Niigata, 18日7月
Hari ini adalah hari ulang tahunku…
Sudah dua hari aku tak bisa menulis. Hal-hal biasa yang bisa kurangkai dengan mudah pun, menjadi sangat sulit untuk sekedar ditulis dalam layar monitorku. Seribu hal yang dapat memabngkitkan semangatku pun sudah kulakukan. Namun, feeling untuk menulis hilang. Hanya karena Kyousuke-senpai…
Aku tidak bisa berkonsentrasi pada seluruh pelajaran di sekolah. Terbukti aku terkena teguran Sanada-sensei saat mengikuti pelajaran Aritmatika-nya. Aku pun tak seperti biasanya menyapa teman-temanku panjang lebar.
‘Hi, apa kabar?’ dan selesai begitu saja…
Hhh…. Senpai jahat….Aku tak percaya, Hubunganku dengan Kyousuke-senpai lebih rentan ketimbang saat dengan Fumiko-senpai…
“Hazuki, ada temanmu,” teriak Okaa-san dari lantai bawah.
“Siapa?” secara naluriah, aku pun menjawab.
“Kyousuke,”
Aku mengehla nafas dan merebahkan diri dihadapan komputerku. Riabuan huruf yang kuuntai dengan susah payah dalam pikiranku, mendadak hilang begitu saja.
“Bilang saja aku sudah tidur,” aku belum mau menemuinya…
“Ayolah turun dan sapalah dia…” pinta Okaa-san.
“Kalau begitu tutup saja teleponnya,”
“Siapa bilang telepon?? Kyousuke sudah ada di ruang tamu~!!”
Aku langsung bangkit.
Uso….
“Pokoknya aku tidak mau~!”
“Hazuki! Hargailah tamu yang datang!”
“Tidak~! Aku tidak mau!” perang murahan pun berhenti setelah Okaa-san tak lagi berbicara.
Aku kesal. Seluruh tulisan yang sudah kurangkai pun ku hapus begitu saja dengan satu kata dari atas keyboard ku; ‘DELETE’
Aku menangis. Sejadi-jadinya… Namun, tiba-tiba saja pintu kamarku diketuk oleh Okaa-san.
Ahh, kekuatan cinta begitu besar, ya??
Tak lama kemudian, Okaa-san mengetuk pintu, “Hazuki… keluarlah sebentar…” ujarnya lembut dari luar kamarku.
Aku hanya terdiam, duduk dan menahan airmataku.
Lalu, kudengar suara pintu kamarku dibuka. Aku hanya bisa mendengar, karena pintu kamar kupunggungi, “Hazuki, ini ada titipan…”
Tak ada jawaban dariku…
“Kutaruh disini ya…” dan pintu pun di tutup.
Aku baru melirik kebelakang setelah angin malam dari jendela yang kubuka menerpa wajahku. Mungkin itu sedikit menenangkan hatiku. Tanpa tersadar, aku pun tertidur karena lelah menangis.
Paginya, aku terbangun. Hari minggu ini, aku malas terbangun dan beranjak dari tempat tidurku.Sebuah kotak mungil berwarna biru berkilauan ada di atas mejaku. Mungkin, semalam Okaa-san yang menaruhnya tadi malam.
Dengan ogah-ogahan, aku pun mengambilnya.
——————————
“Permisi, pak, kereta tujuan Tokyo sudah berangkat?” tanyaku dengan nafas terengah-engah.
Petugas setengah baya itu pun melirik jam dinding yang menggantung diatasnya, “masih 5 menit lagi,” senyumnya ramah.
“Dimana kereta keberangkatan ke Tokyo?”
“Stasiun bagian utara, sektor 2,”
Tanpa berterima kasih akupun melesat menuju sektor yang dimaksud.
Kereta menuju Shibuya, Tokyo akan segera berangkat…
Kupercepat langkahku menuju Kyo-senpai.
Lalu, aku terjatuh seiring suara kereta yang meninggalkan Niigata…
“Kereta menuju Shibuya, Tokyo, telah berangkat. Terima kasih…”
Aku tak mampu untuk berdiri lagi…
Kotak biru yang Okaa-san sebut titipan pun terjatuh dihadapanku.
Maafkan aku, senpai…
Aku berusaha bangkit untuk berjalan. Namun ini terlalu sakit.
Andai Kyousuke-Senpai ada di sini. Sekali ini, saja. Aku ingin meminta maaf…
“Hazuki!”
Aku menolah ke belakang temapat asal suara itu.
“Kyousuke… senpai??”
“Kenapa kamu ada di sini??” kulihat mimiknya yang cemas.
Aku berusaha meraih kotak yang terjatuh tadi, dan bangkit menggabruk Kyousuke-senpai.
“Kau, baik-baik saja, Hazuki??”
Aku tak memperdulikan pertanyaannya, “Senpai, maafkan aku,” aku terisak dalam pelukannya yang sehangat musim semi.
“Untuk apa?” tanyanya heran. Tak mengerti.
“Untuk menjadi egois,” aku mengadah dan menunjukkannya kotak biru tersebut, “Berjuanglah, senpai… Aku akan mendukungmu,” aku tahu air mata ini pedih. Tapi, entah mengapa membahagiakan sekali untukku.
