Title: Bokura no Puresento
Genre: Family Drama
Disclaimer: Siapa aja boleehh~ Xd *digatak Agency mereka-mereka, dan penulis lagu serta penyanyi ‘Arigatou’*
Music:Kokia — Arigatou
Mood: Sakit perut, sakit kepala, nyeri kaki, gangguan pencernaan… TT^TT *lengkap yah??*

=================================================

sila3

Aku akan selalu melindungi yang berharga dalam hidupku…

Daremou ga kizukanu uchi ni

“Rasanya, menyenangkan ya, kalau menjadi adik??”

Nanika wo ushinatte iru

“Aku meminta, hanya hari ini, aku ingin menjadi adik…”

Futto kizukeba, anata wa inai

“Hanya di ulang tahunku hari ini…”

Omoide dake wo nokoshite…

Present

“Met Pagi, Ka-chaa~an!”

Pagi-pagi Aiko sudah menggabruk Kanata yang tengah terlelap.

“Met ulang tahu~un!!” senangnya Aiko hingga membangunkan si sulung yang cuma setengah nyawa.

“Pagi yang cerah, kan??”

Setelah Aiko turun ke lantai bawah, Kanata terpaksa bangun karena sudah terlanjur melihat Hime — tunangannya, di depan pintu kamar.

Dengan baju lusuh karena semalaman dipakai tidur, Kanata pun menghampiri kekasihnya.

“Selamat ulang tahun, Ka-chan,” senyum Hime sembari menyerahkan sebuah kotak hadiah.
“Apa ini??” tanya Kanata sembari menyender di pintu.
“Buka saja,”

Tampak beberapa keping CD lagu rilisan terbaru.

“Ih, ‘Laruku’,” gumam Kanata sambil tersenyum memandangi cover CD yang berjudul ‘Hurry X’mas’ tersebut.

“Makasih ya,” Kanata mengecup pipi Hime.
“Kyaa~a!! Kaa-saann~!”

————————————————————-

Setelah seluruh keluarga menjalani aktivitas sehari-harinya, malamnya pun Kanata merayakan umurnya yang kini 16 tahun.

Banyak kebahagiaan yang Ia terima hari ini. Ucapan dari teman-teman sekelas, guyuran jus dari kawan-kawan satu klub, sampai hadiah gatakan dari (lagi-lagi) Katou-sensei gara-gara ketiduran.

“Kubuka hadiahnya, ya?” lirik Kanata pada tumpukan kado di depan kue ulang tahunnya.

“Buku manajemen dan bisnis??” Kanata mengerutkan alisnya saat membuka kado dari sang Ayah — Kengo.

“Biar kau mengerti akuntansi,” jawab Kengo tersenyum yakin.

“Terima kasih, Ttou-san,” Kanata tersenyum ketir, Belajar manajemen lagi deh…

Kanata menoleh pada cake ulang tahunnya. Selalu ada sepasang lilin yang menghiasi cake ultahnya setiap tahun. Selalu. Diantara 16 lilin kecil yang menghiasi pinggiran cake’nya, Kanata selalu mendapati dua lilin kembar. Selalu….

——————————————————————–

Malam sudah sepi. Kemungkinan besar Ryuu sudah ‘tewas’ di depan PS3 nya, dan Ayah — Kengo sudah ngorok duluan bersimbah kertas dan kerjaan de-el-el, dan mungkin Aiko sudah terlelap dengan masker pekat seperti ondel-ondel beserta timun segar yang melengkapi perawatan ‘ingin muda’ nya.

Tidak seperti Kanata yang masih terbangun.

Kanata melirik jam dinding di ruang santai lantai atas yang langsung berpapasan pada balkon yang sedang menjadi tempat Ia berdiri sekarang.

Jam 11.15 malam…

“Ee… yang ulang tahun, belum tidur…” deham Aiko halus.

“Kaa-san…” Kanata menoleh pada perempuan yang memakaikannya selimut.
“Sudah malam, tidurlah… besok pasti ada kencan sama Hime-chan kan??”

Kanata kembali menoleh pada langit malam yang menaburkan salju ke hadapannya.

