Archive for September, 2010


Yuzu – Aitai

ゆず – 逢いたい

もしも 願いが 叶うなら
どんな 願いを 叶えますか?
僕は 迷わず 答えるだろ
もう一度。。。あなたに逢いたい

“Jika keinginanmu dapat terkabul,
Keinginan macam apa yang ingin kau wujudkan?
Mungkin diriku akan menjawab tanpa ragu kalau…
Aku ingin bertemu dirimu sekali lagi.”

外は 花びら 色つく 季節
今年も 鮮やかに さきほこる
あなたが 好きだった この 景色を
今は。。。一人 歩いてる

“Di musim yang diwarnai kelopak bunga
Bunga tahun ini pun berkembang dengan hidup.
Di pemandangan yang begitu kau sukai
Sekarang, aku berjalan sendirian”

分かり合えずに 傷つけた
幼すぎた あの日々も
確かな 愛に 包まれて
いたことを 知りました

“Kita saling menyakiti karena saling salah paham
Walau kita kembali pada hari-hari masa kecil kita
Dipeluk oleh cinta sejati
Dan kita mengetahuinya….”

逢いたい 逢いたい
忘れはしない
あなたは 今も ここにいるから
ありがとう ありがとう
伝えきれない
この思いを どうか 届いて欲しい

“Aku ingin bertemu, aku ingin bertemu
Tidak akan kulupakan.
Sekarang pun kau selalu di sini
Terima kasih, terima kasih
Tidak dapat kuceritakan
Bagaimanapun, aku ingin meraih perasaan ini…”

朝の 光に 手を染めて
新しい 日常が 始まるけど
きずけば どこかに 探してしまう
もういない あなたの 姿を

“Cahaya pagi membuat mataku berkedip
Hari yang baru telah dimulai
Tanpa kusadari, aku telah mencari-cari
Sosok dirimu yang telah tiada…”

何も 言わずに 微笑んだ
優しかった あの 笑顔
生きる 苦しみ 喜びも
何度も 教えてくれた

“Tanpa mengatakan apapun, kau tersenyum
Betapa lembutnya wajah itu
Sakitnya hidup, dan senangnya hidup
Telah berkali-kali kau ajarkan padaku…”

溢れて 溢れて
声に ならない
あなたを 空に 思い描いた
泣くいたり 笑ったり
ともに歩んだ
足跡とはいい 消えは しないさ

“Meluap, meluap
Tanpa suara
Aku menggambarkan perasaanmu di langit
Menangis bersama, dan tertawa bersama
Berjalan pun bersama
Jejak kaki kita pun tak terhapuskan…”

果てしなう また 巡り
あういのき

“Kehidupan tak berujung dan terus berputar…”

もしも 願いが 叶うのなら
もう一度。。

“Seandainya harapaku dapat terkabul…
Sekali lagi…”

逢いたい 逢いたい
忘れはしない
あなたは 今も ここにいるから
ありがとう ありがとう
伝えきれない
この思いを どうか 届いて欲しい

“Aku ingin bertemu, aku ingin bertemu
Takkan ku lupakan
Sekarang pun kau selalu di sini
Terima kasih, terima kasih…
Tak dapat kuceritakan
Bagaimana pun, aku ingin meraih perasaan ini…”

声も 温もりも 優しい 微笑みも
ここに いるから
逢いたい

“Suaramu, kehangatanmu, kebaikanmu,
Dan senyummu…
Masih di sini
Aku ingin bertemu denganmu…”

link to the mp3

 

Our Celebration

Title: Our Celebration
Writer: Tsuchiya Aihara
Theme Song: Orange Range – Happy Birthday Yeah! Yeah! Wow! Wow!
Current Mood: Excited
Note: Malam-malam pergantian ulang tahun kembar Tsuchiya

O.T.A.N.O.S.H.I.M.I.N.I.K.U.D.A.S.A.I.!

~Our Celebration~

Tokyo, Awal September

Siang yang dingin di musim gugur ketika Aiko–19tahun–tengah sibuk mencampur bahan-bahan yang tertera dalam buku resep yang tengah ditidurkannya di atas meja makan.
Suasana rumah yang sepi siang hari ini; Yuichi dan sang Istri tengah menghadiri upacara pernikahan kerabat di Aomori sana, dan kemungkinan untuk menginap, plus kedua kakak Aiko yang kini tak lagi tinggal di rumah membuatnya bebas ber-ekspresi untuk membuat kue–sebagai calon istri ia harus banyak belajar.

