Kiseki Chap 4 ~そよ風~

lilacs-767818

Niigata, 14日9月

Bel istirahat pun berbunyi. Bergegas aku membawa bekalku menuju taman.

“Wa~h, enaknya yang membawa bekal..” tiba-tiba seseorang berkata demikian saat aku berjalan melewati koridor.

Langkahku pun terhenti dan aku menoleh pada asal suara.
Terlihat olehku, Kyo-senpai yang sedang duduk bersandar pada pohon Oak yang ada di halaman sekolah. Ia melambaikan tangannya padaku, dan menepuk tempat duduk di sisinya.
Aku pun berlari menuju dirinya. Entah mengapa, aku merasa sangat senang. Udara Niigata yang perlahan menjadi dingin menerbangkan guguran dedaunan pohon oak itu.

“Kenapa, senpai?” tanyaku sambil mendekati dirinya.
Ia tersenyum, “duduklah…” sambil menepuk tempat duduk di sisinya.
Aku tak pernah bisa menahan perasaan yang meluap ini.
Ia menyipitkan matanya padaku. Seperti… Memperhatikan sesuatu pada diriku.
“He? Ada apa? Ada yang salah?” tanyaku salah tingkah.
Ia tersenyum, “oh… Ada ulat di rambutmu,”

Mendengar kata ‘ulat’ aku pun langsung panik sendiri. Dan hampir menangis… “tolonglah… Senpai..”

Ia melambaikan tangannya perlahan. Mengisyaratkan aku untuk menundukkan kepalaku. Saat menunduk, keningku menyentuh dadanya. Detak jantungnya pun terdengar olehku…

Tetaplah berdetak sampai aku mati nanti…

Senpai tertawa, “ternyata, hanya dedaunan kering..” namun, tangannya yang menyentuh rambutku, membuatku berdebar.

“Sedang mendengarkan apa, senpai?” tanyaku saat kulihat dirinya sedang mengenakan headset.
“Lagu baru yang semalam ku download…” ujarnya sambil memasangkan salah satu speakernya pada telinga kananku.

草むらに横たわって 流れる雲を眺めると
[Merebahkan diri di atas rumput, dan memperhatikan awan yang berarak]

Ini kan… Lagu yang semalam ku berikan padanya…

静かな心を取り戻すことができた
[Aku bisa mendapatkan kedamaian hatiku lagi...]

“Lagu ini… seperti diriku…” gumamnya. Bayangan langit biru Niigata terpantul pada bola matanya yang cokelat jernih.

一人では生きていけぬこと かみしめてた
[Aku merasa bahwa orang-orang tidak bisa hidup sendirian...]

tak seharusnya kau disini, Hazuki

Aku terbangun seketika itu juga, “Senpai, aku harus pergi. Aku… Ada… Janji,” aku langsung berlari meninggalkannya tanpa peduli Ia memanggil namaku berulang-ulang.

Aku pun berbelok menuju taman kecil tempatku menenangkan diri itu.

“Maafkan aku, Fumiko-senpai,” aku langsung menemui dirinya yang sedang duduk-duduk di taman.
“ah, Ishihara? Tidak, kau tidak terlambat, duduklah,” memang. Image seorang ketua OSIS itu sangat berbeda dengan ku…”

Betapa tidak pantasnya dirimu, Hazuki, menerima kebaikan Fumiko-senpai dan berada di sisi Kyosuke-senpai…

“Ngomong-ngomong, mana bekalmu? Bukankah kita sudah janji untuk makan siang bersama?”

Ah? Bekalku??

Aku baru sadar kalau kutinggalkan kotak makanku itu, tepat di sisi Kyo-senpai. Namun, sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk mengambilnya.

“Ah, itu… Dimakan oleh temanku. Memang dia agak jahil. Tapi… Ya sudahlah,” ucapku berbohong.
Ia mengangguk, “kalau begitu, kita bagi dua bekalku saja ya,”
“Tidak usah, senpai! Tidak perlu!” aku langsung mundur beberapa langkah.
“Kenapa?”
“A… Aku akan… Beli di kantin saja,”
“Kantin sedang penuh loh, sedangkan jam istirahat sebentar lagi, usai loh,”
“Tidak usah, senpai. Lebih baik, aku makan nanti saja,”
“Terimalah,” sepotong sandwich sudah ada dihadapanku.
“Tidak, senpai. Tapi, terima kasih,” aku membungkuk.
“Terimalah, kalau tidak, aku akan marah,”

Akhirnya, ku terima juga pemberiannya.

