Title : Negai Uta
Author: Asagawa Aiko
Genre : Family Drama
Series : Astashi-tachi no Kazoku
Song : Fukui Mai — Ai no Uta
Disclaimer: Masing-masing aja lah… Ken-Ken punya saya, Ka-chan punya saya… Ryuu-chan punya saya… *dibabat agency, keluarga, plus fans mereka*
Mood: Dingin-dingin empuk~!! XD

================================================

Minna! Back with me Aiko!
Di malam dingin seperti ini, Aiko tengah amsyong mengerjakan tugas remed 3 bab PPKn nya.
Suka-gak-suka, jalani aja demi nilai rapot.
Kampret. memang. tapi takdir. nasib.

Selai berkutat dengan tugasnya, Aiko iseng-iseng membuka catatan FB nya yang lampau.
Berusia lebih dari setahun, Aiko menemukan seonggok fanfic tua.
Yang biasanya dipublish di blog, namun yang satu ini tidak. Maka jadilah
fanfic tua yang di publish ulang di blog.

Jadi semuanya, maaf berhubung fanfic tua, jadi bahasanya masih lebay *sekarang pun masih lebay kok*

MINNA, OTANISHIMISHITE KUDASAI



優しい風が吹く いつもの道で
[Angin lembut yang selalu berhembus di jalan…]

“Kaa-san, aku berangkat dulu~!!”

あなたに会えるとか そんなことでいい
[Apakah aku akan bertemu denganmu? Seperti itu pun tak apa…]

Ryuu mengigit roti panggangnya sembari menyambar tas ranselnya dan mengecup pipi sang Mama dengan tergesa-gesa.

小さな鼓動の揺れが 想いに重なり
[Ada degup kecil yang akan meluapkan perasaan,]

“Hati-hati di jalan yaa~” Aiko melambaikan tangannya. Hangat masih terasa kecupan si bungsu di pipi kanannya, “jangan lupa, telepon Mama kalau hujan~”

静かに溶けるのを ただ待っている
[Dan aku hanya menunggunya untuk saling berdiam…]

“Beres~!!” Ryuu langsung melesat ke arah barat dengan sepeda gunung milik kakaknya–Kanata, yang hari ini berangkat berdua tanpa sepedanya dengan Hime–pacarnya.

人はどうして 答えを求めるの?
[Kenapa orang-orang selalu mencari jawaban?]

“Terima kasih Tuhan… KAU limpahkan kesehatan dan kebahagiaan pada keluargaku… Lindungilah mereka selalu… Amin…”

わたしはこれで 幸せなのに
[Aku bahagia dengan hal seperti ini…]

Negai Uta

“Aku pulaang~!!”

Sudah jam 3 sore. Memang seperti biasanya jam segitu, Kanata pulang ke rumah.

“Selamat datang,” Aiko membawa dua handuk di tangannya. Cuaca di luar sedang mengganas. Badai hujan musim gugur semakin sering.
“Mana Ryuu?” tanya Aiko pada si Kakak.
Kanata mengangkat bahu, “paling ada kegiatan klub,” jawab Kanata sembari menyambar salah satu handuk yang Aiko bawa.
“Semoga saja dia tidak kehujanan…”

Harapan Aiko tidak terkabul. Sejam kemudian…

“Kaa-san, aku pulaaangg~”
Aiko langsung beranjak dari sofa ruang tengah, membuka pintu daannn….
“Ryuu??!! Kok hujan-hujanan??!!” Aiko pucat melihat seragam si bungsu yang kuyup seperti habis kecemplung parit depan rumah mereka.
Ryuu memamerkan deretan giginya, “habis… enak sih. Sudah lama aku tidak main hujan-hujanan, Kaa-san~” ujar Ryuu riang.

Aiko hanya bisa menghela nafas, “masuk yuk, diluar tambah deras hujannya,” Aiko mengalungkan handuk ke leher Ryuu.

“Kaa-san, aku mau minum cokelat panas~”
“Iya, nanti Mama bikinkan…”
“Juga kue cokelat!!”
Aiko mengusap-usap rambut Ryuu dengan handuk — mengeringkannya, “ganti baju dulu sana, nanti mama antarkan kue dan cokelatnya ke kamar…”
“Roger!!” ujar Ryuu mengerti, lalu berlari ke kamarnya.

Syukurlah anak-anakku baik-baik saja…

アイのうたが 聴こえたんだ
[Apakah Kau mendengar lagu cinta?]

Esok Paginya, Kamis…

“Ryuu kok belum bangun ya??” gumam Aiko khawatir saat melihat jam dinding di ruang makan menunjukkan angka setengah delapan.
“Masih tertidur kali…” jawab Kengo–Ayah asal, sembari membaca koran.
“Memangnya semalam dia tidur jam berapa ya, sampai jam segini belum bangun??” pikiran Aiko mulai resah kalau-kalau si bungsu telat.

Tidak lama kemudian, terdengar suara gratakan menuruni tangga. Dan ternyata Kanata.

“Ka-chan, mana Ryuu?”
“Masih di kamar,” jawab Kanata enteng sambil ngacak-acak sarapan paginya.
“Kok tidak dibangunkan??” protes Aiko.
“Nanti juga bangun sendiri,”
“Tapi ini kan jam tujuh lewat!!”

Akhirnya Aiko gregetan dan langsung tanpa ampun naik ke lantai dua–kamar Ryuu.

“Ryuu-chan…” ketuk Aiko halus pada pintu kamar Ryuu, “Ryuu sayang~ udah bangun belum?? Ini sudah jam tujuh lewat lho…”

Cukup lama tidak ada jawaban dari dalam… sampai…

“Kaa-san masuk saja, pintu tidak dikunci kok…”

Aiko pun membuka pintu kamar sang anak, dan nampaklah Ryuu yang masih terbaring diatas kasurnya.

“Ya ampun! Ryuu sakit??” Aiko langsung berlutut memeriksa kondisi bocah berumur 14 tahun ini.
“Cuma demam Kaa-san… ung… sedikit pusing juga sih…” terlihat bulir-bulir keringat membasahi permukaan kulit Ryuu — tandanya demam sudah sangat tinggi.

“TERMOMETEERR~!!” Aiko langsung panik turun ke dapur mencari alat pengukur suhu tersebut.

“Kko-chan kenapa??” Kengo bingung melihat sang istri udah kayak di kejar maling.
“Ryuu demam…” terdengar jelas dari nada bicaranya, Aiko udah panik dan gak bisa ngapa-apain.
“Demam??” Kengo mengulangi apa yang didengarnya.

Aiko mengangguk.

Akhirnya, dari pada seisi rumah yang berantakkan gara-gara panik Aiko yang kayak orang sakit jiwa, Kengo pun turun tangan untuk memeriksa anak bungsu mereka.

“40 derajat…” gumam Kengo melihat angka yang ditunjukkan termometer setelah ditaruh di mulut Ryuu.

“Apaa??!! Tinggi banget~” Aiko hampir nangis.
“Mau nawar?? Turunin jadi 35 derajat, gitu?? Dasar Ibu-Ibu…” canda Kengo.
“Ii~hh!! Ken-Ken!! Aku khawatir tau!!”

Kengo cuma bisa ketawa-ketawa saat sang istri memukulinya–tapi gak kena-kena karena si Istri chibi (beda 20 cm tingginya dari sang suami)

“Ryuu ke rumah sakit ya?? Periksa…” Kengo menelungkupkan telapak tangannya di dahi si bungsu.
Ryuu cuma bisa mengangguk. Tenggorokannya sudah sakit untuk bicara.

“Maaf ya, Papa cuma bisa antar sampai rumah sakit. Hari ini ada meeting…” ujar Kengo bersalah.
“Hari ini, biar aku yang menemani Ryuu,” Aiko memapah si bungsu untuk ganti baju.

それは 小さなアイが
[Ini adalah sebuah cinta kecil,]

“Ryuu-kun hanya mengalami demam biasa kok…” ujar si Dokter–Watabe-sensei.
“Syukurlah~” Aiko menghela nafas lega.
“Ryuu-kun hanya perlu istirahat, dan makan makanan yang sehat. Lalu, minum obat,” nasihat Watabe-sensei.

“Siapa suruh kemain main hujan-hujanan??” sindir Aiko di dalam taksi menuju rumah mereka.
“Habiskan seru, Kaa-san…” rengut Ryuu.
“Main sih boleh… Tapi jangan se-ekstrim itu donk~” Aiko menarik kepala si bungsu agar tertidur dalam pelukannya.

“Sepulang nanti… Tidur ya… Akan mama bikinkan sup…”
“Gak mau…” Ryuu merangkul pinggang sang Mama, “Ryuu mau di dongengin aja sama Kaa-san,”
“Lho?? Gak makan??”
“Gak enak pencernaan…” Ryuu membenamkan diri dalam rangkulan sang Mama.
“Ya udah… gak usah makan…”
“E~ tapi…” Ryuu mengadah pada Aiko, “puding cokelatnya Nii-chan boleh juga…”

微笑むように 寄り添うような
[Seperti tersenyum, kita menjadi semakin dekat…]

3 hari kemudian, Ryuu sudah bisa msuk sekolah seperti biasa. Keadaannya sudah membaik.
Ujian akhir di musim semi tahun depan sudah menanti. Ryuu berniat melanjutkan jenjang akhir SMP-nya ke Perguruan Elit Rikkai–tempat Aiko dulu bersekolah.

Maka itu, ujian kelulusan kali ini harus ditempuh semaksimal mungkin.

“Jangan bermain hujan-hujanan lagi,” nasihat Aiko pada si bungsu saat seluruh keluarga berkumpul untuk sarapan.
“Iya~” Ryuu hanya menjawab di sela-sela Aiko berhenti mengomentari dirinya.
“Bawa payung,” Aiko menyodorkan sebuah payung lipat.
“He??!!” Ryuu hampir loncat dari kursi saat payung tersebut mampir tepat ke depan hidungnya.
“Kok ‘He’?? Bawa~”
“Laki-laki suruh bawa payung lipat??” Ryuu setengah protes — samar-samar protes, maksudnya.
“Nggak laki, nggak perempuan! Kalo hujan, pasti butuh payung,”
“Kaa-san~”
“Nggak ada alasan,”

Jadilah hari itu Ryuu membawa payungnya ke sekolah.

