“Hazuki?”
Kutarik kaki’ku sehingga aku terduduk diatas kasur dan kedua kaki’ku menjuntai kebawah.
“Kyo-senpai??” aku hanya tak menyangka sosoknya kini berdiri dihadapanku.
“Dasar bodoh!!” Ia menghardikku. Nafasnya yang memburu dan kakinya yang masih tergetar, menopang sosoknya yang masih terdiam di depan pintu, “mengapa kau tidak bercerita??”
Aku terdiam. Kugenggam perasaan tak bernama ini bersama angin.
“Aku ini siapa bagimu, sampai kau tidak mau bercerita??!” dapat kulihat tatapan kesalnya.
“Senpai…” kuberanjak dari tempat tidur, “aku tidak berma……” baru ku ayunkan satu langkah, tubuhku tersungkur tepat dihadapan Kyousuke-senpai.
Kenapa aku tidak bisa berjalan?
“Hazuki!!” saat itu juga Kyo-senpai memapah tubuhku.
“Maafkan aku…” terduduk aku dalam dekapannya, “aku tidak mau membuat Senpai khawatir…” terisak aku dalam rangkulannya yang nyaman.
“Kita ini pacaran kan?” Aku tahu Senpai terisak juga, namun Ia berusaha terdengar tegar, “bagaimana kita menjadi kuat, kalau orang yang kita sayang serapuh ini?” dibenamkannya aku kedalam dadanya yang berdebar, “jadilah kuat bersama, jangan sendirian…”
Tangisanku pecah dalam balutan angin senja.
Tuhan memberikanku satu kesempatan lagi…
“Bagaimana Senpai tahu aku ada di sini??” tanyaku setelah keadaan menjadi tenang.
“Tadinya, aku ingin membuat kejutan dengan datang langsung ke rumahmu. Namun, mereka bilang kau di sini,” genggaman tangannya tak pernah lepas sejak Ia menenangkanku tadi.
Aku tertawa kecil, “Senpai tak berubah, selalu saja panik,”
Ia menjitak kepalaku, “hal-hal tentang dirimu selalu berhasil membuatku panik,”
Lalu, suasana hening sesaat malam datang.
“Senpai, tolong bukakan jendelanya,”
Dibukalah jendela yang sempat ditutup Suster Minako tadi. Terlihat olehku langit kelam yang bersapukan warna oranye padam. Dan taburan bintang pun menghiasi.
“Hazuki, ceritakan semuanya,” pintanya dengan tatapan serius.
“Eh? Tentang apa?”
“Dirimu, sakitmu…”
“Aku tidak sakit parah, Senpai… Lihatlah, aku masih bisa tersenyum kan?”
“Hemofilia one of deadly disease I’ve ever heard…“
“I told you, I’ll be just fine,”
“Please, Hazuki… Tell me..”
Aku terdiam sejenak menatap kedua matanya, “Really, Senpai?”
Ia mengangguk pasti.
“Aku terkena Hemofilia, dari nenekku yang 8tahun lalu meninggal karena hal yang sama. Mereka bilang, usiaku hanya sampai musim panas tahun ini saja…” lagi, setetes air mata mengalir melewati pipi’ku.
“Mereka bohong! Hazuki akan hidup seratus tahun lagi! Ah, tidak… seribu tahun lagi! Hazuki akan hidup selamanya,” Ia tersenyum walau kulihat air mata menetes di pelupuk matanya.
“Senpai kenapa sampai menangis?” aku tersenyum sambil menghapus air matanya.
“Aku… Aku hanya…” Ia merangkul diriku, “Aku hanya tidak mau Hazuki’ku diambil dari sisiku..”
Aku tertawa sembari menghapus airmatanya, “aku tidak akan pergi dari sisi Senpai,” walau airmata ini menetes membasaì pipiku, aku akan tetap terlihat tegar, “mungkin hanya tidak terlihat,”
Kuangkat wajahnya sehingga pandangan kami sejajar, “Aku berjanji,”
Ia hanya mampu menatap kedua mataku yang memantulkan bayangan dirinya, “maafkan aku untuk tidak berada di sisi mu….”
“Senpai bilang apa, sih? Justru karena mengingat Senpai lah, aku bisa bertahan,”
———-
Niigata, 20日3月
“Ishi-chan,” sapa Hasukawa-sensei.
“Ya?” kututup buku pemberian Kyo-senpai yang sedang kubaca.
Senyum Sensei siang ini sangat merekah, dengan santainya Ia berjalan kearahku, “Ishi-chan, aku punya kabar baik,”
“Apa itu??!” wajar saja kalau aku langsung penasaran.