“Usotsuki,”

Niigata, 15日9月

“Hazuki ada?” kudengar seseorang menanyakanku saat aku tengah tertidur dalam kelas pada jam istirahat.

Secara naluriah aku menengok, dan…

“Oh, Hazuki. Ini, kotak bentou mu yang tertinggal,”
Sudah bisa ditebak itu Kyousuke-senpai…
“Ah, terima kasih, senpai,” aku berusaha menghindar.

Melakukan lebih jauh dari ini, kau keterlaluan, Hazuki…

“Un, Hazuki, apa kau tidak ada kegiatan pulang sekolah nanti?” tanyanya.
“Tidak,”

Aduh bodoh, kenapa kau menjawab ‘tidak’?

“Kebetulan skali, aku… Ingin meminta maaf atas bentou-mu…”

Kubuka kotak bentou ku.
Kulihat seribu satu macam sushi yang ada dalam bentou ku telah raib.
Kulirik Kyo-senpai. Tak mengerti gimana caranya sushi-sushi yang kubeli di toko Kawamura tersebut bisa lenyap.

“Umm.. Kemarin, karena lapar… Kumakan saja..”

Aku ingin tertawa jadinya saat kudengar pernyataan polos darinya plus mimik bersalah dari wajahnya.

“Tidak apa,” ku tahan tawa ku.
“Tidak, um… Aku berniat ingin menebusnya…”
“Ha? Menebus?”
“Aku ingin mentraktirmu…”

Mendengar kata ‘traktir’, sontak saja kutolak, “tidak, terima kasih, senpai,”

“Kawamura-sushi, special seat,” tawarnya.
Aku menggeleng.
“Tambah matcha?”

Aku tetap menggeleng.

“Bagaimana dengan anago?” Ia tersenyum penuh kemenangan, “kau suka anago, kan?”
“Bagaimana senpai tahu kalau aku sangat menyukai anago?” tanyaku heran.
“Sushi yang kemarin ada dalam bentou mu, kebanyakan anago,” senyumnya.
Aku menggeleng, “tetap… Aku tidak mau, senpai…”
“Kenapa?”
“Senpai… Disini.. aku memikirkan perasaan Fumiko-senpai…” kualihkan pandanganku darinya.
“Fumiko?” ulangnya pelan.
Aku mengangguk, “maaf, senpai, tapi terima kasih banyak atas tawarannya,”
“Hanya karena Fumiko?”

Aku mengangguk.

“Apa urusanmu dengan Fumiko?”
“Aku menjaga perasaannya sebagai pacarmu. Aku tidak mau senpai mempertaruhkan hubungan senpai lebih jauh…”
Kulihat Ia mengepalkan tangannya, “Itu bukan urusanmu!” suaranya meninggi.
“Tentu saja itu urusanku! Senpai pikir, aku tidak mempertaruhkan apa-apa disini?!” suaraku tak kalah tinggi.

Perlahan suasana menjadi hening.

“Kupertaruhkan hubunganku dengannya juga! Dan kebaikan Fumiko-senpai selama ini! Dia gadis yang terlalu sempurna untuk Senpai!”
“Apa gunanya berpacaran dengan orang yang tidak disetujui oleh orang tua!?”
“Apa salahnya mempertahankan hubungan dengannya!?”

Ketegangan menurun sesaat…

“Fumiko-senpai mencintaimu, dan senpai mencintainya juga, kan?” suaraku melemah.

Lalu, samar-samar bunyi bel masuk terdengar.

“Kau benar,” Kyo-senpai berbalik badan memunggungiku, “maafkan aku karena telah mengganggumu…”
Langkahnya yang tegap berjalan menuju pintu kelas, “Selamat tinggal…”

Sejak saat itu… Kami tak lagi saling bicara…

Niigata, 24日12月

Nishigawa Kotogakko sudah libur sejak awal Desember lalu. Tandanya, musim dingin sudah memasuki fase liburan.

