Sudah seminggu aku tak bertemu dirinya. Lagi pula, sudah tidak ada urusannya lagi denganku.
Kini aku sibuk mengikuti klub sastra dan menjalani pelajaran lainnya dengan teman-temanku.
~Niigata, 7日9月~
Kini, aku tengah dekat dengan Takayuki, teman sekelasku. Satu bulan setelah hari itu.
Aku pikir, sudah saatnya aku mengenal cinta dan pacaran. Disamping itu, Takayuki adalah seorang yang baik…
“Ishihara, kau…. pulang…. bersamaku?” tanya Takayuki setelah ia menemukanku di kantin sekolah bersama yang lain.
Aku tersenyum. Perkataan selalu gugup. Tak jujur secara perasaan, “iya. Tapi, aku harus menaruh arsip ke ruang klub dulu,” jawabku singkat.
“Baiklah, ku tunggu di depan gerbang sekolah,” ujarnya lalu melesat pergi begitu saja. Ada kurva yang menghiasi wajah ini saat sosoknya menghilang di balik koridor.
“Ishihara, katakan padaku kalau kau dan Takayuki itu berpacaran…” Tanya Ayame tiba-tiba dan membuatku tersedak.
“Aku? Dengan Takayuki? Takayuki itu sudah seperti kakakku,” kilahku.
“Tapi kalian…”
“Tidak Aya-chaan~ Ia hanya teman seperjalanan pulang,” ujar-ku menutup-nutupi.
Jam pelajaran usai, dan kami pun segera berhambur keluar kelas. Takayuki sudah memberikan sinyal-nya padaku dengan menunjuk arah gerbang sekolah. Dan aku segera menyelesaikan urusanku.
Aku harus cepat…
Namun, saat berbelok, kudapati ada orang dihadapanku dan aku dipaksa berhenti. Demi menghindari tabrakan, kulimbungkan tubuhku ke arah samping, dan sukses bertekuk lutut karena tubuhku keburu disambut kerasnya lantai.
Ternyata itu Junpei-sensei, guru sejarahku.
Untung saja aku tidak menabraknya. Atau tidak, mungkin detensi, paling tidak 500 penulisan kata maaf.
“Maafkan saya, sensei,” aku membungkuk panik.
Namun Junpei-sensei malah tertawa, “kebetulan sekali, tolong antarkan ini ke perpustakaan,” Ia memberikanku dua buku besar,”Aku lupa mengembalikannya,” senyumnya.
Kulirik arlojiku.
Sudah jam 4 sore.
“Sensei, bukankah perpustakaannya sudah tutup?” tanyaku bingung sambil mengambil buku yang tadi Ia serahkan padaku.
Ia menghela nafas, “baiklah, jangan bilang siapa2,” Ia menunjukanku kunci perpustakaan, “kuizinkan kau memakai perpus. Namun ada tiga hal yang harus kau ketahui,” ia menunjukan tiga jarinya, “satu, jangan memakai perpustakaan, lewat dari jam 6 sore. Dua, kunci kembali perpustakaan-nya. Tiga, cepatlah pulang,” Ia menaruh kunci itu di atas telapak tanganku, lalu meninggalkanku dengan mengacak-acak rambutku.
Aku pun segera berlari menuju perpustakaan yang masih terletak di gedung utara. Kubuka pintu perpustakaan dengan terburu-buru. Dan kucari rak dengan kategori bidang yang sama dengan buku yang ku pegang. Sial, ternyata ada di rak tertinggi. Aku pun harus menaiki sebuah bangku untuk meraih puncaknya. Namun karena terburu-buru, beberapa buku pun jatuh menghujani diriku.
Yah, aku tidak terluka berkat siku yang melindungiku. Walau akhirnya kulit ku tergores dan berdarah.
“Ah, sakit juga ternyata…” keluhku sambil membersihkan lukaku.
“Ada orang di dalam? Mengapa ribut sekali?” tanya seseorang.
“Aku, sensei. Buku2nya jatuh,” jawabku sambil merapikan buku.
