Title: Birthday from You
Pairing: Kane-Ouji
Author: Aihara Izumi
Series:
Disclaimer: Agencies, Stage, and Tenipuri
Theme Song: Aoyama Thelma – Suki desu
Note: Tenimyu backstage Dream Live 4th
Warning: Semi-AU, Sotoy, Gaje Shonen-ai,

Maegami…

Happy Birthday for dear Ou-chan. Ni juu go sai omedechaa~!!

~Birthday from You~

覚えてる?覚えてるかな?最初のあの出会い
Ingatkah? Apakah kau mengingatnya? Pertemuan pertama kita,

O-tanjoubi omedettou, Oujii~!!

Confetti bertebaran di ruang ganti Rikkai begitu kaki kurusnya–Ren— dilangkahkan masuk ke dalam. Sesaat Ren hanya bisa melongo. Kaget. Mendapat kejutan sepagi ini bukanlah hal yang baik untuk otaknya yang masih kosong karena bangun tidur.
Namun big-hug-kiss dari sang Ace RikkaiMyu–Genkimampu mengembalikan semua nyawa-nya yang melayang entah kemana.

Otanjoubi omedetou, buchoouu~~!!”

Teriaknya di telinga kanan Ren.
Ren hanya meringis menerima omedettou dari sang kouhai, yang lalu di susul oleh hujan tepuk tangan dan ucapan dari casts lainnya.

Arigato,” ucapnya saat sebuah cake mungil yang dihiasi lilin kecil datang kepadanya oleh juluran tangan Baba.
“Ayo bucho~ make a wish! make a wish!” sedang casts lain mem-provokatori; macam Kiriyama, Masa, dan Kento.

Ren segera memejamkan matanya dan berharap dalam hati dengan senyum yang mengembang.

–Fuuhh~!

Sesaat kemudian, tarian api pun padam dengan semilir angin yang ditiupkan Ren, dan dibayar oleh tepuk tangan riuh yang mewarnai ruang ganti Casts Rikkai, dan sempat membuat Ueshima-sensei datang untuk melihat apa penyebab kegaduhan macam amuk massa di depan gedung DPR–takut-takut Genki ngamuk lagi gegara senbei-nya di colong Jutta.

Namun, ada yang ganjil dari semua casts yang ada dihadapannya ini.
Ada yang kurang dalam pantulan iris cokelatnya ini.
Tapi… apa??

Perayaan kecil nan semarak ini pun harus segera berakhir, karena latihan segera dimulai. Casts ‘tamu’ dari luar ruang ganti Rikkai pun segera kembali ke habitatnya masing-masing. Begitupun dengan para Rikkai yang langsung menclok pada meja riasnya masing-masing. Kecuali Baba yang keluar ruangan setelah mengeluh kopi paginya habis tanpa sepengetahuannya. Diseruput Masa, mungkin.

Ren pun menimang cake yang menjadi something specialnya hari ini. Ingin ia memakannya–kebetulan tak sempat mengunyah barang satu makanan pun karena harus berangkat dengan kereta pertama pagi ini. Namun, rasanya sayang mengunyah–menghancurkan dengan mulutnya–benda yang sudah diselimuti krim putih dan dihiasi buah-buahan cocktail dan tulisan ‘Otanjoubi Omedetou, Ouji‘.
Ren nyengir. Itu bukan tulisan dari toko kue, karena berantakkan sekali. Nampaknya itu tulisan Kiriyama. Atau Genki? Atau mungkin Masa?? Tapi yang jelas bukan tulisan Kane karena…….

Ah… iya. Kane. Kemana laki-laki–fukubuchou–itu??
Sedari pertama ia memasuki ruangan mungil ini, tak didapatinya keberadaan lelaki jangkung tersebut. Bahkan ia baru menyadari kursi di sebelah meja rianya kosong.

“Maaf, aku terlambat,”

Panjang umur. Kanesaki, nongol dari lawang pintu yang terbuka. Tepat dari ujung-ke-ujung dimana posisinya berdiri. Seluruh casts membayar perhatian pada sosok yang masih memakai syal dan jaket tebal itu–nampaknya diluar sangat dingin. Ah, wajar saja. Ini Desember dan masih pagi.