Sudah beberapa bulan kami tidak saling bertegur-sapa. Entah mungkin tidak ada kesempatan untuk bertemu, atau diriku yang selalu menghindar darinya. Yang terpenting sekarang adalah… hubungan baikku dengan Fumiko-senpai…

Hari ini, adalah sehari sebelum Hari Natal. Sepi rasanya jika tidak mempunyai pasangan…

Takakki
[kaito_spell@****.jp]

Ishihara, kau sedang sibuk? Bila tidak, temani aku membeli cake natal.

Ku iyakan e-mail dari Takayuki tersebut.

Dan akhirnya, pergilah kami menuju pusat kota Niigata.

“Sebenarnya, aku ingin meminta pendapatmu tentang cake,” ungkapnya di tengah perjalanan menuju toko cake.
“Tidak apa, lebih baik berjalan keluar melihat keramaian Natal, daripada berdiam diri saja dirumah…” ku tatap langit putih Niigata, “sekalian, aku ingin membeli beberapa hadiah,”

Tak terasa, kami sudah berada di depan toko cake.

“Mohon dilepas jaketnya, dan silahkan ditaruh disini,” pinta pelayan toko tersebut ramah. Kami pun melepas jaket dan segera memilih cake.
“Kurasa cake dengan krim putih itu lebih terasa natal,” ujarku.
“Tapi, Okaa-san meminta yang manis,”
“Kalau begitu yang cokelat,” kutunjuk cake disebelahnya.
“Okaa-san tidak suka cokelat,”
“Bagaimana jika anda mencoba sample produk kami yang terbaru?” tawar penjaga toko.

Kami saling pandang. Lalu, tanpa menunggu lagi, Takayuki mengambil salah satu sample tersebut.
“Ayo kita cicipi,”

Aku tertawa kecil dan menerima kue yang Ia sodorkan padaku.

Tanpa sadar, Ku itarkan pandanganku ke seluruh ruangan. Tanpa terkecuali pintu keluar/masuk yang menunjukkanku suasana di luar sana.

Dan menunjukkanku sesosok Kyo-senpai. Tertegun aku untuk sesaat.

Sampai akhirnya, ku taruh kembali kue tersebut, dan langsung berlari mengejarnya.
Mataku tak bisa berbohong. Itu adalah Kyo-senpai; Kyousuke Satoshi, lelaki yang memakai jaket hitam dan scarf krem itu adalah seorang murid kelas 3-B di Nishigawa Kotogakuen.
Aku berlari mencari sosoknya diantara kerumunan. Banyak dari mereka yang menyerapahiku karena tak sedikit orang yang kutabrak.

Sosoknya menghilang tepat di tengah kerumunan pohon natal raksasa. Aku terjatuh diatas lembutnya salju Niigata.

Kenapa aku begitu ingin bertemu dengannya?

“Ishihara!” kudengar suara Takayuki memanggilku.

Aku menoleh kebelakang. Kulihat Takayuki yang terengah-engah berlari menujuku sambil membawa jaketku. Aku berlari cukup jauh tanpa jaketku ditengah hujan salju malam natal ini.

“Kau bodoh! Mau sakit!?” Takayuki mengomeliku.

Aku hanya bisa tertunduk. Takayuki buru-buru menyelimutiku dengan jaket.

“Sekarang, kembali ke toko saja ya, akan kupesankan cokelat hangat dan cake yang enak,” Takayuki membantuku untuk berdiri.

Hatiku kosong…

Kami pun duduk berdua di dekat jendela. Dua cangkir cokelat panas dan cake cokelat pun menghiasi meja.

“Kau boleh menceritakan perasaanmu padaku,”
Aku terdiam dan malah mengalihkan pandanganku pada lalu lalang orang-orang di luar sana.
Kudengar Takayuki menghela nafas, “baiklah, jika kau tidak mau bercerita…” Ia menyesap cokelatnya.

“Apa yang akan kau rasakan jika kau melihat orang yang begitu ingin kau temui ada di hadapan matamu?” tanyaku tanpa melihat sorot matanya.
“Aku akan memeluknya. Aku takkan melepaskannya…”
“Namun… Jika yang kau peluk itu bayangan??”
“Aku akan memohon pada Tuhan agar bayangan itu dijadikan nyata,”

Aku menoleh padanya setelah mendengar perkataannya.

