Title: Aishite, Aishiteru, Aishi Sugita…
Author: Asagawa Aihara
Series: Atashi-tachi no Kazoku
Genre: Angst, Alternative Universe
Rating: PG-13
Theme Song: flumpool – Zanzou
Current mood: Dizzy

__________________________________________

Maegami:

Minna! Back again with me, the most awesome author of the year! #plakk! Aiko!!
Mengenai fic ini… saya tak mampu berkomentar apa-apa. Yang jelas hancur, karena keyboard saya mandet di huruf ‘G’. Jadi, bila kalian menemukan ketikan yang kurang huruf ‘G’, tambahkan sendiri #buagh!
Dan, saya tengah didera UTS saat proses fic kedua ini berjalan. Menderitanya saya.. Hiks…
Tadinya niat launch tanggal 27 Sept, memperingati hari pernikahan saya dan Kengo #direbus, tapi berhubung UTS di depan mata, dan pekerjaan yang menumpuk tak bisa ditolelir, jadilah ngaret sampai tanggal segini..

*Tuhan maafkan aku,*

Persembahan untuk Kengo tercinta, dan… siapa yak yang lagi ulang tahun? whatever lah. Juga persembahan untuk yang berulang tahun hari ini.

Jaa, maaf sudah banyak ‘bernyanyi’,

DOUZO OTANOSHIMISHITE KUDASAI!

夢が終わり目覚めるように
[Seperti terbangun dari mimpi yang berakhir…]

“Aiko-chan… Jadilah Ibu dari anak-anakku kelak,”
“Se… Sensei??”
“Menikahlah denganku…”
“Sensei pasti tahu jawabanku… aku bersedia hidup bersama Sensei,”

Sayup, didengarnya selerek tirai yang dibuka. Bau pagi segera menyergap indra penciumannya. Matanya terbuka separuh, memastikan siapa yang membuat suara macam itu. Mimpi semalam membuatnya masih tak bisa membedakan kenyataan hari ini.
Nampak sesosok yang tengah mengikatkan vitrage pada dinding, agar angin bulan April bebas berkeliaran mengisi ruang.

“Kko-chan?” Kengo–32 tahun–nampak mengenali.

Sosok itu berbalik arah–menghadapnya. Berdebar, Kengo berharap permohonannya semalam terkabul. Tanpa firasat, tanpa tanda-tanda yang harus dicarinya di buku primbon atau search engine.
Sosok tersebut dengan sigap menghampiri dirinya. Menubruk tubuhnya, sehingga menyebabkan sebagian kasurnya melesak jauh ke dalam, dan tubuhnya oleng.

Ttou-san, cepatlah bangun~! Hari ini kita akan berangkat ke rumah Baa-chan kan~? Ne? Ne?”

Dan suara itu, terdengar seperti….
“… Kanata??” Kengo mengernyitkan alisnya. Mengerjap kedua matanya berkali-kali demi membiaskan sinar matahari yang dengan angkuhnya menusuk retina. Jantungnya berdegup kencang. Cukup ektsrim juga dibangunkan dengan cara seperti ini. Belum selesai ia mengatur nafas, dirasakannya kerut harus di ujung kakinya.
Sedikit memanjangkan leher melalui pundak Kanata–6 tahun, Kengo mencoba melihat siapa yang tengah membuat telapak kakinya itu merasakan sensasi rasa geli.

Ttou-san…”

Dan si kecil Ryu–3 tahun, tengah khusuk mengerut bidang kasar ujung kakinya itu dengan lentik jemari tangannya yang masih kecil.

Ttou-san, ayooo~ kita berangkat ke rumah Baa-chan~!” lagi, rajukan Kanata belum selesai.
“Rumah Baa-chan? Kagoshima?” Kengo mengerutkan alisnya. Ia tidak mengerti apa yang tengah terjadi antara mereka bertiga sepagi ini.

—ITTAAI~!!

Sebelum menjawab rajukan si sulung, Kengo keburu berjengit karena perih yang dirasa betisnya—Ryuu baru saja sukses mencabut bulu kakinya. Kengo sibuk mengelus kulit yang baru saja memerah tersebut, “sakit sayang…” ujarnya melas sembari menggendong si bungsu dan mengajaknya tidur kembali.

Gemas dengan sang ayah, Kanata segera menunjuk koper kecil yang tengah bersandar manis di salah satu sudut kamar sang ayah. Kengo baru menepuk jidat, semalam dirinya telah berjanji untuk membawa dua buah hatinya ke Kagoshima–tanah kelahiran-nya sekaligus tempat dimana Ibu mereka dimakamkan.

“Ah, hari ini kita ke Kagoshima ya?” Kengo mengurut dahinya–semalam, Kime–sang Ibu–baru saja bernyanyi melalui seberang ponselnya. Seperti anak kecil, merajuk agar mereka cepat mengunjungi tanah kelahirannya itu, “saa, kalian mandilah terlebih dahulu”

Dengan riang, Kanata menyeret sang adik untuk segera memenuhi tuntutan sang Ayah–mandi, agar mereka segera berangkat menyusuri lekuk indah jalan di Kagoshima, dan berjumpa dengan orkestra laut yang berharmonisasi dengan langit sore–sesuai cerita sang ayah semalam.

Lenguh desah mengalir, hari ini perjalanan akan dimulai.

“Aku rasa, aku akan menemui mertuaku dulu,” gumamnya sembari mengusap tengkuknya–salah bantal sepertinya tidur semalam.

Sudah 3 tahun semenjak keperian sang istri. Dan setiap bulan April–hari peringatan kematiannya, mereka bertiga pasti akan pergi ke Kagoshima untuk sekedar menyiram dan membersihkan makam. Dan kebetulan ini tengah libur musim semi.
Kengo tersenyum. Ketir. Sebuah memori bak film terputar dalam otaknya.
Dimana saat dirinya bersungguh-sungguh bersimpuh di hadapan sang ayah mertua untuk memakamkan sang istri di komplek pemakaman keluarganya di tanah Kyushu tersebut.

