Title: Aishite, Aishiteru, Aishi Sugita…
Author: Asagawa Aihara
Series: Atashi-tachi no Kazoku
Genre: Angst, Alternative Universe
Rating: PG
Theme Song: flumpool – Zanzou
Current mood: Dizzy

__________________________________________

Yooo…. Minna-minna~! XD
Back with me again, Aiko.
Sebelum memulai promo fanfic terbarunya, izinkan saya untuk mengucapkan

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1432 H
MOHON KETUPAT DAN OPOR AYAMNYA
MOHON MAAF LAHIR BATIN

YOSH!
Mengobati kerinduan akan sang suami, dan dunia tulis-menulis, maka inilah yan tercipta dari bengong singkatnya saat menunggu angkot sepulang sekolah.
Agak gaje, dan aneh, tapi niatnya ya bikin cerita angst. Moga aja nyambung.
Sekaligus menjadi sebuah kado ulang tahun untuk my lovely lil’bro, MatsuJun. XD emang bukan waktunya dan tanggalnya, cuma, mepet-mepet lah… X3*digaplok*

Sebelum memulai start untuk membaca fanfic *yang tak seberapa ini* mohon maafkan saya, atas susahnya tuts ‘G’ untuk dipencet. Jadi, maaf sekali jika ada kata-kata yang ganjil dan kehilangan huruf. Maklum, keyboard usia 3 tahun…

Akhir kisah, tanpa cuap-cuap lebih jauh, silahkan menikmati rangkaian kata-kata di bawah ini.

Douzo otanoshimishite kudasai

Casts:

Istri dari seorang akuntan yang berbeda usia 5 tahun, serta berbeda tinggi 20 cm darinya. Lugu, polos, kekanak-kanakan. Ibu dari 2 anak ini hobi memasak dan menulis : Takigawa Aiko

Takigawa Kengo : suami dari Aiko, dan bekerja sebagai akuntan senior di sebuah bank asing di Kanagawa. Ayah 2 anak ini hobi membaca buku dan merawat bonsai–infeksi yang disinyalir dari ayahnya.

Pendiam dan introvert. Sifat yang diklaimnya berasal dari kakek pihak sang Ayah–Kengo. Hobi memancing dan main tennis. Tukang makan dan tidur : Takigawa Kanata

Takigawa Ryutaro : Bungsu dari 2 bersaudara ini paling lincah. Berbahasa nyelekit kalau sudah kesal. Pecinta game dan gadget terbaru. Paling benci sayuran. Puding maniak.

Adik dari Kengo yang berjarak 2 tahun. Jomblo sejati. Setelah sang kakak menikahi Aiko, Jun pindah ke London demi menyembuhkan patah-hatinya. Dipanggil ‘Matsun’ oleh sang Kakak ipar tanpa alasan yang jelas : Takigawa Jun

Tsuchiya Yuichi : kepala keluarga Tsuchiya, ayah Aiko. Lebay. Namun takluk oleh sang istri. Penyuka natto, dan sangat menyayangi Aiko. Konsultan pajak.

Istri dari Yuichi. Ibu 3 anak yang kalem dan kelewat polos. Jago merajut, penyuka dorama. : Tsuchiya Harumi

Tsuchiya Sota : kakak kembar Aiko yang lahir lebih dulu 7 menit dari sang adik. Hal yang dibenci-nya coklat. Seorang pengacara lulusan fakultas hukum universitas yang sama dengan Aiko. Pelahap Taiyaki paling ganas. Tukang rakit Gunpla.

Istri Sota. Lebih muda 3 bulan dari sang suami. Sering dimarahi Aiko karena memanggilnya nee-chan.
Seorang redaktur majalah lokal di Osaka : Tsuchiya Kumiko

Takigawa Eiji : kepala keluarga Takigawa. Ayah dari Kengo dan Jun. Budayawan di Kagoshima yang mencintai permainan koto. Pendiam namun tak tahan dengan yang namanya anak kecil.

Istri dari Eiji. Penyanyi kabuki senior. Paling manja dengan si sulung, paling jago membuat kimchi. Paling benci high-heels, kolektor geta. Beda 5 cm dari sang menantu; Aiko : Takigawa KimeHime

__________________________________________

風に吹かれなびく髪 柔らかな陽射し あの日と同じ景色
[Rambutmu yang berombak dalam terpaan angin, sinar matahari yang lembut, Dan pemandangan yang sama dengan hari itu…]

Maret akhir, Tsuyu.

