Title: Thank You
Author: Takigawa Aihara
Series: Atashi-tachi no Kazoku
Genre: Romance, Family
Rating: PG
Theme Song: Ikimonogakari – Arigatou
Current mood: Pussiiinnggg….

————————————

Maegami:

Pertama kali bertemu dengan Kengo saat dirinya memerankan karakter Aizen di Burimyu. Well, saat itu saya begitu menyukai sosok megane-nya yang ke-bapak-an. Dan kesan pertama saya dengannya adalah… “namanya aneh,”. But so far, Kengo berhasil membuat saya jatuh cinta dengan senyumannya yang…


… ugh… giginyaaa…

Sekarang, terhitung 3 tahun saya menetapkan hati pada Kengo. Banyak hal yang menyemangati saya tentangnya, juga banyak kesedihan yang harus dilewati.
Selama ini, Kengo telah menginspirasi banyak cerita yang saya lahirkan dari jemari-jemari saya yang mulai terkikis sistem motoriknya ini.

Di hari yang spesial ini, Kengo bertambah usia genap 30 tahun. Sebuah usia matang untuk seorang pria yang patut dirayakan. Meski tak secara langsung, saya ingin mengucapkannya melalui sebuah jalinan kata sederhana yang terangkum dalam cerita hangat tentang keluarga kecil kami.

Untuk yang tercinta; Kengo,

“Selamat Ulang Tahun, dan

Selamat Menjadi 30 Tahun,”

-Aiko

Sebuah persembahan untuk suami tercinta: Takigawa Kengo untuk umur ke-30 nya.

==============================

まぶしい朝に苦笑いしてさ あなたが窓を開ける
[Di pagi yang berkilau, kau tersenyum membuka jendela,]

Hari yang tak terlalu baik untuk seorang Senior Accountant macam Kengo–27tahun–untuk menikmati hari.
Nampaknya Tuhan tak memberikannya kelegaan hati padanya. Profit keuangan tak sesuai harapan. Semua teori marketing yang sudah dicanangkan meleset semua, sehingga pendapatan akhir bulan ini menjadi tak sesuai dengan target yang tertempel diperencanaan awal bulannya kemarin.

Baru saja rekap keuangannya selesai tadi pagi, Kataoka–sang atasan–sudah bernyanyi untuk segera mengadakan presentasi penyebab menurunnya pemasukan bulan ini. Memaksanya untuk bekerja lebih di saat yan terlampau sempit untuknya.

喜びも悲しみも 分かち合えるように
[Kesenangan dan kesedihan kita bagi bersama…]

Thanks To You

“Kengo-san, sudah waktunya pulang, tidak bersiap kah?” suara sang assisten–Iseya–25tahun–membuyarkan njelimet pikirannya yang terlukis dalam kanvas biru berhiaskan mega orange tersebut–senja menyapa Yokohama.
“Kau, duluan saja. Aku… masih harus memikirkan presentasi esok hari,” ketir, pikirannya belum menemukan secercah inspirasi.
“Baiklah, saya duluan,”
“Tapi… Iseya,” panggilnya pada sang assisten saat langkahnya baru berjumlah 2.
“Ya?”
“Bisa tolong bantu aku membuat perencanaan bulan ini??”

こぼれた光を 大事に集めて
[Ku kumpulkan cahaya berharga yang menetes…]

Jelang malam. Hampir malam. Demikian, karena matahari masih enggan pergi tidur.Tangannya menggenggam erat handle kereta dengan kedua kaki yang harus terampil menjaga keseimbangan tubuh diatas rangkai baja yang melaju kencang. Berdesakan dengan ratusan orang lainnya, Kengo mengutuk mobil-nya yang tengah di-servis untuk peremajaan karena usia–gaji pertama yang berusia sepuluh tahun. Terdiam, mempetakan segalanya dalam pikiran–uang gajinya yang belum turun, nyanyian sang istri akan bulanan, dan pastinya susu si kecil Kanata yang masih berusia satu tahun. Dan sialnya hari ini, Kataoka baru saja menambahkan satu–tidak–dua beban pikirannya; strategi marketing yang baru dan presentasi dihadapan para pemegang saham dan pastinya atasan abadinya itu; Kataoka.