Lengkung tipis mewarnai wajahnya…

忘れる事で 人は進んでくんだろう
[Apakah orang melangkah dari hal yang dilupakannya?]

“Kaa-san, hari ini aku akan mengunjungi Ai,”

Sebelum meneruskan perjalanan ke daerah Kyushu tersebut, Kengo memilih untuk pamit dengan sang mertua yang tinggal di Tokyo itu.
Kebetulan yang menerima pamitnya adalah Harumi–49 tahun,sementara Yuichi—52 tahun, sibuk menenuhi keinginan para cucunya untuk bermain kuda-kudaan.
“Kaa-san mau titip apa?” pertanyaan wajib yan selalu dilontarkannya kala hendak pergi jauh.
Sejurus, Harumi tersenyum, “sampaikan salamku pada ibumu ya,”
Kengo mengangguk.

Tak perlu berlama-lama dirinya terhanyut dalam pikirannya sendiri, lengan bajunya dirasa menerut–ditarik. Tampak di sisinya Ryuu–berlendot manja dengan tatapan ‘ayah-pangku-aku’.
Luluh, Kengo segera mengangkat tubuh bocah 3 tahun tersebut, ke pangkuannya.
“Ah, iya, aku hampir lupa,” spontan, Harumi bergumam sendiri, lalu meningalkan mereka berduaan dalam ruang tamu bernuansa coklat tersebut–warna kesukaan sang kepala keluarga Tsuchiya.

Ttou-san, jadi berangkat tidak?”

Sedetik kemudian, datanglah si sulung–disertai dengan backsound rintihan sang kakek yang meratapi pinggangnya.
“Iya, tunggu sebentar ya,” jemari besarnya mengelus untai rambut lurus sang anak–warisan Aiko.

“Ini, untuk kalian,” tanpa disadari, Harumi sudah bergabung kembali dengan mereka–disertai dengan Yuichi yang mengekor dibelakangnya.
Kengo menatap kotak–sejenis bentou–berwarna hitam kombinasi merah bercorak ajisai tersebut. Lalu, dilemparkannya fokus pada sang papah mertua yan tengah sibuk mengurut pingganggnya yang sudah berusia 52 tahun tersebut–akibat ulah kedua anaknya.
“Papah? Apa kabar?” sapanya tak berubah–masih sama sejak ia masih berpacaran dengan sang istri.
Yang ditanya langsung manyun, “biasakan memanggilku Ttou-sama, terlebih di depan anak-anakmu!”
Kengo terkekeh–pikirannya bernostalgia secara otomatis.

“Ini kue manju yang baru kubuat pagi ini,” terang Harumi pada kotak yang disodorkannya tadi, “untuk bekal kalian di jalan,”
Senyum Kanata mengembang cerah dengan memeluk kotak yan terbuat dari kayu tersebut. Manju adalah jenis kue kesukaan si sulung.
“dan… ini, berikan pada ibumu,” senyumnya sembari menyodorkan sekantung kresek putih–entah apa di dalamnya, “… ini jeruk Tokyo, hasil panen kakak ipar-mu kemarin,”
“Sota-kun?” Kengo menerima bungkusan tersebut.
“Walaupun begitu, pohonnya tetap milikku,” grumble Yuichi dengan bibir maju 5 centi.
Kengo hanya tersenyum simpul, “baik Papah, terima kasih ya…”

Yuichi sedikit berdeham. Usia telah membuat tenggorokannya sering serak.
“Kengo-kun,” Harumi memanggil satu-satunya menantu pria dalam keluarganya itu.
“Ya, Kaa-san,” spontan, Kengo menegakan posisi duduk.
“Kami telah mengatakannya berulang kali,” sang kepala keluarga Tsuchiya yang kini buka suara, “kami telah mengizinkanmu untuk menikah lagi. Demi Ryuu, demi Kanata. Mereka butuh seorang ibu,”
Tertunduk, Kengo menyunggingkan bibirnya. Jemarinya tak henti mengelus kepala si bungsu.

“Ttou-san,” dengan yakin Kengo menatap kedua mertuanya secara bergantian, “Kaa-san, aku telah memilih jalan terbaik,”
Harumi melempar pandang pada sang suami.
“Jadi, tidak apa, kami akan bertahan dengan Aiko di hati,”
Yuichi yang menghela nafas, “tapi, jika satu saat kau menemukan sosok ibu untuk anak-anakmu, kami sudah mengizinkanmu,”

“Terima kasih, Ttou-san,”

それを許さないような出会いを 片方で望みながら
[Itu adalah pertemuan tak termaafkan, dengan harapan disatu sisi..]

April, 7th

“Kanata, bisa membawa airnya?” tanya Kengo sembari menggenggam lengan si bungsu yang nampak kerepotan membawa buket bunga yang lebih lebar dari pundak-nya.
Un, bisa,” jawabnya sembari menggeret ember kayu yang setinggi betisnya.
“Jika tidak kuat, lebih baik taruh saja embernya,” di belakang, Kime-hime–sang nenek, menjaga sang cucu karena jalan yan dilalui adalah tanjakan bukit.

Kedatangan mereka di tanah Kagoshima adalah kemarin, di saat bertepatan hari ulang tahun Ryuu, dan peringatan kematian sang istri. Namun, hari sudah terlanjur malam, dan si bungsu sudah merajuk untuk segera ditemani tidur.

Jaa, Ryuu, bisa taruh bunganya di situ?” pinta sang Ayah saat makam Aiko terlihat di pelupuk mata.
Dengan mengangguk, bungsu yan baru saja memulai pendidikan pra-tk nya di sebuah penitipan anak ini pun langsung menguntai langkah cepat. Berlari menuju horizon pembatas cakrawala.
Tak mau kalah, sang kakak pun melakukan hal serupa.
“Ka-chan~! Hati-hati!” dipastikan teriakan sang nenek akan terdengar di celah udara.

