Title: Without You
Writer: Takigawa Aihara
Series: Atashi-tachi no kazoku
Disclaimer: Agency dan keluarga masing-masing
Nowpalying: Kobukuro – Ryuusei

“Okaeri~”

Sapa serta senyum sang istri, sanggup melunturkan mumet yang ditimbulkan perjalanan ke luar kota-nya selama seminggu itu.

“Tadaima,”

Kengo tersenyum sembari mengikuti sosok chibi sang istri dari ekor matanya–menutup pintu lalu menghilang dibelakangnya.

“Bagaimana pekerjaan nya??” hal pertama yang selalu ditanyakan oleh Aiko–sang istri, begitu dirinya tiba dari perjalanan luar kota.
“Um… melelahkan,” dan jawaban standar yang selalu diberikannya saat sang istri mulai melepaskan syal-nya dan membantu tubuhnya lepas dari jaket kulit tebal–awal November ini mulai dingin.
“Saa, aku sudah menyiapkan miso loh. Mau mandi, atau makan dulu??”

Seperti pengantin baru saja,” pikirnya menyunggingkan bibir.

“Aku ingin mandi dulu,”
“Setelah itu, makan ya~”

—————————————–

“Ko-chan…” panggilnya setelah membersihkan diri.

Pemandangan yang membuatnya tenang saat menemukan sosok mungil sang istri tengah membelakanginya, dan menghadapi kompor dengan panci seukuran setengah badan Aiko.

“Hm??” respon sang istri tanpa menoleh.
“Mana Kanata dan Ryuu?” natural. Kengo menanyakan keberadaan kedua anaknya.
“Ka-chan sedang ada darmawisata–ke Kyoto katanya. Kembali lagi Jum’at depan, dan Ryuu baru saja ikut pamannya ke Kagoshima kemarin~” jelas sang istri sambil sibuk mencicipi miso yang tengah ditambahkan bumbu-bumbu.

“Jun??” Kengo mengulangi nama sang adik.
Namun Kakak iparnya hanya mengangguk.
“Apa-apaan dia……”
“Ryuu dapat libur 4 hari. Apa salahnya sih, membiarkan Ryuu bertemu kakek-neneknya?”
“Tapi… aku hanya tidak rela jika si bodoh itu yang membawanya~”

Aiko menoleh pada sang suami yang sudah berpipi gembung, “awalnya, aku pun tak rela…” ibu dua anak ini mendesah pelan, “… tapi, apa boleh buat jika Ryuu sudah merajuk??” senyumnya.

Kengo pun ikut-ikutan menghela nafas.

Kesian Matsun. Masih saja men-jomblo–betah menjomblo–sehingga tak punya pasangan untuk diajak ke Kagoshima jika Kime-hime–sang bunda–sudah merengek menagih kunjungan anak-anaknya. Sampai-sampai harus menculik sang anak.

“Seharusnya dari awal aku yang menjodohkannya… secara paksa…” tekad Kengo sembari melengos duduk di meja makan yang sudah terhidang semangkuk nasi, sumpit yang bersih, gelas kembar yang dibeli oleh sang istri di awal pernikahan mereka, dan ….

“Ini miso-nya~”

…. semangkuk besar miso hangat.

Itadakimasu,

Kengo mengangkat mangkuknya, dan….

“Kko-chan tidak makan??” ia membatalkan penerbangan sesuap nasi besar saat melihat sang istri hanya senyum-senyum menatap dirinya tanpa mangkuk yang sama di hadapannya.
Chibi ini hanya menggeleng, “aku sudah kenyang…” senyumnya menampilkan taring yang sama persis seperti si bungsu Ryuu–imut, pikirnya.

“Aku jadi tak enak makan sendirian,” Kengo menaruh pelan mangkuknya.
“Aku kan menemani Ken-Ken di sini,”
“Tapi……”
“Makanlah. Aku akan menemani-mu sampai butir nasi terakhir,”

Dengan ragu Kengo memulai suapan pertamanya yang sempat gagal.
Dan kunyahan pertamanya pun ditunda untuk ditelannya setelah mendengar tawa kecil dari sang istri.

“Adwa aph, Kko-chyan??” tanyanya dengan mulut penuh nasi.
Yang ditanya masih sibuk ngikik, sampai alis sang suami naik 30 derajat.

“Lama tak seperti ini–seperti pengantin baru ya?”