“Kenapa harus bercorak sakura, sih??” sungut Ryuu di depan sang Kakak, Kanata.
Kanata hanya bisa mentertawai kesialan sang adik hari itu, “bawa sajalah… siapa tau ada manfaatnya,”
“Tapi kan tidak harus bercorak sakura~”

優しい音がした
[Oleh kelembuatan suaramu…]

Jam 3.00 sore…

Telepon di ruang tengah keluarga Kengo berdering.

“Apa ini kediaman Takigawa Ryutarou??” tanya suara di seberang.
“Iya, ini Ibunya Ryu,” jawab Aiko.
“Oh, Ai-san. Ini saya, Watabe, dari Rumah Sakit yang kemarin,”
“Oh, Watabe-sensei??”
“Iya, saya perlu untuk berbicara dengan anda… tentang… Ryuu-kun…”
“Ada apa dengan Ryuu??”
“Ung… begini… tentang pemeriksaan demam kemarin, saya menemukan beberapa hal yang janggal. Bisakah kita bertemu untuk membicarakan masalah ini berdua??”
“Ryuu tidak diajak??”
“Ung… untuk saat ini jangan dulu. Kita belum mengetahui kondisinya,”
“Tapi, Ia sudah sehat kok. Hari ini saja Ia berangkat sekolah seperti biasa,”
“Ya, nanti saya akan menjelaskannya di Rumah Sakit…”

Aiko termenung setelah panggilan tersebut terputus.

Apa yang terjadi dengan Ryuu??

“Aku pulang~” seperti biasa, si Sulung duluan yang pulang.

Aiko langsung beranjak menemui Kanata, “Ka-chan, jaga rumah. Mama mau pergi,”
“Pergi?? Kemana??” si Sulung memasang tampang curious gituuu…
“Rumah Sakit,”
“Untuk apa??”
“Entahlah, Mama juga tidak tahu pasti. Yang jelas, tolong sediakan Ryuu makan jika Ia ingin makan. Mama mungkin akan kembali nanti malam,” Aiko bergegas berganti baju.

“Kayaknya penting banget…” gumam Kanata yang tidak peduli sembari menuju kulkas–mencari makan.

時は流れ 夢は流れ
[Waktu mengalir, mimpi mengalir…]

“Kami, menemui kelainan pada syaraf Ryuu-kun…” jelas Watabe-sensei, setibanya Aiko di Rumah Sakit.
“Penyakit apa, sensei??” Aiko udah super duper khawatir.
“Kalau menurut prediksi dan diagnosa saya, ini penyakit yang sampai saat ini, belum ada penyebab pastinya…”
“Apa itu, Sensei…”
Guillain Barre Syndrome… Penyakit yang menyerang ketahanan syaraf. Kemungkinan untuk sembuh 50:50…”

Aiko udah lemes. Duduknya pun lebih rendah. Nafasnya udah satu-satu…

Ryuu-kun??

“Tapi tadi Ia nampak sehat kok, Sensei…”
“Iya, jenis penyakit ini adalah kambuhan… bisa muncul sewaktu-waktu.”
“Bisa disembuhkan kah??”
“Sampai saat ini belum ada obatnya… Hanya operasi yang sedikit membantu…”
“Jenis penyakit parah kah, sensei??”

Watabe-sensei mengangguk, “kasus kematiannya sangat banyak…”

Tidak… Ryuu-ku… Ryuu…

いろんなかたち 変わっても
[Dan macam-macam bentuk pun berubah,]

Malam menjelang, membungkus hati Ibu dua anak ini yang sedang kacau. Aiko hanya bisa terdiam sepanjang perjalanan pulang…
Rumah terlihat sepi saat Aiko memasuki pekarangan mungilnya.

“Mama pulang…” Aiko membuka pintu rumahnya.

Tampak Kanata yang udah ketiduran di ruang sofa dengan buku yang berserakan.

“Persis Ken-Ken…” senyumnya.

Tanpa ingin mengganggunya, Aiko langsung pergi ke dalam kamar untuk menaruh tasnya, dan menambilkan sebongkah selimut tebal. Setelah kembali dari kamar, Aiko pun menyelimuti sang Kakak. Dan Kanata pun terbangun setelah menyadari bahwa sang Mama sudah berada di sampingnya.

“Eh… Kaa-san??” gumamnya sambil ngucek-ngucek matanya.
“Ka-chan kok tidur di sini??” tanya Aiko sembari memberesi lautan bukunya.
“Biar bisa sekalian jaga rumah…” jawabnya sambil kembali tidur meringkuk di atas sofa putih tersebut.
“Seperti anjing penjaga saja…” Aiko memainkan telinga si sulung — menyuruhnya untuk pindah ke kamar tidur.

Tanpa komando lebih lanjut, Kanata menyeret langkahnya menuju ‘pulau kapuk’nya.
Sembari memperhatikan Kanata yang ‘ngesot’ ke kamarnya, Aiko melihat lampu kamar Ryuu masih dalam keadaan menyala.

Didorongnya perlahan pintu kamar si bungsu.

Nampak sosoknya yang sedang serius memperhatikan lembaran buku-buku sekolahnya dengan headset yang terkoneksi kedua telinganya.

“Lagi belajar??” gumam Aiko bersandar pada pintu.
Sejenak Ryuu menoleh pada sang Mama, “iya… besok ada ulangan…” senyumnya.
Perlahan, Aiko berjalan menuju Ryuu. Ditelungkupkannya telapak tangan kanannya diatas dahi Ryuu, “masih sakit??”
Ryuu menggeleng pelan, “tidak,”
Nampak jelas rasa heran di raut wajah Ryuu saat Aiko menatapnya lekat.
“Ryuu merasa tidak ada yang salah kan??” Aiko merangkul dan menyesap rambut Ryuu. Didekapnya erat…

Aku tidak ingin kehilangan Ryuu…

“Tidak ada yang salah?? maksud Kaa-san??” Ryuu mencari-cari tatapan Aiko.
“Ryuu merasa aneh? sakit?? atau…”
Ryuu tertawa kecil, “tidak ada yang sakit, Kaa-san. Maaf deh, kalau gara-gara demam kemarin membuat Kaa-san khawatir,”
Aiko bisa bernafas lega, “Mungkin Watabe-sensei hanya bercanda…”

あなたがただ ここにいれば それだけでいい
[Tidak apa-apa, asalkan jika kau ada di sini…]

“Aku pulang…”

Aiko terbangun dengan sentuhan lembut ditangannya.

“Oh… Selamat datang,”

Ternyata Kengo yang membangunkan tidurnya diatas sofa.

“Kok tidur di ruang tamu, sih??” Kengo menyisir seluruh poni Aiko kebelakang — agar dapat melihat wajah sang Istri seutuhnya.
“Nungguin Ken-Ken…” jawab Aiko sambil asyik ngucek-ucek matanya.
“Kan aku sudah telepon akan pulang telat…”
“Tapi Ken-Ken pulang kan, intinya…”
Kengo tersenyum, “ayo, pindah ke kamar…”
“He?? Ken-Ken tidak makan dulu??”
“Tidak, aku sudah makan diluar…”
“Yaah… Padahal, aku sudah memasakkan makanan kesukaanmu~”

Jelas banget dari nadanya kalo Aiko itu ngambek.

“Maaf ya…” Kengo mengusap kepala sang istri, “tapi lain kali, kita pasti akan makan bersama lagi…”
Kengo pun berjalan ke dalam kamar dengan diikuti sang Istri dari belakang.
“Ung… Ken-Ken…” panggilnya lirih.
“Ya?” Kengo menoleh sesaat sebelum membuka pintu kamar.

Haruskah kubilang padanya tentang Ryuu??

Aiko memperhatikan penampilan sang Suami sepulang kerja. Lusuh, Ledes, Asem, Apek, Kumel, Dekil….

“Pasti capek…” pikirnya saat memberi nilai ‘acak-acakan’ pada penampilan Kengo sepulang kerja.

“Apa??” nampaknya Kengo ingin tahu apa yang ada dalam pikiran sang istri.
“Ung… tidak. Bukan apa-apa…” Aiko memegang bahu Kengo, “mandilah, setelah itu baru tidur…”
“Ah~ Aku tau~” Kengo tersenyum genit.
“Apa??”
“Kko-chan kangen kaaannn~” didekapnya erat tubuh si mungil dalam rengkuh tangannya.
“Kyaa~!! Ken-Ken~ lepaskaann~!!” jeritnya saat sang suami menyeret tubuh mereka menuju kamar.
“Hei, kita takkan seperti ini lagi kalau aku pergi dinas,” bisiknya.
Aiko langsung melempar tatapan curiga, “Ken-ken pasti mau berangkat dinas ya?”
“Sayangnya iya,” dilonggarkannya ikatak jemari yang mengunci pelukannya terhadap sang istri.

“Kemana?” tanya sang istri sembari mengikuti sosoknya yang tengah membereskan diri–melepas pakaian.

Pandangan Kengo mengadah. Memikirkan untuk memberitahukan atau sebaliknya pada sang istri perihal perjalanan dinas-nya kali ini.
Memilih jalan terbaik, Kengo menatap lekat kedua mata bundar Aiko.

“Ke…. Korea,”

“Korea??” Aiko mengulangi perkataan Kengo, “jauh banget~” terdengar nada rengekan dari cara bicara Aiko.
“Siapa bilang dekat~” Kengo memencet hidung sang istri. Sudah kebiasaan Kengo kalau lagi gemas dengan sang Istri.
“Nanti, kalau aku ingin menghubungimu, bagaimana??”

Kengo menaikan alis kanannya — bingung. Aiko tidak biasanya menanyakan hal itu, bahkan waktu dirinya berangkat ke London beberapa waktu lalu untuk mengunjungi Matsun yang udah betah tinggal di sana.

“London kan lebih jauh daripada Korea…”
pikir Kengo tak mengerti.

“Kan ada ponsel, Kko-chan~”
“Hanya lewat ponsel saja??”
Kengo menghela nafas. Mengerti maksud Aiko–butuh dirinya di sisi sang Istri, “iya~ iya~ tidak akan lama kok, hanya seminggu…”

あなたの呼ぶ声に 気づくときには
[Aku menyadarinya saat suaramu memanggil diriku…]

4 Hari setelah keberangkatan Kengo

Semuanya berjalan seperti biasa. Minggu yang cerah, dan angin yang sejuk.