“Ko-chan! Bisakah barang sehari saja kau diam di rumah?” Kengo–29tahun–berang saat melihat sang istri sudah siap-sedia dengan hand-bag nya untuk mengantar Kanata–sulung mereka–ke taman kanak-kanak.

“Ken-ken sayang, aku tidak pergi jauh kok. Hanya mengantar Ka-chan ke taman kanak-kanak saja. Dan itu berjarak tak lebih dari 500 meter,” rayu Aiko–24 tahun–sembari mengoleskan butter diatas roti sarapan pagi Kanata–3tahun.
“Tapi kau sedang hamil tauk! Dan sudah memasuki bulan-nya,” geram, Kengo menarik kembali hand-bag sang istri masuk ke dalam kamar, “hari ini, aku saja yang mengantar Kanata,”

______________________________

Di pagi menjelang siang ini, yang tersisa hanyalah dirinya yang tak bisa kemana-mana. Aiko bosan setengah mati. Padahal, 15 menit baru terlewati jika ditarik dari saat mobil sang suami meninggalkan pekarangan rumah mereka.

“Hh… Masa iya harus seharian di rumah dan berguling di kasur? Bisa-bisa… aku jadi ikan paus,” gerutunya.

Beberapa bulan kebelakang ini, sang suami menjadi begitu cerewet dan kolot. Mungkin sekitar usia kehamilan keduanya ini memasuki fase 7 bulan. Barang pergi ke department store saja harus menunggu sang suami ada di rumah untuk mengantarkannya. Bahkan Kengo pun rela menambah abodement tagihan ponsel-nya karena setiap dirinya jauh dari sang istri, setiap 5 menit itulah dirinya menelpon ke ponsel Aiko.
Hidupnya makin membosankan saat pergerakannya yang terbatas, dengan usia kandungan memasuki 9 bulan.

全ては心次第だよと 笑ってた君だけ消して
[Yang menghilang hanyalah ketulusan hatiku dan dirimu yang tengah tertawa…]

Malam menjelang…

“Aku pulang,” sapa Kengo melalui pintu dapur. Didapatinya sang istri tengah menyiapkan makan malam dengan si sulung calon kakak yang sedang memainkan alat makan nya.

Tanpa peduli bau badannya sepulang bergelimang terik matahari, maupun pegal yang terselip diantara persendiannya, Kengo langsung ambil posisi di meja makan yang kecil tersebut.

“Ken-ken! Setidaknya mandi atau cuci muka dulu!” hardik sang istri saat menghidangkan sup miso dihadapan si kecil Kanata.
“Ayolah, aku sudah lapar…” melasnya.
“Ti.dak.bo.leh.” tanpa peduli tubuh sang suami yang 2x lebih besar darinya, Aiko pun menarik Kengo keluar dari area meja makan.

“Iih~ Ko-chan ngambek…” goda sang suami.
“Tidak kok,” Aiko buang muka.
“Ngambek. Tidak biasanya kau tidak mengijinkan ku makan malam tanpa mandi dulu,” senyum Kengo simpul sembari beranjak dari meja makan.
“Aku tidak ngambek, Ken-keenn~”
“Kau ngambek.”
“Tidak.”
“Ngambek.”
“Tidak.”
“Ngambek.”
“Tiiidaakk.”

Sekembalinya Kengo dari ritual membersihkan dirinya, ia hanya mendapati sang istri yang tengah mencuci piring-piring bekas makan malam.
“Mana Kanata?” absen-nya saat melihat sang anak tak ada di ruangan ini.
“Sudah tidur,” jawab Aiko sembari membilas cucian piringnya.
“Sudah diselimuti? Lampunya sudah dimatikan? Pintunya sudah ditutup?”
3 kali anggukan Aiko adalah jawaban ‘ya’.

Kengo pun berjalan mendekati sang istri, dan mengambil posisi di belakangnya.
“Ken-ken makan ya? Biar kutemani,” tawar Aiko.
Yang ditawari malah menggeleng. Gerak wajahnya menabrak baris juntai rambut Aiko.
“Kenapa?”
“Karena aku, mau ‘memakan’ dirimu saja!” tanpa peringatan apapun, diangkatnya tubuh Aiko dalam pangkuan bridal style.
“KYAAAA~! Ken-ken bodoh! Apa yang kau lakukan?!” Aiko panik setengah mati.
“Sudah jelas kan? Membawamu untuk di’santap’?” cengir Kengo tanpa dosa.
“Tapi… aku kan berat…” Aiko menyerah. Ia tak bisa menyembunyikan semburat merah diwajahnya.
Kengo tertawa. Istrinya ini memang terlalu polos, “Ko-chan mau bertambah berapa kilo pun, tetap enteng. Karena kau chibi,” godanya.
“IH! Jahatnyaaaa~!!”