Kengo hampir menyemburkan nasi yang memenuhi kantung pipinya, jika saja ia mengingat betapa mahalnya beras dan berhasil ditelannya walau dengan batuk-batuk.

“He??” Kengo tak mengerti dengan perkataan sang istri yang seenaknya sendiri itu–tanpa peduli orang lain mengerti atau tidak.
“Aku ingat, dulu aku selalu tertidur di meja makan menunggu kepulanganmu,” ceritanya sembari menatap langit-langit ruang makan–nostalgia.
Kengo hanya mengunyah dan patuh mendengar celotehan sang istri–yang menurutnya tak ada bedanya dengan cara bicara anak SD.

“Tapi sejak adanya Ka-chan dan Ryuu, aku pun menjadi sibuk, dan….” Aiko menangkap pandangan sang suami yang menunggu kata-kata selanjutnya, “…… Ken-Ken pun menjadi nomor sekian……” tatap sang istri melas–agak menyesal.

Kengo tertawa pelan saat menelan suapan terakhirnya, “saa, kalau begitu, malam ini, aku harus menjadi nomor satu lagi,” pintanya.
“Hee?? Bagaimana??” Aiko yang memang otak-nya segede biji kedelai ini pun memandang sang suami tak mengerti.
“Kuserahkan padamu,” Kengo bangkit dan meninggalkan meja makan.

Tinggalah Aiko yang bingung untuk membereskan meja makan.

“Malam ini harus bekerja keras…”

——————————————-

Selesai mencuci piring dan memeriksa keamanan seisi rumah, Aiko pun menapaki rute menuju kamarnya–kamar mereka berdua, dan menemukan sosok sang suami yang tengah terpaku dengan laptop-nya.

“Belum tidur??” Aiko langsung menggabruk sisi kosong tempat tidur.
“Belum,” jawabnya tanpa menggeser titik fokus dari deretan angka yang ditanpilkan oleh monitor tipis tersebut.

Satu kecupan pun mendarat di pipinya.

“Tidurlah,”
“Aku harus menyiapkan ini untuk besok. Kau lupa ya, kalau besok aku harus berangkat lagi ke kantor??”

Kecupan kedua.

“Setidaknya ingat kondisi tubuhmu~ Ken-ken baru saja sampai, kan??”
“Aku tidak bisa, Kko-chan…”

Kecupan ketiga.

“Ayolaahh~~”
Kengo menoleh menatap sang istri yang kini sejajar dengannya karena sama-sama duduk, “ti-dak bi-sa, Aihara sayang~”
Sang istri menghela nafas, “tadinya aku ingin menomor-satu kan Ken-Ken malam ini… Tapi~ apa boleh buat jika kau menomor-satukan pekerjaanmu~” Aiko merayap turun dari tempat tidur menuju meja rias.

Saat itu juga Kengo benar-benar mengalihkan pandangan mata dan hati. Menatap pantulan bayang sang istri dari cermin besar. Aiko tengah menyisir rambutnya–aktivitas wajib bagi istrinya menjelang tidur.
Dengan berdeham kecil, Kengo pun menutup laptopnya dan mengesampingkannya. Beranjak bangkit dan menghampiri sang istri. Memeluknya dari belakang, dan mengecup ubun-ubun yang tertutup helaian rambut lurusnya–terlalu susah bagi tubuh jangkungnya untuk mencapai leher sang istri. Bisa sakit leher 3 hari 3malam jika ia tetap memaksa untuk mengecup sang istri di lehernya dengan posisi tegak berjeda 20cm.

“Ne, Ken-Ken… ” Aiko menaruh sisirnya diatas lapisan kaca bening tersebut.
Perkataannya sengaja dijeda demi menikmati tatapan lembut sang suami yang terpantul dari cermin dihadapannya.
“Hm??” Kengo pun langsung mendekap Aiko dibahu, dan menyeret langkah mundur yang serta-merta membawa sang istri menjauh dari cermin, hingga betisnya menyapa papan tempat tidur.
“… aku… baru saja mendapatkan…” dapat dirasakan oleh Kengo dada sang istri yang berdebar kencang–gugup. Aiko pun merasakan kecupan sang suami terhenti dan mendapati tatapannya dalam gambaran kaca setengah badan terdebut.
“… aku baru saja mendapatkan… undangan reuni ke… Osaka,”

—-BRUKKHH!!!

