Kiseki Chap 2 ~この気持ち~

fall-of-autumn-leaves-wallpaper

~Niigata, 23日8月~

“Pagi, Ishihara,” sapa teman sebelah mejaku.
Aku yang sedang menulis pun menoleh sebentar, “oh, pagi, Takayuki,”

Ini adalah Takayuki Kaito. Ketua kelas 1-E. Dan anak cowok pertama yang kukenal semenjak aku bersekolah di sini. Yaah, sudah dua minggu berjalan sih, jadi aku sudah melihat tingkah lakunya yang menyebalkan. Tidak heran…

“Um… Ishihara, boleh kita bicara sebentar di atap sekolah nanti?” tanyanya agak gugup.
Akupun menjadi heran, “kapan?” tanyaku lagi.
“Saat jam istirahat,”
Aku menimbang-nimbang sejenak, “baiklah…”

Kelas Motomiya-sensei usai, dan tanpa aba-aba, Takayuki menarik tanganku dan membawaku berlari ke atap gedung barat sekolah ini.

“Sebaiknya, kau jauhi Kyousuke-senpai,” ujarnya setelah menanyakan kedekatanku dengan siswa 3-B itu.
“Lho? Mengapa?” wajar aku bingung. Tanpa pembicaraan mendetail, Ia langsung menyuruhku demikian.
“Apa kau sudah punya ‘rasa’ terhadapnya?”
Aku menggeleng spontan. Namun ada panas di pipiku.
“Itu lebih baik karena belum terlambat,” Ia mengitarkan pandangan ke seluruh penjuru arah.
“Ada apa ini, Taka?” aku semakin tak mengerti.
Ia melirikku tajam, “kau tahu kalau kemarin Kyo-senpai bertengkar dengan Fumi-senpai?”

Aku terhenyak.

“Apa hubungannya denganku?”
“Itu semua, karena kedekatan mu dengan Kyo-senpai,”
Aku kini mengerti, “maksudmu, Kyousuke-senpai dan……..”
“Iya, mereka pacaran,” jawabnya lirih.

Selama ini aku telah melukai seseorang…

Walau tidak secara lugas kukatakan, kebaikan Fumiko-senpai selalu berarti untukku, walau itu sangat kecil. Dan, aku telah mendekati pacarnya…

Sejak hari itu, aku berniat untuk tidak mendekatinya lagi… Tidak lagi..

Namun, perasaan yang tidak kuketahui ini, mengalir begitu saja.

Niigata, 28日8月

Nishigawa Koutougakko selalu mengadakan event olahraga bersama. Setiap hari Rabu, seluruh guru dan angkatan siswa mengadakan acara olahraga bersama. Dengan tujuan, agar seluruh siswa mengenal satu sama lain tanpa mengenal angkatan.

“Pagi,” sapa Kyoko temanku dari 1-C.
Kami saling mengenal setelah pernah bertemu dalam bis dengan tujuan sama.
“Pagi,” aku pun ambil posisi di sampingnya.

Setelah 5hari sejak hari itu, kehidupanku berjalan normal seperti tak penah mengenal dirinya.

Good morning…”

aku menoleh.

Tuhan…

Aku melihat sosoknya yang sedang tersenyum padaku.
Namun… Seberapa keras pun tekadku untuk menjauhinya, aku tidak bisa menghentikan perasaan ini…

Berdosakah aku?

———————————————

Seusai olahraga, aku melarikan diri menuju atap sekolah.

Aku ingin tenang.

Dan ini adalah hal yang bisa membuatku tenang; pemandangan Niigata yang elok dari atap sekolah, dan merpati-merpati yang terbang melampaui batas penglihatanku.
Ah, sudah akhir bulan Agustus. Aku sudah dapat mencium wangi musim gugur dari angin yang mencumbuku pagi ini.

“Hazuki?” tidak ada yang memanggilku seperti itu di sekolah ini. Kecuali…
“Kyousuke-senpai?” kulihat sosoknya yang sudah mengenakan kemeja seragam sekolah.
Ia berjalan mendekatiku. Lalu, menempelkan sekaleng dingin jus apel yang baru di ambil dari mesin minuman otomatis, ke pipi kananku.

Sontak aku menjauh karena terkejut.
Ia malah tertawa kecil sambil menyodorkan kaleng tersebut, “ambillah,”
Aku menggeleng pelan dan berbalik.
Kudengar langkah kakinya yang mendekatiku, “tolong hargailah…”
Aku berbalik. Aku masih menundukan pandanganku darinya. Tanganku meraih kaleng itu dan menggenggamnya.

dingin…

Lalu kami duduk berdua. Memulai sebuah percakapan ringan bersama sinar matahari hangat.

“Senpai, bagaimana kabarnya dengan Fumiko-senpai?” tanyaku iseng.
Ia tersenyum, “Kami sedang bertengkar.”
Di sini, kusadari posisiku sedang sulit. Namun, tak ada jalan terbaik selain mengubah posisinya sebagai Kakak.