この身を削っても
[Walau tubuh ini harus hancur…]

“Benar tak mau makan?” konfirm sang istri saat dirinya mendarat diatas kasur empuk mereka berdua.
Kengo menggeleng, tubuhnya menyusuri sprei dan tangannya melingkari pinggang sang istri yang tengah melebar.
Direbahkan tubuhnya di samping Aiko sembari mengelus perut sang istri.

“Kali ini, perempuan atau laki-laki ya?” gumam Kengo.
“Semoga saja laki-laki. Ka-chan inginkan adik laki-laki,” tawa Aiko, “kalau Ken-ken?”
“Laki-laki, perempuan, terserah Tuhan. Yang penting istriku selamat dan anakku sehat,” ujar Kengo yang beringsut menyejajarkan diri dengan sang istri.

Ditariknya pundak Aiko, sehingga kepala sang istri ada dalam dekapannya. Dikecupnya hangat ubun-ubun si chibi, “mengapa aku melarangmu untuk bepergian kemana-mana?”
Aiko menggeleng, “tapi aku bosan…”
“Kau ingat saat tengah hamil Kanata?”
Aiko terdiam. Jemarinya mengerut pelan kaos oblong yang dipakai sang suami.
“Aku takut kau keguguran lagi, dan kita kehilangan untuk yang kedua kalinya,” ditempelkannya pipi kanannya dengan pipi kanan sang istri.

Dan kali ini Aiko lebih menyurukan kepalanya kedalam dada sang suami.
“Aku ingin melindungi kalian. Keluargaku yang begitu berharga,” bisiknya sembari mengelus helai rambut sang istri yang hanya seukur bahu.

Dirasanya hangat mengalir di tubuhnya seiring kedua lengan sang suami yang membungkus tubuhnya.
“Ken-ken, sampai kapan kau bersamaku?”
“Selamanya…”

Awal April

“Kaa-san!”

Aiko menoleh pada suara yang mengisi ruangan putih tersebut. Terlihat olehnya si sulung tengah menghambur ke arah dirinya sembari masih menggendong tas sekolahnya yang tampak lebih besar dari pada postur tubuhnya yang kecil.

“Ka-chan!” segera, kedua tangan Aiko merangkul Kanata, “bagaimana hari ini? Belajar apa saja?” pertanyaan wajib yang selalu dilontarkan Aiko kala buah hatinya itu pulang dari taman kanak-kanak.
“Hari ini, aku belajal menghitung, dan membuat oligami!” jelas Kanata bersemangat.

Aiko menanggapinya dengan senyum. Dengan logat-nya yang masih berantakkan, Kanata bercerita dengan begitu semangatnya. Tak lupa ia mencubit gemas pipi tembem sang anak.
Merupakan sebuah hiburan hatinya setelah beberapa hari ini terkurung bosan dalam kamar perawatan rumah sakit. Mengingat sebentar lagi ia melahirkan, dan sang suami begitu bawel mengenai persiapannya.

“Mana papah?” tanya Aiko melihat sang suami tak nampak di dekat mereka dalam hitungan seper-menit.

Sudah 5 hari ini Kengo menjalani kewajibannya untuk menjemput Kanata semenjak dirinya dipindahkan ke Rumah Sakit karena usia kandungan yang sudah memasuki masanya. Seperti biasa Kengo pasti akan mengantarkan si sulung pada Aiko, lalu akan membawanya pulang begitu senja berganti malam.

“Masih kelja,” jawab Kanata polos.
“Lalu, yang menjemputmu?” Aiko menjadi was-was.
“Matsu-nii,” Kanata memamerkan deretan gigi susunya.

Saat itu juga, tampak sesosok pria yang begitu mirip dengan sang suami, namun dengan rambut yang lebih gondrong, tengah berdiri diambang pintu masuk ruang perawatan.