“Ittaaaii~~!!”

Kengo berjengit keras saat dirinya jatuh seketika itu juga kebelakang–ke atas kasur, dengan tubuh mungil sang istri yang tengah didekapnya, dan sayangnya, sikut tajam Aiko menghunus perutnya yang ujung-ujungnya meleset hampir ke pinggang, lalu melenting seperti huruf U, dan kini berusaha mati-matian untuk duduk.

“GYAA~!! MAAFKAN AKU~!!” Aiko buru-buru menyeret tubuhnya kesamping agar tak lagi membebani sang suami lebih jauh.

“Bagian mana yang sakit??”

Aiko langsung membuka kaos oblong yang tengah dipakai sang suami, lalu menariknya hingga melewati kepala dan mempertontonkan bagian six-pack Kengo.
“Tidak! Tidak,” Kengo spontan menutupi ‘aurat’nya itu dengan satu tangan–dengan tangan lain yang menopang tubuhnya.

“Kau bilang, reuni?? Osaka?? Kapan??” Kengo memberondongi istrinya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
“Eh?? Itu…” Aiko bangkit menuju meja riasnya kembali–sejenak untuk mengambil surat yang diterimanya pagi ini. Lalu menjulurkannya untuk Kengo.

Kengo yang masih meringis menahan denyut kesakitan di pinggangnya itu pun meraihnya,

OSAKA MEISHI SHOGAKKO

Terpampang tulisan besar-besar dengan judul

UNDANGAN REUNI
UNTUK:
TSUCHIYA AIHARA [6-A]
Time-Capsule

Kengo hanya membaca ‘covernya’, “kapan, Kko-chan??”
“Ung… lusa,” Aiko menggigit bibir bawahnya, “jika Ken-Ken ingin ikut, ikut saja~” Aiko berusaha menenangkan sang suami yang dinilainya sudah mulai berpikiran macam-macam.

TENTU SAJA AKU HARUS IKUT! Jika tidak dokter bodoh itu akan mendekati dirimu lagi, kan??!” Kengo jadi PMS-ing.
“He?? Siapa?? Kane-chan??”
Wajah sang suami keburu merah padam, “dia satu sekolah denganmu ketika di Osaka, kan??–walau tidak satu angkatan,”

Aiko terkikik–tawa yang berusaha ditahannya, “aku sudah berstatus ‘Ibu’, Ken-Ken~ dua anak pula. Mana mungkin aku selingkuh??” ditariknya lengan sang suami dan dipeluknya, sehingga dengan tubuhnya yang chibi, Aiko tampak seperti ulat yang ngelendot di batang pohon.

Sejurus kemudian, bahu lebarnya turun–emosinya tak lagi meluap-luap.
“Lusa ya??” Kengo menggaruk-garuk tengkuknya–mengingat jadwal pekerjaannya.

Aiko menatap sang suami tak mengerti.

Satu helaan nafas mengalir, “aku punya meeting pagi, hari itu…” Kengo membanting tubuhnya menghantam lapisan sprei diatas kasur ukuran King-size tersebut.
“Aku baru pulang 3 hari kemudian loh,” Aiko pun ikut berbaring disampingnya.
“Itu kapan??” otaknya yang tersumbat pembukuan dan lajur jurnal, membuatnya sedikit lemot untuk sekedar mengingat hari dan tanggal.
“Itu sekitar…” tak kalah lemot-nya dengan sang istri, “…tanggal 10,”
“Tanggal 10 ya??”

Baru saja Aiko hendak membalikkan tubuhnya, Kengo sudah keburu bangkit–kembali.

“Berarti, tanggal 9 nanti, kau tidak ada di rumah donk??” protes Kengo tiba-tiba.
“Tentunya, sayangku~~~~” Aiko mendaratkan cubitan gemas di pipi Kengo yang tak se-chubby Kanata–si sulung.

Tanggal 9 November adalah hari dimana Kengo paling anti sendirian. Hari dimana Kengo ingin mendapati menu spesial yang dibuat sang istri tersedia diatas meja makannya. Hari dimana Kengo ingin melewatinya dengan sang istri. Berdua diatas ranjang mereka.

