Kiseki Chap10 ~白い空~

whitesky

Niigata, 13日12月

Inilah saat-saat yang paling kutunggu-tunggu; kepulangan Kyo-senpai.

Kyousuke-Senpai
[kyo-shi@***.jp]
03.09 p.m.

Hazuki, sepertinya, natal tahun ini, akan kuhabiskan berdua denganmu…

Senangnya diriku saat kuterima e-mail tersebut.

Hazuki-chan
[hazu-q@***.jp]
03.13 p.m.

Benarkah? Kapan Senpai pulang??

Cukup lama bagiku saat menantikan balasan email ku.

Kyousuke-senpai
[kyo-shi@***.jp]
05.56 p.m.

Mungkin hari minggu ini. Sore, mungkin aku akan sampai di Gifu.

Bersabarlah, aku akan bertemu dirimu… Oia, sedang apa? ^^

Niigata, 20日12月

Aku sudah tidak sabar menantikan hari ini. Sudah dari semalam kubuatkan kado natal untuk Kyo-senpai. Sebuah notebook kecil yang cukup tebal untuk menuliskan catatan harian selama beberapa bulan kedepan.

Untuk kejutan, sudah kubeli cake untuk natal yang akan kita rayakan dirumahku. Dan… Aku juga akan menjemputnya di stasiun Gifu sore ini.

Shinjuku, 04.40 a.m.

Masih ada 20 menit lagi bagiku untuk menunggu. Sambil duduk terdiam, aku membaca buku sambil memutar sebuah lagu dalam kepalaku.

時 にわ 傷つけあっても, あなたを感じていたい
[Bahkan saat aku tersakiti olehmu sekalipun, aku ingin tetap merasakanmu]

Sudah 30menit…

Kulirik jam di atas dinding stasiun. Buku yang kubaca pun hampir menemui ajalnya pada halaman terakhir.

Tapi, manakah Kyo-senpai?

“Kereta dari Shinjuku, akan segera merapat…”

Aku langsung bangkit, dan menanti di sektor kedatangan dari Shinjuku.

Berdebar rasanya hati ini saat kereta itu berhenti tepat di hadapanku. Banyak penumpang yang turun, namun… tidak terlalu banyak juga sih… Setidaknya, cukup mudah mencari Kyo-senpai dalam kerumunan ini…

Semuanya berlalu. Hingga tak tersisa satu pun penumpang dalam kereta. Namun, pandanganku belum mendapati sosoknya. Sama sekali. Dan… warna angin pun berubah.

Aku ambil ponselku dari dalam tas, dan memanggil ponselnya…

幸せ時の中言葉を失った
[ditengah-tengah kebahagiaan, kita kehilangan kata-kata...]

“Hazuki?” akhirnya kudengar suaranya dari seberang.

“Senpai… A…”

“Hazuki, maafkan aku. Maafkan aku, sepertinya Natal kali ini, aku tidak bisa pulang. Entah mengapa, aku banyak tugas tambahan. Maafkan aku. Tapi, kita bisa kan, bertemu dilain waktu??” belum sempat kuselesaikan perkataanku, Kyo-senpai sudah menyelesaikannya dengan kata-katanya.

Aku hanya bisa mendesah, “Iya, tidak apa,” aku berusaha terdengar ceria.

“Maafkan aku,” lagi, Ia ucapkan itu.

“Tidak apa. Ada hal yang lebih penting daripada pulang menemuiku…” Namun hatiku sakit.

“Sebagai gantinya, kau mau apa untuk hadiah Natal?”

Kehadiranmu tak tergantikan oleh apapun, Senpai…

“Tidak, aku tidak ingin apa-apa…” perlahan, pandanganku kabur. Air mata pun menghiasi penglihatanku.

“Ayolah… jangan buat aku menyesal…” pintanya.

“Aku…” suaraku sempat terhenti saat memandang langit putih tanpa salju. Begitu pucat dan rapuh, “… aku menginginkan kebahagiaanmu, Senpai…”

“Permintaan macam apa itu?” tawanya.

“Tolonglah senpai… kabulkan…” aku pun ikut tertawa. Lepas. Biarkanlah seperti ini…

“Baiklah…”

Niigata, 6日2月

Sudah memasuki bulan Februari. Sebentar lagi hari valentine. Hari yang wajar bagi setiap anak perempuan menyatakan rasa sukanya pada orang yang Ia sukai dengan cokelat.

Tak terkecuali para siswi Nishigawa Gakuen…

“Ishihara, kau mau ikut acara kami nanti, membuat cokelat untuk Valentine?” ini temanku, Arisa. Makino Arisa.

“Sepertinya tidak,” senyumku sambil menenteng tasku keluar kelas, “Tapi… terima kasih atas undangannya,”

Aku harus menemui Junpei-sensei. Nilaiku sempat kurang karena demamku selama 4 hari kemarin. Yah, tak heran sepulang dari stasiun suhu tubuhku naik karena aku lupa memakai mantel yang cukup tebal.

Setelah menyusuri lorong gedung utara, aku pun tiba di ruangan guru sejarah itu.

“Sensei, ini aku…” ku berdiri tepat dibelakang Junpei-sensei yang sedang serius mengamati monitor komputernya.