“Ka-chan, Ryuu-chan, bawa kasur kalian~ Hari ini kita jemur kasur mumpung cerah~” Aiko meneriaki kedua putranya yang masih asyik mesra-mesaraan dengan bantal-guling mereka.
“Argh~!! Ka-chan berisik!!” protes Kanata yang langsung ngamuk-ngamuk.
“Hari ini sarapan omelet gulung lho~” Aiko promosi makanan kesukaan kedua anaknya tersebut.
Dengan geratakan, mereka berdua menuruni tangga dengan seluncuran kasur yang sudah lembab–sebulan gak dijemur-jemur~
“Ryuu~!! Jangan mendahului aku~!!” teriak Kanata pada sang adik.
“Yee~ Nii-chan yang lambat~”

Senangnya Aiko melihat kedua buah hatinya bercanda dengan masih memakai piyama dengan rambut acak-acakan.

Apa jadinya ya, kalau Kengo ada di sini?? Aiko membayangkan kalau mereka bertiga bercanda seperti dahulu. Seperti dahulu sebelum Kengo menjadi sesibuk ini.

“Ayo bawa kasurnya keluar. Kita akan jemur kasurnya,”
“Kok?? Bukannya hanya disuruh membawanya ke lantai bawah saja??” bibir mungil Ryuu maju kedepan.

Itulah hal yang paling Aiko suka dari anak bungsunya.

“Imutnyaa~!!” pekik Aiko dalam hati.

“Tidak! Kalian sudah dewasa, jadi harus belajar menjemur kasur sendiri,” Aiko menyeret keduanya ketempat ‘esekusi’ kasur mereka.

“Jadi, pertama-tama…” seperti 18 tahun lalu saat Aiko masih manjadi guru di taman kanak-kanak ‘Himawari’–berdiri sambil mengajari dua laki-laki muda ini bagaimana cara menjemur kasur yang baik dan benar.

“Kaa-san, bentuk pemukulnya kok kayak kembang-kembang ya??” tanya Ryuu polos.
“Entahlah… tapi.. sejak jaman Kakek-Nenek Mama, memang bentuknya seperti ini,”
“Kenapa tidak pakai tongkat baseball?” tanya Kanata.
“Kurang pas, Ka-chan sayang~”

Begitulah mereka bercengkrama saat menjemur kasur.

“Jadi ingat Papa mu dulu, waktu Mama masih di rumah sakit setelah melahirkan Ka-chan…” gumam Aiko.
“Memangnya kenapa, Kaa-san?” tanya Kanata penasaran.
“Ah, tidak… hanya saja, Papa mu itu jago menjemur kasur lho~”
“Wajar, tenaga laki-laki…” sahut Ryuu bete sambil menggebuki kasurnya kesal — tangannya sudah lelah.
“Baiklah, kita istirahat dulu yuk…”

失した物に ただ手を伸ばすだけ
[Ku rentangkan tanganku pada hal yang telah hilang,]

“Kaa-san, tangan Ryuu sakit…” keluh Ryuu saat Aiko menghidangkan dirinya dan Kakaknya parfait cokelat.
“Wah~ Ryuu bersemangat sekali ya, menggebuk kasurnya??” puji Aiko sambil memperhatikan lengan kanan si Bungsu.
“Tidak, Kaa-san… Ini dari kemarin…”

Aiko langsung menatap Ryuu tak mengerti.

“Rasanya seperti pegal-pegal… tapi Ryuu tidak melakukan apapun yang berat…”

Tidak mungkin penyakit itu kan??

“Ah, mungkin memang pegal-pegal saja. Mama kompres ya??” Aiko menenangkan hatinya.
“Iya~!!” ujar Ryuu bersemangat.
“Nah, sekarang makan parfaitnya dulu, nanti Mama kompres,”

Aiko terus termenung selagi menyiapkan kompresan untuk si Bungsu. Kalau-kalau ucapan Watabe-sensei itu benar adanya. Tapi… rasanya tidak mungkin.
Aiko melirik pada kedua putranya yang asyik mengobrol sambil menghabiskan parfait dibelakangnya.

Hapus saja pikiranmu tentang itu, Aiko… Mereka baik-baik saja…

時はどうして 終わりを告げるの?
[Mengapa waktu mengungkapkan akhir-nya?]

Malam yang cerah. Agak dingin karena sebentar lagi musim dingin. Aiko berdiri diberanda rumahnya memandangi langit cerah yang penuh bintang.

“Biasanya, Ken-Ken paling suka tidur dipangkuanku kalau melihat langit seperti ini…” gumamnya dalam hati, “Ah… Aku kangen Kengo~”

“Kaa-san!!” terdengar teriakan dari dalam rumahnya.

Padahal lagi melankolis begini… Pake acara diganggu lagi…

“Kaa-san!” kepala si sulung menyembul di daun pintu, “Ryuu, Kaa-san…”

Dari raut wajahnya Aiko sudah merasa ada perasaan yang tidak enak.
“Ada apa denga Ryuu??!!”
“Ryuu ambruk,”

Aiko langsung berlari ke dalam, dan menemukan si Bungsu sudah tertidur dilantai dingin.

“Ryuu!!”

描いた今は 明日の空に続いているのに
[Yang ingin ku gambar adalah langit esok, seterusnya…]

Malam itu juga, Aiko membawa Ryuu ke Rumah Sakit yang beberapa waktu lalu sempat dikunjungi oleh mereka berdua.
Dengan perasaan cemas, Aiko menunggu di depan ruang ICU sendirian. Sang Kakak — Kanata, disuruhnya untuk menjaga rumah sementara dirinya di rumah sakit.

Ketakutan Aiko… terwujud…

“Sensei, keadaan Ryuu… sudah parah kah??” tanya Aiko cemas.
“Kalau pasien sudah collapse seperti ini… tandanya syndrom itu sudah mencapai pernafasan. Dan itu lebih parah dari sebuah kata ‘parah’,” jelas Watabe-sensei.

Aiko benar-benar tidak bisa berkutik. Dirinya benar-benar sendirian. sang Suami masih ada di luar negeri, Kanata memang disuruhnya untuk menjaga rumah, dan Matsun–adik ipar, yang biasanya dapat diandalkan, kini telah jauh dari dirinya.

“Ryuu-kun, harus dirawat…”

Tuhan… bantu Aku….

アイのうたが 聴こえたんだ
[Apakah kau mendengar lagu cinta?]

“Ai-cchi~!! Lihat! Aku membawakan banyak bunga untukmu,”
“Wah~ Indahnyaa~ Kane-chan dapat dari mana??”
“Aku memetiknya di taman,”
“Cantiknyaaa… Pasti bagus jika dijadikan buket,”
“Yang seperti orang-orang yang menikah itu??”
“Iya!!”
“Bagus juga sih, bunganya… Pernikahannya juga bagus,”
“Saat dewasa nanti, aku mau menikah!”
“Dengan siapa??”
“Um… aku belum tahu juga sih…”
“Bagaimana kalau denganku??”
“Dengan Kane-chan??”
“Iya,”
“Iya, aku janji…”

Aiko terbangun di pagi hari. Hangatnya matahari menghentikan airmatanya yang lahir dari kekalutannya.

Mimpi apa tadi??

“Selamat pagi, Nyonya…” sapa si perawat sambil membukakan tirai putih penutup jendela.
“Ah… selamat pagi,”

Aiko mendapati dirinya tertidur di sofa yang ada diruang perawatan Ryuu. Dirinya melihat si bungsu masih terbaring diatas ranjang rumah sakit. Alat pernafasan dan infus menopang hidupnya kini. Dipandanginya Ryuu yang masih belum tersadar.

Aiko bingung apa yang harus dilakukannya sepagi ini di rumah sakit. Kalau untuk sarapan, Ia tak lagi khawatir karena Kanata bisa memasak untuk dirinya sendiri.

“Ka-chan kalau sudah siap-siapnya, tolong datang ke sini ya??” pinta Aiko pada si Kakak melalui telepon umum di rumah sakit.
“Iya, Kaa-san…” terdengar suara serak si sulung dari seberang. Nampaknya ia baru bangun tidur.
“Lalu, jangan lupa bawa perlengkapan untuk Ryuu selama di rumah sakit,”

それは 小さなアイが
[Itu adalah cinta yang kecil…]

Setelah Aiko kembali dari telepon umum, dirinya menemukan seorang dokter sedang memeriksa Ryuu yang masih belum tersadar. Bukan Watabe-sensei, karena Aiko mengenali dokter satu ini lebih muda dari pada si kakek botak itu (Watabe-sensei maksudnya… *digatak tabung oksigen*)

“Ung… Sensei… bagaimana keadaan Ryuu??” Aiko bertanya seraya menghampiri dokter tersebut.
“Keadaan Ryuu-kun baik-baik saja…” jawab dokter tersebut sambil berbalik dan…

Keduanya terdiam untuk sesaat.

“Ai-cchi??” panggil Dokter tersebut.
“Kane-chan??” dan Aiko mengenalinya.
“Ah! Benar!! Ini Ai-cchi ya??!!”

Kanesaki Kentarou, laki-laki yang Aiko biasa panggil ‘Kane-chan’ ini adalah teman semasa kecilnya di Kyoto. Karena emang si Papah Tuti yang kerjaannya mondar-mandir dalam sekian tahun, akhirnya mau tidak mau, mereka harus terpisah saat Aiko berusia 6 tahun, dan Kanesaki berusia 8 tahun.

Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah hari perpisahan itu…

“Kane-chan apa kabar??” Aiko mengamati keadaan teman masa kecilnya tersebut.
“Baik. Selalu baik,” senyumnya tak pernah berubah.

Keadaan hening sejenak. Terlalu kaku untuk membicarakan suatu hal jika sudah 31 tahun tidak bertemu.

“Ung… Ai-cchi, kalau boleh tahu… ini anakmu??”
Aiko mengangguk, “iya, ini anakku yang terakhir. Semuanya ada dua,”
“Wah~ Ai-cchi sudah menjadi Ibu~” ujar Kanesaki bangga.
“Memangnya Kane-can belum menjadi Ayah??”

Kentarou terdiam sejenak.

“Belum… aku belum menjadi ayah,” senyumnya ketir.
“Kau belum menikah??!!” tanya Aiko shock.
“Hei~ hei~ bukan seperti itu~ Aku sudah menikah kok,”
“Lalu??”
“Hanya saja belum mempunyai anak…”
“Istrimu??”
“Ung… kami sedang dalam proses perceraian…”

Aiko merasa bersalah. Sudah lama tidak bertemu, malah mengorek-ngorek rahasia pribadi temannya.

