kau melihatnya, bodoh,”
“Yah, sebaiknya kau kembali ke dalam Hall sebelum mati kedinginan di sini,” lalu dibakarnya lagi sebuah rokok.

“Kau merokok ya?” tanya Aiko saat dirinya menoleh karena suara batu pemantik yang beradu dengan jenis yang sama.
“Terlihat kan?” dihelanya satu nafas yang mengeluarkan asap.
“Padahal usiamu belum seberapa,” sinis Aiko.
“Hei, aku sudah 17 tahun, tauk!”
“Merokok itu berbahaya. Lebih baik kau hentikan mumpung usiamu masih muda,” ujarnya sembari bangkit. Dengan enteng Aiko merampas pemantik perak yang masih bertengger di tangan si pemuda itu.
“Sok tau,” dengus Kengo kesal, “kembalikan!”
“Setelah kau berjanji padaku untuk tidak merokok lagi,” Aiko menyelipkannya pada tas jinjing sewarna tsukesage-nya―pink.
“Kau naif. Aku tak akan berjanji karena aku tak ingin membohongi-mu,”
“Coba saja,” Aiko menyembunyikan tas pink-nya di balik punggung.

Kengo kesal. Geram malah. Kakinya sudah berancang-ancang untuk menerjang si kecil sialan ini.

KUTANGKAP KAU!” satu lecutan pada otot tungkai kakinya, dan rokoknya dibuang entah kemana, Kengo menjejak langkah cepat―sedikit berlari―menuju Aiko.
KYAAA~!!” jeritannya bercampur tawa. Nyatanya, gadis itu sudah siap untuk berlari pula.

Jadilah adegan kejar-kejaran ala film india…

愛の闇を駆け抜けてく想い流星になり
[Perasaan yang berlari dari gelapnya cinta, akan menjadi bintang jatuh]

“Kembalikan pemantik-ku!! Kisamaaa!!”
“Coba saja ambil sendiri!!” menantang, Aiko menjulurkan lidahnya.

流れていくよ君のそばまで消える前に
[Yang mengalir hingga ke sisimu sebelum menghilang,]

Dari balik ranting momiji yang tengah botak karena musim dingin, nampaklah dua sosok berbeda tinggi tersebut berkejaran. Antara yang dikejar dan mengejar. Mengelilingi bangunan Aula tua SMA Higashiyama tersebut.

“Oi! Chibi!! Tunggu! Aku sudah capek!!” dan yang pertama mengibarkan bendera putih.
“Oho! Oom sudah capek rupanya,” ledek Aiko mengurangi kecepatan berlarinya, lalu berhenti pada sebuah bench kosong yang menghadap luar sekolah dengan curam dataran yang terpampang 5 meter dari tempat mereka berpijak. Jika mereka duduk di sana, maka layarnya adalah langit malam dan pemandangan kota Higashiōsaka.

“Aku bukan oom-oom!” sanggah Kengo dengan nafas yang tersisa.

“Ayolah, aku bahkan masih bisa mengelilingi gedung ini untuk 5 putaran lagi~” tantang Aiko, “makanya, jangan merokok, jika tidak ingin nafasmu menjadi pendek,” kakinya menapak ke atas bench tua yang lapuk―terlihat dari tekstur kayu-nya yang lapuk bolong-bolong. Dimakan rayap, mungkin.

Berputar dengan riang, Aiko tak menyadari lapisan salju yang menjadi es, melapisi kayu bench tersebut. Menjadikannya licin, dan dapat membuatnya terjatuh kapanpun.

“Bodoh!” tanpa memberikan peringatan lanjutan, Kengo langsung berlari ke arah bench. Tepat saat tubuh mungil sang gadis mulai oleh karena tergelincir. Dan…

―BRUKKH!

“Selamat. Kau mendarat di atas tubuhku…” Kengo berkata dengan sisa nafasnya. Perutnya sukses tertindih tubuh Aiko yang tak dapat dibilang ringan tersebut.
“Ah… maafkan… aku,”
“Daripada meminta maaf, lebih baik kau geser tubuhmu! Berat tauk!” omel Kengo. Nyawanya hampir lepas, karena hampir lebih dari 17 detik jantungnya berusaha keras mendapatkan pasokan oksigen dengan diafragma yang tertindih beban 45 kg tersebut.