Namun Kanata malah tertawa riang. Mengisi angin dengan gelak tawa kemenangan karena dirinya baru saja berhasil mengalahkan sang adik.
Kime nyerah. Tubuhnya tak lagi kuat menyaingi kelincahan putra putranya itu. Sudah renta.

Alir air mengaliri sulur-sulur batu yang bercelah, dengan tekun, Kanata menuang segayung demi gayung air yang dibawanya dalam wadah kayu tersebut, dan Ryuu baru saja selesai menaruh rangkaian bunga carnation berwarna pink tersebut–lambang dari ketulusan hati seorang wanita.

Jaa, saatnya berdoa,” ujar Kengo yang membuat kedua buah hatinya ini menghentikan aktivitasnya.
Mereka berjajar. Dengan dewasa yang mengapit. Kengo-Ryuu-Kanata-Kime.
Selaras, kedua tangan mereka ditelungkupkan satu sama lain.
“Kaa-san, Kanata kangen…” si sulung menunduk dalam-dalam.
“Kaa-san, cepat bangun, Ryuu ingin beltemu,” dengan logat cadelnya, Ryuu merajut harap.
“Terima kasih sudah membuat Ken-ken se-serius ini,”
“Kko-chan, bantu aku menjaga anak-anak…”

変した約束を残した傷跡も
[Janji yang berubah, luka yang tertinggal…]

Angin sore membelai bukit. Hangat mentari masih tersisa di ujung senja.
Dipandangi oleh Kengo kedua putranya tengah bergelung dalam juntai rumput ilalang penghias bukit. Kanata yang tanpa mempedulikan baju putihnya yang baru dicuci oleh sang ayah, asyik bercumbu dengan belalang-belalang, dan Ryuu yang tengah sibuk menghalau kumbang-kumbang musim semi dari sosok sang nenek yang tengah khusyuk mengirimkan do’a untuk sang mendiang suami–Eiji, yang telah mendahuluinya 2 tahun yang lalu.

Hela nafasnya menguar.

“Kko-chan, tahun ini, Kanata akan masuk sekolah dasar…” dirinya memulai cerita. Takkan bisa bercerita panjang lebar jika ada orang lain di dekatnya, “… aku memilihkan sekolah dekat rumah. Dan Ryuu… Jun berencana akan membawanya tinggal bersama di London,”
Tertunduk, Kengo menguntai kata-kata selanjutnya, “… entah kau akan setuju atau tidak, tapi…” ucapannya terhenti saat menyadari sesuatu mengaburkan pandangannya.
Dilepaskannya kaca mata yang setia bertengger di hidungnya itu. Saat diseka dengan siku jarinya, itu adalah bulir airmata, “Kko-chan, aku semakin melemah…”

抱きしめた記憶を 消す術を持たず
[Kenangan yang kudekap, dan kugenggam makna yang menghilang,]

Senja yang hangat membungkus Kagoshima dengan keangkuhan merahnya. Musim panas akan segera datang dengan munculnya gugus bintang di langit timur yang masih ternoda orange–bekas ciuman sore.

Kengo tengah mengamati bersantai menggumul tapal batas hari dengan kedua anaknya yang sibuk bermain dengan kusudama buatan sang nenek yang akhir-akhir ini mulai banyak memiliki waktu luang. Senyum tipis terpasang diwajahnya, hatinya menghangat.

“Ka-chan~! Ryu-chan~! Ini sorbet jeruknya~”
Kime berujar riang membawa nampan berisi 2 pasang gelas berisi es krim orange tersebut. Membuat cucu-cucunya menoleh ke belakang–ingin tahu apa yang tengah terjadi.

“ASSIIKK!” dan kedua cucunya berujar riang. Kengo mengernyitkan keningnya sejenak, “huh? memangnya, di sini sedang panen jeruk?”
Kime menggeleng-geleng. Prihatin. “Ken-ken sayang, kau lupa akan jeruk titipan Ibu mertua-mu dari Tokyo?”
Kengo melengos. Ingin menepuk jidat, tapi kedua tangannya sudah pewe menyangga tubuhnya.

Usia kepala tiga memang tidak muda untuk seorang akuntan. Terlebih dirinya yang mulai berjibaku dengan angka-angka laknat tersebut mulai dari 12 tahun yang lalu. Mungkin daya ingatnya menipis. Mungkin kinerja otaknya menurun. Mungkin.

—DRRTT! DDRRTT!

Ponsel legamnnya bergetar dari meja ruang tengah.

Kime cemberut, “sudah kubilang, ponselmu matikan saja kalau sedang liburan! Mengganggu saja,” sungutnya.
Kengo berjingkat, “masalahnya, aku ambil cuti saat high season di Kanagawa,” lalu menghilang dibalik tirai kerang rajutan sang bunda.

“Apa itu high-season? Musim kawin?”

古ぼけた写真が色褪せるように 心は出来てなくても
[Foto tua yang mulai memudar, hatiku tak siap untuk itu,]

Kataoka Sanchou
08-09-XXX-XXX-XX
calling…

Sudah dipastikan Kengo harus mengangkatnya. Panggilan dari atasannya itu fardu untuk diangkat kalau ia masih ingin menghidupi kedua anaknya.

“Kenapa Sanchou?”
“Kau bisa datang besok?”
“He? Aku… Aku…”
“Ya ya, kau sedang cuti, aku tahu itu. Tapi bisakah barang dua hari kau di Kanagawa mulai besok?”
“Sepertinya darurat,” Kengo mengelus jenggotnya yang tak pernah panjang tersebut.
“Bos pemilik saham akan datang untuk melihat laporan keuangan, dan satu-satunya orang yang bisa diandalkan hanya dirimu,”
“Iseya??” Kengo memaksudkan asistennya itu.
“Dia tak mengerti mengapa selisih kuartal 5 dengan kuartal 6 itu kurang dari 2.387.459 yen,”

Kengo menghela nafas. Menimbulkan suara ‘kresek-kresek‘ di line seberang milik sang manager keuangan.