“Maaf ya, Kane-chan… aku tidak bermaksud menanyakan kehidupan pribadimu di saat-saat seperti ini…”

Kanesaki tertawa, “tidak apa. Bukan salahmu, dan kenyataan memang berbicara seperti itu…”

— Lagi, suasana yang hening.

“Kanesaki-sensei, divisi pembedahan memanggil anda,”

Tiba-tiba ada seorang perawat yang menyelak diantara pertemuan mereka.

“Ah, baik! Aku akan segera ke sana,” jawab Kanesaki ragu-ragu.
“Jaa… sampai bertemu lagi,” ucap Aiko.
“Ung, bagaimana kalau kita lanjutkan pembicaraannya nanti…”

“Kanesaki-sensei~!!” panggil si perawat lagi.

“Baiklah, jika kau punya waktu,” jawab Aiko.

Dan pertemuan pertama mereka kembali pun berakhir dengan satu lambaian tangan.

一つ一つ 瞬くような
[Seperti berkedip satu persatu,]

Aiko hanya kaget, tak mampu berkata-kata.

Laki-laki yang baru saja muncul dalam mimpinya, kini terwujud dihadapannya dalam sosok pria dewasa.
Dan sempat ia jatuh cinta pada Kentarou di masa silam.
Masalahnya, setelah Kentarou, hanya ada Kengo.

Dan itu berarti, Kentarou adalah cinta pertamanya…

Sungguh kah?? tanya Aiko pada pikirannya sendiri.

Nyatanya, debaran itu masih ada dalam hatinya saat tatapan mereka bertemu.

Aku tak mungkin mengkhianati Kengo di saat-saat seperti ini…

“Kaa-san…” Ryuu terbangun tanpa disadari Aiko.
“Ryuu??” Aiko langsung menggenggam kedua tangan si bungsu.
“Ini dimana??”
“Rumah sakit…”
“Ryuu… masuk rumah sakit??”
Aiko mengangguk.

Ryuu mengernyitkan alisnya. sampai…

“Iyah!! Hari ini kan ada ulangan sastra!!” Ryuu langsung kelabakan kayak ikan gak dikasih air.
“Ryuu, tenang dulu…”
“Nggak mau! Nilai sastra itu penjurusan, tau!!”
“Tapi Ryuu masih sakit…” Aiko menggenggam kedua telapak tangan Ryuu yang kini sebesar lingkupan tangannya, “Ryuu harus dirawat…” ujar Aiko menyesal.

Ryuu menjadi sedikit tenang kalau sang Mama sudah menundukkan kepalanya.

“Memangnya, Ryuu sakit apa, Kaa-san?? Berapa lama Ryuu harus dirawat?? Kaa-san tau, kalau awal tahun besok akan ada ujian akhir dan ujian masuk SMA??”

Pertanyaan Ryuu serasa begitu menyakitkan bagi Aiko.

“Mama nggak tau pasti…” Aiko mendekap Ryuu, “tapi yang pasti… Ryuu harus berjuang keras untuk sembuh…” kata-katanya terdengar begitu lirih, “maafkan Mama yang melahirkan Ryuu dengan kondisi seperti ini…”

Ryuu membalas pelukan sang Mama, “maafkan Ryuu… Ryuu sudah banyak merepotkan Mama…” rasa bersalah bersemayam dalam hati kecilnya. Beraninya Ia membuat sang Mama menundukkan kepala dihadapannya.

Aiko tersenyum pada si Bungsu, “kalau begitu, kita sama-sama melalui ini semua ya…”

愛しい音がした
[Menjadi suara yang lembut,]

“Sensei… Aku sakit apa sih??” tanya Ryuu saat Kanesaki memeriksanya siang ini.

“Ryuu-kun mengidap ‘Gullain Barre Syndrome’…” jawab Kanesaki.
“Penyakit apa sih??” Ryuu mengerutkan keningnya karena tidak mengerti.
“Penyakit ini sejenis syndrom yang menyerang sel, saraf, dan mungkin sistem organ tubuh kita…”
Ryuu hanya mengangguk, “Ryuu.. akan mati dengan penyakit ini ya, Sensei??”

Kanesaki tertawa, “tidak, kalo Ryuu berusaha untuk sembuh. Penyakit ini juga gampang sembuhnya lho. Jadi Ryuu jangan takut!”

“Sungguhkah?? Dengan cara apa??” tanya Ryuu bersemangat.
“Iya. Kalau Ryuu mau berusaha dan berkeinginan untuk sembuh, Ryuu-kun pasti bisa!” ujar Kanesaki menyemangati, “sisanya biar kami yang berusaha…”

時と共に あの日の星
[Di waktu itu, dengan bintang di hari itu,]

Sudah tiga hari Ryuu ‘mendekam’ di Rumah Sakit.

“Ryuu bosan. Ingin bersekolah….” keluhnya.

Dan wajar kalau Ryuu mulai bosan dengan rutinitas hariannya dalam ruang perawatan isolasi yang sepi itu. Tak ada dirinya, kecuali sang Mama yang hanya boleh beberapa saat saja bersamanya, juga sang Kakak yang mendatanginya sesekali. Sisanya, buku-buku yang menjadi pacar untuk mengusir sepinya.

“Ryuu-kun, sudah waktunya disuntik,”

Dan datanglah perawat yang biasa memberikannya makanan dan pelayanan.
“Tidak mau!” Ryuu langsung berjengit keras dan membelakangi Aiko serta perawat tersebut.

“Ryuu-chan harus disuntik kalau ingin sembuh,” bujuk Aiko.
“Setiap hari disuntik! Memangnya tidak sakit!!” bantah Ryuu.

— Praaang!!

Segelas air putih langsung dibantingnya dan kacanya melukai punggung tangan sang Mama.

Aiko mengaduh dan Ryuu pun langsung terdiam. Darah segar menetes perlahan dari luka tersebut.
Ryuu langsung menunduk bersalah.

“Mama gak marah sama Ryuu kok…” Aiko mengusap kepala si Bungsu dengan lembut, “kalau Ryuu merasa kesal, Ryuu bisa lakukan apa saja terhadap Mama…”
“Tapi kan… Ryuu sudah melukai Kaa-san…”
“Tidak apa-apa kok. Cuma luka kecil…”

“Wah, ada gelas pecah…” gumam Kanesaki yang baru ‘menyelinap’ ke dalam ruang perawatan, “ada apa ini…??”

Si perawat pun menceritakan yang sebenarnya terjadi.

“Ryuu-kun tidak perlu semarah itu kok…” nasihatnya sembari menyiapkan jarum suntik, “memang sakit. Tapi, lebih baik sakit sebentar ketimbang sakit selamanya, kan??”

涙で流れてしまっても
[Airmataku mengalir…]

“Wah, sampai robek begini…” gumam Kanesaki mengamati luka di tangan Aiko.
“Tidak apa kok. Tidak sakit…”
“Tapi bisa infeksi lho, kalau tidak bisa diperban…”
“Ah… infeksi ditanganku tidak seberapa jika dibandingkan dengan luka Ryuu-chan…” Aiko menatap Kanesaki dengan mata sayu.
“Setidaknya ku obati dulu…” Kanesaki menyiapkan alkohol dan plester untuk menutup luka Aiko.
“Ne… Kane-chan…”
“Um??” deham Kanesaki tanpa menoleh — karena sibuk membersihkan luka Aiko.
“Aku ini… Ibu yang payah ya??”

Sekejap itu, Kanesaki langsung menatap teman masa kecilnya tersebut, “siapa bilang??”

Aiko menunjuk hidungnya sendiri.

Kanesaki hanya bisa tertawa kecil, “Ai-cchi bukan Ibu yang payah kok…”senyumnya, “Ai-cchi rela menunggui Ryuu-kun sampai tengah malam, bahkan tidak marah saat terluka seperti ini. Saat kita bertemu lagi, sampai detik ini, Aku belum pernah melihat Ai-cchi mengeluh,”

Desiran angin memotong kata-kata Kanesaki.

“Hanya saja, Ai-cchi harus lebih mendukung Ryuu…” ujar Kanesaki menyakinkan Aiko, “karena itu… ayo kita buat Ryuu-kun bebas dari sakitnya…”

あなたがただ ここにいれば それだけでいい
[Tidak apa, asalkan ada dirimu di sini…]

Malam menjelang.
Ryuu sudah mengantuk.

“Ryuu-chan tidur ya…” pinta Aiko.
“Kaa-san…. Ryuu gak mau tidur,” tolak Ryuu.
“Kenapa??”
“Kangen sama Ttou-san… Ttou-san dimana sih?”
“Um… Ttou-san sedang bekerja, untuk Ryuu. Jadi, sabar ya, Ttou-san pasti pulang,”

Tiba-tiba saja pintu kamar perawatan Ryuu terbanting keras, dan mereka berdua sontak langsung menoleh.
Nampaklah Kengo yang terengah-engah karena lelah berlari.

“Ttou-san!!” Ryuu bersorak girang. sudah 3 hari Ia tidak melihat sang Ayah di pelupuk matanya.

願いは 時に遠く
[Harapan adalah jarak waktu,]

Baru setelah itu Ryuu bisa tertidur dengan nyenyak.

“Kenapa Kko-chan tidak memberitahuku??!!” ujar Kengo kesal setelah paniknya hilang.
“Aku tidak mau membuat Ken-Ken kembali segera dari Korea. Itu jauh tau,” Aiko mengajak sang Suami untuk tidak berbicara di dekat Ryuu yang sedang tertidur.
“Setidaknya Ayahnya tahu kalau anaknya sakit!”
“Setidaknya Istrinya pengertian kalau jarak Korea-Yokohama itu jauh! Aku tidak mau membuat Ken-Ken lelah….”

Kengo mendengus kesal.

“Aku kenal Ken-Ken dari dulu… bukan satu atau dua hari yang lalu…” tangan halusnya memegang pipi sang suami, “aku berani bertaruh kalau Ken-Ken langsung pulang begitu mendengar berita kalau Ryuu sakit,” Aiko berhasil membuat sang suami menatap kedua matanya, “karena itu, Aiko tidak mau membuat Ken-Ken kelelahan…”

“Ck! Kenapa kau selalu tegar sendirian??!!” gantian Kengo yang berbicara. Kedua tangannya mengangkat wajah sang Istri, “kan ada aku… Berbagilah dan beban ini kita tanggung berdua,”
Dan Aiko menggenggam lembut kedua tangan tersebut, “Ken-Ken sudah menanggung terlalu banyak beban…”
Kengo selalu berakhir dengan erangan kesal, “mengapa harus ada banyak kerjaan di saat-saat seperti ini, sih?!”