“Kaa-san…”
“Hum??”
“Apa, Kanata boleh bertanya??”
“Boleh… Tanya apa??”
“Kenapa sih, setiap kali Kanata ulang tahun, selalu saja ada dua lilin kembar yang menghias cake’nya?”

Aiko terdiam.

“Sedang Ryuu tidak. Ryuu selalu memiliki lilin sesuai jumlah usianya,”
“Kanata….” Aiko menggenggam kedua tangan si sulung yang sudah mendingin, “sebenarnya… Mama nggak mau lagi membuka cerita hari itu…”

“Cerita apa, Kaa-san??”
“Cerita sebelum kamu lahir…”

Kanagawa, Musim Semi…

Selayaknya pasangan yang baru menikah, Hanami bersama pasti menyenangkan.
Namun apa jadinya kalau punya suami kayak Kengo…

“Besok aku tugas di Niigata,” ujar Kengo sambil rebahan diatas paha sang istri ; Aiko.
“Pagi??” tanya Aiko sambil menyisir rambut ikal sang suami.

Kengo mengatupkan matanya sekali, “…iya,”

Aiko menghela nafas. Pikirannya penuh dengan pertanyaan “ceritakan” atau “jangan”

Tadi pagi, baru… tadi pagi, Aiko menemukan ‘test pack’-nya menunjukkan tanda positif.
4 Bulan, ujar dokter kandungan saat Aiko memeriksakan dirinya ke Rumah Sakit.

Niatnya ingin menjadi surprise saat Kengo pulang kerja nanti. Namun, hal itu diurungkannya saat datang-datang, sang Suami malah ngadu mau ditugaskan ke Niigata.

“…..ko-chan?? Aiko-chan??” panggilan Kengo membuyarkan pemikiran mumetnya.
“Hh?? Ya??”
“Kok melamun sih??”
“Ha?? Tidak, kok. Tidak ada apa-apa,”
“Ayo ceritakan,” rajuk Kengo.
“Sungguh bukan apa-apa,” senyumnya menutupi ke kalutan dirinya, “besok, Ken-Ken harus berangkat, kan?? Tidurlah,”

Kengo pun mengalah dengan bangun dari pangkuan sang istri, daann…
“Ayo, tidur bersama,” Kengo memikul Aiko di bahunya.
“Kyaaa!! Ken-Ken!! Kenapa cara membawanya seperti ini??!!” (>A<)
“Karena, kau lebih mudah jika di bawa seperti orang diculik,” (^_^)

——————————————————————–

Hari-hari Aiko lalui seperti biasa setelah sang suami berangkat ke Niigata.

Sebagai Istri yang setia menunggu di rumah, sebagai guru taman kanak-kanak yang kreatif, dan calon ibu yang khawatir.

“Hari ini, kita akan pindah ke lantai dua,” ujar Mana-sensei — Senior Aiko.
“Wah, sepertinya menyenangkan ya??”
“Ai-sensei, tolong bantu mereka membawa mainannya ya,” pinta Mana-sensei.
“Un! Baiklah, semuanya, ayo kita pindahkan mainan-mainannya ke lantai dua,”

Mau tak mau, Aiko harus menaik-turun tangga dengan membawa beban — walau terbilang ringan.

“Aku dulu yang akan sampai di atas!!”
“Tidak! Aku yang duluan!

Mendengar ocehan dan teriakan seperti ini, Aiko sudah terbiasa.

“Jangan berlari-larian ya,”

Belum ada lima menit Aiko berkata seperti itu, Keiko — salah satu muridnya terpeleset di tangga.

“Keiko!! Awas!!”

— BRUKKHH!!

————————————————————————-

Kengo merasa resah. Baru dua hari di Niigata, pikirannya terus tertuju pada Aiko di rumah. Seakan-akan, instingnya meminta untuk pulang.

Kenapa aku terus kepikiran Aiko-chan sih??

Padahal, baru saja beberapa jam yang lalu, dirinya menelpon sang Istri, sesaat sebelum Aiko pergi mengajar.

Baru saja ujung jemarinya ingin menyentuh ponsel untuk menelepon sang Istri, salah satu bawahannya menyembul di balik pintu ruang kerjanya.

“Kengo-san diminta pulang ke Yokohama, Istri anda, baru saja masuk Rumah Sakit,”

——————————————————————–

Aiko membuka matanya. Langit-langit putih dan desiran angin musim semi adalah hal pertama yang dirasakannya.

