“Ai~ ayo kita pergi,” Harumi udah siap buka pintu mobil.

“Iya, iya, aku turun,” Aiko keluar rumah lalu memasuki mobil SUV butut milik Tuti. Sejenak, Aiko mengamati rumah tempat Ia beranjak dewasa. Aiko memandangi sekitar rumahnya sampai ujung jalan. Dan…

“Ohkuchi-sensei??” Ia tahu ini fatamorgana, tapi tetap Ia turuti nuraninya untuk memanggil nama guru itu saat Ia melihat sosok yang berada di ujung persimpangan itu.

Namun, ini bukan fatamorgana… Sosok yang tengah meniti jalan menuju Aiko dengan terengah-engah, adalah Kengo.

Yume janai, magire nai utsu. Hohoende, sora wo miagete…

Aiko berlari menghampiri Kengo. Masih terlihat jelas raut kelelahan di wajahnya.

“Se… Sensei?!” Aiko menopang Kengo.
“Syukurlah aku belum terlambat…” ucap Kengo masih terengah-engah.
“Sensei berlari dari sekolah??” Aiko mengusap kening Kengo.
“Dari kantorku,” Kengo tertawa meringis.
“Kenapa Sensei ke sini??”
“Abe yang memberitahuku tentang keberangkatanmu,”

Aiko tersenyum getir. Bahagia, sekaligus merasa sangat perih, “Sensei tidak membawa mobil??”

Kengo menepuk keningnya sendiri, “aku… ” Ia mengalihkan pandangannya, “……lupa,”

Sejenak Aiko tertawa, lalu ia mendekatkan wajah mereka, “mobil saja sampai lupa…”

Namun rasa perih ini, tidak bisa hilang… “aku harus pergi, sensei,” suaranya parau terisak, “mungkin, tidak akan kembali lagi ke sini,”

“Kamu pasti akan kembali ke Kanagawa. Pasti,” Kengo mengusap airmata yang mengalir di pipi Aiko, “tapi sebelum itu, berjuanglah. Selesaikan dulu sekolahmu di Tokyo. Selama apapun akan kutunggu,”

“Sensei tidak melarangku pergi??” Aiko menatap kedua mata laki-laki itu tidak mengerti.

“Itu tandanya tidak cinta,” lagi, Kengo mengacak-acak rambut sedada gadis ini, “setelah itu, aku pasti menjemputmu. Sekarang, pergilah…”

“Terima kasih, sensei,” dapat Aiko rasakan hembusan nafas Kengo. Hangat dan menyentuh sekujur kulit di pipinya.

“Yak! Maaf sekali kami harus pergi,” Tuti pun menarik lengan Aiko dan mendorong wajah Kengo sampai mendangak.
“Oho… Oji-sama…” ledek Kengo.

“Yup! Jangan dekati anakku sebelum kalian sah…” Tuti makin mendorong Kengo ke belakang.
“Papa! Itu sakit!” giliran Aiko yang menarik rambut Papanya ke belakang.
“Ku ijinkan kalian, tapi… Setidaknya sampai Ia lulus,” Tuti merenggangkan dorongannya.
“Akan kutunggu…”

——————————————————————————————-

3tahun kemudian…

7月12日,夏花火

Selama tiga tahun ini, tidak banyak yang berubah. Aiko dan Sota yang masih bertengkar seperti biasa, Kengo sering ke Tokyo seminggu sekali, Tuti yang tambah lebay, dan Yuta yang masih suka cari masalah.

Malem ini, Aiko udah sibuk banget ngacak-acak seisi lemari.

“Ai nyari apa??” Harumi nyender di pintu nontonin baju-baju terbang di dalam kamar anak perempuannya.

“Yukata yang tahun kemaren,” jawab Aiko sambil terus ‘ngorek-ngorek’ isi lemarinya.
“Oh, yang itu bukannya kamu taruh di sini?” Harumi membuka laci paling bawah.
“Teheee…” Aiko malah garuk-garuk kepala sambil nyengir kuda.
“Kenapa sih, heboh banget?” tanya Harumi sambil membantu Aiko memakai Yukata biru’nya.
“Sensei akan menjemputku menonton kembang api,” jawab Aiko riang.