“Dan setidaknya Ken-Ken sudah pulang…” senyum sang istri.

無理に掴もうとしても
[Aku mungkin mencoba meraih tanpa alasan…]

Seminggu setelah hari itu…

“Sesuai hasil pemeriksaan… Ryuu-kun dinyatakan boleh pulang…”

Akhirnya hal yang diharapkan pun tiba pada penghujung musim dingin.
Selayaknya bunga-bunga yang menanti musim baru… Musim semi ini adalah babak baru kehidupan Ryuu…

“Ai-cchi…” Kanesaki memanggil Aiko dengan isyarat lambaian tangan.
“Ya??” Aiko segera menghampiri dokter tersebut.
“Perlu kau ketahui… kalau… Ryuu-kun sama sekali belum terbebas dari penyakitnya…”
“Jadi… Ryuu belum sembuh??”
“Belum… Tapi dia sudah membaik. Ini artinya, sewaktu-waktu bisa memburuk,”

Aiko terdiam mendengar penjelasan dokter penyakit dalam tersebut.

“Yang bisa kusampaikan padamu hanyalah… biarkan Ryuu melakukan hal yang disukainya…”
“Itu berarti dia tidak mungkin diselamatkan, kan??” Aiko memprotes perkataan Kanesaki yang barusan.
“Bukan memvonis Ryuu akan meninggal, tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi satu detik mendatang, kan??”

Aiko menyadari perkataan Kanesaki tersebut.

“Maka itu.. biarkanlah…”

手元をすり抜けてゆくけど
[Kuselinapkan tanganku tapi…]

Musim Semi

Ryuu menghadiri upacara kelulusannya di SMP St.Rudolph dengan ditemani sang Mama–seperti kebanyakan teman-temannya. Bercanda dengan memegang gulungan ijazah, adalah pemandangan yang lumrah setiap kali sakura merontokkan bunganya. Dan tidak ada lukisan yang indah bagi Aiko selain senyum di wajah Ryuu.

“Ryuu-kun??” seorang gadis menghampiri Ryuu dengan setengah berlari.

Ryuu terdiam ditempat saat Gadis tersebut menghampiri Ryuu.
Sejenak mereka terdiam namun saling melempar senyum.

“Oia, ini ada surat dari teman-teman di SMP,” Miyazawa menyerahkan seikat surat kepada Ryuu, “tadinya kami ingin menjengukmu sewaktu di rumah sakit. Namun, Yamashita-sensei bilang, kau tidak boleh sembarangan dijenguk,”

Ryuu mengambil surat-surat tersebut, “terima kasih…”

“Jaa, aku masih ada keperluan lain. Sampai besok~” gadis itu pun pergi dan menghilang dari hadapan Ryuu.

“Siapa, nak??” sapa Aiko genit pada si bungsu.
“Teman…” jawab Ryuu singkat.
“Oh… Teman…” goda Aiko dengan nada manja.
“Maksud Kaa-san apa sih??” Ryuu mulai risih dengan nada bicara Aiko.
“Mama baru tau kalau ada ‘teman’ yang bisa membuat wajah Ryuu semerah ini…”
“Ah! Kaa-san!! Jangan menggodaku~!!”

Miyazawa Jennifer, gadis yang pernah sekelas dengan Ryutarou dan merebut hati cowok imut ini.
Keturunan Inggris-Jepang dengan mata biru yang indah. Memiliki perhatian yang besar terhadap teman-temannya, namun Ryuu terlalu malu untuk mengutarakan perasaannya.

“Ryuu cepat sembuh! Karena kami ingin lulus bersama denganmu!!”

Di pertengahan musim semi, Ryuu berhasil menjadi siswa di Rikkai DaiGakuen seperti Aiko dulu. Kanata sudah menjadi mahasiswa di sebuah universitas di Yokohama yang kerjaannya pulang malam terus seperti Kengo yang makin sibuk dengan pekerjaan akuntannya.

“Ryuu… sudah malam… tidurlah. Besok kan hari pertama sekolah…” bujuk Aiko saat melihat Ryuu masih asyik mengerjakan sesuatu dalam kamarnya.

“Sebentar lagi, Kaa-san…” rayu Ryuu balik pada sang Mama.
“Ryuu ngapain sih??” Aiko melangkah untuk mengintip ke dalam si bungsu.
“Eits! Rahasia…” Ryuu langsung menpekerjaannya.

Aiko hanya bisa menghela nafas, “baiklah… tapi jangan memaksakan diri,” Aiko mendorong kepala Ryuu sampai menyentuh kasur.

“Aww~!! Kaa-san~!!”

Dan kenangan ini… semoga bisa dirajut lagi oleh Ryuu…

そのまま 消えてゆくような
[saat itu harapan menghilang…]

Hari-hari berlalu seperti biasa bagi Ryuu walau harus sering-sering check-up ke rumah sakit. Namun, itu semua tidak menghalangi prestasinya bahkan saat berolahraga.

“Kaa-san, Ryuu mau masuk klub,” ‘curhat’ Ryuu saat Aiko sibuk mempersiapkan makan malam.
“Oh ya? Mau ikut klub apa?” tanya Aiko sembari sibuk memindahkan peralatan makan ke atas meja.
“Klub atletik,”

—-PRAANG!!

Itu yang namanya sendok plus garpu, langsung bertebaran dilantai.

“Ryuu serius??” Aiko benar-benar kaget dengan ucapan si bungsu.
“Memangnya kenapa?”
“Ryuu kan… badannya lemah…”
“Hanya karena itu, Kaa-san melarang Ryuu ikut klub atletik??”

Aiko terdiam, “tidak… bukan seperti itu…….” Aiko bingung dengan apa yang harus dikatakannya.
“Tenanglah, Kaa-san, Ryuu kan kuat!”

Namun… tepat diusia Ryuu yang ke 16 tahun, Ryuu harus merayakannya di rumah sakit.
Kondisinya menurun dan tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali.

“Hanya bisa ditekan dengan operasi…” ujar Kanesaki.
“Kenapa hanya ‘ditekan’!? kenapa tidak bilang ‘disembuhkan’??!!”
“Karena penyakit ini belum ada obatnya,”

Aiko hanya bisa menangis. Walau berusaha semaksimal mungkin, namun ini semua melelahkan…

“Ai-cchi… maafkan aku…” Kanesaki mengangkat wajah Aiko yang sudah basah oleh airmata.

Aiko tidak bisa menjawab apa-apa. Ia hanya bisa menangis dalam pelukan teman semasa kecilnya itu.

大きなものより小さなアイに 気づけば
[dari hal yang besar, kusadari cinta yang kecil…]

Malam ini, Aiko pulang ke rumah. Ada Kanata dengan Hime yang menjaga Ryuu di rumah sakit menggantikan dirinya yang harus mengurus rumah.

Sesampainya di depan rumah, Aiko menemukan sepasang sepatu milik sang suami di rak sepatu. Tandanya Kengo sudah pulang. Dirinya pun langsung mencari-cari sosok sang suami.

“Ken-Ken~!!” tanpa ampun lagi, Aiko langsung menggabruk Kengo dari belakang.
“Kko-chan??” susah payah Kengo melepaskan diri dari si chibi.

Namun sang istri tetap memeluknya erat.

“Kko-chan, aku sedang capek…” keluh Kengo.
Aiko pun langsung melepaskan rangkulannya.

“Ken-Ken sudah mandi?”
Kengo mengangguk.
“Sudah makan??”
“Sudah… sekarang aku mau tidur…” Kengo berbalik badan meninggalkan Aiko menuju tempat tidur, “besok aku harus ke Okinawa…”

“Okinawa??” Aiko mengerutkan alisnya.

“Kenapa harus pergi di saat terpenting seperti ini??” komentar Aiko.
“Pekerjaan…” jawab Kengo pendek.
“Ryuu kau tempatkan di prioritas keberapa??”
Kengo mendelik pada sang istri, “maksudmu?”

“Ryuu akan menjalani operasi besok. Dan kau masih sempat-sempatnya pergi ke Okinawa…”
“Jika ini memang pekerjaanku, lalu apa masalahmu?”
“Kau tidak lagi mementingkan keluarga,” jawab Aiko ketus.
“Aku melakukan hal seperti ini, karena aku mementingkan keluarga!”

–PRAKK!

Kengo sudah naik darah tandanya jika ada barang yang dibantingnya.

“Apa buktinya jika pekerjaanmu yang menjadi istrimu!!” Aiko tak kalah marah, “Aku ini istrimu atau bukan sih?? mengapa kau lebih sering berdua dengan pekerjaanmu ketimbang aku??” bibir mungilnya tergetar.

“Aku ini suamimu atau bukan??” gantian Kengo yang bertanya dengan nada dingin, “mengapa kau lebih sering berdua dengan dokter itu ketimbang aku yang suamimu??”

“Apa maksudnya? Kok membawa Kane-chan dalam pertengkaran kita??”
“Kau lebih memilih untuk berbagi bebanmu dengannya ketimbang aku,”
“Maksudmu??”
“Tadi aku melihatmu berduaan dengannya,”
“Itu karena kau ada dengan pekerjaanmu! Bukan denganku!”
“Itu karena kau tidak lagi menganggap aku sebagai suamimu!!”

Aiko langsung terdiam saat suara sang Suami melebihi dirinya.

“Apa perasaanmu sudah berubah padaku saat bertemu laki-laki itu??” Kengo melirik sinis pada Aiko.

Aiko terdiam. Bahkan Ia sendiri tidak tau apa jawaban hatinya.

“Mungkin kita sudah terlalu berbeda,” gumam Kengo.
“Kalau begitu, kenapa kita tidak berpisah saja??”

Tiba-tiba saja kata-kata yang sejak awal sumpah pernikahannya itu di haramkan, terlontar begitu saja.
Suasana menjadi sangat getir. Diam. Sunyi tanpa sedikit pun suara yang membelah malam. Waktu seperti terhenti.

“OK, kalau itu maumu… Akan kuturuti…” Kengo berjalan keluar kamar, “kita… cerai saja.”