Sejenak kemudian, Aiko langsung gratakan bangun. Seperti menyadari sesuatu. Namun, pertanyaan dalam kepalanya saat ini, urung ditanyakan karena Ia melihat sang suami tidur terduduk disamping dirinya. Erat genggaman Kengo melingkupi telapak tangan kanan Aiko.

Bukannya Kengo ada di Niigata ya? tanyanya dalam hati.

Kengo langsung pulang ke Yokohama hari itu juga, dengan tiket pesawat dadakan yang diberikan atasannya — sebelumnya di ‘hajar’ oleh Kataoka-san karena tidak bilang kalau ada masalah sepenting ini.

Perlahan Aiko melepas kacamata Kengo yang masih terpakai oleh suaminya tersebut.
Namun, Kengo terbangun oleh sentuhan lembut jemari sang Istri.

“Ken-Ken?? Kok ada di sini??” tanya Aiko pada Kengo yang lagi ngumpulin nyawa.

Kengo terdiam untuk sesaat memandangi sang istri.

“Kamu yang kenapa-napa!!??” Kengo jadi panik.
Aiko sempat terhenyak, “memangnya aku kenapa??”
“Kau terjatuh dari tangga,” Kengo menundukkan kepalanya. Lemas yang Ia rasakan karena begitu shocknya.

Sesaat, Aiko langsung teringat.

“Ah, bayinya…..” Aiko memandang Kengo.

Kengo malah mengalihkan pandangannya dari sang istri.
“Kenapa?? Ken-Ken, kenapa??” Aiko yang gantian panik.
“Anak kita… tidak selamat…”

Tak bisa dilukiskan dengan kata-kata perasaan Aiko saat itu.
Air matanya sempat tertahan karena akal sehatnya untuk tidak menangis. Namun, perasaan dalam hatinya kini meluap.

Kengo mendekap Aiko dalam pelukannya, “menangislah…”

Aiko menangis sejadi-jadinya. Ironis sekali Kengo mengetahui kehamilannya saat anak mereka telah tiada.

————————————————————————-

Selanjutnya, Aiko di rawat di rumah sakit untuk beberapa saat.

“Selamat siang, saya Kanako dari departement ginekologi, salam kenal,”seorang dokter cantik memperkenalkan diri.

Aiko terdiam.

“Um.. pertama-tama, saya akan membantu anda untuk melewati ini semua,” senyumnya.
“Mohon bantuannya, dokter*)”

— (* dokter dalam bahasa Japan di panggil ‘Sensei’)

“Bayimu perempuan lho…” jelas Kanako-sensei.
“Wah, pasti cantik…” gumam Aiko.
Kanako-sensei tersenyum, “dia juga berani lho,”
“He? maksud sensei??”
“Ia mengorbankan nyawanya untuk kembarannya,” jelas Kanako-sensei.
“Maksudnya??” emang dasar Aiko LOLA.

Kanako-sensei menggambarkannya diatas kertas, “posisi bayimu itu, ada di depan kembarannya. Jadi, saat terjadi benturan, ialah yang melindungi kembarannya tersebut,” papar Kanako-sensei.

“Jadi… masih ada seorang bayi lagi, dalam rahimku??”
Kanako-sensei mengangguk, “jadi, jangan sia-siakan pengorbanannya ya,”

Dan Kanata itulah kembaran yang terlindungi.

“Sebaiknya, kita namakan anak perempuan kita dengan nama apa ya??” Aiko dan Kengo membuat sebuah ‘monumen’ kecil sebagai makam kakaknya Kanata.

“Kanako…” gumam Aiko.
“Kanako??”
“Ya, Kanako. Aku suka nama itu. Cantik, dan kuat,” Aiko mengadah pada langit musim semi yang hampir usai.
“Ya, Kanako…” Kengo merapatkan kedua tangan sang Istri dengan tangannya, “terima kasih sudah hadir dalam kehidupan kami,”

Aiko ikut menundukkan kepalanya, “maaf, kami tidak terlalu hati-hati untuk menjadi orang tua-mu,”

“Terlahirlah kembali suatu saat nanti…”

——————————————————————————-

Winter’s Cry

Hari kamis ini, kayak biasa si tukang telat — Kengo, bangun siang.

