Title: Kimi to Deai
Writer: Aihara Izumi
Series: Tenimyu
Disclaimer: Agency, Family, and Relatives.
Theme Song & Quotes: Hirai Ken – Itsuka Hanareru Hi ga Kite mo
Warning: Karena Tangerang sering hujan, dan saya rajin tidur, maka terciptalah fantasi absurd bin suneh ini. Jaa, maafkan saya yang masih write-block… ampuni saya yang selalu mengorbankan kalian…

Saigo ni, otanoshimi ni kudasai~

あの空はおぼえている 時を超えおぼえてる
[Aku mengingat langit itu… dan waktu yang berlalu…]

Tokyo – Juli

Pagi yang dingin di bilangan Shibuya, Tokyo. Seharusnya ini menjadi pagi yang cerah dan hangat, jika saja awan hitam tak menutupi langit Tokyo, dan mengetuk-ngetuk angkasa dengan guruh rendahnya.

Kanesaki—staff direksi muda ini bersandar pada bingkai pintu balkon apartement-nya. Sembari memandangi pemandangan yang mulai kelabu, hatinya sibuk memutuskan untuk masuk kantor, atau meliburkan diri. Jalan atau diam. Menenteng berkas atau mengubur diri dalam selimut. Ya atau tidak. Hanya berkutat pada 2 pilihan itu saja. Tak lebih.

Hari ini presentasi,

Pemikiran itulah yang membuatnya beranjak masuk ke dalam apartement-nya, untuk mempersiapkan diri.

Tak sampai se-jam kemudian, dirinya keluar apartement dengan setelan jas yang rapi, tentengan berkas. Hari ini mendung.

“Mari kita selesaikan hari ini,” tekadnya sembari memintal langkah menuju stasiun untuk menaiki kereta yang akan membawanya ke Kantor.

Sial. Hari ini bukan hari keberuntungannya. Hujan turun sebelum derap langkahnya mencapai batas stasiun. Sekitar pun menjadi dingin. Dan basah.

Karena ogah menjadi kuyup saat tiba di kantor nanti, pemuda ini hanya memilih untuk berdiri di depan sebuah toko kecil.
Berteduh, dan diam. Penyakit lupa-nya akan membawa payung lipat hitamnya, membuatnya menggerutu pagi ini.
Pagi yang buruk.

Pandangannya mengadah menantang hujan dengan wajahnya. Berharap tetesan air langit itu berhenti, sehingga dirinya segera menghadiri presentasi pagi itu, dan menghindari omelan sang atasan. Hanya itu.

Menunggu hujan yang nampaknya akan (lumayan) abadi ini, memang sangat membosankan. Sempat dirinya menyesal untuk memilih masuk kerja hari ini.

Sampai akhirnya, ia memutuskan untuk mengeluarkan ponsel legam-nya–untuk mengusir rasa sepi dan bosan, karena hanya dirinya seorang yang berdiri dan tak ada seorang pun dalam radius 10 meter.

Baru saja jemari besarnya bermain diatas keypad ponselnya itu, tiba-tiba saja…

–BRUUKKH!!

Seseorang menubruknya tanpa peringatan, sehingga ponsel yang tidak digenggamnya erat itu terlepas. Jatuh. Basah. Dan masih dengan flip yang masih terbuka.

Dirinya sempat shock dan speechless begitu tahu ada seorang perempuan yang menubruk dirinya tiba-tiba–diketahui dari tas yang dibawanya.

Gadis itu sempat mengadah dan mempertemukan pandangan mereka.
Hanya sesaat, sampai akhirnya gadis itu kembali menubruk tubuh Kanesaki saat gemuruh mulai membahana di angkasa. Gadis ini takut petir rupanya…

Kanesaki bingung apa yang harus dilakukannya. Di satu sisi, ia tengah dipeluk orang yang tak dikenalnya, di sisi lain, ia harus segera mengangkat ponselnya yang sudah semenit lebih berkubang dalam tetesan hujan. Basah. Takut korslet. Paling tidak nge-hang.

Ano…”

Dengan suara yang tergetar, Kanesaki pun akhirnya memberanikan diri untuk berbicara.
Lalu, gadis itu mengadah–mempertemukan pandangan laki-laki ini dengan pendaran amethyst itu untuk yang kedua kalinya.

“Maaf, ponsel-ku…. terjatuh..”

Gadis itu terdiam untuk sesaat–mencerna perkataanya, walau Kanesaki sudah memberikannya petunjuk berupa pandangannya pada ponselnya yang sudah berendam dalam kubangan air hujan.
Sampai akhirnya…

“KYAAA~!! Maafkan saya!” pekiknya panik dan segera menjauh.

“Bu… Bukan seperti itu…” Kentaro berusaha menenangkan gadis itu–tak terima dirinya dilihat sebagai Gorilla ngamuk atau setan yang membuat gadis itu sweatdrop.
Ia lalu berjongkok mengambil ponselnya. Air pun mengucur selayaknya keran. Ponsel yang dibelinya dengan uang gaji pertamanya itu sukses menelan banyak air. Tinggal ia yang bingung bagaimana membeli yang baru.

“Ah… Maafkan aku.. Aku sungguh……” gadis itu meminta maaf untuk kedua kalinya.

“Hanya ponsel saja…” ujarnya sembari mengusap-usap permukaan LCD-nya dengan jas-suit miliknya–berusaha mengurangi kadar air dalam ponselnya dengan harapan benda mungil itu masih bisa berfungsi.

Melihatnya, gadis itu pun langsung menghampiri dirinya.
Raut wajah bersalah sudah pasti ada dalam mimik wajahnya.

Sejenak Kanesaki memperlambat gerakannya. Matanya terpaku pada satu titik. Ia tengah mengagumi ciptaan tuhan berwujud wanita di hadapannya ini.

“Ah…”

Gadis itu nampak merogoh tas-nya, “ini…” wanita itu menyerahkan selembar kain putih–sebuah saputangan, dengan meletakkannya di telapak tangan Kanesaki yang ditariknya dengan lembut, “lebih baik menggunakan ini, ketimbang jas-mu…”
“Tapi…”
“Pakailah…”

Kanesaki menggenggamnya dengan ragu.

“Ano… Maafkan aku tadi… Tadi itu… Aku tengah terburu-buru.. Lalu…” pandangannya terhenti pada tatapan mata Kentaro yang tengah menikmati ceritanya yang cuma sepotong-sepotong.

“… lalu… aku menubruk dirimu…” sesaat, pandangannya kembali turun.

このぬくもりに満たされる程失う怖さにどうしようもなく襲われるんだ
[Walau kudapatkan kehangatan ini, aku masih takut untuk kehilangan…]

Kaku masih terasa dalam pertemuan pandangan mereka bertemu.

Sou ka…” Kanesaki hanya mengangguk, lalu kembali mengelapi ponselnya–air masih mengucur dari satu sudut ponselnya.

“Ah! Hujannya sudah berhenti…” Gadis itu mengadah melewati atap toko yang terbilang mungil itu, “terima kasih untuk yang tadi,” senyumnya sembari membungkuk.
“Ah… iie. Nani mo nai,” Salting. Mungkin. 89%.
“Mou, maaf ya, untuk ponsel-mu,”
“Daijoubu,”
“Saa, aku harus pergi… Maaf,” sosoknya sedikit berlari–bulir gerimis masih menari di angkasa–lalu menghilang di persimpangan.

Pertemuan singkat dalam kurun waktu hitungan menit.

Kanesaki terpaku sesaat saat sosok berpakaian biru muda itu menghilang di persimpangan jalan.
Apa yang dilihatnya barusan? Seperti sihir yang membekukan waktu di sekitarnya, dan memfokuskan pandangannya.

Sesaat dirinya tersadar. Waktu berjalan. Semakin dekat menuju jarum pendek angka delapan. Pagi, berjalan mendekati siang. Matahari akan terus meninggi walau awan gelap menutupinya.

いつか離れる日が来ても 出会えた全てを悔やむ事だけは決してしたくないから
[Jika suatu hari kita harus berpisah, Maka aku takkan menyesali pertemuan kita…]

Siapa dia??

Hatinya tergerak untuk bertanya demikian. Termangu berusaha mencari jawaban untuk pikirannya. Sampai akhirnya ia mendapati kelembutan di tangan kanannya–ia masih menggenggam sapu tangan pemberian gadis tadi.

Dibentangkannya kain yang tak seberapa lebarnya, dan menemukan sulaman rangkaian huruf yang membentuk sebuah nama.

REN

Tanpa sadar, lengkungan manis tergambar di wajahnya. Hatinya menghangat seiring awan kelabu yang menyingkir membiarkan cahaya hangat itu menghujani tanah Tokyo.

“Teratai ya…?”

———-Owari———-