Akhirrrnyaa~ Keluar juga ini penpic!! Yay!! Jaa, minna-san. Douzo~!!

Judul: Atashi Tachi no Story
Disclaimer: Entahlah, masing2 agent mereka. Kecualii saiia yg bebas… gak pake agent. Haha…
Genre: Aman! Bukan Yaoi! Humor, boleh deh…
Current music: PulTab to Kan – Wonderful Days

Pagi hari di rumah keluarga Takigawa-san, seperti biasa…

“Ka-chaan~! Ayo bangun~” ini adalah Hime-cchi yang sedang sibuk membangunkan pacarnya–Kanata–putra sulung. Sama dengan pagi-pagi yang lalu.

“Kenapa berisik sekali sih?”–Ryutarou, 14tahun.
“Ryu-chan seperti tidak tahu Kakak mu saja,” ujar Okaa-san, —Aiko, 36tahun, sembari meletakkan omelette kesukaan putra bungsunya di atas meja makan.
“Dengan begitu, lebih baik, kita tak perlu lagi mencari sarapan tambahan,” Kengo, 41tahun.

GRADAG! GRUDUG! BRAKK!

Aiko dan Kengo saling bertatap heran. Sedang Ryu-chan masih dengan tenang memakan omelette nya tanpa peduli suara berisik itu.

Dengan terburu-buru, dilihatnya arah suara berasal.

Saat pintu dapur yang langsung berhadapan dengan tangga ke lantai atas dibuka…

“Ka-chaann~!” dilihat oleh mereka berdua, anak sulungnya ini sedang nungging dengan manisnya dan masih…

“Ka-chan, bangun!!”

… tertidur.

Hime-cchi daijoubu ka?” teriak sang mama pada calon menantunya yang masih shock.

Atashi wa daijoubu desu,” teriaknya dari lantai atas.

Sementara sang mamah sibuk membangunkan Kanata, sang papah hanya bisa menghela napas dan ‘ndelesor’ lagi ke ruang makan.

…………………………….

Tibalah bagi mereka untuk pergi menjalankan aktivitas sehari-hari mereka.

“Okaa-chaan~ Hime berangkat dulu!” ujarnya riang menuju mobil yang di dalamnya sudah terbaring Kanata yg sedang asik melanjutkan tidurnya.
“Hati-hati ya~”

Tibalah saat2 berdua sang mama dengan sang papah.

“Ken-chan,” ujar sang mama meraih dasi suaminya.
“Jangan panggil aku Ken-chan,” si papa, pasti cemberut saat istrinya memanggil nama kecilnya.
“Nanti pulang cepat ya,” ujarnya sambil merapihkan dasi sang suami.
“E? Naze?”

Aiko cemberut, “hari ini kan ulang tahun Ryu-chan!”
“Aku tidak bisa,” desah Kengo.
“Kenapa?”
“Hari ini penutupan pembukuan, ma. Aku harus lembur,” Ia memakai jas yang diberikan Istrinya.

“Setidaknya, kau datang di hari ulang tahunnya. Buatlah Ryu-chan bahagia di hari ultahnya,” sang Istri tetap keukeuh.
“Aku tidak bisa, ma. Lagi pula, Ryou sudah besar. Ia tak perlu lagi di perlakukan sperti anak kecil,” sang Suami, keukeuh juga.

“Urus saja pekerjaanmu,” walau mendesah, perkataannya sangat tajam.
“Ini juga demi keluarga, Ma,”

Dan… Terjadilah pertengkaran diantara mereka.

…………………….

Siang harinya, datanglah perasaan itu. Perasaan sangat menyesal pada Aiko.

Aduuh~ iya juga kan, dia bekerja mati-matian demi keluarga? Ah, mengapa aku sangat egois..??” kalo Aiko sedang bingung, biasanya ia mondar-mandir dalam rumahnya sambil memeluk Daigoro–boneka beruang–kesayangan Kanata. Terlebih gumamannya yang terdengar seperti orang gila.

Tiba-tiba, datanglah seseorang…

“Aiko-chaan~ aku da….”

GABBRUKK~!!

“Jujuun~!!” Aiko langsung menggabruk pada adik iparnya itu.
“….. tang~” MatsuJun sesak karena harus dipeluk Aiko plus Daigoro yang besarnya setengah bagian dirinya.

“Jujun~ tolong akuu~~~~~~!!” Matsun pasti tau. Kalau begini jadinya, tandanya kakak iparnya sedang menghadapi masalah dengan tulisan lain ‘uring-uringan’.

“Naze, Aiko-chan?” tanyanya masih dengan suara tercekat karena masih harus menghadapi Daigoro yang tersenyum manis dihadapannya.
“Bukan Aiko-chan!”

PLAKK!!

Sebuah tamparan manis mendarat di pipi Matsun, “Tapi Ai-nee! Cuma Ken-ken yang boleh memanggilku Aiko-chan!” saat sedang bingung pun, Aiko masih sempat mengoreksi adik ipar yang tiga tahun lebih tua darinya itu.

“Baiklah… Ai-nee… Tapi…” Matsun udah kayak orang sekarat.
“Ya, kenapa?” Aiko masih belum sadar kalo beruang kesayangan Kanata itu menyebabkan Matsun kekurangan napas.
“Tolong singkirkan Daigoro dari hadapanku…”

Aiko masih belum sadar. Secara gitu, dia telmi…

“Aku…. Tidak bisa… Napass!” Matsun mengerahkan seluruh napasnya.
“Oh, Daigoro ya?” Aiko baru sadar dan melepaskan Daigoro.