“Baiklah sanchou. Semoga dengan kereta perta….”
“Kau akan diberikan tiket pesawat,”
“WHUT?”
“…. tunjukan pesan yang akan ku kirim nanti pada petugas bandara, maka malam ini juga, jam 9, kau akan terbang kembali ke Kanagawa,”
Sanchou sugoi ne…

誰もが 涙を知る事で 大人になる
[Siapapun yang mengetahui airmata, menjadi dewasa,]

“Maafkan aku,” seperti saat meminta restu untuk mengambil beasiswa untuk kuliah di New York, Kengo bersimpuh memohon izin sang Ibu.
Kime mayem. Bete. Sudah dibilang dari kunjungan awal, kalau liburan, ponsel harus dimatikan–dibuang ke laut jika rela. Kalau mengabaikan wejangannya, jadinya seperti ini, “berapa lama?”
“Dua hari saja, Kaa-chan….” melasnya dengan menyebut panggilan manja pada sang Ibu.
“Anak-anak?”
“Maka itu, kumohon… kutitipkan anak-anak selama aku kembali ke Kanagawa,”

Mau ngambek juga, ngambek gimana…

“Ya sudah. Berangkatlah saat Ryu dan Ka-chan terlelap nanti. Supaya mereka tidak terlalu rewel,”
“Kaa-chan baik deh!”
“Sejak kapan kau jadi jago merayu? Mengingatkanku pada papahmu saja…”

それが今だとして
[Jika saat itu adalah sekarang,]

April 8th,

“Akhir-akhir ini, Yen mengalami situasi yang membingungkan. Naik-turunnya tak dapat diprediksikan,” Murakami–sang pemilik saham–menyulut cerutu.
Asap membumbung dalam ruangan.
Meeting baru saja usai. Menyisakan Kengo dengan sang milyuner pemilik saham tempat Bank-nya bekerja itu.

Tersenyum Kengo menanggapi, “selebihnya, akan kami pantau terus pergerakan dolar dan yen untuk menyelaraskan profit keuangan kita,”
Asap kembali mengisi ruangan. Rokok khas Inggris tersebut memendek, “untuk masalah info selanjutnya, kuserahkan pada sekretarisku. Mulai hari ini, ia yang akan menanganinya untukku. Aku, akan pergi ke Eropa untuk satu minggu,”

“Jika saham menurun, maka sayang sekali…” satu hela asap membumbung lagi, “… aku tak ingin ambil resiko…”

また一歩踏み出して
[Akan kuambil satu langkah ke depan,]

Hari ini penuh dengan perasaan yang mengganjal.
Makan siang yang dibelikan Iseya–sang assisten, mulai mendingin. Uap panas tak lagi keluar dari nasi kare instant buatan orang yang telah bekerjasama dengannya lebih dari satu dasawarsa tersebut.
Dasi yang sedari pagi bertengger melingkari bahunya, melonggar. Sedari tadi, ditarik-tariknya karena gerah. Hormon mungkin meningkat karena gelisah.

Tak betah, Kengo membawa cangkir kopinya keluar ruangan. Mudah-mudahan, angin menyapu beban pikirannya di sore hari ini. Kanagawa sore ini tak terlalu ramai. Orang-orang berjalan dengan ritme yang tenang.
Awan berarak pelan melintasi atas kepalanya.

“Kita dalam situasi krisis. Segi keuangan dalam perbankan tak lagi bisa diharapkan. Siang ini juga kau harus memantau pergerakan saham kita di Tokyo. Itulah satu-satunya harapan perusahaan,”

Perintah sang bos pun terus memutar dalam otaknya, bagai lagu lama yan menjadikannya nostalgic.

“Takigawa-san,” sebuah tepukan halus mendarat di pundaknya.
Sang assisten ternyata yan berdiri hampir sejajar dengannya itu.
“Tak baik jika berangkat ke Tokyo nanti dengan perut kosong,” ujarnya.
Senyum tipis sebagai balasan Kengo untuk perhatian Iseya tersebut, “terima kasih,”
“Tidak baik menduga hal-hal negatif. Kita harus tetap optimis,” nasihatnya, “saa, makan sianglah dulu,”

伝えよう永く伸びた足跡を振り返って
[Akan kuceritakan setelah ku kembali merentangkan jejak kaki ku yang panjang]

Hari ini melelahkan. Lebih baik mengajak anak-anaknya berlari mengitari pantai Kagoshima, ketimbang melihat angka-angka yang tak sedikit jumlahnya itu bergumul di index pasar dunia.

Rasa rindu akan kedua buah hatinya pun timbul. Menyasar tempat tidur, dicari ponselnya yang berwarna hitam mengkilap. Dicarinya nomor telepon rumah yang sudah tidak ditempatinya secara permanen sejak tiga belas tahun lalu itu.

“Ryuu sedang tidur, Ka-chan baru saja selesai membantuku merajut,” terdengar suara sang ibu dari line, “jadi, pulang besok?” lanjutnya.
Desahan mengisi jeda diantara percakapan mereka, “seperti ya aku akan lebih lama di Kanagawa,”
“Kenapa?”
“Profit perusahaan nampaknya semakin menurun,”

Terasa olehnya sang ibu terdiam. Hening begitu lama.
“Cepatlah pulang jika semua urusanmu sudah selesai, aku bingung harus mengarang cerita apalagi pada Ryuu,”

あのドアを開けて
[Dan kubuka pintu itu,]

Sendirian dalam rumah yang ditinggali bersama keluarganya itu terasa sepi. Terlebih kenangan dengan istrinya menyergapnya lebih hebat dalam sebelumnya.