Kuso…”

不器用に伝えている
[Aku begitu canggung untuk menceritakannya…]

“Aku pulang…”

Langkahnya menyapa lantai dingin depan pintu. Melangkah 3, kakinya terhenti tepat dihadapan undakan setinggi tulang keringnya–batas suci untuk istilah. Dilepasnya kaus kaki yang terasa lengket dikulitnya itu karena keringat dan asam garam yang tercampur menjadi daki, serta sepatu pantovel kulit hitamnya. Berkilau. Tak pernah absen barang sehari, Kengo rutin menggosoknya dengan semir yang dibelinya di konbini seharga 25% diskon.

“Ttou…schan…”

Wajahnya mengadah selagi menunduk melepas jerat temali sepatu. Terlihat sang anak yang tengah berdiri dengan gaya centilnya–merapatkan kedua tangannya dengan jemari yang bermusuhan, dan kedua kaki yang melengkung bak flaminggo.

“Kanata?” kedua alisnya berkerut.
“Keren kan??” tiba-tiba sebuah suara menyahut. Halus, namun terdengar artikulasi cempreng dari getar pita suaranya. Ialah sang istri–Aiko–22tahun.

Kengo beralih menatap sang istri. Lalu kembali pada wajah unyu sang anak. Sedikit terulas senyum di wajahnya plus wajah yang rada tablo.

“Kanata sudah bisa jalan?” tak peduli dengan sepatunya yang belum tertidur di atas rak, ia melangkah ke atas undakan, lalu lututnya mengganti peran telapak kakinya untuk menopang tubuh, “sini… jalan ke Ttou-san,” deret giginya terpampang–tandanya Kengo tersenyum sangat bahagia.

Kanata tertawa. Lucu suaranya mengundang senyum siapapun yang mendengar.

Sekali rengkuhan, didekapnya sang putra dalam hangat degup jantungnya. Lalu diterbangkannya tinggi dengan kedua tangan sebagai topangannya. Membuat Kanata menjerit. Lengking suara bahagianya membuat sang istri tertawa. Sungguh lucu. Karena berat, di dekapnya lagi sang anak. emas, diciumnya pipi gembil Kanata.

Lalu…

“Kko-chan…” tatapannya lurus dan penuh dengan rasa yang tak terjawab.
“Hm?”
“Apa… Kanata sakit?” tanyanya saat merasakan hangat di perutnya yang menempel dengan tubuh sang anak.
“Tidak, suhu tubuhnya normal saat selesai mandi tadi,”
“Kok, aku merasakan hangat ya? Apa dia demam?”
“Itu…” sang istri menunjuk arah pinggangnya.

Penasaran, diangkatnya tubuh Kanata, dan pandangannya menyelusup di antara celah perpecahan tubuh mereka.

Dan dilihatnya bagian yang merasa hangat tersebut berwarna lebih gelap dari kemeja berwarna asli biru gelap tersebut. Terlukis karena ompol sang anak.
Karena panik, Kengo spontan menjauhkan–lebih jauh–tubuh sang anak, yang menyebabkan guncangan yang sangat tidak slow motion tersebut. Kanata kaget, dan tangisnya pecah. Aiko buru-buru menghampiri dan memindah tangankan posisi Kanata padanya. Mengelus punggunggnya, dan berbisik untuk menenangkannya. Sepotong syair kuno warisan sang nenek dinyanyikannya.

