Kiseki Chap 11 ~強く成れる~

blue_star_sky1

Niigata, 22日2月

“Suster, bolehkah aku keluar? Sebentaaarr saja,” pintaku.

“Tidak boleh,” senyumnya lembut, “Ishi-chan kan harus cepat sembuh, karena itu, tidak boleh kelelahan,”

Hhh… ‘Ishihara’!. Pasti karena dokter bodoh itu, kini seisi rumah sakit memanggilku Ishi-chan. Apa bagusnya, sih?

“Hanya sebentar saja, tidak boleh?” aku tetap merajuk.

Ia menggeleng, “Nah, sekarang tidur dulu, setelah Ishi-chan baikan, Ishi-chan boleh berlari-lari sepuasnya,” senyumnya, lalu pergi meninggalkan ku.

Siapa juga yang ingin berlari-lari?

Aku hanya ingin keluar sebentar untuk membeli strap ponsel kembar yang sempat kulihat di toko persimpangan jalan itu.

Akhirnya, aku keluar diam-diam tanpa ijin. Jujur, melepas selang infus memang sangat sakit. Namun ini tidak akan menghalangi niatku.

Sudah lama rasanya aku tidak bercumbu dengan langit senja Niigata. Hangatnya mentari dan desir angin yang selalu menenangkan hatiku.

Akhirnya, langkah ini sampai pada toko yang ku tuju. Syukurlah, strap ponsel itu belum ada yang membeli.

Setelah keluar dari toko, lagi, rasa sakit itu terulang. Aku berusaha tetap tegak dengan bertumpu pada tembok. Namun aku tidak kuat. Aku berusaha mempertahankan kesadaranku dengan tidak jatuh.

Tiba-tiba saja, ada yang menahan pinggangku dan mengangkat tubuhku keatas bahunya.

“Hasukawa-sensei??” aku baru sadar saat kulihat jas putihnya dan kartu pengenalnya.

“Hhh… kalau ingin belanja, ajak-ajak donk,” sungutnya.

“Bagaimana Sensei menemukanku??!” tanyaku panik.

Ia menunjuk hidungnya.

“Aku tidak sebau itu~!!” aku memukul bahunya.

Ia tertawa, “tidak… Aku mencari Ishi-chan dengan perasaanku…” senyumnya jenaka. Seperti biasa…

Aku terdiam.

Lalu ia membawaku kembali masuk ke dalam toko.

“Se… Sensei?? Bukankah kau akan membawaku kembali ke Rumah sakit??”

Ia tersenyum simpul, “kalau mau belanja, jangan setengah-setengah,”

————————-

Akhirnya, Ia membelikanku sebuah kotak mungil beserta bungkus kado.

“Sensei, turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri,”

“Oh, kalau gitu pulanglah sendiri, biar pingsan sekalian ditengah jalan,” sindirnya.

“Tapi Sensei, aku malu sekali~”

“Kalau gitu, pejamkan matamu,”

——–

“Minako, tolong bawa Ishi-chan ke kamarnya,” Hasukawa-sensei menurunkanku diatas kursi roda yang disediakan Suster Minako.

“Oia, Minako… Tolong, cucikan ini,” Hasukawa-sensei memberikan jas putihnya yang tadi dipakai untuk menutupi tubuhku.

Terlihat olehku bercak noda darah yang cukup banyak pada bagian bawahnya.

Noda pendarahanku…

Aku menatap Sensei dengan pandangan tak mengerti. Namun Ia malah tersenyum dan mengusap kepalaku. Dan Ia pergi setelah Suster Minako membawaku ke arah yang berlawanan.

——-

Aku masih merenungi kejadian tadi. Makan malamku pun sampai tidak kusentuh sama sekali. Barang-barang yang tadi kubeli pun belum ku kemas menjadi bingkisan.

Bersalah sekali diriku ini…

“Ishi-chan… bolehkah aku masuk kedalam?” itu suara Hasukawa-sensei.

“Silahkan,”

Hasukawa-sensei pun masuk dan tersenyum padaku.

“Kenapa Sensei belum pulang?” tanyaku saatku sadar ini sudah jam 9 malam.

“Aku ada giliran jaga…” jawabnya sambil menghampiriku, “dan… aku ingin memastikan kalau Ishi-chan sudah memakan makan malamnya,” Ia pun menarik kursi dan duduk di sampingku.

“Sensei… Maafkan aku,” bisikku.
“Untuk apa?” aku bisa melihat ekspresi tidak mengerti dari wajahnya.
“Untuk jas Sensei,” jawabku singkat.