Udah kerjaannya komat-kamit kalo nyadar dirinya telat.

“Aiko-chan??” panggilnya pada sang Istri yang gak membangunkannya pagi ini.
“Ya??” sahut sang istri dari dapur.
“Kenapa nggak membangunkanku??” balas Kengo sambil lari ke dapur.

“Aiko-chan??” Kengo jadi cemas saat raut wajah sang Istri seperti menhana rasa sakit dengan bertumpu pada meja makan.

“Kau tidak apa2??!!” Kengo langsung menghampiri sang Istri.
“Tidak apa-apa, hanya….”

—- BRUKKHH~

————————————————————————-

Takigawa Kanata, lahir di Kamis pagi yang cerah.

Sinar matahari langsung mengantar senyum mungilnya ke langit.
Mata sipitnya yang masih tertutup — belum berani menentang sang surya, dan jemarinya yang mungil… semua itu tidak dapat Aiko percayai kalau kini dirinya seorang Ibu.

“Ih, Ken-Ken udah jadi Ayah~” goda Aiko.
Kengo tersenyum, “Terima kasih sudah membuatku menjadi Ayah…” Kengo mengecup dahi sang Istri, “Aiko-chan sudah berjuang… terima kasih…”

Aiko tak henti-hentinya memandangi pipi tembem anak laki-laki sulungnya tersebut.

Untuk Kanata… Terima kasih sudah lahir… Terima kasih sudah hadir diantara kami…

Untuk Kanako… Terima kasih sudah melindungi kembaran mu ini….

Aku mencintai kalian…

——————————————————————————–

“Aku, punya kembaran, Kaa-san??” tunjuk Kanata pada batang hidungnya sendiri.

Aiko mengangguk pasti, “dia kakakmu. Namanya Kanako. Kalau saja waktu itu Mama lebih berhati-hati, mungkin Ia sekarang sedang merayakan hari kelahirannya denganmu,” Aiko mengusap kepala si sulung.

“Kanata punya Kakak??”

Aiko mengangguk, “iya. Dan dia adalah Kakak yang baik, karena sudah melindungi Ka-chan!” semangatnya.

Ternyata, do’aku terkabul… Aku memiliki Kakak….

“Nah, sudah malam. Ka-chan tidurlah…” Aiko menuntun si sulung.
“Rasanya jadi tidak mau tidur…” gumam Kanata.
Aiko mendelik, “kalau begitu, mau tidur sama Mama??”

“Tidak. terima kasih, Kaa-san. Aku bisa putus dengan Hime nanti kalau aku ketahuan tidur dengan Ibuku sendiri…”
“Hoo… Kalau begitu mama yang akan meniduri Ka-chan~~!!” (>wA<)o

Moshimo mou ichido, anata ni aeru nara

Tatta hitokoto tsutaetai

Arigatou….

===============================================

Dedicated to:

Yaaaayyy~!! Anak Mama udah 19 tahun adjah~ *nari-nari gajeh*
Otanjoubi Omodettou, Ka-chan thayank~ Semoga bahagia selalu, dan pengharapannya dikabulkan.
Amin!!
Sejuta cinta dari Mama untuk Ka-chan selalu.
Jadilah selalu langit biru diatasku…

~19901115~

  • Untuk yang mempunyai orang-orang yang berharga

Persembahkanlah apa yang kalian bisa untuk melindungi mereka. Curahkan cinta, hati, dan perasaan serta waktu untuk orang yang berharga bagi kalian. Karena, mereka orang yang paling berharga dalam hidup kalian…

  • Untuk yang mempunyai hari kelahiran…

Ingatlah, kalian lahir dengan pengorbanan orang terdekat kalian. Terutama Ibu yang telah berjuang keras membuat kalian sampai seperti ini.

Ayo kita sayangi Ibu!! Yeah!!

(Ka-chan: huu~ maunya disayang gue ==”)

Saigo wa

Minna-san wa Boku no taisetsuna hito !! Yeaaahhh~!!

Otanoshimi ni… m(_”_)m

— Dengan seluruh cinta dan perjuangan… —
~Aiko~