“Walau baru terkena ompol, Ken-Ken tak perlu se-histeris begitu donk,” gerutu sang istri.
“Bukan masalah ompol atau bagaimana, ini kemeja yang harus kupakai untuk presentasi keuangan besok, Kko-chan,” Kengo meratapi kemeja yang jadi lepek dan rada bau pesing tersebut.
“Memangnya tidak ada kemeja lain?!”
“Ini kemeja keberuntunganku! Aku biasa memakainya untuk presentasi!”
“Kalau tahu besok ada presentasi, mengapa dipakai hari ini??!”
“Karena presentasi besok adalah dadakan!”

Sadar kalau tangis Kanata semakin menjadi-jadi, Aiko berhenti dari perang mulut murahan ini. Sembari terus menepuk, tubuhnya beralih arah menghadap menuju kamar sang anak, “… Ken-Ken lepas saja kemejanya. Taruh di dekat mesin cuci. Biar aku nanti yang cuci setelah menidurkan Ka-chan. Kupastikan kering sebelum kau bangun pagi ini,”

喧嘩した日も泣き合った日も それぞれいろ咲かせて
[Ada hari saat kita bertengkar dan menangis, lalu macam-macam warna itu pun merekah…]

Dirasanya lega saat kemejanya akan ditangani sang istri–biasanya ambekan Aiko berujung pada tumpukan cucian kemeja-nya–dengan begitu, Kengo akan leluasa mengerjakan laporannya malam ini. Dengan tenang.
Selagi bercumbu dengan laptopnya, Kengo melirik jam yang terpaku manis di dinding samping kanan tempat tidurnya. Dengan gagah, jarum pendeknya menempel pada angka 1. Malam cukup larut ternyata untuk sang istri untuk tidak berada di tempat tidur–biasanya Kengo mendapati sang chibi sudah berada diatas kasur sebelum jam 10. Khawatir, dan juga merasa bersalah atas pertengkaran tadi, Kengo pun beranjak dari depan laptopnya dan menuju pintu keluar.

Sebelum tangannya meraih handle pintu, Aiko sudah mendahuluinya untuk memutar kenopnya dan mendapati dirinya mematung di depan papan berawrna coklat muda tersebut.

“Ah, Ken-Ken, aku baru saja selesai menjemur bajumu. Karena ini musim dingin aku harap angin malam ini tak terlalu dingin untuk membuat serat kain malah menjadi lembab,”

Senyum yang menempel, menandakan kalau Aiko tak mempermasalahkan pertengkaran mereka 6 jam yang lalu. Riang, sosok pendeknya segera memposisikan tubuh di depan bentang cermin setengah badan tersebut. Lalu mengambil sisir untuk meluruskan jemalit rambut yang mengikat satu sama-lain.

“Kko-chan…” dirinya mendekati sang istri.
“Apa?” pandangannya tak terlepas dari gambaran dirinya yang tengah mencari jerawat, ataupun flek-flek penuaan yang menempel di wajahnya.
“Maafkan aku,”
“Untuk apa?” tergugah, ditolehkannya pandangan pada sang suami yang tengah berdiri di samping kanannya–dan agak setengah langkah ke belakang.
“Pertengkaran tadi,”

Aiko terdiam. Salah satu sudut mulutnya terangkat, dengan mata yang menatap langit-langit kamar–memikirkan sesuatu, “ah, yang itu…” Aiko meletakkan sisir yang sempat di sangkutkannya pada gelung rambut–untaiannya mulai memanjang setelah melahirkan Kanata, “aku pun minta maaf,” ditatapnya lembut sang suami, dan kedua tangannya menggenggam tulang hasta kiri sang suami.

“Kko-chan, tanganmu lembab, lengannya basah,” Kengo refleks mengangkat lengan sang istri yang terbalut kain dari bajunya yang berwarna plum muda tersebut.
“Ah, iya, aku lupa menggulung bajunya saat mencuci tadi,” ujarnya polos.
“Gantilah bajunya. Ini malam, dan nanti kau bisa masuk angin,”
Tertawa kecil, Aiko menarik lengannya dari cengkram pria yang tengah berdiri di hadapannya, “tidak apa, Ken-Ken, hanya basah sedikit,”
“Tapi……”
“…..aku sudah terbiasa dengan hal ini,” dielusnya rahang kokoh pria yang menikahinya saat dirinya berusia 20 tersebut.