Kulihat Takayuki tersenyum, “memohonlah pada keajaiban Natal…” Ia menarik lengan kananku dan tangannya yang lain merogoh sesuatu dari dalam kantung jaketnya.
Dikeluarkannyalah sebuah gelang perak bertahtakan hiasan kepingan salju dan sebuah bintang kejora pada bagian tengahnya.
Rantai perak mengikat mereka menjadi sebuah gelang yang… sangat indah.

Lalu, Ia pakaikan gelang tersebut pada pergelangan tangan kananku, “memohonlah…”

Dengan ditemani Takayuki, aku berdoa di depan pohon Natal tadi. Lonceng Natal bergema. Terus bergema seiring larutnya malam.

Tuhan… Jangan bunuh perasaan ini…

Kami pun pulang berdua diiringi simfoni salju.
Dalam perjalanan pulang, kami melewati sebuah kuil kecil.

“Hei, ada kuil di sana. Mau berdo’a?” tawar Takayuki yang langsung ku iyakan.
“Selamat datang di kuil ini,” seorang pendeta mendekati kami berdua saat sedang berdo’a, “Jika kalian mau, kalian boleh menulis harapan kalian di papan kayu ini,”

Pendeta tersebut menyodorkan papan kayu berbentuk segi lima dan berlubang pada bagian atasnya. Agar pita merah bisa diikat pada papan tersebut dan kita bisa mengikat papan tersebut pada pohon di depan kuil ini.

Tuhan… Kabulkanlah segala harapan Kyo-senpai… Balaslah kebaikan Fumiko senpai… Aku rela menanggung semua kesialan.. Asal mereka bahagia. Amin…

Musim Semi, Niigata, 23日2月

“Se… Senpai?” ku kucek-kucek mataku, sampai… “Fumiko-senpai?!” … aku tersadar kalau tengah tertidur diatas meja perpustakaan dengan laptop yang berisi sastra murahanku. Layarnya masih menampangkan ribuan huruf yang saling berciuman mesra hingga merangkai sebuah cerita singkat kita bertiga.

“Senpai, jangan~”

BRAKK~!

Kututup secara kasar laptop yang kupinjam dari Junpei-sensei.

“Tapi bagus, loh,” bela Fumiko-senpai.
“Ini, hanya draft, senpai,” kilahku.
“Hoo… Begitu. Bolehkah aku membacanya saat selesai nanti?” tanyanya lembut.
Aku pun mengangguk pelan.

Senyum tipis mengembang di wajahnya.

Suasana hening sejenak. Sampai akhirnya Fumiko-senpai yang memulai pembicaraan.
“Hei, sebentar lagi, kan musim panas. Bagaimana kalau kita pergi ke pantai?” ujarnya riang.
“Pantai?” mendengarnya saja, sudah membuat hatiku ingin menari diatas ombak.
“Iya. Selain itu, aku ingin refreshing,” desahnya.
Aku tertawa kecil, “ulangan hariannya, susah ya?”
Fumiko-senpai tiba-tiba bergumam, “ah, pasti menyenangkan jika mempunyai adik sepertimu,”
“He? Aku?”
Fumiko-senpai menoleh padaku sambil tersenyum.

Senpai, jangan tunjukan senyum itu …

Aku menarik nafas. Menyesap angin sore hingga ke dalam paru-paru.
Ia menghela nafas, “Aku ingin menenangkan diri setelah putus dengan Kyo,” pandangan matanya menjadi sayu.
“Putus?”
“Ya,” Ia paksakan senyumnya, “Kyo bilang, Ia ingin berkonsentrasi dengan ujian akhir,”
“Aku yakin Senpai akan mendapatkan pacar yang lebih baik…” aku berusaha menghiburnya.
Ia tersenyum lepas, “yang lebih tampan, mungkin. Tapi, menurutku, Kyo-lah yang terbaik…”

Lindungilah hatinya, Tuhan…

———————-

Aiko no Jibiki:

Anago: salah satu jenis sushi yang memakai daging belut.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.019 pengikut lainnya.