Awal pertemuanku denganya adalah keajaiban…
KISEKI [奇跡]
Tahun ini, aku sukses memasuki sebuah SMA di Niigata setelah lulus dari SMP.
Saat ini adalah tahun yang tenang bagi gadis remaja sepertiku. Hujan kelopak sakura di akhir musim semi ini, mengiringi langkahku ke jenjang pendidikanku menuju tempat yang lebih tinggi. Musim yang ramah dan teman-teman baru. Semua tampak normal.
Sampai… Ia datang dalam hidupku…
~Niigata, 12日8月~
Sudah menjadi peraturan SMA Nishigawa yang cukup elit ini bagi siswa-siswanya untuk memiliki minimal satu klub sebagai aktivitas akhir pekan mereka. Tepat lima hari dari hari pertama aku memasuki sekolah, aku sama sekali belum memilih klub manapun.
Dan, yang belum memilih klub, akan mendapat…
“Ishihara Hazuki, 1-E, mengapa belum memilih klub?”
… teguran.
Aku mendapat teguran dari seorang anggota OSIS yang notabene Senpai ku.
“Maafkan aku, saat ini aku masih sibuk…” wajar. Sejak menjadi wakil angkatanku sekarang, aku ditunjuk untuk mengurus berkas2 murid yang terhitung banyak
Disamping itu…
“I don’t interest…” gumamku pelan.
Namun, sialnya Ia malah mendengar dan membalas ucapanku, “what did you say?“
Sebelum pertengkaran konyol ini terjadi, seorang wanita cantik menghampiri kami dari belakang senpai.
“Ehm…” dehamnya lembut.
“Selamat pagi, Fumiko-senpai,” aku membungkuk dihadapannya.
“Oh, pagi, Ishihara,” Ia membalas salamku. Senyumnya manis, “sedang memarahi kohai mu lagi ya?” tepuknya lembut di atas bahu lelaki itu.
Wanita ini adalah Fumiko Kanako, ketua OSIS SMA Nishigawa ini. Murid kelas tiga.
Sejenak wajahnya memerah. Ia terdiam. Sebelum aku terlibat lebih jauh, aku menarik diri. “Saya permisi jika urusan sudah selesai,” ku tarik langkah mundur beberapa pijakan.
“Oh, Iya. Silahkan,”
Aku mengangguk, “permisi, Fumiko-senpai, dan…” kulirik jas yang dipakai oleh Senpai yang memarahiku tadi.
Kyousuke Satoshi
“… Kyousuke-senpai,” aku berbalik dan menjauh.
Setelah itu, semua keadaan baik-baik saja. Sampai akhirnya, kami saling bertemu kembali di koridor beberapa hari kemudian.
Tak menutup kemungkinan jika kami saling bertemu. Karena gedung barat yang merupakan khusus kelas tahun pertama, terhubung dengan gedung utara yang dikhususkan untuk kelas tiga, oleh sebuah koridor mungil sepanjang 40meter. Selain itu, gedung barat adalah satu-satunya pintu keluar di ‘Nishigawa Kotogakko‘ ini.
Jadi, kami para murid tahun pertama, sering bertemu dengan para senpai dan terkadang guru yang datang atau pulang.
Niigata, 13日8月
“Siang, Kyousuke-senpai…” sapaku pelan saat Aku tepat melewatinya.
“Kenapa pelan sekali?” tanyanya, dan kami pun berhenti melangkah. Saling berpunggungan.
“Pelan sekalipun, kau bisa mendengar, kan senpai?”
Kami sempat terdiam beberapa saat di koridor yang sepi itu. Langkah kami membeku,.
“Sekarang bukan waktunya untuk berdebat,” Ia mundur beberapa langkah dan kini Ia berada di hadapanku, “aku minta maaf atas kejadian tempo hari,” wajahnya sangat tenang. Setenang hembusan angin sore itu. Ia merogoh sesuatu dari dalam jasnya, “Kana… Ah tidak. Fumiko, menitipkan surat itu untukmu,”
Aku membuka amplop putih itu dihadapannya.
“Undangan klub sastra?” aku mengulangi perkataan dalam surat tersebut.
Kyousuke-senpai mengangguk, “Fumiko mendengar kau bisa berbahasa Inggris beberapa saat lalu. Lagipula, klub sastra sedang butuh anggota,”
“Aku tidak tertarik…” kulipat surat itu kembali.