“Apaaa??! Kencaannn??!” teriak Tuti yang tiba-tiba nongol di balik pintu.

“Cuma nonton kembang api, papah… Jangan heboh gitu deh…” Aiko udah males ngadepin Tuti.
“Tapi kan selama ini, kalian selalu kencan di depan rumah,” sungut Tuti.
“Sudahlah, pah… Kali ini mama yang jamin Ai nggak bakal diapa-apain selama kencan,” Harumi mengusap-usap punggung Tuti yang udah mulai esmosi.

“Ai-chaann~ ada yang mencarimu nih,” teriak Sota dari lantai bawah.

Tanpa komando lagi, Aiko langsung turun ke lantai bawah.

“Ai…” belum sempat Kengo menyapa Aiko, gadis ini langsung nemplok.

Maklum aja, udah 5 bulan ini mereka tidak bertemu, karena kesibukan Kengo yang sering ke luar kota.

“Aku kangen,” Aiko melingkari pinggang laki-laki 25tahun ini.
Kengo tersenyum, “maafkan aku ya,” Kengo mengusap rambut Aiko hangat.
“Hah! Sensei jahat! Ini rambut ini ku tata susah payah, tau!!” Aiko ngamuk-ngamuk sambil megangin kepalanya.

Kengo cuma bisa ketawa melihat Aiko sibuk merapihkan rambutnya, “ayo, pergi,” Kengo mengulurkan tangannya.

“Eit,” dan disambut oleh sang papah, Tuti.
“Pengganggu lagi,” gerutu Kengo.
“Kalau begitu, takkan kubiarkan kau membawa Ai,”

Muga no Kyouchi melingkupi keduannya.

“Baiklah, apa mau mu, Oji-sama??” Kengo menaikan salah satu alisnya.
“Dilarang 3M!” Tuti menunjukkan ketiga jarinya, “dilarang menempel, mencium, dan menyerang. Mengerti!!??”
“Huh, berat juga… Tapi, baiklah,”
“Satu lagi, jangan pulang lewat dari jam 10!”

——————————————————————————————–

“Ai mau makan gula kapas?” tawar Kengo.
“Ah, tidak. Nanti saja,” senyum gadis ini sambil sibuk melihat-lihat.
“Sibuk banget?” goda Kengo.
“Ah, tidak…” sanggahnya. Ia tidak ingin kegugupannya terbaca.

Ya Tuhan… Sensei cakep banget dengan Hakama itu… Aiko mulai komat-kamit gaje.

“Kenapa sih??” Kengo udah mulai berasa risih dengan ‘puppy eyes’ nya Aiko yang diam-diam memperhatikan dirinya.

“Ung~ Ngaak! Gak apa-apa…”

Lalu mereka berjalan menuju tepi sungai sampai akhirnya Kengo tidak menyadari kalau Aiko tidak lagi bersamanya. Kalang kabut Kengo jadinya mencari Aiko yang badannya chibi di tengah lautan manusia ‘normal’.

“Sensei! Sensei!” Kengo menoleh ke sebelah kirinya. Tampaklah gadis berambut gelung dua itu melambaikan tangannya dengan susah payah.

“Kenapa menghilang tiba-tiba!?” Kengo jadi esmosian.
“Tadi… Aku menemukan penjual taiyaki…” Aiko pasti menundukan kepala kalau merasa bersalah.
“Ayo, aku menemukan tempat yang bagus untuk menonton hanabi,”
“Tapi sensei…” Aiko menunjukkan geta nya yang putus.

Kengo menghela napas, “ya udah,…” Kengo jongkok memberikan isyarat ‘ayo naik ke punggungku’.

“Sensei??” Aiko diem seratus bahasa termasuk bahasa planet yang biasa Ia gunakan untuk berbicara dengan Ayahnya yang lebay.

“Ayo, naik!! Tunggu apa lagi?!” Kengo misuh-misuh nya jadi.
“Tapi…”
“Kau mau ku gendong di depan?!”

Akhirnya, Aiko pun naik ke punggung Kengo. Walau gelagatnya nunjukkin kalo Kengo itu ngerasa berat.