Ia tertawa kecil, “kau sampai tidak makan hanya gara-gara memikirkan hal bodoh itu?”

Aku mengangguk.

“Sudahlah, memang tugasku,” senyumnya.

Keadaan hening sejenak sampai akhirnya Hasukawa-sensei mengambil strap ponsel yang baru ku beli tadi.

“Bagaimana kalau kita membungkusnya bersama?” tawarnya.
“Boleh…” jawabku.
“Tapi, setelah itu, kau makan ya,”

Aku mengangguk pasti. Lalu kita tertawa.

“Hei, sebenarnya, strap ini untuk siapa?” tanya Hasukawa-sensei iseng.

Aku tidak tahu apakah saat itu wajahku memerah atau tidak. Namun, satu yang pasti, jantungku berdebar.

Aku segera memalingkan pandanganku darinya.

“Ah, kau malu ya? Jangan-jangan, ini untuk pacarmu,”

Godaan Hasukawa-sensei makin membuat wajahku panas.

“Sensei, hentikanlah…” akupun jadi tidak konsentrasi untuk membungkus kadonya.

Hasukawa-sensei tertawa, “sini, biarku bungkus,” Ia mengambil kotak yang tengah sibuk ku ‘dandani’, “kau menulis surat balasannya saja,” Ia menyerahkanku secarik kertas dan sebuah pulpen.

Aku pun mulai menulis. Namun, entah mengapa, tiba-tiba saja pulpen yang kupegang terjatuh.

“Ah, Ishi-chan… Mengapa dijatuhkan?” Hasukawa-sensei pun berlutut mengambil pulpen tersebut.

Namun, sekali lagi kumencoba memegang pulpen, pasti selalu terjatuh.

Tidak hanya pulpen, benda lain yang ada disekitarku pun, tak kuat kupegang.

Kenapa ini?

Kulirik Hasukawa-sensei sejenak. Ia pun terkejut. Hawa hening melingkupi suasana ini.

“Aku kenapa, Sensei??” tanyaku.

“Ah, tidak. Ini… hanya salah satu gejala Hemofilia,” Ia paksakan senyumnya, “Ishi-chan jangan khawatir,” Ia mengusap punggung tanganku, “pasti cepat sembuh…”

Aku pun memandang langit malam yang terhampar dijendela kamarku. Ribuan bintang menghiasi malam yang tidak lagi putih ini. Ada satu bintang yang bersinar begitu terang. Bersinar dan berpendar. Seperti hendak memanggilku.

Kunamai bintang itu…. Kiseki….

“Sensei, bolehkah aku minta tolong kirimkan kado ini?”

Hasukawa-sensei mengangguk pasti.

“Terima kasih,”

——-
Niigata, 10日3月

“Maafkan aku, baru bisa mengirim paketnya sekarang,” Hasukawa-sensei membungkuk di depanku.

“Tidak apa-apa Sensei,” jujur, aku tidak enak sekali, “Tapi, terima kasin banyak, Sensei…”

“Apa gunanya kalau telat??” desahnya sambil merenggangkan tangannya.

“Aku mengerti, Sensei itu orang sibuk…”

Ia menoleh padaku “ah, ada kelopak sakura di rambutmu,” Jemarinya yang kaku menyentuh rambutku.

“Sudah mulai musim semi, ya?” aku menatap pohon sakura yang mulai melahirkan kelopak-kelopak mungilnya.

“Kali ini, di Niigata lebih cepat daripada di Tokyo,” ujarnya sambil menerbangkan kembali kelopak sakura yang tadi ada di rambutku.

Senpai… Bagaimana dengan langit musim semi di Tokyo??

——–

Hari ini, Kaede-san datang mengunjungiku. Kebetulan, pagi ini aku sedang tidak ditemani siapa-siapa.

“Satoshi sudah mengetahui hal ini?” tanyanya.

Aku menggeleng pelan sambil mengulum puding yang Ia belikan untukku.

“Mengapa belum?”
“Aku… Tidak ingin menyusahkan Senpai,” ringis ku.
“Lalu, kalau ia tahu kau sakit??”
“Ia tidak akan tahu, Okaa-san…” tawaku lirih, “… umurku sebentar lagi…”

Tiba-tiba saja Ia mencubit pipiku. Tentu saja aku mengaduh kesakitan.

“Bilanglah seperti itu lagi di hadapanku. Maka kau takkan kubiarkan hidup lebih lama,” ekspresinya yang serius itu, membuatku terdiam, “Tidakkah ada sedikit keinginan dalam hatimu untuk bertemu Satoshi sekali lagi?”

Aku mengangguk pelan.