Hari ulang tahunnya…

“Masa harus 3 hari di sana, sih??” Kengo mulai merajuk.
“Aku tak bisa terlalu cepat pulang, karena sudah beberapa tahun ini aku tak berkunjung ke sana. Lagi pula, memangnya ada, 2 kereta menuju Osaka-Yokohama dalam waktu satu hari??”
“Lalu, mau dimana kau mengina, jika tujuannya 3 hari??”
“Di rumah temanku~”
“Dokter sialan itu ya??!!”
“Buu~kaaannn~~ Ini teman perempuanku, Asuka,”
“Tapi… tapi… tapi…” Kengo mengiba percepatan pulang sang istri ketimbang akselerasi keuangan di kantornya.
“Makanya, Ken-Ken pilih–ikut denganku ke Osaka, atau diam di Yokohama?? Jika Ken-Ken memilih ikut, besok pagi aku akan menelpon Jii-chan agar kita bisa menginap di rumahnya,” ujar Aiko memaksudkan papah dari papahnya yang tinggal di Osaka.

Semalaman Kengo gamang. Memikirkan dua pilihan sulit–tetap kerja dikantornya dengan jaminan tidur kedinginan, atau ikut dengan sang istri dengan jaminan dampratan manis dari Kataoka–sang atasan.
‘Jatah’ yang harusnya menjadi agenda malam ini, terpaksa di undur karena Aiko keburu ngantuk gara-gara nonton sang suami yang sibuk komat-kamit–bergumul dengan pikirannya sendiri.

“Haruskah aku menjomblo di tahun ini??”

————————————————-

“Jika pakaiannya kotor, taruh saja di kantong pakaian kotor, nanti akan ku cuci sepulang dari sana. Jika ingin sarapan, setidaknya, makanlah roti–masih banyak stok di lemari. Kalau malam, tutup dan kunci semua pintu dan jendela. Sebelum berangkat ke kantor, seluruh peralatan elektronik harus dipastikan padam. Makan malam jangan melulu beli dari mini-market. Makanlah yang teratur. Setidaknya…………..”

Kengo memandangi cangkir kopinya hambar walau masih berasap, sembari mendengarkan wejangan sang istri.
Pagi ini, ia memutuskan untuk menjalani pekerjaan akunting-nya, dan merelakan sang istri melenggang kangkung menuju tanah kelahirannya di Osaka.
Dan sebagai gantinya, Aiko harus berceloteh panjang lebar untuk meng-kursus-i sang suami kiat-kiat menjaga rumah. Tak sampai situ, Ia pun menempelkan kertas-kertas kecil pada setiap sudut barang-barang elektronik–terutama kulkas, untuk meninggalkan note penting.

“Ada lagi, Kko-chan??” Kengo mendesah berat. Perkataan sang istri bagai nyanyian yang numpang lewat mengitari kuping kanan, dan keluar dari kuping kiri-nya.

“OH YA!! Tolong siram tanaman yang ada di halaman belakang setiap pagi yaa~~~”

———————————————

“Tiga hari itu lama, Kko…” bisiknya sembari mendekap hangat tubuh sang istri, “jaga dirimu baik-baik,”
“Iya, Ken-Ken juga…” dapat dirasakannya jemari sang istri menyusuri punggungnya.

Peluit stasiun pun menjerit nyaring.

“Aku akan merindukanmu,”
“Jaa, aku pergi dulu~”

Aiko menyesap udara Kansai yang dihirupnya seiringan dengan bunyi kereta yang berbenturan dengan rel-nya. Ini adalah ‘lusa’ itu, dimana dirinya berangkat meninggalkan tanah Kanagawa menuju Osaka.

Masih terbayang wajah sang suami yang lalu lenyap seiring gerak kereta. Mengantarnya dengan senyum dan perkataan-perkataan yang menenangkan hati, walau Aiko tahu sebenarnya Kengo paling gak suka ditinggal sendirian dalam waktu yang lama. Walau sang suami harus kehilangan dirinya sesaat pada hari ulang tahunnya nanti.

Pagi tadi ia baru saja menelpon sahabat baiknya semasa SD–Asuka, untuk meminta menjemputnya di stasiun begitu setibanya ia di tanah Osaka. Sembari membayangkan pertemuan mereka setelah 25 tahun terpisah akan menjadi seperti apa, Aiko pun memintal kembali kenangan-kenangan semasa kanak-kanaknya tersebut.