“Sejak kapan baju kotor berserakan begini?”
“Wajarlah, rumah ini kan tanpa sentuhan wanita,”
“Setidaknya, Ken-Ken harus belajar rapi dan bersih. Minimal agar tidak malu jika nanti ada yang datang bertamu,”
“Semua tamu-ku itu cuma teman-temanku,”
“Tapi nantinya, kita akan menyambut Chichi dan Haha, juga orang tua-ku, terlebih jika gurunya anak-anak kita datang, atau pun atasanmu,”
“Istriku cerewet banget sih?”
“Ken-Ken juga, lebih cerewet malah,”

Matanya terbuka. Tanpa sadar, barusan ia terlelap.
Kenangan masa lalu kembali menelusup dalam mimpinya. Kenangan saat pertama kali Kengo membawa sang istri untuk menempati rumah ini berdua. Pertama kali Aiko menginjakkan kakinya di tempat ini, dan komentar pedas saat melihat ‘tabiat laki-laki malas’ di setiap sudut rumahnya.

Kengo masih ingat, apa yang dikatakan sang istri tentang kebiasaannya menaruh handuk basah di kasur. Bahkan masih terekam baik dalam ingatannya sosok sang istri yang langsung membereskan rumahnya, tanpa sempat membongkar packing-an hasil pindah rumahnya tersebut.

Tanpa disadarinya, kini ia bisa lebih mengatur rumahnya. Menaruh handuk basah pada jemuran–sempat tak sempat, menyuruh anak-anaknya mengumpulkan baju kotor, dan bekerja sama dalam menjemur kasur seminggu sekali.

“Aku harap Kko-chan ada di sini. Sekali lagi,”

良かったんだと告げるその一瞬まで、
[Mengatakan bahwa aku bersyukur sampai pada saat itu,]

April 9th,

Harga index saham gabungan Nikkei turun merosot dikarenakan dolar yang tidak stabil. Ditutup pada poin terlemah, jam 10 pagi.

“Bank kita telah banyak merugi,” Kataoka mengurut keningnya yang tak lagi kencang.
Kengo terdiam. Kemungkinan terburuk adalah gajinya bulan ini takkan dibayar.
“Dan bank kita telah melepas begitu banyak saham,”
Walau kadang Kataoka ingin sekali ia masukkan dalam list pertama di death note-nya, tapi sedih juga melihat kakek duda ini diambang depresi.
Satu helaan berat menguar. Mungkin inilah akhir dari kata-kata yang ngalor-ngidul barusan.

“Maaf Kengo, kau harus diistirahatkan dari perusahaan ini,”

Perkiraan yang lebih buruk dari perkiraan paling buruknya.
Kengo mangap. Ingin ngomong tapi ia lupa kata-katanya mental. Kenyataan melumpuhkan syarafnya.

“Maaf, perusahaan hanya bisa membayarmu segini,” sebuah amplop tersodor.

Tak hanya dirinya. Iseya pun mengucapkan salam terakhirnya, dan langsung berencana pulang ke tanah kelahirannya di Hakodate, Sapporo. Merintis usaha keluarga sebagai pemilik penginapan kecil di kaki bukit sana.

Sedang dirinya apa?

Setelah ini tak ada lagi yang bisa dipikirkannya kecuali masa depan anak-anaknya. Setelah ini, apa yang harus dilakukannya demi kedua putranya itu?
Pulang ke Kagoshima? Untuk apa? Otomatis ia harus menjadi entrepeneur mandiri jika pulang ke kampung halamannya itu. Dan pengalaman hidupnya sebesar 80 persen hanya sebagai akuntan, sedang sisanya menjadi ayah dan suami yang baik, dan sebagai guru akuntan–pilihan pekerjaan yang tak lagi ingin dipilihnya karena pusing dengan sikap murid-murid yang menjadikannya seperti guru konsul ketimbang guru akuntansi.

Di tengah perang dengan batinnya itu, Kengo menyempatkan diri mengecek tabungannya.
Masih tersisa sedikit uang untuk membiayai hidup mereka sampai akhir bulan ini. Kengo tak biasa memikirkan hidup esok hari, ia paling dekat mencanangkan keuangan untuk sebulan kedepan. Tapi kali ini ia harus memikirkan hidup keluarganya untuk esok hari.

“Apa aku harus meminta tolong pada Jun? Atau meminjam uang pada Harumi Kaa-san? Ah, jangan… aku telah mengambil anak bungsunya, masa kini ingin merepotkan mereka lagi? Atau…”

Saat pikirannya terbanjiri pertanyaan gamang, ponsel di saku-nya bergetar. Nampak kontak nomor dari Kagoshima yang terpampang di monitor mungilnya.

“Ya, Kaa-chan?”
“Ken-Ken, bisakah kau pulang malam ini juga?” terdengar nada khawatir dari permintaan ibunya itu.
“Kenapa Kaa-chan??” mau tak mau, dirimya pun ikutan cemas.
malam ini juga?” terdengar nada khawatir dari permintaan ibunya itu.
“Kenapa Kaa-chan??” mau tak mau, dirimya pun ikutan cemas.
“Ryuu, Ryuu-chan,….”
“Kenapa? Ryuu kenapa?”
“Suhu tubuhnya terus meninggi sejak semalam, sampai siang ini semakin tinggi. Sudah kudatangkan dokter tadi pagi, katanya Ryuu terkena demam influenza. Aku tak mengerti harus bagaimana, Ken-Ken…” isakannya mulai terdengar, Kime hampir menangis. Dirinya kalut.

