Niigata, 5日3月
Sejak hari itu, aku tak lagi melihat sosok Fumiko-senpai. Berkali-kali kutunggu di ruang klub sastra, namun Ia tak kunjung datang…
“Senpai, dimanakah Fumiko-senpai sekarang?” tanyaku pada salah satu senior klub sastra.
“Oh, Fumiko? Ia sedang tidak enak badan. Jadi, setiap pulang sekolah, Ia langsung pulang,” jawab Miko-senpai.
Pasti karena kejadian itu…
Selama 5hari ini pula, aku menghindari Kyo-senpai. Lagi, aku tidak ingin menyakiti Fumiko-senpai. Ini sudah terlalu jauh…
Pada akhirnya, aku hanya bisa menangis di atas atap sekolah. Hanya semilir angin yang memplester tangisanku dengan do’a sang senja. Semua yang bisa kulakukan hanya memeluk rasa sakit ini.
Sayup-sayup kudengar langkah kaki menuju diriku. Saat kubalikan tubuhku…
“Fumiko-senpai?”
Ia berdiri tepat dihadapanku, “kau pikir, dengan cara ini, aku akan memaafkanmu?”
Lidahku kelu. Entah apa yang harus kukatakan..
“Berikanlah Kyo jawaban. Bukankah kau menyukainya juga?” selangkah demi selangkah, Fumiko-senpai mendekatiku, “jadilah wanita yang lebih baik dariku. Bahagiakanlah Kyo…” peluknya hangat.
Aku terperangah, “Senpai tidak marah padaku?” aku masih belum membalas rangkulannya.
Ia menghela nafas, “sejujurnya, aku cemburu…” keluhnya, “namun, lebih baik kehilangan Kyo daripada kehilangan kamu,” senyumnya lembut.
Tanpa terasa, air mata mulai membanjiri mataku. Lagi. “Terima kasih, senpai.. Sungguh..”
“Gedung selatan, ruang musik. Carilah simfoni itu. Itu adalah hadiah untukmu…” bisik Fumiko-senpai.
Aku langsung bangkit dan mencari sosoknya.
“Ishihara,” perkataannya menghentikan langkahku, “aku minta maaf” ujarnya sambil mengusap pipiku.
Aku pun berlari menuju gedung selatan; sumber kesenian Nishigawa Kotogakko.
“Sejak hari itu, aku sering melihat Kyo termenung…”
“Benarkah?”
“Ya. Padahal, kurang dari sebulan lagi, kita akan menghadapi ujian akhir,”
“Apa Kyo-senpai baik-baik saja?”
“Sepertinya tidak. Akhir-akhir ini, Ia sering membolos. Tiba-tiba saja, banyak guru yang mengeluhkan perbuatannya. Padahal ini hampir ujian akhir,”
“Tidak mungkin…”
“Hazuki, dukunglah Ia. Mungkin, saat ini, hanya kamu yang Ia butuhkan…”
“Tapi senpai…”
“Bahagiakanlah, Ia… Aku takkan memaafkanmu jika kau tidak membahagiakannya…”
“Senpai…”
“Sekarang, pergi…”
Sampailah aku di depan ruang musik. Koridor mulai sepi karena senja sudah menyapa. Belum tanganku menyentuh gagang pintu, terdengarlah lagu familiar. Lagu yang pernah kunyanyikan berdua dengan Kyo-senpai saat kita sedang duduk-duduk berdua di bawah pohon Oak pada hari itu…
Namida ni, kawatteku…
[Air mata pun berubah]
Kubuka pintu ruang musik perlahan. Tampaklah siluetnya yang sedang bermain gitar sembari menantang senja.
Kimi dake wo shinjitte
[Hanya kamu yang kupercayai]
Aku melangkah mendekati sosoknya yang dibalut cahaya matahari.
Kimi dake wo kizutsukete…
[Hanya kamu yang kusakiti...]
“Senpai….” panggilku lirih.
Dentingan gitarnya terhenti, namun simfoni ini masih menghiasi hatiku.
Kawaranai yo, ano hi kimi ga deatta hi kara
[Kau tak pernah berubah dari saat pertama kita bertemu]Namidani kawattemo
[Bahkan berubah menjadi air mata]
“Aku…” kata-kata ini yang ingin sekali kuucapkan dari pertama kami bertemu, “Aku menyukaimu juga, senpai…”
Tak terelakkan. Pelukan Senpai yang hangat dan tangisanku yang pecah dalam angin musim semi.
Kimi dake wo mitsumette
[Hanya kamu yang selalu kuperhatikan]
“Selamanya, Hazuki….”
Kimi dake shika inakute
[Dan hanya dirimu...]