“Hisashiburi…”

Ini akan menjadi hari-hari yang berat…

————————————————-

Kengo langsung bercumbu dengan meja kerja-nya yang terhitung dingin karena di lapisi kaca yang keras. Jika hari-hari kemarin ia yang pergi meninggalkan sang istri, kini kebalikannya–ia yang ditinggal pergi Aiko.

Menjadi BAPAK RUMAH TANGGA dadakan pun rasanya sulit untuk sekedar ia bayangkan. Untung saja, dua jagoan kecil mereka–Kanata dan Ryuu tengah tidak ada di rumah, guna meminimalisir pekerjaan menjadi lebih banyak.

Sebelum memulai pekerjaannya untuk menuliskan laporan pembukuan tutup bulan, Kengo merancang apa yang harus dilakukannya setiba di rumah nanti. Memasak kah? Mencuci kah? Membersihkan rumah kah?? Atau… mungkin ia akan tepar sebelum melakukan itu semua, karea sakit di pinggangnya kembali terasa.

“Rasanya aku harus mampir untuk beli koyo…”

————————————————-

“Tsuchiya Aihara, ka??”

Aiko langsung membalikkan tubuhnya dan mendapati seorang wanita yang sebaya dengannya tengah berada dibelakang punggungnya.

“Ah… iya…” Aiko menjawab dengan ragu.
“Sekine. Ini aku, Sekine Asuka,” senyumnya dengan mimik ‘ayolah, kau pasti mengingatnya’
“Asuka?? Asuka-chan??”
Wanita itu mengangguk sekali lagi.
“ASUKA-CHAN~!!”

Dapat dipastikan adegan peluk-pelukan antara kedua orang yang tak beda jauh tingginya ini pun terjadi.

“Hisashiburii~~~”
“Yak ampun, Ai-chan~~ Kau tidak berubah ya–terutama tinggi tubuhmu,”
“Ah, kau jadi sedikit lebih tinggi dariku~”
“Saa, kita lanjutkan obrolannya nanti. Sekarang, mari ku bantu,”
“Ah, terima kasih.”

—————————————–

“Aku pulang,”

Kengo membuka pintu rumahnya yang terkunci dan….

…hening.

“Ah, aku lupa… Kko-chan kan sedang pergi,” Kengo melengos masuk ke dalam rumah.

Bangunan kecil ini nampak berbeda. Jika setiap ia pulang aroma masakan tercium di pelosok rumahnya, kini tidak. Jika terdengar bunyi pintu terbuka, Aiko pasti langsung stand-by di hadapannya–menunggu siapa yang datang. Biasanya saat Kengo berjalan menuju ruang keluarga, ia melihat Ryuu sedang ‘berantem’ dengan sang kakak menggunakan PlayStation hadiah ulang tahunnya yang ke-10. Kini, ruang keluarga yang selalu ramai itu sepi. Tidak ada apapun yang bergerak.

“Aku benci sendirian…”

———————————————

“Jadi, ini anakmu, Asuka-chan??” Aiko memandang takjub seorang gadis yang tengah menghidangkannya minuman hangat dengan berbagai sajian kue yang imut-imut.
“Ini Kurumi, 18 tahun,”

Aiko mengangguk-angguk, “umurnya sama dengan Ka-chan ya~”
“He??”
“Iya, anakku. Anak pertamaku,” Aiko langsung meraih dompetnya dan menunjukkan foto mereka berempat, “Ini Ka-chan. Kanata,” tunjuknya pada sesosok pemuda jangkung yang berdiri dibelakangnya.
“Hee~ Tampan ya~”
Aiko tertawa kecil, “lalu ini anak kedua-ku, Ryuu. Ryoutarou,” Aiko menunjuk si bungsu yang berdiri disampingnya–dihadapan Ayahnya.
“Lalu ini??” Sekine menunjuk seseorang dibelakang Ryuu.
“Itu Ayahnya. Suamiku,”

Asuka menutup mulutnya–takjub, “Tinggi ya??”

————————————————-

“Besok ya??”

Kengo mendesah pasrah melihat tanggal 9 November yang sudah dilingkari sang istri jauh-jauh hari.
Esok adalah tanggal 9 November. Esok adalah hari ulang tahunnya.
Tanpa melakukan wewejangan sang istri, Kengo melempar tubuhnya keatas kasur. Pinggangnya terlalu sakit untuk sekedar mem-vacuum karpet, atau berdiri sejenak membuat kare instant.