“Matsun! Ajarkan Ka-chan untuk memanggilmu ‘Ji-san’ ataupun ‘Ji-chan’ bukannya ‘Nii-san’ lebih parah ‘Nii-chan’!” semprot Aiko pada sang ipar–Jun–27 tahun.
Yang disemprot malah tertawa renyah, “Ko-chan, seharusnya kau ingat tekanan darahmu. Tak baik bagi ibu hamil untuk marah-ma……”

–BUGH!

Sebuah bantal putih mendarat manis diatas wajah Matsun dan sukses membungkam mulutnya.
“Panggil aku nee-chan! Tak peduli kau lebih tua 3 tahun dariku,”
Matsun hanya bisa mengelus hidungnya pelan. Pengalamannya sebagai jomblo membuatnya kekurangan informasi tentang tempramen ibu hamil.
“Baiklah, nee-chan…”

Aiko menghela nafas kesal. Selalu ada seribuduabelas jalan bagi sang adik ipar untuk menajhilinya, atau barang menaikkan pitamnya ke kepala.
“Bagaimana London? Menyenangkan kah?” tanya Aiko pada sang adik ipar, setelah urat kesalnya mengendur, setelah Matsun menitipkan sang keponakan ke penitipan anak.
“Menyenangkan atau tidaknya, yang jelas berbeda sekali dengan Jepang,” senyumnya miris.
“Sudah bertemu wanita yang tepat?”
“Hanya nee-chan wanita yang tepat untukku,” cengirnya tanpa dosa.

–PLAKK!

Matsun lagi-lagi harus mengorbankan bagian wajahnya, “aku hanya bercanda, nee-chan…”
“Tumben sekali kau pulang ke Jepang? Kenapa?” lanjut Aiko tanpa dosa atas memerahnya pipi sang adik dari suaminya itu.
“Aku menantikan kelahiran keponakanku,” senyum-kitsune nya mengembang.
Aiko hanya tertawa kecil.
“Tenang saja, nee-chan! Aku yang akan menjaganya,” janji Matsun.
“Begitu kah? Ku pegang janjimu,” senyumnya.
“Semoga lahir dengan selamat,….” Matsun mengatupkan telapak tangannya–berdoa di hadapan sang kakak ipar, “….. semoga perempuan, semoga hidungnya mirip diriku, semoga matanya mirip diriku, semoga……”

–PLAKK!

Tabokan kedua mendarat sukses di sisi kiri sang travel konsultan.
“Nee-chan jahat!” pekik Matsun.
“Jika kau berdoa lebih jauh lagi, akan ku bunuh kau!”

______________________________

April 6th, 5 p.m.

“Ko-chan, yakinlah semua akan baik-baik saja,” Kengo menenangkan sang istri saat detik-detik kelahiran anak kedua mereka.
“Tapi, aku takut…” rengeknya, “… lebih takut daripada saat melahirkan Ka-chan…”
Kengo tersenyum tenang, walau dalam hati sama atau lebih kalut dari sang istri, “hei… aku akan selalu berdoa untukmu, jadi, jangan takut ya?” kecupnya hangat di kening sang istri, “berjuanglah yang terbaik untuk anak kita…”

Sejenak, Aiko merasakan kelegaan dalam hatinya. Sebuah anggukan pun diberikan kepada Kengo sebagai jawaban ketenangan dirinya.

“… mana Ka-chan?”
“Ia sedang bersama Jun di taman bawah. Sedari tadi yang ditanyakannya padaku hanyalah tentang adik barunya,” tutur Kengo.

“Takigawa-san, saatnya dipindah ke ruang bersalin,”

Keduanya sontak menoleh pada seorang perawat yang muncul dibalik pintu ruang perawatan.
“Nah, sudah saatnya,” Kengo beranjak. Sebelum sang istri melepas genggaman tangan mereka, dikecupnya hangat punggung tangannya yang mungil itu, “aku akan selalu ada untukmu, maka itu janganlah takut…”

想える人さえもいつかは逢えなくなる それが人生と
[Jika suatu hari kita tak dapat bertemu orang yang dipikirkan, itulah kehidupan…]

Jika harus memilih, Kengo lebih memilih penantian 3 tahunnya lagi untuk meminang sang istri ketimbang 1 jam menanti kelahiran anak kedua mereka. Pasalnya, sebelum menjalani persalinan, sang istri mengungkapkan ketakutannya terlebih dahulu, yang otomatis membuat Kengo khawatir. Walau Jun menenangkannya dengan kata-kata puitis bin gombal-nya, walau Kanata menggenggam erat jemarinya, Kengo masih merasakan rasa takut itu terselip dalam hatinya.