Dan pintu pun terbanting.

Aiko terus mengutuk dirinya atas perbuatan dan ucapan terbodoh dalam hidupnya tersebut.
Tanpa bisa keluar dari kamarnya, Ia menangis. Rasa kesal juga sedih yang dirasakannya, tumpah malam itu tanpa pelukan hangat sang suami yang seperti biasanya…

いつか時が 花を咲かし
[Suatu saat bunga bermekaran…]

Pagi menjelang, Aiko baru tersadar dari tangisannya semalam.
Masih terasa perih dimatanya yang terus menerus Ia hapus dengan jemarinya.
Cahaya matahari pagi membasahi wajahnya yang sebagian terbenam dalam bantal.
Tercium aroma fragrance milik Kengo dalam kamarnya.

Tersadar Aiko akan sang Suami. Beranjak dirinya dan membuka pintu dengan harapan Kengo masih tertidur diatas sofa. Namun Aiko terlambat. Yang tersisa pagi itu hanyalah sisa kopi paginya. Kengo, sudah berangkat…

Hhh… Ternyata Ken-Ken menganggapnya serius…

“Jadi… gara-gara aku ya??” gumam Kanesaki saat Aiko menceritakan permasalahannya.
“Tidak, Kane-chan… Tidak seperti itu…” Aiko berusaha menjaga perasaan teman masa kecilnya itu.
“Tidak apa, Ai-cchi,” senyumnya lembut, “ceritakanlah semuanya padaku. Kita kan sahabat,” Kanesaki menunjukkan setangkai clover berdaun empat yang sudah mengering dalam selotip yang Ia rekatkan pada sepotong kertas usang.

Aiko mengerutkan keningnya, “Ah! Kau masih menyimpannya??!!”
“Tentu saja!” Kanesaki terkekeh.
“Itu kan kenangan 30 tahun lalu~”
“30 tahun lalu, kau bilang kalau daun ini adalah keberuntunganku. Memangnya tidak boleh kalau aku terus membawa keberuntunganku??”
“Ung… tidak seperti itu sih…”

Sejenak itu, Aiko melupakan persoalannya dengan Kengo.

Kanesaki menepuk dahi Aiko dengan telapak tangannya, “sudah dulu ya, aku harus kembali bekerja,” ucapnya sembari berlalu.

“Terima kasih, Kane-chan…”

やがて大きなアイが
[begitu pun cinta yang besar,]

2 hari setelah hari itu…

“Benarkah di sini kamarnya?”

Terdengar bisik-bisik dari luar ruangan. Aiko langsung menoleh pada pintu masuk.

“Ah~ ternyata benar”

Tampaklah Kime-Hime dalam penampilan biasanya,–kimono panjang dan geta.

Haha-ue…kapan tiba di Kanagawa? Kenapa tidak memberitahukanku lebih dulu??”
“Sudah kubilang, panggil aku Kaa-chan~ jangan panggil aku se-formal itu. Aku belum tua,” protes perempuan yang berusia senja ini.

“Ah… baik, Kaa-chan…” ujar Aiko memaklumi permintaan Nenek dua cucu ini, “Kaa-chan kok tahu kalau Ryuu masuk Rumah Sakit??”
“Matsun yang memberitahuku,” senyumnya seperti biasa.

Aiko sedikit melongok ke belakang sang mertua. Nampak adik iparnya — Matsun, senyum-senyum gaje.

“Oh, masih ingat Jepang?? Kukira sudah betah di Inggris…” Aiko langsung pasang tampang males.
“Aiko-chaaann~ lama tidak jumpa~” Sapa Matsun seperti biasa–melebarkan tangan dengan pose ingin memeluk.
“Panggil aku Ai-nee!! Bukan Aiko!!” dan tamparan Aiko seperti biasa, “hanya Ken-Ken yang boleh memanggilku seperti itu,”

Dan Matsun selalu berakhir dengan ‘tanda tangan’ Aiko di pipinya.

“Bagaimana kabar Ryuu?” Kime menelungkupkan telapak tangannya yang keriput diatas kening Ryuu.
“Kondisinya stabil setelah operasi kemarin… semoga saja Ryuu cepat sembuh…”
“Apa dia sadarkan diri??”
“Ya… pertama kali Ryuu sadarkan diri, baru tadi pagi… dan sekarang sedang tertidur…”
“Biarkan saja ia tertidur dulu… ” Kime mengusap rambut cucunya yang kriwil-kriwil mirip sang anak–Kengo.

“Matsun…” panggil sang Mama, “tolong jaga Ryuu sebentar, Mama ada urusan dengan Ai-chan…”

歌うように 奏でるように
[seperti bernyanyi dan bermain-main…]

“Kudengar, kau akan berpisah dengan Ken-Ken, ya??” tanya Kime setengah berbisik.
Sempat Aiko terkejut dan menoleh kepada ibu mertuanya, “Iya…” jawabnya perlahan, “Okaa-chan tahu darimana??”

Kime tertawa kecil, “Aku ini Ibu kalian. Masalah sekecil apapun takkan bisa disembunyikan di hadapanku,”
Aiko melongo tidak mengerti.

Kime tertawa garing, “tidak… tidak… semalam Kengo meleponku, dan menceritakan semua yang terjadi…”
“Lalu~ Lalu~ Ken-Ken bilang apa??” tanya Aiko antusias.
“Setelah bilang kalau kau meminta cerai, sambungannya terputus begitu saja. Mungkin karena jaringan kali ya??”

Aiko terdiam. Ia tidak bisa berbicara apa-apa di hadapan Ibu mertuanya ini.

“Ai-chan yakin ingin pisah dengan Ken-Ken??” tanya Kime untuk memastikan. Kedua tangannya yang keriput membungkus telapak tangan sang menantu, “Mama hanya bertanya… tidak ingin mencampuri urusan kalian. Kalau Ai-chan tidak ingin bersama Ken-Ken lagi, itu sudah di luar kuasaku sebagai Ibu kalian…”

Aiko menggeleng pelan, “tidak, Okaa-chan… saat itu aku hanya sedang emosi,”
“Mama percaya itu…” ucap Kime lembut — seakan sudah mengetahui semuanya.
“Aku ingin sekali meminta maaf, tapi Ken-Ken keburu menganggapnya serius…”
“Meminta maaflah, selagi orang yang kau cintai masih ada di hadapanmu,” Kime mengacak-acak poni Aiko, “Oia, tolong berikan ini untuk Ryuu…” Kime menyerahkan sesuatu dari dalam tas mungilnya, “aku membuatkannya untuk Ryuu,”

Aiko menerima pemberian sang mertua.

“Tapi… harus Ryuu yang membukanya,” senyum Kime penuh arti.
Aiko hanya bisa mengangguk, “terima kasih… Okaa-chan,”

“Mama harus pulang sekarang,”
“He? Kenapa secepat itu?? Tidak menginap di rumah dulu??”
Kime tertawa kecil, “Papa mertuamu bisa ngamuk-ngamuk kalau kutinggal sendirian jauh-jauh,”

二人を包むだろう
[Dan kita berdua akan didekapnya…]

Aiko menemukan Ryuu sudah bangun saat dirinya kembali dari mengantar sang mama mertua ke lobby rumah sakit.

“Ryuu??” panggilnya.
“Kaa-san, lihat deh~” Ryuu menunjukkan sebuah jam pasir mungil dari dalam kotak yang diberikan Kime.
“Itu… yang dari dalam kotak?”

Ryuu mengangguk pasti tanpa melihat sang mama yang berjalan mendekat.

“Obaa-chan tau saja kalau Ryuu ingin ke pantai…” gumamnya senang sambil memandangi jam pasir mungil tersebut.
“Ryuu ingin ke pantai??”
“Iyah, nanti… kalau sudah bisa berjalan lagi…”

Aiko ingat terakhir kalinya mereka ke pantai saat Ryuu berusia 8 tahun, dan itu sudah 6 tahun yang lalu. Rindunya Aiko pada saat-saat bersama seperti dulu.

Ken-Ken… semakin jauh…

アイのうたが 聴こえたんだ
[Apakah Kau mendengar lagu cinta?]

“Nomor yang anda tuju, sedang berada diluar jangkauan. Silahkan hubungi lagi dalam beberapa menit,” Aiko menaruh kembali gagang telepon umum rumah sakit.

Ini sudah kesepuluh kalinya Aiko menghubungi Kengo. Tak satu pun yang dijawab oleh Kengo dan malah sama mbak veronika yang menjawab seperti demikian melulu.

“Jangan-jangan, Ken-Ken benar-benar marah padaku…” desahnya sembari bersandar pada tembok disampingnya.

Malam itu, perasaan Aiko benar-benar campur aduk. Belum pernah Ia merasa gelisah seperti ini.

“Kaa-san istirahat saja dulu, biar Kanata yang menjaga Ryuu,” ujar Kanata.
“Tapi, besok Ka-chan harus berangkat pagi kan??”
“Tidak. Besok libur kok…”

Aiko sedikit lega, “Mama… titip Ryuu-chan ya…”
Kanata mengangguk, “Kaa-san istirahat ya,”

それは 小さなアイが
[Ini adalah sebuah cinta kecil,]

Telah terjadi kecelakaan pesawat di bandara Narita dengan nomor penerbangan JA 8167…

Sejenak Aiko terhenti di depan sebuah televisi yang menyiarkan berita kecelakaan pesawat.

Pesawat yang take-off dari Okinawa ini, diduga tergelincir sesaat sebelum mendarat sempurna di bandara Narita. Diperkirakan menelan ratusan korban karena para penumpang tidak sempat menyelamatkan diri saat pesawat meledak……

Aiko langsung berlari pada telepon umum yang berada di dekatnya.

Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif, silahkan hubungi kembali beberapa saat lagi…

“Ken-Ken!! Jawab teleponnya!!” gerutuk Aiko setengah berbisik. Berulang kali Ia menelepon sang suami, namun hanya jawaban sama dari operator yang didapatnya.

Aiko pun mencoba menghubungi pihak Bandara.

“Maaf jaringan kami sedang sibuk…”

“Argh!! Sial!!” Aiko membanting kepalan tangannya pada dinding koridor rumah sakit. Kesal. Sudah ratusan kali Ia mencoba menghubungi Kengo tetap tidak ada jawaban. Sedari Kime datang tadi siang sampai menjelang larut malam.