Tanpa menunggu wajah Kengo membiru, digesernya tubuh dari atas pinggang pemuda tersebut.
Setelah nafasnya normal, Kengo teringat sesuatu. Buru-buru dirogohnya saku celana dan didapatinya bungkus rokok yang tak lagi memiliki bentuk. Saat dibuka, batang-batang tembakau tersebut pun sudah patah.

“Aahh… Rokok-ku…” desah Kengo.
Ano… maaf,” Aiko mengerut sedikit jas yang menyentuh tanah bersalju tersebut.
“Ah sudahlah. Jangan dipikirkan,” balasnya cuek sambil berusaha bangkit. Otaknya bisa beku jika kelamaan menempel pada tanah dingin tersebut.

Tak terdengar apa-apa dari si gadis cerewet tersebut. Mencari tahu, Kengo menatapnya. Dan mata Aiko sudah memerah. Nampak bulir bening yang menganak di pelupuk kedua matanya.

“He, kau menangis?? Ayolaaahh~ Jangan menangis~!!” Kengo panik. Takut-takut jika ada orang lewat dan menyangka ia hendak berbuat macam-macam dengannya―padahal, dari segi posisi, ia lah yang nampak seperti ‘habis dimacam-macami’.

Kehabisan akal untuk membujuk, Kengo mengutuk dirinya sendiri. Kelimpungan mencari inspirasi untuk menghentikan tangis seorang anak SD. Sampai pada akhirnya, ia mengadah….

“Oi, lihatlah,” Kengo menyenggol sedikit lengan si gadis.
Aiko tak bergeming.
“Lihatlah ke atas. Anggap itu sebagai permintaan maafku,”
Perlahan, Aiko mengadah. Tergugah.

Terbentang di atas kepala mereka kanvas hitam bertabur kilau berlian.

僕たちは同じ星座だと信じて
[Karena aku percaya kita hidup di gugusan bintang yang yang sama,]

“Indahnyaa…” terpukau, bola matanya memantulkan hamparan bintang tersebut.
“Itu… Perseus, rasi bintang yang hanya bisa kau lihat di bulan Desember,”
“He? Begitu kah? Lalu yang itu apa?”
“Itu… Eridanus. Bentuk rasinya seperti sungai,”
“Kau… tahu banyak tentang bintang ya?” Aiko memandang kagum pada laki-laki yang kini rebahan di sampingnya―meluruskan pinggang yang dianggapnya kecengklak.
“Aku lahir dan besar di Kagoshima. Ada pantai di dekat rumahku. Bisa setiap malam aku duduk di sana memperhatikan bintang,”
“Kok bisa ada di Osaka?”
“Aku ikut Ayah ke acara ini,”
“Bagaimana caranya?”
“Naik pesawat lah, memangnya terbang,”

Dan disambut oleh ‘ooh’ si gadis.

“Nah, sudah terlalu lama kita diluar. Sebaiknya aku mengantarmu ke dalam. Mungkin orang tua-mu tengah mencarimu,” ujar Kengo sembari bangkit dan membersihkan serpihan salju yang menempeli celana panjang dan kemeja biru-nya.
Tiba-tiba Aiko teringat pada sang ayah. Sepertinya ia harus sungkem pada Yuichi karena bermain terlalu lama. Terlalu jauh.

つかめない幻を抱きしめた胸を刺す痛みが
[Ilusi yang tak tertangkap mendekap hati yang tertusuk luka,]

“Kau… bisa berjalan??” tanya Aiko khawatir melihat langkah penolongnya sedikit terpincang.
“Tentu saja bisa,” ringis Kengo, “… lagipula, tak keren rasanya jika untuk berjalan saja dibantu oleh seorang gadis cengeng sepertimu,” goda-nya yang diakhiri gelak tawa dan hujan pukulan Aiko yang tak seberapa sakit itu.

―MIAWW…

Tepat dua langkah sebelum meraih lantai gedung, Aiko mendapati si bulu putih itu ada di hadapan matanya. Kucing yang tadi membuatnya terjerembab dalam dinginnya salju, dan bertemu dengan pemuda aneh ini.

“Neko-chaann~!!” riang, Aiko langsung meninggalkan pemuda itu di belakangnya.
Kengo hanya bisa mengurut dada melihat kelakuan ajaib si gadis.

Dikejarnya kucing tersebut (lagi) hingga ke dalam Hall. Tak mempedulikan sekitar yang sempat ditabraknya, pandangannya hanya tertuju pada si kucing.

―BRUKK!

Sampai akhirnya ia menabrak seseorang.