“Hazuki, ya? Kau tidak apa-apa?” tanyanya lagi.
“Aku baik-baik saja, sensei,”
Lalu, tidak ku dengar suaranya lagi. Mungkin sensei sudah pergi. Aku pun selesai membereskan buku-buku itu. Namun, saat ku ingin beranjak pergi, terdengar derap langkah dalam perpustakaan.
Setelah kulihat…
“Syukurlah kau belum pulang,”
“Kyo-senpai?”
“Diamlah,” Ia meraih siku ku dan melihat luka yang masih basah meneteskan darah.
“Jangan bohong kalau kau tidak apa-apa,” Kyo-senpai pun menempelkan plester pada lukaku.
“Bagaimana senpai tau, kalau aku disini?”
“Tadi kudengar bunyi buku jatuh,”
Aku terdiam.
“Jadi, itu bukan Junpei-sensei?”
Ia tertawa kecil. Dua lesung pipinya memerah karena udara sore ini cukup panas, “Kau belum bisa membedakan suara orang ya?”
Kami terdiam sejenak. Sampai aku sadar kalau Takayuki sedang menunggu diriku.
“Senpai, a… Aku harus pergi,” Aku bersiap berlari dengan sekuat tenaga dari dirinya.
“Tunggu,” tanpa menggenggam tanganku, Ia menghentikan langkahku.
Inikah??
“Bagaimana kalau kita tukaran alamat e-mail?” Ia menunjukan handphonenya yang berwarna hitam.
Aku melongo, “alamat e-mail?”
Ia mengangguk pasti.
Aku sempat ragu. Tanpa diketahuinya, ada aperdebatan kecil dalam hatiku.
Akhirnya, ku keluarkan handphone pemberian Ayah saat ulang tahunku yang ke 14.
Lalu, kusadari satu hal. Kudekatkan kedua handphone kami. Dan…
“Wah! Handphone kita kembar!” Kyo-senpai mengamati benda yg selalu ku bawa kemana-mana itu.
Aku terdiam.
Sesaat kemudian, Ia mengembalikan handphone ku, “trims, atas alamat e-mail nya,” Lagi, senyumnya yang mengembang bak bunga ‘Wasurenagusa‘ di musim semi.
Aku berlari menuju gerbang barat. Syukurlah… Masih ku temukan Takayuki yang sedang menunggu diriku.
“Maafkan aku!” aku membungkuk.
Takayuki menoleh, “sudahlah, ayo pulang,”
Dalam perjalanan aku menangis diatas punggung Takayuki. Sialnya Ia menyadari itu.
“Ishihara, ada apa?” kami pun berhenti diatas jembatan yang sepi.
Aku hanya bisa menangis. Tampaknya, Ia pun mengerti perasaanku. Dirangkulnya diriku. Berkali-kali Ia usap punggungku untuk menenangkanku.
Senpai….
————————–
Malamnya, aku langsung membenamkan diri dengan langit malam.Aku bingung dengan perasaan ini…
Tiba-tiba saja, handphone kecilku berbunyi.
Ah, ku kira e-mail masuk. Ternyata, panggilan dari Nii-san.
“Ya?” kujawab panggilannya.
“Hazuki, akupulang malam. Jika kau ingin makan, beli saja di luar,“
Nii-san sedang sibuk menyelesaikan kuliahnya. Kebetulan sekali orangtuaku sedang pergi ke Hokkaido mengunjungi kerabat. Tinggalah aku di rumah. Tanpa makanan, dan sedikit uang. Hhh.. Sempurna.
“Ya,” jawabku singkat.
“Oia, jangan lupa untuk mematikan lampu,“
“Nii-san…”
Kami terdiam sejenak.
“Cepatlah pulang…”
panggilan pun terputus seiring berderingnya ponselku.
1 E-mail dari Kyousuke-senpai [kyo-shi@***.jp]
Tanpa pikir panjang, kubuka email itu saat itu juga.