“Sensei, kalo aku berat, aku turun saja. Aku tidak apa-apa kok,”
“Diam sajalah,”

Akhirnya mereka sampai pada sebuah tempat sepi.

“Sensei, sepi banget…” Aiko paling gak suka tempat sepi.

Kengo pun duduk di samping Aiko. Tatapannya mendongak ke angkasa dan diikuti oleh Aiko.

“Ssshh… Lihat,” terlihatlah ratusan warna cerah menghujani langit malam Tokyo, “ini bukit, jadi pemandangan hanabi lebih bagus dari sini,” Kengo rebahan di samping Aiko.

Arigatou itsumo soba ni ittekurette

“Wah, cantiknyaa!!” Aiko setengah mati girangnya melihat kembang-kembang tersebut mekar di langit.

“Aiko-chan…” Aiko langsung nengok waktu Kengo manggil namanya demikian.
“E??” yang ada, Aiko malah bengong di panggil begitu.
Kengo mengembangkan senyumnya, “sudah kuduga, panggilan itu cocok untukmu,”

Cahaya gemerlapan bunga-bunga tersebut menyinari sosok mereka yang saling berpandangan tanpa kata.

“Aiko-chan… Jadilah Ibu dari anak-anakku kelak,” telapak tangannya yang besar, melingkupi jemari Aiko yang kecil.
“Se… Sensei??” debaran saat pertama bertemu Kengo pun terulang kembali.
“Menikahlah denganku…” Kengo meyakinkan gadis 20tahun ini untuk menjadi istrinya.

Aiko tidak menjawab. Sempat bingung karena saking senangnya dilamar oleh orang yang selama ini membuatnya nyaman. Ia mendekap Kengo, dan menyisir rambut ikalnya dengan jemarinya, “Sensei pasti tahu jawabanku…” bisiknya lembut.

Ketika pandangan mereka saling bertemu, genggaman mereka semakin erat.

Aiko menundukkan pandangannya, “aku bersedia hidup bersama Sensei,”

Kengo mendapati wajahnya mendekati wajah Aiko. Dan satu kecupan lembut mencuri ciuman pertama Aiko.

“Maafkan aku yang melanggar larangan ayahmu,” Kengo tersipu. Wajahnya memerah merona bagai mentari waktu senja.
Aiko tertawa manja, “ih, wajah Sensei memerah…”
“Diamlah…”

Aiko mengecup pipi Kengo mesra, “aku yakin Sensei bisa jadi ayah yang baik…”

“Dilarang menyerang!” Larangan Tuti terngiang dalam pikirannya.

“Ah, baiklah… kita pulang saja,” ajak Kengo sambil berdiri, “sebaiknya, kita bicarakan semua ini baik-baik dengan Orangtua kita,” Ia mengulurkan tangannya.

——————————————————————————————–

“Aku… Pamit pulang dulu…” Kengo berpamit pulang setelah mengantarkan calon istrinya sampai pagar rumahnya.
“Tidak masuk ke dalam dulu?” tawar Aiko.
“Ah, tidak. Setelah aku melanggar dua janjiku,” Kengo hendak masuk ke dalam mobilnya, “aku tidak mau mati sebelum menikahimu. Terlebih, mati di tangan Ayahmu,”

“Tapi…” Aiko menghentikan niat laki-laki itu untuk langsung pulang.

Kengo terdiam mencari jawaban dalam bola mata Aiko.

“Tidak ada salahnya kan, sesuatu untuk perpisahan……”

Kengo berjalan mendekati Aiko.

“Oia, kupinta, jangan memanggilku ‘sensei’ lagi, ya…?”
“Kenapa??”
“Kan sudah kulamar. Panggilah nama kecilku…”
Aiko langsung memalingkan wajahnya, “tidak bisa…”
“Kenapa?”
“Aku terlalu malu, sensei~!” wajah Aiko udah memerah padam.
“Baiklah, aku tidak akan pulang sebelum kau ucapkan nama itu,” Kengo menyandarkan punggungnya di mobilnya.

“Ke… Kengo…” rasanya bilik dan serambi jantung Aiko bersatu dan pecah.