Dengus nafasnya tedengar, rasa mengalah ada dalam alirannya di udara.

Nee, sudah jam segini, kau masih berkutat dengan pekerjaanmu??” liriknya pada Laptop yang masih terbuka dengan berkas sinar terang yang menghantam tembok.
Kengo hanya bisa ikuta sang istri menatap laptop yang dibelinya 3 tahun lalu tersebut.
Aiko tersenyum. Dari rahang sang suami, tangannya turun membelai dada bidangnya, “…tidurlah, kubangunkan kau esok pagi. Jangan paksa dirimu untuk bekerja lebih keras lagi,” kecupnya lembut.

だれかのために生きること だれかの愛を受け入れること
[Untuk siapa dirimu hidup? Untuk siapa cinta yang kau terima?]

Kanagawa, November 9

Dirasakannya sinar mentari menggelitik kulit, dan angin dingin menggoda syarafnya yang menggigil untuk mengirimkan sinyal ke otaknya untuk segera bangun dari manisnya cumbuan kasur di pagi hari. Kengo berusaha sekuat tenaga untuk mengangkat kedua kelopak matanya–mendapat gambaran pagi yang cerah dengan kesan musim dingin yang mulai menyapa Jepang bagian timur.

Malas.

Semalam tak bermimpi. Terlalu lelah sepertinya. Membuatnya tak merasakan panjangnya malam yang terlewati saat ruh-nya terlelap. Dengan perpanjangan jari, diraihnya ponsel yang setia tidur di sisi kanannya. Lenguhan kasar terdengar dari mulutnya. Tenggorokan serak, karena kopi pagi yang belum ditenggaknya.
Satu ujung jemarinya membuka flip-ponsel. Menampangkan diital yang membentuk ’07:29′.
Menghela nafas panjang, Kengo membanting tubuhnya kambali pada buaian kasur empuk yang berlapiskan sprei biru laut. Menutup kembali kilau bronze gelapnya, dan kembali merangkai kenangan indah dalam memorinya.

Sampai dengan tiba-tiba matanya kembali terbuka dengan tubuh yang langsung menegak.

“Jam… setengah delapan!??”

あなたの夢がいつからが二人の夢に変わっていた
[Suatu hari mimpimu akan menjadi mimpi kita berdua,]

“Ka-chan, bilang ‘A’. Aaa~”

Dengan lengking tangis teko yang mengeluarkan asap, Aiko asyik menyuapi sang putra dengan nasi lembek yang dikukusnya bersama cincangan wortel dan pipil jagung manis tersebut. Pemandangan indah yang dihiasi hangat sinar matahari yang merembes dari serat kain gorden tipis berwarna orange tersebut. Semuanya nampak damai sampai….

—-GRUDUG! GRUDUG!

Terkejut dengan macam bunyi runtuhan tebing, Aiko terlonjak. Hampir saja semangkuk sarapan Kanata–hasil kerja kerasnya selama murni 2 jam–terbang dan mungkin akan terbuang sia-sia. Penasaran, dilongoknya lawang pintu yang dihiasi juntai anyaman kerang–pemberian sang ibu mertua.
Nampak sang suami tengah grasak-grusuk mondar-mandir dalam lingkup rumah yang tak seberapa luasnya tersebut. Panik, seperti mencari sesuatu.

Prihatin melihatnya demikian, Aiko memilih untuk menghampiri Kengo yang tak ubahnya seperti remaja di hari pertamanya masuk sekolah.

