Niigata, 27日2月…
Sore ini, seperti biasa aku pulang telat. Karena mungkin akan lewat dari jam 5 sore, ku suruh Takayuki pulang duluan. Siapa lagi kalau bukan Junpei-sensei yang ‘menahan’ku untuk tetap di sekolah. Membantunya membereskan arsip, atau mengoreksi kerjaannya.
“Kau kan wakil para murid,” senyumnya tanpa dosa saat kutanyakan mengapa harus aku.
“Ishi-chan~” panggilnya.
“Ishihara,” koreksiku.
“Tolong taruh berkas ini ke ruang arsip,” pintanya sambil menyodorkan map hijau dengan enteng.
“Ruang arsip?” tanyaku.
Junpei-sensei mendelik padaku,”katakan padaku kau tidak tahu ruangan arsip,”
“Aku tahu dimana ruangan arsip, sensei,”
“Lalu?”
“Ruangan arsip kan sangat gelap,” keluhku.
Kulihat Junpei-sensei mendesah, “ini masih jam 16.30, Ishi-chan~”
“Ishihara,” lagi-lagi ku koreksi panggilan dari guru sejarah untuk tahun pertama dan kedua itu.
“Pergilah, kalau tidak, kau tidak akan ku beri imbalan,”
“Memangnya Sensei pernah memberikan imbalan padaku?” sungutku sambil melangkah keluar.
Ah, tidak ada yang lebih menenangkan hati selain sapuan indah cahaya langit sore Niigata yang seperti topaz yang berkilau.
Namun, saat sang angin senja sedang asyik mencumbuku, kulihat Kyousuke-senpai dihadapan mataku. Untunglah Ia sedang tidak memperhatikan sekitarnya termasuk diriku. Entah mengapa, saat itu juga aku berlari dan berusaha kabur darinya.
Derap langkah kakiku, mungkin mengejutkan dirinya. Seketika itu juga, sepasang derap lariku, menjadi double.
“Hazuki, tunggu~!!” Kudengar suaranya.
Tanpa peduli, aku membelokkan diri ke arah taman belakang; dengan artian, kujauhi ruangan arsip.
Kudengar derap langkahnya yang mengikuti diriku. Membuatku semakin memacu tenaga untuk menghindar darinya, walau hatiku ingin sekali bertemu dirinya. Sekejap saja gedung barat lantai dua menjadi ramai oleh derap langkah kami berdua.Kutemukan tangga setelah jauh berlari menuju akhir sudut dari gedung barat. Kuturuni tangga dengan terburu-buru. Dan, tanpa hati-hati plus perlindungan. Aku pun kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh. Sebelum akhirnya kudapati tangan besar Kyou-senpai menahan pinggangku.Aku selamat…
Namun, sesaat kemudian aku sadar kalau itu…
“Kyou-senpai, tolong lepaskan!” tangan sebelah kananku yang sibuk ‘meng-cover’ arsip2 Junpei-sensei, dan tangan kiriku yang kini berusaha melepaskan tubuhku dari genggaman tangan Kyou-senpai.
“Bodoh! Kita berdua bisa jatuh!”
Terjadilah pertengkaran konyol diatas anak-anak tangga ini.
“Senpai lepaska-” belum selesai ku berbicara–memohon, perkataan Kyousuke-senpai pun menjadi kenyataan. Kami berdua jatuh. Tanpa melepaskan tangannya, Kyou-senpai melindungiku. Hujan kertas dari arsip-arsip yang kupegang tadi pun tak terelakkan. Jatuh bagai salju musim semi.
Bisa dibilang mungkin sangat sakit untuk mendarat tepat diatas lantai yang dingin ini bagi Kyousuke-senpai. Selain harus menghadapi sudut-sudut tajam tangga, Ia pun harus melindungi tubuhku ini yang malah mendarat mulus.
“Senpai, kau baik-baik saja??” Aku berlutut.
“Tidak, seperti yang kau lihat,” keluhnya.
“Maafkan aku, senpai…” Aku hanya bisa diam tertunduk dihadapannya.
Hening suasana sejenak. Hari berangkat senja dan bayangan kami berdua menyentuh cakrawala.
“Mengapa akhir-akhir ini, kau lari dariku, Hazuki?” tanyanya dengan nafas yang terengah.
“Aku…” aku terdiam sesaat, “aku tidak berlari darimu kok,” kilahku.
“Jadi yang tadi, bukan berlari dariku?”
Aku tetap terdiam walau udara ini mendorongku untuk berkata-kata padanya.
“Fumiko??” Ia mencari arah penglihatanku.
Aku menghindar tanpa menjawab.
Sesaat Kyou-senpai menghela nafas, “Kau tahu, kalau aku dan Fu…”
“…. sudah putus. Aku tahu itu,” kupotong perkataannya.
“Lalu apa lagi, yang kau risaukan, Hazuki??”
Aku menghindari pertanyaannya dengan memunguti kertas2 tersebut satu per satu.