Ren menoleh, dan memperhatikan sosok yang sama-sama mempertemukan pandangan mereka dalam satu titik. Diam. Tanpa balasan sapa. Sampai waktu mencair dan kembali berjalan, Kane pun melangkah mendekati Ren–mendekati meja riasnya yang ada di dekat Ren.

“Ohayo,” sapa Kane. Singkat. Seperti biasa.
“O…hayo,” Ren masih terpaku pada titik dimana ia mematung.
“Sudah sarapan??” tanya Kane tanpa melirik sedikit pun.
“Belum…”

Jantung Ren berdegup kencang.

“Saa, makanlah apa yang ada ditanganmu itu,” sampai akhirnya Kane melirik pada cake yang masih ditimang-timang oleh Ren.
“Ah, ini…”

Belum sempat Ren menyelesaikan perkataannya, Ueshima sudah stand-by di depan pintu. Seperti biasa, ngangon anak-anak yang tersisa di ruang ganti untuk segera bergegas pergi dari ‘singgasana’ mereka.

Jaa, mohon bantuannya hari ini,”

友達の友達だった、あなたに一目惚れ
Berawal saat teman dari temanku, aku pun jatuh cinta pada pandangan pertama denganmu

Hari ini semakin kurang saat Ren mengetahui hanya Kane-lah yang tidak mengucapkan sekedar ‘selamat ulang tahun’ padanya. Bahkan Ueshima sudah, tadi saat perjalanannya ke stage untuk gladi-resik.
Bagaimana bisa fukubucho yang selalu ada di sampingnya itu lupa hari ulang tahunnya. Atau mungkin melupakannya??
Namun, Kane nampak tak menghindarinya. Ia bersikap biasa. Seperti hari ini bukan hari ulang tahunnya, dan segala jenis kesalah-pahaman tidak menodai sesuatu ditengah-tengah mereka. Semuanya, nampak seperti biasa hari ini.

「何でかな?」何で言えた、気が合い笑い合った
“Kau kenapa?” Aku tak bisa berkata apapun, kita saling tertawa saat saling merasakannya,

“….kun…? Ouji-kun??”

Ren mengerjap dan menoleh ke arah punggungnya. Nampak sosok Minami tengah memegang bahunya hangat.
“Ah, Kei-chan…”
“Kau melamun lagi…” keluhnya, lalu duduk di sisi cowok yang tengah berulang tahun ini.
“Iya kah??”
“Kau terus-terusan menatap ke bangku penonton dengan garis lurus selama lebih dari 15 menit. Apakah itu tidak dapat dikatakan melamun?”

Ren tertawa kecil. Menurutnya, daripada menjadi Tezuka, Minami lebih baik menjadi Inui karena hobi menganalisa, dan data-nya akurat.

Sou ka na~ gomen,” Senyum. Senjata terampuh Ren.
Minami tak dapat berkutik lagi selain menghela nafas, “ne, yang lain sudah break istirahat. Mengapa kau tidak ikut dengan yang lainnya?”
“Ah, break?? memangnya, ini jam berapa??”
“Jam 6, lewat 9 menit. ” jawab Minami sembari menunjukkan jam tangan digitalnya.
“HE?! Jam 6 sore??” Ren terbelalak kaget.
“Jangan tuduh jam-ku kecepatan 3 jam,” Minami mulai memasang tampang bete. Ren sangat lelet dirasanya hari ini.
“Cepat sekali ya, hari ini??”
Maa,

Ren menghela nafas. Bahkan Kane pun sampai tak menegurnya untuk beristirahat. Ia jadi aneh hari ini.

いつか想いが、キミの手に届きますように
Harapanku adalah meraih tanganmu suatu hari nanti,

Saa, kyo otsukaresama deshita~!”

Sampai akhirnya tiba saat dimana mereka harus mengakhiri pertemuan kali ini, dan pulang. Melepas penat sembari berkumpul.

“Aku diajak berkumpul oleh Irei, kau mau ikut??” tawar Minami sepulangnya mereka dari stage, “sekalian merayakan ultah-mu kalau mau,”
“Ung…. sepertinya aku ingin pulang cepat malam ini,” tolak Ren, “maaf,”
Iie, beristirahatlah. Semoga kau mengurangi lamunanmu, amin,” doa Minami yang lebih ditujukan untuk dirinya sendiri.