“Apa kau tidak ingin menghadiri undangan itu?” kudengar, nadanya mulai meninggi.
Aku mendelik sesaat, lalu menggeleng.
“Kenapa kau tidak menghormati surat itu?!” kudengar kata-kata paksaan.
“Kuhormati dengan tidak membuangnya,” kutinggikan sedikit nada bicaraku.
“Tapi mengapa kau…”
Kudengar bentakan dan kupotong perkataannya sebelum selesai, “Apa surat ini bersifat paksaan?!” aku sampai mengangkat surat itu dan agak berjinjit untuk ‘memakinya’.
Lalu kami berdua terdiam.
Sampai akhirnya aku meminta maaf, “maafkan aku, senpai,” lalu pergi.
Malamnya kupikirkan perkataannya. Apa iya, sebaiknya kuhadiri saja, atau tidak?
~Niigata, 15日8月~
Dua hari kemudian, kuhadiri klub sastra setelah kelas usai.
Setelah merapikan penampilan, aku pun menggeser pintu ruangan klub mungil itu.
Sepi.
Tidak ada siapapun di dalam ruangan itu. Namun, saat kupijakan kaki ku ke dalam ruangan klub ini, kulihat sesosok murid yang tengah duduk diatas meja dan menghadap ke luar jendela.
Kyousuke-senpai…
Ia tidak mengetahui kedatanganku. Ku berjalan ke dalam, dan kutaruh tas ku di atas meja hingga menimbulkan bunyi dentuman pelan.
Ia menoleh padaku.
“Kau bilang, kau tidak akan datang?” ia memandangku sinis.
“Kau bilang aku harus menghormatinya,” aku berjalan mendekatinya. Kulihat apa yang sedang Ia lihat. Sebuah pemandangan yang begitu indah.
Sapuan dominan oranye di taman belakang sekolah karena matahari hampir tenggelam di langit barat.
“ne, say it that you’re seeing a beautiful scenery,” Ia menyandarkan kepalanya pada kedua tangannya yang menyangga lehernya.
“Its beautiful...” tanpa sadar, aku berucap.
“the winds that blown your hair and the leaves, sketch a beautiful scenery in my heart…”
——————————————–
Sejak itu, akupun bergabung dengan klub sastra. Dan sejak saat itu… Aku mulai dekat dengannya.
~Niigata, 18日8月~
“Ooi, Hazuki!” bahkan Ia mulai berani memanggil nama kecilku.
Aku menoleh. Cukup sulit melihat sosoknya diantara kerumunan murid saat jam bubaran seperti sekarang ini.
Beberapa saat kemudian, kulihat sosoknya yang keluar dari kerumunan.
“Ada apa, senpai?” Ia terhenti tepat di hadapanku.
“Kau naik bis jurusan mana?” tanyanya dengan nafas satu-satu.
“Halte Wakajima,” jawabku singkat.
Ia menarik lenganku, “ayo pulang,”
“ee, demo, senpai! Chotto~“
Ia berhasil menarikku ke dalam sebuah bis. Kami duduk berdua dan ia mengambil tempat di samping jendela, “kau sebaiknya cepat pulang,”Ia seperti seorang Ayah yang tengah menceramahi anak gadisnya.
“Apa salahnya pulang telat?” aku pun protes.
Terjadilah pertengkaran konyol dengan saling ledek hingga akhirnya kami berdua pun terdiam. Cukup lama kami terdiam. Hingga akhirnya aku sadar kalau Senpai jatuh tertidur.
Aah.. Dasar lelaki tidak berperasaan. Mengomel seenaknya, tidur pun seenaknya.
Namun, di tengah perjalanan panjang menuju rumah, kuperhatikan wajahnya yang sangat tenang ditengah siraman sinar mentari senja. Angin yang menyapa Niigata sore ini, menerbangkan perasaan kami berdua. Ah… Tetap saja itu adalah perasaan yang tak terungkap.
——————————————————
Aiko no Jibiki de~ ^^ douzo~
* Senpai : Senior
* Kouhai : Junior
* Kotogakko : Senior High School
* Chotto : tunggu
* Demo : Tapi












bagus ^^ next chap