Namun sialnya, Hasukawa-sensei melihat tas Kyo-senpai yang Senpai tinggalkan untuk keluar sementara membeli beberapa makanan ringan untukku. Terlihatlah dua ponsel ‘sama jenis’ namun berlainan warna dengan strap ponsel kembar diatas meja yang ada disamping kanan tempat tidurku.
Dengan senyum misterius, Hasukawa-sensei mengambil ponsel punya Kyo-senpai, “Oh… jadi ini orang yang waktu itu membuatmu hampir pingsan karena kehabisan darah?” tawanya.
Kupukul dirinya dengan bantal yang menjadi tumpuan buku dan tanganku, “Sensei, hentikanlah~!”
Ia tertawa dan meletakkan kembali ponselnya, “Akhir-akhir ini… keadaanmu semakin membaik…”
Mendengar sepotong kalimat yang belum selesai itu saja, sudah memekarkan hatiku akan harapan hari esok.
“Perkiraanku, aku akan merindukanmu mulai besok…” senyumnya yang menyipitkan matanya.
“Honto, Sensei?” ini seperti mendengar… besok aku akan melihat matahari lagi…
Ia mengangguk pasti.
“Benarkah, Sensei??” bersamaan dengan itu, Kyo-senpai datang.
Hasukawa-sensei menoleh padanya, “ah kau,” senyumnya sambil menghampiri lelaki yang berbeda 7 tahun dengannya, “Tolong jaga Hazuki’ku baik-baik”
Aku tertawa saat wajah Senpai merona seperti sunset setelah Hasukawa-sensei pergi meninggalkan kami.
Namun, sesaat kemudian, senyumnya cerah sambil tertawa, “Hazuki… Okaeri…”
—————————
Niigata, 22日3月
Senang rasanya sudah berada di rumah. Semua hal yang kurindukan ada di hadapanku…
“Senangnya bisa melihat Kiseki lagi dari balkon kamar,” desahku.
Malam ini, aku baru saja kembali. Makan malam hangat yang kurindukan, dan canda tawa keluarga yang kulewati.
Terima kasih, tuhan…
Tiba-tiba saja ponselku berdering.
Kyosuke-Senpai
[0806xxxxx]
calling…
Acept video call?
Langsung saja ku iyakan.
“Ya, senpai…” senyumku saat melihat wajahnya dalam layar ponselku.
“Hhh… Kukira akan ditolak lagi…” desahnya.
Aku hanya tertawa.
“Hazuki, bagaimana kalau minggu depan, kita kerumahku?”
“He? Minggu depan?”
Ia mengangguk, “iya. Minggu depan,” ujarnya memastikan.
“Baiklah…”
———-
Niigata, 2日4月
“Tolong izinkan saya membawa anak anda keluar hari ini,” untuk mengajakku ke rumahnya saja, Kyo-senpai harus bersimpuh di hadapan Chichi-ue terlebih dahulu.
“Dalam acara apa, kau berniat membawa Hazuki,” tanya Chichi-ue dengan enteng sambil mengurusi ‘koto’ tuanya tanpa menghiraukannya.
Kami berdua hanya terdiam.
“Jawablah, atau tidak ku izinkan sama sekali,”
“Saya… saya ingin mengajak putri anda… untuk…”
Aku benar2 khawatir dengan apa yang akan diucapkan Kyo-senpai nanti.
“…untuk… Kencan….” seketika itu juga langsung kulihat wajahnya yang memerah selayaknya buah plum di musim panen.
Setipis senyum menghiasi wajah keriput Chichi-ue, “Naahhh… Kalau jadi laki-laki, harus berani!!” tawanya puas sambil memukuli pundak Kyo-senpai.
Dan… Kyo-senpai hanya bisa tertawa meringis. Sedang aku… menahan tawa karena geli.
Tiba-tiba saja tawa Chichi-ue terhenti, “Dan ingat juga! Kalau jadi laki-laki, harus bertanggung jawab. Bawalah anakku kembali pulang tepat pada waktunya. Tidak boleh lewat dari jam 8 malam,” sejurus tatapannya yang menusuk tajam diarahkan pada Kyo-senpai.
Yang ada, laki-laki 19 tahun itu malah menunduk terdiam.
“Mengerti??” tanya Chichi-ue pelan namun terasa kental unsur pemaksaannya.
“I… Iya! Mengerti!” jawabnya tergagap namun tegas seraya mengangkat pandangannya.
“Kalau begitu.. tolong jaga anakku baik-baik…”












WONDERFUL Post.thanks for share..extra wait .. …