Kengo tertawa puas, “akhirnya…”

Kengo meraih tengkuk Aiko dan lagi, satu ciuman mencuri kecupan Aiko, “aku… Pergi dulu…”
“Kau pikir, kau bisa pergi begitu saja?” Tuti, tiba-tiba muncul.
“Ya, sepertinya aku benar-benar harus pergi,” Kengo mengacak-acak rambut Aiko, dan pergi.

——————————————————————————————-

“Harumi~!! Kau bilang si bodoh itu tidak akan macam-macam dengan anak kita~!” Tuti heboh sendiri di ruang keluarga, sementara yang lain sibuk menonton gelagat anehnya.

“Papamu berisik sekali,” Harumi tertawa kecil pada Aiko yang udah banjir keringet gara-gara disidang sang Papah.

“Mama bilang selama kencan, Aiko takkan disentuh??!”
“Kan taruhanku, selama kencan… Kalau sudah sampai depan rumah??” jawab Harumi enteng.

Sepertinya semenjak pacaran sampai menikah, hanya Harumi-lah yang tahan menghadapi cuap-cuap sang Suami.

“Aagh!! Kesucian anakku!!”
“Papa jangan lebay!” muka Aiko makin merah.
“Seperti kau tidak mencuri ciumanku waktu pertama kali kencan,” ujar Harumi enteng.

Semua terdiam.

——————————————————————————————–

7月23日, 夏

Malam ini, Kengo mengunjungi rumah orangtua Aiko. Dan berniat ingin melamarnya…

“Kau berniat menikahi anakku??” Tuti lagaknya udah kayak yakuza.
Kengo dan Aiko bersimpuh di depan Tuti dan Harumi.

“Ya, setelah Ia lulus kuliah,” jawab Kengo.
“Kalau mama, pasti mengizinkan,” ucap Harumi.
“Tapi…”

Aiko pasrah saja kalau sang Papa menolaknya.

“Selama Ai-chan bahagia bersama Kengo-kun, kenapa tidak??” Harumi meyakinkan sang suami.

Tuti kalah. Kalah dukungan. Dukungan keluarga… *kata-katanya kayak estapet… =_=”*

Tuti menghela nafas, “Tolong bahagiakan anakku baik-baik…” Tuti menepuk-nepuk pundak calon menantunya.

——————————————————————————————-

Tokyo, 8月6日,夏

Hari ini Aiko resmi lulus dari fakultas sastranya. Namun nampaknya, Ia kurang berbahagia hari ini.

“Ai-chan, mengapa cemberut??” Aiko ditemani kedua orangtuanya saat wisuda.
“Kengo tidak di sini,” jawabnya lesu.

Hakama yang ia pamerkan ke seluruh anggota keluarganya semalam, tidak bisa Ia pamerkan kepada calon suaminya hari ini.

“Tapi kan semalam ia sudah bilang, kalau hari ini sedang sibuk…” Harumi menenangkan Aiko yang sebentar lagi bakal ngamuk karena ke’lebay’an Papanya, Tuti.

“Kalian harus saling mengerti…”
Aiko mereda, “Hhh… Iya juga…”
“Ai-chan mau pulang??” tawar Harumi.
“Umm… Tidak, sepertinya Satoshi bilang, Ia akan mengembalikan kaset yang ia pinjam padaku,” senyumnya miris.

“Baiklah, kami pulang dulu,” ujar Harumi menyeret Tuti ke dalam mobil.
“Hati-hati, mah… pah…”

Ini minggu terakhir dalam musim panas, dan bulan Agustus. Selalu saja pada akhir bulan Kengo menjadi sibuk.

Tiba-tiba, ponsel Aiko berdering.

“Ya?” jawab Aiko.
“Selamat ya, atas kelulusannya,” Aiko tahu kalau itu suara Kengo.
“Terima kasih…” walau keselnya setengah mati, tapi senangnya lebih besar saat mendengar suaranya.
“Maaf ya, tidak bisa hadir…”
“Iya, aku mengerti,”
“Mau ganti apa??”
“He??”
“Iya, sebagai gantinya apa?”
“Aku… Ingin bertemu Kengo. Ingin sekali. Tapi, saat waktu senggang mu saja ya,”

Tanpa terasa Aiko menitikkan airmata. Kerinduannya sangat besar terhadap laki-laki tersebut.