Matsun menarik napas lega.
“Nah, ceritakan Nee-chan…” pinta Matsun dengan tangan terbuka dengan kata lain ingin memeluk.

“Jangan mesum!” dilemparlah Daigoro ke arah Matsun dan menyebabkan Ia terjungkal.

“Aku baru saja bertengkar dengan Ken-ken pagi ini,” keluhnya.

“Lalu?”

“Dan aku sangat menyesaal~”

BAGH! BUGH! PLAAKK!! KRUWESS~ KRUWES~

Jadilah Matsun sasaran Aiko dalam melampiaskan kekesalannya.

—————————

Tanjoubi Omodetto, Ryu-chan,” Ruang makan pun ramai dengan hiasan lilin di atas meja makan. Si bungsu tengah merayakan hari jadinya yang ke-15. Dan sekaligus persiapan Ryu menuju SMA impiannya–Rikkai–sekolah yang sama dengan sang Bunda semasanya. Walau tanpa Kengo, Aiko berusaha untuk tidak menunda kebahagiaan sang anak. Berkumpul mengitari meja makan adalah tradisi keluarga yang tidak boleh dipatahkan saat berulang tahun.
Walau hanya dikelilingi Matsun–paman, Kanata, dan pacarnya–Hime, serta dirinya, toh Ryu suda bisa mengembangkan senyumnya yang menampakkan kedua taring kecilnya. Setelah diberi pengertian terlebih dahulu, pastinya.

“Jaa… Ryuu-chan.. Semoga………”

Tadaimaa~” sebelum Aiko berceramah seperti biasa, terdengar suara sang papah yang membuka pintu.

Semua anggota keluarga diam menatap pintu dapur. Sesaat kemudian, nampaklah sang kepala keluarga dengan jasnya yang agak lepek–sedikit kuyup. Diluar hujan.

“Maaf, papah telat,”

Bukannya Ryu-chan yang sedang berulang tahun yang melompat memeluk Kengo-sama, malah Aiko yang menggabruk ‘papahnya anak-anak’.

“Huwee~ Ken-ken maafkan akuu~”

Wajah Kengo pun memerah karena dipanggil Ken-ken dihadapan anak-anaknya yang menatapnya dengan mata segede-gede ikan buntal–melongo, plus Matsun yang cuma bisa tersipu malu-malu sambil mengulum senyum.

“Ih, Mama lebay,” kali ini Kanata yang menggantikan Ryu berbicara pedas *sebenarnnya, author kesian liat Kanata gak kebagian dialog dari awal. Jatoh udah, masa dialog beyunn??(dilempar sendal sm Kanata)*

“Yee.. Bodo amat!” Aiko menmeletkan lidah–perang pun mulai diantara mereka berdua.
“Dasar gak punya malu!”
“Ye, emang kamu gak pernah kayak gini ama Hime-cchi??” Aiko tetep misuh-misuh sambil memeluk suaminya.

Kengo pun pingsan karena malu.

“Jyaaahh!! Paaahh!! Bangun~~!!!”

————————-

“Pah, Mah, bolehkah aku meminta satu permintaan?” Tanya Ryu-chan polos saat lilin cake ultahnya telah padam ditiup olehnya.
“Apa saja, sayang…” Aiko pun mengusap kepala anak bungsunya itu.

“Aku minta satu…” ujar Ryu-chan.

“Satu?” Kengo–yang suda terbangun oleh tamparan sang istri–mengernyitkan dahinya.
“Satu Nitendo Wii baru?” timpal Kanata sembari mengunyah cake yang telah disisihkan oeh sang mamah.
“Satu Game baru?” Aiko menerka pikiran anaknya.
“Satu… Juta Yen?” terka Matsun yang langsung dilempar cake oleh Kengo.
“Aku minta satu…” Ryu-chan menahan perkataannya, “…. satu… Adik baru…” senyumnya mengembang seiring matanya yang menyipit.

Ruang makan pun menjadi hening.
Aiko dan Kengo pun saling menatap.
“Pah…” Aiko memanggil suaminya yang sudah sweatdrop.

Lalu… Kengo pun…

BRUKKH~

… pingsan… lagi….

-Di Dalem Kamar-

*minna, sumpah, saiia gak niat bikin cerita Hentai. Bener2 kagak Hentai banget!! Gomen, tapi… ginilah jadi’a… (Lagi tobbadd)*

“Aku minta maaf, Ken-ken,” kali ini Kengo membiarkan sang Istri memanggilnya demikian.
“Ya, aku juga… minta maaf,” Ia duduk di tepi tempat tidur mendampingi sanng istri, “Ini, berkat Ryou juga,” desahnya.

Aiko menatap sang suami lembut, “Iya…”
“Dan tidak ada salahnya, kita berika dia hadiah…”
“Iya…”
“‘Hadiah’ yang Ia inginkan…” Kengo melepas kacamatanya.
Aiko melirik Suaminya dengan tatapan heran, “maksud papah…??”
“Gak ada salahnya kan, mah?” Senyum anak autis itu gimana… gitchu~

Aiko cengo. Diem kayak Kambing congek. Lalu…

Ia melempar sang suami dengan sebuah guling, “Papah tidur sendiri aja. Atau gak sama Ka-chan,” Aiko beranjak dari duduknya.

“Mama mau kemana??” Kengo juga gak ngerti.

*Author: Apaagi saiia… =_=a*

“Mama mau tidur sama Ryu-chan. Kan mau kasih dia hadiah,” senyumnya polos.

“Ah, mamah…”

~O-WA-RI~