Ku tepuk pundaknya, “tak usah khawatir senpai,” aku membesarkan hatinya, “dalam sebuah hubungan, ‘batu kerikil’ yang seperti inilah yang menyenangkan,” ujarku sok dewasa.
Ia menghela nafas, “Bagaimana kalau Orang Tua sebagai ‘batu kerikil’ nya?”
Aku terdiam sejenak, “maksud senpai… Orang Tua senpai…??”
“Menentang hubungan kami,” Kyo-senpai menyelesaikan perkataanku, “terlebih ibuku…”

Sesaat, angin menenggelamkan kami berdua dalam kesunyian.

Tak seharusnya kau mengetahui rahasia ini, Hazuki…

“Benarkah?” aku tak bisa berkata-kata.
Ia mengangguk, “Hubungan kami sangat rentan…”
Aku tertawa kecil. Tak percaya, “tapi, kelihatannya, kalian akur-akur saja,”
Ia tertawa. Senyum mungil lahir di wajahnya, “Kau belum tahu apa-apa tentang kami,” tapi kurasakan kehampaan dari helaan nafasnya, “kalau kami bertengkar, sudah seperti suami-istri,”

Sayup-sayup terdengar bunyi lonceng. Jam pertama telah kami lewati bersama. Aku terperanjat dan segera bangkit dari duduk.

Kyousuke-senpai pun terbangun melihatku berdiri.

“Senpai… Aku…”

Cepat tinggalkan dia, Hazuki…

Akupun berlari meninggalkannya. Namun, tangannya yang besar mencengkram bahuku, “Hazuki…” Tatapannya yang lembut membuatku ingin menangis, “setelah berbicara denganmu, aku merasa tenang. Terima kasih,” ucapannya terdengar begitu lirih.
Aku mengangguk dan menarik tanganku. Tak sepatah katapun kuucap.
Akupun pergi meninggalkannya.

Satu hal yang kusadari…

perasaan ini….

~Niigata, 29日8月~

Hari ini, aku berusaha untuk tidak bertemu dirinya.
Aku rasa, aku sudah terlalu jauh mengenalnya.

“Grup B, anggota terakhir, Ishihara Hazuki,” sekarang sedang jam pelajaran olahraga, dan namaku baru saja dipanggil untuk berlatih tanding basket.
“Baiklah, pertandingan dimulai!”

Bunyi pluit terdengar seiring dentuman pantulan bola yang barusan dilambungkan.

Jujur, sebenarnya aku benci permainan bola basket. Namun, demi nilai..
Permainan ini sulit kugenggam. Irama permainan yang terlalu cepat, juga aku yang tidak punya skill dalam permainan.
Tanpa terasa, tubuhku sudah bermandikan keringat. Aku… Putus asa.

“Hazuki!!” suara itu datang dari barisan bangku penonton.

Kulihat, sosok yang paling tidak ingin kutemui sedang menyemangatiku. Dan Ia…

“Kyosuke-senpai? Fumiko-senpai?” kulihat mereka melambaikan tangannya padaku.

“Berjuanglah!”

———————-

Kubasuh wajahku setelah lelah bermain. Percikan air yang dingin, mengalahkan panasnya matahari Niigata siang ini.

Ah… Hari ini menyakitkan sekali…

Tanganku pun menyusuri tembok yang menempelkan keran air pembasuh muka, kala murid-murid selesai olah raga, ataupun membasahi rambut di kala panasnya musim. Aku sadari handuk kecilku lenyap saat aku ingin mengelap wajahku.
“Ah, sialnya aku,” keluhku dengan mata terpejam.

Namun tiba-tiba, aku merasakan sentuhan lembut pada wajahku. Aku tahu itu adalah sebuah handuk. Tapi, itu seperti ada orang yang mengelap wajahku.

“Sudahlah Kyoko, hentikan,” Kukenal Kyoko. Meski baru beberapa hari saja, Aku sudah tahu kalau terkadang, Kyoko sudah usil terhadapku.

“Salah~”

Oh tuhan, jangan sekarang…

“Kyo… Kyo-senpai??!” aku berusaha mengelak dan mencari pandanganku.

Tepat sekali…

“Hazuki, aku ingin berterimakasih padamu,” Ia tutupi kepalaku dengan handuk lembab tadi.
“Untuk apa?” aku mundur beberapa langkah.
“Aku dan Fumiko telah berbaikan,” senyumnya yang merekah mengiris hatiku.

Aku sempat shock. Namun pada akhirnya, kutadahkan pandangan ini, “berbahagialah, senpai,” pandanganku menantang silaunya matahari pagi dengan tujuan agar airmata ini tidak mengalir.

3 Tanggapan

  1. bagus ^^ next chap lagi…
    i’m new reader

  2. Hi, I’m newbie. Could you please recommend me any other site with more details? Thank you

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.019 pengikut lainnya.