Musim panas ini, aku berencana untuk bekerja sambilan. Aku ingin membeli strap ponsel kembar yang kulihat di toko sepulang sekolah kemarin.
Beberapa hari lalu, aku sudah mendapat kerja di sebuah toko buku.
Niigata, 25日8月
“Hazuki-chan, sudah waktunya istirahat…”
Ini seniorku, Izumi-senpai.
“Baik…”
Akupun memasuki ruang karyawan.
3 E-mail dari Kyousuke
“Eh? 3 e-mail?”
Tanpa ragu kubuka e-mail tersebut.
Kyousuke-senpai
[kyo-shi@***.jp]
10.23 a.m
Hazuki, maafkan aku mendadak. Sekarang aku ada di stasiun. Datanglah, Hazuki. Waktuku tidak banyak…
Kyousuke-senpai
[kyo-shi@***.jp]
11.09 a.m.
Hazuki, sebentar lagi aku harus pergi. Kumohon, Hazuki… Aku hanya ingin bertemu denganmu… Sebentar saja…
Kyousuke-senpai
[kyo-shi@***.jp]
11.27 a.m.
Hazuki, jika kau marah padaku, maafkan aku…
Aku pun langsung keluar dari ruang karyawan.
“Izumi-senpai, bolehkah aku izin keluar??”
Setelah mendapat izin, aku langsung berlari menuju stasiun yang terletak 500 meter dari toko buku.
Tak terpikirkan olehku untuk meminjam sepeda Izumi-senpai yang terparkir di depan toko.
Hanya Kyo-senpai lah yang kupikirkan…
Semoga masih sempat…
Begitu kaki menapak didalam stasiun, aku langsung melihat jadwal keberangkatan kereta.
“Shinjuku – Tokyo – 12.05″
Sedang jam stasiun menunjukkan 12.05
Aku langsung berlari menuju stasiun keberangkatan ke Tokyo.
“Kyo-senpai!” aku meneriakkan namanya saat kulihat dirinya melangkah masuk pada pintu kereta yang terbuka.
Kulihat Kyo-senpai sempat menoleh. Namun, pintu kereta tertutup dan kereta pun meninggalkan Niigata…
Aku tak menyerah…
“Hazuki, kau tau, ada satu kata yang kusuka…”
“Apa itu, senpai?”
“Nana korobi yaoki…”
“Kenapa??”
“Entahlah. Sepertinya Tuhan menciptakan kita sepasang kaki, untuk berlari mengejar mimpi kita. Sepasang tangan ini, untuk meraih dan memeluknya. Seluruh tubuh, IA ciptakan untuk mimpi kita. Maka itu, kita tidak boleh menyerah…”
Ku berlari mengejar dirinya, semampuku…
Senpai, maafkan aku…
Aku pulang dengan wajah kusut.
Kyousuke-Senpai
[kyo-shi@***.jp]
12.16
Terima kasih, sudah menemuiku….
————————
Niigata, 3日9月
Awal sore ini, seperti biasanya. Sendirian, setelah pulang sekolah mengunjungi minimarket untuk membeli keperluan rumah. Lagi, Okaa-san pergi. Kali ini ke Osaka, mengunjungi Sanak saudara. Entah karena pernikahan, atau kelahiran, atau kematian…
Langit Niigata memang tidak ada tandingannya. Terlebih matahari yang tengah mesra mengecup sang garis horizon yang membuat kesan fantastis dalam hatiku.
Sialnya diriku. Karena terlarut dalam senja ini, aku yang tengah membawa banyak belanjaan pun menubruk seseorang tanpa sadar siapakah ia.
“Maafkan saya~!!” teriakku sontak tanpa peduli sekantung buah apel yang baru kubeli berjatuhan menghiasi aspal jalan.
“Kau, tidak apa-apa?” tanyanya cemas.
Lalu, saat kami beradu pandang…
“Kaede-san…” aku menyadari kalau itu adalah Ibu dari Kyo-senpai.
Sejenak Ia memperhatikanku, “Kau pacarnya Satoshi ya?”
———————————–
“Sekali lagi maafkan saya~!” ujarku berulang-ulang.
“Diamlah, dan silahkan dinikmati tehnya,” jawabnya sambil menaruh segelas teh hangat dihadapanku.
Setelah kejadian ‘tubrukan’ kecil tersebut, Kaede-san malah membawaku ke rumahnya yang juga tempat dimana Kyo-senpai tinggal.
“Hhh… Tidak kusangka, ternyata kau ceroboh juga,” desahnya setelah ku teguk teh hangat buatannya.
Aku hanya bisa tertunduk dihadapan wanita yang hanya berbeda 23 tahun dengan anaknya itu. Wajar saja jika penampilannya masih terkesan gadis, dan berkata ceplas-ceplos.
“Serampangan, suka melamun, ……” lanjutnya lagi.
Yah, akhirnya aku hanya bisa pasrah diriku ‘dihabisi’ oleh kata-katanya.
“….. Namun, aku berterima kasih padamu,”
Aku pun mengangkat pandanganku sejurus dengan wajahnya.
“Tanpa kau, mungkin kini Satoshi tidak punya tujuan…” Ia melirikku lembut.
Aku sempat terpana, “maksud Okaa-san? Eh, oba-san, eh.. Kyousuke-san…? Eh…” dan canggung.
Kulihat dirinya tertawa kecil, “terserah kau mau panggil diriku apa saja. Sesukamu lah…”
Beranda kali ini terasa hangat…
“Awalnya, kutawari Ia di Tokyo. Namun menolak karena alasan Fumiko-lah, jauh-lah, dan serentet alasan lain…” matanya menatap langit luas melalui pekarangan rumahnya, “maka itu, saat Ia memperkenalkan kau, aku khawatir ini akan menghambat kuliahnya,”
Aku diam menyimak ceritanya.
“Terima kasih, sudah menyemangatinya…” senyumnya sambil menggenggam tangan kananku.
Hangat…
“Um… Okaa-san, kalau boleh ku tahu, apa ‘imbalan’ dari kuliah di Tokyo?” tanyaku.
Ia tersenyum jenaka, “akan kurestui hubungannya… dengan Hazuki,”
Aku tersipu. Kutundukkan pandangan ini darinya.
Entah apa yang akan kukatakan kalau aku bertemu Senpai lagi…