“Kanata… bagaimana dengan Kanata?”
“Kanata baik-baik saja. Ia terus mendampingi Ryuu,”
Kengo diam. Beban pikirannya bertambah dua–Ryuu yang sakit, dan tiket pesawat yang harus dibelinya.
“Katakan, kaa-san harus bagaimana?”
Akhirnya, dengan pilihan terakhir, “besok kita akan membawa Ryuu ke Rumah Sakit. Aku akan pulang malam ini,”

本当に大切な物を失った時に人はもう生きれないと感じる、
[Ketika orang kehilangan hal yang berharga, terasa seperti tak ingin lagi hidup,]

Hari tersial.
Yang terus diharapkannya adalah semoga ini semua adalah mimpi.
Kembali ke rumah dengan perasaan yang berat sekali, Kengo bingung harus melakukan apa.

Kini pekerjaan tak dipunyainya, dan Ryuu tengah sakit. Kanata tengah menghadapi tahun ajaran barunya, dan tiket pesawat ekonkmi menuju Kagoshima untuk hari ini sudah ludes terjual di keberangkatan terakhir.
Kengo adalah seorang yang sadar akan sebuah titik balik dalam kehidupan. Namun, tak disangka jika sebuah titik balik itu sedahsyat ini drastisnya.
Memaksanya untuk memilih diantara dua dilema; pulang cepat dengan mengorbankan uangnya atau pulang esok dengan mempertaruhkan harapannya.

“Baiklah, satu tiket kelas eksekutif, untuk keberangkatan Kagoshima jam 8 malam ini,”

Kengo menyerah demi harapannya untuk cepat bertemu dengan sang anak. Uang tabungannya berkurang drastis saat dirinya berkeputusan untuk membawa sebagian hasil jerih payah yang dikumpulkannya itu, ubtuk biaya pengobatan sang anak.

Semua pilihan menjadi sulit untuknya.

Penerbangan selama satu jam tersebut pun tak mampu membuai kelopak matanya untuk saling merapat, walau lelah mendera karena tubuhnya sudah lebih dari klimaks untuk mencumbu hari ini. Dari awal sampai hampir habis.

Pikirannya kusut. Bercabang. Semuanya menjadi urgent dan penting. Berontak untuk meminta menjadi yang paling ingin duluan dipenuhi. Tentang sakitnya Ryuu, tentang biaya sekolah Kanata yang harus berkorban dahulu demi sang adik, dan tentang kelanjutan hidup keluarga kecilnya–harus seperti bagaimana dengan dirinya yang baru saja kehilangan pekerjaan?

それでもやっぱり、大切なもののない日々の人は生きれないね?
[Tapi pastinya, hari-hari tanpa hal terpenting tersebut, orang takkan hidup kan ?]

“Keadaannya masih sama–suhu tubuhnya tak kunjung normal juga,” jelas sang Ibu begitu Kengo tiba dari Kanagawa pada malam harinya, “Ryuu terjaga seharian tadi, menantimu pulang. Biarkanlah ia tidur sepuasnya malam ini…”
Khawatir, dilihatnya Ryuu tengah terbaring lelap dengan peluh di sana-sini. Suhu tubuhnya memuncak. Mungkin karena kondisi tubuhnya yang lemah.

“Ini hampir tengah malam. Tidurlah,” Kime menggelar futon di ruang keluarga, bakal tidur putra sulungnya itu, “mamah akan tidur mendampingi Ryuu-chan di kamar,”
Kengo masih termenung, “besok, kita bawa Ryuu ke Rumah Sakit,”
Kime-hime mengangguk. Lalu hilang di balik pintu kamar depan.

Kengo terpaku di beranda depan rumah masa kecilnya itu. Bulan hampir membentuk wajahnya yang bulat sempurna. Dan malam ini ia bersinar terang.

“Tak seharusnya semua menjadi seperti ini,”

Kakinya beranjak. Keluar rumah, menuju pantai. Disambut tubuhnya oleh cakrawala dengan hembus angin darat. Tidak terlalu dingin, karena ini musim semi. Pemandangan pantai yang selalu sepi itu kini menjadi scenery terindah. Debur ombak menyanyi.

Dilangkahkan dirinya mencumbu bibir pantai. Perlahan, tubuhnya merebah pada pasir perak. Membiarkan ombak menggumuli tubuhnya malam itu. Angin berubah menjadi simfoni. Menciptakan harmonisasi rasa sakit dengan keindahan.

“Kko-chan, aku ingin bertemu denganmu…” matanya terpejam.

僕らは誰かを愛することで、確かめてる、鼓動が叫んでる「ここにいる」と叫んでる。
[Saat kita mencintai seseorang, pastinya, detak jantung kita berteriak bahwa kita masih di sini,]

Entah berapa lama dirinya tertidur, yang jelas sinar matahari mulai menggelitik pelupuk matanya untuk segera terbuka menatap hari. Menggeliat, Kengo merentangkan badannya. Tersentuh kelembutan kain yang ada dalam jangkauannya.

“Selimut?”

Kengo mengernyit. Ia seharusnya meluruskan punggungnya dengan bunyi tulang yang gemeretek karena semalaman tidur tanpa bantal.

Tapi kini, ia mendapati kasur empuk di bawah tubuhnya.

“Ah, aku membangunkanmu ya?”

Belum selesai semua pertanyaannya terjawab, Kengo mendapati sesosok wanita yang tengah membuka curtain dan vitrage di kamarnya secara bersamaan.

“Kko-chan?” ujarnya mengenali.
“Pagi Ken-Ken, walau kau sedang libur, tetap harus bangun pagi,” ujar wanita sembari mendekati dirinya. Lalu duduk di tepian kasur.
“Kko-chan? Benarkah itu dirimu?” tanya Kengo memastikan.
Saat itu juga, pipi sang chibi menggembung, “jahatnya. Mimpi apa kau semalam, sampai-sampai kau tak mengenali istrimu,”

Tak merespon ambekan sang istri, lengan Kengo terjulur untuk meraih wajah sang istri.
Disentuh pipi Aiko dengan jemarinya. Menyapu sampai ke ujung dagu, lalu kembali ke arah dahinya untuk menyibak ramput yang menutupi dahi wanita-nya itu.