—TING! TONG!

Berbunyilah bel rumah kediaman Tsuchiya. Aiko bergegas untuk membukanya dengan harapan sang calon suami–Kengo— yang bertandang ke rumahnya.

“Ya??”

Nampaklah sesosok pemuda jangkung yang menutupi seluruh tubuh kecil Aiko dengan bayangannya.
“Sota-nii??” senyumnya berkembang saat ia mengetahui beberapa detik kemudian bahwa ia adalah kembarannya.
“Ai-chan~!” XD

Memang ini pernah menjadi tempat tinggalnya, Sota pun langsung masuk tanpa permisi.
Ini adalah kunjungan pertamanya setelah 3bulan lalu menikah dengan Kumiko dan menetap di Osaka.

“Tidak dengan istri-mu??” tanya Aiko sembari berjalan mendahului Sota menuju ruang makan–tempat dimana Aiko tengah bereksperimen dengan tepung dan gula.
“Tidak. Aku mampir ke sini karena kebetulan tengah menangani klien di Tokyo,” Sota langsung duduk di hadapan jajaran bahan-bahan kue.
“Begitu ya??” reaksi Aiko sembari kembali fokus pada adonan kue-nya yang sempat terabaikan.
“Ne, Ai-chan??”
“Hm??”
“Apa kau punya waktu luang ditanggal 17 nanti??”
“Hn? Ada apa di tanggal itu??” Aiko tetap dengan pekerjaan mengaduk-aduk tepung dan gula-nya.

Sota melongo. Tak percaya kalau sang adik masih bertanya dengan 17 September.

“Kau tak mengingatnya??”
Aiko menggeleng tanpa menoleh sang Kakak kembaran.
“Itu hari ulang tahun-ku, Ai-chan~”
Aiko terhenti sejenak. Matanya mengadah–berusaha mengingat-ingat sesuatu.
“Dan perayaan kita berdua~~” jelas Sota lagi demi membuka ingatan sang adik yang nampaknya mulai tumpul.

Sebagai kembar yang berbeda tanggal lahir, mereka selalu merayakannya tepat di pertengahan antara tanggal 17 dan 18–pada tengah malam. Dan selalu berlanjut setiap tahunnya.

“AH!!” dan sepertinya Aiko memang pelupa, “MAAFKAN AKU, NII-SAN~” dan berakhir dengan sungkem-nya sang adik dihadapannya.
“Kamu kok bisa pelupa begitu, sih??” protes Sota.
“Maaf, Nii-san~ sepertinya aku sedang banyak pikiran akhir-akhir ini…”

Sota memaklumi. Dalam hitungan beberapa hari lagi, adik akan melangsungkan pernikahannya dengan laki-laki yang pernah menjadi guru pembukuannya itu.
Banyaknya option yang harus dipenuhi dan sang mempelai pria yang masih sering berurusan dengan kantor-nya, membuat Aiko harus pintar-pintar mengingat dan mengerjakan sesuatu dengan memori otaknya yang terbatas.

“Tau deh yang mau nikah…”

———————————————-

Akhirnya mereka memutuskan untuk merayakannya di Tokyo–kediaman sang papah yang sebentar lagi sepi karena akan ditinggal anak-anaknya menikah–Kengo sudah menjanjikan Aiko untuk tinggal di rumahnya di Kanagawa kelak bila sudah menikah.

Kebetulan pulang cepat dari kantornya, Sota pun langsung bersiap untuk bertolak ke Tokyo.

“Aku tidak bisa ikut… Besok sudah deadline,” ujar Kumiko–sang istri, yang merupakan seorang editor harian setempat.
“Kalau begitu, hati-hati di rumah ya?” Sota memakai jas yang diberikan sang istri.
Kumiko mengangguk, “sampaikan salamku pada Ai-chan,”
“Ya,” dikecupnya dahi sang istri, “aku berangkat dulu,”

———————————————-

Perjalanannya ke Tokyo kali ini dihantar dengan matahari terbenam di sisi kanan jalan yang menghubungkan Osaka-Tokyo. Begitu romantis sehingga Ia merasa sangat berharga sekali hari ini.