Ren hanya tertawa menanggapinya. Sampai akhirnya mereka harus berpisah karena ruang ganti Rikkai sudah ada dihadapannya. Begitu pintu di buka…

BUCHOU!

Ren kaget setengah hidup dengan kerasnya suara Masa yang menyemprot dirinya begitu 30 derajat lingkar pintu terbuka.

Nande, Masa?” Ren mengatur nafasnya. Pantas Yukimura begitu lemah fisik, toh dia punya bawahan macam setan seperti ini.
“Lihatlah, siapa yang memakan cake mu,” tunjukknya pada Kiriyama dan Genki.
Ne, Kiri-chan duluan yang mengajakku!” bela Genki.
“Salahmu sendiri mengapa mengikuti perkataanku!” bela Kiriyama tak mau kalah.

Ingin rasanya Ren meledak genggamannya sudah mengerut gagang pintu. Andaikan saja itu gabus, pasti sudah jadi bentuk yang abstrak.

Ii yo, Masa, tidak apa. Toh niatnya aku ingin membaginya dengan kalian-kalian juga,” namun Ren tak mampu marah kalau jatuhnya kepada anak-anak Rikkai.
Honto??” dan casts lain yang meminta konfirm atas pernyataannya barusan.
Hon…to,”

Sekejap kemudian, cake mungil tak berdosa itu ludes mengisi masing-masing perut casts yang melahapnya dengan ganas macam hewan buruan. Ren hanya mendesah tak beranjak. Tadinya ia ingin memotretnya dulu, lalu menampangkannya di blog. Namun apa daya jika cake itu sudah diperawani dengan orang selain dirinya…

Biarlah…

Entah ini ulang tahun paling menyedihkan, atau paling absurd.

“Aku duluan ya,” pamit Jutta sembari merangkul leher Kento, “kau yakin tak ingin merayakannya bersama kami?”
Ren hanya tersenyum, “maaf, hari ini aku ingin pulang cepat,”
Souka, jaa, sampai besok, dan… selamat ulang tahun, buchou~”

Ternyata ucapan itu masih berlaku bahkan saat hari telah habis ditelan malam.

“Terima kasih,”

伸びる影夕日の中で、二人待ち合わせた
Dalam bayangan senja yang memanjang, kita saling menunggu satu sama lain,

Tinggalah ia terduduk di hadapan meja riasnya dalam ruangan ganti tersebut. Sendiri membuka pesan-pesan sekedar ucapan hari jadinya dari teman-teman melalui e-mail. Tersenyum membaca satu persatu harapan dan doa yang dituliskan dalam pesan singkat, membuatnya tak sadar bahwa dirinya tak lagi sendiri dalam ruangan tersebut.

“Belum pulang??”

Sampai akhirnya suara berat itu menyadarkannya.
“Ah, Kane-chan~ kupikir kau sudah pulang…” Ren mengatur nafasnya. Entah mengapa akhir-akhir ini ia merasa memiliki penyakit lemah jantung. Seringnya mendengarkan kicauan anak-anak Rikkai bahkan dari pagi-pagi budeg mungkin.

“Belum, aku masih membuka pesan-pesan,” ujarnya menjawab pertanyaan yang tertunda dari sang fukubuchou tersebut.
“Iya, aku mengerti. Maklum, sedang ulang tahun sih,” ujar Kane sembari membereskan tatanan rambutnya masih dalam posisi berdiri.

Ren sejenak berhenti mengetik balasan. Ia tak percaya apa yang di dengarnya dari fukubuchou itu.

“Jadi… kau tidak melupakan ulang tahunku, Kane-chan??” tanya Ren takjub.
“Aku harus terbentur aspal terlebih dahulu untuk melupakan ulang tahun mu,” ringisnya sembari merapikan barang-barangnya–hendak pulang.
“Lalu, mengapa kau berlaku aneh hari ini??” Ren bangkit untuk menyejajarkan pandangan mereka.
“Tidak, aku merasa seperti biasa saja,”

“Justru karena kau bertindak seperti biasa itu, yang membuatku…. ” Ren melemahkan suaranya di kosakata terakhir, “…mengapa kau tidak mengucapkan selamat padaku,” rasa yang ada dalam hatinya kini bercampur, “…bukan ucapan selamat itu yang kuharapkan, namun… setidaknya beritahu aku kalau kau masih Kanesaki yang kukenal…”

Kane meraih lengan yang menjadi tumpuan Ren di meja. Mengisi celah jemarinya dan menggenggamnya.