Risih, “Ken-Ken kenapa sih?”

Tak menjawab pertanyaan tersebut, Kengo langsung menarik sosok sang istri ke dalam pelukannya. Mendekap. Erat.
“Jangan pergi,” bisiknya berulang kali.

Aiko terdiam. Dirasanya sang suami begitu aneh hari ini, “aku di sini, Ken-Ken…. dirimu kenapa sih?” tanya sang istri cemas, membalas peluk hangatnya. Dekapannya dipererat. Tak ingin lagi melepas sang istri. Sampai-sampai Kengo condong ke arah belakang. Sehingga mereka berdua terhimpit. Aiko kehilangan keseimbangan, lalu mereka terjatuh diatas empuk kasur.

Diciumnya mesra Aiko. Memeluknya berkali-kali. Tanpa membiarkan istrinya ini mereguk oksigen.
“Ken-Ken!” dengan terengah-engah, Aiko berhasil mengisi udara ke dalam paru-parunya.
Kengo diam menatap sang istri.
“Sebenarnya ada apa sih?” tanyanya tak mengerti.

Dari bahu Aiko, kedua tangannya turun meraih sepasang telapak tangan snng istri. Dilingkupi dengan jemari hangatnya, sehingga cincin pernikahan mereka sang beradu.
“Aku… baru saja mimpi buruk,” ceritanya.
Aiko diam. Menantikan kelanjutan perkataan sang suami.
“Aku … kehilanganmu…” nafasnya terhela, “… kau pergi meninggalkanku dan anak-anak kita. Melewati mimpi itu sangatlah lama. Menyengsarakanku,” iris coklatnya menangkap fokus sang istri. Ditatapnya lekat, “…. maka itu, kau jangan pergi lagi,”

Walau dengan raut tak mengerti, Aiko tersenyum pada akhirnya. Gantian, ia yang membelai pipi pria-nya itu. Ujung jemarinya menelusuri garis rahang kokoh san suami. Menyibak rambut yang jatuh menutup dahi lebar sang akuntan tersebut. Dikecupnya hangat kening sang suami.

“Maaf sayangku, tapi kali ini aku harus benar-benar pergi…” lirihnya.
“Kemana?”
“Tempat nanti kita bertemu,”
“Nanti? Aku ikut denganmu sekarang,”
“Tidak boleh,”
“Kenapa?”
“Kau harus tetap di sini menjaga buah hati kita,”
“Lalu dirimu?”
“Aku akan melindungi kalian dari jauh,”
Kengo tak mengerti.
“Maaf aku tak bisa terus di sisimu… tapi aku bahagia kok dicintai oleh pria sepertimu,” senyumnya ketir.
“Kenapa tak bisa denganku lebih lama lagi?”
“Karena ini sudah waktunya aku kembali…”
Selangkah, Kengo memijakkan kakinya ke depan. Merengkuh tubuh sang istri.

“Karena itu, aku titip Ka-chan dnn Ryuu ya?” bisik Aiko, “aku mencintaimu,” kecupnya getir di pipi sang suami.

“Aku sangat mencintaimu,”

Rengkuh tangannya tak lagi melengkung. Hal yang didekapnya tadi berubah menjadi angin. Meninggalkan semilir dingin wangi lavender yang basah karena hujan musim semi.

“Aku juga sangat mencintaimu,”

愛して、愛してる、愛しすぎた、あの季節へ。
[Kucintai, kucintai, sangat kucintai musim itu…]

Kanagawa, September

Ttou-san, bangunlah,”

Guncangan itu semakin lama semakin kuat.
Kengo terbangun. Menyadari bahwa itu adalah si bungsu yang sudah siap dengan seragam SMP-nya.

Ttou-san, hari ini berangkat kerja tidak?” tanyanya tanpa menghiraukan sang ayah yang menatapnya heran.
“Cepat bangun, Kanata-nii sedang menyiapkan roti panggang,” dirinya buru-buru menghilang setelah membuka curtain kamar.

Ngesot. Malas. Dilihatnya kanan-kiri. Kosong. Tinggal dirinya di ruangan itu.
Untuk menegakkan tubuhnya, Kengo meraba sekitar. Mencari landasan yang pas untuk menjadi tumpuan tangannya. Selagi meraba, dirasakannya bagian kasur sebelah kirinya kosong. Menyadarinya, Kengo hanya memberikan tatapan kosong. Seperti terputar sebuah kenangan dalam otaknya.

Menghela nafas, lalu Kengo beranjak keluar kamar.
Melangkah menuju ruang dapur. Selagi memintal langkah, dirinya mendapati sebuah ruangan yang pintunya setengah terbuka. Bau crysanthemum menyeruak dari celahnya.

Penasaran, dilongoknya isi ruangan tersebut.
Tampak sebuah lemari model terbuka yang menyangga foto tunggal wanita yang dicintainya–Aiko.
Dengan pajangan-pajangan dari benda yang disukai sang istri.

“Semalam… bukan mimpi…”

Menghela nafas, Kengo melanjutkan tujuannya ke dapur.
Samar tercium aroma kopi paginya. Semerbak seperti pagi-pagi saat sang istri masih di sisinya.
Di-intipnya melalui pinggiran kusen, nampak si sulung–Kanata; tahun ke 2 Sekolah Menengah Atas–tengah ribet menata meja makan untuk upacara sarapan pagi, dengan si bungsu yang repot mengosok sepatu mereka.

“Pagi,” sapa Kengo sembari mendekat pada kedua anaknya. Mendapati sarapan paginya tertata dengan rapi, lengkap dengan koran paginya.
“Ayah tak berangkat kerja?” tanya putra sulungnya sembari menyelesaikan olesan pada roti paginya.
“Berangkat. Mungkin sebentar lagi,” dihirupnya aroma kopi tersebut. Memberikan efek rangsang tersendiri untuk otaknya.
“Jaa, aku berangkat duluan. Ada upacara pembukaan semester pagi hari ini,” pamit Kanata setelah mereguk susu paginya.
“Nii-san, ikuutt~!!”