“Seharusnya aku menemani Ko-chan saat ini…”

Kengo mondar-mandir resah. Sudah hampir 1 jam berlalu, namun tanda-tanda kelahiran sang anak belum juga terdengar; suara tangis yang memecah senja Rumah Sakit Kanai ini. Sendirian dalam penantian ini, tanpa seseorang pun yang menenangkannya untuk menunggu dan tetap memanjatkan doa untuk orang yang dicintainya itu.

Ditengah kegalauannya menanti fase yang paling menegangkan–dibanding menghadap Yuichi untuk membawa anak bungsunya pergi untuk menemani hidupnya sampai akhir hayat–dalam hidupnya itu, terdengarlah sayup-sayup suara tangis bayi yang… perlahan membelah senja, menghangatkan hatinya, melelehkan airmatanya.

Si kecil telah lahir, menjadikan Kengo sebagai Ayah untuk yang kedua kalinya.

“Takigawa-san??” disaat ekspresi kebahagiaannya belum selesai diluapkan, datang seorang perawat dari balik pintu ruang persalinan.
“Ah, ya?” gelagapan, Kengo menanggapinya.
“Sebelumnya, selamat atas kelahiran putra anda,”
“Ah? Anakku… laki-laki??”
Si Dokter mengangguk, “sehat, sempurna, tanpa kurang satu apapun secara fisik,”
Kengo meloroh. Nafasnya terasa lega begitu diketahuinya sang anak lahir dengan selamat.

Namun sejenak…

“Bagaimana dengan Ibunya??”
Wanita ber-jas putih itu langsung menundukkan tatapannya. Terasa ganjil, disinyalir ada sesuatu yang tidak beres.
“Kami telah melakukan penanganan secepat mungkin…”
Seribu do’a langsung dipanjatkannya dalam hati untuk mengusir satu kemungkinan buruk yang akan terjadi pada wanita yang telah menemaninya selama 4 tahun itu.

“…pendarahannya terlalu parah. Penanganan secara medis sudah dilakukan, tapi…”

Dinantinya dengan sabar kata-kata yang akan membebaskan hatinya dari rasa penasaran.

“… maaf, kami tak bisa menolong istri anda…”

割り切れるものなど 想い出の中の何処にも書いてないよ
[Aku tak menemukan saat-saat yang memuaskan dalam kenanganku…]

“Ttou-san…” tangan mungil Kanata yang mengusap telapaknya, mengembalikan kenyataan dari fantasinya.
“Hm?” tergerak, Kengo menarik si sulung ke dalam pelukannya. Meredam hatinya yang perih.
“Kenapa Kaa-san teltidul seperti itu?” Kanata menunjuk sosok sang Ibu yang telah tertidur berselimutkan kain putih yang menutupi seluruh tubuhnya.

Satu pertanyaan yang melumpuhkan kata-kata dalam otaknya.

Tersenyum miris, sang Ayah menjawab, “Kaa-san hanya butuh istirahat, maka itu tertidur,”
Si kakak ber-‘oh’ ria, “apa aku boleh tidul di samping kaa-san?”
Kedua lengannya menarik Kanata agar tetap dalam dekapannya, “tidak, nak,”
“Tapi aku mau belsama Kaa-san,” pipinya menggembung.
“Nanti ya…” berat, Kengo mengutarakan kalimat tersebut.

Sejenak ia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Poros dunia kecilnya telah lenyap. Sang istri yang begitu dicintainya, meninggalkan dirinya dan kedua buah hati mereka.

愛してる 苦しくて 泣きたくて 24時間
[Aku mencintaimu, itu menyakitkan, aku menangis selama 24 jam…]

Kanagawa Awal Musim Semi…

Ia harus mengakui Aiko nampak begitu cantik hari ini. Balutan shiromuku pernikahan mereka membuatnya begitu anggun dari balik kain tule panjang yang menutup permukaan peti. Suatu pujian yang takkan lagi bisa diberikannya barang sekedar untuk mendapat pelukan hangat atau pun senyum unyu sang istri.

Semua terasa begitu berbeda. Kehilangan yang pekat dan perasaan bersalah mewarnai hatinya hari ini.