Hei, Is this Hazuki? This is Kyousuke
dengan cepat kujawab: yes, this is Hazuki, hello, senpai
tak lama kemudian ada balasan
Hhh… Lagi bertengkar nih, dengan Okaa-san. Gara-gara Fumiko telpon ke rumah…
Hazuki-chan [hazu-q@***.jp]
Daijoubu, senpai ^^. Na, what are you doing now?
Namun setelah itu, tidak ada balasan darinya. Satu, dua, ah sudah berjam-jam kutunggu balasan darinya.
Bahkan berhari-hari…
Ya… Sejak hari itu, aku tak lagi bertemu dirinya.
Kini, kami sedang sibuk merencanakan liburan musim dingin.Ah, Tuhan, bantu aku melupakannya. Liburan musim dingin pasti berat tanpanya…
Niigata, 13日9月…
“Ishihara, nanti temani aku ke toko buku,”
Hubunganku dengan Takayuki semakin dekat.
“Hazuki-chan, bagaimana kalau besok kita makan siang bersama?”
….. bahkan dengan Fumiko-senpai.
“Baiklah, di taman seperti biasa saja,” jawabku.
“Ya, sekalian membahas kegiatan klub ya,”
Aku hanya bisa melihat Kyousuke-senpai sekilas saja. Sosoknya yang kulihat saat lewat di depan kelasku, atau saat kelas 3-B berolahraga.
Kami belum saling bicara. Sejak hari itu…
————————————–
Sore ini, seperti biasa Akane mengajakku untuk menemaninya membeli beberapa CD rilisan terbaru.
悲しみを悲しむということを教わったのは
[Orang yang menjarakan ku tentang kesepian dan artinya adalah dirimu]
Aku mendengarnya dari kaset yang diputar di toko musik tersebut.
君の方がずっと淋しい思いをしてきたのに
[Kupikir, kau lebih kesepian dari diriku...]
Aku langsung membeli CD yang berisi lagu tersebut. Kupikir, lagu ini sama dengan diriku dan Kyo-senpai. Dan dengan meminjam CD Player dari Ryuu-Nii, aku pun memainkan lagu tersebut sampai semalam suntuk.
「ありがとう いつもそばにいてくれて」
[Terima kasih untuk selalu berada di sisiku...]
Aku pun merekamnya menjadi sebuah lagu, dan mengirimnya melalui e-mail.
“E? Tunggu dulu. Kalau Senpai tahu yang mengirimkan lagu ini adalah aku, bagaimana aku harus bereaksi saat bertemu dirinya nanti??” gumamku.
Aku punya ide…
“Ryuu-Nii…” aku mengetuk pintu kamarnya pelan. Tampaklah laki-laki itu dengan wajah kusut dan kaos T-Shirt oblongnya.
“Ada apa? Mengganggu saja….” ketusnya sambil menguap. Sudah tidur ternyata.
“Bolehkan, aku meminjam ponselmu?” pintaku.
Sesaat Ia terdiam. Memandangku tidak mengerti. Lalu, Ia masuk ke dalam kamar, dan kembali keluar dengan ponselnya, “ini…”
Rupanya nyawanya belum mengumpul. Biasanya, Ia akan menjaga ponselnya super ketat agar tidak dipinjam olehku.
“Kupinjam dulu yaa… terima kasiihh~” godaku sambil bersenandung menuju kamarku yang tepat berada di sebelah kiri kamarnya.
Jadi, rencanaku adalah; mengirim lagu ini melalui e-mail Ryuu-Nii. Jadi dengan begitu, Senpai tidak tahu akan siapa pengirim lagu ini…
Ah… malam ini aku ingin menyelam dalam sakitnya lagu ini…
言葉じゃ足りない きっと追いつけないよ
[Kata-kata tidak akan cukup... Tidak ada jalan untuk meraih dirimu...]言葉じゃ足りないけど、ありがとう。
[Kata-kata tidak akan cukup... Tapi... Terima kasih...]