Kedua bola matanya menerawang langit-langit kamar.
Biasanya malam ini–sebelum ulang tahunnya–sang istri akan bertanya perihal apa yang diharapkan sang suami sebagai hadiah ulang tahunnya esok.
Dan biasanya, Kengo tak minta macam-macam–ia hanya menginginkan sang istri. Tapi tahun ini……
Kengo menatap sisi kasur yang kini kosong–tempat yang biasa ditiduri chibi-nya itu. Mustahil rasanya untuk menjadikan sang istri sebagai hadiah ulang tahunnya kali ini.

Kengo membalikkan tubuhnya.

“Haaahh~ jepit di pintu deh~”

———————————————–

“Benarkah?? Ya tuhan~ lama sekali ya, aku tidak ke sini,”

Aiko memandang takjub jalan menuju Sekolah Dasar Meishi dari balik kaca jendela mobil yang dikemudikan oleh Asuka.

“Ya. Dan kau tahu, ladang pohon ginko tempat kita bermain dulu?”
Aiko mengangguk cepat, “dimana kita selalu mengumpulkan buah-buah ginko yang jatuh kan?”
“Yup! Dan kini telah menjadi taman,”
“Uwaaaahhhh~~!! Aku rindu osakaaaa~~!!”

Terlalu banyak tempat-tempat kenangan yang ingin sekali diceritakannya pada sang suami.
Banyak hal yang menakjubkan yang ingin ia bagi berdua. Namun…

“Hari ini ulang tahun suamiku…” Aiko mengehela nafas berat.
“Hee?? Lalu??”
“Aku tak dapat memberikannya sekedar ucapan saja,”
“Telpon donk~! Nih, pakai ponsel-ku~!” Asuka menjulurkan ponsel biru muda-nya pada Aiko.
“Ah, maaf merepotkan. Tapi… aku ingin membuat kejutan untuknya,”
“Begitukah??”
“Un! Hei, lihat! Kita sudah sampai~!”

“MEISHI SHOGAKKO, OSAKA”

—————————————-

“Selamat ulang tahun, diriku,”

Kengo menatap iba pantulan dirinya dalam cermin di kamar mandi.
Pagi yang dingin.

Ayah dua anak ini pun beringsut menuju kamarnya kembali, dan membuka lemari pakaian mereka.
Meeting pagi hari ini harus membuatnya tampil serapi mungkin–walau malas. Saat dirinya tengah sibuk berpakaian, iris cokelatnya menangkap sebuah kotak mungil yang tersudut di pojokan lemari.
Tanpa menyelesaian acara dandannya, Kengo pun mengambil kotak seukuran laptop-nya itu, dan menimangnya diatas pangkuan saat dirinya duduk dipinggiran ranjang.

Dibukanya benda yang terbuat dari kayu tersebut, dan nampaklah beberapa benda serta kertas-kertas usang yang telah disimpannya dari awal pernikahan mereka. Ini kotak milik dirinya dan sang istri.
Dari kebanyakan benda yang dikuburnya, kebanyakan dari mereka adalah foto-foto kenangan.

Diangkatnya sebuah foto usang yang berumur lebih dari sepuluh tahun.

-Ka-chan to Ryuu-

Tulis sang istri dibalik lembaran foto tersebut. Memang sudah kebiasaan Aiko. Dibalikkannya kembali lembaran foto tersebut, dan dilihatnya wajah Kanata saat berumur 3 tahun, dengan sang adik yang baru berusia 2 hari.
Tanpa sadar, dirinya tersenyum. Hatinya menghangat melihat ekspresi lucu kedua anaknya ini. Ia merasakan bahagia yang meluap.

“Jika bukan karena Kko-chan, aku takkan merasa sebahagia ini,”

Ditaruhnya foto kedua anaknya tersebut, dan diambilnya lembaran foto yang lain.

-September 27-

Kengo mengenali tanggal yang ditulis sang istri dibagian putih foto tersebut. Dibalikkannya lembaran tipis–rapuh–tersebut. Terlihat olehnya sosok dirinya dengan sang istri yang tengah berpelukan. Lucu. Dirinya seperti memeluk anak SD. Namun, cantik. Sang istri memakai shiromuku dengan dirinya yang memakai hakama khas pernikahan. Saat-saat resepsi pernikahan yang tak mungkin diulang kembali.