Tentang kerabat yang datang menyampaikan duka, tentang Kanata yang rewel menanyakan mengapa sang Bunda tertidur dalam peti–dan dengan gigihnya si sulung menyuruh Aiko pindah ke atas kasur–yang pastinya sia-sia, hingga Matsun yang kewalahan menjaga keponakannya itu. Tentang dirinya yang telah melanggar sumpah untuk menjaga dan melindungi sang bungsu keluarga Tsuchiya pada Yuichi–Ayah Mertua. Tentang hidup keluarga kecilnya yang akan berubah mulai sekarang–takkan ada lagi suara cempreng sang istri untuk membangunkan dirinya yang akan telat meeting, atau pun harum semerbak wangi masakan yang mengisi sudut rumah kala dirinya pulang nanti.

Sebuah tepukan halus di pundaknya, mengembalikan dirinya pada kenyataan di depan mata, “kau sebaiknya istirahat dulu. Biar aku yang menerima tamu,” dan itu adalah sang ayah mertua.

“Ttou-san…”

“Sudahlah, jangan memaksakan dirimu untuk terus tetap tegar,”  jelas Yuichi, “saa, istirahatlah. Harumi tengah membuatkanmu teh panas,”

今まだ消せない 君が消えないこの胸に
[Sekarang pun belum menghilang, dirimu belum terhapus dari hati ini…]

Malam menjelang. Semuanya berakhir. Acara dan prosesi hari ini. Kalau pun bisa, Kengo berharap hidupnya juga berakhir hari ini.
Kengo merebahkan diri. Kemeja hitam masih membungkus tubuhnya. Kemeja yang dibelinya 1 tahun lalu–persiapan kalau-kalau ada acara duka. Tak disangka olehnya, ia akan memakai kemeja tersebut untuk pertama kalinya saat pemakaman sang istri. Ironi.

Pikirannya penuh. Sang istri yang baru saja meninggalkan dirinya, si kecil yang masih di-inapkan di rumah sakit, Kanata yang dengan bawelnya merajuk–menanyakan keberadaan sang Ibu dan adik barunya, Jun yang tengah repot mengurus kepindahannya dari London ke Jepang atas permintaan dirinya untuk menjaga Kanata sementara. Semuanya serasa mimpi. Ia berharap ciprat air embun membasahi wajahnya, mengembalikan senyawa dirinya, dan mendapati sang istri tengah membuka tirai putih kamar mereka dengan sinar matahari yang menerobos masuk menjadikan sosok wanita itu nampak berkilau di awal harinya.

Desahnya mengisi langit-langit kamar. Dingin. Sepi.
Tak adalagi celoteh bawel sang istri yang membeberkan peristiwa seharian itu; harga lobak di Toko Hayashi yang semakin mahal, atau sekedar bercerita tentang perkembangan Kanata yang dari membuat origami kapal-kapalan, kini menjadi origami bunga lily. Takkan ada lagi hal sepele seperti itu lagi.

“Ttou-san…” suara kecil itu memanggilnya.
“Ah, Kanata…?” Kengo sedikit bertumpu pada siku-nya untuk melihat sosok mungil itu membuka pintu, dan berjalan menuju dirinya.

“Mana Kaa-san??” pertanyaan yang sama dengan dirinya yang mengucek mata kanannya–terbangun dari tidur sepertinya.
Tergerak, kedua lengan sang Ayah merengkuh tubuh mungilnya. Disesapnya aroma yang tersisa di pangkal rambut lurus tersebut.

Mereka berdua kehilangan–hanya saja Kanata kurang menyadarinya.

“Ttou-san…?” suara melengking Kanata menghentikan elegi batinnya, “Kaa-san kemana?”
Menarik kembali aroma yang tersisa, Kengo mengisi paru-parunya dengan kekuatan untuk bercerita.

“Kaa-san, sudah pergi ke tempat yang jauh,” well, Kengo memang tak se-pandai sang istri dalam bercerita–mengelabui anak.

“Kemana??”

Adalah pertanyaan yang harus siap dijawabnya ditambah dengan segala kemungkinan jenis pertanyaan lanjutan–yang mungkin membuat dirinya gagap seketika.
Memikirkan jawaban terbaik, Kengo menenangkan si sulung dengan mengusap kedua telapak tangannya yang mungil, “yang jelas tidak jauh. Kanata bersabar ya?”
Anggukan semangat diberikan si kakak.
Walau harus dibohongi terlebih dahulu, Kanata cukup ko-operatif juga dengannya.