“Kemana saja dari tadi??”

Sambil mengusap jidatnya yang sakit, Aiko mengadah. Nampaklah sang Ayah tengah berkacak pinggang.
“Aku…. bermain keluar…” ungkapnya dengan gugup.
“Sudah makan??”
Aiko mengangguk cepat―berbohong.
Yuichi menghela nafas, “esok Papah harus berangkat pagi. Sebaiknya, kita cepat pulang malam ini,” tangan kanannya langsung menggenggam bahu sang anak. Mendorongnya untuk mengikuti alur jalan menuju mobil mereka.
“Eh, tapi…”
“Apa? Ada yang tertinggal?”
Aiko langsung berbalik badan. Tapi pemuda tadi tak terlihat dalam pandangannya.
“Ada apa?” tanya Yuichi lagi.
Aiko menggeleng cepat. Kengo tak ditemukannya, dan sang Ayah harus berangkat pagi esok. Tak enak hati kalau menahannya lebih lama dari ini.

Jaa, kita pulang,”

引力のように二人引き寄せ合う
[Seperti gravitasi, kita berdua saling tarik-menarik,]

Aiko tersenyum. Kenangan itu kembali mengaliri ingatannya.
Sampai tiba-tiba, dirasanya rengkuhan sang suami dari belakang.

“Ah, aku membangunkan Ken-Ken rupanya ya?”
“Tidak,” Kengo menyesap wangi lavender yang tertinggal di helai rambut lurus sang istri, “tumben, lama sekali kau duduk di pinggir kasur,” bisiknya.
Aiko tertawa, “aku baru saja menemukan ini,” ia mengacungkan undangan yang mampu mengembalikan ingatan masa kecilnya.
“Apa ini?” tertarik, Kengo meraihnya.

‘Undangan Reuni SMA Higashiyama Higashiōsaka Angkatan 26, Aula Higashiyama’

“Ah, ini. Ini undangan reuni Chichi―panggilannya pada sang Ayah―8 tahun lalu,” jelasnya, lalu kembali merebahkan diri pada hangatnya kasur pagi di bulan Desember.
Alis Aiko mengernyit sejenak, tatapannya mengikuti sosok sang suami dengan insting ingin menyelidiki.
“Ken-Ken, boleh aku bertanya sesuatu?” tubuhnya mendekati sang suami yang kembali mencumbu kasur.
“Hm? Apa?” responnya 80% malas.
“Apa kau dulu merokok??”
“Sekarang tidak lagi. Kan?”
“Apa dulu kau merokok??”

Kengo mengadahkan torso-nya, sehingga matanya dapat menangkap sosok sang istri yang bertampang detektif tersebut, “kenapa tiba-tiba sekali kau tanyakan itu?” curiga Kengo.
“Jawab saja aku. Apa kau dulu merokok??”
Kengo diam sebentar. Menatap sang istri curiga, “dulu, ya. Aku pernah merokok,”
“Usia berapa?”
Dirasanya, sang istri seperti pegawai puskesmas, “dari kelas 2 SMP,”
“Sampai??”
“Saat menjelang ujian kelulusan kelas 3 SMA,”
“Apa alasan Ken-Ken berhenti merokok?”
“Pemantikku hilang, dan rokokku rusak pada saat itu. Jadi mau tak mau, selama jarak Osaka-Kagoshima, aku mengunyah permen karet. Entah mengapa, kebiasaan merokokku hilang,” akunya.

Seperti mendapatkan jawaban, Aiko langsung mencari-cari sesuatu dalam laci lemari pakaian.
Suara ‘grasak-grusuk’ pun tercipta. Penasaran, sang suami akhirnya tak jadi tidur. Ia bangun dan menonton kelakuan Aiko.

“Kko-chan cari apa?” tanyanya.
Aiko tak menjawab.
Dibiarkan olehnya, dan dilanjut tontonan sampai akhir.
5 menit berselang, Aiko menemukan sesuatu―sebuah kain pink menyerupai tas jinjing. Matanya berbinar dengan senyum yang mengembang. Kengo semakin tak mengerti. Dibukannya tas tersebut, dan sebuah benda perak pun kini ada dalam genggaman sang istri.

Kengo masih tak mengerti saat Aiko menatapnya dengan penuh rasa sukacita. Dihampirinya sang suami, dan duduk di sampingnya.