“Sotaa~~” betapa girangnya snag Bunda–Harumi, ketika melihat sang anak yang kepalanya hampir menyentuh kusen pintu rumah mereka datang. (Sota jangkung loh, bo~)
Sota membalas pelukan sang Bunda setelah menjalin 1-2 langkah masuk ke dalam rumah mungil Tsuchiya tersebut.

“Selamat ulang tahun, sayang~” kecup Harumi di kanan-kiri pipi sang anak kedua.
“Makasih, kaa-san,” senyum kecil mengembang di bibirnya, “mana Ai?” pemuda yang baru menyandang predikat ‘suami’ ini mengedarkan pandangannya–siapa tau dapat menemukan sosok chibi sang adik di susdt-sudut rumah yang agak bergaya kuno–atas keinginnan sang papah.
“Wah, sayangnya, Ai baru saja pergi tadi,” jawab Harumi sembari mulai ngobok-obok dapur–mencari kudapan untuk Sota yang siapa tauk capek habis ngesot dari Osaka ke Tokyo.
“Kemana?” Sota mengambil posisi duduk di ruang makan sederhana itu.
“Kurang tau juga mamah… Tapi yang jelas, Ia pergi bersama Kengo-kun~”

Sudah pasti jawabannya: mempersiapkan acara pernikahan yang cuma 10 hari deadline-nya.

Pundung Sota menempelkan pipinya pada kaca meja makan yang dingin. Ia ditinggal sang adik sendirian.

“Ne, Sota, tumben sekali kau ke sini? Tanpa Kumiko pula…” Harumi menghidangkan senbei sisa sang Ayah, dan segelas sirup melon–minuman yang tersisa di kulkas.
“Yah, aku hanya ingin merayakan ulang tahunku bersama keluarga~” Sota masih menempelkan pipinya sehingga gaya bicaranya yang terkesan ngedumel, “Kumi sedang ada pekerjaan. Ia tidak bisa ikut,”

“Wah sayang sekali…. Papahmu baru saja ada tugas di Yokohama. Mungkin besok Ia baru pulang…” Harumi duduk di sisi sang anak–menemaninya.
“Yuta-Nii??” Sota menanyakan si sulung Yuta.
“Yah… Yuta menjadi sangat sibuk akhir-akhir ini. Terlebih ia tinggal di Niigata sekarang… Cukup melelahkan untuk sering-sering berkunjung ke Tokyo…”

Sota menghela nafas. Pasrah. Ulang tahunnya kali ini sangat sepi.

“Ne~ setidaknya ada mamah kan??”
“Huweee~~!! Kaa-san~~” Sota langsung menggabruk sang Bunda.
“Maa, maa~ sejak kapan kau jadi lebay seperti ayahmu??”

———————————————-

Jam sudah menunjukkan jam 11.40 malam. Sudah 5 jam Sota menempelkan pantatnya di kursi ruang tamu. Sendiri.
Harumi sudah pamit mau tidur. Capek katanya. Dan Aiko–sang adik, belum juga pulang. Meskipun begitu, ia sangat sabar dan masih setia di ruang makan. Menunggu kepulangan sang adik. (maklum, bo’, tipe Virgo emang setia plus penyabar XD)

—DRRT~ DRRRT~

Ponsel legamnya bergetar. Menampakkan nama sang istri pada list calling in-nya.

“Ya, Mah?”
“Kau belum pulang??” balas Kumiko dari seberang.
“Belum. Mungkin aku pulang nanti pagi,”
“Ne~ besok kan kau kerja pagi,”
“Tidak apa. Aku pasti kerja kok,”
“Jangan memaksakan diri ya,” nasihat sang istri.
“Ya, terima kasih sayang~”
“Cepatlah pulang…”

Diakhirinya panggilan berdurasi 34 detik itu.

Sota mulai bimbang. Memang ada kemungkinan sang adik pulang keesokan harinya. Namun ia sungguh tak ingin menghancurkan tradisi yang telah dibuatnya selama 12 tahun itu.