“Sudah malam, Kanata tidur ya,”

Sedikit sesal di hati karena ia tak tuntas menjawab pertanyaan sang anak.

溢れ出す 想いはもう 青空に呑み込まれて
[Perasaanku yang meluap, tertelan langit biru…]

Sudah dua jam Kanata berada dipangkuannya. Lengannya lelah sekedar untuk menopang kepala sang anak. Sudah terhitung 1 jam Kengo mengelus kepala anak pertamanya itu, untuk mengantarnya menuju dunia mimpinya yang kecil. Daripada membuat bisep-nya kapalan, Kengo memilih untuk membopong Kanata menuju kamarnya. Menidurkannya diatas hamparan busa empuk itu. Lekat, dipandangi wajah sang anak. Pipi tembemya mengingatkan Kengo akan sang istri yang chibi. Rambut lurusnya, untaian kata-katanya yang ceplas-ceplos. Mirip sekali dengan sang istri.

Lagi-lagi Aiko…

Direbahkan tubuhnya di sisi Kanata, Kengo memejamkan matanya. Tanpa peduli kemejanya akan kusut, tanpa peduli pintu kamar yang belum ditutup, tanpa peduli keadaan sekitar rumah yang belum di-check. Ia lelah dengan hari ini.

Perlahan dipejamkan matanya, seiring kenangan yang mulai mengalir diingatannya…

“Sensei tidak salah menilai??”
“Ini hasil jerih payahmu selama mengikuti pelajaran tambahanku tiap kelas usai,”

Pandangannya terbuka. Yang baru saja mengisi pikirannya, adalah pertemuan pertamanya dengan sang istri yang masih memakai seragam sekolah–yang dinilainya sangat moe, karena postur tubuhnya yang lebih mirip anak SD.

Saat pertemuan pertama mereka, cinta polos yang terjalin, penantian 3 tahun, pertengkaran konyol dan perang mulut murahan, semen yang paling menegangkan dalam hidupnya–berterus terang pada Yuichi untuk mengambil Aiko dari jajaran keluarga Tsuchiya, serta moment dimana Aiko bersumpah untuk menghabiskan masa hidupnya dengan dirinya…

Semua kenangan itu tertumpah pada airmata yang mengalir meski mata terpejam. Dalam sunyi, dirinya menangisi rasa kehilangan yang rasanya tak mampu ditanggungnya lagi.

Menceburkannya pada rasa kesepian…

“Kenapa bukan ‘Kotaro’?”
“Ah, Ken-Ken, ‘Ko’-nya berasal dari kanji ‘kecil’! Lagi pula itu nama anjing tetangga sebelah…”
“Baiklah, lalu apa?”
“Ummm, bagaimana dengan ‘Keita’, ‘Ryusuke’, atau mungkin ‘Kenta’??”
“Stop! Hapus yang terakhir,”
“Baiklah, tinggal Keita atau Ryusuke?”
“Menurutmu?”
“Aku suka Ryusuke,”
“Mm… bagaimana kalau Ryutarou??”
“Ide bagus!”

届く事もなく 今は無い星のように 彷徨う残像
[Tak dapat teraih lagi, bintang yang tak lagi bersinar seperti sinar itu…]

__________________________________________

Afterwords :

Dekita! Tepat dihari saat saya harus mudik!
Osh! Minna! Mulai dari sini saya pamit untuk kebong ke tanah pasundan. Hohoho…
Liburan I’m comiing~!!
Sejauh ini, bagaimana ceritanya? Bagus? Jelek? Kalian yang koment, dan voting dari kalian yang akan memutuskan apakah cerita ini layak dilanjutkan atau tidak.

Dedicated to :

-Ohkuchi Kengo


Terima kasih sudah membuatku fan-girling kembali….

-Morimoto Ryutaro

Walaupun berat, walau terasa lama, berjuanglah. Ryuu tidak sendirian… :’)

-Matsumoto Jun

Happy birthday Jun-Jun~!! Semoga makin sukses selalu, and be happy. 😀

-Para Pembaca Sekalian

Terima kasih sudah membaca sampai sejauh ini. Karya saya bukanlah apa-apa tanpa penglihatan dan komentar kalian.

Minna, walaupun kadang kita lelah menghadapi orang terdekat kita, capek karena selalu berkonfrontasi dengan mereka, tapi percayalah, mereka orang yang membuat kita tak sendirian.

Minna de, Arigatou Gozaimasu.

-Aiko