“Ken-Ken, ingatkah kau dengan benda ini?” dibukanya kedua lingkup tangannya, dan terbaringlah sebuah benda perak yang samar-sama muncul dalam ingatannya.
“Pemantik… kalau tidak salah, dulu ini milikku…,” jemarinya menyentuh ukiran perak tersebut. Kengo diam. Dahinya berkerut―sebuah kenangan kembali terputar dalam memorinya.

“Kko-chan, darimana kau dapatkan ini??”
Sang istri hanya tersenyum lebar. Sesekali disisipi tawa. Matanya memberikan isyarat ‘ini aku!’
Dari pandangan sipitnya, Kengo melebarkan fokus. Sebuah kesimpulan terlahir dari hint-hint yang terjalin rumit.

“Tak mungkin…” ucapnya diantara kebahagiaan.
Aiko masih menatapnya bahagia, “kau… masih ingat aku??”
Kengo tertawa.
“Gadis kecil cerewet yang kau temui 8 tahun lalu??” lanjut Aiko.
Tanpa menunggu kata-kata lanjutan dari sang istri, Kengo merengkuh tubuh mungil Aiko.

“Deaetta…….”

君よりきれいな人でも、君より優しい人でも、
[Ada orang yang lebih indah darimu, ada orang yang lebih baik darimu,]

Epilogue:

“Lama sekali ke toilet nya?”

Sang ayah–Eiji, tiba-tiba menepuk bahu-nya.
“Ah, eh… um… ano… tadi… aku tersesat. Toilet-nya jauh sekali, lalu….”
“Sudahlah, tak mempan alasan seperti itu. Jaa, sudah makan sesuatu kah?”
Kengo menggeleng.
Jaa, mari kita temui beberapa teman relasi, setelah itu kembali ke Hotel, dan pulang ke rumah,”

Kengo ayem. Nurut saja dengan instruksi sang ayah, sembari diam-diam meratapi cerutu-cerutu murahannya yang tak lagi berbentuk. Mengelus saku celana-nya pelan, Kengo teringat sesuatu…

“Pemantikku…?!!”

Sementara itu di perbatasan Higashiōsaka…

“Kalau kau ngantuk, tak perlu-lah terjaga demi menemani papah menyetir,”

Yuichi merestui sang anak untuk segera terlelap karena jam sudah menunjukkan pukul 10 malam–lewat dari waktu tidur sang anak.
Aiko menggeleng, “tidak, tidak apa-apa. Kalau nanti sudah ngantuk, Ai akan tidur kok,” tangannya mendekap tas jinjing pink-nya. Lebih erat. Sampai ia merasakan sebuah benda keras dan dingin tersamar dirasakan dari balik kain kasa yang lumayan tebal tersebut.

Tanpa bercerita pada sang Ayah, Aiko mengintipnya. Nampak sebuah pemantik perak milik pemuda tadi tertidur bersama dompet dan saputangan miliknya. Terkejut, Aiko hanya membelalakan matanya. Mulutnya mangap, tapi tak satu pun kata keluar mengaliri bibirnya.

“Kenapa??”

Tersadar, buru-buru dirapatkannya mulut tas tersebut. Sang ayah mengamatinya sedari-tadi, “… tidak, bukan apa-apa…” senyumnya gugup.
Yuichi hanya mengangkat kedua bahunya, lalu kembali menyetir.

“Bagaimana ini?? Bagaimana caranya aku mengembalikan pemantik ini??”

君にはなれないんだもう誰も。
[Tapi tak ada seorang pun yang bisa menjadi dirimu…
——————————————–

Atogami:

Fyuuh, jadi juga akhirnya, fic kesekian. Sebuah persembahan untuk suamikyuh tercinta #plak!
Dasar author bejat. Sudah tauk besok Ujian AKhir. Bukannya belajar, malah sibuk bikin beginian. Mana kacau dan hancur pula DX

Awal mulanya, adalah inspirasi kamar-mandi. Dimana Aiko juga pernah membuah adegan yang sama saat membuat novel ‘Itsumo Issho’ XD dan voila! Jadilah adegan aneh bin kacau.

Dedicated to….

  • My Beloved Kengo,

Ken-keeen~!! Cintaaa~! Sayang~ XD
Selamat bulan Desember~ with love, and live. Jangan sampek kedingingan di bulan Desember ya~
Aku gak bisa pulang ke Jepang untuk menghangatkanmu, soalnya. XD #plak!

  • For all readers!

Happy December!!XD have a nice holiday (and exams)

With all my Love~
-Aiko