Sampai akhirnya Sota mengangkat sedikit posisi-duduknya yang mulai terasa panas–hampir semalaman ia menunggu sang adik pulang.
Sampai akhirnya…

“Aku pulang~”

Terdengar suara cempreng yang seiringan dengan suara pintu dapur yang tertutup.

Sota langsung melongok ke lorong yang menghubungkan mereka.
Sampai akhirnya…

“Sota Nii??” tampaklah Aiko dengan borongan belanjaannnya–yang disuruh sang Bunda untuk mengisi kulkas mereka yang mulai kosong.
Sota hanya tersenyum di wajahnya walau dalam hati dongkol setengah mati karena lama menunggu sang adik.
“Sudah lama di sini??” tanya Aiko yang dengan ragu menaruh belanjaannya di atas meja.
“Tidak juga…” Sota bangkit. Berdiri, “aku… menunggumu sejak sore tadi…” Sota berusaha jujur.
“HEE?? Sungguhkah?” Aiko membelalak tak percaya pada sang kakak.
“I… Itu…” perkataannya langsung terhenti ketika sang adik menggabruknya.

“Selamat Ulang Tahun, Nii-san. Maaf… aku telat…” bisiknya.

Sejenak, seluruh ke-dongkolan Sota hilang. Sirna entah kemana.
“Tidak… tidak telat juga kok…” jawabnya sembari menoleh pada jarum jam yang hampir menunjuk angka 12.

Sejenak diam. Hening. Tenang.

—DRRTT~ DRRT~ DRRT~

Lagi, ponsel hitam metalik miliknya bergetar. Kali ini bukan panggilan masuk, atau pun semacamnya. Tapi Reminder. Pengingat. Yang menampangkan nama ‘Tsuchiya Aihara‘– Sudah memasukki tanggal 18 September.

“Ai-chan juga, selamat ulang tahun,” ucapnya sembari mengacak-acak rambut sang adik sampai berantakkan.

Sejenak mereka terdiam. Ruangan ini begitu sepi. Tanpa cake, tanpa lilin, dan hal-hal semacamnya yang berbau ulang tahun.

“Ah, iya… aku lupa membeli cake…” desah Sota.
“Jangan khawatir, aku bawa kok,” Aiko melepas rangkulannya dari sang kakak, dan berjalan menuju barang belanjaannya tadi.

Dibukannya bungkusan plastik tersebut, dan nampaklah sebuah cake mungil berlapis cokelat.

“Ne~ Nii-san, maaf ya, cheese-cake nya habis…”
“Tidak apa, cokelat pun enak juga rasanya,”
“Saa, potongan pertama untuk siapa?”
“Kita…”

~Owari~

==========================================

Dedicated to:

Tsuchiya Sota


Ini sudah tanggal 17~ Tandanya Ultah babang tercintaaaa~~!! XD
I love you Bang~
Semoga makin ganteng, ent jangan lebay ya bang~ sebelum gue gaplok pake wajan~

Pokoknya, Iko sayaaaang banget sama Babang~ XD

平井堅 — いつか離れる日が来ても

Mahou no you na egao ni
Nando sukuwareta darou
Te wo tsunaida kaerimichi
Futo kokorobosoku naru

Senyum yang seperti sihir itu
Telah berkali-kali menyelamatkanku
Ketika kita pulang dan bergandengan tangan
Hatiku serasa sepi…

“Jibun yori daiji na mono
Te ni suru no ga shiawase da to”
Oshiete kureta kimi wa boku wo
Tsuyoku mo yowaku mo suru

“Mendapatkan sesuatu yang lebih penting dari dirimu
Adalah hal yang paling membahagiakan”
Hanya kau yang mengajarkanku hal itu
Terkadang itu menguatkanku, terkadang melemahkanku…

“Kangaesugida yo waratte yo”
Boku no hoho wo tsuneru kedo
Kono nukumori ni mitasareru hodo
Ushinau kowasa ni doushiyou mo naku osowareru n’ da

“Itu hanya pemikiranmu saja, tertawalah”
Itu yang kau katakan ketika mencubit pipiku
Walau aku mendapatkan kehangatan ini
Tapi entah mengapa aku masih takut kehilangannya…