“Aku ingin ke Osaka sepulang kerja nanti…”

——————————————————-

“Aku lupa, aku mengubur apa ya, untuk time-capsule ini?”

Pikir Aiko sembari terus menggali tanah yang telah rata dibawah pohon momiji.
Seharusnya sih, dibawah pohon ginko, mentok-mentok pohon sakura. Namun, karena kedua jenis pohon tersebut tidak berdiri di halaman sekolah dasar ini, maka dipilihlah pohon momiji yang menjulang angkuh di halaman selatan.

“Aku… jika tidak salah mengubur foto pentas drama kita, deh…” gumam Asuka yang dengan tekun mencongkel tanah dengan beberapa siswa lain angkatan mereka.
“Yang kutahu, time-capsule itu setidaknya hanya sampai 20 tahun. Mengapa Shogo-sensei sampai 25 sih??” rengut Aiko.

“Karena pada saat itu, umurku genap 50 tahun,”

Aiko dan sahabatnya itu serempak menoleh pada sosk jangkung yang menghalangi jalannya sinar matahari menyinari wajahnya.

“Yo~ murid-muridku,”

Aiko menganga lebar. Sampai memungkinkan lalat dan sejenisnya masuk kedalam kerongkongannya.
“Shogo-cchi~~!!” XD
“Hei~~ Ini sudah 25 tahun tauk!! Panggilah aku dengan ‘sensei’! Dasar!”
“Aa~~hh… sensei tidak berubah~~” Aiko memeluk hangat laki-laki paruh baya yang berbeda usia 13 tahun tersebut.
“Kau masih chibi,” Suzuki Shogo–menepuk-nepuk kepala muridnya yang masih menyisakan jarak 15cm dengannya.
“Enak saja~! Aku sudah jadi ibu tauk!” Aiko memeletkan lidahnya.

Shogo hanya tertawa menanggapi perilaku muridnya yang masih saja seperti anak SD walau mengaku sudah punya 2 anak.

“Saa, ayo, buka time-capsule kalian~”

Aiko mendapati sebongkah kapsul besar–tempat dirinya menyimpan harta untuk 25 tahun kemudiannya itu dengan tulisan ‘Tsuchiya Aihara 6-A’
Di bersihkannya kapsul tua tersebut, dan dibukanya perlahan.

“Kau mengubur apa??” tanya Asuka.
“Kau dulu~”
“Ini,” Asuka menunjukkan foto pentas drama mereka untuk perpisahan sekolah, “giliranmu,”

Aiko ragu untuk melebarkan bongkahan kapsulnya. Namun pada akhirnya, dirinya pun membukanya, dan tampak foto teman-teman sekelasnya di acara perpisahan dengan Shogo di sudut kiri–sebagai wali kelas.

Tak hanya selembar foto usang itu. Aiko pun mendapati sebuah kain tule putih panjang yang telah tertidur dalam kapsulnya selama 25tahun.

“Ini apa??” Asuka pun menjadi tertarik dengan teka-teki kain putih panjang tersebut.
“Ah… ini…” Aiko melebarkannya dengan kedua tangannya, “… seperti ini!” lalu menyampirkannya diatas kepalanya menutupi seluruh rambutnya. Mirip seperti kerudung pengantin.
“Mengapa dirimu mengubur beginian??” Asuka memandang aneh sahabatnya itu.
Aiko hanya tertawa geli.

Sehari setelah ‘pelamaran’ tak sengaja yang dilakukan oleh Kanesaki, Aiko bertekad untuk menikah dan menjadi istri yang baik. Scene pernikahan pun menjadi mimpinya yang terindah. Sampai-sampai gorden kesayangan Harumi–sang bunda–diguntingnya untuk di kubur dalam time-capsule. Harapannya untuk menikah.

“Aku akan menunjukkannya pada suamiku…” gumam Aiko masih dengan memakai guntingan gorden ibunya tersebut.
“He??”
“Maaf Asuka-chan, sore ini aku akan pulang,”

———————————————————

“Pulang cepat??”

Kataoka mengernyitkan alisnya dan dahinya yang sudah keriput.
“Aku… ingin menyusul istriku ke Osaka. Kumohon. Setelah itu, terserah pada Sancho-sama untuk memberikanku lembur atau apapun,” Kengo tengah menahan posisi bungkuknya selama lebih dari 15 menit demi mendapat restu atasannya untuk ke Osaka–walau dengan denyutan sakit pinggang yang tak tertahankan.
“Baiklah. Besok pun, kau boleh libur~”

Kengo mengangkat pandangannya, “honto??”