“Ken-Ken cari apa??” Aiko berjongkok di samping suami yang sedang grubugan membereskan kertas-kertas yang tak diminegerti oleh sang istri.
“Aku telat!”
“Bukankah Ken-Ken bilang jam 9?”
“Aku harus berangkat lebih awal!” berpindahlah Kengo ke arah rak sepatu.
“Tapi setidaknya Ken-Ken harus tenang. Agar tak ada yang tertinggal,” dirapihkannya jas yang teronggok di atas sofa ruang tamu.
“Aku harus buru-buru,” nampak tak peduli lagi, dimasukkannya asal seluruh kertas yang berserakan ke dalam suitcase-nya.
“Ken-Ken tak sarapan?” dipakaikannya jas Biru gelap tersebut pada tubuh Kengo.
“Ini sudah sangat terlambat,” Kengo bergegas menuju pintu.
“Sudah kubuatkan pancake kesukaanmu loh,”
“Simpan saja,”
“Kau bahkan tak memberi salam pada Ka-chan,”
“Itu urusan belakangan,”
“Bahkan padaku???”

–BLAM!

Pintu pun tertutup.

今日だっていつか大切な思い出
[Tapi suatu hari nanti, hari ini akan menjadi kenangan terpenting,]

Meeting hari ini ditutup dengan lancar. Semua keputusan dan rancangan materi financial terbarunya telak menang. Dan pekerjaan untuk sebulan ke depan pun sudah selesai atas bantuan Iseya yang sama begadangnya dengan sang atasan.

“Hari ini, kita bisa pulang cepat. Untuk masalah saham dan pengeluaran lain-lainnya kita kerjakan besok saja,” ujar Kengo dengan kembangan senyum di wajah. Berdua–pasangan senior akuntan ini tengah menyusun berkas meeting hari ini ke dalam suitcase mereka.
“Mau pergi ke warung oden?” tawar Kengo–hitung-hitung rasa terima kasih telah dibantu dibuatkan perincian awal bulan.
Iseya menggeleng, “maaf Sanchou, tapi aku harus pulang mencuci-baju dan membereskan apartemen. Orang tua-ku mau datang berkunjung Minggu besok,” sopan, ditolaknya tawaran sang atasan.
“Kau rajin juga dalam hal beres-beres,” ungkap Kengo. Entah memuji, atau mencibir.
Iseya tertawa. Menganggapnya sebagai guyonan belaka, “Sanchou enak sudah ada istri yang mengurusi segalanya,”

Sejenak, gerak jemarinya yang tengah menyortir kertas-kertas itu terhenti. Ada bayangan sang istri yang melintas dalam pikirannya.

“Terima kasih atas kerja kerasnya,” Kengo menutup laptopnya.
“Kengo-san juga,” Iseya telah siap dengan jas yang digantungkannya di bahu, “Oia, sanchou,”
“Hm?” responnya sembari memasukan laptopnya pada tas jinjing tipis dengan tambalan sulam sang istri di ujung resletingnya karena 2 minggu yang lalu jebol.
“… selamat ulang tahun,”
Kengo diam sejenak. Tanpa disadarinya dengan mulut sedikit mangap.

Bagaimana dia bisa lupa hari yang begitu penting baginya itu?

Dan sang istri, mengapa tak melakukan–setidaknya mengucapkan–sesuatu yang spesial?
Ah, ia lupa. Jangankan menyeruput kopi buatan Aiko, memberi salam pun tidak karena dirinya begitu terburu-buru meninggalkan rumah karena meeting hari ini.

“Ah…. terima kasih,”

つながれた右手は 誰よりも優しく
[Genggaman tangan kananmu lebih lembut lebih dari sesiapapun,]

Angin utara bersenandung merdu. Sayup suaranya membelai telinga.
Kengo terdiam menanti kereta kepulangannya ke stasiun Yokosuka.

—-DRRTT~ DRRTT~

Ponsel yang tengah terlelap di saku celananya bergetar. Menampilkan nama sang adik–Jun, di layar ponselnya. Tanpa pikir panjang dan menunggu nada deringnya untuk lebih lama bernyanyi, Kengo pun membuka flip ponselnya.