Ne, bukannya aku tak ingin mengucapkannya tapi…” Kane menatap ke dalam iris gelap tersebut.
“Tapi apa…??”
“… hanya saja aku tak terima kalau mereka mendahuluiku mengucapkannya…” Kane mengalihkan pandangannya dan melepas genggamannya. Nampak dari pantulan cermin, semburat merah merajai wajahnya.

HE??

Ren pongo. Tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh seorang pria yang berperan kaku tersebut, “hanya karena itu kau menjauhiku hari ini??”
“Aku tidak menjauhimu,” bantah Kane cepat.
“Lalu mengapa kau tidak menegurku untuk istirahat saat aku mematung di atas stage?”
“Itu… itu…” Kane mencari kata-kata yang tepat untuk merangkaikan pikirannya, “…aku… aku tak menegurmu karena Minami memperhatikan-mu sedari awal maka itu….”
Ren mengerti, dan mendapati maksudnya.

“Ternyata, Kane-chan bisa cemburu yaa?”

Kane hanya bisa menelungkupkan salah satu tangannya di wajahnya.
Ren hanya tertawa melihatnya.

“Baik pertama, kedua, ketiga, maupun terakhir… ucapan dari Kane-chan tetaplah menjadi hal yang paling kutunggu di setiap hari ulang tahunku…”

Kane melirik Ren dari celah jemari yang menempel diwajahnya.
Senyumnya begitu bahagia. Mengembang bagai chiffon yang baru saja keluar dari panggangan.

Jaa, mau pulang bersama, malam ini??”

いつか二人が手をつなぎ、歩きますように
Suatu hari nanti, kita akan saling berpegangan tangan, dan berjalan berdua

“Yang lainnya tengah minum-minum loh, kau tidak ikut??” ujar Ren saat mereka menunggu di halte.
“Tidak, aku terlalu lelah untuk pulang dalam keadaan mabuk,” kane merapatkan kedua tangannya–Desember malam ini dingin sekali, “tapi… aku tak terlalu lelah untuk memberikan ini,” Kane mengalungkan syal yang tadi dipakainya pada Ren.
“He??”
“Untukmu,” senyumnya, “maaf, lain kali aku akan menggantikannya dengan yang pantas,”
“Tidak, ini pun sudah membuatku khawatir. Tidak apa-apakah Kane-chan pulang tanpa memakai ini?? Malam ini dingin sekali loh??”
Kane menggelengkan kepala, “tidak, tidak apa,”

Dan sebuah bus pun datang.

Saa, kau… duluanlah,” Kane mempersilahkannya untuk masuk ke dalam bus itu. Memang berbeda arah rumah mereka.
Demo…”
Ii yo…”

Ren ragu untuk melangkah masuk ke dalam pintu bus yang sudah terbuka.
“Hari ini, terima kasih. Sampai besok ya,”
Saa, hati-hatilah,” Kane mengangguk.

思い描き歌い捧げるこのラブソング
Dan menggambarkan perasaan kita, ku persembahkan lagu cinta ini untukmu,

“Kane-chan~!” teriak Ren sesaat sebelum pintu tertutup, “… SUKIII~!!
Debar jantung Kane yang semula sudah kembali normal kembali berdegup kencang. Semilir angin menerbangkan helaian rambutnya yang akan menjadi es jika berdiri di halte tersebut untuk 30 menit kedepan, “… Suki da, Ren… Suki…”balasnya.

もう一度ここで言うよ、後悔はしないように、好きです。
Sekali lagi, mari kita ucapkan di sini, dan jangan pernah menyesalinya, “aku menyukaimu,”

—————Owari—————

Saigo no Kotoba:

Minna! Aiko kembali lagi dengan ide sintingnya.
Menghadapi Praktek Kerja Lapangan dan Ujian Semester Ganjil bukan perkara mudah bagi anak ber IQ- rendah ini.
Namun hasrat untuk say ‘congratz‘ kepada Ou-chan tersayang *didepak* sangatlah besar. Sehingga fic yang direncanakannya saat mandi ini selesai dalam kurun waktu 3 jam.

Saigo ni, Omedeccha, Ou-chan. Zutto shiawase ne~ :3

-Aiko