“Aiko-chan? Kamu menangis, ya?”
“Ah, tidak. Tidak. Aku tidak menangis,”
“Sayang sekali kalau menangis. Padahal, Aiko-chan cantik sekali dengan Hakama itu,”

Aiko terkejut, “tahu dari mana kalau aku memakai Hakama??”
Kengo tertawa kecil, “karena aku selalu berada di dekatmu…”

Aiko kelimpungan mencari sosok calon suaminya. Pandangannya disebar ke seluruh penjuru arah.

Sampai tampaklah laki-laki itu sedang memperhatikannya dengan bersandar pada tembok gedung barat. Senyumnya yang khas mengembang seiring matanya yang menyipit.

Tanpa aba-aba lagi, Aiko langsung berlari dengan Hakama ‘kebesarannya’ menuju Kengo.

“Kau jahat,” bisiknya sesaat sebelum menutup ponselnya.

Aiko langsung meraih dan memeluk laki-laki itu. Disesapnya aroma tubuhnya.

“Maafkan aku yang terlambat…” bisiknya di telinga gadis yang tengah terisak dalam dekapannya.

“Apa ini?” Aiko menemukan sebuah buket bunga carnation dalam genggaman yang sedari tadi Kengo sembunyikan.

“Untuk istriku,” jawab Kengo.
“Hah?” Aiko tak mengerti.
“Iya, untuk istriku,” Kengo menyerahkan buket itu pada Aiko.
“Tapi Aku kan… Belum menjadi istrimu…”
“Secara tidak sah, sudah…” godanya.

Sesaat Aiko terdiam. Airmatanya menetes…

“Kau bilang hari ini ada pekerjaan!!” Aiko ngamuk-ngamuk buat menutupi tingkah ‘salting’
“Sudah selesai,” senyum Kengo tanpa dosa.
“Iih~!! Hobi banget bikin orang khawatir!!” o(>o<)o
"Habisnya… kau manis kalau sedang marah-marah…" A<)o

Wasurenai ima kono toki wo
Bokutachi no jidai wo
Nani mo nai basho kara hajimatte
Tabidachi no toki wo mukaeta

— This unforgettable moment
And our day and times
Started from a place with nothing
We embraced the beginning of our journey —

====================================================

Aikono note v(^w^)>: Fyuh… fanfic selama perjalanan saya satu minggu full membuahkan sekian banyak kata-kata ya?? Nggak nyangka banget bisa sekalian nulis fanfic di perjalanan. Terima kasih banyak, untuk suamiku, yang selalu menemaniku menampung inspirasi-inspirasi nyeleneh ini…

dedicated to:

Ohkuchi Kengo

dear~ dear~ Ken-chaaann~!! Aku mencintaimuu~!! Walau hanya sebatas fantasi, namun… bagiku kaulah suami terbaikk!! *setidaknya sampai saat ini…(waratte)* Andaikan kita benar-benar bertemu, maka tidak pada sesiapapun lagi kecuali kamu yang kupersembahkan hati ini… *nyumpel hidung pake pilinan tissue*

Para pembaca Taisetsuna Koto

Terlebih para juri-juri tetap *waratte* Terima kaseeehhh telah mengikuti Taisetsuna Koto~!!
I Love You all!! Dan, mohon dukungannya…

Bagi yang semalem komen, yang tadi siang bilang, “kimi no monogatari wa honto ni kakkoii,” yang menunggu saat-saat terbitnya cerita-cerita nyeleneh saya… Minna, ini semua saya persembahkan dengan segala perjuangan!!

Mulai dari ngorbanin waktu tidur, sampai berjuang melawan nyamuk. *PLAAAKK~!!*
Dan saya persembahkan dengan seluruh cinta saya *halah, lebay ==” *

Mohon dikomen… Mohoonnn bangeettt~!! m(_”_)m

Onegaishimasu yo~ m_”_m

Thanks to:

Terima Kasih atas pinjeman perannya~ Hehe…
Bayar royaltinya, ntar aja ya… Kalo fanfic-fanfic saya udah laku…

*ngibrit*

Dan Juga kaliaaannn~!! Aigatou Sagemoshita!! m_”_m

~OWARU~