Tinggalah Kengo sendirian (lagi). Terbengong sejenak, lalu membuka koran paginya. Merupakan ritual wajib bagi dirinya sebelum berangkat kerja, untuk mengetahui posisi saham pagi ini, dan apa saja issue yang sedang ‘in’ di dunia perekonomian.

“Anak-anak kita, sudah tumbuh dewasa, Kko-chan…” gumam Kengo ditengah-tengah fokusnya dengan lembar-lembar kertas matte tersebut.

この胸焦がす音 腕の中で聴いていた
[Suara yang membakar hati ini, kudengar dalam dekapan kita,]

Yokohama pagi ini cerah. ‘September 18’ adalah tanggal yang tercantum pada sudut atas koran ekonomi-nya pagi ini. Sejuta planning tengah digambarkan dalam pikirannya, tentang hal spesial apa yang akan dilakukannya hari ini.

“Pagi ini kau akan memimpin rapat tentang presentase investasi perusahaan,” ujar Kataoka saat sang bawahan–Kengo, memberikan salam paginya di koridor, “… beberapa investor berpengaruh juga akan datang, jadi persiapkan rapat pagi ini dengan dengan sebaik-baiknya.

Ano, sanchou…”
“Hm?” deham sang atasan sebelum menyeruput segelas double espresso paginya, yang dibawa-bawanya dalam langkah menuju ruangannya.
“Apakah anda pernah memberikan surat pengunduran diri padaku?? maksudku, anda pernah ‘mengistirahatkan’ saya dari perusahaan ini?” tanya Kengo ragu.
“Tidak pernah,”
“…..”
“Memangnya kenapa?”
“Tidak, aku hanya bertanya,” Kengo kembali menyibukkan diri pada data-data yan ada di berkas pangkuan, “ah, sudah jam segini…” Kengo melirik arloji yang nemplok di tangan kanannya, “kemana Iseya?” gumamnya.

“Bukankah dirinya mengundurkan diri 2 hari yan lalu?” dan terdengar oleh sang atasan dan diberikannya jawaban tersebut.
“He? Mengundurkan diri?”
Kataoka mengangguk, “bukankah kau yang langsung menerima surat pengunduran dirinya?”

Ah, baru terbesit dalam otaknya, pecahan ingatan tentang pengunduran assistennya itu.

Menghela nafas, Kengo galau. Dengan siapa dirinya akan bekerja nanti, mengingat tugas seorang Akuntan Senior tak mudah dimana ia harus mempersiapkan jumlah kongkrit keuangan perusahaan dalam sebulan, dan mengoreksi hasil kerja para bawahannya yang tak bisa dihitung oleh jari tersebut. Mustahil, adalah kata yang tepat jika ia harus mengerjakan segala sesuatunya sendirian.

溢れ出す想いはもう青空に呑み込まれて
[Langit birupun menelan seluruh perasaanku yang meluap,]

Kantoku-san,” Kengo menoleh pada suara yan memanggil selagi dirinya meninggalkan rapat yang baru saja usai.
“Ise..ya? Iseya?” Kengo mendapati assistennya itu berjalan menghampiri dirinya, “katakan padaku kalau dua hari yang lalu kau tak mengundurkan diri,” serobot Kengo.
“Memang benar atas pengunduran diri itu Kantoku, memangnya kenapa?”
“Sebentar lagi Kantou akan high-season, lalu dengan siapa aku akan dibantu?? Kau yang selama lebih dari sepuluh tahun denganku pun mengerti kan, betapa hectic-nya pekerjaan high-season? Tega kau membiarkan bapak tua ini sendirian bekerja,” curcol Kengo tanpa ampun.
Iseya tertawa. Bagaimanapun juga, bos-nya itu tetap seperti anak gadis yang masih belia–cerewet, “maka itu, aku datan kemari, untuk membawakan pengganti diriku,”
“Pengganti?” Kengo mengerutkan alisnya yang semakin kerut–usia 40 sudah didapatinya tahun kemarin.
“Iya, seorang lulusan sekolah akuntansi, dan pernah 2 kali bekerja di perusahaan asing selama 5 tahun ini,” promo Iseya yang mendapati bakat terpendam sebagai seorang sales dalam dirinya itu.
“Siapa?” Kengo jadi penasaran.
“Ah, kebetulan ku ajak orangnya denganku. Tunggu,” Iseya langsung ngibrit meninggalkan Kengo yang mematung di depan pintu ruangannya dengan beribu pertanyaan dalam kepalanya, dan sejumput perasaan mengganjal.

Daripada dianggap manekin, Kengo memilih untuk masuk. Ketika niatnya baru sampai penghujung tangan yang menyentuh handle pintu, sang (mantan) assistennya itu kembali memanggilnya.
Kantoku-san, ini, temanku,” dan begitu tubuhnya menyingkir, tampak seorang wanita setinggi dadanya, yang lalu mengangguk hormat,

Hajimemashite. Aiko to moushimasu,”

届く事もなく今は無い星のように彷徨う残像
[Tak dapat teraih lagi, bintang yang tak lagi bersinar seperti sinar itu…]

__________________________________________

Dedicated to:

  • My Special Ohkuchi Kengo:

Mmm, apa ya? Itsumademo zutto issho ni! XD

  • Dhy-cchan

Yang selalu menyemangati-ku. Terima kasih sudah menangis untukku, dan rajin mengunjungi blog ini. Dhy-cchan, AISHITERU! XD

  • My Dear Octaviani (Octa)

Selamat ulang tahun untuk orang yang tak pernah merestui pernikahanku dengan Kengo… 😀

  • Minna-san no yasashisa

Terima kasih sudah membaca karya saya sampai saat ini.

ARIGATOU GOZAITASHIMASU!

-Aiko