“Hazuki… Aku mencintaimu…”
Sontak saja aku berhenti. Berlutut terpaku dan berusaha mencerna kejadian ini.Belum selesai kumencerna perkataan yang membuat duniaku terbalik seketika itu juga… Kusadari Fumiko-senpai sudah berdiri tepat di ujung tangga.”Kyo??” bibirnya bergetar menyebut nama laki-laki yang Ia sukai.
Ini, adalah situasi tersulit bagiku. Lebih baik duduk berjam-jam menghadapi ulangan matematika Sanada-sensei dari pada harus ditengah-tengah situasi kaku seperti ini.
“Ada apa ini?” tanyanya tak mengerti. Wajar, karena jika aku berada di posisinya pun demikian. Berdiri melihat orang yang kita suka menyatakan cintanya pada orang lain padahal kalian baru saja putus. seperti… ‘dibuang’ dengan sengaja. Susah bagi Fumiko-senpai untuk mengerti keadanaan ini.
“Fumiko-senpai…” Aku berusaha berdiri dan mendekatinya.
Plakk~!!
Sebuah tamparan membuatku jatuh tersungkur. Melihat hal itu, Kyousuke-senpai pun langsung membentak Fumiko-senpai.
“Apa-apaan kamu, Fumiko?!” aku sudah tahu kalau tempramen Kyousuke-senpai itu lebih parah dari Sanada-sensei jika aku tidak mengerjakan pe-er aljabar darinya.
Kulihat Fumiko-senpai mundur selangkah dari tempat dimana Kyousuke-senpai berdiri tegak.
Tak lama kemudian, tangan kanan Kyousuke-senpai terangkat. Seperti hendak…
Plakk~!!
Satu tamparan mendarat lagi di pipiku. Dua tamparan dalam sehari, membuat pipiku panas dan mungkin memerah. Aku terkena tamparan Kyou-senpai, karena melindungi Fumiko-senpai.
“Hazuki?!”
Aku hanya bisa mengaduh. Kulirik wajah Fumiko-senpai. Entah kata-kata apa yang sanggup menggambarkan situasinya dalam tulisan murahanku ini.
“Kyousuke-senpai!” aku membanting tangannya yang baru saja ia daratkan diatas pipiku ini, “Ini bukan cara seorang laki-laki memperlakukan wanita!”
Sangat sulit bagiku untuk berkata-kata sehingga aku memilih berlari pulang…
Pengecut….
“Pengkhianat!” teriakan Fumiko-senpai menghentikan langkahku.
Aku berdiri diam terpaku. Memang sepantasnya aku diteriaki seperti itu.
“Aku yang mengkhianatimu, Fumiko,” ucap Kyo-senpai.
“Senpai, aku pantas menerima itu,” bibirku tergetar. Aku pun membalikan badan pada mereka, “Tampar aku lagi, Fumi-senpai. Buatlah aku tenang,”
Mengapa cintaku pada Kyo-senpai begitu menyakitkan…
“Hazuki! Ini bukan salahmu,” Kyo-senpai mendiamkan seribu kata yang ingin kuucap, “Fumiko, dengarlah… Aku menyayangimu. Tapi aku tidak bisa menganggapmu lebih dari seorang adik. Dulu maupun nanti, sekarang pun, aku akan tetap menyayangimu,”
“Kau tidak mencintaiku?” lirih suara Fumiko-senpai menyayat hatiku.
“Aku mencintaimu… Sebagai darah dagingku,” Kyo-senpai mendekati Fumiko-senpai, “Aku tidak ingin membohongimu lebih jauh, Fumiko…” jari-jari Kyo-senpai mengusap kepala gadis yang sudah kuanggap kakak kandungku sendiri.
Fumiko-senpai pun mengelak seketika itu juga.
Matanya yang sayu pun memerah. Tetesan kepedihan pun mengalir lembut membasahi pipinya.
“Senpai…”
“Diamlah… Kalian berdua diamlah!” suasana menjadi hening.
Fumiko-senpai melangkah menjauhi kami.
“Fumi…” Kyo-senpai mengejar Fumiko-senpai.
“Berhenti!” Fumiko-senpai yang semula berlari pun tiba-tiba berhenti, “Tinggalkan aku sendiri!” pandangannya, begitu menyakitkan…
Kami berdua terpaku tanpa kata-kata.
“Hazuki…” panggil Kyo-senpai.
“Senpai juga. Sebaiknya… Jauhi diriku,” kutinggalkan Kyo-senpai di koridor yang mulai gelap itu.
伝えきれぬ愛しさは
花になって 街に降って
どこにいても君を”ここ”に感じてる
[cinta yang tidak bisa kuceritakan kepadamu ini, biarlah menjadi bunga saat hujan turun di kota nanti... dimana pun kau berada, aku akan selalu mempercayaimu di sini]
————
Aiko no Jibiki:
Sensei: Guru