“Hazuki?” Ia menoleh kebelakang, –tepat pada diriku, dengan mulut penuh.

“Hhh.. Sensei… kumohon, telanlah dulu makanan yang ada dimulutmu,” aku sudah terbiasa menghadapi kelakuan aneh bin ajaibnya.

“Kalau begitu, tolong ambilkan segelas air yang ada disana,”

“Ambil saja sendiri…” aku langsung menaruh tasku di atas kursi yang ada dihadapan Junpei-sensei.

“Tolonglah…” pintanya, masih dengan mulut penuh.

Mau tak mau. Aku pun jalan dan mengambil segelas air untuknya. Sambil menunggu air memenuhi gelas, aku menyapa senja yang ada dihadapanku menalui kaca jendela besar di ruang guru. Lagi, aku jatuh cinta pada saat seperti ini.

“Hoi~! Cepat lah~”

Aku hanya bisa menghela nafas mengahdapi guru yang absurd ini. Aku pun berjalan menuju dirinya sambil membawa segelas air tersebut.

Namun, aku merasakan sesuatu yang ganjil terjadi dari awal aku mencoba berjalan.

Akh~ Perutku sakit sekali…

Aku sudah sering sakit perut. Terutama saat mencicipi masakan buatan Kakakku. Namun ini sangat sakit… Hingga aku tak tahan, dan tak kuat lagi untuk berdiri.

“Hazuki?” Aku sempat menangkap ekspresi cemas Junpei-sensei sebelum akhirnya aku tak sadarkan diri…

—————————————

Saat ku membuka mata, kudengar sayup-sayup orang berbicara di dekatku.

“Ia mengidap penyakit darah; Hemofillia. Ini merupakan penyakit keturunan,”

“Apa masih bisa disembuhkan?”

Aku mengenali suara berat itu; Ishihara Ryuuhei, kakak ku satu-satunya.

“Penyakit Ishi-chan tidak bisa disembuhkan, dan dapat menyebabkan kematian,”

‘Ishihara’, bodoh! Hhh, aku khawatir kalau dokter yang memeriksaku adalah satu tipikal dengan Junpei-sensei, atau lebih parahnya dokter itu adalah Junpei-Sensei sendiri… Hhh…

“…… namun, Ishi-chan adalah salah satu keajaiban dalam dunia medis. Biasanya penderita Hemofilia, terlebih perempuan, akan langsung meninggal dalam usia balita, bahkan saat baru lahir. Namun, dalam kasus ini Hemofilia’nya baru ditemukan saat penderita beranjak dewasa,” jelas si dokter.

“Bagaimana dokter tahu kalau adik saya mengidap penyakit ini??”

“Dalam rahimnya, sedang terjadi pendarahan besar. Dengan kata lain menstruasi. Butuh waktu sangat lama untuk menghentikan pendarahan ini,”

“Tapi dia bisa mati kalau kehabisan banyak darah,”

“Tenang dulu. Saat ini, kami sedang berusaha menghentikan pendarahnya dan terus mensuplai darah untuknya. Itulah satu-satunya cara yang bisa kami lakukan,”

“Apa sebaiknya kita sembunyikan saja dari Hazuki?”

“Sebaiknya, iya. Tapi sayangnya, Ishi-chan sudah mengetahui. Benar kan?” Ia menyibak kain pemisah antara mereka dan aku. Saat itu juga, kulihat sosoknya.

Ternyata… Ia lebih tampan dari Junpei-sensei~

“Doctor Hasukawa, inner desease, in your serve” Ia membungkuk dihadapanku.

Aku tersenyum, “thank you,”

Aku pun memulai kehidupanku di Rumah Sakit Gifu International Hospital.

Niigata, 13日2月

“Hazuki,” aku pun menoleh pada kakakku itu, “ada kiriman paket untukmu, pagi ini,” Ia menunjukkanku sebuah kotak yang cukup besar padaku.

“Dari siapa?” secara naluriah, aku pun bertanya demikian.

Ia mengangkat bahunya dan menyerahkan kotak itu padaku.

Untuk Hazuki yang selalu kurindukan~

Tulisan dalam secarik kertas yang kutemukan dalam kotak. Lalu, saat kubalikkan kertas tersebut…

Kyosuke Satoshi~

Aku hampir menangis saat kulihat ada sepasang boneka beruang kecil yang sedang berpelukan mesra didalam kotak tersebut. Ada sebuah surat terselip di dalamnya…

Untuk Hazuki…
Semoga, kau tersenyum saat kau menerima hadiah Natal yang terlambat ini.
Um… sekalian…. ku kirimkan cokelat valentine.
Maafkan aku karena terlalu cepat. Tapi, kali ini aku dipastikan tidak pulang, karena aku akan terbang ke Hong Kong untuk bekerja.

Semoga… kau selalu berbahagia.

P.S. maafkan aku jika cokelatnya meleleh… :P

Satoshi-

Aku memeriksa kotak tersebut lebih dalam lagi. Benar saja, kutemukan sekotak cokelat mungil.

Ternyata… bukannya aku yang memberikan cokelat pada Kyo-senpai…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.019 pengikut lainnya.