“Kalau begitu, berjuanglah. Teruslah hidup. Kalau perlu sampai ia menikahimu, mempunyai anak, lalu meninggal sebagai seorang nenek. Hiduplah selama yang kau bisa!”

Aku menitikkan air mata, “yang tidak kupunya hanyalah harapan…”

“Kalau begitu, aku yang akan memberikanmu harapan,”

“Okaa-san…”

Kedua tangannya memelukku hangat, “cepatlah sembuh… Aku akan mendo’akan mu…” Ia melepaskan rangkulannya dariku, “sekarang, aku harus pergi…”

“Okaa-san…” aku menghentikan langkahnya, “tolong, jangan beritahu Kyo-senpai. Setidaknya, biarkan Ia tahu sendiri…” pintaku.

Kyosuke-san tersenyum dan pergi.

Tak butuh waktu lama bagiku untuk sendirian. Tak lama kemudian, ponselku berdering

Kyousuke-Senpai
[0806xxxxx]
calling…
accept video call??

Sempat ragu olehku untuk menerima atau menolak panggilannya.

“Ya, senpai?” dan akhirnya kuterima juga.

“Mengapa tidak menerima video call-ku?” tanyanya langsung.

“Aku… baru bangun tidur, dan belum berpakaian…” jawabku berbohong. Padahal, aku hanya ingin menghindari dirinya tahu kalau aku sedang terbaring di Rumah Sakit.

“Baiklah…” Sesaat ia menghela nafas, “Bagaimana keadaanmu?” tanyanya tanpa basa-basi.

“Aku… Aku sehat, baik-baik saja,” ucapku berbohong.

“Benarkah?” Ia berusaha memastikan.

“Iya. Senpai sendiri?” mendengar suaranya saja membuatku tak ingin terdengar lemah.

“Aku baik,” kudengar suaranya yang riang.

“Syukurlah. Oia, bagaimana musim semi di sana?”

“Sedikit terlambat. Sakura’nya belum mekar… Hh.. Kalau sudah mekar, pasti seindah senyummu,” desahnya.

Aku hanya tertawa kecil.

“Aku ingin bertemu dirimu…”

“Aku juga, senpai…”

————————–

Niigata, 15日3月

“Aku kangen Hazuki~ hatiku rasanya sepi tanpamu~” keluh Junpei-sensei.

“Sudahlah, Sensei. Setidaknya aku sudah menunjuk Shinji untuk jadi penggantiku,” ujarku sambil memberikan kertas ulangan padanya.

Junpei-sensei datang kemari, untuk memberikan ulangan padaku. Karena kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan, aku pun tidak bisa hadir di kelasnya. Maka itu, ulangan terjadi di sini.

“Hazuki…” tiba-tiba nada bicaranya menjadi serius, “……. berjuanglah. Ujian kenaikan kelas nanti, kau harus hadir,”

Aku tersenyum, “iya, Sensei,”

“Berjanjilah…”

“Iya, aku berjanji,” aku mengangguk.

Kulihat senyum lepas diwajahnya, “baiklah, aku pergi dulu…”

Dan pintu pun tertutup.

———————-

“Berapa lama lagi Hazuki bisa bertahan?”

“Maaf, Ishihara-sama, saya belum bisa memastikan. Kondisi pendarahannya masih labil,”

“Lakukanlah yang terbaik, Sensei”

“Pasti, tuan. Saya akan menolong Ishi-chan. Namun, itu semua didukung penuh oleh kondisi tubuhnya. Bila tidak mengalami kemajuan… Usia harapannya hanya 15 minggu…”

Masih terngiang dalam kepalaku tentang pembicaraan mereka. Setiap kali mengingatnya, membuatku menangis. Aku hanya tak ingin hidup-mati ku divonis orang. Biarlah aku hidup, walau berumur pendek.

Lenguhan angin menghiburku dengan nyanyian senja. Gambaran jernih senyum Kyo-senpai diatas kanvas langit biru ini membuat tenang hatiku.

人は強く愛すること傷いたから
[Orang bisa kuat karena mencinta...]

Tak lama kemudian, kudengar derap langkah terburu-buru menuju arah kamarku. Sampai akhirnya kudengar pintu kamarku dibuka oleh seseorang.

“Apalagi, Sensei?” tanyaku sambil berbalik badan.

Namun yang kulihat bukanlah Junpei-sensei…

Uso…

Satu Tanggapan

  1. Namun apa daya, semakin saya kubur, semakin bangkit rasa itu, semakin dilupakan, semakin sakit perasaan saya .

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.019 pengikut lainnya.