“Diceraikan olehmu pun aku bersedia… asal kau selamat…”

微笑むように
[Seperti tersenyum…]

Dengan operator bandara Narita, ada yang bisa kami bantu?

Akhirnya, telepon Aiko yang kesekian tersambung juga dengan telepon operator bandara. Tanpa basa-basi lagi, Aiko langsung menanyakan tentang kecelakaan pesawat tersebut dan kabar sang suami.

Tapi Aiko tidak mendapatkan kabar apapun.

“Maaf, informasi yang anda minta tidak ada. Mungkin karena saat ini situasi sedang labil. Jika ada informasi mengenai suami anda, kami akan segera menyampaikannya, terima kasih,”

Dan panggilan pun berakhir.

Malam menjelang…
Ketidak-pastian kabar sang suami membuat Aiko resah. Namun kondisi tubuhnya yang kelelahan, membuat dirinya memutuskan untuk segera pulang ke rumah mereka berdua.

“Lebih baik kuberdo’a di rumah saja…” pikirnya menerawang langit malam, “Semoga Ken-Ken tidak apa-apa…:

寄り添うような
[Dan kita menjadi semakin dekat,]

Rumah benar-benar sepi malam ini. Hanya lampu beranda rumah yang menyala.
Ingin rasanya Aiko menangis kala suasana rumah menyapa hatinya yang kosong.
Sambil terus berharap, Aiko menelpon Kengo yang tak kunjung memberinya kabar.

Akhirnya Aiko hanya bisa berdiam dalam kamarnya. Kenangan begitu banyak tergambar dalam ruangan tersebut. Lemari pakaian mereka berdua, meja rias Aiko, tumpukan ‘pekerjaan’ Kengo yang nggak pernah rapi, dan kasur yang menghadap jendela besar berdaun dua–tempat dimana mereka berbagi segalanya.

Ada sebingkai foto pernikahan mereka berdua 18 tahun lalu. Tanpa sadar, jemarinya meraih potret tersebut. Diraihnya gambar mereka berdua, dan dipandanginya lekat.

Aku merindukanmu…

Aiko tersadar akan sesuatu. Jemarinya menyentuh beberapa lembar kertas dibelakang bingkai foto tersebut. Dengan rasa penasaran ditariknya kertas tersebut, sehingga nampaklah sebuah album photo mungil yang sudah kusam.

Alisnya berkerut karena tidak pernah melihat album foto yang seperti ini. Dibukanya perlahan dan terlihat oleh sepasang matanya; potret dirinya saat belum menikah dengan Kengo…

Diamatinya satu persatu lembaran foto tersebut…

“Ini kan… saat upacara kedewasaanku??” pikirnya saat melihat dirinya yang memakai kimono krem dan sedang khusuk menundukkan kepala dengan siswa-siswi lainnya.

Dibukanya lagi lembaran berikutnya. Banyak foto tentang dirinya yang Kengo potret tanpa disadari olehnya.

Selamanya…

Aiko menemukan tulisan tangan sang suami pada lembar foto dirinya terakhir; foto saat dirinya memandang kembang api saat festival musim panas–hari dimana Kengo meminta dirinya untuk menemani sang suami seumur hidup.

“Aku pulang…”

Terdengar seperti fatamorgana; mendengar suara Kengo yang menutup pintu. Namun Aiko tetap berlari menuju pintu depan rumahnya. Nampak olehnya sang suami yang kuyup karena kebasahan oleh hujan.

Benar-benar pemandangan yang diinginkan oleh hatinya saat ini–melihat Kengo baik-baik saja. Namun Aiko tidak mempercayainya sebagai kenyataan. Sampai perasaannya meluap dan airmatanya menggambarkan semua yang ada dalam hatinya.

Kengo–yang awalnya pasang tampang cuek, langsung menatap Aiko heran, “melihatku pulang kok langsung nangis??”

Bukannya menjawab Aiko malah berlutut menahan tangis dihadapan suaminya–dan berhasil membuat Kengo makin bingung.

“Kko-chan…” Kengo menyibakkan poni yang menutupi wajah sang istri, “… kenapa??”
Aiko mengangkat wajahnya dan menatap lekat sang Suami, “Ken-Ken masih hidup??”
Sontak saja Kengo langsung kaget ditanya demikian oleh sang istri, “tentu saja bodoh! Memangnya aku ini kenapa??”

Secara refleks Aiko langsung memeluk sang Suami, “Aku mendengar berita kecelakaan pesawat…” jawab Aiko polos sembari bercucuran airmata.
“Maksudmu, aku mati dalam kecelakaan pesawat??” Kengo memvonis dirinya sendiri.
Aiko mengangguk, “Iya, tadi kudengar berita kecelakaan pesawat yang dari Okinawa. Bahkan, tadi aku sempat menghubungi pihak bandara,” wajahnya udah kusut karena dari tadi kecapekan.
“Aku kan mengambil penerbangan dari Osaka. Tidak langsung dari Okinawa,” ujar Kengo.
“Kan kukira kau langsung dari Okinawa……”

Kengo hanya bisa menghela nafas. Mau protes tapi kasihan sang istri yang udah korban perasaan… Mau tertawa juga kasihan melihat wajah sang istri yang kusutnya kayak rambutnya…

“Maaf ya, Kko-chan… sudah membuatmu khawatir…” peluknya hangat.
“Seharusnya aku yang meminta maaf, tau!”

Teriakan sang istri cukup membuat telinganya sakit. Tanpa suara, Kengo berjengit. Mengusap telinga yang dirasanya pengang tersebut.

“Aku minta maaf atas pertengkaran kemarin…” sesalnya, “perkataan yang kemarin, tidak sungguh-sungguh kok, waktu itu, Koko hanya emosi, lalu……..”

“Sshh…” selak Kengo, “untuk yang itu… aku sudah memaafkannya…” senyumnya tulus, “aku tahu kalau saat itu Kko-chan sedang emosi,”
“Tapi, kenapa Ken-Ken mengabulkan permintaanku untuk berpisah??”

Kengo menarik nafas dalam. Sebuah pertanyaan yang tidak polos yang dilanturkan oleh sang istri secara lugu.

“Waktu itu, sehari sebelum pernikahan kita, aku bersumpah untuk mengabulkan segala permintaan istriku kelak,” cerita Kengo.

“Walau permintaan sebodoh itu?!”

Kengo mengangguk.

“Bodoh! Apa jadinya aku kalau tanpa Ken-Ken??!” Aiko mencak-mencak.
“Makanya jangan meminta yang aneh-aneh~” Kengo menjitak sang istri.
Gantian Aiko yan mengusap kepala.
“Tapi… jangan ke rumah sakit sendirian lagi,” pinta Kengo.
“Kenapa??” tanya Aiko heran.
“Pokoknya jangan! Setidaknya dengan Kanata, kalau aku tidak bisa menemanimu,”

Kelakuannya persis Ryuu kalau lagi ngambek; bibirnya manyun.

Aiko mengernyitkan alisnya. Mencari-cari alasan mengapa sang suami melarangnya untuk pergi sendirian, “Ah~ Ken-Ken masih cemburu ya~” goda sang Istri.

Kengo terdiam dengan wajah memerah, “memangnya tidak boleh??”

Sudah lama Aiko tidak merasakan sensasi debaran jantungnya seperti saat ini, “Ken-Ken tenang saja… Aku selalu mencintaimu…”
“Benarkah??”
“Iya. Kane-chan hanya temanku sewaktu masih di Kyoto dulu. Itu saja kok,”
“Bohong,” Kengo langsung beranjak meninggalkan sang Istri.
“Sungguh,” Aiko merajuk.

Kengo cuma tersenyum kecil.

“Ah~ Ken-Ken jangan ngambek~”

優しい音がした
[Oleh kelembuatan suaramu…]

Akhir Musim Semi…

“Hasil operasi kemarin, menunjukkan perkembangan yang semakin membaik. Tidak menutup kemungkinan, Ryuu-kun akan sembuh…”

Dua minggu setelah operasi, Ryuu diizinkan untuk keluar rumah sakit karena kondisinya membaik.

“Namun, karena baru saja sembuh, Ryuu-kun sementara ini jangan melakukan aktifitas yang berat, seperti berolah raga atau mengangkat beban yang cukup berat. Namun untuk sekolah…. saya izinkan…”

Betapa senangnya Ryuu saat dirinya diizinkan untuk berjalan sendiri. Walau terkesan seperti baru pertama kali belajar, namun sang Mama langsung memapahnya.

Kengo hanya bisa tersenyum kecil dari kejauhan.

“Hei…” seseorang menepuk bahunya dari belakang, “jangan khawatir soal yang kemarin…” dan Itu adalah Kanesaki.

Kengo berdeham kecil, “tidak usah diungkit lagi…”
“Kau pria beruntung yang dicintai wanita sebaik dia…”

Dilihatnya sang istri yang tersenyum manis saat membantu Ryuu untuk berjalan; begitu cantik.
“Dan dia adalah wanita yang tidak bisa mencintai laki-laki lain selain aku…” gumamnya pede.
“Kalau begitu, jangan sekali-kali menyakiti hatinya…” Kanesaki pun pergi.

“Kalian ngomongin apa sih tadi??” tanya Aiko saat melihat Kengo menghampiri mereka berdua.
Kengo tersenyum kecil, “urusan laki-laki,” Kengo memeluk sang istri dengan tangan kanannya.
“Ah~ aku juga mau tau…” bibir Aiko maju — manyun.
“Rahasia…” bisik sang suami.

Aiko melihat sosok Kanesaki yang berjalan menjauh dari belakang sang suami.

“Kane-chaaannn~” panggilnya, dan laki-laki itu pun menoleh, “terima kasih atas semuanyaaaaa~”
Kanesaki hanya bisa tersenyum dan melambaikan tangannya sejenak, lalu pergi.

時は流れ 夢は流れ
[Waktu mengalir, mimpi mengalir…]

“Selamat datang…” Kime menyambut sang cucu yang berlari ke arahnya.

Memasuki libur musim panas, Ryuu langsung meminta untuk liburan ke kampung halaman sang ayah di Kagoshima.

“Obaa-chaaann~” Ryuu menggabruk sang nenek.
“Ryuu sudah bisa lari??”
“Sudah,”
“Tidak sakit kah??”
“Ung… masih terasa sakit di sini…” Ryuu memegang lututnya.
“Kalau begitu, kita masuk dulu ya,”

Hangat rasanya hati Aiko saat kebersamaan ini tercipta di hadapan matanya.