Kataoka mengangguk, “pergilah, sebelum aku berubah pikiran,”
Kengo membungkuk sekali lagi–lebih dalam, “terima kasih,”

——————————————-

“Terima kasih banyak untuk kemarin dan hari ini ya,”

Aiko menunduk dalam-dalam dihadapan sahabatnya itu, sehingga rambut sebahunya turun menjuntai disiram cahaya mentari senja.

“Tidak apa, tidak apa~ aku pun senang sekali kau mampir ke sini. Kapan-kapan, datanglah lagi. Bawa serta suami dan anakmu. Kapan pun aku akan menyambut mu,” Asuka membalas bungkukkan Aiko.
“Saa, sampai sini saja, sisanya, biar aku sendiri. Aku sudah terlalu banyak merepotkanmu,”
“Hati-hati di jalan ya~”

Asuka pun menghilang dengan mobil hitam yang dikendarainya.

Tinggal Aiko yang harus menunggu kedatangan kereta ‘Osaka-Yokohama’ sendirian.

“Masih 20 menit lagi. Aku akan menelpon Ken-Ken,” niatnya sembari melangkahkan kaki menuju kotak telepon umum yang berada di dekatnya.

“Ken-Ken??” ia pun memanggil panggilan kesayangannya pada sang suami, begitu panggilannya diangkat.
“Kko-chan??”
“Ne… Ken-Ke…..”
“Kau dimana??” sela sang suami.
“Di stasiun,” jawab Aiko bingung.
“Dimana? dibagian mana??”
“Keberangkatan ke Yokohama,”
“Peron?”
“5,”
“Diamlah di situ!” terdengar deru nafas Kengo yang tak beraturan.
“He??”
“Jangan tutup teleponnya!”
“Ba.. baik!”
“Tunggu aku!”
“A… Apa??!!”
“Tunggu! Sedikit lagi!!”
“Ken-Ken??”

Saat itu juga tubuh mungilnya terlindungi oleh kedua tangan besar dari belakangnya.
Panik, Aiko menoleh, dan mendapati dagu sang suami sudah bersandar di ubun-ubunnya.

“Ken-Ken?? Kok ada di sini??” Aiko kembali menaruh gagang telepon umum itu.
“Aku menyusulmu,” jawab Kengo masih dengan nafas satu-satu.
“Jauh-jauh begini??” Aiko melepaskan diri saat pelukan sang suami melonggar.
“Aku terlalu merindukanmu…” senyumnya.

Aiko tak membalas apa-apa, hanya memeluk sang suami yang hanya sampai di pinggang.

“Ken-Ken… Selamat ulang tahun…” bisiknya.
“Terima kasih…” Kengo mengangkat pandangan sang istri, “…aku bukan apa-apa tanpa Kko-chan,”

“Ken-Ken! Lihat deh! Aku mengubur ini dalam time-capsule ku,” Aiko buru-buru merogoh isi tasnya.
“He??”
“Ini!” dengan bangga ia menunjukkan seonggok kain tule putih yang usang.
“Apa itu??” sama seperti Asuka, Kengo pun bingung.
“Seperti ini~!” Aiko kembali menyampirkan kain tersebut diatas kepalanya, “ini~”

Kengo yang sempat melongo melihat perilaku ajaib sang istri, kini terkikik geli melihatnya.

“Kenapa?? Jelek ya??” Aiko manyun.
Kengo berusaha menghentikan tawanya, “tidak… tidak… cantik kok,” ditariknya pinggang sang istri untuk merapat dengan tubuhnya, “setibanya di Yokohama nanti, kita mampir ke gereja ya,”
“Un!”
“Aku ingin meminangmu kembali…”

-Owari-

========================================================

Aiko no Note:

Uwaahh~!! Hasil kerja 2 hari satu malem niihh~!!

OVERLAND BIKIN GUE GILAAA~!! DX

Terinspirasi dengan kepergian saya nanti. Saat di Bali nanti, otomatis saya tidak bisa say ‘Hepe Birthday my Hubby’ begitu saja karena saya tengah jauh dari keluarga. Hiks…

Untuk my beloved husband: Ohkuchi Kengo.

Thanks to be my best~ XD

-Aiko