Itsuka hanareru hi ga kite mo
Deaeta subete wo kuyamu koto dake wa
Kesshite shitakunai kara

Jika suatu saat kita berpisah,
Aku hanya tidak ingin menyesali
Seluruh pertemuan kita

Nee, ima KISU shitemo ii ka na?
Naze darou konna ni kimi wo omou dake de
Namida ga deru n’ da

Hey… Dapatkah aku menciummu sekarang??
Mengapa hanya dengan memikirkanmu saja
Airmata ku mengalir…

Kimi to iu takara mono ga
Tonari ni iru kiseki wo
Ano sora wa oboeteiru
Toki wo koe oboeteru

Kau adalah harta karun…
Memiliki mu di sisiku adalah kejaiban
Aku mengingat langit itu
Dan waktu yang kulalui

Ai no kotoba wo narabete mo
Hitotsu ni wa narenakute
Kono nukumori ni omaete shimau
Ushinau kowasa wo kaki kesu youni
Nando mo nando mo

Bahkan ketika aku menyusun puisi cinta ini
Kata-kata itu tak dapat menjadi satu
Ketika aku dimanjakan dengan kehangatan ini
Aku hanya menuliskan ketakutanku akan kehilanganmu…
Berkali-kali…

Itsuka kokoro ga kowarete mo
Daisuki na kimi wo nikumu koto dake wa
Keshite shitakunai kara

Jika suatu saat hatiku hancur
Dirimu yang begitu kucintai
Aku takkan membencimu…

Nee, ima dakishimete ii ka na?
Doushite konna ni kimi wo omou dake de
Kurushiku naru n’ da

Hey, bolehkah aku memelukmu sekarang?
Mengapa hanya dengan memikirkanmu saja
Hatiku terasa sakit…

Itsuka hanareru hi ga kitemo
Deaeta subete wo kuyamu koto dake wa
Kesshite shitakunai kara

Jika suatu saat kita berpisah,
Aku hanya tidak ingin menyesali
Seluruh pertemuan kita…

Nee, ima KISU shitemo ii ka na?
Naze darou konna ni kimi wo omou dake de
Namida ga deru n’ da

Hey… Dapatkah aku menciummu sekarang??
Mengapa hanya dengan memikirkanmu saja
Airmata ku mengalir…

Naze darou konna ni kimi wo omou dake de
Namida ga… deru n’ da

Mengapa hanya dengan memikirkanmu saja
Airmataku mengalir…

Down the Mp3 here

Fakin-pop
===========================================
Aiko no Comment:

Uwaaahh~!! Satu lagi single dari Mas Ken yang membuat Aiko menjerit-jerit dan mnegubah mode playlist-nya menjadi ‘repeated’

Itsuka Hanareru Hi ga Kite mo‘ adalah single ke-29 dari penyanyi kelahiran 17 Januari ini.
Ditulis untuk movie ‘Ano Sora wo Oboeteru‘ [Aku Mengingat Langit Itu…]

Liriknya yang sedih, dan rasa kehilangan yang pekat
Mewarnai lagu yang ber-genre ballad ini.
Untuk kalian yang kehilangan seseorang, atau tengah merindukannya…
Inilah lagu yang tepat untuk menemani kesendirian

Selamat mendengarkan…

~Aiko~

Happy Birthday Abang Yuta~

Dengan tulisan ini, saya ucapkan

~WELCOME SEPTEMBER~


Dan dengan itu artinya…………………

!!~HAPPY BIRTHDAY FOR MY 1ST BRO; HIRAOKA YUTA~!!

Hepi bersdey ya, Bang~ moga makin ganteng ent banyak rejeki~ amin~
Jangan lupa traktir-traktir adikmu yang kere ini~ amin~
Baju lebaran yang di Shibuya juga boleh tuh~ amin~
Sekalian Tiket WORLD Tour Orange Range~ amin~
Teruss…. *digaplok shamisen*

Pokoknya, Happy birthday lah Bang~
Happy always for you~ Love you Bang~~ X*

current music
: Takahashi Katsunori – Aishiteru feat Nakama Yukie
current mood: Sakit tenggorokan
location: Homedesu~!

~Owarimasu you niiiii~~~ << lagu ‘Hanamizuki’

%d bloggers like this: