
“Baiklah… aku pulang dulu…” pamitnya saat Ia mengantarkanku sampai di depan rumahku.
Aku hanya bisa tersipu, “baiklah, hati-hati di jalan,”
Ia memegang pipiku. Hangat. Seakan musim panas telah datang padaku, “jaga kesehatan ya,”
Kugenggenggam tangan yang memegang pipiku itu, “iya…”
Sesaat kemudian, aku mendapati wajah Senpai mendekati wajahku. Karena malu, aku pun menunduk. Namun pada akhirnya, dibawah naungan gelap langit malam yang berbintang… kuterima juga sentuhan bibir lembutnya di atas bibirku.
Kyo-senpai pun hanya bisa tertawa kecil saat lagi-lagi kupalingkan wajahku karena malu.
“Hei, kau tahu, ini pertama kalinya aku mencium seorang gadis,” ujarnya tanpa melepaskan tangannya dari pipiku, “aku pulang dulu,” pamitnya sambil mencubit pipiku.
Aku hanya bisa mengaduh dan memukul dadanya secara reflek.
Memang dasar Senpai yang hobi bercanda. Ia hanya bisa tertawa, “jaa nee…” Ia melambaikan tangannya kearahku. Tanda perpisahan…
————————
Walau sudah berada dalam kamar, masih tidak bisa kulupakan sensasi ciuman pertamaku itu.
Syukurlah, ciuman pertamaku seperti yang kuharapkan…
Hanya berselang 20 menit untuk mengubah segalanya.
Kuraih ponsel yang kuletakan di atas mejaku.
Kyousuke-senpai
[0806xxxxx]
calling…
Saat kulihat namanya…
Tumben sekali tidak video-call?
“Ya, senpai?” ku terima panggilannya.
“Okaa-san?” tanyaku cemas.
“Hazuki…” panggilnya terisak.
“Ya, Okaa-san,”
“Bisakah kau menemaniku di sini?”
———————-
Aku berlari menyusuri lorong-lorong ramai ini. Banyak orang berlalu-lalang. Karena aku sedang panik, entah berapa orang yang menyumpahiku karena badanya yang kutubruk. Dengan meminta maaf seadanya, aku pun terus mencari ruang UGD.
“Satoshi… Ia kecelakaan… Di jalan menuju Wakayama. Ia, tertabrak oleh sebuah bus yang ugal-ugalan. Cepatlah datang ke sini…. Aku… membutuhkan mu…”
Sambil menangis, kugenggam terus ponselku.
Karena aku ceroboh, tiba-tiba saja ponselku terlepas dari genggamanku dan terjatuh di atas lantai putih ini. Tepat di depan pintu UGD. Dan kutemukan Kaede-san sedang terduduk cemas di depan ruangan tersebut.
“Okaa-san…” aku langsung memungut ponselku dan berlari kearahnya.
“Hazuki…” Ia langsung bangkit menghampiriku. Wajahnya sudah bersimbah air mata.
Belum sempat Ia menceritakan apa yang telah terjadi, seorang dokter keluar dari ruang UGD.
“Sensei, bagaimana keadaan anak saya??” tentulah, siapapun pasti akan bertanya demikian saat kita tidak tahu kondisi orang yang kita sayangi ada di dalam ruangan menyeramkan itu.
Ia menghela nafas untuk sejenak, “penanganan medis, sudah kami lakukan. Untunglah, nyawanya masih selamat,”
Sejenak kami bisa menghela nafas lega.
“Namun, itu semua tergantung pada kondisi tubuh pasien…. Semoga, Kyousuke-kun… bisa bertahan,”
“Apa saya boleh menemuinya?” tanyaku seketika.
Senpai… aku…bermimpi kan?? Semoga saja ini mimpi…
Tanpa menunggu waktu lagi, Kyousuke-senpai dibawa ke ruang ICU. Begitu terkejutnya diriku saat itu benar-benar Kyou-senpai. Wajahnya yang pucat dan selang oksigen yang terhubung dengan hidung serta mulutnya. Benar-benar terlihat lemah.
Tentulah… aku mengikuti naluriku; mengejar dirinya yang di bawa ke ruang ICU.
————————–
“bukalah matamu!” perlahan air mata ini membasahi kedua tangan kami yang saling bertaut, “bukalah matamu… Jangan tinggalkan aku… lagi…” aku menangis putus asa.
“Panggilah namaku,”
Kukecup keningnya, “Satoshi…”
—————————
Aku sudah tidak ingat kapan aku terakhir menulis. Sejak hari itu, aku tidak lagi bisa mencerna apa yang kurasakan dengan kata-kata.
Niigata, 2日4月
“Okaa-san…” aku berlari ke luar ruang ICU.
Dengan cemas, Kaede-san meraih diriku, “ada apa? Apa yang terjadi?”
Namun aku tidak cukup tenang untuk menjawabnya.
Kaede-san pun langsung meninggalkanku dan masuk ke ruang ICU.
————–
“Kami, sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, kita tidak bisa menentang takdir…” ucap Kataoka-sensei, “kami… Turut berduka cita,”
Kyosuke Satoshi, meninggal karena kekurangan banyak darah. Terlebih, saat pemeriksaan akhir, ditemukan pendarahan di dalam otak bagian kirinya.
Tidak bisa ku lukiskan perasaan Kaede-san saat itu.
“Okaa-san…”
“Menjauhlah!” teriaknya histeris, “ini semua karenamu!” tangisannya begitu menyakitkan, “kalau saja hari itu ia tidak pergi keluar…” Kaede-san jatuh terduduk. Beberapa suster turun tangan untuk menenangkannya dengan membawanya beristirahat di ruangan lain.
Sempat aku shock dengan perkataan Kaede-san. Namun, Ia memang benar…
Seharusnya hari itu… Satoshi tidak mengajakku pergi keluar.
Niigata, 8日4月
Orang bilang, pemakaman itu identik dengan hujan.
Aku akan menjawab: benar.
Namun… Saat pemakaman Satoshi, adalah hujan bunga sakura.
Begitu cantik. Begitu menyakitkan.
Ironis sekali, aku memanggil nama kecilnya disaat-saat terakhir hidupnya. Itulah yang membuatku menangis tak peduli kapan.
“Para sanak saudara, dan kerabat, dipersilahkan memberikan penghormatan terakhir…”
Aku mendesah, mengeluh pada langit biru ini,
“Kau itu… laki-laki yang tidak bertanggung jawab ya? Pergi tanpa sempat menikahiku…” bisikku dengan suara tercekat.
Air mata pun menetes.
“今更だけど ありがとうを君へ“
[Walau pun terlambat, namun aku berterima kasih pada dirimu....]
————————-
Niigata, 23日10月
Malam ini, langit begitu cerah. Lengkungan senyum bulan yang semakin menajam, dan tarian gemerlap dari para bintang.
Tak terasa, aku sudah memasuki tahun terakhirku di Nishigawa Gakuen.
Niigata, 12日4月
Aku sempat tak bersekolah selama seminggu setelah kejadian itu. Begitu menyakitkan sehingga semuanya terasa gelap dan tak lagi hidup.
“Aku khawatir dengan keadaannya…” keluh Okaa-san yang tak sengaja kudengar dari dalam kamar.
“Bolehkah saya….?” kudengar suara laki-laki. Tapi, bukan Otoo-san.
Tak berapa lama kemudian, pintu kamarku terbuka, dan aku mendapati sesosok laki-laki yang tak lagi asing bagiku…
“Baiklah, Sensei. Saya tinggal dulu,” Okaa-san pun menutup pintu.
Suasana sempat terhening sejenak. Hawa hangat senja melingkupi kamarku karena sudah memasuki musim panas. Terdiam aku dekat jendela memandang ufuk barat tempat kuberharap akan datangnya dia dari mimpiku.
“Hazuki…” Guru sejarah itu memanggil namaku. Suara langkahnya terdengar mendekati diriku.
Aku terdiam saat Ia duduk di sampingku, “aku tahu rasanya kehilangan…” desir angin menyibakkan bau pantai, “namun, tidak sepantasnya kau menarik diri dari sekitarmu dan membuat orang-orang terdekatmu mengkhawatirkanmu,” kata-katanya terhenti seiring merebaknya asap rokok dalam kamarku.
“Sensei…” panggilku lirih.
“Tidak ada gunanya kau memanggilku…” Ia mematikan rokok yang baru dinyalakannya beberapa saat lalu. Lalu, Ia mengembangkan tangannya, “lebih baik, menangislah. Aku tahu itu sakit…” senyumnya polos.
Aku pun menjadi bingung.
“Yah, menurut orang, kita tidak boleh menangis karena itu berarti dikalahkan oleh perasaan. Namun bagiku… tidak semua airmata itu buruk,” senyumnya semakin lebar.
“Sensei??” aku hanya memandangnya tak mengerti.
“Menangislah…”
Kembali aku terisak. Namun yang kudengar malah tawa renyah Sensei, “setelah menangis, berjanjilah padaku, kau akan masuk sekolah lagi, dan menjalani ujian kenaikan kelas, bagaimana?”
————————-
Awal tahun depan, aku harus sudah mengambil ujian masuk universitas tahap awal. Kuputuskan untuk mengambil jurusan sastra.
Aku pun rutin check-up ke rumah sakit. Penyakit merepotkan ini, memang terasa berat kalau ditanggung sendirian. Namun.. Aku tidak akan menyerah.
“Perkembangan Ishi-chan semakin bagus,” ungkap Hasukawa-sensei setelah sekian kalinya aku menjalani pemeriksaan rutin, “oh ya, kudengar, tahun depan, kau sudah mulai kuliah ya?”
Aku tertawa, “ya, sensei. Tapi, itu masih cukup lama,”
“Kemana kau akan melanjutkan kuliah??”
“Tokyo…”
“Berjuanglah,” tepuknya hangat di atas pundakku.
“Terima kasih, Sensei…”
“Jika kau berhasil…”
“Apa?”
“Akan kuajak kau kencan,”
“Tidak mau, ah…”
Niigata, 23日10月
Malam ini, kembali ku pintal kata-kata itu dalam tulisanku.
“Ah, hampir selesai,” ujarku sambil menghela nafas.
Namun, sesaat kemudian, pintu kamarku diketuk, “Hazuki? Turunlah. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan dirimu,”
Aku pun langsung menuruni tangga tanpa bertanya lagi.
Mungkinkah ini Satoshi? Dan yang kemarin itu hanya mimpi??
“Okaa-san?”
Ternyata yang datang adalah Kaede-san.
“Duduklah di sini,” Ibuku menepuk tempat duduk di antara mereka.
Aku pun duduk dengan diapit kedua wanita yang kupanggil ‘Ibu’ ini.
“Sebelumnya, aku minta maaf atas ucapanku tempo lalu. Mungkin itu kelewat kasar. Namun… Mengertilah… Betapa kalutnya perasaanku saat itu,”
Kugenggam tangannya, “iya, Okaa-san. Aku mengerti,”
“Selain itu…” Kaede-san menunjukkan notebook yang kukirim Februari lalu dan ponsel milik Satoshi, “kuharap… Kau mau menyimpannya,” Kaede-san menyerahkannya padaku.
“Tapi, Okaa-san…”
“Terimalah… Ini.. Sudah ‘diwariskan’ untukmu…”
Aku… Tidak akan menyerah, Satoshi. Sampai aku menemui dirimu, aku akan terus berjuang…
———–
Niigata, 20日6月
Tak terasa aku sudah lulus. Padahal, aku masih merasakan saat-saat pertama kali aku bertemu Satoshi. Saat Ia memarahiku, saat berbincang bersama, bertengkar, dilema dengan Fumiko-senpai…
Banyak kenangan yang tidak bisa kuhapus walau banyak hal disekitarku yang telah berubah. Guguran bunga sakura membasahi diriku. Sambil menghabiskan sisa hariku di Niigata, aku pun menyelesaikan tulisan ini.
Lusa, aku harus berangkat ke Tokyo memulai kehidupanku sebagai mahasiswi. Aku diterima dalam ujian test masuk universitas di Tokyo Daigakuen, jurusan sastra asing. Fakultas sastra, hanya berjarak 15 meter dari fakultas kedokteran, fakultas yang dulu sempat menjadi tempat Satoshi melanjutkan pendidikannya.
Tiba-tiba saja, aku terbatuk. Sudah adatnya, aku menutup mulutku. Saat kulihat, darah sudah membasahi telapak tanganku.
“Ahh… penyakitku lagi…”
Aku mengadah, “Ah, Satoshi. Kau datang untuk menjemputku ya??”
“Akhirnya kau memanggil namaku juga,” senyumnya, “ayo, kita pulang…” Ia mengulurkan tangannya padaku.
“Sudah kubilang, itu semua butuh waktu, Satoshi…” kusambut tangannya yang besar.
Aku pun bangkit dari dudukku, “Hei, Satoshi… berjanjilah padaku. Kau tidak akan pergi lagi…” kugenggam erat tangan besar itu.
“Iya, aku janji. Mulai saat ini, aku akan selalu di sisimu. Selamanya…”
Lalu kami saling mengaitkan kelingking…
~Owari~
———————————–
Cerita ini… di dedikasikan untuk Kyohei-senpai. Terima kasih atas semua bimbingan dan inspirasinya sampai saat ini. Kapan-kapan, aku ingin sekali berbincang-bincang dengan Senpai dibawah langit biru sambil dipayungi pohon jambu depan kelas.
Untuk Mira, adikku yang sudah setia membaca KISEKI.
Aku sangat berterima kasih pada kalian semua yang sudah menyediakan waktu untuk KISEKI apalagi sampai di komen. Terima kasih banyak atas dukungannya.
Seireitei, 2009年09月09日
Cintaku pada kalian…
~Aihara Izumi~











little bit “Koi Zora” here
little bit “Koi Zora” in this story,
can i ask who is kyohei-senpai??
He’s my senior. Yeah, I though so, but I have no intent to copy-ing or something like that with Koizora or another story… (^_^)
Sorry, I don’t really understand about the end. Can you explain it, to me? Does Kyousuke Satoshi was already died? But, why at the end of this great story, Kyousuke Satoshi is picked Ishihara Hazuki up? Does it mean, that Kyousuke Satoshi will bring Ishihara Hazuki to another nature? I mean to ‘hereafter’ ??
Please, reply my comment. Thanks before.
And, I love this story. This story is great! Love story that very touching.
Hello Pramesti-san.
Hajimemashite.
I Love your name, cause it’s really Indonesian.
Well, this is embarrassing to read again my old story.
Yes. You can get my message that I wrote in ‘Kiseki’.
So after Hazuki got a blood-cough, she met Kyousuke, and re-united again, which means she passed away.
I truly happy for your visit to this blog.
Please have a visit anytime.
Have a nice day.
-Aiko
Hello. Aiko-chan.
Really? Haha of course, because I’m Indonesian. How about you? Are you Japanese?
I don’t think like that.
Oh, I see. Aa, what a great and touching story! You’re a good author, Aiko-chan. Thanks for explanation. Glad to know your blog, and glad to read your story. Ehm, sorry, Is this a true story?
I trully happy too, to visit your blog.
yes, of course.
Thanks, Aiko-chan.
I’m half. Half human. Haha.
Kidding. 100% of my blood is Indonesian,
Cause I had in love with Japan, I could speak Japanese.
Really?
I’m so embarrass to re-read this story again.
It’s my old novel though.
Me too, I’m glad to have a reader like Pramesti-san.
Yes. Half of it was a true story.
Kochira mo, doumo, Pramesti-san.
Aiko
Sou desu ne. I think you’re Japanese.
Aa, just same like me. I had in love with Japan too. Wow, that’s great you know. My Japanese is bad.
Of course.
Oh, really? Hehe, glad to read it.
Wow, that’s cool. And sad too.
Ehm, sorry would you like to tell me how old are you? Sorry if I’m annoying you. I just wanna know about you.
Iie.
Nope, I’d love to say half, but I’m still hardly in love with my own country.
Everyone’s never been bad at such a thing. They just have to learn harder, and harder.
Me? You can read it at my bio
If I tell by my self, you might not believe in me.
Yeah, you’re right.
Ah, that’s right. Ja, doumo arigatou gozaimashita, Aiko-chan 
Thanks for your time, and sorry for annoying you.
Yeah, you
Nice to chatting with you
Not at all.
You’re well come, and see you soon