Otouto-kun
+819-xxx-xxxx-xx
video call
answer?

Oh, video call dari adik tercinta rupanya. Seribu tanya pun menggondrongi pikirannya? Apa yang membuat sang adik melakukan komunikasi berbasis video tersebut? Jarang sekali–hampir-hampir tak pernah malah. Seingatnya, terakhir ia melakukan video call dengan sang adik adalah saat Jun merengek untuk mengetes video call dari ponsel terbaru yang baru dibelinya di Akihabara dengan milik sang kakak tersebut.

Dipencetnya tombol ‘jawab’.

“LOVE, HAPPY BIRTHDAY”

Tulisan tersebut terpampang memenuhi datar lapis fiber plastik yang berjarak 30 cm dari kacamatanya. Jika saja ia tak ingat dimana ia berdiri, Kengo pastilah sudah terjungkal. Dirasanya bergidik bulu roma-nya. Merinding. Kok bisa-bisa nya sih, Jun melakukan hal ‘tak senonoh’ padanya macam ini?

4 detik kemudian, tulisan itu menyingkir dari pandangannya, lalu tergantikan oleh wajah sang istri. Syukurlah, ternyata orientasi seksual sang adik belum berpindah haluan.

“Ken-Ken, selamat ulang tahun~!” terdengar cempreng suara Aiko yang bergetar melalui speaker kanan-kiri benda ajaib yang baru berumur 1 tahun dalam genggamannya tersebut.
“Nee-chan! Ponselku!!” terdengar pekik suara sang adik yang sedikit tersebul kriting rambutnya di sudut layar.
“Sebentar! Aku sedang berbicara!” terdengar galak jawab dari kakak iparnya.

Kasihan Jun, dapat kakak ipar yang ganas,” pelas Kengo diam-diam dalam hati.

“Ku pinjam ponsel Matsun, jadi… maaf ya,” Aiko terlihat tanpa raut bersalah.
Kengo sedikit tertawa, “tak apa. biar aku yang membayar abodemennya bulan ini,” hatinya berkembang menjadi buket bunga yang tumpah ruah, “terima kasih Kko-chan, aku mencintaimu,”
Senyum sang istri berikan sebagai balasan, “… cepat pulang, karena aku masak banyak untukmu. Hati-hati di jalan,”

愛してるって伝えたくて あなたに伝えたくて
[Kukatakan ‘aku mencintaimu’, kepadamu kukatakan ‘aku mencintaimu’]

“Aku pulang,”

Dilihatnya sepatu hitam berbahan kulit teronggok manis di deretan sendal sang istri, begitu dirinya memasuki rumah.

“Jun,” duganya pada si pemilik sepatu tersebut.

Lalu, Kengo pun melepasa sepatunya. Ditelanjanginya telapak kaki itu dari kaus kaki satu persatu. Saat melepas kain berwarna hitam tersebut, matanya menangkap sesosok tubuh mendekati dirinya.

“Okaeri,”

Dan sosok sang istri-lah yang menyambutnya di muka pintu.
Teringat akan video-call yang tadi, dipeluknya sang istri yang dirasa tak jauh beda ukuran tubuhnya sedari zaman bangku sekolah menengah atas. Ditempelkan senyumnya, dan menyesap aroma shampoo yang mengalir dibalik celah gerai rambut lurus Aiko.

“Selamat ulang tahun, sensei…” kecupnya mesra. Dipanggilnya sang suami dengan panggilan sewaktu masih pacaran.
“Kau membuatku makin muda walau aku sendiri tak yakin,” balasnya dengan kecupan di kening yang sebatas dagunya tersebut. Lalu kembali duduk dengan membuka komputer jinjingnya.
“Masuklah, segera ganti baju. Aku sudah banyak masak makanan kesukaanmu,”

Mereka berdua melangkah ke dalam ruangan bernuansa hangat dimana Kengo merancangnya untuk menjadi tempat berkumpul seluruh anggota keluarganya–Ruang Makan.