“Ryuu??” Aiko mencari-cari si bungsu ke seluruh penjuru rumah sang mertua.

Sudah menjelang senja tapi Ryuu belum terlihat berada di dalam rumah.

“Ada apa Ko-chan??” tanya sang suami.
“Ryuu mana??”
“Entahlah, dari tadi pun aku belum melihatnya,” Kengo memandang keluar gerbang rumah.
“Sejak kapan Ia tidak ada??”
“Baru saja sih. Tadi kulihat dia masih bermain-main dengan jam pasirnya,”

Aiko langsung teringat sesuatu.

“Ken-Ken, aku keluar sebentar,”

Kengo tak menjawab karena sang istri langsung melesat lari meninggalkan dirinya.
Jarak pantai dengan rumah sang mertua hanyalah sebatas tapal. Dengan sekejap saja Aiko sudah mencium bibir pantai dengan langkah kakinya.

“Ryuu!!” Aiko menggabruk si bungsu yang sedang berdiri menantang sang matahari yang menjadi oranye di ufuk barat.
“Kaa-san??!!” Ryuu terkejut, “darimana Kaa-san tahu kalau aku berada di sini??”
“Ini,” Aiko mengambil pasir pantai dengan tangannya, “Ryuu ingin ke pantai kan??”
Senyumannya terulas oleh sinar orange senja,”iyah… Ryuu ingin menenangkan diri…”
“Ryuu… apa sih cita-cita Ryuu-chan??” tanya Aiko iseng.

Si bungsu langsung menoleh ke arahnya.
Aiko tersenyum memastikan.

“Rahasia…” jawab Ryuu membalas senyum sang Mama, “walaupun rasanya susah, tapi Ryuu akan berjuang untuk mewujudkan mimpi Ryuu…” gumamnya kemudian, “maka itu, Kaa-san jangan terus menangis gara-gara Ryuu. Rasanya menjadi anak yang kurang ajar kalau selalu membuat Kaa-san menangis…”

Aiko terhenyak dengan ucapan si bungsu, “… ah, lama-lama kamu mirip ayahmu…” Aiko makin erat mendekap si bungsu.

“Gyaaa!! Kaa-san geli!!” Ryuu menghindar saat Aiko melingkarkan tangannya di pinggangnya.

Tawa yang lepas ke angkasa disertai cipratan-cipratan butir laut, adalah moment yang paling berharga dihatinya saat ini.

Seandainya waktu terhenti… aku ingin menghentikannya sekarang…

Yokohama, Agustus…

“Kaa-san, aku terpilih menjadi peserta festival olah raga,” cerita Ryuu di suatu pagi sembari berkumpul sarapan bersama.

“Oh ya?”
“Iya, aku lomba lari jarak pendek, akhir musim panas nanti,”
“Wah, festival olah raga ya?? Harus menyiapkan bekal nih,” Aiko mengira-ngira bekal apa yang akan dibuatnya nanti.
“Kaa-san nonton yah??” pintanya.
“Pasti,” Aiko mengangguk.
“Ttou-san??”

Kengo mengangkat pandangan dari koran yang dibacanya, “hum??”
“Nonton yah??”

Kengo terdiam. Hari itu ada presentasi penting.
Aiko tersenyum malaikat–setengah memaksa artinya, saat dirinya menoleh sang istri.

“Baiklah… aku akan datang…”
“Yeeiiyy~!!”

Akhir Musim Panas

Akhir musim panas, Ryuu kembali masuk rumah sakit karena kondisi tubuhnya yang terus menurun, tepat sehari sebelum festival pertandingan olahraga antar sekolah berlangsung.

Syndrom itu kembali menyerang saraf-sarafnya sehingga Ryuu tidak dapat berlari bahkan berjalan dengan baik. Setelah 5 hari di rawat, Ryuu dipindahkan ke ruangan khusus yang steril agar tidak terkontaminasi dengan lingkungan luar.

“Ryuu bagaimana pemeriksaannya tadi??” Tanya Aiko yang baru datang.

Sedari tadi dirinya tidak boleh berada di sisi si Bungsu dengan alasan medis.

“Membosankan,” keluhnya.

Suara kembang api dari seberang sana mewarnai ruangan isolasi yang terasa dingin.

“Aku… ingin ke festival…” curhatnya.
Aiko hanya bisa tersenyum miris, “maka itu, Ryuu harus cepat sembuh. Kalau Ryuu sudah sembuh, Ryuu bisa pergi ke festival lagi,” hibur Aiko.

Aiko menyibakkan tirai yang menutupi malam dari pandangan mereka. Tampaklah bunga-bunga yang bermekaran dalam gelapnya langit dari seberang sana.

“Kita… menonton dari sini saja ya…” saran Aiko.
Ryuu mengangguk, “tahun depan, aku harus melihatnya dari dekat,”
“Iya, dari dekat…”
“Bersama yang lainnya… bersama teman-teman,”

Hal ini yang membuat Ryuu menjadi kesepian. Teman-temannya dilarang masuk bahkan sang Ibu yang terbiasa di sampingnya pun harus berada di luar ruangan di saat-saat tertentu.

“Kaa-san….” panggil Ryuu lirih. Nafasnya berembun pada masker yang membantu pernapasannya, “jangan pergi…” tangannya meraih lengan baju sang Mama yang hendak pergi.

“Mama cuma keluar sebentar saja, kok…” senyumnya lembut sembari mengusap kepala Ryuu.
“Gak boleh!” rengek Ryuu, “Kaa-san harus tetap di sini…” pintanya manja.

Agak aneh bagi Aiko karena baru kali ini Ryuu bersikap sangat manja padanya. Biasanya Ia terbiasa mandiri dan lebih suka diam.

Aiko mengalah. Untuk kali ini saja ia melanggar aturan jam besuk.

“Iya, Mama akan tetap disini…” Aiko memandang sayu wajah Ryuu yang sudah mengantuk.
“Ryuu ngantuk…” keluhnya.
“Tidurlah… Biar obatnya cepat bekerja,”
“Aku…. sayang Okaa-san…” ucapnya sebelum tidur. Tidak biasanya Ryuu mengucapkan kata-kata seindah itu kepada sang Mama.

“Mama juga sayang Ryuu…” dikecupnya kening Ryuu. Tak lama kemudian, Ryuu tertidur dalam mimpinya dengan menggenggam erat tangan sang Mama.

Semoga, masih ada hari esok…” harapnya sembari memandang keluar jendela.

いろんなかたち 変わっても
[Walau banyak hal berubah…]

Aiko terbangun di pagi yang cerah…

Bukan oleh hangatnya sinar matahari, atau merdunya kicauan burung.
Aiko terbangun oleh sebuah suara yang terdengar bising dan menganggu telinganya.

Alarm apa ini?? tanyanya dalam hati dengan pandangan yang masih kabur dan tangannya yang masih digenggam oleh Ryuu.

Aiko kelimpungan mencari-cari sumber bunyi namun yang Ia temukan hanyalah detektor detak jantung yang sudah menunjukkan garis lurus tanpa denyut….

Kukira… Aku mencintai musim panas sama seperti Ryuu menyukainya. Namun kenapa sekarang bagiku musim panas kali ini menyakitkan…

Masih terasa genggaman tangan si bungsu untuk yang terakhir kalinya.
Begitu hangat dan membekas.

Ryuu pergi di pagi akhir awal September — setahun sudah Ia berjuang melawan penyakitnya. Dokter menyatakan kepergiannya akibat komplikasi yang tidak mampu lagi di tanggung oleh tubuhnya yang belum cukup kuat. Berat bagi Aiko saat perawat melepaskan genggaman tangan Ryuu dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut putih.

“Padahal kemarin kau baru saja menyatakan cinta padaku…” bisiknya lirih di telinga Ryuu yang terbaring dalam kasur bunga chrysanthemum putih dalam peti.

Wajahnya begitu tenang dengan senyuman tipis walau pucat.

Jika dikatakan pemakaman itu identik dengan hujan, maka kubenarkan adanya. Namun kali ini, hujan momiji merah yang mengatarkan kepergiannya, dan kuharap bukan hujan airmata…

あなたがただ ここにいれば それだけでいい
[Tidak apa, asal kau ada di sini…]

Sudah berselang satu bulan semenjak kepergian sang anak, dan memasuki kamar Ryuu adalah satu hal yang menakutkan bagi Aiko. Kengan-kenangan itu akan kembali menyergapnya dalam kehilangan.

Namun, ada satu hal yang membuat Aiko penasaran.

Apa yang Ryuu kerjakan di malam itu sampai-sampai dirinya tidak boleh untuk sekedar mengintip.

Seperti sebuah kanvas saat Aiko memberanikan dirinya untuk membuka pintu kamar si bungsu. Kanvas yang penuh rahasia yang masih tertutup selembar kain. Walau sedikit gemetaran, namun Aiko menguatkan hatinya untuk melihat apa yang ada dibalik kain putih tersebut.

Dengan sekali tarik, sekejap saja kain putih tersebut tersibak beserta tirai yang tak sengaja ditariknya. Terbukalah kanvas dan juga jendela kamar Ryuu yang selama ini di tutupinya.

Dua pemandangan yang sama…

Lukisan dan apa yang di lihatnya di jendela. Sebuah pot yang tumbuh setangkai dandelion putih. Ryuu melukiskan apa yang dilihatnya melalui jendela kecil tersebut; langit biru yang luas dengan tangkai dandelion.

Aiko ingat kalau suatu hari dirinya pernah bercerita pada si bungsu, kalau Ia sangat menyukai langit biru yang berada di atas kepalanya.

“Dan kamu akan selalu menjadi langitku…”

あなたがいて そばで笑う それだけでいい
[Tak apa, asal kau tertawa di sisiku,]

Dedicated to:

My dearest Ryoutarou.
Emak bejat, emang, malahan bikin yang beginian.
Tapi overall, saat itu author tengah terinspirasi oleh sebuah komik yang beretmakan ‘Make A Wish Japan’, sebuah foundation yang mengabulkan harapan-harapan dari anak-anak penderita penyakit parah.
Semoga tak lagi banyak anak yang menanggung beban penyakit seberat ini, dan semoga makin banyak orang yang masih mempunyai nurani untuk membantu anak-anak seperti ini semampu mereka.

Best Wishes
Aiko