“Hazuki,” jemarinya menyentuh rambutku dan mengusap kepalaku dangan telapak tangannya yang besar, “hanya dengan satu kata saja, aku bisa membatalkan ini semua…”
Aku menggeleng pelan, “tidak, senpai… aku sudah terlalu egois selama ini…” aku menunduk. Air mata ini tidak boleh terlihat olehnya lagi.
“Jaa… Senpai, berjuanglah…” aku paksakan tawa ku. Aku menggenggam pundaknya yang selama ini kuimpikan untuk menjadi sandaranku, “aku pun… akan berjuang…”
Senyum dan pandangan sayu Kyou-senpai meneduhkan hatiku. Perlahan, ia mengambil dan membuka kotak yang sama sekali belum ku ketahui isinya. Dibukanya kotak itu dihadapanku…
Terlihatlah sebuah kalung indah menguntai, dengan serpihan salju sebagai pendulumnya.
“Aku baru membelinya musim dingin kemarin,” gumamnya sambil memperhatikan kalung itu.
Berarti…
“Untukku?” tanyaku.
Ia tertawa kecil dan mencubit pipiku, “untuk siapa lagi??”
Aku sempat mengaduh menahan denyutan sakit pipiku, “Sejak kapan Senpai menyukaiku?” tanyaku malu-malu.
Ia menghela nafas sejenak, lalu memasang pose plus tampang berfikir serius, “mungkin… saat pertama kali kita bertemu,” senyumnya jenaka.
“Bohong,” aku memukul dadanya.
Ia tertawa, “yah, mungkin saat itu aku belum sadar… Aku sadar saat… Betapa besar perhatianmu padaku… Membuatku menyadari bahwa…” kata-katanya terhaenti.
“Kenapa?” tanyaku penasaran.
Ia menggeleng pelan,”tidak. Sisanya, kuceritakan suatu saat nanti…” ujarnya sambil memakaikan kalung perak itu dileherku, “Hmm… Sudah kuduga, itu cocok untukmu…”
Aku terdiam memandanginya, “Hei, Hazuki…” aku mengadah pada wajahnya yang 10 cm lebih tinggi dariku, “Maaf untuk tidak selalu di sampingmu…”
Aku langsung memeluknya hangat, “Setidaknya, aku selalu berada di samping Senpai…”
Kereta menuju Shinjuku, akan segera berangkat dalam waktu 10 menit lagi…
“Hazuki, aku harus pergi…” bisiknya.
Aku terdiam. Aku tidak ahli dalam mengucapkan kata-kata perpisahan.
“Jaa… sesekali juga, mungkin aku akan mengunjungi Niigata…” desahnya, “untuk mengunjungimu…” Ia membawa kopernya pergi menuju pintu kereta yang telah terbuka.
“Senpai,” panggilku setelah Ia berada sekitar 10 meter dihadapanku, “berjuanglah…” aku mengeluarkan jimat yang beberapa hari lalu ku beli saat sedang mengantarkan Ayame sepulang sekolah.
“Jimat??” ulangnya lagi.
Aku hanya bisa mengalihkan pandanganku.
“Terima kasih, aku akan menjaganya…” Ia menggenggam erat jimat tersebut, dan pergi…
永遠に君が幸せでいること
ただ願ってる
たとえそれがどんなに寂しくても
[Aku mengharapkan kebahagiaan selamanya untukmu, walau itu berarti kesepian untukku...]
Niigata, 28日7月
Dua minggu lagi, sudah liburan musim panas. Tak terasa, kemarin sudah tepat sebulan Kyousuke-senpai pergi menuju Tokyo. Banyak hal yang kami lakukan selama berpisah. Saling berkirim e-mail, bahkan video, dan terkadang foto.
Kemarin, Ia baru saja mengirimkan gambar pohon sakura yang baru saja menghujani Tokyo, karena sudah memasukki musim panas.
Banyak dari para murid yang sudah merencanakan liburannya…
Kyousuke-Senpai
[kyo-shi@***.jp]
Tampaknya, akhir musim panas ini, aku akan datang menemuimu… Ah, rindunya aku pada udara Gifu dan senyum dirimu…
Hazuki, adakah tempat yang ingin kau kunjungi musim panas ini?
Aku hanya bisa tersenyum saat membaca e-mailnya pada saat jam istirahat.
Dengan segera ku balas email darinya.
Hazuki-chan
[hazu-q@***.jp]
Ada. Aku ingin sekali ke pantai di Shimane. Kudengar hawanya sangat sejuk sehabis musim panas…
Jika ada waktu, aku ingin mengunjunginya bersama Senpai…
Kuakhiri kata-kata kerinduanku. Tidak hanya email ini saja, angin lembut yang sedang mencumbuku ini pun menerbangkan do’a-do’a ku padanya…












eem… sakura don’t bloom when summer, it’s spring
just saying
Ah, yeah, my mistake… hiks.. that time I was so young (T^T) thank you for noticing that,.