“Hoo, Nii-san….” cengir Jun lebar dengan tempura udang yang nyelip diantara sela giginya. Terlihat najis di mata sang kakak begitu dirinya memasuki ruangan beraroma rebusan–sang istri baru saja membuatkan sukiyaki kesukaannya.
“Ingat Kanagawa rupanya,” sindir Kengo atas frekuensi kedatangan sang adik yang terhitung berjangka 1 tahun dari kunjungan terakhirnya.
“Hei, berbahagialah. Aku datang membawakan hadiah ulang tahun untukmu,”
“Paling hanya dompet murahan yang kau beli di Shibuya,”
“Kau lupa kalau adikmu ini konselor perjalanan??”
“Aku bahkan lupa punya adik,”

“Hei, hei, sudahlah. Aku sudah menyiapkan makan malam yang enak. Tolong hentikan perang mulut konyol kalian,” sela Aiko yang datang TEPAT ditengah-tengah mereka.

Kengo bersigap diam. Mengakhiri pertengkaran dengan sang adik. Dirasanya pertambahan usia kali ini tak selayaknya diwarnai dengan kerutan baru di wajah. Jun mengalah. Ia pergi dari meja makan.
Tak peduli dengan sang adik, Kengo menyambar sumpitnya. Mantra semacam doa sebelum makan pun dirapalnya. Namun kemudian…

“Mana Kanata??” tanyanya pada sang istri di pertengahan doa.
Aiko hanya tersenyum simpul, dengan makna yang tak bisa di terjemahkan apa maksudnya.

Sebelum sempat bertanya apa yan tersimpan dibalik sungging bibir sang istri, Kengo keburu menangkap sosok mungil yang berjalan dari lawan pintu ruang makan, dengan Jun yang membimbing setiap langkah mungilnya. Membawa sebuah cake mungil dengan hiasan lilin yang berpendar di sekelilingnya.
Itu adalah sang anak yang tengah menguntai langkah pertamanya memijak tanah.

“Ttou….schan….” makhluk mungil itu memanggilnya.

Senyumnya terkembang. Sungguh, hatinya dicuri oleh si pipi tembem itu.
Mungil. Jika diukur mungkin hanya setinggi lututnya. Makhluk mungil yang mencuri sebagian cinta dan pengorbanan hidupnya tersebut. Setelah menyingkirkan cake ulang tahunnya tehun ini dari kedua tangan sang anak, diangkatnya tubuh sang anak. Membumbung tinggi. Lalu didekapnya erat. Menumpahi dadanya dengan kebahagiaan terbesar.

“Tahun ini pun… terima kasih,”

思い合うことに 幸せを あなたと見つ けていけたら
[Kita saling memikirkan kebahagiaan, jika aku bisa memperlihatkannya padamu…]

“Setidaknya, tutuplah sejenak laptop-mu. Ini malam, kau baru saja pulang kerja, dan ini hari ulang tahun-mu,” ceramah Aiko saat melihat Kengo kembali asyik dengan lembar pekerjaan yang terpampang di monitor-nya itu.
“Sebentar saja, aku ingin mengecek e-mail sejenak,” fokus retina-nya tertuju pada deretan kanji. Mengabaikan perhatiannya pada suara ribut Jun yang menggoda Kanata habis-habisan dengan mengambil seluruh jatah kue manis untuk si kecil.

“Matsun! Taruh kue-nya, atau kau akan ku botaki!”
“Kyaa! Nee-chan! Jangan rambut-ku~!!” pekik Jun panik.
“Jangan lebay! Berikan piringnya!” selagi meraih Jun yang berjarak setengah panjang tubuhnya, Aiko menyenggol gelas yang berisi air putih. Secara diagonal jatuh dan tak sengaja membasahi deret keyboard laptop sang suami.

–PET!

Dan laptop pun mati seketika.

今輝いているんだ
[Dan sekarang, bersinar…]

“Tidak apa, sayangku… itu hanya sebuah laptop,”

Sudah ke 48 kalinya dalam jangka 3 jam selesai insiden laptop-nya konslet, Aiko terus meminta maaf atas meninggalnya laptop butut Kengo yang berusia 4 tahun tersebut.

“Tapi, tapi, tapi, di dalamnya kan banyak pekerjaanmu…” terdengar putus asa dari suaranya, “… bagaimana kalau kau dipecat gara-gara aku??”
“Hsh! Sudah… aku sudah meminta Jun untuk mereparasi-nya–kalau bisa beli baru, jadi Kko-chan tenang saja ya,”
“Tapi…”

Didekapnya sang istri demi menghentikan derai kata maaf, “terkadang kau bawel sekali ya?” dirasa pinggangnya menghangat–Aiko tengah membalas pelukannya, “menurutmu, apakah lebih baik kehilangan kalung kesayanganmu itu, atau diriku?”
Sontak Aiko melepaskan diri dari dekap sang suami, “Ken-Ken bodoh apa?! Ya tentu saja aku lebih memilih kehilangan kalung ini dari pada dirimu,”
Kengo tersenyum. Didekapnya lagi sang istri, “…begitupun diriku. Lebih baik aku mengorbankan laptop itu, dari pada aku harus kehilangan dirimu,”
“Tapi itu…”
“Intinya, lebih baik kehilangan laptop itu ketimbang dirimu, titik.”

Aiko diam. Kata-katanya beku di lidah. Kelu. Tak lagi mengalir selayaknya keringat di musim panas. Tatapannya mengadah, menangkap iris coklat sang suami.

“Terima kasih Kko-chan… aku sampai detik ini bukanlah apa-apa tanpa dirimu,”

Aiko tak membalas. Ia sibuk menyumputkan wajahnya dalam dada Kengo. Malu. Semburat merah sudah menjalar hingga ke telinga.

Nee, kenapa kau menyembunyikan wajahmu??” Kengo mengangkat paksa wajah sang istri demi melihat ke dalam bola matanya.
“Tidak, hanya saja…” Aiko menahan kedua tangan sang suami yang mengangkat dagunya, untuk sedikit melonggar, “… Ken-Ken sangat keren saat mengatakannya,”
Kengo melongo. Tak percaya dengan ucapan sang istri.
“Apa?? Sekali lagi?” Keno menyurukkan alat pendengarannya.
“Kyaa! Maluu~!!”
“Aku ingin mendengarnya lagii~ Katakanlah sekali lagi~” pintanya dengan sedikit mengoda Aiko yang sibuk melepaskan diri darinya.
“Diam! Atau ku tidak beri jatah malam ini!”
“He? Kko-chan jahat! Bisa-bisanya mengurangi jatah!”

Dan mungkin itulah awal kisah dimana Ryoutarou lahir…

信じたこの道を 確かめていくのに
[Kita akan terus mempercayai jalan ini…]

==============================

Atogami:

Inilah kisah pendek yang saya buat setelah menggorok 4 kambing kesayangan saya. Hiks #curcol.
Untuk sekedar info kalau #9Nov jadi TrendingTopic di Twitter. SESUATU banjet.


Alhamdulilah ya, ulang tahun Kengo jadi Trending Topic…

Dedicated to:


My Dearest Ohkuchi Kengo
Selamat menempuh usia 30 tahun. Tetaplah dirimu. Tetaplah tersenyum. Terima kasih untuk 3 tahun ini…
Aishitemasu.

My Lovely Readers
Terima kasih untuk selalu mendukung dan menyemangati saya. Sampai sini pun, saya masih berjuang! GANBARIMASU!

Pak Firdin–Guru Ticketing Tercinta
Jika bapak bertanya siapa lelaki idaman saya? Inilah pak, makhluknya *tunjuk Kengo*

current song: Saykoji – Kecoa Ngesot
current mood: Lapeeerr
location: Home desu!

-Owarou-